cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 16, No 1 (2014)" : 11 Documents clear
GEOSPATIAL DYNAMIC OF VEGETATION COVER CHANGES ON THE SMALL ISLANDS, SOUTH SULAWESI, INDONESIA AS, M. Akbar; Saleh, Buce; Sofian, Ibnu; Nurdin, Nurjannah
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.823 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.47

Abstract

ABSTRACTAgreement on the extent of mangrove forest in Indonesia has yet existed. The extent of mangrove forest in Indonesia 9 years ago was about 4.13 million ha. Currently, the mangrove has decreased significantly to 2.49 million ha (60%). Remote sensing could play an important and effective role for assessing and monitoring the dynamic of mangrove forest cover. The aim of this study is to measure the changes of the mangrove cover within 20 years period from 1993 to 2013, from 1993 to 2003, and from 2003 to 2013 using multi-temporal Landsat data. The study site was selected in Tanakeke Island, Takalar District, South Sulawesi, Indonesia. Results of the analyses show that the mangrove forest has decreased and it is caused anthropogenic impact.Keywords: geospatial dynamic, mangrove, remote sensing, GISABSTRAKSejauh ini belum ada kesepakatan mengenai luas hutan mangrove di Indonesia. Luas hutan mangrove di Indonesia 9 tahun yang lalu adalah sekitar 4,13 juta ha, akan tetapi sekarang menurun menjadi 2,49 juta ha (60%). Penginderaan jauh memiliki peranan penting dan efektif untuk penilaian dan pemantauan dinamika tutupan hutan mangrove. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur perubahan tutupan hutan mangrove selama 20 tahun dari tahun 1993-2013, 1993-2003, dan 2003-2013, dengan menggunakan citra Landsat multi-temporal. Lokasi penelitian dipilih di Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa luas hutan mangrove mengalami penurunan yang disebabkan oleh pengaruh dari manusia.Kata Kunci: dinamika geospasial, mangrove, penginderaan jauh, SIG
ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH Setiawan, Hendra; Barus, Baba; Suwardi, Suwardi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.704 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.52

Abstract

ABSTRAKKawasan hutan Kabupaten Lombok Tengah saat ini tidak bisa memproduksi hasil hutan kayu karena kondisi vegetasi hutan kurang optimal sehingga terjadi defisit kebutuhan kayu di wilayah ini. Salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan kayu adalah melalui produksi hutan rakyat. Saat ini produksi hutan rakyat masih rendah tetapi berpotensi besar, untuk itu dibutuhkan perencanaan yang baik. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendapatkan jenis tanaman yang potensial berdasarkan referensi masyarakat dan identifikasi tingkat kelayakan dari pengusahaan hutan rakyat; (2) memetakan kesesuaian lahan untuk pengembangan hutan rakyat; (3) mendapatkan potensi ketersediaan lahan untuk pengembangan hutan rakyat di Kabupaten Lombok Tengah; dan (4) menyusun arahan pengembangan hutan rakyat. Analisis data pada penelitian ini mencakup analisis data spasial berbasis Sistem Informasi Geografi (SIG), analisis finansial, identifikasi jenis tanaman hutan rakyat prioritas menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan lahan yang dialokasikan untuk hutan rakyat di Kabupaten Lombok Tengah yang sesuai dan tersedia untuk sengon yaitu seluas 2.552,2 ha, mahoni seluas 4.363,7 ha dan jati seluas 8.825,8 ha. Analisis finansial menunjukkan bahwa pengusahaan hutan rakyat layak untuk dikembangkan terlihat dari nilai NPV, BCR, dan IRR yang memenuhi kriteria layak walaupun pada tingkat suku bunga yang berbeda. Arahan jenis tanaman hutan rakyat yaitu, pada bagian utara untuk sengon (Paraserianthes falcataria) dan mahoni (Swietenia mahogany) sedangkan di bagian selatan untuk jati (Tectona grandis). Lokasi arahan pengembangan terdapat di 8 kecamatan prioritas yaitu Pujut, Praya Barat, Batukliang, Praya Barat Daya, Batukliang Utara, Kopang, Praya Timur, dan Pringgarata. Saat ini posisi tawar petani masih rendah sehingga harga kayu dari hutan rakyat dikuasai oleh pengumpul/pedagang kayu, karena pola pengembangan dan kelembagaan kelompok tani belum terkoordinasi secara baik. Pola pengembangan kemitraan yang berbasis koperasi merupakan solusi yang tepat.Kata Kunci: hutan rakyat, pengembangan hutan rakyat, prioritas pengembanganABSTRACTCurrently, Central Lombok forest area is unable to produce timber because the forest vegetation is not in optimum condition, and resulted to the lack of wood products. Development of community forest is an alternative to meet the need for timber. Although the timber production derives from the community forest is still low, it is actually potential. Therefore, a good planning is required to boost the production. The objectives of this study were: (1) to obtain an excellent potential of plant types based on the community reference and identifiy the community forest feasibility level in terms of economic value; (2) to map potential land availability for developing community forest; (3) to assess the potential of land availability used to developed the community; and (4) to formulate the direction of community forest development. The data analyses covered in this research include spatial analyses based on Geographic Information System (GIS), financial analysis, plant type identification of the community forest priority, and conducting an Analytical Hierarchy Process (AHP). The results shows that the land allocated for the community forest in Central Lombok was suitable and available for growing sengon (Paraserianthes falcataria) (2,552.2 ha), mahogany (Swietenia mahogany) (4,363.7 ha), and teak (Tectona grandis) (8,825.8 ha). The financial analysis showed that community forest business was feasible to be developed based on the values of NPV, BCR, and IRR that met the feasibility criteria in spite of the different interest rates. The northern part of the community forest was suggested to grow sengon and mahogany while the southern part was recommended to grow teak. The recommended locations for developing the community forests consist of eight sub-districts, namely Pujut, Praya Barat, Batukliang, Praya Tenggara, Batukliang Utara, Kopang, Praya Timur and Pringgarata. The farmer’s bargaining position is apparently low so that the pricing of forest products has been controlled by the timber collectors/traders. This is due to the patterns of institutional development and farmer groups that exist today are not well coordinated. Therefore, developing a pattern of a cooperative-based partnership would be a right solution.Keywords: community forest, community forest development, development priority
ANALISIS SPASIAL PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DALAM KAITANNYA DENGAN PENATAAN ZONASI KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK Ilyas, Muhamad; Munibah, Khursatul; Rusdiana, Omo
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.536 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.48

Abstract

ABSTRAKTaman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) merupakan salah satu taman nasional yang memiliki ekosistem hutan hujan tropis terluas di Pulau Jawa. Berbagai kegiatan pemanfaatan lahan oleh masyarakat di dalam wilayah kelola TNGHS yang tidak sesuai dengan rencana zonasi TNGHS akan menyebabkan terganggunya ekosistem hutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan periode 2000-2010 dan faktor yang mempengaruhi perubahannya, serta untuk memprediksi penggunaan lahan tahun 2026 menggunakan model spasial perubahan penggunaan lahan dan merumuskan arahan penggunaan lahan di kawasan TNGHS. Simulasi perubahan penggunaan lahan berdasarkan pada faktor yang mempengaruhinya dilakukan dengan menggunakan model Conversion of Land Use and its Effects at Small Regional Extent (CLUE-S). Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 2000-2010, penggunaan lahan yang mengalami penurunan luas adalah hutan sebesar 5,55%. Penggunaan lahan yang mengalami peningkatan luas adalah ladang 2,21%, sawah 1,46%, semak 0,63%, lahan terbangun 0,34%, kebun campuran 0,60%, dan kebun teh 0,32%. Faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi non-hutan adalah kepadatan penduduk. Model CLUE-S yang disimulasikan memiliki ketelitian sebesar 88,53%. Arahan penggunaan lahan di kawasan TNGHS dalam penelitian ini adalah kebijakan restorasi hutan pada zona rehabilitasi, zona rimba, dan zona inti yang dapat mengurangi ketidaksesuaian penggunaan lahan dengan zonasi pada tahun 2026 menjadi 9,23%.Kata Kunci: perubahan penggunaan lahan, model spasial, CLUE-S, Sistem Informasi Geografis,Taman Nasional Gunung Halimun-SalakABSTRACTGunung Halimun-Salak National Park (GHSNP) is the largest tropical rain forest ecosystem in Java. A variety of landuse activities by communities that does not comply with the zoning plan of GHSNP will cause degradation of the forest ecosystem. This study aims to analyze landuse changes during the period of 2000-2010 and the driving factors of the landuse changes, and to predict the use of land in 2026 using spatial models of landuse change to formulate directives refinement for the landuse planning of GHSNP. Simulation of the landuse change based on its driving factors was carried out using the Conversion of Landuse and its Effects at Small Regional Extent (CLUE-S) model. The results show that there were changes in the landuse during the 2000-2010 periods. The most extensive landuse decline was forest that decreased by 5.5%. On the other hand, the landuse that extensively increased was cultivated land that increased by 2.21%, consisted of rice field that increased by 1.46%, bush that increased by 0.63%, mixed vegetation that increased by 0.60% and tea plantation that increased by 0.32%. The driving factor of the landuse changes from forest to non-forest was density population. CLUE-S prediction produced an accuracy of 88.53%.The policy of the directive landuse of the TNGHS region selected based on this study was the forest restoration on rehabilitation zones, forest zone, and core zone that could reduce the un-suitability landuse plan in the year 2026 by 9.23%.Keywords: landuse change, spatial model, CLUE-S, Geographical Information System, Gunung Halimun-Salak National Park
ARAHAN SPASIAL PENGEMBANGAN MINA PADI BERBASIS KESESUAIAN LAHAN DAN ANALISIS A’WOT DI KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT Cahyaningrum, Wuri; Widiatmaka, Widiatmaka; Soewardi, Kadarwan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.604 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.53

Abstract

ABSTRAKMina padi merupakan metode pemeliharaan ikan dan padi dalam satu hamparan sawah. Penerapan sistem mina padi dapat meningkatkan produktivitas lahan sawah karena selain padi, petani juga akan mendapatkan ikan. Budidaya ikan sistem mina padi di Kabupaten Cianjur umumnya dilakukan pada periode penyelang antar-pertanaman padi dan tumpang sari bersama padi. Dengan demikian, dalam sekali siklus budidaya sistem mina padi dapat dilakukan 2 kali pemanenan ikan dan 1 kali pemanenan padi. Informasi mengenai wilayah yang berpotensi untuk lokasi budidaya merupakan faktor penting dalam pengembangan perikanan. Informasi dan data potensi lahan akan memberikan panduan dalam memilih lokasi yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesesuaian lahan untuk mina padi serta merumuskan arahan pengembangan budidaya ikan air tawar di Kabupaten Cianjur. Kesesuaian lahan untuk mina padi pada penelitian ini dibangun berdasarkan kesesuaian lahan untuk padi sawah dan ketersediaan daerah irigasi. Data dan informasi wilayah yang potensial dihasilkan melalui analisis kesesuaian lahan dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Rumusan arahan pengembangan dilakukan dengan analisis (A’WOT), yaitu kombinasi analisis AHP (Analytical Hierarchy Process) dan analisis SWOT (Strength – Weakness – Opportunity – Threat). Hasil analisis kesesuaian lahan menunjukkan bahwa lahan yang sesuai untuk mina padi sebesar 13.004 hektar atau 3,59% dari total luas wilayah Kabupaten Cianjur. Diantara lahan yang sesuai tersebut, lahan yang sesuai dan tersedia sebesar 9.553 ha (2,64%) dan lahan yang sesuai tetapi tidak tersedia sebesar 3.451 ha (0,95%). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perencanaan lebih lanjut untuk pengembangan perikanan di Kabupaten Cianjur.Kata kunci: mina padi, SIG, kesesuaian lahan, ketersediaan lahanABSTRACTMina padi is a method of fish and paddy farming in one site of paddy field. The use of mina padi system might increase land productivity of paddy field because farmers can harvest paddy as well as fish. Fish farming through mina padi system in Cianjur Regency is generally done in two periods, which is during the period of transition and intercropping with paddy. Thus, in one farming-cycle, mina padi system can give two times of fish harvests and one times of paddy harvest. Information about farming location is an important factor in fishing development. Information and data about land potency will provide guidance to a suitable location. This study aimed to identify suitable sites for mina padi and to formulate a direction for aquaculture development in Cianjur Regency, West Java Province. Land suitability for mina padi system in this research is built based on land suitability for paddy field and availability of irrigation. Data and information on potential region was resulted by land suitability analysis and Geographic Information System (GIS). The direction for aquaculture development was resulted by A’WOT analysis, a combination between AHP (Analytical Hierarchy Process) analysis and SWOT (Strength – Weakness – Opportunity – Threat) analysis. The analysis result shows that the suitable land for mina padi was 13,004 hectares or just around 3.59% of the total region. Of such suitable land, the suitable and available land was 9,553 ha (2.64%) and the suitable but not available land was 3,451 ha (0.95%). The results are expected to become a consideration for more detailed planning of fishery development in Cianjur Regency.Keywords: mina padi, SIG, land suitability, land availability
PEMANFAATAN PESAWAT UDARA NIR-AWAK (PUNA) SEBAGAI METODE ALTERNATIF PENGUMPULAN DATA GEOSPASIAL PULAU-PULAU KECIL TERLUAR Niendyawati, Niendyawati; Artanto, Eko
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.542 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.44

Abstract

ABSTRAKNegara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai ribuan pulau besar maupun kecil yang tersebar dari Sabang hingga Merauke dan dari Miangas hingga Pulau Rote. Pemetaan pada pulau-pulau besar relatif mudah dilakukan dibanding di pulau-pulau kecil. Aksesibilitas ke lokasi dan kendala tutupan awan seperti pada citra optik menjadi hambatan utama pemetaan pulau-pulau kecil. Namun data dan informasi geospasial pulau-pulau kecil terluar harus tetap dikumpulkan dan dimutakhirkan. Pemotretan dengan Pesawat Udara Nir-Awak (PUNA) dilakukan sebagai alternatif untuk mendapapatkan sumber data pemetaan. Pemotretan menggunakan pesawat tanpa awak dikendalikan dengan menggunakan remote control dan komputer. Tujuan dari pemanfaatan PUNA ini untuk mendapatkan data geospasial pulau-pulau kecil terluar, sesuai dengan skala yang diinginkan tanpa gangguan tutupan awan. Pulau Batek yang merupakan salah satu dari 92 pulau kecil terluar dipilih sebagai lokasi kajian. Pulau Batek termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hasil uji ketelitian menunjukkan bahwa keseluruhan foto yang dihasilkan memiliki nilai Ground Spatial Distance kurang dari 20 cm, dimana ukuran tersebut telah memenuhi kebutuhan untuk produksi peta sampai skala 1:2.500.Kata Kunci: PUNA, pulau kecil terluar, informasi geospasialABSTRACTIndonesia is an archipelagic state that has many large and small islands spreading from Sabang to Merauke and from Miangas to Rote islands. Mapping the larger islands is relatively easier than the small islands. Accessibility to the small islands sites and the constraints due to cloud cover as occasionally appeared on optical satellite imageries are the main obstacles for mapping the small islands. However, geospatial data and information of the outermost small islands should be continually collected and updated. This research evaluates the used of Unmanned Aerial Vehicle (UAV) as an alternative to inventory and update geospatial data. The collecting data used drones that controlled via remote control and computer. The purpose of the use of UAV was to collect geospatial data of the outermost small islands in a particular desired scale and cloud cover free images. The location of the research was in Batek Island which is one among the 92 outermost islands of Indonesia, which located at Kupang district, East Nusa Tenggara Province. The result shows that the overall photos has a Spatial Ground Distance value smaller than 20 cm, this size has met the requirements for mapping production at the scale of 1:2,500.Keywords: UAV, outermost small island, geospatial information
MODEL SPASIAL PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU DAN DAERAH PENYANGGANYA Alkaf, Muhamad; Munibah, Khursatul; Rusdiana, Omo
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.56 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.49

Abstract

ABSTRAKTaman Nasional Gunung Merbabu adalah salah satu kawasan konservasi yang mencapai kondisi ecological-overstress disebabkan oleh tekanan penduduk. Penutupan lahan hutan hanya tersisa 30% dari keseluruhan kawasan Taman Nasional dengan laju deforestasi mencapai 3% per tahun. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi mengindikasikan adanya perubahan ekosistem yang dapat mengancam fungsi kawasan terutama fungsi ekologi. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi penutupan lahan di masa yang akan datang dengan mengetahui pola perubahan tutupan lahan di masa lalu hingga saat ini. Metode Cellular Automata Markov (CA Markov) digunakan untuk membuat model spasial perubahan penggunaan lahan. Hasil dari penelitian ini adalah prediksi penggunaan lahan pada tahun 2025 dan rumusan skenario untuk mengatasi perubahan tersebut. Deforestasi diprediksi akan terus terjadi di masa yang akan datang, usaha yang penting untuk dilakukan adalah mengurangi laju deforestasi.Kata Kunci: Gunung Merbabu, perubahan penggunaan lahan, prediksiABSTRACTMerbabu Mountain National Park is one among conservation areas with ecological-overstress condition caused by population pressure. Forest cover in that area is only remains 30% and deforestation rate reaches 3% per year. The occurrence of landuse changes indicates the changes on ecosystem that threaten the ecological function of the area. This study modeled to predict the future landuse by determines the pattern of landuse change in the past to the present. This research uses CA Markov (Cellular Automata Markov) method to derive spatial landuse changes model. The results of this study were landuse prediction in 2025 and scenarios to cope with the changes. The deforestation was predicted to continue in the future, so that the necessary attempt is needed to reduce the rate of deforestation.Keywords: Merbabu Mountain, landuse change, prediction
EVALUASI MULTI-KRITERIA UNTUK KESESUAIAN LAHAN BUDIDAYA LEBAH MADU DI KABUPATEN CIANJUR Rachmawati, Nia; Munibah, Khursatul; Widiatmaka, Widiatmaka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1021.75 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.54

Abstract

ABSTRAKKebijakan pembangunan kehutanan yang berbasis sumberdaya alam memberikan manfaat pada pengembangan hasil hutan bukan kayu melalui kegiatan usaha perhutanan rakyat, diantaranya pengembangan usaha perlebahan. Usaha ini cukup prospektif dari sisi pemenuhan kebutuhan dalam negeri, karena tingginya permintaan madu untuk berbagai kebutuhan seperti industri makanan dan farmasi. Salah satu wilayah yang berpotensi untuk pengembangan budidaya lebah madu adalah Kabupaten Cianjur. Di wilayah ini, budidaya lebah madu mulai diusahakan sejak tahun 2006. Jenis lebah madu yang dibudidayakan adalah Apis mellifera. Kendala utama yang dihadapi dalam budidaya tersebut adalah keterbatasan sumber pakan. Sifat migratory lebah Apis mellifera menyebabkan pada bulan-bulan tertentu harus digembalakan keluar Kabupaten Cianjur untuk meningkatkan produksi madu. Sebagai salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Cianjur melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan menyusun Partisipatory Bisnis Plan (PBP) untuk membangun Taman Wisata Lebah. Konsep dasar dalam PBP adalah melaksanakan budidaya lebah madu secara terintegrasi. Atas dasar hal tersebut maka diperlukan penelitian untuk menentukan lokasi-lokasi yang paling berpotensi dan memungkinkan untuk dijadikan tempat budidaya lebah madu. Aspek biofisik maupun sosial merupakan faktor yang memberikan pengaruh terhadap keberlanjutan budidaya lebah madu. Pada penelitian ini, Sistem Informasi Geografis (SIG) digunakan untuk membangun kerangka model kesesuaian lahan untuk budidaya lebah madu melalui pendekatan evaluasi multi-kriteria dan proses hirarki analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa lokasi yang menjadi prioritas utama untuk pengembangan budidaya lebah madu,antara lain Kecamatan Cikalongkulon, Kecamatan Bojongpicung, Kecamatan Haurwangi, dan Kecamatan Sukaresmi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan arahan bagi pengembangan kegiatan budidaya lebah madu di Kabupaten Cianjur, termasuk prioritas wilayah untuk pengembangan budidaya lebah.Kata Kunci: Apis mellifera, budidaya lebah madu, analisis multi-kriteria, kesesuaianABSTRACTForestry development policy based on natural resources, providing the benefits to the development of non-timber forest products through social forestry operations, including beekeeping business. Beekeeping businesses is prospective in terms of domestic needs, because of the high demand for honey bee. This product is used for a variety of needs such as food and pharmacy industries. One of the potential areas for beekeeping development is Cianjur Regency, West Java. In this region, beekeeping was begun to be cultivated since 2006. The species of honey bee that is cultivated is Apis mellifera. The main problem encountered in the cultivation is limited forage resources. Apis mellifera is a migratory insect, causing the obligation of herded out Cianjur in certain months to increase honey production. As an effort to overcome this problem, Cianjur Government through the Agency of Forestry and Plantation has a Participatory Business Plan (PBP) to build a Tourist Park Bees. The basic concept of the PBP is to implement an integrated beekeeping culture. Based on such problem, studies are needed to determine spatially, the most potential location which allows serving as a beekeeping. The biophysical aspects as well as socio-economic aspects are factors that influence the continuity of beekeeping. In this study, the geographic information system (GIS) is used to construct a framework model for land suitability for beekeeping through a multi-criteria evaluation approach (MCE) and analytical hierarchy process (AHP). The result of the study showed that there are some priority areas for beekeeping development such as Cikalongkulon, Bojongpicung, Haurwangi, and Sukaresmi sub-districts. The results of this study are expected to provide direction for the beekeeping development in Cianjur Regency.Keywords: Apis mellifera, beekeeping, multi-criteria evaluation, suitability
PENGGUNAAN UNMANNED AERIAL VEHICLE UNTUK VALIDASI PETA RAWAN BANJIR DI KABUPATEN KUDUS DAN PATI Suryanta, Jaka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.722 KB)

Abstract

ABSTRAKBanjir terjadi karena hujan lebat dengan sebaran merata dan dalam durasi relatif lama pada suatu wilayah cekungan atau dataran. Menurut tempat kejadiannya, banjir dikelompokkan menjadi empat jenis banjir yaitu banjir bandang, banjir kota, banjir pesisir, dan banjir sungai. Wilayah banjir ini dapat dipetakan dengan bantuan citra satelit, foto udara kemudian diintegrasikan dengan data Shuttle Radar Thematic Mapper (SRTM), bentuklahan, ditambah historis kejadian banjir. Data historis kejadian banjir sangat jarang didokumentasikan dalam bentuk peta poligon atau suatu area yang menggambarkan sebaran genangan, melainkan secara umum berupa titik-titik yang pernah tergenang. Luas genangan banjir akan berubah tergantung pada intensitas dan lama hujan, dengan demikian validasi sangat ideal dilakukan ketika terjadi banjir besar yang akan menunjukkan batas-batas genangan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan validasi peta rawan banjir daerah Pati dan Kudus yang sudah dipetakan pada tahun 2008 dengan membandingkan kembali kejadian banjir bulan Februari 2014. Peralatan yang digunakan adalah GPS untuk melakukan pengamatan pada titik-titik batas tergenang dan pesawat Unmanned Aerial Vehicle (UAV) untuk pengambilan foto udara pada batas-batas wilayah tergenang. Dari foto UAV bisa ditunjukkan batas genangan banjir, sawah, dan permukiman yang terendam banjir. Berdasarkan hasil pengamatan pada lima stasiun hujan ditunjukkan bahwa intensitas curah hujan tahun 2008 hampir sama dengan yang terjadi pada 2014 dengan pola sebaran banjir juga hampir sama. Setelah dilakukan pengamatan di beberapa titik dengan GPS dan foto UAV, peta rawan banjir menunjukkan ketelitian yang cukup baik.Kata Kunci: banjir, peta rawan banjir, UAVABSTRACTFlood occurs due to heavy rainfall that spread evenly in a basin within a relatively long duration. Based on its location, flood can be grouped into four types, namely flash flood, town flooding, coastal flooding and river flooding. The flood region can be mapped by using satellite imagery and aerial photography. Those data then was integrated with SRTM, landform, and historical flood data. Historical of flood events are rarely documented in the form of a polygon map or an area that describes the distribution of the flood inundation, but generally reported in the form of points that indicated the flooding locations. The spread of inundation would varies depending on the rainfall intensity and duration, thus the ideal validation is done during the occurrence of big flood to identify the limit and extent of flood area. This study aims to validate flood susceptibility maps of Pati and Kudus area that had been mapped in 2008, by comparing with the floods that occurred in February 2014. The equipment used were GPS as a tool to assist in observing the point of flood’s boundaries and Unmanned Aerial Vehicle (UAV) for collecting aerial photo of the flooded area boundaries. The boundary of flood waters can be seen from the photos of UAV including the flooded fields and settlements area. Meanwhile, based on the observations in five rainfall stations, the rainfall in 2008 almost at the same intensity as that occurred in 2014, with the distribution pattern of flooding is also about the same. Based on the observations made at several points marked using GPS and UAV’s photos, it shows that the flood susceptibility map of 2008 considered in a good accuracy.Keywords: flood, flood susceptibility map, UAV
ANALISIS SPASIAL KEMAMPUAN DAN KESESUAIAN LAHAN UNTUK MENDUKUNG MODEL PERUMUSAN KEBIJAKAN MANAJEMEN LANSKAP DI SEMPADAN CILIWUNG, KOTA BOGOR Susetyo, Budi; Widiatmika, Widiatmaka; Arifin, Hadi S; Machfud, Machfud; Arifin, Nurhayati H.S.
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1076.624 KB)

Abstract

ABSTRAKKeputusan Presiden No 32/1990 menyatakan bahwa sempadan sungai adalah kawasan perlindungan setempat. Pelestarian kawasan sempadan ini juga didukung oleh peraturan lainnya. Meskipun demikian, berbagai pelanggaran terhadap peraturan perundangan terus terjadi, termasuk banyaknya permukiman ilegal di kawasan sempadan Ciliwung yang memunculkan bahaya lingkungan. Oleh karena itu langkah pencegahan perlu segera ditempuh. Model perumusan kebijakan pengelolaan lanskap dirancang untuk dapat mengatasi hal ini melalui dukungan analisis spasial kemampuan lahan dan kesesuaiannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan lahan dan kesesuaiannya untuk beberapa tanaman guna mendukung program penghijauan di kawasan sempadan Ciliwung. Evaluasi lahan dilakukan melalui analisis Satuan Peta Lahan (SPL). Kawasan sempadan Ciliwung di Kota Bogor ini terbagi menjadi 18 SPL. Analisis spasial yang dilakukan berdasarkan data tahun 2006-2013, menunjukkan terjadinya peningkatan permukiman ilegal sebesar 0,8% dan tingkat pengurangan luas ruang terbuka hijau sebesar 0,17%. Hasil analisis kemampuan lahan menunjukkan bahwa 85,78% dari total luas lahan memiliki kemampuan sedang hingga tinggi (kelas II-e, II-w, III dan IV-e). Kelas kemampuan lahan II-IV direkomendasikan untuk lahan pertanian, sedangkan kelas V-VII direkomendasikan sebagai lahan konservasi. Berdasarkan analisis kesesuaian lahan, daerah ini memiliki potensi kesesuaian lahan untuk jenis tanaman budidaya, khususnya buah-buahan. Hasil ini dapat menjadi alat yang kuat untuk merumuskan kebijakan pengelolaan lanskap di sempadan Sungai Ciliwung di Kota Bogor.Kata Kunci: evaluasi lahan, kemampuan lahan, kesesuaian lahan, manajemen lanskap, penghijauan, kebijakanABSTRACTAccording to the Presidential Decree No. 32/1990, riparian area is among locally protected areas. Other government regulations strongly recommend on conservation of the riparian area. Typically, continuous violation of governmental regulation is noted mainly illegal settlements in the Ciliwung riparian area, which led to environmental hazards. Hence preventive major should be taken in this regard. A policy formulation model of landscape management can be designed through spatial analysis of land capability and land suitability. The aim of this research is to analyze land capability and suitability for re-greening program in the Ciliwung riparian area. Land evaluation is carried out through analysis of soil map units (SPL), which are divided into 18 SPL, followed by land capability and suitability analysis. Results of spatial analyzes based on data year 2006-2013 showed a rate of increase in illegal settlement area by 0.8% and a rate of reduction in green open space area by 0.17%. The result of land capability analysis shows that the total area is approximately 85.78% has moderate to high land capability (class II-e, II-w, III-e and IV-e). The land capability classes II-IV are recommended for agricultural land, while classes V-VII are recommended for conservation area. Based on land suitability analysis, this area has potential for local crops. These results can be strong tools for formulating a landscape management policy for Ciliwung riparian area in Bogor City.Keywords: land evaluation, land capability, land suitability, landscape management, re-greening, policy
PERUBAHAN MUKA AIR LAUT BERDASARKAN DATA SATELIT ALTIMETRI DAN DATA ARGO PADA RENTANG 1992-2012 DI WILAYAH SAMUDERA PASIFIK BAGIAN BARAT Hartanto, Prayudha; Prijatna, Kosasih; Nurmaulita, Sella Lestari
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.175 KB)

Abstract

ABSTRAKWilayah Samudera Pasifik bagian barat merupakan salah satu wilayah yang mengalami kenaikan muka laut tertinggi di dunia. Data satelit altimetri Topex/Poseidon Jason 1 dan Jason 2, pada kurun waktu tahun 1992-2012, menunjukkan rata-rata kenaikan muka laut di area ini adalah 6,982 ± 3,493 mm/tahun. Sebagai pembanding, perubahan muka laut di wilayah ini pun dihitung berdasarkan data suhu dan salinitas dari pelampung Argo. Data suhu dan salinitas yang digunakan berada pada rentang waktu tahun 2000 – 2013. Perubahan tinggi muka laut berdasarkan data pelampung Argo adalah 14,352 ±13.002 mm/tahun. Tinggi muka laut ini merupakan komponen sterik dari total perubahan muka air laut. Tinggi sterik muka air laut merupakan ketebalan vertikal di atas sebuah lapisan ketebalan h dari anomali volume tertentu dan dapat dihubungkan dengan medan densitas lautan. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa ekspansi termal lautan merupakan penyebab utama perubahan/kenaikan muka laut global. Pada masa yang akan datang, penggunaan data pengamatan pelampung Argo dapat dikembangkan untuk memantau perubahan muka laut global maupun regional.Kata Kunci: perubahan muka laut, altimetri, Argo, muka laut sterikABSTRACTThe Western Pacific Ocean has the highest sea level rise rate on the world. The Topex/Poseidon, Jason 1 and Jason 2 satellite altimetry data shows the average of sea level rise in this area during the 1992-2012 period was 6.982 ± 3.493 mm/annually. As a comparison, changes in the sea level in this area was calculated based on temperature and salinity data from Argo floats. The temperature and salinity data used were collected during the period of 2000-2013. Changes in the sea level based on Argo floats data was 14.352 ± 13,002 mm/annually. This Argo-based sea level is a steric component of the total sea level changes. The steric sea level height is a volume anomaly of a vertical thickness above a layer of thickness h and can be attributed to ocean density field. Based on these results, it can be concluded that the thermal expansion of the oceans is a major cause of global sea level rise. In the future, the usage of Argo floats observation data can be directed to monitor the changes in global and regional sea level.Keywords: sea level change, altimetry, Argo, steric sea level

Page 1 of 2 | Total Record : 11