cover
Contact Name
Siti Ikramatoun
Contact Email
siti.ikramatoun@unsyiah.ac.id
Phone
+626517555267
Journal Mail Official
sosiologiusk@gmail.com
Editorial Address
Gedung Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala, Jln. Tgk Tanoh Abee, Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi)
ISSN : 22525254     EISSN : 26548143     DOI : https://doi.org/10.24815/jsu
Jurnal Sosiologi USK (JSU) mengundang para Dosen, Praktisi dan Peneliti untuk mempublikasikan naskahnya pada JSU yang terbit setiap bulan Juni dan Desember setiap tahunnya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 117 Documents
Kebijakan Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya dalam Pengelolaan Pertambangan Emas Rakyat Aminah Aminah; Nurlisa Nurlisa; Ubaidulllah Ubaidulllah; Effendi Hasan
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i2.26450

Abstract

The people's gold mine in Gunong Ujeun, Aceh Jaya Regency, is one of the community-designated people's mining zones. However, exploiting these people's mines has generated several confrontations in the local community, and many illegal miners have come. This study aims to investigate the implementation of government policies in managing people's gold mining as well as the obstacles encountered. This study used a qualitative approach and a descriptive model. The informants are miners, locals, village authorities, and the Aceh Jaya District administration. This study showed that the Aceh Jaya government's policies on the management of community mining had not been adequately implemented due to a lack of socialization and that some individuals did not comply with the policies or were unaware of them. Then overlaps in policy between regional and national legislation prevented the Aceh Jaya regional administration from freely regulating the management of mines.AbstrakTambang emas rakyat di Gunong Ujeun Kabupaten Aceh Jaya merupakan salah satu wilayah pertambangan rakyat yang telah diperuntukkan untuk dieksploitasi oleh masyarakat. Dalam pengeksploitasi tambang rakyat tersebut telah menimbulkan berbagai konflik di masyarakat lokal dan banyaknya penambang-penambang liar yang berdatangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang implementasi kebijakan Pemerintah dalam pengelolaan pertambangan emas rakyat serta kendala-kendala yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan model deskriptif. Informan dalam penelitian ini yaitu para penambang, penduduk, perangkat desa, dan pemerintah Kabupaten Aceh Jaya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi kebijakan pemerintah Aceh Jaya dalam pengelolaan pertambangan rakyat belum berjalan secara maksimal. Penyebabnya adalah kurangnya sosialisasi yang dilakukan sehingga terdapat masyarakat yang tidak mematuhi hingga tidak mengetahui adanya peraturan tersebut. Kemudian, adanya kontradiksi antara peraturan daerah dan peraturan nasional membuat pemerintah daerah tidak bisa secara leluasa mengatur pengelolaan tambang di Aceh Jaya. 
Modal Sosial dalam Pengembangan BUMDes: Studi Kasus BUMDes Sejahtera di Desa Ponokawan Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo Nuri Nia Lusba; Khoirul Rosyadi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v17i1.32614

Abstract

This study aims to describe the role of social capital in managing BUMDes Sejahtera in Ponokawan Village, Krian Subdistrict, Sidoarjo Regency. The study employs a qualitative research method. Data collection is conducted through interviews with various relevant parties, such as managers and administrators of BUMDes Sejahtera, the local government of Ponokawan Village, partners of BUMDes Sejahtera, visitors to BUMDes, and several community leaders in Ponokawan Village. The study reveals that trust, social norms, and social networks play a vital role in the development of BUMDes Sejahtera in Ponokawan Village. High levels of trust between the government and the community foster positive social relationships. The community's shared norms serve as the foundation for BUMDes development. Social networks facilitate cooperation and coordination in managing shared resources, stimulating economic growth.AbstrakKajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang bagaimana peran modal sosial dalam pengelolaan BUMDes Sejahtera di Desa Ponokawan Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo. Kajian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan berbagai pihak terkait, seperti manajer dan pengurus BUMDes Sejahtera, pihak pemerintahan Desa Ponokawan, mitra BUMDes Sejahtera, pengunjung BUMDes, dan beberapa tokoh masyarakat Desa Ponokawan. Kajian ini menunjukkan bahwa kepercayaan, norma sosial, dan jaringan sosial penting memiliki peran penting dalam pengembangan BUMDes Sejahtera di Desa Ponokawan. Kepercayaan yang tinggi antara pemerintah dan masyarakat menciptakan hubungan sosial yang baik. Norma kebersamaan masyarakat menjadi dasar pengembangan BUMDes. Jaringan sosial memudahkan kerja sama dan koordinasi dalam pengelolaan sumber daya bersama, merangsang pertumbuhan ekonomi.
Modal Sosial dalam Pengembangan Wisata Nangkula Park di Desa Kendalbulur, Kabupaten Tulungagung Rizqi Nur Rizna Fitria Ningsih; Nanda Harda Pratama Meiji
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v17i1.31170

Abstract

This study aims to identify the development of Nangkula Park tourism, including the constraints and social capital within the community-based tourism group (Pokdarwis). The study employs a qualitative descriptive method. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The research findings indicate that the development of Nangkula Park tourism by Pokdarwis is achieved through the establishment of artificial tourism with comprehensive facilities. The constraints identified within Pokdarwis regarding the development of Nangkula Park tourism are related to (1) Pokdarwis' human resources, (2) limited funds, and (3) varying levels of participation. Meanwhile, the forms of social capital possessed by Pokdarwis Nangkula Park include (1) social norms formed from community values, which give rise to unwritten rules that are consistently followed, (2) trust expressed through mutual assistance and trust in the division of labor, and (3) social networks established with various parties such as the tourism department and other Pokdarwis groups.AbstrakKajian ini berupaya mengidentifikasi pengembangan wisata Nangkula Park, termasuk kendala dan modal sosial dalam kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Kajian ini menggunakan metode kualitatif model deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pengembangan wisata Nangkula Park yang dilakukan oleh Pokdarwis adalah dengan mewujudkan wisata buatan dengan fasilitas yang lengkap. Kendala yang ditemukan dalam Pokdarwis terhadap pengembangan wisata Nangkula Park adalah terkait dengan (1) SDM Pokdarwis, (2) dana yang terbatas, (3) tingkat partisipasi yang berbeda. Sementara itu, bentuk modal sosial yang dimiliki Pokdarwis Nangkula Park meliputi (1) norma terbentuk dari nilai-nilai sosial bermasyarakat, darinya lahir aturan-aturan tidak tertulis dan selalu dipatuhi. (2) kepercayaan dituangkan dalam bentuk saling menolong serta kepercayaan dalam pembagian kerja. (3) jaringan sosial terjalin dengan berbagai pihak seperti dinas pariwisata, dan pokdarwis lain.
Urgensi Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Aceh Utara Ferizaldi Ferizaldi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i2.28904

Abstract

The poverty rate in North Aceh District is still quite high, it was inversely proportional to the glory of the gas and oil industries in the past, so it once earned the nickname "petrodollar area." The government has been trying to overcome the spike in the poverty rate, but poverty is still increasing. This article aims to describe local wisdom as an aspect that can be used as part of a poverty alleviation strategy in North Aceh. This study uses a qualitative method. Data sources were obtained from interviews, observation, and documentation, then analyzed interactively. This study showed that the poverty alleviation efforts carried out by the North Aceh government are still partial and centralized. The cultural aspect, such as the community's local wisdom in accordance with Islamic values, is still not given enough attention. The realization of activities carried out so far are still focused on national programs from the central government, and efforts to collaborate and connect with local cultural aspects have not been made. Whereas local wisdom can be a part of a poverty alleviation mechanism because it has become a social norm and a valued asset in Acehnese society.AbstrakAngka kemiskinan di Kabupaten Aceh Utara masih cukup tinggi, berbanding terbalik dengan kejayaan industri migas di masa lalu, sehingga sempat mendapat julukan “daerah petrodolar”. Pemerintah telah berusaha mengatasi lonjakan angka kemiskinan, namun angka kemiskinan tetap saja meningkat. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan kearifan lokal sebagai salah satu aspek yang dapat dijadikan sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan di Aceh Utara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sumber data diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara interaktif. Kajian ini menunjukkan bahwa upaya pengentasan kemiskinan yang dilakukan pemerintah Aceh Utara masih bersifat parsial dan terpusat. Aspek budaya seperti kearifan lokal masyarakat yang sesuai dengan nilai-nilai Islam masih kurang diperhatikan. Realisasi kegiatan yang dilakukan selama ini masih terfokus pada program nasional dari pemerintah pusat, dan belum dilakukan upaya untuk berkolaborasi dan terkoneksi dengan aspek budaya lokal. Padahal kearifan lokal dapat menjadi bagian dari mekanisme pengentasan kemiskinan karena telah menjadi norma sosial dan aset berharga dalam masyarakat Aceh. 
The Tabot Tradition: Exploring the Spread of Islam and Cultural Interaction in Bengkulu Annisa Sativa; M. Iqbal Irham; Sugeng Wanto
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v17i1.30343

Abstract

The Tabot tradition is an important part of the Bengkulu cultural and religious heritage, which shows a close interaction between traditional customs and Islamic beliefs. The study aims to describe the Tabot tradition in Bengkulu and its relationship with the process of Islam’s entry into the country using a literature study approach. This study showed The process of Islamization in Bengkulu involved the economic activities of Muslim traders, intermarriage, Sufi teachings, and the development of the arts. Islam reached Bengkulu in the 15th or 16th century, primarily through contacts with Minangkabau and Palembang. The introduction of Islam to Bengkulu resulted in the formation of small kingdoms and the establishment of Islamic burial sites and manuscripts. The Tabot tradition, an annual ceremony commemorating the death of Imam Husayn, was brought to Bengkulu by Indian Bengalis and later blended with local traditions. This tradition demonstrates the close interaction between traditional customs and the Islamic faith in Bengkulu.
Fungsi dan Makna Tradisi Reuhab pada Masyarakat Gampong Kuta Aceh Fauziah Nurdin; Khairil Fazal
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i2.27275

Abstract

Tradition is a social legacy that is passed on to generations through a historical process. A tradition can survive if it continues to have a function and meaning for society. Reuhab is a tradition related to someone's death that is still being practiced by the people of Kuta Aceh in Nagan Raya Regency. This article aims to examine the function and meaning of the rehab tradition for the people of Gampong Kuta Aceh and why they continue to maintain and practice it. This study used a qualitative method with data collection techniques through interviews, observation, and a relevant literature review, and then analyzed qualitatively. This research shows that the reuhab tradition is one of the traditions that is still being practiced and maintained by the people of Gampong Kuta Aceh because this tradition has a function and meaning for the community. This tradition has served as a driving force for the birth of social solidarity in society, and in its implementation, rehab has symbolic, cultural, and spiritual meanings for the community.AbstrakTradisi merupakan warisan sosial yang disalurkan kepada generasi melalui proses sejarah. Sebuah tradisi dapat bertahan jika terus tradisi tersebut memiliki fungsi dan makna bagi masyarakat. Reuhab merupakan salah satu tradisi yang berkaitan dengan kematian seseorang yang masih terus dipraktikkan oleh masyarakat Kuta Aceh di Kabupaten Nagan Raya. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengetahui fungsi dan makna tradisi reuhab bagi masyarakat Gampong Kuta Aceh sehingga mereka terus memelihara dan mempraktikkan tradisi ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan kajian literatur yang relevan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif. Penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi reuhab menjadi salah satu tradisi yang masih terus dipraktikkan dan dipertahankan oleh masyarakat Gampong Kuta Aceh karena tradisi ini memiliki fungsi dan makna bagi masyarakat. Tradisi ini telah berfungsi pendorong lahirnya solidaritas sosial dalam masyarakat dan dalam pelaksanaannya, reuhab memiliki makna simbolik, kultural, dan spiritual bagi masyarakat.
Ketika Aktor Damai Tidak Efektif: Respons Keuchik dan Tuha Peuet terhadap Konflik Pengelolaan APBG Muhammad Sahlan; Muhammad Yunus Ahmad; Halik Halik
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v17i1.31829

Abstract

The article addresses how the headman and the legislative members of the village in Aceh overcome issues in managing the village income and expenditure budget. Using a qualitative method, the article inductively analyzes the styles of the headman and the village legislature in dealing with issues regarding the village income and expenditure budget and examines the factors that influence their response styles. The data for this study consists of newspaper articles in local newspapers from 2014 to 2022. The findings identify two conflict resolution styles of headman and village legislature that are commonly used: unilateral action and seeking third-party intervention. Meanwhile, in the third style, measures for conflict resolution formulated through regulations do not feature in the newspaper reporting. Furthermore, the findings also identify some underlying causes for the conflict resolution styles that are used in this context, including mechanisms and actors. This study will contribute to the literature about post-conflict grassroot efforts in Aceh and formulate a more effective early warning system at the local level.AbstrakArtikel ini membahas tentang pola respons keuchik dan tuha peut terhadap konflik pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Gampong (APBG). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, artikel ini menganalisa secara induktif bentuk-bentuk respons keuchik dan tuha peuet terhadap konflik pengelolaan APBG sekaligus mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk respons mereka. Data yang digunakan sebagai bahan analisis berasal dari pemberitaan surat kabar sejak 2014-2022. Studi ini mengidentifikasi dua model aksi yang paling sering digunakan oleh keuchik dan tuha peuet dalam konflik pengelolaan APBG, yaitu aksi unilateral (unilateral action) dan tindakan mencari bantuan intervensi pihak ketiga (third-party intervention). Sementara penyelesaian bersama (joint action) melalui langkah-langkah yang telah dirumuskan dalam sejumlah regulasi tidak muncul dalam pemberitaan surat kabar. Selain itu, studi ini juga mengidentifikasi faktor utama yang menyebabkan model penggunaan resolusi konflik tersebut, yaitu absurditas mekanisme dan peran pasif dan tidak efektifnya para aktor pendamping gampong
Konstruksi Sosial “Anak Mbarep” pada Etnis Jawa di Desa Blok 10 Kabupaten Serdang Bedagai Reza Selvina Putri Siregar; Rosramadhana Rosramadhana
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v17i1.31615

Abstract

Anak Mbarep, or the first-born child, is often eagerly anticipated and receives greater love and affection from their family and surroundings. However, being an anak Mbarep is not as enjoyable as imagined. This article aims to provide an overview of the significant responsibilities undertaken by anak Mbarep in Javanese culture and analyze them using Peter L. Berger's theory of social construction. This study utilizes a qualitative approach with a descriptive method, employing data collection techniques such as observation and interviews. The research was conducted in Blok 10 Village, Dolok Masihul District, Serdang Bedagai Regency. The findings of the study indicate that the burdens borne by anak Mbarep and the expectations placed upon them are part of the social construction within the community. This social construction is determined by the thoughts of the community, which are then manifested through the process of habituation. There are three significant moments in the formation of this social construction. Firstly, the moment of externalization, where the role of anak Mbarep as a representative of the parents is discussed and deliberated upon in interactions among parents, anak Mbarep, and the surrounding community. Secondly, the moment of objectification, where discussions about the role of anak Mbarep persist and become integrated into social interactions, resulting in the objective manifestation of anak Mbarep's culture in the community's perception. Lastly, the moment of internalization, where anak Mbarep assimilates the ongoing discussions within the community and incorporates them into their individual identity.AbstrakAnak Mbarep, atau anak pertama, seringkali dinanti dan diberikan cinta dan kasih sayang yang lebih oleh keluarga dan lingkungannya. Namun, menjadi anak Mbarep tidak semenyenangkan seperti yang dibayangkan. Artikel ini bertujuan untuk melihat gambaran tanggung jawab besar yang diemban oleh anak Mbarep dalam budaya Jawa, serta menganalisisnya dengan menggunakan teori konstruksi sosial Peter L. Berger. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Penelitian dilakukan di Desa Blok 10, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban yang ditanggung oleh anak Mbarep serta harapan yang diberikan oleh masyarakat merupakan bagian dari konstruksi sosial masyarakat. Konstruksi sosial ini ditentukan oleh pemikiran masyarakat yang kemudian dijalankan melalui proses pembiasaan. Terdapat tiga momen penting dalam pembentukan konstruksi sosial ini. Pertama, momen eksternalisasi, di mana peran anak Mbarep sebagai wakil orang tua didiskusikan dan diperbincangkan dalam interaksi antara orang tua, anak Mbarep, dan masyarakat sekitar. Kedua, momen objektivasi, di mana pembicaraan mengenai peran anak Mbarep terus berlanjut dan menjadi bagian dari interaksi sosial, sehingga budaya anak Mbarep terobjektivasi dalam pandangan masyarakat secara objektif. Ketiga, momen internalisasi, di mana anak Mbarep menyerap kembali realitas yang terus diperbincangkan oleh masyarakat, dan realitas tersebut menjadi bagian dari diri setiap individu. 
Dari Kejawen, Muhammadiyah, ke Dayah: Transformasi Ritual Agama dalam Masyarakat Jawa Pendatang di Aceh Sehat Ihsan Shadiqin
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 2 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i2.29037

Abstract

This article aims to describe the transformation of religious rituals and understanding among the Javanese Muslim community that migrated to the Gayo Highlands, Aceh Province, in the early twentieth century. This article is based on an ethnographic study by the author in the Gayo highlands of District Bener Meriah, Aceh Province. The author employs three primary data collection methods: observation, in-depth interviews, and documentation. The author also conducted a literature study pertinent to this paper to round out the data analysis. This study showed that religious belief and practice had been transformed among the Javanese migrants in Aceh over nearly a half-century. This transformation occurred from understanding the religion, which tends to be Kejawen, to Muhammadiyah's understanding. Then, after three decades, there was a fresh shift in understanding from Muhammadiyah to Dayah, which has continued until now. The Javanese migrants in Aceh are not resistant to changes in religious thought in their culture. Because not many Javanese migrants in Aceh studied religion specifically, anyone who comes will be easily accepted and welcomed. This makes religious transformation in Javanese migrant society in Aceh possible without significant conflict.AbstrakArtikel ini bertujuan menjelaskan transformasi pemahaman dan praktik beragama masyarakat muslim Jawa yang bermigrasi ke dataran tinggi Gayo provinsi Aceh pada awal abad ke 20. Artikel ini didasarkan pada penelitian etnografi yang penulis lakukan di dataran tinggi Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh dengan. Penulis menggunakan tiga teknik pengumpulan data utama yakni observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Untuk melengkapi analisis dan informasi, penulis juga melakukan kajian literatur yang relevan dengan artikel ini. Kajian ini menunjukkan bahwa transformasi pemikiran dan praktik beragama dalam masyarakat Jawa pendatang di Aceh telah terjadi sepanjang hampir setengah abad terakhir. Perubahan ini terjadi dari pemahaman agama yang cenderung kejawen kepada pemahaman Muhammadiyah. Kemudian, setelah tiga dekade terjadi perubahan baru dari pemahaman Muhammadiyah kepada pemahaman Dayah yang masih bertahan hingga saat ini. Masyarakat Jawa di Aceh cenderung tidak resisten pada perubahan pemikiran keagamaan yang ada di dalam masyarakat mereka. Hal ini disebabkan tidak banyak orang Jawa pendatang yang belajar agama secara khusus sehingga siapa saja yang datang ke sana untuk membawa agama akan diterima dan dipermudah. Hal inilah yang menjadikan transformasi keagamaan di dalam masyarakat Jawa pendatang dapat terjadi tanpa konflik yang berarti.
Pengambilan Keputusan Lulusan Sekolah pada Masa Pandemi: Studi Kasus di Kampung Kejawanan Dandy Prayoga; Didi Pramono
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v17i1.31234

Abstract

This article aims to examine how school graduates during the pandemic make informed decisions between continuing their studies or entering the workforce. The research was conducted in Kampung Kejawanan using qualitative research methods. Data were collected through observation, interviews, and documentary studies. The participants consisted of high school or equivalent graduates, parents, and administrative staff during the pandemic. The findings of this study indicate that the decisions of high school graduates in Kampung Kejawanan are influenced by their rationality and interests. The economic factor is the primary consideration when choosing between pursuing further education or working. The majority of students opt to work due to financial reasons and family needs, while some choose to continue their studies based on personal interest and awareness of the importance of education. In conclusion, the decisions of high school graduates in Kampung Kejawanan regarding continuing their studies or entering the workforce are influenced by their rationality and interests, with economic factors playing a significant role. Efforts are needed to address economic disparities and improve access to education to ensure equal opportunities for children to pursue their education.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana lulusan sekolah di masa pandemi membuat keputusan yang baik antara melanjutkan studi atau bekerja. Penelitian ini dilakukan di Kampung Kejawanan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Informan terdiri dari anak lulusan SMA/Sederajat di masa pandemi, orang tua, dan staf administrasi. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa keputusan anak lulusan SMA di Kampung Kejawanan dipengaruhi oleh rasionalitas dan minat mereka. Faktor ekonomi menjadi pertimbangan utama dalam memilih antara melanjutkan studi atau bekerja. Mayoritas anak-anak memilih untuk bekerja karena alasan keuangan dan kebutuhan keluarga. Sedangkan beberapa anak memilih untuk melanjutkan studi karena minat pribadi dan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Kesimpulannya, keputusan anak lulusan SMA di Kampung Kejawanan dalam memilih antara melanjutkan studi atau bekerja dipengaruhi oleh rasionalitas dan minat mereka. Faktor ekonomi memainkan peran penting dalam keputusan tersebut. Diperlukan upaya untuk mengatasi ketimpangan ekonomi dan akses pendidikan guna memastikan anak-anak memiliki kesempatan yang setara dalam melanjutkan pendidikan.

Page 11 of 12 | Total Record : 117