cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 347 Documents
ANALISIS DEFORMASI DAERAH PORONG – SIDOARJO TERKAIT SEMBURAN LUMPUR DENGAN TEKNIK INTERFEROMETRI Agustan, Agustan; Kimata, Fumiaki
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.611 KB)

Abstract

Semburan lumpur di daerah Sidoarjo, Jawa Timur telah mengakibatkan deformasi lahan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji kemampuan citra satelit radar dengan teknik interferometri untuk menganalisis deformasi lahan tersebut. Data satelit radar (ALOSPALSAR) dari bulan Agustus 2007 sampai Januari 2009 diolah menggunakan 2-pass differential InSAR. Interferogram dibentuk dari dua data radar dengan ketelitian registrasi offset kurang dari setengah pixel dengan pendekatan polinomial orde tiga. Simulasi data DEM diturunkan dari data SRTM, dan beda fase hasil perhitungan dipertajam dengan menggunakan algoritma Median Spatial Filter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak periode awal, daerah terdeformasi telah teridentifikasi. Peningkatan besaran vertikal lebih dominan dibandingkan peningkatan luasnya daerah terdeformasi dan mengilustrasikan penurunan permukaan tanah (land subsidence) di beberapa tempat. Peningkatan permukaan tanah juga teridentifikasi tetapi hal ini mungkin terkait dengan aktifitas peninggian tanggul penahan luapan lumpur. Penurunan permukaan tanah terdeteksi dari 5 – 16 cm dalam 17 bulan. Mekanisme perubahan permukaan dapat dimodelkan berdasarkanpola warna yang terdeteksi dengan pendekatan patahan dan intrusi.Kata Kunci : InSAR, Interferometri Deferensial, Semburan Lumpur, Deformasi LahanABSTRACTThe mud flow in Sidorajo, East Java has caused land deformation. This research focused on assessing the ability of differential InSAR to detect the land deformation related to the mud volcano. Seven ALOS-PALSAR data, which were obtained on August 2007 until January 2009 were processed based on 2-pass differential InSAR. The deformation were enhanced on the image using Median Spatial Filtering technique. It is shown that the deformed areas have expanded to the north as uplifted area and to the west as subsided area. The deformed area has been identified since the first observation. However, the magnitude of vertical deformation in this area has increased time by time. Meanwhile, the subsidence has increased from 5 - 16 centimeters in 17 months. The vertical deformation derived from InSAR was used to model the possible mechanism of land deformation in this region. The result shows that the fringes pattern is differ between the long-term and shorterm data analysis. The fringes pattern from long-term data analysis indicates a combination between faulting and dyke mechanism. Whereas, the fringes pattern derived from the shortterm data analysis indicates point source dislocation.Keywords : InSAR, Differential Interferometry, Mud Volcano, Land Deformation
PERUBAHAN TUTUPAN HUTAN DAN PERHITUNGAN NILAI EKONOMI TEGAKAN HUTAN PROVINSI KALIMANTAN BARAT Munajati, Sri Lestari; Soleman, M.Khifni; Wulan, Theresia Retno
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2784.506 KB)

Abstract

Perubahan tutupan hutan di Provinsi Kalimantan Barat adalah didapat melalui perhitungan perubahan luas hutan berdasarkan tipe hutan (hutan lahan kering, hutan rawa dan hutan mangrove) untuk setiap fungsi hutan yaitu hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi. Pemetaan yang dilakukan menghasilkan Peta Aktiva Sumberdaya Hutan, menunjukkan kondisi luas tutupan hutan di awal tahun 2005, diakhir tahun 2005 dan perubahan luasnya dalam kurun waktu tersebut. Informasi spasial ini dapat dijadikan masukan dalam evaluasi tata ruang wilayah, pemantauan kegiatan yang telah berjalan dan manajemen kawasan yang berkelanjutan. Penilaian ekonomi merupakan tambahan informasi untuk mendapatkan nilai sesungguhnya dari aset tegakan hutan di Provinsi Kalimantan Barat.Kata Kunci: Neraca Sumberdaya Hutan Spasial, Pembalakan LIar, Nilai Ekonomi Sumberdaya HutanABSTRACTForest cover change in West Kalimantan Province were carried out from the calculation of forest change area on forest type (dry land forest, swamp forest, and mangrove forest) for each forest functions such as conservation forest, reserve forest and production forest. The resulting mapping were Forest Resource Active Map, Forest Resource Passive Map and Forest Resource Balance Map, which showed the forest cover in the early 2005 an at the end of 2005 and the forest changing afterward. This spatial information could become the data support for the zonation area evaluation, monitoring activities and sustainable zone management. Economic value of forest resource is a value of forest based on the log price in West Kalimantan Province. Keywords: Spatial Forest Resource Balance, Illegal Logging, Forest Resource Economic Value.
PERUBAHAN SOSIAL PADA KEHIDUPAN SUKU BAJO: Studi Kasus Di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara Suryanegara, Ellen; suprajaka, Suprajaka; Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.809 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2015.17-1.230

Abstract

Selama berabad-abad, suku Bajo tinggal di atas perahu dan hidup bebas di lautan luas sehingga mereka dikenal sebagai pengembara laut (sea nomads). Perkembangan zaman membuat suku Bajo yang sebelumnya hidup nomaden menjadi tinggal menetap di wilayah pesisir dan laut sekitar. Salah satu populasi terbesar suku Bajo yang telah menetap terletak di Kepulauan Wakatobi dengan jumlah penduduk suku Bajo lebih dari 10.000 jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perubahan sosial yang terjadi pada suku Bajo yang mulanya hidup berpindah (nomaden) menjadi menetap di suatu wilayah. Dilihat pula faktor pendorong perubahan tersebut dan dampak dari perubahan sosial tersebut terhadap kehidupan masyarakat Bajo yang telah bermukim. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan analisis data menggunakan studi kasus di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2015 dengan jenis data yang dikumpulkan adalah data sekunder dan primer. Hasil penelitian menunjukkan perubahan sosial pada masyarakat Bajo yang telah tinggal menetap yaitu terjadinya perubahan pola perilaku masyarakat, interaksi sosial, nilai yang dianut masyarakat, organisasi sosial dan susunan lembaga kemasyarakatan, serta perubahan lapisan sosial dalam masyarakat. Faktor yang mendorong suku Bajo untuk menetap di Kepulauan Wakatobi antara lain penurunan potensi sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup, persediaan kayu untuk perahu yang semakin langka, didorong dengan adanya program pemerintah, serta adanya pengaruh kebudayaan dari masyarakat daratan. Dampak positif yang muncul akibat perubahan sosial tersebut yaitu munculnya kesadaran pendidikan, terciptanya lapangan pekerjaan baru, meningkatnya taraf hidup, dan modernisasi sistem perikanan. Sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan yaitu semakin berkurangnya eksistensi adat istiadat, reorientasi pandangan hidup, serta mulai munculnya pola hidup konsumtif.Kata kunci: perubahan sosial, suku pengembara laut, Bajo, WakatobiABSTRACTFor centuries, Bajo tribe lived freely on boats in the ocean. They were known as the sea nomads. Nowadays, Bajo tribe who previously lived a nomadic life became settled at the coastal areas. One of the largest populations of Bajo tribe in Indonesia who had been settled located in Wakatobi islands with more than 10,000 inhabitants. This study aims to describe the social changes that occurred in the Bajo tribe who originally lived a nomadic life became settled in a certain area. This study also looks for the driving factors of these changes and the impact of social changes that occurred on Bajo tribe. This study is a qualitative research with data analysis using case studies in Wakatobi, Southeast Sulawesi. The study was conducted in 2015 with the type of data collected was secondary and primary data. The result showed that there were social changes in Bajo society who have permanent residence, such as changes in society behavior patterns, social interaction, society values, social organization, social institutions, and changes in social strata of the society. Driving factors that encourage Bajo tribe to settle down in Wakatobi are because of the economic demands, decreasing wood supplies for boat, government program, and get influenced by the landlubber. The social change has also positive and negative impacts, such as the rise of awareness for formal education, the emergence of new jobs, increasing standard of living, modernization of fisheries system, reduced the customs existence, reorientation on life, and the escalation of consumptive lifestyleKeywords: social change, sea noma, Bajo, Wakatobi
ASPEK GEOSPASIAL DALAM DELINEASI BATAS WILAYAH KOTA GORONTALO Riadi, Bambang; Soleman, M.Khifni
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.421 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-1.105

Abstract

Batas wilayah terkait dengan kewenangan dalam pengelolaan suatu daerah, baik pengelolaan wilayah darat maupun wilayah laut secara proporsional. Beberapa daerah telah memiliki pilar batas utama (PBU) sebagai tanda batas suatu wilayah kota/kabupaten dengan wilayah kota/kabupaten lainnya. Pilar tersebut dijadikan titik awal dalam penarikan garis batas wilayah. Dengan berkembangnya teknologi pemetaan dimungkinkan pemutakhiran data batas wilayah dilaksanakan dengan menggabungkan Teknik Penginderaan Jauh, Sistem Informasi Geografi dan Digital Elevation Model (DEM). Survei lapangan yang dilengkapi dengan alat Receiver Global Positioning System (GPS) akan memperoleh informasi data batas wilayah terbaru yang secara langsung kondisi lapangan sebenarnya dapat diketahui. Dari hasil kajian diperoleh data batas wilayah Kota Gorontalo terbarukan dengan dukungan data Digital Elevation Model, data citra satelit dan data koordinat hasil pengamatan GPS.Kata kunci: Data Batas Wilayah, Pemutakhiran Data, Penginderaan Jauh, SIG, DEMABSTRACTAdministrative boundary related to the authority in the management of an area,on the land and water management proportionally. Main boundary pillars (PBU) as border signs between adjacent cities or districts are already available on some areas, but not for many of them. The pillars serve as a starting point in the delimitation of the borders. Advancement on mapping technology enables the boundary data updating conducted by combining remote sensing techniques, Geographic Information Systems and Digital Elevation Model (DEM). Field survey which is equipped with Global Positioning System (GPS) receiver will obtain the latest information of region boundary data by identifiying the actual field conditions directly. This research results shows updated boundaries of Gorontalo City that were supported by Digital Elevation Model, satellite imagery, and observation data of GPS coordinates.Keywords: Boundary Data, Data Updating, Remote Sensing, GIS, DEM
TANTANGAN DALAM PENGGUNAAN OBJECT-ORIENTED MODEL UNTUK MENGELOLA DATA SPASIAL Pramono, Gatot H.
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 9, No 1 (2007)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4823.966 KB)

Abstract

Perkembangan Sistem lnformasi Geografis dalam pemodelan obyek atau fenomena di bumi adalah dengan menggunakan object-oriented data model dimana obyek tersebut direpresentasikan sebagai obyek yang memiliki property, behavior dan hubungan dengan obyek lain. Beberapa keuntungan didapatkan dalam sistem ini seperti terintegrasinya data spasial dan atribut dalam satu sistem, akses dapat dilakukan secara bersamaan oleh banyak pengguna dan kecepatan dalam analisis data. Pada kenyataannya terdapat empat faktor yang menghambat penggunaan sistem pemodelan ini seperti sistem yang lama sudah memadai, kurangnya pemahaman, sistem object-oriented yang rumit dan kurangnya tenaga ahli. Dua hal yang direkomendasikan dalam mengatasi hambatan ini adalah dengan memberikan pemahaman dan pelatihan intensif tentang sistem ini.Kata kunci: Pemodelan SlG, Object-Oriented Data Model, Geodatabase. ABSTRACTThe advance of Geographic lnformation System (G/S.) has introduced the object-oriented data model in which objects or phenomena in the world are represented as having property, behavior and relation with other objects. Many benefits are obtained by applying this method such as integration of both spatial and attribute data in one sysfem, multi-user access and faster data analysis. However, four obstacles are identified during implementation such as older data model ls sfil suitable, lack of understanding, compilated object-oriented model and few experts. The recommendations fo use the model successfully are to explain the model advantages and to intensively train the G/S users. Keywords: GIS Modeling, Object-arie.nted Data Model, Geodatabase.
PERUBAHAN MUKA AIR LAUT BERDASARKAN DATA SATELIT ALTIMETRI DAN DATA ARGO PADA RENTANG 1992-2012 DI WILAYAH SAMUDERA PASIFIK BAGIAN BARAT Hartanto, Prayudha; Prijatna, Kosasih; Nurmaulita, Sella Lestari
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.175 KB)

Abstract

ABSTRAKWilayah Samudera Pasifik bagian barat merupakan salah satu wilayah yang mengalami kenaikan muka laut tertinggi di dunia. Data satelit altimetri Topex/Poseidon Jason 1 dan Jason 2, pada kurun waktu tahun 1992-2012, menunjukkan rata-rata kenaikan muka laut di area ini adalah 6,982 ± 3,493 mm/tahun. Sebagai pembanding, perubahan muka laut di wilayah ini pun dihitung berdasarkan data suhu dan salinitas dari pelampung Argo. Data suhu dan salinitas yang digunakan berada pada rentang waktu tahun 2000 – 2013. Perubahan tinggi muka laut berdasarkan data pelampung Argo adalah 14,352 ±13.002 mm/tahun. Tinggi muka laut ini merupakan komponen sterik dari total perubahan muka air laut. Tinggi sterik muka air laut merupakan ketebalan vertikal di atas sebuah lapisan ketebalan h dari anomali volume tertentu dan dapat dihubungkan dengan medan densitas lautan. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa ekspansi termal lautan merupakan penyebab utama perubahan/kenaikan muka laut global. Pada masa yang akan datang, penggunaan data pengamatan pelampung Argo dapat dikembangkan untuk memantau perubahan muka laut global maupun regional.Kata Kunci: perubahan muka laut, altimetri, Argo, muka laut sterikABSTRACTThe Western Pacific Ocean has the highest sea level rise rate on the world. The Topex/Poseidon, Jason 1 and Jason 2 satellite altimetry data shows the average of sea level rise in this area during the 1992-2012 period was 6.982 ± 3.493 mm/annually. As a comparison, changes in the sea level in this area was calculated based on temperature and salinity data from Argo floats. The temperature and salinity data used were collected during the period of 2000-2013. Changes in the sea level based on Argo floats data was 14.352 ± 13,002 mm/annually. This Argo-based sea level is a steric component of the total sea level changes. The steric sea level height is a volume anomaly of a vertical thickness above a layer of thickness h and can be attributed to ocean density field. Based on these results, it can be concluded that the thermal expansion of the oceans is a major cause of global sea level rise. In the future, the usage of Argo floats observation data can be directed to monitor the changes in global and regional sea level.Keywords: sea level change, altimetry, Argo, steric sea level
METODE SURVEI KONSERVASI TERUMBU KARANG BERORIENTASI PADA PEMBANGUNAN BASISDATA SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Sulistiyo, Budi; Yudawati, Sri; Sudarmadji, Bambang W
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 1, No 2 (1999)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2554.973 KB)

Abstract

Terumbu karang merupakan fenomena ekologi yang sangat sensitif terhadap perubahan keseimbangan alam. Kondisi terumbu karang di lndonesia saat ini cukup memprihatinkan dengan tingkat kerusakan tinggi. Kegiatan konservasi merupakan salah satu upaya menjaga kelestarian terumbu karang. Untuk keperluan ini perlu dukungan data dan informasiyang akurat dan dapat dianalisa secara cepat. Penerapan teknologi SIG memberikan nuansa baru dalam pengolahan dan analisa spasial untuk konservasi terumbu karang. Namun demikian dukungan data mengenai terumbu karang belum memadai. Hal ini dapat dikaitkan bahwa metode survei tematik terumbu karang selama ini belum diarahkan pada penyusunan data spasial. Pada kesempatan ini dibahas metode survei terumbu karang yang beorientasikan pembangunan basisdata spasial dibandingkan metode yang telah digunakan selama ini.ABSTRACTCoral reef is very sensitive to the change in natural equilibrium. Reef condition in lndonesia is currently very miserable. Conservation activity is one way to preserve the existence of coral reef. For this purpose accurate and accessible data and information are very important. GIS application has brought a new way of spatial analysis for reef conservation. Unfortunately data on coral reef are not sufficiently available. This is because method of coral reef thematic survey is not yet directed to spatial data cataloging. Here method of coral reef survey orienting to spatial database development will be described and compared to other methods currently used.
IDENTIFIKASI PULAU BERDASARKAN KAIDAH TOPONIMI DI KEPULAUAN TOGEAN PROVINSI SULAWESI TENGAH Yulius, Yulius; Triyono, Triyono
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 1 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.702 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-1.110

Abstract

Survei Toponim Pulau telah dilakukan pada wilayah survei Kepulauan Togean ProvinsiSulawesi Tengah. Pengambilan data toponim pulau dilakukan dengan cara survei lapangan. Data pulau terdiri dari dua macam, yaitu Pulau Bernama dan Pulau Belum Bernama. Nama pulau didapat dengan metode wawancara dan posisi pulau itu ditentukan dengan alat GPS sederhana. Survei yang dilakukan berhasil mengindentifikasi 211 pulau dengan 210 pulau tidak terdaftar namanya dalam daftar pulau DEPDAGRI (Departemen Dalam Negeri), dan hanya 1 pulau yang mempunyai nama. Sebanyak 47 nama pulau dapat di-update dari peta laut DISHIDROS TNI-AL, sedangkan dari pulau-pulau yang tidak memiliki nama pada peta tersebut berhasil diidentifikasi sebanyak 165 buah nama pulau.Kata Kunci: GPS, Kepulauan Togean, Pulau, ToponimiABSTRACTThe Survey of Toponym of Islands has been done at Togean Archipelago Central Sulawesi Province. The data, covering islands with and without names of the islands were taken through interviews and their positions were measured by a simple GPS system. The Survey from Togean Archipelago at Central Sulawesi, 211 had been identified with 210 islands have not been listed at DEPDAGRI (Ministry of Internal Affairs) but the other 1 island have been named. A sea map published by DISHIDROS TNI-AL was used as a reference to update 47 islands with name, while islands without name still can be identified to an amount of 165 islands in general.Keywords: GPS, Island, Togean Archipelago, Toponymy
PREDIKSI SPASIAL DINAMIKA AREAL TERBANGUN KOTA SEMARANG DENGAN MENGGUNAKAN MODEL REGRESI LOGISTIK Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1810.984 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-2.421

Abstract

ABSTRAKSalah satu indikator perkembangan fisik wilayah kota dapat diidentifikasi melalui fenomena perubahan tutupan lahan bervegetasi menjadi lahan terbangun. Perubahan lahan tersebut dapat berdampak terhadap penurunan kualitas lingkungan, akibat berkurangnya ruang terbuka hijau. Kota Semarang dengan visi terwujudnya Semarang sebagai kota perdagangan dan jasa yang berbudaya menuju masyarakat sejahtera, merupakan  wilayah yang rentan mengalami perubahan penggunaan lahan yang cenderung kearah lahan terbangun. Penelitian ini mengintegrasikan model Cellular Automata (CA) dan regresi logistik biner untuk memprediksi dinamika lahan terbangun di Kota Semarang. Citra yang digunakan adalah Citra Ikonos 2002, Ikonos 2006 dan Quickbird 2012. Model CA pada penelitian ini digunakan untuk memprediksi sebaran penutup lahan tahun 2022 dan 2032 dengan mempertimbangkan jarak terhadap jalan, jarak terhadap sungai, jarak terhadap lahan terbangun, ketinggian, kepadatan penduduk, evidence likelihood perubahan lahan dan indeks pengembangan kelurahan yang diakomodasi dalam peta sub-model transisi hasil model regresi logistik biner. Hasil penyusunan model ini adalah peta prediksi penutup lahan dengan akurasi 78,21 % validitas model yang dihasilkan dapat dikategorikan “moderate” mengindikasikan bahwa peta yang dihasilkan dapat digunakan. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa Kota Semarang pada tahun 2022 terjadi pertambahan luas lahan terbangun rata-rata 284 ha/tahun dan pada tahun 2032 rata-rata 226 ha/tahun.Kata kunci: cellular automata, pemodelan, regresi logistik biner, lahan terbangunABSTRACTOne indicator of the physical development of the city can be identified by phenomenon of land expansion, vegetated land cover changes to be built-up area. The land use changes can impact to environmental degradation, due to reduced green open space. Semarang as a city of trade and services cultured toward a prosperous community, a region that is vulnerable to changes in land use tends toward small plots. This research integrates the model of Cellular Automata (CA) and binary logistic regression to predict the dynamics of builtup area in the city of Semarang. The image used is a Ikonos imagery (2002), Ikonos imagery (2006) and Quickbird (2012). Model CA in this research use to predict the distribution of land cover 2022 and 2032 with respect to: distance to roads, the distance to the river, the distance to the built-up area, elevation, population density, evidence likelihood of land use change and development villages index were accommodated in the map sub-model transition binary logistic regression model results. The results of this study are predictive maps of built-up area  with an accuracy of 78,21 % so that the validity of the resulting model can be categorized as "moderate", indicates that the probability map is valid. Modeling results showed that Semarang City in 2022 predicted rate of increase of  built-up area an average 284  ha / year and in 2032 rate of increase of built-up area an average 226 ha / year.Keywords: cellular automata, modelling, binary logistic regression, built-up area
KAJIAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN UNTUK ARAHAN PENATAAN POLA RUANG KAWASAN HUTAN PRODUKSI GEDONG WANI, PROVINSI LAMPUNG Agustiono, Ariyadi; Sitorus, Santun R. P.; Kartodihardjo, Hariadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.966 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.51

Abstract

ABSTRAKPenetapan kawasan hutan produksi sebagai kawasan budidaya dalam rencana tata ruang seharusnya diikuti dengan penggunaan lahan yang mengarah pada fungsi dan peruntukannya. Hal ini tidak ditemui pada kawasan hutan produksi Gedong Wani, Provinsi Lampung, karena kawasan ini telah berkembang menjadi desa definitif dengan penggunaan lahan berupa pemukiman, ladang, dan perkebunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan desa dalam kawasan hutan, menganalisis perubahan penggunaan lahan periode tahun 2000-2013, menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perubahan penggunaan lahan dan merumuskan arahan kebijakan penataan pola ruang kawasan hutan agar berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 39 desa yang dianalisis, terdapat 1 desa dengan tingkat perkembangan paling tinggi pada tahun 2011 yaitu Desa Jati Baru, Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan. Perubahan penggunaan lahan periode tahun 2000 ke 2013 berupa peningkatan luasan perkebunan rakyat dan area terbangun, serta penurunan luasan ladang dan hutan. Ditinjau dari aspek fisik dan demografi, faktor yang berpengaruh terhadap perubahan penggunaan lahan menjadi ladang dan area terbangun adalah kebijakan fisik pemanfaatan kawasan hutan dan pertambahan jumlah penduduk, sedangkan faktor yang berpengaruh terhadap perubahan penggunaan lahan menjadi perkebunan rakyat adalah jenis tanah. Prediksi penggunaan lahan pada tahun 2026 menunjukkan peningkatan luasan pada perkebunan rakyat dan area terbangun serta penurunan luas ladang dan hutan. Arahan kebijakan penataan pola ruang kawasan hutan produksi adalah dengan pelibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan hutan dengan mengakomodir tanaman perkebunan rakyat sebagai bagian dari komoditas hasil hutan.Kata kunci: kawasan hutan produksi, desa, penggunaan lahan, prediksiABSTRACTDetermination of forest production in the cultivated area for spatial planning should have been followed by the use of land that leads to its functions and purposes. This situation is not found in the forest production area of Gedong Wan, the Lampung Province, as the region has grown to become a definitive rural land uses such as residential, farm and smallholder plantation. This study aims to analyze the development of the rural development in the forest area, analyzing the landuse change during the period of 2000-2013, to analyze the factors that influence the landuse change and formulate directives policy that structuring the spatial patterns of forest to meet its intended functions. The results showed that among the 39 villages assessed, there was one villages with the highest growth rate in 2011, which is the village of Jatibaru, Tanjung Bintang districts, South Lampung regency. The landuse change between 2000 and 2013 showed an increase in smallholder plantation and built up area, followed by a decrease in the extent of farm land and forests. Considering the physical aspects and demographic factors that influence to the forest changes, the changes into farm land and built up area influenced by the utilization of forest policy and population growth. Meanwhile, the factors influenced landuse change into smallholder plantation is the soil type. The prediction of landuse in 2026 showed an increase in the extent of the smallholder plantation and built up area, and the decline of farm land and forest. The directives policy for structuring spatial patterns of the forest production area is by establishing community involvement in the management of forests to accommodate smallholder tree crops as part of forest products.Keywords: production forest area, village, landuse change, prediction