cover
Contact Name
Andi Suwirta
Contact Email
aspensi@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
sosiohumanika@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
SOSIOHUMANIKA
Published by Minda Masagi Press
ISSN : 19790112     EISSN : -     DOI : -
This journal, with ISSN 1979-0112, was firstly published on May 20, 2008, in the context to commemorate the National Awakening Day in Indonesia. The SOSIOHUMANIKA journal has been organized and published by Minda Masagi Press, a publishing house owned by ASPENSI (the Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, Indonesia. The SOSIOHUMANIKA journal is published every May and November. The SOSIOHUMANIKA journal is devoted, but not limited to, Social Sciences education, Humanities education, and any new development and advancement in the field of Humanities and Social Sciences education. The scope of our journal includes: (1) Language and literature education; (2) Social sciences education; (3) Sports and health education; (4) Economy and business education; (5) Science, Technology and Society in education; (6) Political and Social Engineering in education; and (7) Visual arts, dance, music, and design education.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue " Vol 7, No 1 (2014)" : 13 Documents clear
Job Satisfaction Level of Academic Members in Vietnamese Higher Education Duong, Minh-Quang
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.542 KB)

Abstract

ABSTRACT: Job satisfaction is an elusive and complex concept that has been a subject of intense research since the emergence of organizational studies. In recent years, several studies have examined the job satisfaction of academic members in higher education, little is known about lecturers’ job satisfaction in the developing countries like Vietnam. The purpose of this study is to ascertain job satisfaction level of academic members in Vietnamese universities. The study used a questionnaire to survey with 200 academic members from five member colleges of Vietnam National University of Ho Chi Minh City was selected as a statistical sample. The findings of study showed that most academic members of Vietnamese universities were satisfied with their job. Male faculty members were more satisfied than their counterparts. Academic members were generally satisfied with teaching support equipment, working insurance, teacher promotion, gender equality, in-service teaching training, in-service research training, work autonomy, colleague academic interaction, colleague social relationship, teaching load, research pressure, development aim of school, leadership style, campus landscape, and administration efficiency. Recommendations on the study’s finding to the university management and policy makers are discussed to enhance the faculty job satisfaction. KEY WORD: Job satisfaction, developing country, higher education, academic members, Vietnamese universities, and university management and policy makers. RESUME: “Tingkat Kepuasan Kerja Anggota Civitas Akademika di Perguruan Tinggi Vietnam”. Kepuasan kerja merupakan konsep yang kompleks dan sulit dipahami yang telah menjadi subjek penelitian intensif sejak munculnya studi organisasi. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak studi telah meneliti kepuasan kerja civitas akademika di perguruan tinggi, sedikit yang diketahui tentang kepuasan kerja para dosen di negara-negara berkembang seperti Vietnam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memastikan tingkat kepuasan kerja anggota civitas akademika di perguruan tinggi Vietnam. Penelitian ini menggunakan kuesioner untuk survei dengan 200 anggota akademik dari lima kolej, yang ada di lingkungan Universitas Nasional Vietnam Kota Ho Chi Minh, terpilih sebagai sampel statistik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anggota civitas akademika di universitas Vietnam puas dengan pekerjaan mereka. Para dosen laki-laki lebih puas daripada rekan-rekan mereka yang perempuan. Anggota civitas akademika pada umumnya puas dengan dukungan peralatan mengajar, asuransi kerja, promosi pendidik, kesetaraan gender, layanan pelatihan mengajar, layanan pelatihan penelitian, otonomi kerja, interaksi akademik kolega, relasi sosial kolega, beban mengajar, tuntutan penelitian, tujuan pengembangan sekolah, gaya kepemimpinan, lanskap kampus, dan efisiensi administrasi. Rekomendasi dari temuan penelitian ini kepada manajemen universitas dan pembuat kebijakan adalah agar dibahas untuk meningkatkan kepuasan kerja para dosen.KATA KUNCI: Kepuasan kerja, negara berkembang, perguruan tinggi, anggota civitas akademika, universitas Vietnam, serta manajemen universitas dan pembuat kebijakan.About the Author: Minh-Quang Duong is a Lecturer at the Faculty of Education, University of Social Sciences and Humanities VNU-HCMC (Vietnam National University of Ho Chi Minh City), 10-12 Dinh Tien Hoang Road, District 1, Ho Chi Minh City, Vietnam. Corresponding author is: mqduong.ussh@yahoo.comHow to cite this article? Duong, Minh-Quang. (2014). “Job Satisfaction Level of Academic Members in Vietnamese Higher Education” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7, No.1 [Mei], pp.33-42. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 13, 2014); Revised (April 19, 2014); and Published (May 20, 2014).    
Pemanfaatan Ruang Kapasitas Struktur sebagai Strategi Peningkatan Kesejahteraan Nelayan Pesisir di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan Arifin, Ansar
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.429 KB)

Abstract

RESUME: Tulisan ini bertujuan mengidentifikasi secara mendalam tentang kecenderungan adanya kekuatan struktur yang mengkonstruksi tindakan sosial-budaya para nelayan, yang menyebabkan mereka terperangkap dalam berbagai kekurangan yang dimiliki, serta mengungkap realitas sosial-budaya tentang perangkap kemiskinan terhadap para nelayan. Metode yang digunakan adalah fenomenologi, karena metode ini dipandang sangat sesuai untuk menelusuri dan mengidentifikasi secara mendalam tentang pemaknaan wujud tindakan sosial bagi kelompok-kelompok nelayan Pa’rengge di Sulawesi Selatan. Hasil temuan awal penelitian ini menunjukkan bahwa prasyarat fungsional AGIL (Adaptation, Goal attainment, Integration, and Latency) dari Talcott Parsons telah membuka ruang kapasitas bagi munculnya elemen-elemen baru yang dapat diintegrasikan kedalam sistem sosial kenelayanan sebagai tempat berlangsungnya strukturasi patron-klien. Meskipun AGIL telah membuka ruang kapasitas dalam sistem sosial kenelayanan, namun tidak dapat mengintegrasikan elemen-elemen baru kedalam struktur relasi patron-klien. Dengan adanya kekuatan strukturasi yang telah mengarahkan, membentuk, dan membatasi tindakan aktor dalam relasi patron-klien, maka tidak memungkinkan bagi aktor “sawi” (masyarakat nelayan) untuk dapat memanfaatkan elemen-elemen baru pada ruang kapasitas yang disajikan oleh AGIL, sehingga perangkap kemiskinan dalam relasi patron-klien tetap berlangsung.KATA KUNCI: Kapasitas struktur, peningkatan kesejahteraan, masyarakat nelayan, hubungan patron-klien, adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan latensi. ABSTRACT: “Utilization of Structural Capacity Space as Strategy to Improvement the Coastal Fishermens Welfare in Takalar, South Sulawesi”. This paper aims to identify deeply on the tendency of structure force to construct the socio-cultural action of fishermen, which causes them to be trapped in a range of their disadvantages, as well as to reveal the socio-cultural realities about the poverty trap of fishermen. The method used is phenomenology, because it is considered very appropriate method to explore and identify deeply about the meaning of social action form for the fishermen groups of Parengge in South Sulawesi. The results of the preliminary findings of this study indicate that the functional prerequisites on AGIL (Adaptation, Goal attainment, Integration, and Latency) of Talcott Parsons has opened up the capacity space for the emergence of new elements that can be integrated into the fishingship social system as a venue for the structuration of patron-client. Although AGIL has opened up the capacity space in a fishingship social system, but cannot integrate new elements into the structure of patron-client relations. With the existence of structuration power that has been directing, shaping, and restricting the actions of actors in a patron-client relationship, it is not possible for actors of “sawi” (fisher community) to be able to take advantage of the new elements in the capacity space as presented by AGIL, so the poverty trap in the patron-client relations still exists.KEY WORD: Structure capacity, increased prosperity, fisher community, patron-client relationships, adaptation, goal attainment, integration, and latency.About the Author: Dr. Ansar Arifin adalah Dosen Senior di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNHAS (Universitas Hasanuddin), Jalan Perintis Kemerdekaan Km.10, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Untuk kepentingan akademik, penulis bisa dihubungi dengan alamat e-mail: ansararifin@gmail.comHow to cite this article? Arifin, Ansar. (2014). “Pemanfaatan Ruang Kapasitas Struktur sebagai Strategi Peningkatan Kesejahteraan Nelayan Pesisir di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7, No.1 [Mei], pp.89-106. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 8, 2014); Revised (April 10, 2014); and Published (May 20, 2014).    
Perjanjian Tellumpoccoe Tahun 1582: Tindak-Balas Kerajaan Gowa terhadap Persekutuan Tiga Kerajaan di Sulawesi Selatan Mappangara, Suriadi
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Perjanjian “Tellumpoccoe” pada tahun 1582 merupakan kekuatan utama bagi kerajaan-kerajaan Bugis (Bone, Wajo, dan Soppeng) dalam upaya mereka membangun perlawanan terhadap Kerajaan Gowa. Perjanjian “Tellumpoccoe” ini, di mata penguasa Kerajaan Gowa, tidak saja dipandang sebagai bentuk perlawanan secara terbuka dari para penguasa kerajaan Bugis yang berada di daerah pedalaman, tetapi juga disadari sebagai satu bentuk strategi yang dilakukan oleh penguasa dari Kerajaan Bone untuk membendung ambisi Kerajaan Gowa. Kedua kerajaan ini (Gowa dan Bone) telah sering berperang di sepanjang abad ke-16. Selain itu, Perjanjian “Tellumpoccoe” telah digunakan oleh ketiga kerajaan Bugis untuk membendung upaya yang dilakukan oleh penguasa Kerajaan Gowa untuk menyebarkan agama Islam. Penyebaran agama Islam itu, di mata para penguasa kerajaan Bugis, dianggap sebagai satu taktik dan strategi dari Kerajaan Gowa, dalam meluaskan pengaruh dan kekuasaannya di wilayah-wilayah pedalaman Sulawesi Selatan. Persekutuan tiga kerajaan ini tidak dapat bertahan lama, karena pengaruh yang dimainkan oleh pihak luar, dalam hal ini pihak Kompeni Belanda atau VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Pihak VOC merasa berkepentingan dan berusaha untuk tetap memelihara agar kerajaan-kerajaan yang ada di daerah Sulawesi Selatan ini tetap hidup dalam kecurigaan antara satu dengan lainnya dan tidak bersatu dalam sebuah entitas politik yang kuat.KATA KUNCI: Perjanjian “Tellumpoccoe”, Sulawesi Selatan, kerajaan Gowa, persekutuan tiga kerajaan, serta kerajaan Bone, Wajo, dan Soppeng. ABSTRACT: “The ‘Tellumpoccoe’ Agreement in 1582: The Response of Gowa Kingdom towards the Alliance of Three Kingdoms in South Sulawesi”. The “Tellumpoccoe” Agreement in 1582 was a major force for the Bugis kingdoms (Bone, Wajo, and Soppeng) in their efforts to build up resistance to the Gowa Kingdom. This “Tellumpoccoe” Agreement, in the eyes of the ruler of Gowa, is not just seen as a form of resistance openly from the rulers of Bugis kingdoms residing in rural areas, but is also recognized as a form of strategies undertaken by the ruler of the Bone Kingdom’s ambition to stem the Gowa Kingdom. Both of these kingdoms (Gowa and Bone) have often fought throughout the 16th century. In addition, the “Tellumpoccoe” Agreement has been used by the three Bugis kingdoms to stem the efforts made by the rulers of Gowa Kingdom to spread Islam. The spread of the Islamic religion, in the eyes of the rulers of the Bugis kingdoms, regarded as one of the tactics and strategy of the Gowa Kingdom, in expanding the influence and power in the rural areas of South Sulawesi. The Alliance of three kingdoms can not last long, because of the influence played by outsiders, in this case is the VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) or Dutch East India Company. The VOC was concerned and trying to maintain that the existing kingdoms in South Sulawesi are still alive in the suspicion each other and they are not united as a strong political entity.KEY WORD: “Tellumpoccoe” agreement, South Sulawesi, kingdom of Gowa, the alliance of three kingdoms, and kingdoms of Bone, Wajo, and Soppeng.About the Author: Dr. Suriadi Mappangara adalah Dosen Senior di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya UNHAS (Universitas Hasanuddin), Jalan Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar 90245, Sulawesi Selatan, Indonesia. Untuk kepentingan akademik, penulis bisa dihubungi dengan alamat emel: suriadi_mappangara@yahoo.comHow to cite this article? Mappangara, Suriadi. (2014). “Perjanjian Tellumpoccoe Tahun 1582: Tindak-Balas Kerajaan Gowa terhadap Persekutuan Tiga Kerajaan di Sulawesi Selatan” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7, No.1 [Mei], pp.43-54. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 25, 2014); Revised (April 29, 2014); and Published (May 20, 2014).    
Relationship between Quality of Student Practice and Success of Community Midwifery Practice Nurfurqoni, Fuadah Ashri
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Results of the study on community midwifery practice acquired several factors causing dissatisfaction. This dissatisfaction could be due to the poor quality of practice performed by students. This condition will affect the success of a community midwifery practices implemented. Thus, research needs to identify the dimensions of quality practices that may increase the success of midwifery practice community. This analytical research using cross sectional method by using stratified random sampling, conducted in April to May 2013 to 92 pregnant women and mothers of infant/toddlers who participated in the counseling and health screenings by students at community midwifery practice. Variable on the quality of student practice and benefits practices were measured using questionnaires. The statistical test used were the Pearson Test, the Multiple Linear Regression Test, and the most influential factor analyzed using path analysis. The results show that quality of student practice related to success of community midwifery practice (r = 0.616, p < 0.001). The most influential dimensions of quality that is empathy, assurance, and subject age as a confounding variable (p value < 0.001); and effect of combined was 33.7% (p < 0.001). Finally, the quality of student practices associated with successful community midwifery practice, the most influential dimensions are empathy and assurance.KEY WORD: Quality, service, community, midwifery, practices, dissatisfaction, students, counseling and health screening, empathy, and assurance. RESUME: “Hubungan antara Kualitas Praktek Mahasiswa dengan Keberhasilan Praktek Kebidanan Komunitas”. Hasil penelitian pada praktek kebidanan komunitas mengakuisisi beberapa faktor penyebab ketidakpuasan. Ketidakpuasan ini bisa disebabkan oleh buruknya kualitas praktek yang dilakukan oleh mahasiswa. Kondisi ini akan mempengaruhi keberhasilan suatu praktek kebidanan komunitas ketika dilaksanakan. Dengan demikian, penelitian perlu mengidentifikasi dimensi praktek berkualitas yang dapat meningkatkan keberhasilan komunitas praktek kebidanan. Penelitian ini menggunakan metode analitik bagian silang dengan menggunakan sampel random bertingkat, dilakukan pada April-Mei 2013 terhadap 92 wanita hamil dan ibu bayi/balita (dibawah lima tahun) yang berpartisipasi dalam konseling dan pemeriksaan kesehatan oleh mahasiswa dalam praktik kebidanan komunitas. Variabel tentang kualitas praktek mahasiswa dan manfaat praktek diukur dengan menggunakan kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah uji Pearson, Tes Regresi Linier Pelbagai, dan faktor yang paling berpengaruh dianalisis dengan menggunakan analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas praktek mahasiswa berkaitan dengan keberhasilan mahasiswa dalam praktek kebidanan komunitas (r = 0.616, p < 0.001). Dimensi yang paling berpengaruh dari kualitas itu yakni empati, jaminan, dan usia subjek sebagai variabel penyela (p value < 0.001); dan efek gabungan semuanya adalah 33.7% (p < 0.001). Akhirnya, kualitas praktek mahasiswa terkait dengan sukses praktek kebidanan komunitas, dimensi yang paling berpengaruh adalah empati dan jaminan.KATA KUNCI: Kualitas, pelayanan, masyarakat, bidan, praktek, ketidakpuasan, mahasiswa, konseling dan pemeriksaan kesehatan, empati, dan jaminan.About the Author: Fuadah Ashri Nurfurqoni is Graduate Student, Alumnus Master of Midwifery UNPAD (Padjadjaran University) Bandung, Jalan Raya Bandung-Sumedang, UNPAD Campus, Jatinangor, Sumedang, West Java, Indonesia. Corresponding author is: ashrihenry05@yahoo.comHow to cite this article? Nurfurqoni, Fuadah Ashri. (2014). “Relationship between Quality of Student Practice and Success of Community Midwifery Practice” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7, No.1 [Mei], pp.107-114. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 17, 2014); Revised (April 20, 2014); and Published (May 20, 2014).    
Is Malaysia Little Brother of Indonesia? A Framing Analysis of Ambalat Conflict Dunan, Amri; Adnan, Hamedi Mohd
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Reformation era in Indonesia, since 1998, became the new act for relationship between Indonesia and Malaysia. Currently, some break up started after certain incidents happened and influence the intimate relationship between these two countries. For those incident happened, the case of Ambalat Block were reported widely by the media and being the hottest topics for discussion. This article describes and analyzes the framing of Malaysia verbally and non-verbally in the news of “Metro TV” and “TV One” from Indonesia television in Ambalat conflict. This research uses framing analysis “Television News” model developed by Amri Dunan & Hamedi Mohd Adnan (2013); and the inductive qualitative analysis with matrix method developed by B. Van Gorp (2010). In the cases of Ambalat framed by “Metro TV” and “TV One” try to place Malaysia in the situation of “little brother” with the means of didn’t appreciate the sibling relationship and forgot the origin. Thus, Malaysia was framed negative in the news reporting of “Metro TV” and “TV One”. However, the most interested thing is the reporter from “Metro TV” and “TV One” in Jakarta (Indonesia) tried to present the news reporting which fulfill the standard of journalistic. But, the reality is the value of patriotic and nationalism in their heart has made the news reporting shows the partiality to Indonesia. In future, the other programs like Talk Show or the sports program, which involved the relationship Indonesia-Malaysia, should put some attention for research. KEY WORD: Indonesia-Malaysia conflict, framing, television news, “Metro TV” and “TV One”, political ideology, and visual reporting. RESUME: “Iakah Malaysia Adik daripada Indonesia? Satu Analisis Bingkai Konflik Ambalat”. Era Reformasi di Indonesia, sejak tahun 1998, menjadi amalan baru dalam hubungan Indonesia dan Malaysia. Pada masa ini, beberapa perpecahan bermula selepas insiden tertentu yang berlaku dan memberi kesan dalam hubungan intim antara kedua-dua negara. Bersabit insiden yang berlaku, kes Blok Ambalat dilaporkan secara meluas oleh media dan menjadi topik hangat dalam perbincangan. Artikel ini menerangkan dan menganalisis bingkai Malaysia secara lisan dan bukan lisan dari televisyen Indonesia, iaitu dalam berita-berita “Metro TV” dan “TV One”, bercanggah masalah Ambalat. Kajian ini menggunakan analisis bingkai model “Berita Televisyen” yang dibangunkan oleh Amri Dunan & Hamedi Mohd Adnan (2013); dan analisis kualitatif induktif dengan kaedah matriks yang dibangunkan oleh B. Van Gorp (2010). Dalam kes-kes Ambalat yang dibingkai oleh “Metro TV” dan “TV One” cuba untuk meletakkan Malaysia didalam keadaan selaku “adik lelaki” dengan cara-cara yang tidak menghargai hubungan adik-beradik dan terlupa asal-usul. Oleh itu, Malaysia telah dibingkai negatif dalam laporan berita daripada “Metro TV” dan “TV One”. Walau bagaimanapun, perkara yang paling penting adalah bahawa wartawan daripada “Metro TV” dan “TV One” di Jakarta (Indonesia) cuba mengemukakan laporan berita yang memenuhi standard kewartawanan. Tetapi, hakikat daripada nilai-nilai patriotik dan nasionalisme dalam hati mereka telah membuat laporan berita yang menunjukkan sikap menyebelahi kepada Indonesia. Pada masa hadapan, program-program lain seperti “Talk Show” atau program sukan, yang membabitkan hubungan baik antara Indonesia-Malaysia, perlu diambil berat dan pemerhatian untuk penyelidikan.KATA KUNCI: Konflik Indonesia-Malaysia, bingkai, berita televisyen, “Metro TV” dan “TV One”, ideologi politik, dan laporan visual.  About the Authors: Amri Dunan and Hamedi Mohd Adnan are the Lecturers at the Department of Media Studies, Faculty of Art and Social Sciences UM (University of Malaya), Pantai Dalam Street, 50603 Kuala Lumpur, Malaysia. Corresponding authors are: amri_dunan@yahoo.co.id and hamedi@um.edu.myHow to cite this article? Dunan, Amri & Hamedi Mohd Adnan. (2014). “Is Malaysia Little Brother of Indonesia? A Framing Analysis of Ambalat Conflict” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7, No.1 [Mei], pp.1-8. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 11, 2014); Revised (April 15, 2014); and Published (May 20, 2014).    
Melayu Islam Beraja: Asas Perpaduan Hidup Bermasyarakat dan Bernegara di Brunei Darussalam Melayong, Muhammad Hadi bin Md
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Kertas kerja ini membincangkan secara ringkas takrifan MIB (Melayu Islam Beraja) serta memperlihatkan senerio perkembangan dan cabaran yang dilalui sejak 600 tahun yang lalu. Dalam era globalisasi masa kini, amalan MIB masih terus dipertahankan, terutamanya di kalangan golongan generasi muda masa kini yang perlu mengamal dan mengekalkan warisan tradisi lama ini sebagai satu sumber kesejahteraan dan kemakmuran kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam hal itu, Wawasan Negara 2035 telah menggariskan matlamat dan visi yang hendak dicapai oleh negara yang bersandarkan kepada nilai-nilai hidup MIB dengan penekanan kepada pendidikan Agama Islam. Hal ini selaras dengan titah Baginda Sultan bahawa kita perlu mengukuhkan pendidikan agama Islam bagi melahirkan orang Melayu yang mempunyai jatidiri yang tulin, supaya perjalanan yang kita tujui lebih terarah dan selamat. Pembentukan dan pengasuhan golongan muda dengan nilai ke-Brunei-an yang beracuan “calak ke-Brunei-an”, khususnya melalui Sistem Pendidikan Negara Abad ke-21, adalah merupakan salah satu cara untuk mengekalkan warisan bangsa Melayu Brunei. Masyarakat Brunei Darussalam yakin bahawa dalam kehidupan dunia masa kini, yang tanpa mempunyai batasan akibat dari ledakan teknologi maklumat, maka kita tidak punya pilihan melainkan bersedia menghadapi semua cabaran, akibat dari penyebaran maklumat yang senantiasa terbuka luas, dengan nilai-nilai MIB.KATA KUNCI: Melayu Islam Beraja, falsafah negara, warisan tradisi, nilai-nilai murni, negara Brunei Darussalam, dan cabaran semasa. ABSTRACT: “Malay Islamic Monarchy: Basic Unity of the Social and State Life in Brunei Darussalam”. The paper briefly discusses the definition of MIB or “Melayu Islam Beraja” (Malay Islamic Monarchy) and saw the senerio of developments and challenges faced 600 years ago. In the era of globalization, the practice MIB still defended, especially among the younger generation to adopt and maintain a long tradition of this heritage as a source of peace and prosperity in the social and state life. In that case, the National Vision of 2035 outlines the goals and the vision to be achieved by the country based on the values of MIB with an emphasis on Islamic education. This is in line with the statement of His Majesty Sultan that we need to strengthen the Islamic education to produce Malays who have a real identity, so that the journey that we move more targeted and safe. Educating and training the young people with the Bruneis values based on the “calak ke-Brunei-an” (Bruneian smart and noble character), particularly through the National Education System of the 21st Century, is one way to preserve the heritage of the Brunei Malays. People of Brunei Darussalam convinced that in the present life, which there is without limitation as a result of the explosion of information technology, then we have no choice but to be ready to face all challenges, as a result of the dissemination of information that is always wide open, with the values of MIB.KEY WORD: Malay Islamic Monarchy, the national philosophy, traditional heritage, good values, Brunei Darussalam state, and current challenges.About the Author: Dr. Muhammad Hadi bin Md Melayong ialah Penjawat di Jabatan Sekretariat Majlis Tertinggi MIB (Melayu Islam Beraja) di Negara Brunei Darussalam. Bagi urusan sebarang akademik dan penyelidikan, penulis boleh dihubungi secara terus melalui emel di: hadi539@gmail.com dan sekretariat.mtmib@ubd.edu.bnHow to cite this article? Melayong, Muhammad Hadi bin Md. (2014). “Melayu Islam Beraja: Asas Perpaduan Hidup Bermasyarakat dan Bernegara di Brunei Darussalam” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7, No.1 [Mei], pp.55-64. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 9, 2014); Revised (April 13, 2014); and Published (May 20, 2014).    
Mahasiswa dan Perilaku Berkarakter: Studi Sosiologis terhadap Pendidikan Karakter di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UVRI Makassar, Sulawesi Selatan Kamaruddin, Syamsu A
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Membangun karakter bangsa membutuhkan waktu yang lama dan harus dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu upaya untuk mewujudkan pendidikan perilaku yang berkarakter adalah para peserta didik, baik siswa maupun mahasiswa, harus dibekali dengan pendidikan khusus yang membawa misi pokok dalam pembinaan karakter dan akhlak mulia. Di lingkungan pendidikan tinggi, pendidikan perilaku yang berkarakter untuk mahasiswa belum banyak dilakukan secara formal. Oleh karena itu, tulisan ini dibuat sebagai ide awal, untuk ditindaklanjuti, dalam bentuk rancangan kegiatan yang diderivasi dari kurikulum yang interaktif, yang mengarahkan mahasiswa pada perilaku yang berkarakteristik baik. Pendidikan perilaku berkarakter pada dasarnya tetap harus merujuk pada visi dan misi perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan orientasi dua hal dalam proses perilaku karakter mahasiswa, yaitu: (1) perilaku manusiawi atau humanistik dari individu mahasiswa tersebut; dan (2) ciri khas lembaga pendidikan, seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, yang merancang perilaku mahasiswanya untuk menjadi seorang tenaga pendidik yang berkarakter dan siap pakai. Dalam tulisan ini, kedua aspek tersebut coba digagas dengan mengacu pada beberapa tulisan lain. Hasil akhirnya menunjukkan bahwa lahirnya satu rancangan kurikulum berbasis sosiologis yang paten, sebagai rujukan awal, dapat mempelopori program pengembangan perilaku berkarakter pada level perguruan tinggi di Indonesia. KATA KUNCI: Pendidikan karakter, kurikulum, mahasiswa, fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, pendekatan sosiologis, dan perilaku manusiawi.   ABSTRACT: “Students and Character Behavior: Sociological Studies on Character Education in the Faculty of Education and Teacher Training UVRI Makassar, South Sulawesi”. Building a nations character takes a long time and should be done on an ongoing basis. One of the efforts to realize the behavior of character education is the students, both the student in primary and secondary education and the student in tertiary education, must be provided with special education that brings the core mission of the character building and noble character. In the higher education environment, the behavior of character education for students has not been done formally. Therefore, this paper made the initial idea, to be impelemted, in the form of design activity derived from interactive curriculum, which directs students on good behavior characterized. Education on character behavior should essentially remain refer to the vision and mission of the college. This shows the orientation of two things in the process of students character behavior, namely: (1) humane or humanistic behavior of individual students; and (2) the hallmark of educational institutions, such as the Faculty of Education and Teacher Training, which is designing the behavior of its students to become the educators who have good character and ready to use. In this paper, these two aspects are trying conceived with reference to some of the other studies. The finally result suggests that the birth of curriculum design based on sociological patent, as the initial referral, is able to spearhead the development program of character behavior at the level of higher education in Indonesia.KEY WORD: Character education, curriculum, students, faculty of education and teacher training, sociological approach, and human behavior.About the Author: Dr. Syamsu A. Kamaruddin adalah Dosen Senior di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UVRI (Universitas Veteran Republik Indonesia) Makassar, Jalan Baruga Raya, Kampus UVRI II, Antang, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Untuk kepentingan akademik, penulis dapat dihubungi dengan alamat emel: syamsukamaruddin@gmail.comHow to cite this article? Kamaruddin, Syamsu A. (2014). “Mahasiswa dan Perilaku Berkarakter: Studi Sosiologis terhadap Pendidikan Karakter di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UVRI Makassar, Sulawesi Selatan” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7, No.1 [Mei], pp.115-124. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 24, 2014); Revised (April 28, 2014); and Published (May 20, 2014).    
Konflik, Kontrak Sosial, dan Pertumbuhan Kerajaan-kerajaan Islam di Sulawesi Selatan Sulistyo, Bambang
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Pembangunan masyarakat, konflik, dan perang, yang menjadi latar belakang peristiwa-peristiwa penting pada abad ke-17 di Sulawesi Selatan, merupakan ekspresi dari harga diri. Pembangunan masyarakat, sudah barang tentu, dimulai dengan membentuk “polity” (entitas politik), seperti kerajaan atau negara, dengan Raja yang dipilih oleh kepala-kepala “wanua”. Bentuk federasi diubah menjadi kerajaan atau kekuasaan yang sentralistik. Ibukota kerajaan selanjutnya dipindahkan dari pedalaman ke pesisir, di muara sungai. Artinya, sistem kekuasaan yang semula berorientasi agraris selanjutnya berorientasi maritim. Sesudah itu, proses pembangunan kerajaan dilakukan dengan jalan ekspansi dan penaklukan, serta mengangkut penduduk negeri taklukan tersebut ke ibukota kerajaan. Proses ekspansi dan penaklukan ini juga menciptakan hubungan perkawinan, dengan menempatkan keluarga bangsawan di negeri “vazal”, serta membangun kerjasama dan tolong-menolong dengan negeri “vazal”. Artikel ini membahas tentang perkembangan sejarah Kerajaan Gowa dan kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan pada abas ke-17 Masehi. Bisa dikatakan bahwa abad ke-17 adalah puncak kebesaran Sulawesi Selatan, terutama bagi suku Bugis, Makassar, dan Mandar. Nilai-nilai yang berkembang pada periode itu masih dapat ditemukan sebagai acuan dan gaya hidup orang-orang Bugis dan Makassar di masa kini.KATA KUNCI: Konflik, kontrak sosial, kerajaan Gowa-Tallo dan Bone-Soppeng, sistem nilai, perkembangan Islam, dan VOC Belanda. ABSTRACT: “Conflict, Social Contract, and the Growth of Islamic Kingdoms in South Sulawesi”. Community development, conflict, and war, as the background of important events in the 17th century in South Sulawesi, is an expression of self-esteem. Community development, of course, begins with forming a political entity, such as the kingdom or state, the king chosen by the heads of “wanua” (community). The form of federation entity converted into a power centralized kingdom. Royal capital city was then moved from the interior to the coast, at the mouth of the river. It means that the power system initially agrarian-oriented has then changed to the maritime-oriented. After that, the development process of the kingdom is done by using the expansion and conquest, and conquered the inhabitants of the land are transported and moved to the capital city of the kingdom. The process of expansion and conquest also creates marital relationship, by placing a noble family in the country of “vazal” (colonized), and to build cooperation and mutual help with the country of “vazal”. This article discusses the historical development of Gowa Kingdom and other kingdoms in South Sulawesi on 17th AD (Anno Domini). It could be said that the 17th century was the peak of the greatness of South Sulawesi, especially for the ethnics of Bugis, Makassar, and Mandar. The values that be developed in that period can still be found as a reference and the lifestyle of the Bugis and Makassar communities in the present.KEY WORD: Conflict, social contract, the kingdoms of Gowa-Tallo and Bone-Soppeng, value systems, the development of Islam, and Dutch East-Hindia company.About the Author: Dr. Bambang Sulistyo adalah Dosen dan Ketua Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya UNHAS (Universitas Hasanuddin), Jalan Perintis Kemerdekaan Km.10 Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Untuk kepentingan akademik, penulis dapat dihubungi dengan alamat emel: bambang5ulistyo@yahoo.comHow to cite this article? Sulistyo, Bambang. (2014). “Konflik, Kontrak Sosial, dan Pertumbuhan Kerajaan-kerajaan Islam di Sulawesi Selatan” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7, No.1 [Mei], pp.9-18. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 22, 2014); Revised (April 27, 2014); and Published (May 20, 2014).    
The Role of Hizbullah in the Time of Indonesian Revolution in Bandung, 1945-1946 Sulasman, Sulasman
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: Hizbullah, its meaning is the army of Allah (God), established at the time of the Japanese occupation in Indonesia (1942-1945), and has been restructured after the proclamation of independence along with the spirit of revolution in Indonesia (1945-1950). Hizbullah was founded because the Muslims young people feel to have an obligation in assisting the nation-state and religious struggle to be free from the colonialism in Indonesia. This article attempts to explain the position and role of Hizbullah organization, which was established after the proclamation of Indonesian independence by the creativity of local Muslims young people. Increased establishment of semi-military organizations, including the Hizbullah organization in Bandung, is the reaction of the arrival of the Allied Forces in Indonesia. British Allied Forces, which accompanied by the Dutch NICA (Netherland-Indies Civil Administration), their arrival was greeted by Indonesian people with a sense of suspicion and awareness of independence. One of the incidents between British Allied Forces and Dutch NICA, after arriving in Bandung, against the people of Indonesia that involves the TKR (Indonesian Peoples Security Army) and Hizbullah, is the Fokkerweg bettle in Bandung city. This battle lasted for 3 days and 3 nights. The battle was fierce, which is characterized by a combination between frontal attacks and diplomacy. This suggests that the position and the role of Hizbullah, in the context of Indonesias independence struggle, is very important and has contributed greatly to the formation of TKR, which later became the TNI (Indonesian National Army).KEY WORD: Hizbullah, revolution, Bandung city, the role and function, freedom and independence, organization and struggle, and Indonesian army. RESUME: “Peranan Hizbullah pada Masa Revolusi Indonesia di Bandung, 1945-1946”. Hizbullah , artinya tentara Allah, didirikan pada saat pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945) dan telah direstrukturisasi setelah proklamasi kemerdekaan bersama dengan semangat revolusi di Indonesia (1945-1950). Hizbullah didirikan karena orang-orang muda Islam merasa memiliki kewajiban untuk membantu perjuangan negara-bangsa dan agama agar bebas dari penjajahan di Indonesia. Artikel ini mencoba untuk menjelaskan posisi dan peran organisasi Hizbullah, yang didirikan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh kreativitas anak-anak muda Muslim setempat. Meningkatnya pendirian organisasi semi-kemiliteran, termasuk organisasi Hizbullah di Bandung, merupakan reaksi dari kedatangan Tentara Sekutu di Indonesia. Tentara Sekutu Inggris, yang diboncengi oleh NICA (Pemerintahan Sipil Hinda-Belanda) Belanda, kedatangan mereka disambut oleh rakyat Indonesia dengan perasaan curiga dan kesadaran akan kemerdekaan. Salah satu insiden antara Tentara Sekutu Inggris dan NICA Belanda, setelah tiba di Bandung, melawan rakyat Indonesia yang melibatkan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan Hizbullah adalah pertempuran Fokkerweg di Kota Bandung. Pertempuran ini berlangsung selama 3 hari dan 3 malam. Pertempuran berlangsung sengit, yang ditandai oleh kombinasi antara serangan frontal dan diplomasi. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan dan peran Hizbullah, dalam konteks perjuangan kemerdekaan Indonesia, adalah penting dan telah memberikan sumbangan besar bagi pembentukan TKR, yang kemudian berubah menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia).KATA KUNCI: Hizbullah, revolusi, kota Bandung, peran dan fungsi, kebebasan dan kemerdekaan, organisasi dan perjuangan, serta tentara Indonesia.About the Author: Dr. Sulasman is a Senior Lecturer at the Department of Islamic Civilization, Faculty of Adab and Humanity UIN (State Islamic University) Sunan Gunung Djati, Jalan Jenderal A.H. Nasution No.105 Cipadung, Bandung 40614, West Java, Indonesia. Corresponding author is: sulasman14@yahoo.comHow to cite this article? Sulasman. (2014). “The Role of Hizbullah in the Time of Indonesian Revolution in Bandung, 1945-1946” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7, No.1 [Mei], pp.65-78. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 11, 2014); Revised (April 17, 2014); and Published (May 20, 2014).    
Fun-Eco-Preneur Education: Sebuah Konsep Pendidikan Multibudaya untuk Memperkuat Nilai-nilai Wirausaha di Indonesia Suryaman, Suryaman
SOSIOHUMANIKA Vol 7, No 1 (2014)
Publisher : ASPENSI in Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RESUME: Karakter siswa dapat dibangun dengan pendidikan multibudaya, sehingga mereka dapat menjadi lebih demokratis, pluralis, dan humanis di lingkungan mereka. Tulisan ini mencoba menguraikan konsep pendidikan “fun-eco-preneur” sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan multibudaya untuk meningkatkan kemampuan berwirausaha, untuk memenuhi kelemahan budaya kita sebagai negara-bangsa di Indonesia. Konsep ini dapat diterapkan di SMA (Sekolah Menengah Atas) untuk membangun kemampuan siswa dan karakter berwirausaha yang kuat, tidak mudah putus asa, menghargai orang sebagaimana mereka menghargai keluarga sebagai konsumen mereka. Sebagai konsep, pola-pola perilaku seperti berdoa, sikap, pengetahuan, keterampilan, dan tindakan telah terbukti berhasil untuk diterapkan dalam pendidikan; jadi, dibutuhkan metode kombinasi baru antara pendidikan multibudaya dan konsep berwirausaha. Pelaksanaan konsep ini terbukti ampuh bahwa dengan difusi antara pendidikan multibudaya dan budaya berwirausaha, berdasarkan metode pendidikan “fun-eco-preneur”, ianya mampu memberikan siswa pengalaman lapangan yang penting untuk memahami dan menghargai orang lain dan hidup dalam budaya mereka. Pelaksanaan program berwirausaha ini harus mempertimbangkan faktor latar belakang sekolah, persetujuan dari orang tua siswa dan pemilik sekolah, pemangku kepentingan pendidikan, lingkungan sekolah dan lokasinya, dan, di atas semua, kesediaan dari siswa sendiri untuk dilatih agar menjadi seorang wirausaha yang baik, menyenangkan, dan profesional.KATA KUNCI: “Fun-eco-preneur”, pendidikan multibudaya, siswa di sekolah menengah, membangun budaya wirausaha, dan masyarakat Indonesia. ABSTRACT: “Fun-Eco-Preneur Education: A Concept of Multicultural Education to Strengthen the Entrepreneurship Values in Indonesia”. Students’ character can be built by multicultural education, so that they can become more democratic, pluralist, and humanists in their environment. This paper tries to elaborate the concept of education for “fun-eco-preneur” as one of the approaches in multicultural education to enhance the entrepreneurial capabilities, to meet the weakness of our culture as a nation-state in Indonesia. This concept can be applied in Senior High School to build the students’ abilities and strong in entrepreneurship character, not easily discouraged, as well as they appreciate and respect of their families as consumers. As a concept, patterns of behavior such as prayer, attitude, knowledge, skills, and actions have proven to be successful to be applied in education; so, it takes a new combination method between multicultural education and the concept of entrepreneur. Implementation of this concept is proven that the diffusion between multicultural education and cultural entrepreneurship, based on the method of education “fun-eco-preneur”, it is able to give students the field experience that is important to understand and respect others and live in their culture. The implementation of the entrepreneurship program must consider the background of the school, the consent of parents and school owners, education stakeholders, and location of the school environment, and, above all, the willingness of the students themselves to be trained to become a good entrepreneur, fun, and professional.KEY WORD: “Fun-eco-preneur”, multicultural education, students in secondary schools, build an entrepreneurial culture, and people of Indonesia.About the Author: Dr. Suryaman adalah Dosen Pascasarjana UNIPA (Universitas PGRI Adi Buana) Surabaya, Jalan Ngagel Dadi III-B No.37, Surabaya 60245, Jawa Timur, Indonesia. Untuk kepentingan akademik, penulis bisa dihubungi dengan alamat emel: maman_suryaman58@yahoo.co.idHow to cite this article? Suryaman. (2014). “Fun-Eco-Preneur Education: Sebuah Konsep Pendidikan Multibudaya untuk Memperkuat Nilai-nilai Wirausaha di Indonesia” in SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan, Vol.7, No.1 [Mei], pp.125-136. Bandung, Indonesia: Minda Masagi Press owned by ASPENSI, UNHAS Makassar, and UNIPA Surabaya, ISSN 1979-0112. Chronicle of article: Accepted (March 2, 2014); Revised (April 6, 2014); and Published (May 20, 2014).    

Page 1 of 2 | Total Record : 13