cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 1 (2010)" : 10 Documents clear
VARIABILITAS PARAMETER OSEANOGRAFI DAN PERMASALAHAN PENGEMBANGAN SISTEM PERAMALAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN DI PERAIRAN INDONESIA Gaol, Johson Lumban
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.068 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.111

Abstract

Meningkatnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menyebabkan kesulitan besar bagipara nelayan untuk menjalankan usaha penangkapan ikan di Indonesia. Sebagian besar BBM digunakan untuk mencari daerah penangkapan ikan sehingga adanya sistem peramalan daerah penangkapan ikan (DPI) akan membantu para nelayan untuk meningkatkan efisiensi penangkapan ikan. Di beberapa negara sistem ini sudah berjalan dengan baik namun di Indonesia penerapannya masih relatif baru sehingga masih perlu dilakukan pengembangan. Pengembangan sistem peramalan DPI di Indonesia lebih sulit dibandingkan di negara-negara yang berada pada daerah sub tropis karena variasi spasial parameter-parameter oseanografi sangat tinggi sehingga biasanya ikan akan terkonsentrasi di daerah front. Kondisi parameter-parameter oseanografi di perairan Indonesia secara spasial relatif homogen sehingga sulit mengidentifikasi daerah front. Selain itu, keterbatasan data perikanan di Indonesia juga menjadi faktor penyebab sulitnya pengembangan sistem ini. Namun demikian dari beberapa penelitian di perairan Indonesia ditemukan indikasi adanya hubungan parameter-parameter oseanografi dengan keberadaan ikan sehingga sistem peramalan DPI ini perlu dikembangkan melalui penelitian yang berkesinambungan dan terintegrasi. Dalam tulisan ini juga diuraikan contoh penerapan sistim peramalan DPI di Jepang, untuk dapat digunakan sebagai masukan untuk pengembangannya di Indonesia.Kata Kunci : Peramalan, Daerah Penangkapan Ikan,Oseanografi, Satelit.ABSTRACTThe increase of fuel prices has caused difficulties for the fishermen to run a fishingoperation in Indonesia. Most of the fuel was used for searching the fishing ground, so that a fishing ground forecasting system (FGFS) will improve the fishing efficiency. In some countries, this system has been running well, but the implementation in Indonesia is still relatively new and still needs to be developed. Development of FGFS in Indonesia is more difficult as compared to the sub-tropical countries due to the high spatial variations in oceanographic parameters. Whereas the fish is concentrated in the front between two water masses. Condition oceanographic parameters in Indonesian waters are relatively homogeneous making it difficult to identify the front area. In addition, the limitations of fisheries data are the factors for development of this system. However, from some researches in Indonesian waters were found indications that the presence of fish is related to oceanographic conditions. The FGFS should be developed through a sustainable and integrated research in Indonesia. This paper also outlines the examples of the application of FGFS in Japan as consideration for developing the FGFS in Indonesia.Keywords: Forecasting, Fishing Ground, Oceanography, Satellite.
PERUBAHAN IKLIM DAN KETAHANAN PANGAN DI JAWA BARAT Suriadi, A.B.
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.988 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.116

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh perubahan iklim terhadap ketahananpangan, walau demikian karena keterbatasan waktu, dilakukan simplifikasi sehingga hanya beberapa faktor saja yang dikemukakan. Faktor tersebut antara lain curah hujan, temperatur, produksi beras, serta aspek akses terhadap pangan yaitu masalah kemiskinan. Berdasarkan data dari Global Precipitation Climatology Centre (GPCC) telah dilakukan analisis rata-rata curah hujan tiap 30 tahunan, hasilnya menunjukkan bahwa pola curah hujan Jawa Barat selama 90 tahun (1901-1990) tidak mengalami perubahan yang nyata. Akan tetapi dalam dua dekade terakhir (1991-2007) terjadi perubahan yang cukup berarti. Terlihat awal musim kering bergeser ke bulan Juli yang sebelumnya bulan Juni dan akhir musim kering bergeser ke bulan November. Curah hujan bulan September sampai Desember juga lebih rendah dari rata-rata 90 tahun sebelumnya, sedangkan rata-rata curah hujan bulan April-Juni lebih tinggi dari rata 90 tahun sebelumnya. Penelitian ini belum sampai pada kesimpulan keterkaitan perubahan iklim dengan penurunan produksi beras danketahanan pangan. Namun demikian data menunjukkan bahwa terjadi penurunan produksi dalam dekade akhir-akhir ini. Penelitian ini menyajikan suatu fenomena yang perlu diteliti lebih lanjut mengenai peran perubahan iklim terhadap produksi beras dan dampaknya terhadap ketahanan pangan.Kata kunci: Perubahan Iklim, Pergeseran Musim, Ketahanan Pangan.ABSTRACTThis study aims to analyze the effect of climate change on food security, howeverbecause of time constraints simplification should be made. Therefore only a few factors are presented which are rainfall, temperture, rice production, as well as the aspects of food inaccesibility due to poverty. Based on data from the Global Precipitation Climatology Centre (GPCC) who has conducted average rainfall every 30 years, the pattern of rainfall in West Java for 90 years (1901-1990) did not show real changes. However for the last two decades (1991-2007) there has been a significant change. It is shown that early dry season was shifted from month of June to July and the end of dry season was shifted to November. The amount of rainfall in September to December were below the average in 90 years, while average rainfall in April-June is higher than the previous 90 years. This research cannot yet achieve conclusion of the linkage of climate change with a decrease in rice production and food security. However, other data can indicate the declining trend of rice production in recent decades. This research presents a phenomenon that needs to be further investigated regarding the role of climate change in rice production and its impact on food security.Keyword: Climate Change, Sifting Of Season,Food Security.
PREDIKSI POLA SEBARAN FISHING GROUND NELAYAN DI PERAIRAN SELATAN YOGYAKARTA Nahib, Irmadi; Sutrisno, Dewayany
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1821.621 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.112

Abstract

Pengetahuan lokal (pranata mangsa) dijadikan acuan untuk mengetahui awal datangnya musim penangkapan dan lokasi penangkapan ikan oleh nelayan Yogyakarta. Citra penginderaan jauh dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik oseanografi. Dalam penelitian ini, citra yang digunakan adalah citra Aqua MODIS/Moderate Imaging Spectroradiometer level 3. Analisis temporal khlorofil-a dan suhu permukaan laut (SPL) dilakukan dengan metode deret waktu. Untuk melihat hubungan antara khlorofil-a dan SPL dengan hasil tangkapan dilakukan analisis secara deskriptif dan regresi linier sederhana. Tujuan penelitian adalah (1) Menganalisis hubungan pranata mangsa dengan dengan pola sebaran fishing ground dan (2) Mengkaji informasi oseanografi berdasarkan data inderaja untuk prediksi daerah fishing ground di pesisir selatan Yogyakarta. Hasil penelitianmenunjukkan rata-rata SPL tahun 2002-2009 berkisar antara 23,48 – 31,36 °C. SPL yang dominan pada wilayah penelitian adalah 28,00. - 30,00 ° C. Secara umum kisaran khlorofila di wilayah penelitian sebesar 0.26 -13.67 mg/m3. Kisaran yang dominan pada wilayah penelitian antara 0.30 - 0.40 mg/m3. Hasil analisis data produksi tangkapan dengan konsentrasi khlorofil-a dan data produksi tangkapan dengan SPL, secara langsung mempunyai hubungan yang erat.Kata Kunci : Citra Catelit Aqua Modis, Khlorofil-a, Suhu Permukaan Laut, Potensial,Daerah PenangkapanABSTRACTThe local knowledge called “pranata mangsa” were referred to indentify recent fishlocation and catchments by the Yogyakarta fisherman. Remote sensing images are used to understand the oceanographic characteristics. In this study, Image used is the image of Aqua MODIS level 3. Chlorophyll-a and Sea Surface Temperature (SST) temporal analysis was carried out with time sequence method. The relationship between Chlorophyll-a and SST with pelagic fish catch was based on descriptive analysis and simple linier regression. The aims of the study were: (1). To analyze “pranata mangsa” with fishing ground distribution patterns and (2) To examine oceanography information by using multi-time remote sensing data to support the prediction development of fishing ground area in the south coastal of Yogyakarta. Results of research shows that: Average SST years 2002 - 2006 ranged between 23,48 – 31,36° C. SST at the area of research is dominant about 28,00 -30,00 ° C. In general, the range of Chlorophyll-a in the area of 0.26 -13.67 mg/m3. Dominant Chlorophyll-a in the range of research areas is between 0,30 -,.40 mg/m3. The results showed that there is a strong correlation between the data of production captured with chlorophyll-a concentrations and data captured by SST directly.Keywords : Aqua Modis Image, Chlorophyll-a, Sea Surface Temperature, Potential,Fishing Ground
ESTIMASI POTENSI AIRTANAH MELALUI PENDEKATAN TIPOLOGI BENTUKLAHAN WILAYAH BOGOR PROVINSI JAWA BARAT Sumartoyo, Sumartoyo
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1660.156 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.117

Abstract

Wilayah Bogor terdiri atas satuan-satuan bentuklahan hasil dari proses geologi sejakperiode Pra Tersier hingga Kuarter. Berbagai macam bentuklahan ditempati penduduk, dikelola dan dimanfaatkan sebagai tempat mata penghidupan. Salah satu kebutuhan pokok penduduk adalah air, tetapi belum semua orang mengetahui kondisi air di tempat hidupnya. Kajian estimasi potensi air tanah melalui tipologi pendekatan bentuklahan bertujuan mengetahui sebaran dan kondisi airtanah setiap bentuklahan. Pendekatannya melalui karakteristik akuifer pada setiap litologi penyusun satuan bentuklahan. Pendekatan geomorfologi sebagai dasar klasifikasi bentuklahan berdasarkan bentukan asalnya. Kedudukan dan sebaran setiap satuan bentuklahan digunakan sebagai satuan pemetaan airtanah. Hasil penelitian menunjukkan sebaran bentukan asal volkanik 51,5 % luas daerah, bentukan asal struktural 31 %, karstik 6,5 %, dan fluvial 11,5 %. Wilayah Bogor terdiri dari 50 macam bentuklahan, tersebar 29,5 % di pegunungan, 59 % di perbukitan, dan 11,5 % di dataran. Hasil kajian menunjukkan pada pegunungan dan perbukitan terdapat sebaran 17 %potensi airtanah langka atau sarang. Potensi airtanah setempat produktif tersebar di 15 % dari luas wilayah, sedangkan produktif kecil tersebar di 0,5 %. Airtanah produktif sedang dan setempat tersebar di 16,5 %, produktif sedang dan luas tersebar di 27 %, sementara airtanah produktif tinggi dan luas tersebar di 24 % luas wilayah Bogor. Estimasi perhitungan resapan air dari sumber air hujan setiap tahun 6.678,89 x 106 m³/tahun tersebar di pegunungan 123.656.694,79 m³/tahun, dan 126.665.275,44 m³/tahun di daerah perbukitan, sementara di dataran aluvial 37.983.987,77 m³/tahun.Kata Kunci : Bentuklahan, Satuan Pemetaan, Potensi AirtanahABSTRACTLandform is part of the landscape in Bogor Regency. The landform was formed through geologic processes since before tertiary up to quaternary periods. Various kinds of landforms are occupied by residents, managed and used as a source of living. One of the basic human necessities is water, however not everyone knows the water quality in the area where they live. Assessment of water potential estimation through typological approach of landforms was aimed to know the distribution and condition of groundwater for every landform. Analysis was done for aquifer characteristics of every lithology of the landforms. Geomorphological approach was used as a base of landform classification according to the original formation.Position and distribution of each landform was used as the unit for groundwater mapping. The result of this research indicated that vulcanic morphogenesis was distributed in 51.5% of Bogor Regency, structural morphogenesis covered 31%, karstic 6.5%, fluvial 11.5%. Bogor area consists of 50 kinds of landform units, where 29.5% is on mountains, 59% on hills, dan 11.5% on plains. The study showed that on the mountains and hills there were 17% distributions of scarce groundwater potency. Local productive groundwater potency was distributed in 15% of Bogor area, small productive in 0.5%, local-moderate productive in 16.5%, wide-moderate productive in 27%, while wide-high productive in 24%. Estimate calculation of water intake from rainfall was 6.678,89 x 106 m³/year for Bogor Regency, which were distributed on the mountains about 123.656.694,79 m³/year, on the hills 126.665.275,44 m³/year, and on plains around37.983.987,77 m³/year.Keyword: Landform, Mapping Unit, Groundwater Potency
ANALISA SPASIAL PERUBAHAN PENGGUNAAN TANAH DI SEKITAR LAGUNA SEGARA ANAKAN KABUPATEN CILACAP - PROVINSI JAWA TENGAH Irwansyah, Edy
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.363 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.113

Abstract

Luas penggunaan tanah mangrove di Laguna Segara Anakan mengalami fluktuasisignifikan yang diakibatkan oleh tingginya frekuensi penebangan mangrove disamping tumbuhnya mangrove pioner pada dataran pasang surut yang makin bertambah luasannya. Analisis data berbasis sistem informasi geografis (SIG) telah memperlihatkan bahwa selama periode 1940 – 1999 telah terjadi konversi hutan mangrove menjadi penggunaan tanah lain seluas 14.677 ha. Perubahan ini mengakibatkan terjadinya pertambahan dataran pasang surut seluas 3.297 ha.Kata Kunci : Perubahan Penggunaan Tanah, Laguna, Mangrove, Sistem InformasiGeografisABSTRACTWidth of mangrove in Segara Anakan Lagoon significantly due to high frequency mangrove cut off in one side and new mangrove pioneer in other side. Data analysis based on geographical information system (GIS) have showed that during period 1940 – 1999. Mangrove was converted to other landuse for the area of 14.677 ha. This results in tidal flat accretion of 3.297 ha.Keyword : Landuse change, Lagoon, Mangrove, Geographic Information Syste
PENENTUAN SENTRA PETA DI WILAYAH JAKARTA DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Munajati, Sri Lestari; Anadra, Rezki; Aprianto, Arif
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.47 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.118

Abstract

Istilah sentra peta Bakosurtanal baru dikenalkan pada tahun 2009, nama ini sebelumnya adalah Outlet Bakosurtanal, dimana unit ini merupakan unit pelayanan produk Bakosurtanal yang berada di berbagai lokasi, dimana hingga tahun 2010, jumlah sentra peta menjadi 27 unit. Sentra peta di Jakarta, hanya terdapat di MGK (Mega Glodok Kemayoran) yang didirikan pada tahun 2007 dan sudah berjalan selama 3 tahun hingga 2010. Pelayanan di MGK belum bida melayani pelanggan di wilayah Jakarta secara optimal, karena masih banyaknya pelanggan produk Bakosurtanal yang datang ke Kantor Bakosurtanal di Cibinong. Oleh karena itu masih diperlukan adanya kajian untuk membuka sentra peta baru di wilayah Jakarta, dimana lokasi yang tepat secara teknis. Metode yang digunakan untuk melakukan kajian ini adalah dengan Sistem Informasi Geografis dengan menggunakan density analisys. Hasil kajian menunjukkan bahwa Jakarta Selatan merupakan lokasi yangpaling tepat untuk didirikan sentra peta berdasarkan data dan kondisi fisik di lapangan.Kata Kunci: Sentra Peta Bakosurtanal, Jakarta, Analisis Kerapatan, Sistem InformasiGeografiABSTRACTThe term “Bakosurtanal Map Center”, previously called as Bakosurtanal Outlet, has just been used since 2009. These centers are Bakosurtanal’s product sale points located at various locations, and up to 2010 there are 27 centers in Indonesia. In Jakarta, this center is located at MGK (Mega Glodok Kemayoran), which was established in 2007 and has been running for 3 years until now. However, this center has not performed an optimal service because there were still many customers who came directly to Bakosurtanal office in Cibinong. Therefore, a study needed to be done to find an appropriate location for the map center in Jakarta. The study used density analysis method using Geographic Information System. Result of this study showed that South Jakarta is the most suitable location, basedon the data and physical conditions.Keywords: Bakosurtanal Map Center, Jakarta, Density Analysis, Geographic Information System
NERACA DAN VALUASI EKONOMI HUTAN MANGROVE DI KABUPATEN POHUWATO, PROVINSI GORONTALO Nahib, Irmadi; Sudarmadji, Bambang Wahyu
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1410.181 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.114

Abstract

Penelitian ini berdasarkan pendekatan teori ekonomi, untuk mengkuantifikasi nilaiekonomi sumber daya hutan mangrove menggunakan citra penginderaan jauh dan sistem informasi geografi untuk menganalisa dan menampilkan secara keruangan luas dan nilai ekonomi. Tujuan penelitia ini adalah untuk mengetahui tingkat kerusakan sumberdaya hutan mangrove dan nilai ekonomisnya. Untuk mengevaluasi luas hutan mangrove diturunkan dari citra Landsat dan ALOS yang mempunyai perbedaan waktu dan masing-masing citra dikelaskan. Citra landsat digunakan untuk data awal dan citra ALOS sebagai data akhir. Hasil klasifikasi kemudian dikonversi dalam format shapefile dan diolah dengan program SIG untuk menghasilkan peta neraca. Nilai ekonomi sumberdaya hutan didapatkan dari surveivaluasi ekonomi. Nilai-nilai ekonomi dihubungkan dengan peta neraca dan menjadi peta nilai ekonomi hutan mangrove. Hasil penelitian menunjukkan laju degradasi hutan mangrove sebesar 2.324 hektar selama 12 tahun, sedangkan nilai ekonomi total dari hutan mangrove di Kabupaten Pohowato yang meliputi hutan mangrove 6.864 ha dan tambak 5.139 ha sebesar Rp 141 milyar /tahun.Kata Kunci : Hutan Mangrove, Nilai Ekonomi, DegradasiABSTRACTThis research applies the economic theory for quantifying the economic value ofmangrove forest resource, using remote sensing image and geographic information system to analyze and visualize spatial values. The aims of the research were to know the level of degradation of mangrove forest resources and its economic value. To evaluate the area of mangrove forest resource, Landsat and ALOS images from different time were used and classified them respectively. Landsat image was assigned as initial date and ALOS as end date. The classification of the images was converted to shapefile and processed with GIS to make the change/balance map. The economic value of the mangrove forest resource was derived from economic valuation study or survey. The economic value then was connected with the balance map and become mangrove forest economic value balance map. Results showed level of degradation of mangrove forest resources of 2,324 hectare during 12 years, meanwhile the total economic value of the mangrove forest in Pohowato covering 6.864 ha of mangrove forest and 5,139 ha of fishpond amountsto Rp141 billion/year.Keywords : Mangrove Forest, Economic Value, Degradation
PETA SKALA BESAR (BATAS RW) DAN MANFAATNYA Wibowo, Adi; Sudarmadji, Bambang Wahyu
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.923 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.119

Abstract

Permasalahan di Indonesia hingga hari ini adalah bahwa batas administrasi kelurahansudah ada, tetapi batas administrasi Rukun Warga/Rukun Tetangga (RW/RT) belum ada. Pemda DKI sudah memiliki peta skala besar (1:1.000) untuk membuat peta batas administrasi RW. Pemetaan skala besar (Batas RW) bermanfaat untuk akurasi informasi data kejadian penyakit demam berdarah atau penyakit lainnya, sehingga menghilangkan bias informasi karena menggunakan peta batas kelurahan. Manfaat lainnya adalah untuk akurasi manajemen alamat pelanggan, misalnya pelanggan PDAM, memudahkan verifikasi data pelanggan dengan peta sekala besar terutama yang hanya mencantumkan alamat RT/RW, tanpa menyebutkan nama jalan dan nomor rumah.Kata Kunci: Peta Skala Besar, Batas RW, Verifikasi, AkuratABSTRACTA problem in Indonesia is the fact that village boundaries are already available, but the RW/RT boundaries (RT consists of several households, while RW consists of several RTs) are still not done until nowadays. Government of DKI Jakarta already has big scale maps (1:1.000) for delineating boundary of RW administration. Big Scale Mapping (RW Boundary) can help produce more precise data, such as dengue fever or other contagious diseases, in order to prevent bias information when using village boundaries. Another usage of the big scale mapping is to better manage customer addresses, for example PDAM (clean water provider) customers, so that it would be easier to find where the address of the customers are, especially when the customers did not mention street name and house number, but only mentioned RT/RW address.Key words: Big Scale Mapping, RW Boundaries, Verified, Accurate
DISAIN MODEL SPASIAL KETAHANAN PANGAN PULAU TERPENCIL Suwarno, Yatin; Munajati, Sri Lestari; Soleman, M Khifni; Fitrianto, Anggoro Cahyo
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.068 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.115

Abstract

Ada 5 (lima) indikator untuk menentukan ketahanan pangan rumah tangga di suatu wilayah, yaitu: kecukupan pangan, keterjangkauan pangan, keamanan pangan, stabilitas pangan, dan kualitas pangan. Semua indikator kualitatif tersebut terlebih dahulu dirubah menjadi kuantitatif guna menghitung Indeks Ketahanan Pangan. Dengan metode ”Scoring and Weighting” dalam Spatial Analysis, ketahanan pangan disajikan dalam bentuk peta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kepulauan Karimunjwa yang tersdiri dari 5 pulau berpenghuni memiliki tingkat ketahahan pangan sebagai berikut: Tahan Pangan (P. Karimunjawa), Cukup Tahan Pangan (P. Kemujan), dan Agak Tahan Pangan (P. Genting, P. Parang, dan P. Nyamuk). Kondisi ketahanan pangan di Kepulauan Karimunjawa dipengaruhi oleh terbatasnya lahan pertanian, aksesibilitas, dan daya beli masyarakat.Kata Kunci: Spasial, Model, Disain, Ketahanan Pangan, Pulau TerpencilABSTRACTThere are 5 (five) indicators that determine household food resilience, namely: foodsufficiency, food affordability, food security, food stability and food quality. These are qualitative parameters and should be converted into quantitative parameter. The method "Scoring and weighting" is used for Food Resilience Index that will be presented in the map. The research results show that the Karimunjawa Islands consisting of 3 villages and 5 inhabited islands have food resilience levels as follows: Endurance Food (Karimunjawa Island), Endurance Enough Food (Kemujan Island), and Near Endurance Food (Genting Island, Parang Island, and Nyamuk Island). The main factor that caused the food resilience in Karimunjawa Islands because of the limited agricultural land, limited accessibility, and the public purchasing power.Keywords: Spatial, Model, Design, Food Resilience, Isolated Island
METODE KONTROL KUALITAS BUKU ATLAS Riadi, Bambang
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.924 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-1.120

Abstract

Peta sebagai media informasi kewilayahan sangatlah diperlukan untuk berbagai kegiatan dan sudah seharusnya peta menyajikan informasi yang akurat dan mudah dibaca oleh pengguna. Peta sebagai bahan ajar biasanya disebut dengan buku atlas karena informasi yang disajikan bersifat umum, seperti kewilayahan, posisi kota satu dengan lainnya, sumber daya alam, potensi pertanian dan perkebunan, pusat-pusat pemerintahan dan sebagainya. Kajian kontrol kualitas buku atlas ini disampaikan dengan maksud agar para penyusun buku atlas mendapat informasi tentang acuan dan standar teknis pemetaan yang harus tetap dipertahankan disamping inovasi-inovasi baru yang perlu disampaikan dalam kemasan yang menarik. Bagi pengguna buku atlas tampilan awal yang menarik akan menggugah minat untuk membuka informasi selanjutnya, seperti aspek geospasial termasuk didalamnya namaunsur geografi dan berbagai potensi suatu wilayah.Kata Kunci: Atlas, Georeference, Kontrol KualitasABSTRACTAs regional spatial information, a map is required for various activities, so it shouldpresent accurate information and should be easy to read. As an education material, maps are usually bundled in an atlas book because the information presented is general, such as territories, city positions, natural resources, agricultural and estate potencies, government centres and so on. This study on quality control of atlas books was performed with the purpose of giving information to atlas producers about reference and standards of mapping techniques that need to be maintained in addition to some new innovations that need to be delivered in an attractive package. For atlas books readers, a well-presented display mightinspire them to get more information such as geospatial aspects including geographical names and other potencies of a region.Keywords: Atlas, Georeferences, Quality Control

Page 1 of 1 | Total Record : 10