Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Estimasi Tinggi Gelombang Laut Menggunakan Citra Satelit Alos-Palsar, Studi Kasus Perairan Pulau Poteran, Sumenep Adlan Nadzir, Zulfikar; Jaelani, Lalu Muhamad; Sulaiman, Albertus
Jurnal Geosaintek Vol 2, No 3 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1336.218 KB) | DOI: 10.12962/j25023659.v2i3.2102

Abstract

Energi gelombang air laut adalah salah satu jenis ocean renewable energy (ORE) yang menjadi salah satu potensi kemaritiman dari Indonesia. Energi tersebut mempunyai beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan energi fosil (minyak dan gas bumi) dan menjadi salah satu jenis energi terbarukan yang banyak diteliti dan dikembangkan oleh peneliti dari seluruh dunia. Salah satu upaya memetakan potensi energi gelombang laut adalah dengan menghitung tinggi gelombang air laut tersebut menggunakan berbagai metode pengamatan, salah satunya adalah Synthetic Aperture Radar (SAR). SAR adalah salah satu jenis sensor penginderaan jauh yang sedang berkembang dimana dapat memonitor dan memetakan tinggi gelombang air laut secara cepat dan efektif. Dalam penelitian ini, sebuah citra SAR diolah untuk mendapatkan tinggi gelombang di perairan Pulau Poteran, Madura. Pengolahan data citra SAR dilakukan dengan menggunakan metode Fast Fourier Transform (FFT) dan Band-Pass Filetring setelah mengalami proses pengolahan awal dengan perangkat lunak Matlab. Data SAR yang digunakan adalah citra satelit ALOS-PALSAR bertanggal 12 Mei 2009 dan diakuisisi dalam mode Full-Polarimetry. Hasil pengolahan menunjukkan bahwa di perairan sekitar Pulau Poteran, Madura mempunyai panjang gelombang dominan sebesar 559,0170 dan 883,8835 m dan periode sebesar 56,579 dan  89,3609 sekon yang memenuhi syarat menjadi sebuah swell. Tinggi gelombang signifikan (H1/3) yang dihasilkan mencapai 3,713 meter dengan rerata dari semua indeks matriks (H1/2) sebesar 2,986 meter.
PENGEMBANGAN ALGORITMA IDENTIFIKASI SAWAH PADI BERDASARKAN SPEKTRA FASE PADI (STUDI KASUS: LAMPUNG SELATAN) (Paddy Field Identification Algorithm Development Using Spectral Value of Paddy Field (Case Study: South Lampung)) Zulfikar Adlan Nadzir; Nirmawana Simarmata; Aliffia Aliffia
Jurnal Sains Informasi Geografi Vol 3, No 1 (2020): Edisi Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.675 KB) | DOI: 10.31314/jsig.v3i1.537

Abstract

Padi merupakan salah satu sumber makanan utama bagi masyarakat Indonesia. Padi dalam siklus hidupnya mempunyai beberapa fase yang dalam konteks penginderaan jauh memiliki karakteristik kurva hamburan yang berbeda-beda, sehingga diperlukan sebuah proses identifikasi dan pengembangan algoritma identifikasi padi yang memperhatikan kurva-kurva hamburan dari setiap fase padi yang ada. Penelitian ini menggunakan algoritma yang sudah umum dipakai oleh kalangan peneliti di bidang vegetasi penginderaan jauh yaitu NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), EVI (Enhanced Vegetation Index), SAVI (Soil Adjusted Vegetation Index) dan LAI (Leaf Area Index) sebagai penanda awal dari lokasi vegetasi di Lampung Selatan. Setelah itu lokasi tersebut di-verifikasi dengan survei lapangan untuk mendapatkan letak sebenarnya dari lahan sawah beserta umur/fase dari sawah tersebut. Dari informasi hasil algoritma dan fase padi di lapangan, dibangun sebuah algoritma awalan (preliminary algorithm) identifikasi lokasi sawah padi. Dengan adanya usaha proses pengembangan algoritma identifikasi padi ini, penelitian ini dapat menentukan lokasi-lokasi sawah padi berdasarkan fase-fasenya. Dari lokasi-lokasi ini didukung dan ditambah dengan proses validasi lapangan, didapatkan tingkat kebenaran dari identifikasi.
APPLICATION OF SPOT6/7 SATELLITE IMAGERY FOR RICE FIELD MAPPING BASED ON TRANSFORMATIVE VEGETATION INDICES Nirmawana Simarmata; Zulfikar Adlan Nadzir; Lea Kristi Agustina
JURNAL GEOGRAFI Vol 14, No 1 (2022): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v14i1.29036

Abstract

Agriculture plays an essential role in national economic development. This fact made agricultural land one of the main unique production factors irreplaceable due to its importance in the agricultural business processes. However, a persistent problem of arable land conversion and land degradation have become more massive throughout the years. Meanwhile, the continuation of existing agricultural land and transformation into new agricultural land is inherently small. This research aimed to map agricultural land in sustainable agricultural development. Several transformative vegetation indices: NDVI, SAVI, and TSAVI, applied SPOT 6/7 satellite imagery in Lampung Province. Results show that the TSAVI value is the highest, with a 1.80 value, which indicates that this index value is very dense vegetation. Meanwhile, the NDVI index, which has a minimum value of -1.02, suggests that this index value is a non-vegetation object. However, high or low value does not indicate the rigorousness and Accuracy of an index. All three indices’ results are then overlaid with the satellite imagery classification process result. The accuracy result shows that the agricultural land has a maximum of 100% producer accuracy while the user accuracy value is 87.87%. Overall, for NDVI, the Accuracy was valued at 90.25%, which could be classified as a reasonable classification result. SAVI has a PA value of 97.85%, UA 85.20% and OA 86.63%, while the TSAVI Index has a PA value of 98.23%, UA 86.16% and OA 87.63%. This accuracy value indicates that the map has good results but judging from the magnitude of the highest accuracy value obtained from NDVI, it can be concluded that NDVI is the best index to determine paddy fieldsKeywords: Agricultural Land, SPOT 6/7, NDVI, SAVI, TSAVI.
IDENTIFIKASI PERMUKIMAN KUMUH DARI CITRA PLEIADES DENGAN METODE MAXIMUM LIKELIHOOD CLASSIFICATION, OBIA DAN NEURAL NETWORK CLASSIFICATION DI BUMIWARAS, BANDAR LAMPUNG Zulfikar Adlan Nadzir; Nirmawana Simarmata; Lea Kristi Agustina; Tri Kies Welly
Geomatika Vol. 30 No. 1 (2024): JIG Vol 30 No 1 Tahun 2024
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permukiman kumuh telah menjadi masalah utama dalam perkembangan wilayah perkotaan, mengakibatkan dampak negatif pada kualitas hidup penduduk dan menghambat usaha pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Pentingnya pemetaan permukiman kumuh ini juga dapat digunakan sebagai alat untuk pemantauan dan evaluasi program intervensi yang sudah ada atau yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi area terbangun, menguji akurasi klasifikasi area terbangun dan mengidentifikasi permukiman kumuh di Kecamatan Bumiwaras Kota Bandar Lampung. Dalam penelitian ini, data citra resolusi sangat tinggi (CRST) yang digunakan adalah mozaik dari satelit Pleiades pada bulan Agustus 2018. Metode yang digunakan adalah Maximum Likelihood Classification (MLC), Object-Based Image Analysis (OBIA) dan Neural Network Classification (NNC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas permukiman pada Kecamatan Bumiwaras mencakup 18,34 % pada metode MLC, 63,80 % pada metode OBIA dan 32,06 % pada metode NNC dari total luas Kecamatan Bumiwaras sebesar 444,05 ha. Hasil uji akurasi menunjukkan bahwa metode dengan nilai overall acccuracy terbesar adalah metode OBIA dengan nilai 92,00 %, sedangkan metode MLC memiliki nilai sebesar 78,00 % dan metode NNC sebesar 57,45 %. Hasil analisis spasial pemetaan kawasan permukiman kumuh di Kecamatan Bumiwaras didominasi oleh permukiman kumuh dengan kelas sedang dengan total luas yaitu 176,17 ha. Sementara permukiman kumuh kelas ringan berada pada angka 80,51 ha dan kelas berat yaitu 26,06 ha. Kombinasi OBIA dan survei lapangan ditemukan sebagai kombinasi yang paling baik dalam mengidentifikasi permukiman kumuh di Kecamatan Bumiwaras.
Studi Perubahan Garis Pantai Pesisir Kota Bandar Lampung Menggunakan Data Penginderaan Jauh Atmojo, Aulia Try; Welly, Tri Kies; Simbolon, Karti; Nadzir, Zulfikar Adlan
Journal of Science, Technology, and Visual Culture Vol. 1 No. 3 (2021): Desember 2021
Publisher : Jurusan Teknologi Produksi dan Industri, Institut Teknologi Sumatera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Garis pantai merupakan garis pertemuan antara daratan dan lautan. Garis pantai sangat dinamis dimana dapat berubah akibat abrasi dan akresi secara kontinu akibat faktor alam dan non alam. Garis pantai sangat penting dalam penentuan batas wilayah, baik antar negara maupun batas wilayah dalam lingkup internal suatu negara. Tujuan dari penelitian ini adalah memantau perubahan garis pantai Pesisir Kota Bandar Lampung dengan teknologi penginderaan jauh menggunakan data citra Landsat-MSS, Landsat-TM, Landsat-7 ETM+ dan Landsat-8 OLI selama 15 tahun. Pengolahan data citra Landsat dilakukan dengan metode Unsupervised Classification. Dengan melakukan digitasi dan tumpang susun data citra dapat diperoleh data perubahan garis pantai. Penelitian ini menggunakan data garis pantai RBI 1:150.000 dan ZEE-06 sebagai verifikasi hasil. Dari penelitian ini diperoleh hasil perbandingan hasil pengolahan citra penginderaan jauh dengan peta RBI skala 1:150.000 dimana menghasilkan nilai abrasi dan akresi dengan nilai abrasi maksimum yaitu 596,60 ha dan abrasi minimum 172,72 ha, akresi minimum senilai 52,29 ha, serta akresi maksimum senilai 151,61 ha. Perbandingan hasil pengolahan citra penginderaan jauh dengan peta ZEE-06 menghasilkan nilai abrasi maksimum yaitu 735,04 ha, dan abrasi minimum senilai 344,53 ha, akresi maksimum senilai 214,58 ha dan akresi minimumnya senilai 29,56 ha.
Analisis Spasial Risiko Bencana Kebakaran Hutan Dan Lahan Di Kabupaten Pesawaran Simarmata, Nirmawana; Nadzir, Zulfikar Adlan; Agustina, Lea Kristi; Wijayanti, Goldie Melinda; Giovani, Muhammad
Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan (JGEL) Vol. 9 No. 1 (2025): Edisi Bulan Januari
Publisher : Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jgel.v9i1.14520

Abstract

Forest and land fires are common natural disasters in Indonesia, impacting ecology, economy, and community welfare. This study aims to calculate the spatial risk of Karhutla in Pesawaran Regency as an initial step in disaster management. The data comes from Landsat 8 (OLI) satellite images, slope maps, road maps, rivers, and land cover of Pesawaran Regency. This disaster risk assessment method refers to Decree from the BNPB Head Number 2 on year 2012 with three risk components in the form of vulnerability, hazard, and capacity indices. The hazard index was analyzed using hazard assessment variables, spatial analysis, and attribute analysis. The index of vulnerability is conducted by analyzing the conditions and characteristics of the community and its environment to calculate which factors reduce the ability to cope with disasters. The capacity index is calculated based on five leading indicators: disaster management rules and institutions, early warning systems and disaster risk assessments, disaster education, essential risk factor reduction, and preparedness development at all levels. The calculated hazard, vulnerability, and capacity indices were then combined to assess the risk level of land and forest fire disasters. An analysis from forest and land fire disaster risk assessment results in Pesawaran Regency shows that majority of the area have a medium risk. The largest sub-district with a low-risk level is in Pandan Island Sub-district with an area of 11,332.6 hectare, and the largest sub-district with a high level is in Tegineneng Sub-district of 11,558.3 hectare area, followed by Gedong Meneng sub-district. These sub-districts could be prioritized for a holistic and integrated scheme to add capacity index by all stakeholders.
Using Geodetic Methods in Road Construction Planning: To What Extent Will It Be Effective? Nadzir, Zulfikar Adlan; Mhd Irfansyah
Journal of Infrastructure Policy and Management (JIPM) Vol. 7 No. 2 (2024): Journal of Infrastructure Policy and Management (JIPM)
Publisher : PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35166/jipm.v7i2.58

Abstract

Sustainable development is a well-known concept that is widely applied nowadays. One of the applications of this concept is through an effective planning process, such as road construction planning. Cut and fill volume measurement is an integral part of such a process, which utilizes several geodetic methods. The most commonly used instruments are waterpass and electronic theodolite (total station), but there are significant differences in their concepts. Different observation methods of these two tools can affect their effectiveness. Therefore, in this study, the accuracy and efficiency of waterpass and electronic theodolites were measured and analyzed using the cross-section method to gauge the effectiveness of the ABC road construction project in Sumatra. The results show that although the accuracy of the electronic theodolite is lower than that of waterpass, it might be the preferred method because it saves time and reduces the cost of volume measurement, making it both practical and highly efficient.
UTILIZATION OF MULTIBEAM ECHOSOUNDER DATA FOR BATHYMETRY MAPPING: EVALUATION WITH INTERNATIONAL STANDARD Nadzir, Zulfikar Adlan; Munthe, Manson Brian Utama
JGE (Jurnal Geofisika Eksplorasi) Vol. 11 No. 1 (2025)
Publisher : Engineering Faculty Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jge.v11i1.483

Abstract

Bathymetric mapping is crucial for understanding seabed conditions, especially in maritime countries like Indonesia. This study evaluates the quality of bathymetric data acquired using Multibeam Echosounder (MBES) in Jakarta waters. The acquired data was processed and analyzed based on the international standard IHO S-44. The results show that most acquired bathymetric data met the specified accuracy standard. However, some data did not meet the standard, especially in areas with varying depths. Bathymetric maps and seabed slope classification maps were successfully produced. The bathymetric map shows the complex morphology of the seabed, while the slope classification map indicates the dominance of flat areas. This research contributes significantly to efforts to improve the quality of bathymetric data in Indonesia.
Studi Waveform Retracking Jason-2 di Pesisir Barat Daya Sumatera Nadzir, Zulfikar Adlan; Hasan, Muhammad Akmal
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 2 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i2.26228

Abstract

Monitoring sea level changes in coastal areas is critical to understand ocean dynamics and their impact on the environment and human activities. Satellite altimetry has been the main tool in these studies, but its use in coastal areas still faces obstacles, especially due to variations in waveforms reflected from the sea surface. This study evaluates the accuracy of several altimetry waveform retracking methods (OCOG, Threshold 10%, and Threshold 30% ) on the southwest coast of Sumatra. The analysis was conducted using Jason-2 data on two passes, namely pass 077 and pass 153, with validation against two tide gauge stations nearby. Results showed that the Threshold 30% method provided a more accurate estimation of the Leading Edge Point (LEP) position than the other methods, with an average difference of only 0.1 gates (0.32%) from the reference value. Meanwhile, the OCOG method has the worst performance with a difference of 6.27 gates (20.22%), indicating its inability to handle coastal waveform variations on the location. Validation of the tide gauge data shows that retracking with a 10% Threshold improves the precision of Sea Surface Height (SSH) data with the highest IMP improvement value of 65.2% and the smallest standard deviation on the Threshold 30%. This finding confirms that choosing the right retracking method plays a crucial role in improving the accuracy of satellite altimetry in coastal areas. Therefore, the Threshold method is recommended for further analysis to improve the quality of altimetry data in coastal Indonesia.   Pemantauan perubahan muka air laut di wilayah pesisir sangat penting untuk memahami dinamika laut dan dampaknya terhadap lingkungan serta aktivitas manusia. Satelit Altimetri telah menjadi alat utama dalam studi ini, tetapi penggunaannya di wilayah pesisir masih menghadapi tantangan, terutama akibat variasi bentuk waveform yang dipantulkan dari permukaan laut. Studi ini mengevaluasi keakuratan metode waveform retracking altimetri OCOG, Threshold 10%, dan Threshold 30% di pesisir barat daya Sumatra. Analisis dilakukan menggunakan data Jason-2 pada dua jalur lintasan, yaitu pass 077 dan pass 153, dengan validasi terhadap data pasang surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Threshold 30% memberikan estimasi posisi Leading Edge Point (LEP) yang lebih akurat dibandingkan metode lainnya, dengan selisih rata-rata hanya 0,1 gate (0,32%) dari nilai referensi. Sementara itu, metode OCOG memiliki performa paling tidak akurat dengan selisih sebesar 6,27 gate (20,22%), yang mengindikasikan ketidakmampuannya dalam menangani variasi waveform di pesisir. Validasi terhadap data pasang surut menunjukkan bahwa retracking dengan Threshold 10% meningkatkan presisi data Sea Surface Height (SSH) dengan nilai peningkatan IMP tertinggi sebesar 65,2% dan standar deviasi terkecil pada metode Threshold 30%. Temuan ini menegaskan bahwa pemilihan metode retracking yang tepat berperan krusial dalam meningkatkan akurasi satelit altimetri di wilayah pesisir. Oleh karena itu, metode Threshold direkomendasikan untuk analisis lebih lanjut guna meningkatkan kualitas data altimetri di kawasan pesisir Indonesia.
Evaluasi Akurasi Data LiDAR ALS-70 untuk Pemodelan 3D di Area Bandara Perkotaan: Studi Kasus Bandara Sultan Thaha, Jambi Nadzir, Zulfikar Adlan
Jurnal Ilmiah Geomatika Vol. 5 No. 1: April 2025
Publisher : Program Studi Teknik Geomatika Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/imagi.v5i1.14482

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi akurasi data ALS-70 di area Bandara Sultan Thaha, Jambi, dengan fokus pada proses boresight calibration dan pengaruh penghapusan ground control points (GCP) yang dianggap anomali. Proses diawali dengan analisis tinggi terbang yang menunjukkan adanya variasi elevasi. Kemudian dilakukan perhitungan dan penelitian yang memperoleh nilai akhir memenuhi spesifikasi ALS-70 dan standar ketelitian vertikal SNI Orde 1. Selain hasil kuantitatif, data yang belum terkalibrasi menunjukkan kemampuan untuk mengenali lingkungan terbangun, membuka peluang peng-gunaan dalam respons cepat. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan iteratif dan statistik dalam memastikan kualitas data LiDAR di perkotaan. Outlook dari penelitian ini merekomendasikan otomatisasi deteksi anomali dan integrasi dengan data penginderaan jauh lain untuk memperkaya analisis, serta validasi multi-kondisi untuk memperluas generalisasi hasil.