cover
Contact Name
Siti Ikramatoun
Contact Email
siti.ikramatoun@unsyiah.ac.id
Phone
+626517555267
Journal Mail Official
sosiologiusk@gmail.com
Editorial Address
Gedung Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala, Jln. Tgk Tanoh Abee, Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi)
ISSN : 22525254     EISSN : 26548143     DOI : https://doi.org/10.24815/jsu
Jurnal Sosiologi USK (JSU) mengundang para Dosen, Praktisi dan Peneliti untuk mempublikasikan naskahnya pada JSU yang terbit setiap bulan Juni dan Desember setiap tahunnya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 117 Documents
Persepsi Resiko Covid-19 pada Siswa MAN 1 Pidie Darwin Darwin; Nurainun Nurainun; Yuliana Yuliana; Saudah Saudah; M. Nazarullah; Cut Ratna Dewi; Fitri Juliana
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v15i2.24396

Abstract

Individual responses to the COVID-19 pandemic are influenced by their knowledge and perception of the pandemic. This study aims to determine the relationship between knowledge and risk perception of MAN 1 Pidie students against Covid-19. This research is a descriptive study using quantitative methods with a survey model, namely a cross-sectional survey. The research population was all MAN 1 Pidie who were selected using a total sampling technique. Data was collected using a questionnaire with the help of the Google Forms application. The data obtained were analyzed descriptively using the Pearson correlation test and simple linear regression test. This study indicates that students' knowledge about covid-19 is in the high category, while students' risk perceptions are in the medium category. Statistical test results show the value of sig. 0.0000.05. Thus, this study concludes a significant relationship between students' knowledge about COVID-19 and their perception of risk for COVID-19.AbstrakRespons individu terhadap pandemi covid-19 dipengaruhi oleh pengetahuan dan persepsinya terhadap pandemi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan persepsi risiko siswa MAN 1 Pidie terhadap Covid-19. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif menggunakan metode kuantitatif dengan model survei yaitu cross sectional survei. Populasi penelitian adalah seluruh siswa MAN 1 Pidie yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan bantuan aplikasi google formulir. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan menggunakan uji korelasi Pearson dan uji regresi linier sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan siswa tentang covid-19 berada pada kategori tinggi, sedangkan persepsi risiko siswa berada pada kategori sedang. Hasil uji statistik menunjukkan nilai sig. 0,0000,05. Dengan demikian penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan siswa tentang covid-19 dengan persepsi resiko mereka terhadap covid-19.
Playing with Identity Politics: An Analysis Post-2019 Presidential Election Aditya Candra Lesmana; Budi Sutrisno
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v15i2.23716

Abstract

This article aims to discuss the potential for the disintegration of the Indonesian nation after the 2019 general election. The method used is a literature study using the concept of Identity Politics. The result of the study found that the game of identity politics in the implementation of the Presidential election created a counter-productive process. There is a potential for national disintegration due to the identity politics played by the two pairs of candidates fighting in the Presidential election. The strengthening of feelings of in-groupness creates dislike for other groups pushed the emergence of various phenomena and acts of violence due to the use of identity politics in the 2019 presidential election.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk membahas potensi disintegrasi bangsa Indonesia pasca pemilu 2019. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menggunakan konsep identitas politik. Hasil penelitian menemukan bahwa permainan politik identitas dalam pelaksanaan Pilpres menciptakan proses yang kontra produktif. Ada potensi disintegrasi bangsa akibat politik identitas yang dimainkan dua pasangan calon yang bertarung di Pilpres. Menguatnya perasaan in-groupness menimbulkan ketidaksukaan terhadap kelompok lain mendorong munculnya berbagai fenomena dan tindakan kekerasan akibat penggunaan politik identitas pada pemilihan presiden 2019.
Wellness tourism sebagai Bentuk Adaptasi terhadap Dinamika Pariwisata Bali di Era New Normal Herny Susanti
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i1.24744

Abstract

This study aims to determine the potential of wellness tourism in Bali, identify the involvement of stakeholders in the development of wellness tourism, and find forms of wellness tourism development in Bali as part of adaptation to the dynamics of tourism in the new normal era. This study uses a qualitative method. Data were collected using in-depth interviews with stakeholders/policymakers and academics in the tourism sector. The theories used in this research are adaptation theory, participation theory, and community-based tourism theory. This study found that the potential for wellness tourism in Bali is more focused on natural resources, culture, spirituality, and local wisdom. The involvement of stakeholders in the development of wellness tourism is more about the implementation of their respective duties and functions, including in terms of regulations/policies; provision of clean, healthy, safe, and environment (CHSE) facilities; as well as the role of the community in realizing sustainable tourism. This study also found that the form of wellness tourism that needs to be developed is wellness tourism which is characteristic of Bali, involves the local community more thoroughly, and prioritizes the principles of sustainable tourism.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi wellness tourism di Bali, mengidentifikasi keterlibatan stakeholder dalam pengembangan wellness tourism, dan menemukan bentuk-bentuk pengembangan wellness tourism di Bali sebagai bagian dari adaptasi terhadap dinamika pariwisata di era new normal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan/pengambil kebijakan dan akademisi di sektor pariwisata. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori adaptasi, teori partisipasi, dan teori pariwisata berbasis masyarakat. Studi ini menemukan bahwa potensi wellness tourism di Bali lebih terfokus pada sumber daya alam, budaya, spiritualitas, dan kearifan lokal. Keterlibatan stakeholder dalam pengembangan wellness tourism lebih pada pelaksanaan tugas dan fungsinya masing-masing, termasuk dalam hal regulasi/kebijakan; penyediaan fasilitas bersih, sehat, aman, dan lingkungan (CHSE); serta peran masyarakat dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini juga menemukan bahwa bentuk wellness tourism yang perlu dikembangkan adalah wellness tourism yang menjadi ciri khas Bali, melibatkan masyarakat setempat secara lebih menyeluruh, dan mengedepankan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan.
Perlawanan Pedagang Kaki Lima di Laman Boenda Tanjungpinang Paul Samuelson Sitorus; Sri Wahyuni; Emmy Solina
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i1.25776

Abstract

This study aims to describe the resistance carried out by street vendors on the Boenda Tanjung Pinang page. This study uses a qualitative approach, data obtained from interviews and observations. This study identifies that the policing carried out by Satpol PP against street vendors is a form of implementing local government regulations. To get around the policing activities that the Satpol PP is continuously carrying out, street vendors fight in two forms, namely hidden and open resistance. The two forms of resistance became an alternative for traders to continue selling at the Boenda site and to fulfill their daily needs. AbstrakKajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang perlawanan yang dilakukan oleh Pedagang Kaki Lima di Laman Boenda Tanjung Pinang. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif, data diperoleh dari wawancara dan observasi. Kajian ini mengidentifikasi bahwa penertiban yang dilakukan oleh Satpol PP terhadap pedagang kaki lima merupakan bentuk penerapan peraturan pemerintah daerah. Untuk menyiasati kegiatan penertiban yang terus dilakukan oleh Satpol PP, para pedagang kaki lima melakukan perlawanan dalam dua bentuk yaitu perlawanan tersembunyi dan terbuka. Kedua bentuk perlawanan itu menjadi alternatif para pedagang untuk tetap berjualan di lokasi laman Boenda dan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Pendekatan Budaya dalam Resolusi Konflik Politik Aceh: Suatu Catatan Reflektif Muhammad Sahlan; Iromi Ilham; Khairul Amin; Ade Ikhsan Kamil
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i1.25272

Abstract

This reflective paper aims to discuss the importance of using a cultural approach to resolve political conflicts and see the past as a learning space to create a civilization in the present and future. In the context of conflict, Aceh has become a medium for learning how the political conflict between GAM and the Indonesian government is resolved. The experience of past conflicts, a series of failed negotiations, and the cultural approach to the Helsinki negotiations, in parallel, serve as important lessons and evidence that “historical-humanism” does not work in a vacuum. This article illustrates that a cultural approach is a key to successful negotiations for a resolution. This is due to several things: first, building an estuary of peace with a cultural approach taking into account the representations and interests of the two conflicting parties, related to technicalities and mechanisms and matters of a substantive nature. Second, understanding and appreciating the perspective of others is important to know what messages and aspirations have not been conveyed properly so far. And third, acknowledging past mistakes and sins, then sincerely and boldly apologizing to those who were hurt, is a form of acknowledging regret for what has been done.AbstrakTulisan reflektif ini bertujuan untuk membahas pentingnya menggunakan pendekatan budaya untuk menyelesaikan konflik politik dan melihat masa lalu sebagai ruang belajar untuk menciptakan peradaban di masa sekarang dan masa depan. Dalam konteks konflik, Aceh menjadi media pembelajaran bagaimana konflik politik antara GAM dan pemerintah Indonesia diselesaikan. Pengalaman konflik masa lalu, serangkaian negosiasi yang gagal, dan pendekatan kultural terhadap negosiasi Helsinki, secara paralel, menjadi pelajaran dan bukti penting bahwa “humanisme-historis” tidak bekerja dalam ruang hampa. Artikel ini menggambarkan bahwa pendekatan budaya adalah kunci keberhasilan negosiasi untuk sebuah resolusi. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal: pertama, membangun muara perdamaian dengan pendekatan budaya dengan memperhatikan representasi dan kepentingan kedua pihak yang bertikai, terkait teknis dan mekanisme serta hal-hal yang bersifat substantif. Kedua, memahami dan menghargai cara pandang orang lain penting untuk mengetahui pesan dan aspirasi apa yang selama ini belum tersampaikan dengan baik. Dan ketiga, mengakui kesalahan dan dosa masa lalu, kemudian dengan tulus dan berani meminta maaf kepada yang tersakiti, merupakan bentuk pengakuan penyesalan atas apa yang telah dilakukan.
Keistimewaan Aceh dan Pembangunan Perdamaian dalam Tinjauan Sosio Historis Suadi Zainal
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i1.25706

Abstract

historical perspective and its relation to peacebuilding. This study used a qualitative method with a literature study model. The data in this study were sourced from various documents and literature that were relevant to the study. The results showed that the autonomy and privileges of Aceh were the fruit of the resistance carried out by the Acehnese people against the Indonesian government. Hence, these privileges changed from time to time according to the level of resistance and political negotiations that took place. However, the autonomy and privileges that had been achieved and formalized in Aceh's socio-political context were unable to have a maximum positive impact on the peacebuilding that leads the Aceh people gaining sustainable wellbeing.AbstrakKajian ini bertujuan mendeskripsikan tentang otonomi dan keistimewaan Aceh dalam perspektif sosio historis dan kaitannya dengan pembangunan perdamaian. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan model studi kepustakaan. Data dalam kajian ini bersumber dari berbagai dokumen maupun literatur yang relevan dengan kajian yang dilakukan. Kajian ini menunjukkan bahwa otonomi dan keistimewaan Aceh merupakan buah dari perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Aceh terhadap Pemerintah Indonesia,  sehingga keistimewaan tersebut mengalami perubahan dari masa ke masa sesuai dengan tingkat perlawanan dan negosiasi politik yang terjadi. Namun, otonomi dan keistimewaan yang berhasil diraih dan diformalisasikan dalam kehidupan sosial politik Aceh belum mampu memberikan dampak positif secara maksimal bagi pembangunan perdamaian yang mensejahteraan Masyarakat Aceh secara berkelanjutan
Sikopansi: Seni Membudak dalam Ritus Penindasan Indra Setia Bakti; Muklir Muklir; Sufi Sufi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i1.25456

Abstract

This study aims to explore the practice of sycophants in the office. We used observation and literature study as methods. We analyzed the data obtained from observations and document studies dialectically. The results showed that the behavior of sycophants as an individual initiative in the organizational arena institutionalized the habitus of a sycophant. The sycophants who lack the capability and professionalism have succeeded in politicizing the situation in the office for their interests through various oppression rites. Dominative social relations have created a toxic work environment and killed the desire of other staff to be creative and innovate. As a result, government organizations carry out routine tasks, but hard to come up with brilliant ideas in assisting community services because many of their employees no longer believe in the career path system in their office.AbstrakStudi ini bertujuan untuk mengeksplorasi praktik sikopansi di lingkungan kerja.  Peneliti menggunakan metode observasi dan studi literatur. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan lapangan dan kajian dokumen dianalisis secara dialektis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku menjilat atasan sebagai prakarsa individu dalam arena organisasi yang menginstitusionalisasi habitus sikopan. Para sikopan yang minim kapabilitas dan profesionalitas berhasil memolitisasi situasi yang terjadi di lingkungan kerja untuk kepentingan pribadinya melalui berbagai ritus penindasan. Relasi sosial yang bersifat dominatif melahirkan lingkungan kerja toksik yang membunuh semangat staf lain dalam berkreativitas dan berinovasi. Alhasil organisasi pemerintahan berjalan dalam skema pelaksanaan rutinitas kerja namun agak sulit menelurkan ide-ide brilian dalam pelayanan masyarakat karena banyak pegawai yang tidak percaya lagi dengan sistem jenjang karier di kantornya.
Upaya ILO dalam mengatasi Permasalahan Kerja Paksa ABK Indonesia di Kapal Ikan Asing Puput Oktariani; Dedik Fitra Suhermanto
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i1.25803

Abstract

This study aims to explore the efforts of the ILO in overcoming cases of forced labour that occurred to Indonesian crew members on foreign fishing vessels. The research method used is descriptive qualitative with literature study. This study shows that the ILO's efforts are to make and adopt ILO Convention No. 188 of 2007 concerning Manpower in Fishing and recommends that Indonesia ratify the convention. The ILO also facilitates several meetings and projects, such as the ILO Marine Fisheries Project, the Bali Forum, and the Southeast Asia Forum to End Human and Forced Labor in Fisheries. The ILO also facilitated several meetings and established projects such as the ILO's Sea Fisheries Project, the Bali Forum, and the Southeast Asia Forum to End Human Trafficking and Forced Labor in Fisheries.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi upaya ILO dalam mengatasi kasus kerja paksa yang terjadi pada ABK WNI di kapal penangkap ikan asing. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan studi pustaka. Studi ini menunjukkan bahwa upaya ILO adalah dengan membuat dan mengadopsi Konvensi ILO No. 188 Tahun 2007 tentang Ketenagakerjaan dalam Penangkapan Ikan dan merekomendasikan agar Indonesia meratifikasi konvensi tersebut. ILO juga memfasilitasi beberapa pertemuan dan mendirikan proyek seperti Proyek Perikanan Laut ILO, Forum Bali, dan Forum Asia Tenggara untuk Mengakhiri Perdagangan Manusia dan Kerja Paksa di Perikanan. ILO juga memfasilitasi beberapa pertemuan dan membentuk project seperti ILO’s Sea Fisheries Project, Bali Forum, dan the Southeast Asia Forum to End Human Trafficking and Forced Labour in Fisheries.
Formalisasi Tradisi “Me Bu Gateng” sebagai Upaya Penanggulangan Stunting di Kabupaten Bireuen Rizki Yunanda; Ibrahim Chalid; Richa Meliza
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i1.25585

Abstract

The article aims to describe the formalization of the Me Bu Gateng tradition as a Gampong Qanun to prevent stunting in the community in Bireuen Regency. This study uses a qualitative approach, and data collection is carried out through observation, interviews, and document studies. This study indicates that the formalization of the Bu Gateng tradition as a Gampong Qanun is an innovation program carried out by the Bireuen Regency Government in strengthening and supporting stunting prevention efforts. The formalization of this tradition was realized by the joint work between agencies in supporting stunting prevention efforts in Bireuen Regency. The “me bu gateng” program has become a patterned project on infant health and nutrition knowledge during pregnancy. The formalization of the tradition in the Gampong Regulation has succeeded in changing the tradition from twice during pregnancy to every month until the end of pregnancy. This condition has resulted in the fulfillment of nutrition for both mother and baby to protect the baby from stunting. AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan formalisasi tradisi Me Bu Gateng sebagai Qanun Gampong untuk mencegah stunting pada masyarakat di Kabupaten Bireuen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dan pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Kajian ini menunjukkan bahwa formalisasi tradisi Bu Gateng sebagai Qanun Gampong merupakan program inovasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bireuen dalam memperkuat dan mendukung upaya pencegahan stunting. Formalisasi tradisi ini diwujudkan dengan kerja sama antar instansi dalam mendukung upaya pencegahan stunting di Kabupaten Bireuen. Program “me bu gateng” telah menjadi proyek berpola tentang pengetahuan kesehatan, gizi dan nutriai bayi selama kehamilan. Formalisasi tradisi dalam bentuk Peraturan Gampong telah berhasil mengubah tradisi dari dua kali selama kehamilan menjadi setiap bulan hingga akhir kehamilan, dan kondisi ini telah menghasilkan pemenuhan gizi serta nutrisi bagi ibu dan bayi sehingga bayi terhindar dari stunting.
Faktor Tindakan Asusila pada Narapidana Remaja di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Payakumbuh Sarah Magfirah; Yenita Yatim; Yuhelna Yuhelna
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v16i1.24712

Abstract

This study aims to describe the factors that cause adolescent prisoners of immoral cases in the Class II B Penitentiary Payakumbuh to act immorally. The research method used is descriptive qualitative analysis. Data were collected through observation, interviews, documentation, and analyzed with an interactive model. The study indicates that the factors that cause immoral acts in adolescent prisoners in the Class II B Payakumbuh Correctional Institution include: 1) Lack of Community Control; 2) Lack of Synergy between the Community and the Police; 3) Parental Control; 4) Difficulty controlling desire or lust; 5) Bad Experiences in the Past; 6) Free association; 7) Alcohol and 8) pornographic videos. These factors are interrelated and encourage adolescents to commit immoral acts. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tentang faktor-faktor yang menyebabkan Narapidana Remaja Kasus Asusila di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Payakumbuh melakukan tindakan Asusila. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindakan asusila pada narapidana remaja di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Payakumbuh di antaranya: 1) Kurangnya Kontrol Masyarakat; 2) Kurangnya Sinergitas antara Masyarakat dan Kepolisian; 3) Kontrol orang tua; 4) Kesulitan Mengendalikan Keinginan atau nafsu; 5) Pengalaman Buruk di Masa Lalu; 6) Pergaulan Bebas; 7) Alkohol, dan 8) video porno. Faktor-faktor tersebut saling berhubungan dan kemudian mendorong remaja untuk melakukan tindakan asusila.

Page 9 of 12 | Total Record : 117