cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Naditira Widya
ISSN : 14100932     EISSN : 25484125     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 545 Documents
Situs Jangkung dan Komunitas Maanyan sunarningsih wasita
Naditira Widya Vol 10 No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6155.072 KB) | DOI: 10.24832/nw.v10i2.39

Abstract

Situs pemukiman kuna Pulau Jangkung, Kabupaten Tabalong terletak di tepi aliran anak Sungai Tabalong, telah diteliti oleh Balai Arkeologi Kalimantan Selatan pada tahun 2012. Keberadaan situs tersebut cukup menarik, karena letaknya yang berada di tempat yang jauh dari pemuiman sekarang, dan berada di lereg bukit dengan aliran sungai yang engelilinginya. Meskipun demikian, siapakah komunitas peghui Jangkung masih belum diketahui. Oleh karena itu, artikel ini akan megunakan data hasil peelitian 2012 dan peneusuran pustaka untuk menjawab perasalahan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif eksplanatif dengan penalara induktif. Data hasil penelitian akan dianalisis kembali dan disintesakan dengan dukungan data pustaka sehingga akan menghasilkan sebuah interpretasi baru. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa situs Jangkung dihuni oleh komunitas Maanyan pada masa setelah peaklukan oleh Majapahit di wilayah Kalimantan bagian tenggara.
TIPOLOGI ARTEFAK BATU LIANG ULIN 2 Nia Marniati Etie Fajari
Naditira Widya Vol 10 No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1565.674 KB) | DOI: 10.24832/nw.v10i2.55

Abstract

Situs Liang Ulin 2 yang berada di kawasan karst Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan adalah salah satu gua hunian dari masa prasejarah. Data arkeologi yang berupa pecahan gerabah, alat tulang, dan artefak batu serta himpunan tulang binatang dan cangkang kerang adalah bagian dari aktivitas kehidupan manusia. Peralatan yang dihasilkan merupakan bentuk respon manusia untuk pemenuhan kebutuhan hidup yang paling dasar, antara lain pangan, sandang, dan papan. Sementara itu, keberadaan artefak batu di Liang Ulin 2 yang belum dibahas sebelumnya memunculkan permasalahan terkait dengan tipologi dan teknologi serta argumen fungsinya. Metode yang digunakan untuk menentukan tipologi adalah klasifikasi yang menghasilkan terminologi tiap kelompok yang terbentuk. Klasifikasi yang disusun berhasil menggolongkan artefak batu Liang Ulin 2 menjadi dua kelompok besar, yaitu alat dan bukan alat. Kelompok alat yang terdiri atas batu inti dan serpih dengan retus diketahui tidak memiliki bentuk dan fungsi tertentu. Alat serpih dibuat untuk fungsi praktis dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup. Sementara itu, kelompok bukan alat yang terdiri atas serpih proksimal, fragmen serpih, dan tatal adalah hasil dari pangkasan dalam proses pembuatan alat yang tidak digunakan
SUMBER BAHAN DAN TRADISI ALAT BATU AWANG BANGKAL Nia Marniati Etie Fajari
Naditira Widya Vol 5 No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.61

Abstract

Abstrak. Awang Bangkal tercatat sebagai salah satu situs paleolitik tertua di Kalimantan bagiantenggara. Penelitian pada 1970an telah berhasil menemukan kapak-kapak perimbas di beberapalokasi yang berada di aliran Sungai Riam Kanan ini. Kini penelitian lebih lanjut di lokasi tersebutsulit dilakukan, karena sebagian besar badan Sungai Riam Kanan telah tenggelam akibatpembendungan sungai untuk waduk pembangkit listrik. Yang masih tampak tersisa di daerahAwang Bangkal saat ini adalah perbukitan yang mengandung sumber batuan. Makalah ini akanmemaparkan dan membahas hasil survei di Awang Bangkal pada tahun 2010 yang berhasilmengumpulkan sampel batuan bahan alat dan beberapa temuan artefaktual. Hasil analisis temuanmemberikan gambaran mengenai jenis batuan apa saja yang digunakan untuk membuat alatbatu, serta tradisi budaya alat batu yang berkembang di Awang Bangkal. Jika dilihat dari tradisi alatbatunya, temuan artefaktual di situs ini tidak hanya menunjukkan ciri teknologi paleolitik tetapi jugateknologi neolitik. Hal ini dibuktikan dengan temuan beliung batu dan batu berbentuk paku yangsudah dikerjakan dengan baik dan dihaluskan.
BARK-CLOTH AND BARK-CLOTH BEATER FROM THE INDONESIAN ARCHIPELAGO Sunarningsih Sunarningsih
Naditira Widya Vol 5 No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.62

Abstract

Abstract. Archaeological remains of bark-cloths in the Indonesian Archipelago are few and leavingus only bark-cloth beaters. On the other hand, remains of bark-cloth can still be found in associationwith bark-cloth beaters in China, Taiwan, Thailand, and Malaysia. Nevertheless, a number of villagesin Indonesia are still producing bark-cloth; hence the inventory and documentation of suchethnographic data can still be carried out. Many museums in Europe collect ornamented barkcloths.Today, the productions of bark-cloths in the Indonesian Archipelago are intended as souvenirs,for instance, wall ornament. Apparently, the existence of bark-cloths in the past is closely related tothe identity of a society. Thus, this article discusses the remains of bark-cloth beaters found inIndonesia in comparison to that of in other Asian countries and their ethnographic data. Informationon bark-cloth beaters were collected from publications and archaeological research reports of BalaiArkeologi Banjarmasin (Centre for Archaeology, Banjarmasin). The outcome of the discussion wasintended to motivate further comprehensive research on bark-cloth beaters.
PENGGAMBARAN ARSITEKTUR BERKONSTRUKSI KAYU ABAD KE-9–10 MASEHI PADA RELIEF KARMAWIBHANGGA CANDI BOROBUDUR Hari Setyawan
Naditira Widya Vol 5 No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.63

Abstract

Abstrak. Masyarakat Jawa Kuna pada abad ke-9-10 Masehi adalah masyarakat kerajaan denganpengaruh Hindhu-Buddha pada kehidupan sehari-harinya. Hampir seluruh aspek kehidupanmasyarakat terpengaruh oleh budaya Hindhu-Buddha dari India. Hal ini dapat terlihat jelas padakarya arsitekturnya yang monumental, di antaranya berupa percandian. Dalam kaitannya denganilmu arkeologi, candi atau kompleks percandian adalah hasil karya arsitektural yang memilikiperan penting dalam merekonstruksi kehidupan manusia pada masa lalu. Relief yang dipahatkanpada dinding atau bidang candi menyimpan banyak informasi. Informasi tersebut merepresentasikankehidupan pada saat candi tersebut difungsikan oleh masyarakat pendukungnya. Hal ini dapatdiketahui pada pahatan relief di Candi Borobudur, khususnya pada relief Karmawibhangga. Dilihatdari tema ceritanya, relief Karmawibhangga pada kaki Candi Borobudur banyak memberiketerangan mengenai kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa Kuna abad ke-9-10 Masehi. Tulisanini membahas beberapa relief yang menggambarkan arsitektur bangunan berkonstruksi kayu,baik sakral maupun profan. Jadi, berdasarkan data relief Candi Borobudur, kita dapat mengetahuitipe bangunan konstruksi kayu yang didirikan pada abad ke-9-10 Masehi di Jawa Tengah.
INFORMAN DALAM PENELITIAN ETNOARKEOLOGI PADA BALAI ARKEOLOGI BANJARMASIN Wasita Wasita
Naditira Widya Vol 5 No 1 (2011): April 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i1.71

Abstract

Abstrak. Tulisan ini dibahas berdasarkan pada laporan penelitian etnoarkeologi Balai ArkeologiBanjarmasin yang disimpan di perpustakaan Balai Arkeologi Yogyakarta, utamanya berkaitandengan pemilihan informan dan pemanfaatan data wawancara. Fokus studi ini adalah menemukansiapa saja informan dalam penelitian tersebut dan informasi apa yang diberikan. Caramengetahuinya dengan melihat hasil penggalian data yang terekam dalam laporan penelitian.Dengan melihat paparan data dan memperhatikan sinkron tidaknya dengan masalah penelitian,dapat diukur seberapa besar dukungan data tersebut dalam membantu meraih tujuan. Oleh karenaitu, data dapat dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu, relevan, kurang relevan, dan tidak relevandengan masalah penelitian. Sementara itu, siapa informannya akan dibedakan berdasarkanidentitasnya, sehingga muncul kategori informan sebagai pelaku budaya (penganut agama nenekmoyang,para pemimpin upacara, dan para pejabat kademangan), dan penerima warisan budaya(bukan pemeluk agama nenek-moyang dan bukan pejabat kademangan). Pemilihan informandan informasinya penting dilakukan, karena itu akan mempengaruhi hasil penelitian. Hal inilahyang akan dicemati dalam laporan penelitian etnoarkeologi di Balai Arkeologi Banjarmasin untukdiketahui langkah-langkah yang telah dilakukan. Dengan demikian, diharapkan di masa-masamendatang data informan dapat lebih mendukung analisis dan pembahasan tema penelitian.
MANTRA BANJAR: SUATU KOMPROMI BUDAYA Agus Yulianto
Naditira Widya Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.58 KB) | DOI: 10.24832/nw.v5i2.72

Abstract

Abstrak. Tulisan ini membahas perkembangan kebudayaan Banjar yang ditinjau dari peranan ‘mantra’. Mantraadalah rangkaian kata yang diucapkan untuk melakukan praktek magis. Mantra Banjar tumbuh dan berkembangdi wilayah tenggara Kalimantan. Pertumbuhan dan perkembangan mantra Banjar sejalan dengan perkembanganpendukungnya, yaitu masyarakat Banjar. Pada awalnya, mantra Banjar lahir dari karya seni ciptaan leluhurimajinatif Banjar yang percaya pada animisme atau kepercayaan Kaharingan. Kedatangan komunitas Jawa danMalayu yang berlatar ideologis Siva-Buddha membawa warna baru untuk mantra. Kemudian, ketika Islamdatang, agama baru ini menolak semua jenis mantra, penolakan ini mempengaruhi keberadaan mantra Banjar.Akibatnya, praktek ritual dengan mantra Banjar menurun, karena Islam mencapai popularitas yang luas. Namun,ternyata ada pula kesengajaan untuk menyembunyikan mantra untuk menjaga efek sakral dari mantra.Bagaimanapun, mantra tidak benar-benar menghilang. Sebagai warisan budaya Banjar, mantra masih menjadibagian dari kehidupan mereka, mantra hidup dan tumbuh di antara orang-orang sampai hari ini.
NILAI-NILAI KEHIDUPAN MASA LALU: PERSPEKTIF PEMAKNAAN PENINGGALAN ARKEOLOGI Nugroho Nur Susanto
Naditira Widya Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i2.73

Abstract

Abstrak. Pencarian jati diri dan nilai-nilai dalam suatu komunitas atau cakupan yang lebih luas sebuah bangsa,sudah seharusnya ditimbulkan dari dalam yaitu, dari kekayaan kebudayaan yang muncul dan dimiliki oleh dan dariBangsa Indonesia sendiri. Kekayaan kebudayaan ini dapat digali dari sejarah dan lingkungan bangsa dengancara menelusuri jejak-jejak perjalanan sejarah yang mencerminkan pengalaman hidup individu secara lintasgenerasi pada kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda. Nilai-nilai luhur yang dikandung dalam sejarah danlingkungan Bangsa Indonesia terekam dalam peninggalan masa lalunya. Bukti-bukti arkeologis menunjukkanbahwa kehidupan masyarakat masa lalu diwarnai oleh nilai-nilai keteladanan. Nilai-nilai luhur yang patut diteladaniyang dapat menjunjung harkat dan martabat kehidupan bangsa antara lain kerja keras, berpandangan jauh kedepan, dan penghormatan kepada nilai-nilai ikatan sosial. Tulisan ini membahas penerapan nilai-nilai hidup masalalu yang luhur dalam masyarakat kontemporer, dalam upaya membangun keselarasan bernegara danmengkukuhkan kehidupan yang beragam yang menjadi kekayaan sosial-budaya milik Bangsa Indonesia sekarang.
PENINGGALAN KERAJAAN BANJAR DALAM PERSPEKTIF ARKEOLOGI Bambang Sakti Wiku Atmojo
Naditira Widya Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i2.74

Abstract

Abstrak. Saat ini, Kerajaan Banjar yang termashur di Kalimantan pada abad 16-19 Masehi sudah tidak ada lagi.Namun, dari segi arkeologis, sisa-sisa eksistensi kerajaan ini masih dapat direkonstruksi dari peninggalannya yangmasih dapat ditemukan saat ini. Persebaran peninggalan tersebut terdapat di wilayah Kota Banjarmasin, Martapura,dan Karang Intan. Tulisan ini membahas berbagai peninggalan Kerajaan Banjar yang masih dapat diidentifikasisampai saat ini. Hasil kajian arkeologis menunjukkan bahwa peninggalan yang masih ada adalah sejumlah masjidserta makam raja dan ulama.
KECENDERUNGAN PENGGUNAAN METODE SURVEI PADA PENELITIAN BALAI ARKEOLOGI BANJARMASIN: ALASAN DAN SOLUSINYA Hartatik Hartatik
Naditira Widya Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v5i2.75

Abstract

Abstrak. Terdapat dua jenis metode atau cara perolehan data dalam penelitian arkeologi, yaitu survei dan ekskavasi.Dari kedua metode tersebut, survei merupakan teknik penelitian yang paling sering digunakan oleh peneliti BalaiArkeologi Banjarmasin. Hal tersebut merupakan gejala yang menarik, padahal ekskavasi merupakan ‘jantung’penelitian arkeologi. Tulisan ini mengulas tentang sebab-sebab penggunaan metode survei lebih banyak daripadaekskavasi, serta solusi yang memungkinkan pelaksanaan penelitian arkeologi yang berimbang antara tema danmetode yang sesuai. Data kajian yang dipakai adalah metode penelitian yang digunakan para peneliti pada BalaiArkeologi Banjarmasin selama 2005-2011. Hasil kajian menunjukkan bahwa penyebab utama seringnya penggunaanmetode penelitian survei adalah kondisi alam Kalimantan yang luas dengan fisiografi yang unik. Aktivitas surveiperlu dilakukan agar dapat memperoleh sebaran data lateral terlebih dahulu sebelum meneliti lebih jauh sebarandata vertikalnya. Solusi yang dapat menjembatani kesenjangan ini adalah intensifikasi ekskavasi pada situs-situspotensial, menindaklanjuti rekomendasi hasil penelitian terdahulu, kegiatan survei harus dilakukan bersamaandengan ekskavasi, dan perimbangan penelitian berdasarkan tema dan metode penelitian.

Filter by Year

2006 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 17 No 1 (2023): Naditira Widya Volume 17 Nomor 1 Tahun 2023 Vol 16 No 2 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 2 Tahun 2022 Vol 16 No 1 (2022): Naditira Widya Volume 16 Nomor 1 Tahun 2022 Vol 15 No 2 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 2 OKTOBER 2021 Vol 15 No 1 (2021): NADITIRA WIDYA VOLUME 15 NOMOR 1 APRIL 2021 Vol 14 No 2 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 2 OKTOBER 2020 Vol 14 No 1 (2020): NADITIRA WIDYA VOLUME 14 NOMOR 1 APRIL 2020 Vol 13 No 2 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13 No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 13, No 1 (2019): NADITIRA WIDYA Vol 12 No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12, No 2 (2018): Naditira Widya Volume 12 Nomor 2 Oktober Tahun 2018 Vol 12, No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 12 No 1 (2018): NADITIRA WIDYA VOLUME 12 NOMOR 1 TAHUN 2018 Vol 11, No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11 No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017 Vol 11 No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 11, No 1 (2017): Naditira Widya Vol. 11 No. 1 April 2017 Vol 10 No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 2 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 2 Oktober 2016 Vol 10, No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 10 No 1 (2016): Naditira Widya Vol. 10 No. 1 Tahun 2016 Vol 9 No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9, No 2 (2015): OKtober 2015 Vol 9, No 1 (2015): April 2015 Vol 9 No 1 (2015): April 2015 Vol 8, No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 2 (2014): Oktober 2014 Vol 8 No 1 (2014): April 2014 Vol 8, No 1 (2014): April 2014 Vol 7, No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7 No 2 (2013): Oktober 2013 Vol 7, No 1 (2013): April 2013 Vol 7 No 1 (2013): April 2013 Vol 6 No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6, No 2 (2012): Oktober 2012 Vol 6 No 1 (2012): April 2012 Vol 6, No 1 (2012): April 2012 Vol 5, No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011 Vol 5, No 1 (2011): April 2011 Vol 5 No 1 (2011): April 2011 Vol 4 No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4, No 2 (2010): Oktober 2010 Vol 4 No 1 (2010): April 2010 Vol 4, No 1 (2010): April 2010 Vol 3 No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3, No 2 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.2 Vol 3 No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 3, No 1 (2009): Naditira Widya Vol. 3 No.1 Vol 2, No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2 No 2 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.2 Vol 2, No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 2 No 1 (2008): Naditira Widya Vol. 2 No.1 Vol 1, No 2 (2007): Naditira Widya Volume 1 Nomor 2 Tahun 2007 Vol 1 No 2 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.2 Vol 1 No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 Vol 1, No 1 (2007): Naditira Widya Vol. 1 No.1 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 No 16 (2006): Naditira Widya Nomor 16 Oktober 2006 More Issue