cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)
ISSN : 23033045     EISSN : 2503183X     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) abbreviated IJND (p-ISSN 2303-3045 and e-ISSN 2503-183X) is a peer-reviewed scientific journal publishing updated research and non-research articles in the area of nutrition and dietetics. This journal is published three times annually (January, May, and September) by Alma Ata University Press in collaboration with Indonesian Nutrition Association (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "VOLUME 13 ISSUE 2, 2025" : 8 Documents clear
Curcumin compounds and total microorganisms in turmeric kombucha as a potential therapy in rats obesity model Nisa', Zulfia Rosyidatun; Jusuf, Sinu Andhi; Yudhani, Ratih Dewi
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 2, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).114-124

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Prevalensi obesitas meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir dan berisiko menimbulkan berbagai komplikasi seperti diabetes melitus tipe 2, kardiovaskular, bahkan kanker. Terapi farmakologi obesitas seperti liraglutide dan orlistat dapat memberikan efek negatif pada tubuh seperti gangguan saluran pencernaan. Hal ini mendorong pengembangan terapi berbahan alami untuk obesitas. Kombucha dan kunyit kuning secara tunggal dilaporkan bersifat antioksidan dan mampu memperbaiki obesitas. Kombinasi kombucha kunyit kuning berpotensi dikembangkan sebagai minuman probiotik untuk obesitas karena senyawa bioaktif yang dikandungnya. Namun, eksplorasi fitokimia dan mikroorganisme pada turmeric kombucha masih sangat terbatas dan penelitian kombinasi kombucha kunyit kuning untuk obesitas belum pernah dilakukan sebelumnya.Tujuan: Mengeksplorasi kandungan fitokimia dan total mikroorganisme kombucha kunyit kuning dan kemampuannya untuk memperbaiki obesitas. Metode: Eksperimental laboratorik dengan rancangan pre-post control group dan deskriptif observasional. Analisis kurkumin menggunakan KLT Densitometri. Mikroorganisme dianalisis dengan metode pour plate kemudian dihitung berdasarkan total plate count. Tikus model obesitas diberikan tiga variasi dosis kombucha kunyit kuning selama 28 hari dan dilakukan penilaian perubahan indeks Lee yang diuji statistik menggunakan Kruskal Wallis (p<0.05) dan Post hoc Dunn Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan kandungan kurkumin pada kombucha kunyit kuning sebesar 0,73 mg/L dan total mikroorganisme sebesar 2,60 x 107 CFU/ml. Kombucha kunyit kuning memperbaiki indeks Lee tikus model obesitas dibanding kontrol negatif (p<0.05) dengan dosis paling efektif sebesar 4,4 ml/200 g/hari (dosis tertinggi di penelitian ini). Kesimpulan: Kombucha kunyit kuning memiliki kandungan kurkumin dan manfaat mikoorganisme yang dapat memperbaiki indeks Lee pada tikus model obesitas. Kata Kunci: kombucha kunyit kuning; kurkumin; mikroorganisme; obesitas   ABSTRACT Background: The prevalence of obesity has increased significantly in the last decade, raising the risk of complications such as type 2 diabetes, cardiovascular diseases, and even cancer. Pharmacological therapies for obesity, such as liraglutide and orlistat, can have negative effects on the body, including gastrointestinal disorders. This drives interest in the development of natural-based therapies for obesity. Kombucha and turmeric individually are known for their antioxidant properties and their ability to address obesity. The combination of turmeric kombucha has the potential to be developed as a probiotic drink for obesity due to the bioactive compounds it contains. However, research into the phytochemical profile and microorganisms in turmeric kombucha is still limited, and no studies have been conducted on the combination of turmeric kombucha for obesity treatment.Objectives: To explore the phytochemical content and total microorganisms in turmeric kombucha and to evaluate its potential in improving obesity treatment.Methods: Laboratory experiments were conducted with pre-post control group design and descriptive observational analysis. Curcumin levels were analysed using KLT Densitometry, while microorganisms were identified through the pour plate method and quantified via total plate count. Obese model rats received three different doses of turmeric kombucha over 28 days, and changes in their Lee index value were assessed and statistically analysed using Kruskal Wallis (p<0.05) and Post hoc Dunn Test. Results: The findings revealed that the curcumin concentration in turmeric kombucha was 0.73 mg/L and the total microorganisms were 2,60 x 107 CFU/ml. Kombucha yellow turmeric improved the Lee index of obese model rat compared to negative control (p<0.05) with the most effective dose being 4.4 ml/200 g/day (the highest dose in this study).Conclusions: Turmeric kombucha contains curcumin and beneficial microorganisms, which can improve the Lee index in obese model rats.Keywords: curcumin; obesity; microorganisms; turmeric kombucha Received: 17 Jan 2025; Revised: 20 Sep 2024; Accepted: 26 Jan 2025; Available online: 30 Mar 2025; Published: 30 Mar 2025
Proximate levels, physical characteristics, and sensory characteristics of mocaf brownies with the addition of snakehead fish (Channa striata) Fitriyanti, Addina Rizky; Handarsari, Erma; Sunarto, Sunarto; Asysyifa, Rayyana Nur Aurora; Setiyawan, Teddy Hari; Sulisyaningrum, Hersanti; Luqyana, Novia Salma; Aufanida, Arnia Azahro
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 2, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).78-87

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Pola konsumsi snack merupakan bagian dari pola makan. Brownies merupakan makanan tinggi energi yang populer karena mempunyai rasa yang lezat dan manis. Brownies adalah sejenis kue coklat yang mempunyai tekstur padat, tidak berongga, dan tidak begitu empuk karena brownies tidak membutuhkan pengembang atau gluten. Oleh karena itu brownies dapat dibuat dari tepung mocaf. Namun kandungan protein dalam tepung mocaf rendah sehingga perlu ditambahkan sumber protein seperti ikan gabus (Channa striata) untuk meningkatkan nilai gizi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar proksimat, karakteristik fisik, dan karakteristik sensori brownies mocaf dengan penambahan ikan gabus (Channa striata).Metode: Penelitian eksperimen yang menggunakan rancangan acak lengkap untuk mengkaji kadar proksimat, karakteristik fisik, dan karakteristik sensori. Konsentrasi daging ikan gabus terdiri dari 4 taraf perlakuan (0 g, 60 g, 80 g, dan 100 g). Analisis statistik menggunakan uji One-Way ANOVA dan Duncan Multiple Range Test (DMRT).Hasil: Brownies mocaf dengan penambahan ikan gabus mempunyai kadar air 39,2%-48,7%, kadar abu 1,4-1,5%, kadar protein 7,7-17,7%, kadar lemak 32,9-35,4%, dan kadar karbohidrat 9,4-22,2%. Analisis sifat fisik hardness, cohesiveness, gumminess elasticity, and adhesiveness masing-masing 3406,8-4228,4 g/mm, 0,4 g/mm, 1106,4-1560 g/mm, 6,6-8,7 g/mm, and 0,4-0,9 mj. Semakin banyak penambahan ikan gabus akan menurunkan nilai kesukaan brownies mocaf.Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ikan gabus berpengaruh secara signifikan terhadap kadar air, kadar protein serta sifat sensoris warna, rasa, dan tekstur brownies mocaf. KATA KUNCI: brownies; ikan gabus; mocaf; pangan lokal; PMT-AS ABSTRACTBackground:  Snack consumption patterns are part of eating patterns. Brownies are a popular high-energy food because they have a delicious and sweet taste. They are a type of chocolate cake with a dense texture that is not hollow and is not very soft because brownies do not require a developer or gluten. Therefore, brownies can be made from mocap flour. However, the protein content in mocap flour is low, so it is necessary to add protein sources such as snakehead fish (Channa striata) to increase nutritional value.Objectives: This research aims to analyze the proximate levels, physical characteristics, and sensory characteristics of brownies by adding snakehead fish.Methods: Experimental research using a completely randomized design to examine proximate levels and physical and sensory characteristics. The concentration of snakehead fish consists of 4 treatment levels (0 g, 60 g, 80 g, and 100 g.). Statistical analysis using One-Way ANOVA and Duncan Multiple Range Test (DMRT).Results: Mocaf brownies with the addition of snakehead fish have a water content of 39.2%-48.7%, ash content of 1.4-1.5%, protein content of 7.7-17.7%, fat content of 32.9-35.4%, and carbohydrate content of 9.4-22.2%. Analysis of physical properties of hardness, cohesiveness, gumminess elasticity, and adhesive power were 3406.8-4228.4 g/mm, 0.4 g/mm, 1106.4-1560 g/mm, 6.6-8.7 g/mm, and 0.4-0.9 mj, respectively. The more snakehead fish added, the lower the preference value of mocaf brownies.Conclusions: The results showed that the addition of snakehead fish had a significant effect on water content, protein content, and sensory properties of color, taste, and texture of mocaf brownies. KEYWORD: brownies; channa striata; mocaf; mocal food; supplementary food for school children program Received: 16 Dec 2024; Revised: 20 Aug 2024; Accepted: 20 Jan 2025; Available online: 24 Mar 2025; Published: 30 Mar 2025.
Quality analysis of dragon fruit yoghurt for dyslipidemic patients Kasmiyetti, Kasmiyetti; Hasneli, Hasneli; Nabiella, Nabiella; Febiola, Febiola
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 2, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).125-131

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang:  Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia dengan faktor risikonya yaitu profil lipid dalam batas yang tidak normal.Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik yoghurt sari buah naga terhadap kadar profil lipid penderita dislipidemia pada pegawai Poltekkes Kemenkes Padang Kampus I dan II.Metode: Desain penelitian adalah quasi eksperimen with pre-post test design, dengan membandingkan kadar lipid profile sebelum dengan setelah diberikan perlakuan. Total sampel berjumlah 30 orang, dipilih dengan menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan selama 21 hari, dengan pemberian yoghurt sebanyak 1 botol per hari, disiang hari, melakukan recall, pengisian kuesioner dari pemeriksaan laboratorium profil lipid (Cholesterol, HDL, LDH and triglyceride). Uji statistik yang digunakan adalah T-Test dependent dan independent.Hasil: Dari hasil penelitian terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar kolesterol total responden awal dan akhir sampel perlakuan (p < 0,05), dan terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar trigliserida responden awal dan akhir sampel perlakuan  (p < 0,05). Tidak ada perbedaan yang bermakna kadar lipid profile awal dengan akhir sampel kontrol  (p > 0,05). Tidak ada perbedaan yang bermakna kadar lipid profile akhir sampel perlakuan  dengan  sampel kontrol  (p > 0,05). Didapatkan kandungan zat gizi vitamin B2, B3, B6, B7, C dan serat dalam 100 mg yoghurt sari buah naga, yang beberapa diantaranya memiliki hubungan dengan perubahan kadar lipid profile.Kesimpulan: Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melanjutkan penelitian dengan jumlah sampel yang lebih banyak dan uji kandungan zat aktif produk sehingga dapat dijadikan salah satu minuman alternatif untuk penderita dislipidemia. Kata Kunci: dislipidemia, yoghurt, sari buah naga  ABSTRACTBackground: Cardiovascular disease is the number one cause of death in the world with a risk factor, namely a lipid profile within abnormal limits.Objectives: The purpose of this study was to determine the effect of giving dragon fruit yoghurt probiotics on the profile of dyslipidemia sufferers in the Health Polytechnic of the Ministry of Health, Padang Campus I and II.       Methods: The research design was a quasi-experimental with pre-post test design, by comparing the levels of lipid profile before and after being given treatment. The total sample size is 30 people, selected using purposive sampling. Data collection was carried out for 21 days, by giving 1 bottle of yoghurt per day, during day by recalling and filling out questionnaires from laboratory tests (lipid profile). The statistical test used is T-Test dependent and independent.      Results: From the results of the study, there was a significant difference in the total cholesterol levels of the initial and final respondents of the treatment sample (p < 0.05), and there was a significant difference in the triglyceride levels of the initial and final respondents of the treatment sample (p < 0.05). There was no significant difference between the initial and final profile of the control sample (p > 0.05). There was no significant difference in the final profile of the treatment sample with the control sample (p > 0.05). It was found that the nutritional content of vitamins B2, B3, B6, B7, and C and fiber in 100 mg of dragon fruit juice yoghurt, some of which have a relationship with changes in lipid profile levels.      Conclusions: It is recommended that further researchers continue research with a larger number of samples and test the product's active substance content so that it can be used as an alternative drink for people with dyslipidemia. Keywords: dyslipidemia, yoghurt, dragon fruit juiceReceived: 23 Jan 2025; Revised: 06 Sep 2024; Accepted: 24 Jan 2025; Available online: 30 Mar 2025; Published: 30 Mar 2025
The correlation of antenatal care and nutrition parenting with stunting incidence in toddlers age 24-59 months Ummah, Khoiroh; Ningtyias, Farida Wahyu; Ratnawati, Leersia Yusi
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 2, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).88-98

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Prevalensi balita stunting di Indonesia sebesar 21,6%. Faktor penyebab stunting antara lain karena kurangnya pemahaman orangtua dalam pemenuhan gizi sebelum dan saat hamil terutama pada masa 1000 HPK. Salah satu upaya meminimalisir terjadinya stunting adalah melakukan pemeriksaan Antenatal Care (ANC) pada masa kehamilan. Rangkaian kegiatan pemeriksaan ANC yang berpengaruh terhadap stunting adalah kelengkapan frekuensi kunjungan dan layanan 10T. Pola asuh orangtua terutama ibu dianggap penting dalam penentuan status gizi dan tumbuh kembang anak. Aspek pola asuh ibu yang berpengaruh terhadap kejadian stunting adalah praktik pemberian makan yang meliputi pemberian ASI Eksklusif dan MP-ASI.Tujuan: Menganalisis hubungan antara ANC dan pola asuh gizi dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan.Metode: Penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada 111 balita usia 24-59 bulan yang dipilih melalui Simple Random Sampling, selama kurun waktu Januari-Maret 2023 di wilayah kerja Puskesmas Jelbuk Kabupaten Jember yang prevalensi balita stunting mencapai angka 34,4%. Penelitian ini dilakukan dengan observasi metode wawancara, pengukuran berat badan dan tinggi badan secara langsung, kuesioner, formular dan food recall 2x24 jam. Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji chi-square. Penelitian ini telah lolos uji etik penelitian kesehatan dengan nomor sertifikat No.63/KEPK/FKM-UNEJ/VI/2021.Hasil: Sebagian besar balita dalam penelitian ini memiliki status gizi (TB/U) dalam kategori stunting (66.7%). Balita stunting banyak terjadi pada balita perempuan dengan rentang usia 21-30 bulan. Balita stunting banyak terjadi pada ibu dengan usia 21-25 tahun, berpendidikan dasar, tingkat pengetahuan gizi kurang, tidak bekerja, jumlah anggota keluarga kecil, dan pendapatan keluarga > UMK. Tidak terdapat hubungan bermakna (p>0,05) antara ANC (p=0,544) dan pola asuh gizi (p=1,000) dengan kejadian stunting balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Jelbuk Kabupaten Jember.Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara ANC dan pola asuh gizi dengan kejadian stunting balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Jelbuk Kabupaten Jember. KATA KUNCI: stunting; ANC; pola asuh gizi  ABSTRACTBackground: The prevalence of stunting under five in Indonesia is 21,6%. Factors causing stunting include malnutrition before and during pregnancy, especially at 1000 HPK. One of the efforts to minimize stunting is to carry out pregnancy ANC. The series of ANC examinations that affect stunting is the completeness of the frequency of visits and 10T services. Parenting style is important in determining the nutritional status of children. Aspects of maternal parenting that influence stunting are the practice of exclusive breastfeeding and complementary breastfeeding.Objective: To analyze the relationship between the completeness of the frequency of visits and ANC 10T services and nutritional care patterns with the incidence of stunting in children aged 24-59 months.Methods: Observational analytic study with cross-sectional design. A sample of 111 toddlers aged 24-59 months were selected by Simple Random Sampling, starting from January to March 2023 in the working area of the Jelbuk Health Center, Jember Regency, where the stunting prevalence was 34.4%. Data were collected by observation of interview methods, direct measurement of weight and height, questionnaires, formulas and 2x24-hour food recalls. The results were analyzed using the chi-square test. This research has passed the health research ethics test with certificate number No.63/KEPK/FKM-UNEJ/VI/2021.Results: Most of the toddlers in this study had nutritional status (Height/Age) in the stunting category (66.7%) occurs in female infants aged 21-30 months, mothers aged 21-25 years, basic education, lack of nutrition knowledge, not working, small number of family members, and income family > UMK. There was no significant relationship (p>0.05) between ANC (p=0.544) and nutritional care (p=1.000) with the incidence of stunting in children aged 24-59 months in the working area of the Jelbuk Health Center, Jember Regency.Conclusions: There is no significant relationship between ANC and nutritional care with the incidence of stunting in children aged 24-59 months in the working area of the Jelbuk Health Center, Jember Regency. KEYWORDS: stunting; ANC; nutritional parentingReceived: 30 Dec 2024; Revised: 27 Aug 2024; Accepted: 22 Jan 2025; Available online: 30 Mar 2025; Published: 30 Mar 2025.
Diet quality index for adolescents scores among 16-18 years old adolescents Hidayat, Zahra Fadhlina; Marjan, Avliya Quratul; Wahyuningsih, Utami
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 2, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).132-139

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Remaja merupakan kelompok usia dengan kebutuhan gizi yang tinggi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya. Menurut Kementerian Kesehatan saat ini remaja tengah mengalami triple burden of malnutrition. Permasalahan gizi yang terjadi saat remaja dapat berdampak negatif dan terbawa hingga dewasa. Asupan gizi yang tidak seimbang serta kualitas diet yang rendah menjadi salah satu penyebab permasalahan gizi yang dialami remaja.Tujuan: Menganalisis kualitas diet remaja pada SMA Yadika 12 Depok menggunakan Diet Quality Indeks for Adolescents (DQI-A).Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Penelitian dilakukan di SMA Yadika 12 Depok dengan subjek sebanyak 108 siswa berusia 16-18 tahun. Pengambilan data dilakukan pada Februari 2024. Data kualitas diet didapatkan dari konversi form food recall 2x24 jam akhir pekan dan hari kerja dengan Diet Quality Indeks for Adolescents (DQI-A) yang telah dimodifikasi berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang 2014. Data yang telah terkumpul di analisis menggunakan uji Mann-Whitney.Hasil: Rata rata skor DQ adalah 7,55%, skor DD adalah 63,89%, dan skor DE adalah 26,91% dan skor kualitas diet (DQI-A) adalah 32,76%. Nilai terendah 13,38% dan tertinggi 58,72%. Berdasarkan nilai rata rata diketahui bahwa 54 responden (50%) memiliki kualitas diet kurang dan 54 responden (50%) memiliki kualitas diet baik. Hasil uji mann-whitney antara kualitas diet akhir pekan dan hari kerja responden (p= >0,05).Kesimpulan: Rata rata kualitas diet responden 32,76%. Tidak terdapat perbedaan kualitas diet remaja pada akhir pekan dan hari kerja. Skor DQ menjadi yang teredah sehingga perlu adanya perhatian lebih terhadap komponen tersebut, dapat dengan melakukan penyuluhan berkala terkait faktor dan dampak dari rendahnya kualitas diet. KATA KUNCI: kualitas diet; diet quality index for adolescents; kualitas pangan; keberagaman pangan; keseimbangan pangan  ABSTRACTBackground: Adolescents have high nutritional needs to support their growth and development. According to the Indonesian Ministry of Health, adolescents are currently experiencing a triple burden of malnutrition. Nutritional problems during adolescence can have negative impacts and persist in adulthood. Unbalanced dietary intake and low diet quality are key contributors to these nutritional issues in adolescents.Objectives: To analyze the diet quality of adolescents at SMA Yadika 12 Depok using the Diet Quality Index for Adolescents (DQI-A).Methods: This study is quantitative research with a cross-sectional design. The research was conducted at SMA Yadika 12 Depok with 108 subjects aged 16-18. Data collection took place in February 2024. Diet quality data were obtained by converting food recall forms (2x24 hours) for weekends and weekdays using the Diet Quality Index for Adolescents (DQI-A) based on the 2014 Indonesian Balanced Nutrition Guidelines. The collected data is analyzed using the Mann-Whitney test.Results: The average DQ score was 7.55%, the DD score was 63.89%, the DE score was 26.91%, and the overall diet quality score (DQI-A) was 32.76%. The lowest score was 13.38% and the highest was 58.72%. Based on the average values, 54 respondents (50%) had poor diet quality and 54 respondents (50%) had good diet quality. The Mann-Whitney test showed no significant difference in diet quality between weekends and weekdays (p > 0.05).Conclusions: The average diet quality of respondents is 32.76%. There is no difference in adolescent diet quality between weekends and weekdays. The DQ score was the lowest, indicating a need for greater attention to this component, potentially through regular counseling on the factors and impacts of poor diet quality. KEYWORD: diet quality; diet quality index for adolescents; dietary quality; dietary diversity; dietary equilibrium Received: 14 Jan 2025; Revised: 30 Dec 2024; Accepted: 26 Jan 2025; Available online: 30 Mar 2025; Published: 30 Mar 2025
Acceptability of patin fish dried noodles substituted with yellow pumpkin flour in toddler wasting Fitriani, Fitriani; Yuniarti, Yuniarti; Ambarwati, Ria
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 2, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).99-107

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Upaya penanganan masalah gizi kurang pada balita sangat penting dilakukan agar balita tidak masuk ke dalam kondisi gizi buruk dan menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius. Upaya pemilihan pangan lokal yang berprotein tinggi dapat ditambahkan/disubstitusi pada produk mi. Mi kering ikan patin yang disubstitusi tepung labu kuning dengan komposisi tepung labu kuning 7,5% memiliki kualitas kadar air terbaik berdasarkan SNI 8217-2015), sehingga direkomendasikan untuk dimodifikasi dengan berbagai resep dan teknik pengolahan. Pengolahan mi kering dapat diolah menjadi mi goreng, mi rebus atau variasi lainnya. Penyajian mi instan dalam bentuk mi goreng lebih disukai oleh balita usia 24 - 60 bulan.Tujuan: Menguji daya terima mi kering ikan patin yang disubstitusi tepung labu kuning pada balita gizi kurang di wilayah kerja Puskesmas Telogosari Wetan Kota Semarang.Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah pre-experimental design dengan rancangan one- shot case study. Tahapan penelitian terdiri dari: tahap pembuatan produk dan tahap uji daya terima produk, yaitu dengan 3 modifikasi resep yang akan diberikan pada hari ke-1 sampai hari ke-3, yaitu Mi Gosis (Mi Goreng Sosis), Mi Goreng Telur Puyuh (Mi Teluh) dan Mi Gong (Mi Goreng Kampung).Hasil: Tiga resep modifikasi mi kering ikan patin substitusi tepung labu kuning ini memiliki nilai gizi 224,6 kalori- 385,115 kalori, hal ini dapat memenuhi rata-rata 15% kebutuhan sajian makanan balita sebagai selingan. Pada uji daya terima dari 3 resep, sisa tertinggi (>20%) pada hari ke-2 sebanyak 56,7% balita. Daya terima tertinggi balita adalah pada olahan mi kering ikan patin hari ketiga atau mi goreng kampung yaitu sebanyak 22 orang (73,3%).Kesimpulan: Balita dapat menerima mi kering ikan patin dengan daya terima tertinggi adalah pada olahan mi goreng kampung yaitu sebanyak 22 orang (73,3%).KATA KUNCI: daya terima; mi kering ikan patin tepung labu kuning; 3 modifikasi resep; balita wastingABSTRACTBackground: Efforts to deal with malnutrition problems in toddlers are very important so that toddlers do not enter into malnutrition conditions and cause more serious health problems. Efforts to select high-protein local foods can be added/substituted to noodle products. Dried patin fish noodles substituted with yellow pumpkin flour with a composition of pumpkin flour of 7.5% have the best moisture content quality based on SNI 8217-2015), so it is recommended to be modified with various recipes and processing techniques. Dry noodle processing can be processed into fried noodles, boiled noodles, or other variations. The presentation of instant noodles in the form of fried noodles is preferred by toddlers aged 24 – 60 months.Objectives: This study aimed to test the acceptability of patin fish dried noodles substituted with yellow pumpkin flour  in malnourished toddlers in the working area of the Telogosari Wetan Health Center in Semarang City.Methods: The type of research used is a pre-experimental design with a one-shot case study design. The stages of the research consist of the product Preparation Stage and Product Acceptability Test Stage, namely with 3 recipe modifications that are said to be given on days k-e 1 to 3, namely Mi Gosis (Sausage Fried Noodles), Quail Egg Fried Noodles (Teluh Noodles), and Gong Noodles (Village Fried Noodles).Results: These three modified dry catfish noodle recipes have a nutritional value of 224.6 - 385,115 calories, this can fulfill an average of 15% of toddlers' food needs as a distraction. In the acceptability test of 3 recipes, the highest remaining (>20%) was on the 2nd day for 56.7% of toddlers. The highest acceptability for toddlers is processed dried catfish noodles on the third day or village fried noodles, namely 22 people (73.3%).Conclusions: Toddlers can accept dried catfish noodles with the highest acceptability being KEYWORD: acceptability; dried patin fish noodles yellow pumpkin flour; 3 recipe modifications; toddler wasting Received: 18 Dec 2024; Revised: 26 Apr 2024; Accepted: 24 Jan 2025; Available online: 30 Mar 2025; Published: 30 Mar 2025
Relationship between menopausal status, fat intake, and fiber intake with women cholesterol level Heldi, Ilza Wahyuni; Dewi, Mira; Briawan, Dodik
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 2, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).140-148

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang : Kadar kolesterol yang tinggi merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular. Kadar kolesterol yang tinggi disebabkan oleh berbagai faktor antara lain asupan lemak dan status menopause. Wanita menopause rentan mengalami kadar kolesterol tinggi karena pada wanita pascamenopause terjadi penurunan produksi hormon estrogen yang berfungsi mengatur metabolisme lipid. Asupan lemak yang tinggi mempengaruhi kadar kolesterol. Namun mengonsumsi asupan serat yang cukup dapat mengontrol kadar kolesterol agar tetap stabil. Banyak penelitian telah dilakukan mengenai hubungan antara asupan lemak dan serat dengan kadar kolesterol. Namun, hanya sedikit yang melakukan penelitian pada wanita, terutama mengenai status menopause. Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara status menopause, asupan lemak, dan asupan serat dengan kadar kolesterol wanita di indonesia.Metode : Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan subjek perempuan berusia 15-54 tahun di 10 provinsi di Indonesia. Kadar kolesterol darah diperoleh dari pengukuran darah kapiler dan asupan lemak dan serat diperoleh dari wawancara dengan metode SQ-FFQ yang dilakukan oleh tenaga kesehatan terampil. Status menopause diperoleh dari wawancara yang dilakukan oleh enumerator terlatih yang menanyakan riwayat menstruasi dalam satu tahun. Klasifikasi status menopause dibedakan menjadi belum menopause, pra menopause, dan pasca menopause. Hasil : Dari total 606 subjek, 122 subjek mempunyai kadar kolesterol tinggi. Terdapat hubungan yang signifikan antara status menopause dengan kadar kolesterol (p<0,05) dengan tingkat korelasi r=0,013. Dan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan lemak dan asupan serat dengan kadar kolesterol (p>0,05) dengan tingkat korelasi masing-masing r=0,060 dan r=0,297.Kesimpulan : Status menopause mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kadar kolesterol. KATA KUNCI : asupan lemak; asupan serat; kadar kolesterol; status menopause; wanita ABSTRACT Background : High cholesterol levels are a risk factor for cardiovascular disease. High cholesterol levels are caused by various factors including fat intake and menopausal status. Menopausal women are susceptible to high cholesterol levels because in postmenopausal women there is a decrease in the production of the hormone estrogen which functions to regulate lipid metabolism. High fat intake affects cholesterol levels. However, consuming sufficient fiber intake can control cholesterol levels so that they remain stable. Many studies have been conducted on the relationship between fat and fiber intake and cholesterol levels. But, only a few have studied in women, especially regarding menopausal status.Objectives : The aim of this study was to determine whether there is a relationship between menopausal status, fat intake and fiber intake with cholesterol levels in Indonesian women.Methode : The design of this study was cross sectional with female subjects aged 15-54 years in 10 provinces in Indonesia. Subject selection will be carried out using purposive sampling methode. Blood cholesterol levels were obtained from capillary blood measurements and fat and fiber intake were obtained from interviews using SQ-FFQ method conducted by skilled health workers. Menopausal status was obtained from interviews conducted by trained enumerators who asked about menstrual history within one year. The classification of menopausal status is divided into not yet menopausal, pre-menopausal, and post-menopausal.Result : Of the total 606 subjects, 20,1% subjects had high cholesterol levels. The average fat intake of the subjects was 47.5 g or 75%. The average fiber intake of the subjects was 12.5 g or 42.6%. There is a significant relationship between menopausal status and cholesterol levels (p<0.05) with a correlation level of r=0.013. And there was no significant relationship between fat intake and fiber intake and cholesterol levels (p>0.05) with correlation levels of r=0.060 and r=0.297 respectively.Conclution : Menopausal status has a significant effect on cholesterol levels. KEY WORDS: cholesterol level; fat intake; fiber intake; menopausal status; women Received: 06 Jan 2025; Revised: 26 July 2024; Accepted: 26 Jan 2025; Available online: 30 Mar 2025; Published: 30 Mar 2025
Relationship between food choices and eating habits with nutritional status of public high school teachers Nur Hasanah, Laras Eka; Sari, Yulia; Febrinasari, Ratih Puspita
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 2, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).108-113

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Overweight merupakan kondisi terjadinya penumpukan lemak berlebih di dalam tubuh yang berisiko bagi kesehatan. Prevalensi overweight Kota Surakarta sebesar 24,03%.Menurut Riskesdas (2018), PNS, TNI, Polri, dan pegawai BUMN dan BUMD sebanyak 20% mengalami obesitas sentral, sesuai dengan data Kemenkes. Data Pokok Pendidikan (2022) menunjukkan bahwa 69,23% PNS (Pegawai Negri Sipil) adalah guru. Guru memiliki banyak pekerjaan dan merasa tertekan saat bekerja. Terlalu banyak makan adalah cara untuk mengurangi stres. Kebiasaan makan buruk yaitu terlalu banyak mengkonsumsi makanan tinggi energi, karbohidrat, lemak, rendah serat menyebabkan penambahan berat badan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pemilihan makan dan kebiasaan makan dengan status gizi guru SMA Negeri di Surakarta.Tujuan: Mengetahui hubungan pemilihan makan dan kebiasaan makan dengan status gizi pada guru di SMA Negeri Kota Surakarta..Metode: Desain penelitian Cross-Sectional. Populasi penelitian adalah guru di SMA Negeri di Surakarta dengan 96 responden. Data kebiasaan makan menggunakan kuesioner Adolescent Food Habits Checklist (AFHC), data pemilihan makan dengan kuesioner Food Choice Questionnaire (FCQ) dan status gizi dengan pengukuran antropometri. Uji statistik menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru paling banyak berstatus gizi pre-obesitas (47.9%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan makan pada guru adalah makan sehat sebesar 65,2%. Guru paling banyak melakukan pemilihan makanan sesuai dengan weight control sebanyak 11 responden 23,9%. Terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan makan dan pemilihan makan dengan status gizi pada guru di SMA Negeri Kota Surakarta.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan makan dan pemilihan makan dengan status gizi, hal ini bisa disebabkan karena kebiasaan makan yang tidak sesuai pedoman gizi seimbang merupakan penyebab utama kelebihan berat. KATA KUNCI: pemilihan makan ; kebiasaan makan ; status gizi ; guru ABSTRACTBackground: Overweight is a condition of excessive fat accumulation in the body that is risky for health. According to Riskesdas (2018), civil servants, TNI, Polri, and employees of BUMN and BUMD as much as 20% have central obesity, in accordance with data from the Ministry of Health. Basic Education Data (2022) shows that 69.23% of civil servants are teachers. Teachers have a lot of work and feel stressed Background: Overweight is a condition of excessive fat accumulation in the body that is risky for health. According to Riskesdas (2018), civil servants, TNI, Polri, and employees of BUMN and BUMD as much as 20% have central obesity, in accordance with data from the Ministry of Health. Basic Education Data (2022) shows that 69.23% of civil servants are teachers. Teachers have a lot of work and feel stressed at work. Overeating is a way to reduce stress. Bad eating habits that consume too much food high in energy, carbohydrates, fat, low in fiber cause weight gain. This study was conducted to determine the relationship of food selection and eating habits with the nutritional status of public high school teachers in Surakarta.Objectives: To determine the relationship between food selection and eating habits with nutritional status among teachers in public high schools in Surakarta City.Methods: Cross-Sectional research design. The study population was teachers in public high schools in Surakarta with 96 respondents. Data on eating habits using the Adolescent Food Habits Checklist (AFHC) questionnaire, food selection data with the Food Choice Questionnaire (FCQ) and nutritional status with anthropometric measurements. Statistical test using Chi-Square test.Results: The results showed that most teachers had pre-obese nutritional status (47.9%). The results showed that the eating habits of teachers were healthy eating by 65.2%. Most teachers make food choices in accordance with weight control as many as 11 respondents 23.9%. There is a significant relationship between eating habits and food selection with nutritional status in teachers in public high schools in Surakarta.Conclusions: There is a significant relationship between eating habits and food selection with nutritional status, this can be due to eating habits that are not in accordance with balanced nutritional guidelines are the main cause of overweight..KEYWORD: food selection ; eating habits ; nutritional status ; teachers Received: 31 July 2024; Revised: 22 Apr 2024; Accepted: 14 Jan 2025; Available online: 30 Mar 2025; Published: 30 Mar 2025

Page 1 of 1 | Total Record : 8