cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
ESTIMASI HASIL AIR DARI DAERAH TANGKAPAN AIR DANAU RAWA PENING DENGAN MENGGUNAKAN MODEL INVEST Nugroho, Nunung Puji
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (844.279 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-2.578

Abstract

ABSTRAKInformasi hasil air dari suatu ekosistem sangat penting dalam pengelolaan sumber daya air. Dalam perencanaan kegiatan konservasi sumber daya air, informasi sebaran spasial hasil air diperlukan untuk menentukan prioritas wilayah terkait dengan alokasi anggaran. Hasil air dari suatu ekosistem atau daerah aliran sungai (DAS) dapat diestimasi dengan menggunakan model hidrologi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang hasil air, baik besaran maupun sebaran spasialnya, dari daerah tangkapan air (DTA) Danau Rawa Pening. Hasil air dari lokasi penelitian dihitung dengan menggunakan model hasil air pada InVEST (the Integrated Valuation of Ecosystem Services and Tradeoffs), yang didasarkan pada pendekatan neraca air. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa volume hasil air di DTA Danau Rawa Pening pada tahun 2015 adalah sekitar 337 juta m3. SubDAS Galeh, sebagai subDAS terluas, merupakan penghasil air terbesar (72,4 juta m3) diikuti oleh subDAS Sraten (66,8 juta m3) dan Parat (62,4 juta m3). Secara spasial, hasil air di lokasi kajian mempunyai nilai antara 0 hingga 29.634,19 m3/ha. Wilayah hulu dan tengah subDAS Sraten secara umum mempunyai hasil air yang lebih tinggi, sedangkan wilayah danau dan sekitarnya serta hulu subDAS Galeh mempunyai hasil air yang lebih rendah dibandingkan dengan wilayah lainnya. Wilayah dengan hasil air tinggi dapat diprioritaskan dalam kegiatan konservasi sumber daya air untuk mendukung pasokan air ke Danau Rawa Pening.Kata kunci: hasil air, daerah tangkapan air, model InVEST, Danau Rawa PeningABSTRACTAccurate information on water yield from an ecosystem is very important in the management of water resources. In the planning of water resources conservation activities, the information on the spatial distribution of water yield is needed to determine regional priorities related to budget allocations. The water yield from an ecosystem or watershed can be estimated using a hydrological model. This study aimed to obtain information about the water yield, both the magnitude and their spatial distribution, from the catchment areas of Lake Rawa Pening. The water yield from the study area was calculated using the water yield model in InVEST (the Integrated Valuation of Ecosystem Services and Tradeoffs), which based on the water balance approach. The results indicated that the volume of water yield in Lake Rawa Pening for 2015 is approximately 337 million m3. Galeh subwatershed, as the largest subwatershed, is the largest water producer (72.4 million m3), followed by Sraten subwatershed (66.8 million m3) and Parat subwatershed (62.4 million m3). Spatially, the water yield at the study site has a value between 0 to 29,634.19 m3/ha. Upstream and middle areas of Sraten subwatershed generally have higher water yield, while the lake and its surrounding areas as well as the upstream of Galeh subwatershed have lower water yield compared to other regions. The regions with high water yield can be prioritized in water resource conservation activities to support the supply of water to Lake Rawa Pening.Keywords: water yield, catchment areas, InVEST model, Lake Rawa Pening
PENGARUH KETINGGIAN DALAM ANALISIS KEMASUK-AKALAN (PLAUSIBILITY FUNCTION) UNTUK OPTIMALISASI KLASIFIKASI PENGGUNAAN LAHAN Hidayati, Iswari Nur
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1580.29 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.66

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah: (1) mengkaji aspek kemasuk-akalan untuk mendapatkan informasi penggunaan lahandari data penutup lahan yang diperoleh dari citra penginderaan jauh; dan (2) mengkaji pengaruh informasi ketinggiandalam pengambilan keputusan untuk pemetaan penggunaan lahan. Metode yang digunakan dalam penelitian iniadalah pembuatan klasifikasi maximum likelihood untuk pemetaan penutup lahan yang dibuat dari citra LandsatETM+. Dari hasil klasifikasi kemudian dilakukan perkalian terhadap nilai plausibilitas untuk penggunaan lahan danplausibilitas lereng sehingga menghasilkan klasifikasi penggunaan lahan optimal. Penggunaan lahan optimal adalahpenggunaan lahan yang sesuai dengan keadaan di lapangan dengan memperhatikan ”local knowledge” dan aspekketidak-pastian. Teori Dempster-Shaffer menawarkan alternatif berdasarkan teori probabilitas yang direpresentasikanmelalui ketidakpastian dengan mencari nilai terbaik dari plausibilitas penutup lahan untuk penggunaan lahan, yangdiperoleh dari perkalian antara nilai terbaik dari plausibilitas penutup lahan dengan plausibilitas elevasi optimum untukpenggunaan lahan. Penelitian ini merupakan modifikasi Teori Dempster-Shaffer untuk pemetaan Penggunaan LahanOptimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode tersebut dapat digunakan untuk optimalisasi penggunaanlahan. Hasil akurasi dari metode ini adalah 92,40% dan koefisien kappa sebesar 0,93.Kata Kunci: Ketinggian, Faktor Kemasuk-Akalan, Penggunaan Lahan, Teori Dempster-Shaffer.ABSTRACTThe aims of the research were: (1) to study the plausibility effect on land use classification, and (2) to study theeffect of elevation that is used as evidence for optimalisation of land use classification. The method applied in thisresearch was maximum likelihood classification for land cover mapping using Landsat ETM+ image. Dempster-ShaferTheory offers an alternative to traditional probabilistic theory for the mathematical representation of uncertainty.Dempster-Shafer Theory does not require an assumption regarding the probability of the individual constituents of theset or interval. Dempster-Shaffer Theory of evidence is used to find the best land use classification. Plausibility valueswere combined to find optimum land use. A plausibility class is made out of signature classes. A signature class madeout of land cover plausibilities. The method was optimum land cover plausibility multiplied by elevation plausibility. Themethod used in this study was a modification of Dempster-Shaffer Theory of evidence to optimum land useclassification. The results of this study show that the first method was very good in producing optimum land useclassification. The accuracy of land use classification was 92.40% and the kappa coefficient was 0.93.Keywords: Elevation, Plausibility Factor, Landuse, Dempster-Shaffer Theory.
TANTANGAN UNTUK PENYEMPURNAAN NAMA-NAMA GEOGRAFIS PADA PETA-PETA INDONESIA Santoso, Widodo Edy
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1354.135 KB)

Abstract

Sebagian besar peta-peta lndonesia yang dahulu menjadi acuan seperti peta topografi, hidrografi, kadaster, dsb., merupakan karya bangsa asing. Walaupun secara teknis baik, namun banyak penggunaan istilah-istilah atau nama-nama asing yang kadang malah tidak dimengerti oleh masyarakat Indonesia sendiri. Peta-peta yang sekarang banyak diterbitkan baik oleh instansi pemerintah maupun swasta kurang konsisten dalam menuliskan nama-nama geografis, selain itu masih ribuan unsur-unsur geografis yang masih belum mempunyai nama. Hal tersebut, merupakan pekerjaan besar dan peluang untuk membuka penelitian tentang nama-nama geografis (toponimi). Langkah apakah yang perlu dilakukan untuk menyempunrnakan wujud perpetaan di Indonesia, yaitu menetapkan dan melengkapi peristilahan geografis, menetapkan nama- nama unsur geografis, pembakuan penulisan nama-nama unsur geografis dan menetapkan badan yang berwenang mengenai nama-nama geografis.ABSTRACTMost or Indonesian maps were used as references in the past such as topographic, hydrographic and cadastral maps are made by foreign nation. Those maps are technically useful, however, most of Indonesian people are self did not understand in the use of local terminologies and foreign name. Currently, some maps are published by government and other agencies are not care about consistency in geographical names writing, in addition thousands of geographic features unnamed. Its a big working and possible to implement geographical names research. A kind of pace is should be done to perfect a comprehensive mapping existence in Indonesia, among other things in determining and completing geographic terminologies, establishing names for geographic features, standardization on writing system of geographical names, and establishing names authority agency.Kata kunci: Nama-nama geografis (Toponimi), peristilahan geografis, sistem penulisan, badan yang berwenang mengenai toponimi.Keyword : Geographical names (toponymy), geographic terminology, writing system, names authority.
PERUBAHAN GARIS PANTAI DAN REGULASI PENGELOLAAN LAHAN BARU DI DELTA CIPUNAGARA, SUBANG, JAWA BARAT Munibah, Khursatul; Iswati, Asdar; Tjahjono, Boedi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.37 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2010.12-2.130

Abstract

Perubahan garis pantai dapat terjadi karena faktor alam atau campur tangan manusia seperti perkembangan delta atau reklamasi pantai, Dalam beberapa kasus, perubahan garis pantai dapat membentuk lahan baru yang disebut delta atau lahan timbul. Lahan baru yang terjadi di Delta Cipunagara terus mengalami penambahan seluas 138,9 ha (1962-1972); 757,3 ha (1972-1990) dan 623,0 ha (1990-2008) dengan laju masing-masing sebesar 13,9 ha/tahun, 42,1 ha/tahun dan 34,6 ha/tahun. Penggunaan lahan di lahan baru didominasi oleh tambak sebesar 26,0% (1972); 50,0% (1990) dan 67,8% (2008). Saat ini, lahan baru di Delta Cipunegara dikelola oleh masyarakat setempat dengan seijin kepala desa, yang diujudkan dalam bentuk Surat Izin Mengelola (SIM). Kenyataan menunjukkan bahwa penguasaan lahan baru belum jelas secara yuridis, sehingga dapat menjadi pemicu konflik. Oleh karena itu, kepastian kepemilikan lahan baru perlu segera ditangani oleh pemerintah untuk meminimumkan konflik sosial di masa datang.Kata kunci: Lahan Baru, Garis Pantai, Konflik Sosial ABTRACTCoastline change occurred by natural or anthropogenic processes such as delta development or land coastal reclamation. In some cases, coastline change can create the new land that called delta or emergence land. The new land in Delta Cipunagara has enlarged about 138,9 ha (1962-1972); 757,3 ha (1972-1990) dan 623,0 ha (1990-2008) with rate 13,9 ha/year; 42,1 ha/year and 34,6 ha/year, respectively. Land use in the emergence land are dominated by pound about 26,0 % (1972); 50,0% (1990) and 67,8% (2008). Now, the new lands in Delta Cipunagara are occupied by the local people based on Chief of Village Certificate. In reality, the owner of the new land is unknown judicially so that canprovoke a social conflict. This situation should be clarified judicially by government in order to minimize a social conflict in the future.Keywords: Emergence Land, Coastline, Social Conflict
Preface GLOBE Vol. 19 No. 1 Globe, redaksi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1684.187 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-1.738

Abstract

PERENCANAAN PENGGUNAAN LAHAN BERBASIS KONSERVASI SUMBER DAYA AIR DI SUB DAS CISADANE HULU Maryanto, Dwi; Baskoro, DP Tejo; Barus, Baba
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.923 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.71

Abstract

ABSTRAKPermasalahan penggunaan lahan di Sub DAS Cisadane Hulu sudah mengganggu kondisi tata airnya. Tujuan daripenelitian ini adalah untuk (1) mengidentifikasi kinerja sub-sub DAS; (2) menentukan arahan penggunaan lahan; dan(3) mengidentifikasi preferensi masyarakat tentang jenis penggunaan lahan yang optimal. Parameter penilai kinerjasub-sub DAS meliputi Indeks Penggunaan Lahan (IPL), koefisien limpasan (C), Indeks Bahaya Erosi (IBE) dan kadarsedimen (SC). Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 44 sub-sub DAS Cisadane Hulu, 36 sub-sub DAS berkinerjaBuruk dan 8 lainnya berkinerja Sedang. Untuk meningkatkan kinerjanya digunakan skenario terbaik dalam rangkakonservasi sumberdaya air. Skenario Fungsi Kawasan menghasilkan komposisi penggunaan lahan yang terbaik,dibanding skenario Kemampuan Lahan dan RTRW. Dalam skenario terbaik, Sub DAS Cisadane Hulu terbagi atas 3kawasan dengan prioritas penggunaan lahan yang berbeda. Kawasan Lindung diarahkan untuk hutan, kawasanpenyangga diarahkan untuk hutan dan perkebunan campuran, dan kawasan budidaya diarahkan untuk sawah.Analytic Hierarchy Process (AHP) menunjukkan bahwa masyarakat memilih kawasan penyangga diarahkan untukperkebunan campuran dan kawasan budidaya diarahkan untuk sawah. Untuk melaksanakan arahan penggunaanlahan terbaik tersebut, diperlukan strategi kebijakan yaitu penetapan status kawasan, sosialisasi dan pengendalianpemanfaatan ruang yang ketat.Kata Kunci: DAS, Konservasi Sumberdaya Air, Arahan Penggunaan Lahan.ABSTRACTLand use problem in Cisadane Hulu sub watershed has led to deterioration of water resources, so that moreattention should be given to water resources conservation. The objectives of this research were: (1) to identify theperformance of sub watersheds, (2) to evaluate alternatives of land use allocation, and (3) to identify people’spreference on optimum land use. Parameters used for assessing the performance of sub watersheds include LandCover Index (IPL), coefficient of runoff (C), Erosion Hazard Index (IBE) and Suspended Sediment Concentration (Sc).Among the sub watersheds, 36 sub watersheds showed “Poor” performance, and 8 sub watersheds showed “Medium”performance. To improve the performance, 3 scenarios of land use allocation were simulated, those based onFunctional Zone, Land Capability, and Land Use Planning (RTRW). The result showed that Functional Zone scenarioproduced the best result. The best scenario directed the Cisadane Hulu sub watershed into 3 main areas with differentland use priorities. Within this scenario, protected area is directed as forest, buffer zone area as forest or mixedplantation, and cultivated area as rice field. Meanwhile, Analytic Hierarchy Process (AHP) result showed that peopleprefer to use the buffer zone area as mix plantation and the cultivation area as rice field. To implement the best landuse allocation, strategic policy is required such as defining legal status of particular area, socialization andimplementation of tight control of the land use.Keyword: Watershed, Water Resources Conservation, Land Use Allocation.
HUBUNGAN ANTARA KEBERADAAN IKAN PELAGIS DENGAN FENOMENA OSEANOGRAFI DAN PERUBAHAN IKLIM MUSIMAN BERDASARKAN ANALISIS DATA PENGINDERAAN JAUH Hendiarti, Nani
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1458.22 KB)

Abstract

Kelimpahan ikan pelagis sangat dipengaruhi oleh sifat bio-fisik perairan Indonesia yang dinamis. Hal ini terkait dengan fenomena oseanografi seperti upwelling, throughflow dan coastal discharge yang turut berperan dalam pertumbuhan ekosistem pesisir. Untuk keperluan ini, teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dapat dimanfaatkan dalam memetakan informasi lingkungan seperti suhu permukaan laut, klorofil dan kekeruhan perairan secara spasial maupun multi temporal. Pengukuran lapangan (in-situ) diperlukan untuk verifikasi dan kajian di kedalaman. Dalam makalah ini, hubungan antara fenomena oseanografi yang dipengaruhi oleh iklim musiman dengan keberadaan ikan pelagis dikaji berdasarkan interpretasi data oseanografi, remote sensing dan jumlah tangkapan ikan. Fenomena pergerakan masa air (throughflow) Laut Jawa menuju Samudera Hindia melalui Selat Sunda diduga turut berperan dalam penyebaran ikan pelagis yang mengakibatkan bertambahnya rata-rata jumlah tangkapan di perairan tersebut. Meningkatnya densitas ikan pelagis pada perairan upwelling disebabkan oleh ketersediaan makanan yang cukup untuk larva, ikan-ikan kecil dan besar termasuk ikan pelagis pemangsa seperti tuna. Hasil kajian memperlihatkan bahwa musim angin timur (Juni-September) merupakan musim panen bagi nelayan yang melaut di perairan Samudera Hindia, Laut Jawa dan Selat Sunda. Pada saat El Nino tahun 1997, upwelling di Samudera Hindia terpantau hingga Januari 1998, dimana kondisi ini tidak dijumpai pada pengamatan tahun 1999-2001.ABSTRACTThe bio-physical characteristics of Indonesia dynamic waters influence the abundance of pelagic fishes. This include oceanographical phenomenon such as upwelling, throughflow and coastal discharge that also role in the development of coastal ecosystem. For this purpose, remote sensing technology can be used in mapping the condition of environment such as sea surface temperature, chlorophyll and water clarity spatially or multi-temporally. Field measurement (in-situ) is needed for verification and assessment in sea depth. ln this paper, the relationship between the oceanographical phenomenons which is influenced by the seasonal climate with the existence of pelagic fishes rb assessed based on interpretation of oceanography data, remote sensing data and the number of fish catch. The throughflow of Java Sea to Hindia Ocean is believed to contribute the distribution of pelagic fishes causing the increase of fish catch in that area. The increase in density of pelagic fishes in upwelling waters is caused by the food availability to larva, small and large fishes including predator pelagic fishes such as tuna. The research also shows that east wind season (June-September) is the harvest time for fishermen in Hindia Ocean, Java Sea and Sunda Strait. During et Nino in 1997, upwelling in Hindia Ocean was observed until January 1998, this condition was not met in 1999-2001Kata Kunci : Ikan Pelagis, Oseanografi, Penginderaan Jauh, Lumbung lkan Keyword : Pelagic Fish, Oceanographic, Remote Sensing, Fishing Ground
INFORMASI GEOSPASIAL DAERAH RAWAN LONGSOR SEBAGAI BAHAN MASUKAN DALAM PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH Suriadi, A.B.
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1494.365 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2012.14-1.135

Abstract

Dalam makalah ini diuraikan pendekatan inderaja dan SIG untuk mengidentifikasi daerah rawan longsor serta tingkat risikonya terhadap manusia atau pemukiman. Bahaya longsor dipengaruhi banyak faktor, untuk itu pendekatan analisis dilakukan melalui integrasi layerlayer data baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data yang bersifat kualitatif seperti jenis tanah, tipe batuan diberi nilai kuantitatif melalui pembobotan tergantung pengaruhnya terhadap kerentanan longsor. Data kuantitatif seperti kemiringan lereng juga diberi bobot sesuai dengan tingkat pengaruhnya terhadap longsor. Data tutupan lahan adalah salah satu data kualitatif yang dipercaya pengaruhnya cukup besar terhadap kejadian longsor. Data ini diekstrak melalui citra inderaja dan diolah melalui SIG. Identifikasi daerah rawan longsor dilakukan melalui citra Landsat dan DEM SRTM dan dikonfirmasi melalui informasi historis, dan wawancara dengan penduduk setempat. Dengan mengetahui daerah rawan longsor dan tingkat risikonya maka diharapkan informasi spasial mengenai daerah rawan longsor dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menata alokasi ruang wilayah. Kata Kunci: Longsor, Risiko, SIG, Penginderaan Jauh, Multi Kriteria, Data Multi Layers ABSTRACTThis paper describes the remote sensing and Gographic Information System (GIS) approach to identify landslide prone areas and the level of risk to human or settlement. Since landslide is affected by many factors, the approach is carried through the integration of the layers of both qualitatively and quantitatively data. Qualitative data such as soil type, rock type rated quantitatively through a weighting depending of its influence on susceptibility to landslide. Quantitative data such as slope is also given a weighting according to the level of influence on landslide. Land cover data is one of the qualitative data that is believed has considerable influence on the occurrence of landslide. This data is extracted through remotesensing technique and analysed by using GIS. Identification of landslides prone areas was carried out through the used of Landsat imagery and SRTM DEM in conjunction with historical information, ground truth and local residents interviews. By knowing the landslide prone areas and the level of risk, it is expected that this spatial information can be used as consideration in arranging the space allocation.Keywords: Landslides, Risk, GIS, Remote Sensing, Multi-Criteria, Multiple Layers Data
Front Cover GLOBE VOL. 19 NO. 1 Globe, redaksi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1197.858 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2017.19-1.755

Abstract

Front Cover GLOBE Vol. 20 No. 1 Jurnal, Pengelola
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1632.613 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2018.20-1.862

Abstract