cover
Contact Name
Andi Suwirta
Contact Email
aspensi@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
sosiohumanika@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
SOSIOHUMANIKA
Published by Minda Masagi Press
ISSN : 19790112     EISSN : -     DOI : -
This journal, with ISSN 1979-0112, was firstly published on May 20, 2008, in the context to commemorate the National Awakening Day in Indonesia. The SOSIOHUMANIKA journal has been organized and published by Minda Masagi Press, a publishing house owned by ASPENSI (the Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, Indonesia. The SOSIOHUMANIKA journal is published every May and November. The SOSIOHUMANIKA journal is devoted, but not limited to, Social Sciences education, Humanities education, and any new development and advancement in the field of Humanities and Social Sciences education. The scope of our journal includes: (1) Language and literature education; (2) Social sciences education; (3) Sports and health education; (4) Economy and business education; (5) Science, Technology and Society in education; (6) Political and Social Engineering in education; and (7) Visual arts, dance, music, and design education.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 6, No 1 (2013)" : 10 Documents clear
The Reasons for a Divorce: Six Cases from the Religion Court of Purwokerto in Central Java, Indonesia Irsyad, Syamsuhadi
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.273 KB)

Abstract

ABSTRACT: Marriage is meant for good, but the fact is still found a marriage that is not able to achieve the noble goals as expected by the couple husband and wife; and mandated by the provisions of the Act No.1 of 1974 on the marriage of family a happy and everlasting. Sometimes the opposite is true, the family conflicts that can result in protracted divorce. In Article 1 of Law No.1 of 1974 on Marriage, it is determined “Marriage is a spiritual bond between a man with a woman, as husband and wife alone to form a happy and lasting family based on Godliness the Almighty”. This research is a descriptive normative studies using qualitative case study method, which is intended to provide a clear and comprehensive overview of the divorce petition by the examination in a Court case, with reference to existing norms. Determination of the location of the research undertaken purposively in Purwokerto Religious Courts jurisdiction. The population in this study is the divorce cases filed with the Court of Religion Purwokerto during the year 2011. Things that underline the granting of the divorce petition is due to frequent quarrels and disputes because the wife is not obedient to her husband, less income for the necessities of life, the existence of an affair, left without saying goodbye, the husband of a persecution against the wife, and husband has done the secretly wedding unbeknownst to his wife.KEY WORD: Marriage, divorce, reasons of divorce, husband and wife, unhappy family, and Purwokerto Religious Courts jurisdiction. RESUME: Artikel ini berjudul “Alasan untuk Bercerai: Enam Kasus dari Pengadilan Agama Purwokerto di Jawa Tengah, Indonesia”. Perkawinan dimaksudkan untuk kebaikan, namun kenyataannya masih ditemui perkawinan yang tidak mampu mencapai tujuan yang mulia, sebagaimana diharapkan oleh pasangan suami isteri dan diamanatkan oleh ketentuan Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan, yaitu membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Kadangkala yang terjadi justru sebaliknya, konflik keluarga yang berkepanjangan dapat berakibat terjadinya perceraian. Dalam Pasal 1 UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, ditentukan “Perkawinan adalah ikatan lahir-batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Penelitian ini merupakan penelitian normatif deskriptif dengan menggunakan metode studi kasus kualitatif, yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang jelas dan menyeluruh mengenai alasan-alasan penyebab perceraian dalam pemeriksaan perkara di Pengadilan, dengan mengacu pada norma yang ada. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposif di wilayah hukum Pengadilan Agama Purwokerto. Populasi dalam penelitian ini adalah kasus perceraian yang diajukan ke Pengadilan Agama Purwokerto selama tahun 2011. Hal-hal yang mendasari dikabulkannya permohonan perceraian adalah dikarenakan sering terjadi pertengkaran dan perselisihan yang dikarenakan isteri tidak taat pada suami, nafkah untuk kebutuhan hidup kurang, adanya perselingkuhan, pergi tanpa pamit, suami melakukan penganiayaan terhadap isteri, dan suami melakukan pernikahan siri tanpa diketahui isteri. KATA KUNCI: Perkawinan, perceraian, alasan perceraian, suami dan isteri, keluarga tak bahagia, dan wilayah hukum Pengadilan Agama Purwokerto.About the Author: Dr. Syamsuhadi Irsyad is a Senior Lecturer at the Faculty of Law UMP (Muhammadiyah University of Purwokerto), Jalan Raya Dukuhwaluh, Purwokerto, Central Java, Indonesia. He can be reached at: tukiranump@yahoo.comHow to cite this article? Irsyad, Syamsuhadi. (2013). “The Reasons for a Divorce: Six Cases from the Religion Court of Purwokerto in Central Java, Indonesia” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.1 [Mei], pp.49-56. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 12, 2013); Revised (April 17, 2013); and Published (May 20, 2013).    
Potret Lokasi Pelacuran dan Karakteristik Pekerja Seks di Kota Makassar: Upaya untuk Penyadaran dan Pencegahan Penyakit HIV/AIDS Adam, Arlin; Kamaruddin, Syamsu A
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.19 KB)

Abstract

RESUME: HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala penyakit yang diakibatkan oleh menurunnya sistem kekebalan tubuh. Di Indonesia, dari waktu ke waktu, HIV/AIDS menunjukkan grafik yang semakin meningkat. Dapat dipastikan bahwa dalam kehidupan masyarakat, utamanya masyarakat urban seperti di Kota Makassar, terus-menerus terancam oleh penularan HIV/AIDS yang sampai saat ini belum ditemukan, baik vaksin pencegahan maupun obat penyembuhannya. Dengan demikian, para pekerja seks menjadi kelompok sasaran yang strategis dalam menerapkan program komunikasi perubahan perilaku yang diselenggarakan oleh Yayasan Kra-AIDS Indonesia. Penelitian ini mengulas tentang kasus para pekerja seks di Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Jumlah informan yang ditemukan adalah 32 orang yang berasal dari empat lokasi yaitu: Bar, Rumah Bordil, Jalanan, dan Hotel. Data dikumpulkan melalui wawancara yang mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan perilaku pekerja seks kurang maksimal dalam tindakan pencegahan terhadap penyebaran HIV/AIDS. Akhirnya, penting sekali untuk memiliki perencanaan yang menyeluruh, kegiatan pemberian saran bagi para menejer pekerja seks, dan pembentukan kembali lingkungan eksternal yang sehat. KATA KUNCI: Prostitusi, pekerja seks, penyebaran HIV/AIDS, kota Makassar, perubahan perilaku, dan lingkungan yang sehat.  ABSTRACT: This article entitled “Potrait of Prostitution Location and Characteristics of Prostitutes in Makassar City: Awareness Raising and Anticipation of HIV/AIDS”. HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) is a collection of symptons resulted from the decreasing of immune system. In Indonesia, HIV/AIDS, from time to time, shows steep increasing graphic. Thus, prostitutes become strategic target group in applying communication program of behaviour change conducted by Kra-AIDS Foundation of Indonesia. This research took the case study about prostitutes in Makassar city, South Sulawesi, Indonesia. Informant number found were 32 persons coming from four locations that are: Bar, Brothel, Street, and Hotel. Data were collected by deep interview and observation. The research result showed that behaviour changes of prostitutes are not maximally yet occurred in preventing action toward HIV/AIDS transmission. Finally, it is necessary to have comprehensive program planning, advisory activity for the prostitutes’ managers, and reconstruction of healtly external environment. KEY WORD: Prostitution, prostitutes, HIV/AIDS transmission, Makassar city, behaviour change, and healtly environment.  About the Authors: Dr. Arlin Adam dan Dr. Syamsu A. Kamaruddin adalah Dosen Senior di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UVRI (Universitas Veteran Republik Indonesia) Makassar, Jalan Baruga Raya, Antang, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Alamat emel: aspensi@yahoo.com dan syamsukamaruddin@gmail.comHow to cite this article? Adam, Arlin & Syamsu A. Kamaruddin. (2013). “Potret Lokasi Pelacuran dan Karakteristik Pekerja Seks di Kota Makassar: Upaya untuk Penyadaran dan Pencegahan Penyakit HIV/AIDS” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.1 [Mei], pp.97-110. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 10, 2013); Revised (April 15, 2013); and Published (May 20, 2013).    
Human Rights in Islam: A Way towards Justice for Humanity Wani, Hilal Ahmad; Suwirta, Andi
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Islam is complete code of life, because there is not any single dimension related to human beings which had not been touched and included. Before 14 hundred years, Muslims had human rights; so, saying that human rights are kind of new phenomenon and a new package for humanity, it is wrong and unjustified. This paper is based on strong research data to challenge all anti Islamic views and notions about the Islam. To examine the bunch of rights which Islam had given to human beings from the very beginning, even before the so called genesis of world human rights. And to justify that Islam is the real custodian and guardian of human rights for every human being. And to prove that all anti-Islamic challenges are nothing, but a chimera and myth of the anti-Islamic forces on Islam and Muslims so that they could be successful to mould the people against Islam and Muslim world, whereas Islam is divine religion supported by Allah, the anti-Islamic forces cannot hurt Islam because Islam is based on universal and human principles which cannot be challenged by someone who does not have vision to understand the real philosophy of Islam. Islam is the real solution to the world, a world where justice is totally absent. Islam is the real voice of oppressed and suppressed people and it is a true way for justice and world brotherhood.KEY WORD: Code of life, Islam, human rights, justice, humanity, world order, Islamic forces, and Muslim countries.   RESUME: Makalah ini berjudul “Hak Azasi Manusia dalam Islam: Sebuah Jalan Menuju Keadilan bagi Kemanusiaan”. Islam merupakan pedoman hidup yang lengkap, karena tidak ada satupun dimensi yang berhubungan dengan manusia yang tidak tersentuh dan tercakup. Sebelum 1400 tahun, umat Islam memiliki hak asasi manusia; maka, perkataan bahwa hak asasi manusia merupakan fenomena baru dan suatu kemasan baru bagi kemanusiaan merupakan hal yang salah dan tidak berdasar. Makalah ini berdasarkan data penelitian yang kuat untuk menantang semua pandangan anti Islam dan keyakinan tentang Islam. Untuk menguji seperangkat hak-hak yang telah diberikan Islam kepada umat manusia mulai dari awal, bahkan sebelum disebut dalam hak asasi manusia dunia. Dan juga untuk meyakinkan bahwa Islam merupakan pemelihara dan pelindung hak asasi manusia bagi setiap umat manusia. Dan untuk membuktikan bahwa semua tantangan anti Islam tidak ada artinya, melainkan gagasan yang tidak masuk akal dan mitos tentang kekuatan-kekuatan anti Islam terhadap Islam dan kaum Muslim sehingga mereka bisa berhasil untuk menciptakan orang-orang yang menentang Islam dan dunia Muslim, sebaliknya Islam merupakan agama yang hebat dan didukung oleh Allah, kekuatan-kekuatan anti Islam tidak dapat mencederai Islam karena Islam berlandaskan prinsip-prinsip universal dan kemanusiaan yang tidak bisa ditentang oleh seseorang yang tidak memiliki visi untuk memahami filosofi Islam yang sesungguhnya. Islam merupakan solusi nyata bagi dunia, suatu dunia dimana keadilan benar-benar tidak ada. Islam merupakan suara nyata dari orang-orang tertindas dan tertekan dan ianya merupakan jalan yang benar bagi keadilan dan persaudaraan dunia.KATA KUNCI: Pedoman hidup, Islam, hak azasi manusia, keadilan, kemanusiaan, ketertiban dunia, kekuatan Islam, dan negeri-negeri Muslim.  About the Authors: Dr. Hilal Ahmad Wani is a Post-Doctoral Fellow at the Centre for Peace and Strategic Studies UOI (University of Ilorin) in Nigeria; and Andi Suwirta, M.Hum. is a Senior Lecturer at the Department of History Education UPI (Indonesia University of Education) in Bandung, West Java, Indonesia. They can be reached at: wanihilal@gmail.com and andisuwirta@yahoo.com  How to cite this article? Wani, Hilal Ahmad & Andi Suwirta. (2013). “Human Rights in Islam: A Way towards Justice for Humanity” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.1 [Mei], pp.1-12. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 11, 2013); Revised (April 13, 2013); and Published (May 20, 2013).    
Meneroka Peranan Komitmen Pekerja dalam Hubungan antara Gaya Kepimpinan dan Keberkesanan Organisasi Isa, Khairunesa binti
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Penulisan ini membincangkan tentang konsep peranan dan pengaruh komitmen pekerja dalam hubungan antara gaya kepimpinan dan keberkesanan organisasi. Komitmen pekerja didapati mampu memberi kesan kepada prestasi dan keberkesanan organisasi, kerana komitmen pekerja turut dikenali sebagai salah satu indikator pengukuran keberkesanan organisasi. Dari sudut pekerja pula, pekerja memerlukan satu mekanisme atau pengaruh rangsangan untuk memberikan komitmen yang baik terhadap organisasi. Dalam konteks ini, peranan pemimpin dalam menggalakkan pengikut untuk memberikan komitmen terhadap organisasi amat penting, kerana pemimpin merupakan tulang belakang yang menggambarkan perjalanan sesebuah organisasi, selain menentukan kejayaan dan kegagalan organisasi mencapai matlamat yang telah ditetapkan. Hasil perbincangan berdasarkan dapatan-dapatan lepas dan disokong dengan penggunaan beberapa teori dalam penulisan ini berjaya menghasilkan sebuah model yang menunjukkan peranan komitmen pekerja dalam hubungan antara gaya kepimpinan dan keberkesanan organisasi. Dalam hubungan ini, komitmen pekerja berjaya dikenali sebagai pembolehubah mediator atau mekanisme yang mampu menjadi perantara bagi dua pembolehubah, iaitu gaya kepimpinan dan keberkesanan organisasi. KATA KUNCI: Komitmen pekerja, prestasi kerja, kejayaan dan kegagalan organisasi, gaya kepimpinan, dan keberkesanan organisasi. ABSTRACT: This writing entitled “Exploring the Relationship between Leadership Style and Organizational Effectiveness towards the Role of Employee Commitment”. It is discussing on the concept of role and the influence of employees’ commitment in the relationship between leadership style and organizational effectiveness. Employees’ commitment is capable in affecting the performance and effectiveness of the organization, since it is also known as one of the indicators in measuring the effectiveness of the organization. The employees’ part, they require a mechanism or stimulus to give a good commitment to the organization. In this context, the role of a leader in promoting followers to commit the organization is very important, because the leader is the main person of an organization that reflects the journey, besides determining the success and failure of an organization to achieve its set goals. Based on literatures and supported by several theories, this paper is able to produce a model that shows the role of employee commitment in the relationship between leadership style and organizational effectiveness. With this regard, the commitment of successful mediators known as variable or mechanism that is capable to be an interface between the two variables which are the leadership style and organizational effectiveness.KEY WORD: Employee commitment, work achievement, success and failure of an organization, leadership style, and organizational effectiveness.About the Author: Khairunesa binti Isa ialah Pensyarah di Jabatan Pengajian Islam dan Sains Sosial, Fakulti Sains, Teknologi, dan Pembangunan Insan UTHM (Universiti Tun Hussein Onn Malaysia), 86400 Parit Raja, Batu Pahat, Johor, Malaysia. Alamat emel: nesa@uthm.edu.myHow to cite this article? Isa, Khairunesa binti. (2013). “Meneroka Peranan Komitmen Pekerja dalam Hubungan antara Gaya Kepimpinan dan Keberkesanan Organisasi” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.1 [Mei], pp.57-68. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112.Chronicle of article: Accepted (March 27, 2013); Revised (April 30, 2013); and Published (May 20, 2013).    
Karakter Budaya Sains Asli dan Karakter Budaya Sains Modern pada Pelajar Sekolah Menengah Atas di Sumatera Barat, Indonesia Har, Erman
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahap KBSA (Karakter Budaya Sains Asli) dan KBSM (Karakter Budaya Sains Modern), membandingkan KBSA dan KBSM berdasarkan jenis kelamin dan lokasi sekolah pelajar SMA (Sekolah Menengah Atas), serta melihat sumbangan KBSM terhadap KBSA pada para pelajar SMA di Sumatera Barat, Indonesia. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara random, sebanyak 324 orang telah dapat memberikan respons sebagai sampel penelitian yang berasal dari empat zona dengan jumlah sampel ditentukan secara “proporsional sampling”. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analisis inferensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KBSA pelajar SMA, baik di kota maupun di pinggir kota, berada pada tahap yang sederhana. Manakala KBSM pelajar SMA, baik di kota maupun di pinggir kota, berada pada tahap yang tinggi. Uji-t terhadap KBSM antara pelajar lelaki dengan pelajar perempuan yang berada di kota tidak terdapat perbedaan yang signifikan; sedangkan KBSM antara pelajar lelaki dengan  pelajar perempuan yang berada di pinggir kota terdapat perbedaan yang signifikan. KBSA antara pelajar lelaki dengan pelajar perempuan yang berada di kota terdapat perbedaan yang signifikan. Manakala KBSA antara pelajar lelaki dengan pelajar perempuan yang berada di pinggir kota juga terdapat perbedaan yang signifikan. Analisis regresi berganda menunjukkan terdapat sumbangan yang signifikan KBSM terhadap KBSA. Oleh sebab itu, perlu penekanan terhadap KBSM dalam muatan kurikulum sains di SMA.KATA KUNCI: Karakter budaya sains asli, karakter budaya sains modern, pelajar SMA, Sumatera Barat, dan kurikulum sains. ABSTRACT: This article entitled “Cultural Characters of Original Science and Modern Science at the Senior High School’s Students in West Sumatera, Indonesia”. The aims of study are to determine the stage of CCOS (Cultural Character of Original Science) and CCMS (Cultural Character of Modern Science), to compare them based on gender and location of SHS (Senior High School)’s students, as well as to see the contribution of CCMS towards CCOS at the students in West Sumatera, Indonesia. Method used by taking random sample, a total of 324 people have been able to respond as the study sample came from four zone determined by the number of samples in proportional. Data analysis is descriptive and inferential. Research findings showed that CCOS of SHS students in the city as well as in the outskirts are at a moderate level. While CCMS of SHS students in the city as well as in the outskirts are at a high level. The CCMS t-test between male students with female students residing in the city, there is no significant difference; while CCMS among male students with female students in the suburban, there is a significant difference. The CCOS among male students with female students residing in the city, there is a significant difference. While CCOS between male students with female students in the suburbs, there is a significant difference. Multiple regression analysis showed that there is a significant contribution of CCMS towards CCOS. Therefore, it is necessary to emphasis CCMS in the science curriculum at the SHS.KEY WORD: Cultural character of original science, cultural character of modern science, senior high school’s student, West Sumatera, and science curriculum.About the Author: Dr. Erman Har adalah Dosen Senior di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UBH (Universitas Bung Hatta) di Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Alamat emel: mr.ermanhar@yahoo.comHow to cite this article? Har, Erman. (2013). “Karakter Budaya Sains Asli dan Karakter Budaya Sains Modern pada Pelajar Sekolah Menengah Atas di Sumatera Barat, Indonesia” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.1 [Mei], pp.13-26. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 3, 2013); Revised (April 5, 2013); and Published (May 20, 2013).    
Neovison Vison: Code of Good Practice for Euthanasia in Mink Korhonen, Hannu T; Huuki, Hanna
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: The new European regulation lays down rules for the killing of animals bred for the production of food, wool, fur, or other products as well as the killing of animals for the purpose of depopulation and for related operators. Regulation emphasizes the meaning of education, competence, and self-monitoring. The operators are obligated to draw up and implement standard operating procedures (SOP). The purpose is to unify the methods and practices used in killing of animals and thereby improve the welfare of animals. SOP needs to set objectives, operating procedures, define the main parameters to be monitored, and guidelines for situations in which an animal is not stunned or killed as expected. The regulation obligates killing device manufacturers to give instructions and recommendations, which are to be taken in to account when drawing up SOP. The killing device must be maintained and checked according to the manufacturers’ instructions by persons, specifically trained for this purpose on a regular basis. The new regulation allows the mink to be euthanized with carbon monoxide (CO), carbon dioxide (CO2), electricity, shooting, and passing through the bolt gun; and the emergency killing of animals weighting less than 5 kg with a blow in the head. Killing will be monitored by observing the animals and monitoring the key parameters affecting the efficiency of euthanasia. These are: concentration, exposure time, temperature, and sufficient filtration. Upon request, SOP, records, and other documents must be given to the competent authority.KEY WORD: Killing methods, gas euthanasia, fur farming, good practice, standard operating procedures, and farmed mink. RESUME: Makalah ini berjudul “NeovisonVison: Pedoman Praktek yang Baik untuk Euthanasia dalam Cerpelai”. Peraturan Eropa baru menerapkan ketentuan untuk membunuh jenis binatang untuk produksi makanan, wol, bulu, atau produk lain dan juga membunuh binatang untuk tujuan pengurangan populasi dan pelaksana yang terkait. Peraturan menekankan arti pendidikan, kompetensi, dan pengawasan diri. Para pelaksana diwajibkan untuk mempersiapkan dan mengimplementasikan prosedur operasional standar (POS). Tujuannya adalah untuk menyatukan metode dan praktek yang digunakan dalam membunuh binatang dan dengan demikian meningkatkan kesejahteraan binatang. POS perlu menentukan tujuan, prosedur pengoperasian, menentukan parameter utama yang akan diawasi, dan pedoman-pedoman untuk situasi-situasi dimana binatang tidak dibius atau dibunuh seperti yang diharapkan. Peraturan mewajibkan produsen alat pembunuh untuk memberikan instruksi/petunjuk dan rekomendasi, yang akan dipertimbangkan ketika mempersiapkan POS. Alat pembunuh harus dipelihara dan diperiksa menurut instruksi produsen oleh orang-orang, khususnya yang terlatih untuk tujuan ini. Peraturan baru mengizinkan cerpelai dibunuh dengan karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), listrik, tembakan, dan menembakan senjata api; serta pembunuhan darurat binatang yang memiliki berat kurang dari 5 kg dengan tembakan di kepala. Pembunuhan akan diawasi dengan mengamati binatang dan mengamati parameter utama yang mempengaruhi efisiensi pembiusan. Parameter tersebut adalah konsentrasi, waktu pencahayaan, suhu, dan filtrasi yang cukup. Atas permintaan, POS, catatan, dan dokumen lainnya harus diberikan kepada pihak berwenang yang kompeten.KATA KUNCI: Metode pembunuhan, pembiusan gas, peternakan bulu, praktek yang baik, prosedur operasiona standar, dan cerpelai yang diternakan. About the Author: Prof. Dr. Hannu T. Korhonen and Dr. Hanna Huuki are Researchers at the MTT Agrifood Research Finland, Animal Production Research, Silmäjärventie 2 69100 Kannus, Finland. For academic purposes, they can be contacted via e-mail at: hannu.t.korhonen@mtt.fi How to cite this article? Korhonen, Hannu T. & Hanna Huuki. (2013). “Neovison Vison: Code of Good Practice for Euthanasia in Mink” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.1 [Mei], pp.69-76. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112.Chronicle of article: Accepted (March 9, 2013); Revised (April 10, 2013); and Published (May 20, 2013).    
War and Myth: The Might of Myth in the Kosovo War in 1999 Enuka, Chuka
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: This paper concentrates on the connectedness between myth and war. It pictures myth as a causal explanation for war, and mirrors myth’s might and roles in erupting and exacerbating the war in Kosovo in 1999. Myths are often related to situations where people seek to construct, legitimize, and contest their social identities and ownerships. Most societies are held together by myth-system. Within such systems, foundation myths purport to explain the origins and destiny of a nation. Although they may be false in significant ways, foundation myths are usually accepted uncritically by people. They tell dramatic stories about a nation’s sacred history and this serves as the exemplary model for all significant political activities. Though the Kosovo War is traced to problematic factors that are many and mixed, but from all available indications, part of the factors for the war can be understood from the perspective of  contending and competing mythological recounting by the Kosovo-Serbs and Kosovo-Albanians of their past. Both sides’ arguments for right over Kosovo are based on a complex interpretation of mythological details. The big question that begs to be addressed is how to reconcile the two diametrically opposing mythical interpretations of historical and legal developments in Kosovo? The finding of this paper is that the failure to achieve a harmonization of the two mythological accounts exacerbated the hotly contested indigeneity question, leading Kosovo and its occupants to a catastrophic war that claimed several thousands of lives. KEY WORD: Between myth and war, war in Kosovo, foundation myths, Kosovo-Serbs and Kosovo-Albanians, and interpretations of historical events. RESUME: Makalah ini berjudul “Perang dan Mitos: Kekuatan Mitos dalam Perang Kosovo pada tahun 1999”. Fokus tulisan ini pada keterkaitan antara mitos dan perang. Ianya menggambarkan mitos sebagai suatu penjelasan sebab-akibat untuk perang, dan mencerminkan kekuatan mitos dan perannya dalam menimbulkan dan memperburuk perang di Kosovo pada tahun 1999. Mitos seringkali berhubungan dengan situasi dimana orang-orang berusaha untuk menciptakan, mensyahkan, dan memperjuangkan identitas sosial dan kepemilikan mereka. Kebanyakan masyarakat disatukan oleh sistem-mitos. Dalam sistem tersebut, mitos-mitos dasar diakui untuk menjelaskan asal-usul dan nasib suatu bangsa. Walaupun mitos-mitos tersebut mungkin salah dalam hal-hal penting, namun biasanya diterima secara tidak kritis oleh masyarakat. Mitos-mitos tersebut mengisahkan cerita-cerita dramatis tentang sejarah pengorbanan suatu bangsa dan hal ini bertindak sebagai model contoh bagi semua kegiatan politik yang penting. Walaupun Perang Kosovo berawal dari faktor-faktor problematis yang sangat banyak dan beragam, tetapi dari semua indikasi yang ada, salah satu faktor untuk perang dapat difahami dari perspektif cerita mitos yang bersaing dan menantang oleh orang-orang Kosovo-Serbia dan Kosovo-Albania tentang masa lalu mereka. Argumen kedua belah pihak untuk hak asasi bagi Kosovo berdasarkan suatu interpretasi yang rumit tentang seluk-beluk mitos. Pertanyaan besar yang diajukan adalah bagaimana untuk menyatukan dua interpretasi mitos yang bertentangan secara diametral tentang sejarah dan perkembangan resmi di Kosovo? Temuan dalam makalah ini bahwa kegagalan untuk mencapai keharmonisan dua cerita mitos memperburuk pertanyaan tentang keaslian yang bersaing panas, yang menuntun Kosovo dan penduduknya kepada perang bencana besar yang menelan ribuan nyawa. KATA KUNCI: Antara mitos dan perang, perang di Kosovo, mitos-mitos dasar, Kosovo-Serbia dan Kosovo-Albania, serta interpretasi peristiwa sejarah. ===About the Author: Chuka Enuka, Ph.D. is a Senior Lecturer at the Department of History and International Studies NAU (Nnamdi Azikiwe University) in Awka, Nigeria. Corresponding author is: chukaenuka@yahoo.comHow to cite this article? Enuka, Chuka. (2013). “War and Myth: The Might of Myth in the Kosovo War in 1999” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.1 [Mei], pp.27-40. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 20, 2013); Revised (April 24, 2013); and Published (May 20, 2013).    
Menelusuri Akar Konflik Warisan Budaya antara Indonesia dengan Malaysia Sunarti, Linda
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Dari kaca mata sejarah, hubungan antara masyarakat Indonesia dan Malaysia telah berlangsung lama dan menyebabkan adanya beberapa kesamaan budaya antara Indonesia dan Malaysia. Banyaknya kesamaan budaya Malaysia dengan Indonesia telah memunculkan suatu istilah yang sering diungkapkan oleh Malaysia terhadap Indonesia sebagai “saudara serumpun”. Dalam masalah klaim budaya, masyarakat Indonesia harus menyadari bahwa bangsa Indonesia beserta budayanya telah menyebar luas ke berbagai wilayah sejak lama. Sehingga kebudayaan kita juga terdapat dan diakui sebagai kebudayaan oleh suatu kelompok masyarakat di negara lain. Pada pihak lain, Malaysia harus jujur pada sejarah bahwa beberapa kebudayaannya mempunyai akar Indonesia. Meskipun telah merasa bahwa beberapa kebudayaan yang sama dengan Indonesia sebagai kebudayaan asli Malaysia. Untuk menunjukkan itikad baik dan penghormatan kepada saudara serumpun, hendaknya dalam berbagai kesempatan akar budaya itu sebaiknya diungkapkan oleh Malaysia, termasuk untuk promosi pariwisata. Akhirnya, media massa di Indonesia dan di Malaysia masih belum berfungsi sebagai media sosialisasi bagi warisan budaya di kedua belah pihak. Hal ini dikarenakan liputan-liputan mengenai kebudayaan masih sangat kurang bila dibandingkan dengan liputan-liputan politik. Liputan warisan budaya pun muncul menjadi masalah politik.KATA KUNCI: Warisan budaya, Indonesia dan Malaysia, saudara serumpun, klaim budaya, ketegangan politik, dan peran media massa. ABSTRACT: This paper entitled “Tracing the Root of Conflict on the Cultural Herirage between Indonesia and Malaysia”. From the historical perspectives, the relationship between Indonesia and Malaysia had been long journey and caused some cultural similarities between Indonesia and Malaysia. A lot of similarities between Indonesia and Malaysia cultures had brought up a term that was frequently said by Malaysia to Indonesia as “cluster brother”. In a matter of cultural  claim, Indonesia people should aware that Indonesian and its culture had spread widely through various regions for a long time. Thus, our culture was existing in other communities in other country and acknowledged as a culture of other nation. In other side, Malaysia should be honest to the history that some of its culture were rooted to Indonesia culture. Although it felt that some of its cultures, that were similar with Indonesia’s, were its original Malaysia culture. To show the good will and respectto the cluster brother, Malaysia should convey the root of its culture, including its tourism promotion. Finally, mass media in Indonesia as well as in Malaysia had not functioned as socialization media of cultural heritages for both parties. It was due to less coverage of culture if it was compared with political coverage. Then, cultural heritage coverage appeared to be political affair. KEY WORD: Cultural heritage, Indonesia and Malaysia, cluster brother, cultural claim, and the role of mass media. About the Author: Linda Sunarti, M.Hum. adalah Dosen di Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya UI (Universitas Indonesia), Kampus UI Depok, Jawa Barat, Indonesia. Alamat emel: lindsayrani@yahoo.co.ukHow to cite this article? Sunarti, Linda. (2013). “Menelusuri Akar Konflik Warisan Budaya antara Indonesia dengan Malaysia” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.1 [Mei], pp.77-88. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 18, 2013); Revised (April 21, 2013); and Published (May 20, 2013).    
Kekuatan dan Cabaran Kaunseling Brief dari Perspektif Pelajar Program Kaunseling Aman, Rahimi Che
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Perkhidmatan kaunseling haruslah dikendalikan dengan penuh tanggungjawab demi memastikan perkhidmatan yang ditawarkan dapat membantu klien. Justru, kaunseling brief adalah pendekatan kaunseling pasca moden yang merupakan suatu alternatif kepada kaunselor dalam mengendalikan sesi kaunseling. Kajian ini bertujuan meneroka fokus, kekuatan, dan cabaran kaunseling brief dari perspektif pelajar kaunseling. Disamping itu, kajian turut mengenal pasti kesediaan pelajar kaunseling untuk mengikuti latihan kaunseling brief. Sampel kajian terdiri daripada 33 orang pelajar kaunseling di sebuah IPTA (Institusi Pengajian Tinggi Awam). Pentadbiran soal selidik terbuka dilaksanakan bagi memperoleh data kajian. Data dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis kandungan (content analysis). Dapatan menunjukkan bahawa majoriti sampel memilih kaunseling brief berfokuskan penyelesaian sebagai pilihan berbanding berfokuskan masalah. Disamping itu, majoriti sampel berpandangan bahawa kaunseling brief adalah suatu pendekatan yang cepat, efektif, dan berarah kepada penyelesaian. Walau bagaimanapun, isu berkaitan penggunaan soalan yang banyak kepada klien merupakan suatu cabaran bagi sampel kajian. Namun keseluruhan sampel kajian bersedia untuk mengikuti latihan kaunseling brief sekiranya dianjurkan.   KATA KUNCI: Kaunseling brief, fokus penyelesaian, pendekatan kaunseling pasca moden, serta kaunselor dan pelajar kaunseling. ABSTRACT: This article entitled “Strength and Challenges of Brief Counseling from Perspectives among Counseling Program Students”. Counseling services should be handled with the utmost responsibility to ensure that the offered services could help clients. Hence, brief counseling is a post-modern counseling approach as an alternative to the counselors in conducting counseling sessions. This study aims to explore the focus, strengths, and challenges in the brief counseling from students’ perspective. A part of that, the study also identified the willingness of counseling student to attend the brief counseling training. The sample consisted of 33 counseling students in a Public Higher Education Institution. A set of open-ended questionnaire was administered in order to obtain the data. The data was analyzed by using descriptive statistics and content analysis. The findings showed that the majority of sample chose solution focused compared to problem focused. The findings also revealed that the majority of the sample viewed brief counseling as a fast, effective, and solution oriented approach. However, the issue of too many questions being employed in the session towards the clients seems to be challenge to them. Overall, majority of sample in the study are willing to attend the brief counseling training. KEY WORD: Brief counseling, solution focused, post-modern counseling approach, and counselors and counseling students. About the Author: Rahimi Che Aman, Ph.D. ialah Pensyarah Kanan di Pusat Pengajian Ilmu Pendidikan USM (Universiti Sains Malaysia), Kampus Induk USM, 11800 Minden, Pulau Pinang, Malaysia. Bagi urusan sebarang akademik dan penyelidikan, penulis boleh dihubungi dengan alamat emel: rahimi@usm.myHow to cite this article? Aman, Rahimi Che. (2013). “Kekuatan dan Cabaran Kaunseling Brief dari Perspektif Pelajar Program Kaunseling” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.1 [Mei], pp.41-48. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112.Chronicle of article: Accepted (March 1, 2013); Revised (April 3, 2013); and Published (May 20, 2013).    
Double Six Tragedy and Implications of Political Development in Sabah, Malaysia Aziz, Hamdan
SOSIOHUMANIKA Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: On June 6, 1976, Malaysians were shocked by a plane crash killing the top ranks leaders of the newly appointed state government of Sabah, Malaysia. The Australian-made aircraft types NOMAD plane crashed in the village of Sembulan Baru, which is located two miles away from the International Airport and the city of Kota Kinabalu. “Double Six” tragedy on June 6, 1976 in Sabah, Malaysia has resulted in widespread dissemination of conspiracy theory. This crash killed all the people on board, including Tun Mohd Fuad Stephens, who has been shortly appointed as the Chief Minister of Sabah. The sudden death of Tun Mohd Fuad Stephens created opportunity for Datuk Mohd Harris Salleh to be appointed as the Chief Minister of Sabah. This paper seeks and analyses the causes behind the crash which remain unknown. This paper applies also the historical method analysis, comprising an analysis of the most pertinent documents. In addition, this paper presents the views of high profile individual such as Datuk Mohd Harris Salleh and Toh Puan Hajjah Rahimah Stephens how events can occur. However, writer strongly agree with Datuk Harris Salleh and Toh Puan Hajjah Rahimah Stephens that “human error” was a major factor of “Double Six” tragedy.KEY WORD: Double six tragedy, crash, Chief Ministers of Sabah, human erros, technical erros, and conspiracy theory. RESUME: Kertas kerja ini bertajuk “Tragedi Double Six dan Implikasi terhadap Perkembangan Politik di Sabah, Malaysia”. Pada 6 Jun 1976, rakyat Malaysia telah dikejutkan oleh nahas sebuah pesawat udara yang mengorbankan seorang pemimpin kerajaan Sabah yang baru dilantik. Pesawat udara jenis NOMAD buatan Australia telah jatuh di Kampong Sembulan Baru, dua batu jauhnya dari Lapangan Terbang Antarabangsa dan Kota Kinabalu. Berlakunya peristiwa “Double Six” pada 6 Jun 1976 di Sabah, Malaysia telah mengundang pelbagai penafsiran terhadap punca-punca nahas. Peristiwa ini menyebabkan semua anak kapal terbunuh, termasuk Tun Mohd Fuad Stephens yang ketika itu menjawat jawatan Ketua Menteri Sabah. Kematian Tun Mohd Fuad Stephens telah memberi peluang kepada Datuk Mohd Harris Salleh apabila beliau dilantik sebagai Ketua Menteri Sabah. Kertas kerja ini berusaha mengenal pasti faktor-faktor berlakunya nahas dengan menggunakan pendekatan sejarah serta bergantung sepenuhnya kepada analisis dokumen. Selain itu, kertas kerja ini juga mengemukakan pandangan beberapa orang tokoh seperti Datuk Harris Salleh dan Toh Puan Hajjah Rahimah Stephens bagaimana galuran peristiwa boleh berlaku. Walau bagaimanapun, penulis bersetuju sangat dengan pandangan Datuk Mohd Harris Salleh and Toh Puan Hajjah Rahimah Stephens bahawa “kesilapan manusia” adalah punca utama nahas dalam tragedi “Double Six”. KATA KUNCI: Tragedi double six, nahas, Ketua-ketua Menteri Sabah, kesilapan manusia, kerosakan teknikal, dan teori konspirasi.About the Author: Dr. Hamdan Aziz is currently a Senior Lecturer at the Department of Nationhood and Civilization Studies UMT (Malaysia University of Terengganu). He can be contacted via e-mail at: hamdan.aziz@umt.edu.my and naqiudin@yahoo.comHow to cite this article? Aziz, Hamdan. (2013). “Double Six Tragedy and Implications of Political Development in Sabah, Malaysia” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.6, No.1 [Mei], pp.89-96. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 27, 2013); Revised (April 29, 2013); and Published (May 20, 2013).    

Page 1 of 1 | Total Record : 10