cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berkala Arkeologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
We are a journal on archaeology published by Balai Arkeologi Yogyakarta every May and November each year. This journal seek to promote and shares research results and ideas on archaeology to the public. We covers original research results, ideas, theories, or other scientific works from the discipline of Archaeology mainly in the Indonesian Archipelago and Southeast Asia. Interest from other disciplines (such as history, anthropology, architecture, geology, etc.) must be related to archaeological subject to be covered in this journal. Our first edition was published on March 1980.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 23 No 2 (2003)" : 15 Documents clear
Cover Volume 23 No. 2 November 2003 Berkala Arkeologi
Berkala Arkeologi Vol 23 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.929 KB)

Abstract

Frontmatter Volume 23 No. 2 November 2003 Berkala Arkeologi
Berkala Arkeologi Vol 23 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.593 KB)

Abstract

Pola Komunitas Gua Di Sampung, Ponorogo Indah Asikin Nurani
Berkala Arkeologi Vol 23 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1446.1 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i2.871

Abstract

Masing-masing gua/ceruk menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan gua antara Gua Lawa dengan Ceruk Layah, Ceruk Ngalen, dan Ceruk Sulur menunjukkan perbedaan yang mencolok. Tampaknya Gua Lawa pada komunitas ini dimanfaatkan sebagai gua induk, di mana seluruh aktivitas komunitas berlangsung. Sementara itu Ceruk Layah, Ceruk Ngalen, dan Ceruk Sulur dimanfaatkan untuk aktivitas pendukung. Hal tersebut didasarkan pada perbandingan hasil ekskavasi antara Gua Lawa dengan ceruk-ceruk sekitarnya. Temuan artefak, ekofak dan fitur pada Gua Lawa lebih bervariasi baik kualitas maupun kuantitasnya dibanding ceruk-ceruk sekitarnya yang temuannya cenderung homogen berupa artefak litik. Selain itu, berdasarkan temuan artefak pada Ceruk Layah menunjukkan adanya perkembangan pemanfaatan ceruk. Pada awalnya (lapisan bawah) Ceruk Layah dimanfaatkan sebagai perbengkelan alat batu, selanjutnya pada masa kemudian (lapisan atas) didorninasi temuan tembikar. Sementara temuan ekofak pada ceruk-ceruk sekitar Gua Lawa cenderung minim. Hal tersebut dapat disirnpulkan bahwa pola kornunitas gua di Sampung terdiri atas gua induk dengan kompleksitas budaya yang berlangsung dan gua/ceruk pendukung yang dimanfaatkan untuk aktivitas sekunder.
Hinduisasi Di Kawasan Megalitik Gunung Slamet Priyatno Hadi Sulistyarto
Berkala Arkeologi Vol 23 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (901.026 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i2.872

Abstract

Kehidupan masyarakat megalitik menjalankan tradisi secara terus menerus hingga datangnya pengaruh kebudayaan Hindu-Buda. Hinduisasi di wilayah ini dilakukan dengan cara memanfaatkan sarana-sarana pemujaan megalitik, antara lain batu lumpang dan phallus. Konsep pemujaan yang digunakan pun masih sama yaitu kesuburan, suatu konsep yang mutlak diperlukan dalam masyarakat pertanian. Proses Hinduisasi tampak pada penggunaan lumpang batu dan phallus secara bersama-sama, yaitu dengan mendirikan phallus atau menhir ke dalam lubang lumpang sehingga menyerupai susunan lingga-yoni. Dengan demikian fungsi phallus atau menhir mewakili keberadaan lingga, sedangkan fungsi lumpang mewakili keberadaan yoni. Lingga dan yoni merupakan benda sebagai simbol dalam agama Hindu.
Pertanggalan Absolut Situs Kubur Kalang : Signifikasinya Bagi Periodisasi Kubur Peti Batu Di Daerah Bojonegoro Dan Tuban, Jawa Timur Retno Handini
Berkala Arkeologi Vol 23 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1713.156 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i2.873

Abstract

Pertanggalan absolut kami bagi budaya Kubur Kalang merupakan pertanggalan pertama yang diperoleh dari kelompok budaya ini. Hasilnya menunjukkan angka 1420 AD hingga 1620 AD. Ini berarti bahwa Kubur Kalang di Bojonegoro tersebut merupakan suatu tradisi prasejarah, yang masih dipraktekkan oleh sekelompok masyarakat bagi penguburan pada periode tersebut di atas. Apabila pertanggalan tersebut diaplikasikan dalarn kerangka sejarah di Jawa, maka angka tertua (1420 AD) akan jatuh pada pemerintahan Bhre Hyang Purwawicesa sebagai salah satu raja dalam Dinasti Girindrawardhana dari akhir periode kerajaan Majapahit, sementara angka termuda (1620 AD) akan menunjuk pada pertengahan pemerintahan Sultan Agung dari kerajaan Mataram Islam. lmplikasinya, pendukung budaya Kubur Kalang di Bojonegoro tersebut bisa jadi merupakan kubur dari kelompok rakyat jelata ketika budaya Hindu telah masuk dan berkembang di Indonesia, seperti sinyalemen Stutterheim, atau bahkan bentuk kubur dari kelompok Kalang pada masa pemerintahan Sultan Agung.
Orang Kalang Di Pulau Jawa, Tinjauan Historis Diman Suryanto
Berkala Arkeologi Vol 23 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1450.408 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i2.874

Abstract

Dalam berbagai prasasti Jawa kuno, banyak sekali dijumpai istilah kalang yang pengertiannya seringkali dihubungkan dengan profesi dibidang perkayuan. Pengertian tersebut berasal dari suatu realitas terhadap keberadaan orang kalang di masa kemudian, yaitu sekelompok orang yang hidup di hutan di beberapa tempat di Pulau Jawa sebagai penebang kayu.
Kesenian Wayang Pada Masa Klasik Di Jawa Rita Istari
Berkala Arkeologi Vol 23 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2201.649 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i2.875

Abstract

Penyebutan tentang wayang kulit baru dikenal pada masa pemerintahan Airlangga, seperti yang terdapat dalarn Kakawin Arjunawiwaha. Kemudian dari Kakawin Bharatayudha dapat diketahui bahwa pertunjukan wayang tersebut sudah diiringi dengan gamelan dan sebagainya walaupun belum selengkap seperti sekarang. Kakawin Wrettasancaya, yang masanya lebih muda, diketahui bahwa wayang pada masa itu sudah memakai kelir. Hal ini diperkuat pula dengan melihat relief wayang pada candi, meskipun pada kenyataannya candi-candi tersebut lebih muda masanya dibanding dengan kakawin Arjunawiwaha, Wrettasancaya dan Ghatokacasraya, tetapi tentunya para pemahat relief-relief tersebut mencontoh pola gambar tokoh-tokoh wayang kulit yang sudah dikenal pada masa sebelumnya.
Harta Karun Itu Candi Bata Yang Unik Baskoro Daru Tjahjono
Berkala Arkeologi Vol 23 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1002.34 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i2.876

Abstract

Sebuah situs yang terletak di Dusun Candi, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang pun tak luput dari penjarahan. Penduduk menyebut situs itu Candi Wurung, karena dianggap sebagai candi yang belum selesai dibangun. Beberapa tahun lalu situs yang terletak di tanah milik Hadi Prayitno itu digali oleh sekelompok orang. Masyarakat sekitar tidak tahu asal mereka dan maksud penggalian itu. Hanya berita dari mulut ke mulut tersiar kabar bahwa tujuan mereka adalah mencari harta karun. Entah ketemu entah tidak tetapi lubang bekas galian tanah itu mereka tinggalkan begitu saja. Situs itu sempat terbengkelai setelah terjadinya penggalian liar itu. Pemilik tanah pun tak tahu apa yang akan dia kerjakan, sehingga tanah sawah yang sebenamya produktif itu dibiarkan saja tak ditanami apapun.
Perdagangan Dan Mistisisme Dalam Islamisasi Di Sumatera Dan Jawa nfn. Masyhudi
Berkala Arkeologi Vol 23 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1833.296 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i2.877

Abstract

Hubungan dagang antara orang Eropa dengan Timur Tengah yang telah mewarnai peta dagang sebelum masa Islam menunjukkan bahwa hubungan dagang antara Eropa dengan Asia telah berlangsung semenjak sebelum Nabi Isa. Kemudian setelah runtuhnya dominasi India dan Cina , karena ditaklukkannya India bagian utara yang kemudian merembet ke Selatan dan penyerangan ke China oleh tentara Islam di Timur Tengah, maka tampaklah gelombang orang-orang Arab mulai membentuk koloni-koloni bagi para pedagang. Hubungan dagang dan politik antara Cina dengan Persia, Cina dengan Sriwijaya, India dengan Sriwijaya dan India dengan Cina merupakan hubungan yang telah berlangsung selama berabad-abad. Hubungan semacam ini tidak mungkin terhapus begitu saja. Oleh karena itu ketika ajaran Muhammad (Islam) mulai mapan di Timur Tengah dan berkuasa di India bagian utara, maka arus perdagangan internasional semakin diintensifkan, demikian pula ajaran Islam itu sendiri.
Prospek Pelestarian Dan Pengembangan Bangunan Pesanggrahan Sambung Widodo
Berkala Arkeologi Vol 23 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1181.003 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i2.878

Abstract

Melihat kenyataan bahwa masih cukup banyak bangunan pesanggrahan yang masih berdiri hingga saat ini meskipun dalam kondisi yang tidak terlalu baik diharapkan dapat dilakukan upaya-upaya untuk mencegah semakin turunnya kualitas sumberdaya arkeologi tersebut. Disamping itu perlu adanya langkah-langkah pengamanan antara lain dengan penyuluhan bagi kesadaran baik pada masyarakat luas, maupun pada berbagai instansi-instansi sekiranya diperlukan dan penyediaan dana yang memadai. Untuk mencegah semakin turunnya kualitas sumberdaya arkeologi yang berupa bangunan pesanggrahan dapat dikemukakan hal-hal sebagi berikut: sebagai langkah awal tentunya perlu diupayakan inventarisasi maupun penelitian yang cukup lengkap dan menyeluruh terhadap tinggalan bangunan-bangunan pesanggrahan yang ada. Selanjutnya langkah-langkah ini hendaknya diikuti pula dengan penerbitan SK BCB sebagai pengikat bagi para penguna ataupun pengelola bangunan-bangunan tersebut.

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2003 2003


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 2 (2022) Vol 42 No 1 (2022) Vol 41 No 2 (2021) Vol 41 No 1 (2021) Vol 17 No 2 (1997) Vol 40 No 2 (2020) Vol 40 No 1 (2020) Vol 13 No 1 (1993) Vol 39 No 2 (2019) Vol 39 No 1 (2019) Vol 38 No 2 (2018) Vol 38 No 1 (2018) Vol 37 No 2 (2017) Vol 37 No 1 (2017) Vol 36 No 2 (2016) Vol 36 No 1 (2016) Vol 35 No 2 (2015) Vol 35 No 1 (2015) Vol 34 No 2 (2014) Vol 34 No 1 (2014) Vol 33 No 2 (2013) Vol 33 No 1 (2013) Vol 32 No 2 (2012) Vol 32 No 1 (2012) Vol 31 No 2 (2011) Vol 31 No 1 (2011) Vol 30 No 2 (2010) Vol 30 No 1 (2010) Vol 29 No 2 (2009) Vol 29 No 1 (2009) Vol 28 No 2 (2008) Vol 28 No 1 (2008) Vol 27 No 2 (2007) Vol 27 No 1 (2007) Vol 26 No 2 (2006) Vol 26 No 1 (2006) Vol 25 No 1 (2005) Vol 24 No 1 (2004) Vol 23 No 2 (2003) Vol 23 No 1 (2003) Vol 22 No 1 (2002) Vol 21 No 2 (2001) Vol 21 No 1 (2001) Vol 20 No 1 (2000) Vol 19 No 2 (1999) Vol 19 No 1 (1999) Vol 18 No 2 (1998) Vol 18 No 1 (1998): Edisi Khusus Vol 17 No 1 (1997) Vol 16 No 2 (1996) Vol 16 No 1 (1996) Vol 15 No 3 (1995): Edisi Khusus Vol 15 No 2 (1995) Vol 15 No 1 (1995) Vol 14 No 2 (1994): Edisi Khusus Vol 14 No 1 (1994) Vol 13 No 3 (1993): Edisi Khusus Vol 13 No 2 (1993) Vol 12 No 1 (1991) Vol 11 No 1 (1990) Vol 10 No 2 (1989) Vol 10 No 1 (1989) Vol 9 No 2 (1988) Vol 9 No 1 (1988) Vol 8 No 2 (1987) Vol 8 No 1 (1987) Vol 7 No 2 (1986) Vol 7 No 1 (1986) Vol 6 No 2 (1985) Vol 6 No 1 (1985) Vol 5 No 2 (1984) Vol 5 No 1 (1984) Vol 4 No 2 (1983) Vol 4 No 1 (1983) Vol 3 No 1 (1982) Vol 2 No 1 (1981) Vol 1 No 1 (1980) More Issue