cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)
ISSN : 23033045     EISSN : 2503183X     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) abbreviated IJND (p-ISSN 2303-3045 and e-ISSN 2503-183X) is a peer-reviewed scientific journal publishing updated research and non-research articles in the area of nutrition and dietetics. This journal is published three times annually (January, May, and September) by Alma Ata University Press in collaboration with Indonesian Nutrition Association (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "VOLUME 12 ISSUE 6, 2024" : 7 Documents clear
Correlation of menopausal status, nutritional status, and uric acid level in Indonesian women Rahmasari, Nisya Cesaryani; Briawan, Dodik; Dewi, Mira
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 6, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.12(6).397-405

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Bertambahnya usia dapat menyebabkan perubahan kondisi fisiologis dan psikologis, salah satunya adalah peningkatan kadar asam urat dalam darah atau yang biasa disebut dengan hiperurisemia. Kadar asam urat yang tinggi dalam darah jika tidak ditanggulangi dan dibiarkan dalam rentang waktu yang lama dapat menyebabkan terjadinya berbagai penyakit tidak menular seperti penyakit ginjal kronis, kerusakan sendi dan penyakit kardiovaskular. Prevalensi kejadian hiperurisemia di Indonesia pada tahun 2015 sebesar 18%. Penelitian terkait status menopause dan status gizi pada wanita usia 15-54 tahun di Indonesia masih belum banyak diteliti dengan mengambil beberapa provinsi untuk dijadikan sampel.Tujuan: Menganalisis hubungan antara status menopause dan status gizi dengan kadar asam urat pada wanita usia 15-54 tahun di Indonesia.Metode: Desain pada penelitian ini yaitu cross sectional dengan subjek wanita berusia 15-54 tahun pada 10 provinsi di Indonesia dengan total jumlah responden sebanyak 606 responden. Teknik sampling untuk penentuan provinsi dan kota menggunakan purposive sampling dan penentuan kecamatan atau kelurahan menggunakan random sampling. Kadar asam urat diperoleh dari pengukuran darah kapiler dan status gizi diperoleh dari pengukuran antropometri yang dilakukan oleh tenaga kesehatan terampil. Status menopause diperoleh dari wawancara oleh enumerator terlatih yang menanyakan terkait riwayat menstruasi dalam satu tahun. Pengelompokkan status menopause dibagi menjadi belum menopause, pra menopause dan menopause.Hasil: Sebanyak 42,9% dari total responden mangalami obesitas, sebagian besar berada pada kelompok usia 41-54 tahun. Subjek yang menderita hiperurisemia sebanyak 21.1% dan yang telah memasuki masa menopause dalam penelitian ini sebanyak 11.4%. Adanya hubungan yang signifikan antara status menopause dengan kadar asam urat (p=0,031) dan adanya hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kadar asam urat (p<0,001;r=0,193).Kesimpulan: Kadar asam urat pada wanita yang obesitas dan menopause cenderung akan meningkat jika dibandingkan dengan wanita yang berstatus gizi normal dan belum menopause.KATA KUNCI: hiperurisemia; kadar asam urat; status gizi; status menopause; wanita ABSTRACTBackground: Increasing age can cause changes in physiological and psychological conditions, one of which is an increase in uric acid levels in the blood, commonly referred to as hyperuricemia. High uric acid levels in the blood, if not addressed and left for a long time, can lead to various non-communicable diseases such as chronic kidney disease, joint damage, and cardiovascular disease. The prevalence of hyperuricemia in Indonesia in 2015 was 18%. Research related to menopausal status and nutritional status in women aged 15-54 years in Indonesia has not been widely studied by taking several provinces as samples.Objectives: To analyze the relationship between menopausal status and nutritional status with uric acid levels in women aged 15-54 years in Indonesia.Methods: The design of this study was cross-sectional, with female subjects aged 15-54 years in 10 provinces in Indonesia and a total number of 606 respondents. Sampling techniques for determining provinces and cities using purposive sampling and determining sub-districts or villages using random sampling. Uric acid levels were obtained from capillary blood measurements, and nutritional status was obtained from anthropometric measurements conducted by skilled health workers. Menopausal status was obtained from interviews by trained enumerators who asked about menstrual history in one year. The classification of menopausal status was divided into not yet menopausal, pre-menopausal, and menopausal.Results: A total of 42.9% of the total respondents were obese, mostly in the age group of 41-54 years. Subjects who suffered from hyperuricemia were 21.1%, and those who had entered menopause in this study were 11.4%. There is a significant relationship between menopausal status and uric acid levels (p=0.031), and there is a significant relationship between nutritional status and uric acid levels (p<0.001; r=0.193).Conclusion: Uric acid levels in obese and menopausal women tend to increase when compared to women with normal nutritional status and not yet menopausal.KEYWORDS: hyperuricemia; menopausal status; nutritional status; uric acid levels; womenReceived: August 26, 2024; Revised: June 10 2024; Accepted: Nov 20, 2024; Available online: Nov 30, 2024; Published: Nov 30, 2024.
Hedonic test and nutritional analysis of instant cream soup from sweet corn and mackerel fish for the elderly Khairunnisa, Yunda; Marliyati, Sri Anna; Setiawan, Budi
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 6, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.12(6).445-456

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Secara global rata-rata harapan hidup telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, namun angka ini tidak diiringi dengan angka harapan hidup sehat. Berbagai masalah terkait dengan penuaan seperti kesulitan mengunyah, dan menelan makanan dapat mengurangi kemampuan lansia untuk memenuhi kebutuhan gizinya, untuk itu dibutuhkan modifikasi tekstur dari makanan lansia sehingga memudahkan mereka dalam mengonsumsinya.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formula yang tepat, menganalisis nilai organoleptik, dan kandungan zat gizi sup krim jagung manis dan ikan kembung untuk lansia.Metode: Penelitian ini merupakan experimental di laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal yaitu kombinasi jagung dan ikan kembung dalam 3 taraf berbeda. Formula terdiri atas F1 (6% ikan), F2 (8% ikan), dan F3 (10% ikan). Data uji hedonik diperoleh dengan menggunakan kuesioner dan data zat gizi dengan pengamatan di laboratorium. Data penelitian diolah dengan menggunakan uji statistik one-way annova dan paired t test.Hasil: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan untuk seluruh atribut pada uji hedonik dan protein sup krim segar, sehingga formula 3 dipilih sebagai formula terbaik dengan kandungan protein yang lebih banyak dibandingkan formula lainnya. Kandungan gizi sup krim instan yaitu protein 39,98%, lemak 16,13% karbohidrat 34,36%, air 4,80%, abu 4,74%, dan total serat 5,96%.Kesimpulan: Sup krim ini dapat dikembangkan sebagai makanan selingan lansia, sup krim ini disukai oleh panelis dan memiliki kandungan gizi yang baik bagi lansiaABTRACTBackground: From a global perspective, the average life expectancy has risen rapidly in recent years but has not been followed by healthy life expectancy. Several aging-related issues, such as difficulties in chewing and swallowing, can hinder elderly people’s ability to meet their nutritional needs. Therefore, modifying food texture to facilitate easier consumption for this age group is essential.Objectives: This study aims to develop an optimal formula and evaluate the organoleptic and nutritional content of sweet corn and mackerel cream soup for elderly people.Methods: This research was a laboratory experiment employing a Completely Randomised Design (CRD) with a single factor, namely the combination of maize and mackerel at three different levels: F1 (6% fish), F2 (8% fish), and F3 (10% fish). The hedonic test data was obtained through a questionnaire, while nutritional data were gathered through laboratory observation. Then, data were analyzed by one-way ANOVA and paired t-tests.Results: The fresh cream soup's hedonic test and protein content demonstrated no significant differences found between the formulas. Therefore, Formula 3 was the optimal choice, as it exhibited a higher protein content than the other formulas. The nutritional composition of the instant cream soup is as follows: protein (39.98%), fat (16.13%), carbohydrate (34.36%), water (4.80%), ash (4.74%), and total fiber (5.96%).Conclusions: This cream soup has been developed as a snack meal for the elderly. The panelists liked its taste, and it has a good nutritional profile.KEYWORDS: cream soup; mackerel fish; sweet corn; isolat soy protein; eldelry
Factors causing increased interdialytic weight gain in chronic kidney disease patients followed by hemodialysis Qurrota A’yun, Ayatussholikhah; Ningsih, Windi Indah Fajar; Utama, Feranita; Ramdika, Sari Bema
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 6, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.12(6).426-435

Abstract

Latar Belakang: Gagal ginjal kronis bersifat irreversible akibat kerusakan baik strukur maupun fungsinya yang berlangsung tiga bulan atau lebih. Salah satu terapi penunjang pada pasien gagal ginjal kronis adalah hemodialisa. Permasalah yang sering muncul pada pasein hemodialisa adalah kenaikan berat badan di antara dua waktu dialisis atau Interdialytic Weight Gain (IDWG) yang berlebih dan akan memiliki dampak pada kualitas Kesehatan pasien.Tujuan: Mengetahui faktor internal dan eksteral yang dapat menyebabkan IDWG. Faktor internal yaitu meliputi usia, jenis kelamin, tingkat stress, rasa haus, dan riwayat pendidikan. Faktor eksternal yaitu dukungan keluarga, jumlah asupan cairan, lama telah menjalankan hemodialisa, asupan energi, dan asupan protein. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain cross sectional. sebanyak 57 sampel yang dipilih secara purposive sampling menyetujui ikut serta dalam penelitian. Uji statistik dilakukan dengan chi square.Hasil: Hasil menunjukkan mayoritas responden dewasa (75,4%), perempuan (59,6%), stress ringan (61,4%), rasa haus sedang (40,4%), riwayat pendidikan rendah (73,7%), asupan cairan lebih (59,6%), dukungan keluarga yang baik (49,1%), hemodialisa <12 bulan (66,7%), asupan energi tidak sesuai (82,5%), asupan protein tidak sesuai (89,5%). Hasil dari uji statistik didapatkan tidak ada hubungan antara usia (p = 0,827), jenis kelamin (p = 0,925), riwayat pendidikan (p = 1,000), lama telah menjalankan hemodialisa (p = 0,343), asupan energi (p = 1,000), dan asupan protein (p = 1,000) dengan IDWG. Namun, terdapat hubungan signifikan antara tingkat stress (p = 0,027), rasa haus (p = 0,027), asupan cairan (p = 0,014), dukungan keluarga (p = 0,038) dengan IDWG pada pasien gagal ginjal kronis dengan hemodialisa di RSUP. Dr. Mohammad Hoesin Palembang.Kesimpulan: Faktor yang berhubungan dengan IDWG adalah stress, rasa haus, asupan cairan dan dukungan keluarga. Faktor yang tidak berhubungan dengan kejadian IDWG adalah usia, jenis kelamin, riwayat pendidikan, lama telah menjalankan hemodialisa, asupan energi dan asupan protein.  KATA KUNCI: interdialytic weight gain; hemodialisa; faktor penyebab ABSTRACTBackground: Chronic kidney failure is irreversible due to damage to both its structure and function that lasts three months or more. One of the supporting therapies for patients with chronic kidney failure is hemodialysis. A problem that often arises in hemodialysis patients is excessive weight gain between two times of dialysis or Interdialytic Weight Gain (IDWG) which will have an impact on the quality of the patient's health.Objectives: To determine the factors that cause an increase in IDWG consisting of internal and external factors. Internal factors are age, sex, stress, thirst, and education history. External factors are family support, fluid intake, duration of hemodialysis, energy intake, and protein intake.Methods: This research was a descriptive analytical study with a cross sectional design. A total of 57 samples selected by purposive sampling agreed to take part in the research. Statistical tests were carried out using chi square.Results: The results showed that the majority of respondents were adults (75.4%), female (59.6%), mild stress (61.4%), moderate thirst (40.4%), low education (73.7%), higher fluid intake (59.6%), family support (49.1%), hemodialysis <12 months (66.7%), inadequate energy intake (82,5%), inadequate protein intake (89,5%). The results of statistical tests found no relationship between age (p = 0.827), sex (p = 0.925), education history (p = 1,000), time on hemodialysis (p = 0.343), energy intake (p = 1,000), and protein intake (p = 1.000) with IDWG. However, there were a significant relationship between stress level (p = 0.027), thirst (p = 0.027), fluid intake (p = 0.014), family support (p = 0.038) with IDWG in chronic kidney disease patients with hemodialysis at RSUP. Dr. Mohammad Hoesin Palembang.Conclusions: Factors associated with IDWG were level, thirst, fluid intake and family support. Factors that were not associated with the incidence of IDWG were age, gender, education history, length of hemodialysis, energy intake and protein intake. KEYWORDS: interdialytic weight gain; chronic kidney disease; hemodialysis; factors causingReceived: Nov 22, 2024; Revised: Nov 12 2024; Accepted: Nov 20, 2024; Available online: Nov 30, 2024; Published: Nov 30, 2024.
Length of hemodialysis, fluid intake, and quality of life in patients with chronic kidney disease Ringgani, Foulla Givfa; Krisnasary, Arie; Kamsiah, Kamsiah
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 6, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.12(6).457-463

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang:Terapi hemodialisis jangka panjang mempengaruhi kualitas hidup pasien CKD. Mutu hidup pasien ginjal termasuk dampak dari lamanya menderita hemodialisis dan asupan cairan yang dikonsumsinya. Asupan cairan untuk pasien hemodialisis dibatasi sekitar 500 ml ditambah pengeluaran urine agar tidak terjadi penumpukan cairan. Kualitas hidup pasien CKD dapat diketahui melalui kuesioner Kidney Disease Quality Of Life (KDQOL).Tujuan: Tujuan dari penelitian tersebut termasuk supaya menemukan kaitan lama hemodialisis dan asupan cairan dengan mutu hidup pasien RSUD Bengkulu penderita gagal ginjal kronik dengan hemodialisis.Metode: Penelitian tersebut memakai desain cross sectional. Sampel pada penelitian tersebut termasuk 42 pasien yang dipilih dengan purposive sampling yang memakai kriteria inklusi serta eksklusi. Hasil analisis data menggunakan uji chi-square.Hasil: Hasil penelitian memaparkan jika ada kaitan antara lama menjalani hemodialisis dengan mutu hidup pasien RSUD Bengkulu yang menderita gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis (p value = 0,046). Tidak ada hubungan asupan cairan dengan mutu hidup pasien RSUD Bengkulu yang menderita gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis (p value = 0,68).Kesimpulan: Ada kaitan antara Lama menderita Hemodialisis dengan mutu Hidup Pasien RSUD Bengkulu yang menderita Gagal Ginjal Kronik dengan Hemodialisis dan tidak ada hubungan asupan cairan dengan mutu hidup pasien gagal ginjal kronis dengan hemodialisis.KATA KUNCI: KDQOL; hemodialisis; asupan cairan; kualitas hidupABSTRACTBackground: Prolonged HD therapy affects the patient's quality of life. Renal patients' quality of life is influenced by the length of their HD and the volume of fluids they ingest. To prevent fluid buildup, HD patients are only permitted to drink about 500 ml of fluid daily in addition to their urine output. Patients with CKD can evaluate their quality of life using a questionnaire known as the Kidney Disease Quality of Life (KDQOL).Objectives: This study aims to evaluate the efficacy of HD therapies, fluid intake, and clinical outcomes of patients with chronic kidney disease at General Hospital Bengkulu.Methods: This study's design was cross-sectional. The inclusion and exclusion criteria were used to select the 42 patients who would make up its purposive sampling sample. The data were assessed using the chi-square test.Results: The results show a long-standing association between HD therapy and patients with chronic kidney disease who receive HD at General Hospital Bengkulu (p-value = 0.030). In patients with chronic kidney disease receiving HD at General Hospital Bengkulu, fluid intake and quality of life are unrelated (p-value = 0.68).Conclusion: The quantity of HD and the standard of living of people with chronic renal failure are correlated. Patients with Chronic Renal Failure Undergoing HD at General Hospital Bengkulu; No Relationship Between Fluid Intake and Quality of Life of Patients with Chronic Kidney Disease Undergoing HD at General Hospital BengkuluKEYWORDS: KDQOL; hemodialysis; fluid intake; quality of lifeReceived: August 14, 2024; Revised: Nov 18 2024; Accepted: Nov 20, 2024; Available online: Nov 30, 2024; Published: NOv 30, 2024.
Factors associated with stunting in children aged under five years: A systematic review Prasetyo, Yoyok Bekti; Syafi'i, Doni Muhammad
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 6, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.12(6).413-425

Abstract

Background: Nutritional intake determines the future growth and development of children under five. Objectives: This article aims to analyze the direct and indirect determinants of stunting. Methods: Systematic literature review selected from Scient Direct, Taylor & Francis, ProQuest, Wiley Online Library, and Pubmed. Publication years: Post-2017. Articles will be selected using PRISMA (Preferred. Reporting Items for Systematic. Reviews and Meta-analyses). Result: The direct factors causing stunting include boys (aOR 2.2; 95% CI 1.1-4.2) and low birth weight (aOR 2.55; 95% CI 2.05–3.15). Indirect factors include low socioeconomic (aOR = 5.41, 95% CI 3.91–7.48); low education (aOR = 2.55, 95% CI 1.26–5.17); pregnancy interval (AOR 0.71; 95% CI 0.58-0.87); and physical violence against mothers (aOR 1.83; 95% CI 1.21-2.77). Conclusions: The causes of stunting include child and other factors. Factors outside the child have more variations, including maternal, nutritional, and environmental factors.
Supplementation of omega-3 fatty acids can reduce tumor necrosis alpha ( TNF-α) levels and pain intensity in osteoarthritis patients Adengganan, Yogi; Muis, Siti Fatimah; Muniroh, Muflihatul
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 6, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.12(6).406-412

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi yang paling umum di seluruh dunia, dengan dampak yang kuat pada kesehatan individu dan populasi. Secara global prevalensi OA meningkat sebesar 113,2% dari 247,5 juta pada tahun 1990 menjadi 527,8 juta pada tahun 2019. Prevalensi OA di Indonesia meningkat seiring bertambahnya usia yaitu sebesar 5% pada individu berusia kurang dari 40 tahun, 30% pada usia 40-60 tahun, dan 65% pada usia di atas 60 tahun. Angka kejadian OA lutut relatif tinggi, yaitu 15,5% pada pria dan 12,7% pada wanita. Penyakit ini dapat menyebabkan nyeri kronis, kecacatan, dan menurunkan kualitas hidup penderita. Tingginya kadar sitokin pro inflamasi seperti TNF-α pada penderita OA dapat berperan sebagai faktor utama yang menginduksi kematian krondosit dan menghambat diferensiasi serta proliferasi kondrosit. Penelitian sebelumnya mengatakan bahwa suplementasi omega 3 dapat menurunkan kadar sitokin proinflamasi, memperbaiki nyeri, dan kekakuan fungsi fisik pada individu dengan OA lutut, namun belum ada yang meneliti pengaruh suplementasi omega 3 ini dengan penurunan kadar Tumor Necrosis Factor α (TNF-α).Tujuan: Menganalisis pengaruh  suplementasi asam lemak omega 3 terhadap kadar TNF-α dan intensitas nyeri pada penderita osteoarthritis. Metode: Studi ini merupakan quasi-experimental desain kelompok tunggal dengan rancangan penelitian one group pre-post test without control group design pada 31 pasien. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran antropometri, pengambilan sampel darah dan pengukuran skor nyeri dilakukan sebanyak dua kali, yaitu sebelum dan sesudah dilakukannya intervensi. analisa TNF-α menggunakan Enzym Linked Immunosorbent Assay (Elisa), intensitas nyeri menggunakan numeric rating scale (NRS). Analisis uji statistik pengaruh suplementasi asam lemak omega 3 terhadap kadar TNF-α dan intensitas nyeri menggunakan uji Wilcoxon.Hasil: Hasil yang diperoleh pada TNF-α dengan nilai P=0,007 dan intensitas nyeri dengan nilai P=0,001 yang menunjukkan hasil yang signifikan.Kesimpulan: Suplementasi asam lemak omega 3 pada penderita OA dapat mengasilkan beberapa mediator anti inflamasi yang mampu menurunkan kadar sitokin pro inflamasi TNF-α dan intensitas nyerisecara siginifikan.KATA KUNCI: asam lemak omega 3 ; tumor necrosis alpha (TNF-α); intensitas nyeri; inflamasi; osteoarthritis ABSTRACTBackground: Osteoarthritis (OA) is the most common joint disease worldwide, strongly impacting individual and population health. Globally, the prevalence of OA increased by 113.2% from 247.5 million in 1990 to 527.8 million in 2019. The prevalence of OA in Indonesia increases with age, namely by 5% in individuals under 40 years, 30% in those aged 40-60 years, and 65% in those over 60 years. The incidence of knee OA is relatively high, namely 15.5% in men and 12.7% in women. This disease can cause chronic pain and disability and reduce the quality of life of sufferers. High levels of pro-inflammatory cytokines such as TNF-α in OA sufferers can act as a major factor in inducing chondrocyte death and inhibiting chondrocyte differentiation and proliferation. Previous studies have shown that omega-3 supplementation can reduce proinflammatory cytokine levels and improve pain and stiffness of physical function in individuals with knee OA. Still, no one has studied the effect of omega-3 supplementation on reducing TNF-α levels.Objectives: To analyze the effect of omega-3 fatty acid supplementation on TNF-α levels and pain intensity in patients with osteoarthritis.Methods: This study is a quasi-experimental single-group design with a one-group pre-post test without a control group design in 31 patients. Data collection was carried out by anthropometric measurements, blood sampling, and pain score measurements twice, namely before and after the intervention. TNF-α analysis using Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (Elisa), pain intensity using a numeric rating scale (NRS). Statistical analysis of the effect of omega 3 fatty acid supplementation on TNF-α levels and pain intensity using the Wilcoxon test.Results: The results obtained on TNF-α with a P value = 0.007 and pain intensity with a P value = 0.001 showed significant results.Conclusion: Supplementation of omega-3 fatty acids in OA patients can produce several anti-inflammatory mediators that significantly reduce the levels of pro-inflammatory cytokines TNF-α and pain intensity.KEYWORDS: omega 3 fatty acids; tumor necrosis alpha (TNF-α); pain intensity; inflammation; osteoarthritisReceived: August 14, 2024; Revised: Nov 18 2024; Accepted: Nov 20, 2024; Available online: Nov 30, 2024; Published: Nov 30, 2024.
Analysis of exclusive breastfeeding and history of infectious diseases for wasting in children aged 12 - 59 months Farida, Jauharotul; Salimo, Harsono; Sumardiyono, Sumardiyono
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 6, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.12(6).436-444

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Indonesia menghadapi beban tinggi wasting pada anak. Secara global pada tahun 2018, 1 dari 10 balita mengalami berat badan di bawah normal atau status gizi terlalu kurusuntuk seusianya. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi status gizi (BB/TB) pada anak usia 0-59 bulan di Indonesia mencapai 8,5%. Di Jawa Tengah prevalensi BB/TB tercatat sebesar 7,1% (wasting = 5,5% dan severely wasting = 1,6%), sementara Kudus memiliki prevalensi 8,7% di atas rata-rata Jawa Tengah. Banyak faktor yang diketahui berkontribusi terhadap wasting diantaranya: pemberian ASI eksklusif dan asupan vitamin A yang tidak memadai; pemberian MP-ASI yang kurang berkualitas; balita yang menderita sakit seperti diare, ISPA, kecacingan, dan penyakit infeksi lainnya; imunisasi tidak lengkap; keterlambatan penanganan balita yang sakit; dan lingkungan rumah yang kurang bersih.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dan riwayat penyakit infeksi (diare, ISPA, dan tuberkulosis) dengan kejadian wasting pada anak usia 12-59 bulan.Metode:  Desain penelitian yang digunakan adalah case control dengan 150 anak balita sebagai subjek penelitian (50 wasting dan 100 gizi normal). Pengambilan data dilakukan pengukuran BB dan TB menggunakan alat ukur digital, serta wawancara kepada orang tua/wali menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan chi-square.Hasil: Variabel yang mempunyai hubungan dan secara signifikan dengan kejadian Wasting pada anak usia 12-59 bulan adalah pemberian ASI eksklusif (p-value=0.018). Sedangkan riwayat penyakit infeksi Diare (p-value=0.271), ISPA (p-value=0.950), dan Tuberkulosis (p-value=1.000) tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian Wasting di Kabupaten Kudus. Kesimpulan: Pemberian ASI eksklusif pada anak balita mempunyai korelasi dengan kejadian wasting. Pemenuhan nutrisi balita dengan ASI eksklusif dapat menguatkan imunitas tubuh pada anak terhadap berbagai macam penyakit infeksi.KATA KUNCI: wasting; ASI eksklusif; diare; ISPA; tuberkulosis   ABSTRACTBackground: Indonesia faces a high burden of wasting among children. Globally, 1 in 10 toddlers were underweight or wasting for their age in 2018. According to the 2023 Indonesian Health Survey, the prevalence of nutritional status (weight/height) among children aged 0-59 months in Indonesia reached 8.5%. In Central Java, the prevalence was 7.1% (wasting = 5.5% and severely wasting = 1.6%), while Kudus had a prevalence of 8.7%, above the Central Java average. Many factors are known to contribute to wasting, including inadequate exclusive breastfeeding and vitamin A intake; poor-quality complementary feeding (MP-ASI; illnesses such as diarrhea, acute respiratory infections (ARI), worm infections, and other infectious diseases; incomplete immunization; delayed treatment of sick toddlers; and poor household hygiene. Objectives: This study aims to determine the relationship between exclusive breastfeeding and a history of infectious diseases (Diarrhea, ARI, and Tuberculosis) with the incidence of wasting in children aged 12-59 months.Methods: This case-control study involved 150 children (50 with wasting and 100 with normal nutrition status). Data was collected through Weight measurement using digital scales, Height measurement using digital TB measuring instruments, and interviews with parents/guardians using questionnaires. The data analysis used was univariate using frequency distribution and bivariate using chi-square.Results: The variable that has a significant relationship with the incidence of wasting in children aged 12-59 months is exclusive breastfeeding (p-value = 0.018). In comparison, the history of infectious diseases diarrhea (p-value = 0.271), ARI (p-value = 0.950), and tuberculosis (p-value = 1.000) did not have a significant relationship with the incidence of Wasting in Kudus Regency.Conclusions: Exclusive breastfeeding in toddlers correlates with the incidence of wasting. Fulfilling toddler nutrition with exclusive breastfeeding can strengthen the child's body's immunity against various infectious diseases.KEYWORDS: wasting; exclusive breastfeeding; diarrhea; ARI; tuberculosis Received: Nov 26, 2024; Revised: Nov 12 2024; Accepted: Nov 28, 2024; Available online: Nov 30, 2024; Published: Nov 30, 2024.

Page 1 of 1 | Total Record : 7