cover
Contact Name
Ahmad Nimatullah Al-Baarri, PhD
Contact Email
redaksi@ift.or.id
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi@ift.or.id
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Articles 216 Documents
KUALITAS EKSTERNAL TELUR AYAM PETELUR YANG MENDAPAT RANSUM DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG IKAN FERMENTASI MENGGUNAKAN ISOLAT PRODUSER ANTIHISTAMIN Elly Tugiyanti; N Iriyanti
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 1, No 2 (2012): Mei 2012
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.792 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan kualitas telur yang baik dengan menggunakan tepung ikan fermentasi dan Non Starch Polisakarida (NSP) dalam Pakan ayam petelur. Penelitian menggunakan metode ekperimental dengan rancangan percobaan berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan serta uji lanjut dengan uji Duncan. Materi penelitian menggunakan ayam petelur sebanyak 65 ekor, umur 18 minggu yang dipelihara secara intensif selama enam bulan. Perlakuan meliputi : R0 = kontrol;  R1 = R0 + tepung ikan fermentasi (TIF)  2 %;  R2 = R0 + TIF 4 % ; R3 = R0 + TIF 6 %;  R4 = R0 + TIF 8 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot telur berpengaruh nyata (P<0,05), sedangkan bobot kuning telur, bobot kerabang, indek telur dan % HDA tidak berpengaruh nyata (P>0,05).  Bobot telur berkisar antara 54,03-58,55 g; bobot kuning telur berkisar 12,31-13,39 g; bobot kerabang : 6,26-7,22 g, indek telur sebesar 77,22-89,66; HDA : 41,67-63,06%; kekuatan kerabang 52,13-59,13 mm pascal, dan HU : 70,41-77,34 mm pascal. Kesimpulan penelitian adalah penambahan tepung ikan fermentasi dapat digunakan dalam pakan ayam petelur sampai level 8% tanpa mengganggu produksi telur.
Aktivitas Antioksidan, pH, Viskositas, Viabilitas Bakteri Asam Laktat (bal) pada Yogurt Powder Daun Kopi dengan Jumlah Karagenan yang Berbeda Rahim Fajar Pangestu; Anang Mohamad Legowo; Ahmad Ni&#039;matullah Al-Baarri; Yoyok Budi Pramono
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.097 KB) | DOI: 10.17728/jatp.185

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh penambahan karagenan pada yogurt powder daun kopi dan yogurt powder tanpa daun kopi. Penelitian dilaksanakan pada bulan September – Desember 2015 di Laboratorium Kimia dan Gizi Pangan Fakultas Peternakan dan Pertanian dan Laboratorium Terpadu, Universitas Diponegoro, Semarang. Yogurt dibuat dengan menggunakan bakteri asam laktat (BAL) Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophillus dan setelah yogurt diinkubasi selama 4 jam, dilakukan penambahan 1-3% (v/v) karagenan, serta penambahan ekstrak daun kopi sebanyak 5% (v/v). Kemudian dilakukan pengeringan dengan suhu 50°C selama 20 jam dalam keadaan aseptis, masing-masing perlakuan diulang 4 kali. Parameter yang diamati adalah antioksidan, pH, viskositas, dan viabilitas BAL pada yogurt yang telah mengalami rehidrasi 10% (b/v). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak karagenan yang digunakan, menyebabkan semakin  meningkatnya antioksidan dan viskositas yogurt powder yang telah diseduh. Ekstrak daun kopi juga terbukti dapat menyebabkan meningkatknya antioksidan dan viskositas yogurt powder yang telah diseduh.  Penambahan karagenan dan daun kopi tidak mempengaruhi nilai pH, sedangkan pada viabilitas BAL penambahan karagenan dan daun kopi dapat melindungi BAL sekitar 5,78 – 6,29 log CFU/ml.This research was aimed to analyze the effect of the addition of carrageenan on a yogurt powder coffee leaves and yogurt powder without coffee leaves. The research was conducted in September - December 2015 at the Laboratory of Food Chemistry and Nutrition Faculty of Animal Husbandry and Agriculture and Integrated Laboratory, University of Diponegoro, Semarang. Yogurt was made using lactic acid bacteria (LAB) Lactobacillus bulgaricus and Streptococcus thermophillus with incubation time of 4 hours and the addition of 1-3% (v/v) of carrageenan and 5% (v/v) coffee leaf extract. Yogurt then was dried in 50˚C for 20 h at aseptic condition, each treatment was repeated four times. The parameters observed are antioxidants, pH, viscosity, and the viability of LAB in yogurt that have undergone rehydration 10% (w / v). The results showed that the more carrageenan are used, will cause increasing antioxidants and viscosity yogurt powder that has been brewed. Coffee leaf extract was also shown to cause the rise in antioxidants and viscosity yogurt powder that has been brewed. In addition carrageenan and coffee leaf does not affect the pH value, while the addition of carrageenan viability BAL and BAL coffee leaves can protect about 5.78 - 6.29 log CFU / ml.
UJI ORGANOLEPTIK DAN PROFIL KIMIAWI YOGURT PADAT DENGAN KOMPOSISI FORMULA YANG BERBEDA Sri Rulianah; M Sarosa; Hadiwiyatno Hadiwiyatno
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 2, No 4 (2013): November 2013
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.574 KB)

Abstract

Yogurt di pasaran pada umumnya berbentuk cair dan kurang lazim ditemui dibanding produk minuman probiotik lainnya. Untuk itu perlu diversifikasi produk yogurt yang memiliki nilai tambah ekonomi dan bentuk yang bervariasi sehingga menjadikan yogurt sebagai minuman probiotik yang lebih diminati oleh konsumen. Tujuan penelitian adalah untuk menemukan formulasi yang tepat dalam pembuatan yogurt padat baik dalam bentuk rasa maupun tekstur. Yogurt padat dibuat dari susu sapi segar ditambah dengan maizena, susu skim, dekstrin (sesuai variabel) dan gula. Campuran dari bahan–bahan tersebut dipanaskan pada suhu ± 90 oC selama 10 menit, didinginkan sampai suhu 43 oC, dan ditambahkan starter yogurt (bakteri Steptococcus thermophillus dan Lactobacillus bulgariccus) sebesar 3 % dan diinkubasi selama 18 jam pada suhu kamar. Variabel berubah yang digunakan adalah jumlah maizena, susu skim, dan dekstrin dalam bentuk formulasi yaitu formulasi A sampai O. Dari hasil uji coba organoleptik terhadap 20 responden menunjukkan bahwa yogurt padat dengan rasa dan tekstur yang paling disukai responden adalah formulasi D yaitu pada penambahan susu skim 3 %, maizena 3 % dan tidak ada penambahan dekstrin. Formulasi D tersebut setelah diuji secara kimiawi dan mikrobiologi menghasilkan kadar keasaman 0,87%, kadar protein 8,932%, dan jumlah bakteri stater 2,45 x 109 cfu/gram sampel.
THE EFFECT OF SUPPLEMENTATION GARLIC OIL AS AN ANTIBACTERIAL ACTIVITY AND SALTING TIME ON THE CHARACTERISTICS OF SALTED EGG Putri Widyanti Harlina; Ma Mei Hu; A M Legowo; Y B Pramono
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 1, No 4 (2012): November 2012
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.831 KB)

Abstract

This study has been done to examine the influences of garlic oil, salting time in the characteristics of salted egg. Typical bacterial used in this study were Escherichia coli, Salmonella enteritidis, and Staphylococcus aureus. They were obtained from the culture collection of National R&D Center for Egg Processing Laboratory, Food Science and Technology College, Huazhong Agricultural University, Wuhan, China. The experimental design was completely randomized design with factorial factor A x B (3 x 5) for three replications. Factor A were supplementation of garlic oil with different concentration (0%; 0.1%; 0.5%) and factor B were different time for salting process (0; 7; 14; 21; 28 days). The research was done through several activities, the determination of garlic oil as an antibacterial activity and making salted eggs in the presence of garlic oil are performed.  The results showed that garlic oil had antibacterial activity on the three bacteria used in this study. The minimum inhibitory concentration (MIC) of garlic oil was used as a determination of the concentration in salted egg presence of garlic oil. Egg white and yolk of duck eggs with different salting time and concentration of garlic oil showed slight differences in chemical composition and textural properties as salting proceeded. Both of treatment could induce solidification of yolk accompanied by oil exudation and the development of gritty texture. Thus both of treatment somehow affected the characteristics of the resulting egg white and egg yolk.
Nilai pH, Total Padatan Terlarut, dan Sifat Sensoris Yoghurt dengan Penambahan Ekstrak Bit (Beta vulgaris L.) Nur Ismawati; Nurwantoro Nurwantoro; Yoyok Budi Pramono
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 5, No 3 (2016): Agustus 2016
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.284 KB) | DOI: 10.17728/jatp.181

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai pH, total padatan terlarut, dan sifat sensoris yoghurt dengan penambahan ekstrak bit. Materi yang digunakan adalah susu skim cair, ekstrak bit, kultur bakteri asam laktat (BAL) yaitu Lactobbacillus bulgaricus, Streptococcus thermophillus, dan Lactobacillus acidophilus. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan penambahan ekstrak bit 0%, 1%, 2%, 3%, dan 4%. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan penambahan ekstrak bit memberikan perbedaan nyata (P<0,05) terhadap nilai pH, total padatan terlarut, dan sifat sensoris yoghurt. Nilai pH menghasilkan angka 3,79 – 3,92; total padatan terlarut 7,70 – 8,13 °Brix; dan semakin tinggi penambahan ekstrak bit yang digunakan menambah agak bau aroma tanah dan rasa lebih agak manis. Penambahan konsentrasi ekstrak bit terbaik yaitu 4%.Kata kunci : nilai pH, total padatan terlarut, sifat sensoris, yoghurt, ekstrak bitAbstractThe purpose of this research was to determined the pH value, total dissolved solids, and sensory properties of yoghurt with addition of beet extract. Material used in this research were liquid skimmed milk, beet extract, starter cultures of lactic acid bacteria (BAL) that were Lactobbacillus bulgaricus, Streptococcus thermophillus, and Lactobacillus acidophilus. The research showed that addition of the beet extract given significant (P<0,05) the value of pH, total dissolved solid, and sensory properties of yoghurt. The result obtained showed that the pH value ranged between 3.79 – 3.92; total dissolved solids 7.70 – 8.13 °Brix; and an addition in the taste and sweetness become increasingly concentrated. The additional of the best beet extract happens on 4%.Keywords: pH, total dissolved solids, sensory properties, yoghurt, extract beet
LACTOSE AND REDUCTION SUGAR CONCENTRATIONS, PH AND THE SOURNESS OF DATE FLAVORED YOGURT DRINK AS PROBIOTIC BEVERAGE Ade Irma Hartati
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 1, No 1 (2012): Februari 2012
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.652 KB)

Abstract

Yogurt drink contains of Lactic Acid Bacteria which have lot of functions for health. The growth of Lactic Acid Bacteria depends on heat treatment, how long fermentation takes place, and kinds of sugar in the milk. Adding some sugar to Yogurt drink can optimize the growth of Lactic Acid Bacteria. Date palm was used to add the sugar contain of yogurt drink with different percentage range from 0% (T0), 2% (T1), 4% (T2) and 6% (T3) with 5 times replicated.  To aim the information of the sugar utilities in fermenting milk, so in this study used four parameters, there were lactose concentration, total reduction sugar, pH and level of sourness. Completely Randomized Design was used, data result were analyzed with ANOVA, then were continued with Duncan Multiple Range Test. Finally result showed that adding date palm during fermentation decreasec the lactose concentration from T1 to T3 then increased in T4 with range from 3.19%-3.32%, Reduction Sugar increased persistently from T0 to T3 range from 2.15%-2.99%, and pH value decreased range from 3.83-3.76. However, adding date palm into yogurt drink had no effect in sourness. This study informs that the natural sugar of date palm was used by Lactic Acid Bacteria during fermentation process, so that it affected Lactose and reduced Sugar concentration and pH value.
Penggunaan Pektin Kulit Buah Kakao sebagai Edible Coating pada Kualitas Buah Tomat dan Masa Simpan Prima Endang Susilowati; Aidillah Fitri; M. Natsir
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 6, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.374 KB) | DOI: 10.17728/jatp.193

Abstract

Buah kakao terdiri dari tiga bagian yaitu kulit, daging buah dan biji. Selama ini kulit buah kakao belum optimal pemanfaatnya. Salah satu alternatif pemanfaatannya adalah sebagai bahan baku pembuatan edible coating dengan mengekstrak pektin yang terkandung pada kulit buah kakao. Edible coating diaplikasikan pada buah tomat dan mencari formula edible coating terbaik terhadap karakteristik buah tomat selama penyimpanan. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan mengekstraksi pektin dari kulit buah kakao dan menentukan masa simpan buah tomat dengan penggunaan larutan pektin sebagai edible coating pada buah serta kualitas. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan mengekstraksi pektin dari kulit buah kakao, kemudian buah tomat yang akan diawetkan dicelupkan dalam larutan pektin hasil ekstraksi dengan variasi konsentrasi 1-3%, selanjutnya buah tomat dan disimpan selama 21 hari pada suhu 40C. Hasil analisis dengan menggunakan Fourier Transform Infra Read (FTIR) menunjukkan bahwa pektin hasil ekstraksi memiliki gugus fungsi yang sama dengan pektin komersial. Karakterisasi pektin, yaitu kadar air 8%,  abu 2%, berat ekivalen 6250 mg dan metoksil 6,32%. Hasil terbaik coating mengunakan 3% pektin, ditunjukan dengan penampakan buah masih segar. Karakterisasi buah tomat, yaitu susut bobot 1,17%, total asam 0,51%, dan kadar vitamin C 55,88 mg/gram.
FORMULASI DAN KARAKTERISASI CAKE BERBASIS TEPUNG KOMPOSIT ORGANIK KACANG MERAH, KEDELAI, DAN JAGUNG Santi Dwi Astuti; Nuri Andarwulan; Purwiyatno Hariyadi; Friska Citra Agustia
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 3, No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.154 KB)

Abstract

Bahan pangan organik memiliki kandungan gizi dan komponen fungsional yang lebih tinggi dibanding non-organik serta tidak mengandung residu kimia dan logam berat. Kacang merah dan kedelai merupakan sumber protein nabati yang kaya serat pangan dan senyawa fungsional serta memiliki Indeks Glikemik rendah. Pati jagung berperan dalam memperbaiki sifat tekstural dan reologi produk pangan. Penelitian ini ditujukan untuk : 1) mengkaji karakteristik tepung komposit organik berbasis kacang merah, kedelai, dan jagung sebagai bahan pensubstitusi terigu dalam pembuatan cake; 2) mengkaji sifat fisikokimia dan sensori cake yang dihasilkan. Rasio tepung komposit organik kacang merah : kedelai : jagung yaitu 65% : 25% : 10%. Proporsi tepung komposit organik sebagai pensubstitusi terigu yaitu 0-100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Tepung komposit organik memiliki kadar protein, lemak, dan serat pangan yang lebih tinggi dibanding terigu, sedangkan kadar karbohidrat dan patinya lebih rendah. Komposisi tersebut menyebabkan kemampuannya mengikat air yang tinggi pada suhu ruang dibanding terigu; sedangkan terigu memiliki kemampuan gelatinisasi (yang dilihat dari profil pasta dan viskositas) yang lebih baik; 2) Semakin tinggi proporsi substitusi terigu pada pembuatan cake menyebabkan peningkatan kadar air, abu, protein, dan serat pangan; sedangkan kadar karbohidratnya menurun. Secara sensori, terjadi penurunan pada tingkat kelembutan, kesukaan terhadap aroma, rasa, penerimaan secara keseluruhan; serta peningkatan pada intensitas warna. Substitusi terigu tidak berpengaruh besar pada sifat tekstural cake (kekerasan, elastisitas, dan daya kohesif); 3) Substitusi terigu dengan tepung komposit organik berbasis kacang-kacangan seperti kacang merah dan kedelai dapat dilakukan untuk memperbaiki nilai gizi cake terutama protein hingga taraf 50%, dan untuk meningkatkan penerimaan konsumen, produk cake dapat dikembangkan menjadi muffin. Kata kunci : cake, tepung komposit organik, kacang merah, kedelai, jagung
Intensitas Warna dan Aroma Susu Kambing akibat Glikasi dengan D-Fruktosa, L-Fruktosa dan Galaktosa Putra Candra Nugraha; anang mohammad legowo; Sri Mulyani; Ahmad Ni&#039;matullah Al-Baarri
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 3, No 3 (2014): Agustus 2014
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.598 KB)

Abstract

Rare sugar adalah gula yang tidak lazim terdapat di alam dan dapat diperoleh dari selulosa dan polisakarida. Jenis rare sugar D- dan L-fruktosa memiliki sifat antioksidan yang tinggi. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, ketiga jenis gula ini digunakan sebagai meteri penelitian untuk dianalisis nilai browning intensity atau intensitas warna dan aromanya ketika ditambahkan ke dalam susu kambing setelah melalui proses glikasi pada suhu 60˚C selama 10 menit. Nilai intensitas warna dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer dan analisis aroma dilakukan dengan bantuan 25 orang panelis. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan hasil bahwa intensitas warna berkisar antara 0,73 sampai 1,02. Nilai aroma susu kambing setelah reaksi glikasi berkisar antara 1,93 sampai 2,44. Nilai intensitas warna yang tinggi diperoleh pada sampel dengan penambahan D-Fruktosa. Adapun hasil aroma, tidak ada perbedaan antara D-Fruktosa, L-Fruktosa maupun Galaktosa.
Evaluasi Pertumbuhan Isolat Probiotik (L. casei dan L. plantarum) dalam Medium Fermentasi Berbasis Ubi Jalar (Ipomoea batatas l.) Selama Proses Fermentasi (Kajian Jenis Isolat dan Jenis Tepung Ubi Jalar) Irma Sarita Rahmawati; Elok Zubaidah; Ella Saparianti
Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Vol 4, No 4 (2015): November 2015
Publisher : Indonesian Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.092 KB) | DOI: 10.17728/jatp.v4i4.3

Abstract

Ubi Jalar mengandung komponen serat fraksi oligosakarida seperti raffinosa, verbakosa, dan stakhiosa yang berpotensi sebagai prebiotik, yaitu subtrat yang dapat menstimulasi pertumbuhan bakteri probiotik. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan viabilitas bakteri probiotik seperti L. plantarum dan L. casei pada medium fermentasi berbasis tepung ubi jalar dan untuk mengetahui perubahan komponen tepung ubi jalar dari tiga jenis ubijalar selama proses fermentasi.  Penelitian ini menggunakan dua faktor: jenis bakteri probiotik (L. casei dan L. plantarum) dan jenis tepung ubi jalar (tepung ubi jalar putih, kuning dan ungu). Data dianalisis dengan ANNOVA dengan nilai α<5%. Perlakuan terbaik dipilih dengan metode Multiple atrribute. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan jenis ubi jalar mempengaruhi viabilitas L. casei dan L. plantarum selama proses fermentasi. Perbedaan jenis tepung ubi jalar secara signifikan berbeda nyata terhadap nilai pH, total asam, total BAL, gula reduksi sedangkan perbedaan jenis bakteri probiotik sangat mempengaruhi nilai pH, total asam, total BAL, total gula, serat kasar, gula reduksi, total nitrogen dan kadar pati. Perbedaan jenis tepung ubi jalar dan bakteri probiotik memiliki perbedaan signifikan (nilai α<1%)  terhadap pH, total asam, total BAL dan gula reduksi. Perlakuan terbaik adalah medium terfermentasi dari tepung ubi jalar ungu (10% b/v) oleh L. plantarum dengan total BAL yaitu 1,55x1010 CFU/ml, total asam 0,953%, nilai pH 4,267 total gula 1,647%, kadar pati 2,567%, serat kasar 0,066%, gula reduksi 3,139% dan total N 0,023%.

Page 6 of 22 | Total Record : 216