cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. indragiri hilir,
Riau
INDONESIA
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur?an & Keislaman
ISSN : 23380349     EISSN : 23380349     DOI : -
Jurnal Syahadah merupakan jurnal Ilmu al-Qur’an dan keislaman dengan kajian multidisipliner, terbit dua kali dalam satu tahun (April dan Oktober), dikelola oleh Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri Tembilahan. Redaksi menerima tulisan yang relevan selama mengikuti petunjuk penulisan yang ditetapkan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 10 No 1 (2022)" : 5 Documents clear
TAFSIR AHKAM DAN SEJARAH PERKEMBANGANNYA Syafril Syafril
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 10 No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan utama diturunkannya al-Qur’an adalah untuk memberikan hidayah atau petunjuk kepada umat manusia. Hidayah al-Qur’an, diorientasikan kepada tiga tujuan pokoknya, yaitu akidah, ibadah dan akhlak. Jika dibandingkan dengan persoalan lainnya, al-Qur’an memberikan perhatian yang cukup besar terhadap tatanan hukum yang mengatur dan menciptakan kemaslahatan hidup manusia. Indikator ini dapat dilihat dari terma yang digunakan al-Qur’an ketika menjuluki dirinya dengan “hukman ‘arabiyyan” sebagai kitab aturan yang berbahasa arab. Ada enam poin yang mengindikasikan keseriusan al-Qur’an dalam memperhatikan masalah ini. Pertama, al-Qur’an menamai dirinya dengan hukum. Kedua, ayat yang terpanjang al-Qur’an berbicara dalam konteks hukum. Ketiga, ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang perintah dan larangan berjumlah puluhan bahkan ratusan. Keempat, surat terpanjang, terutama surat Madaniyah memuat persoalan hukum. Kelima, dalam al-Qur’an terdapat sejumlah ayat hukum. Keenam, al-Qur’an mengecam orang yang mengabaikan hukum. Embrio tafsir ahkam pada dasarnya muncul bersamaan dengan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an secara umum dan tafsir ahkam merupakan bagian dari rangkaian keseluruhan tafsir al-Qur’an. Perhatian ulama terhadap penafsiran ayat ahkam pada akhirnya melahirkan berbagai karya tafsir ahkam dalam sejarah penafsiran al-Qur’an, dari klasik hingga modern/kontemporer.
WAWASAN AL-QUR’AN TENTANG EKOLOGI Amaruddin Amaruddin; Ridhoul Wahidi
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 10 No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Allah menciptakan alam bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia di dunia yang bertugas sebagai khalifah di bumi. Namun dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia telah melampaui batas kewajaran dalam mengelola bumi, sehingga menimbulkan masalah lingkungan. Permasalahan lingkungan ini tentunya memerlukan usaha untuk mencegahnya agar tidak berkelanjutan dan semakin parah. Salah satu usaha yang dilakukan oleh cendikiawan muslim adalah dengan mencoba menafsirkan kembali ayat-ayat yang berkaitan dengan lingkungan.Tafsir ekologi adalah varian tafsir baru, kemunculan tafsir ini sangat diperlukan karena semakin banyaknya permasalahan yang harus dihadapi oleh manusia, khususnya berkaitan dengan masalah lingkungan hidup yang berdampak pada kehidupan manusia yang tidak harmonis dengan alam. Pembahasan tentang masalah ekologi memang tidak menjadi perhatian yang menarik bagi para mufassir klasik dan pertengahan. Sebab pada masa itu lingkungan belum menimbulkan masalah di masyarakat dan belum bermasalah. Lingkungan pada masa itu masih mendukung kehidupan manusia dan makhluk lainnya secara umum. Wacana yang berkembang pada masa itu adalah wacana tentang tata bahasa, teologi perbedaan mazhab dan lain-lain. Sehingga pokok pembahasan para mufassir perputar pada masalah tersebut.
SAYYID QUTHB DAN AL-TASHWIR AL-FANNI FI AL-QUR’AN Ahmad Nur Fathoni; Dewi Murni
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 10 No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine the literary method used in the Kitab al-Tashwīr al-Fanni fī al-Qur’ān (artistic depictions in the Qur’an) written by Sayyid Qutb. This book examines the beauty of the expressions of the Qur’an and analyzes the verses revealed in it. In addition, this book also explores the secrets of the beauty of the Qur’an, and is not just an anthology. The results of this study arrive at the result that the literary method used by Sayyid Qutb is a depiction method, namely the tashwir fanni method (artistic drawing). Artistic drawing is the basic rule in the stylistics of the Qur’an. And the phenomena that stand out in this description are takhyil (feeling imagination) and tajsim (similes). And this phenomenon must be expressed in a certain pattern. Because takhyil and tajsim are useless without stylistic patterns that are fully expressed.
HADIS LARANGAN MEMINTA JABATAN Fiddian Khairudin; Nasrullah Nasrullah
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 10 No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menjadi seorang pemimpin memudahkan memenuhi tuntutan hawa nafsu, penghormatan akan kedudukan, status sosial di mata manusia, memerintah, dan menguasai kekayaan serta kemegahan. Menjadi wajar kemudian untuk mewujudkannya banyak elit politik atau calon pemimpin’tidak segan-segan melakukan politik uang dengan membeli suara masyarakat pemilih. Bahkan tidak segan menyingkirkan orang lain yang dianggap sebagai saingan demi meraih posisi idaman. Seseorang yang meminta jabatan sering kali hanya bertujuan untuk meninggikan dirinya di hadapan manusia, tentu motivasi berkonotasi tidak baik. Sebagai balasan ia tidak akan mendapatkan bagiannya di akhirat nanti, seseorang dilarang meminta jabatan. Hari-hari setelah menjadi pemimpin yang kemudian menjadi saksi bahwa mereka hanyalah sekedar mengobral janji kosong dan ucapan dusta yang menipu, bahkan berbuat zhalim dan aniaya kepada orang-orang yang dipimpin. Banyak terdapat hadis-hadis Rasulullah Saw. berkaitan dengannya, khususnya seputar larangan meminta jabatan.
KONSEP POLIGAMI MENURUT MUTAWALLI AL-SYA’RAWI DALAM TAFSIR AL-SYA’RAWI Raisya Miftakhul Rahma
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 10 No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Poligami menjadi salah satu tema yang digarisbawahi oleh kaum pembaharu untuk dikontekstualisasikan berdasarkan perkembangan zaman. Hukum poligami yang semula boleh, kini kebolehannya menjadi hal yang tabu untuk dikatakan. Bahkan hukum poligami dideklarasikan menjadi haram karena para lelaki modern saat ini dinilai tidak mampu berlaku adil yang mana hal itu menjadi syarat utama dalam berpoligami. Dalam hal ini, al-Sya’rawi dalam kitab tafsirnya menolak pandangan tersebut dan menyatakan bahwa sekiranya seorang laki-laki tidak mampu berlaku adil, maka hukum poligami tetap ada dan tidak dihapuskan. Maka penelitian ini akan membahas tentang bagaimana konsep poligami menurut al-Sya’rawi dalam kitab tafsirnya dan bagaimana penafsiran al-Sya’rawi pada ayat-ayat poligami. Dengan menggunakan metode kepustakaan, metode deskriptif-analitis, dan pendekatan tafsir tematik, penelitian ini berkesimpulan pada dua hal yaitu hukum poligami dan keadilan dalam poligami menurut al-Sya’rawi. Pertama, hukum poligami menurut al-Sya’rawi harus diambil secara keseluruhan, yaitu kebolehannya dan berlaku adil. Kerusakan akibat poligami sebenarnya terjadi karena hanya memperhatikan hal pertama dan mengabaikan hal kedua. Kedua, manusia mampu berlaku adil dalam hal-hal zhahir, namun tidak dengan kecenderungan hati. Dalam keadilan zhahir itu harus diusahakan sekuat tenaga sehingga tercipta rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

Page 1 of 1 | Total Record : 5