cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice)
ISSN : 20888139     EISSN : 24432946     DOI : -
Core Subject : Health,
JMPF is the first open access journal in Indonesia specialized in both research of pharmaceutical management and pharmacy practice. Articles submitted in JMPF are peer reviewed, we accept review articles and original research articles with no submission/publication fees. JMPF receives manuscripts in both English (preferably) and Indonesian Language (Bahasa Indonesia) with abstracts in bilingual, both Indonesian and English. JMPF is also open for various fields such as pharmaceutical management, pharmacoeconomics, pharmacoepidemiology, clinical pharmacy, community pharmacy, social pharmacy, pharmaceutical marketing, goverment policies related to pharmacy, and pharmaceutical care.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 3" : 10 Documents clear
DAMPAK POSITIF PELAYANAN FARMASI KLINIK PADA PASIEN EPILEPSI Widyati Widyati; Soediatmoko Soediatmoko; Zullies Ikawati; Lukman Hakim
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.196

Abstract

Epilepsi merupakan suatu penyakit kronik dengan gangguan yang bersifat heterogen, multifaset yang menjadikan layanan farmasi kliniknya menjdi kompleks. Tantangannya antara lain adalah  masih adanya 25-30% yang belum terkendali dengan obat, masalah dalam farmakokinetika klinik, dan adherence yang  kurang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi layanan farmasi klinik dengan mengukur pencapaian berbagai outcome. Penelitian ini adalah penelitian observasional pada  pasien epilepsi dengan kejang umum yang dilaksanakan secara prospektif dengan disain cross sectional, yang mengamati adherence, kadar obat dalam serum, serta frekuensi kejang. Pasien mendapat layanan farmasi klinik selama 6 bulan berupa asesmen ada tidaknya Drug Related Problem (DRP) pada setiap kunjungan poliklinik yang dilaksanakan 1 bulan sekali,  pemberian rekomendasi terapi kepada klinisi, konseling dengan alat bantu, monitoring dengan berbagai metode. Terdapat  peningkatan mean skor adherence antara skor 1 dan 6 bulan dari 3,95 menjadi 4,07 setelah 6 bulan terapi, meskipun tidak  signifikan secara Wilcoxon-Sign. Secara umum adherence pasien dalam 6 bulan terapi tetap (berkisar 80%). Kadar fenitoin serum  rata-rata pada 1 bulan 6,67 ± 6,65 mg/L tidak berubah secara  signifikan secara Wilcoxon-Sign pada 6 bulan terapi 6,07 ± 5,51 mg/L. Hasil pengujian korelasi antara kadar fenitoin dengan skor MMAS-8 menunjukkan tidak adanya korelasi rho= -0,051, P=0,73. Remisi terminal 6 bulan diperoleh sejumlah 43 pasien atau 86% dan sisanya sebanyak 7 orang masih menunjukkan  kejang, sedangkan reduksi kejang ≥50% sebesar 46 pasien (92%). Layanan farmasi klinik memberikan dampak positif dalam meningkatkan pencapaian hasil terapi pasien. Kata Kunci: epilepsi, farmasi Klinik, kepatuhan.
SWAMEDIKASI PADA MAHASISWA KESEHATAN DAN NON KESEHATAN Devi Tri Handayani; Sudarso Sudarso; Anjar Mahardian Kusuma
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.193

Abstract

Swamedikasi yang tidak sesuai aturan akan menyebabkan efek yang serius seperti timbulnya reaksi efek samping obat danresistensi antibiotik. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perbedaan pengetahuan, sikap dan perilaku mahasiswa kesehatandan non kesehatan dalam melakukan swamedikasi, dan untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilakuswamedikasi.Jenis penelitian ini adalah observasional analisis menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Jumlah responden sebanyak 400 dipilih secara accidental samplingyang terdiri dari 200 responden jurusan kesehatan dan 200 responden jurusan non kesehatan di Perguruan Tinggi Purwokerto. Data diperoleh  melalui lembar kuesioner yang berisi masing-masing 10 pertanyaan mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku. Perbedaan pengetahuan, sikap dan perilaku dianalisis menggunakan uji chi square. Kemudian pengaruh pengetahuan dan sikap terhadap perilaku dianalisis menggunakan ujikorelasi spearman dengan α = 0,05.Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku antara mahasiswa kesehatan dan non kesehatan terdapat perbedaan yang signifikan dengan nilai p-value sebesar 0,000 dimana pengetahuan, sikap dan perilaku mahasiswa kesehatan lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa non kesehatan.  Pengetahuan dan sikap berpengaruh terhadap perilaku mahasiswa dalam melakukan swamedikasi. Hubungan antara pengetahuan terhadap perilaku adalah signifikan namun sangat lemah (R=0,195), dan hubungan antara sikap terhadap perilaku adalah lemah (R=0,236).Kata kunci: swamedikasi, mahasiswa, pengetahuan, sikap, perilaku
EFEKTIVITAS PEMBERIAN VITAMIN E TERHADAP OUTCOME TERAPI PASIEN SKIZOFRENIA Anna Pradiningsih; Lukman Hakim; Cecep Sugeng Kristanto; Warrantia Citta Citta Putri
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.191

Abstract

Skizofrenia ditandai oleh penyimpangan mendasar dan karakteristik pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar atau tumpul. Kesadaran yang jernih serta kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tetap dapat berkembang.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan outcome terapi pada pasien skizofrenia yang diberi dan yang tidak diberi penambahan terapi vitamin E di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Grhasia Yogyakarta.Penelitian ini dilakukan pada 44 pasien yang terbagi secara random menjadi 2 kelompok yaitu 22 pasien pada kelompok kontrol dan 22 pasien pada kelompok perlakuan. Pada kelompok perlakuan, vitamin E 400 IU diberikan 1xsehari pagi hari setelah makan. Penilaian Positive and Negative Symptoms Scale (PANSS) dilakukan pada kedua kelompok tersebut yaitu awal pasien rawat inap dan pada saat akan keluar rumah sakit atau sampai hari ke-42. Kemudian selisih dari nilai PANSS pada  kelompok 2 minggu, 3 minggu dan 5 minggu akan dianalisis dengan t-test independent karena data terdistribusi normal dan kelompok 4 minggu, 6 minggu dan kelompok total akan dianalisis dengan Mann-Whitney test karena data tidak terdistribusi normal.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok 2 minggu, 4 minggu, 5 minggu, 6 minggu dan kelompok total tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan sedangkan pada kelompok 3 minggu terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Pemberian vitamin E 400 IU 1xsehari 1 kapsul pagi hari setelah makan selama masa perawatan sampai 6 minggu tidak mengubah kondisi pasien skizofrenia secara  signifikan.Kata kunci: skizofrenia, vitamin E, Positive and Negative Symptoms Scale (PANSS)
PENGARUH PERILAKU KERJA, LINGKUNGAN KERJA, DAN INTERAKSI SOSIAL TERHADAP KEPUASAN KERJA Astri Aslam; Asri Laksmi Riani; Gunawan Pamudji Widodo
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.189

Abstract

Optimalisasi dan pengembangan layanan kesehatan di rumah sakit diwujudkan dengan mempertahankan layanan bermutu tinggi oleh staf rumah sakit. Kunci pokok untuk menjaga layanan yang diberikan staf adalah menjaga kepuasan kerjanya agar tetap dalam taraf yang maksimal. Tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis pengaruh perilaku kerja, lingkungan kerja, interaksi sosial terhadap kepuasan kerja staf di RSUD Pandan Arang Boyolali dalam kondisi sebelum dan sesudah menggunakan motivasi sebagai variabel mediasi, kemudian membandingkannya. Penelitian dilakukan dengan rancangan penelitian deskriptif dengan survei langsung ke lapangan menggunakan kuesioner. Teknik pengambilan sampel menggunakan pendekatan Tabachic dan Fidell. Data dianalisis dengan menggunakan analisa jalur, dengan bantuan Lisrel 9.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku kerja, lingkungan kerja, dan interaksi sosial karyawan masing-masing mempunyai pengaruh yang signifikan dan positif terhadap kepuasan dan motivasi kerja staf di RSUD Pandan Arang Boyolali. Sedangkan  motivasi sebagai variabel mediasi dapat meningkatkanpengaruh perilaku kerja, lingkungan kerja, dan interaksi sosial terhadap kepuasan kerja.Kata kunci: perilaku kerja, lingkungan kerja, interaksi sosial, motivasi,kepuasan kerja
EFEKTIVITAS EDUKASI KELOMPOK OLEH APOTEKERTERHADAP KEPATUHAN DAN OUTCOME KLINIK PASIEN DIABETES MELITUS Intan Rahmania Eka Dini; Tri Murti Andayani; Luthfan Budi Purnomo
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.195

Abstract

Edukasi merupakan salah satu pilar pengelolaan diabetes melitus (DM) yang bertujuan memberikan pemahaman mengenai  penyakit, pencegahan, penyulit, dan penatalaksanaan DM kepada pasien dan keluarganya. Apoteker merupakan salah satu tenaga kesehatan yang turut memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan salah satunya melalui edukasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian edukasi secara kelompok  dilihat dari kepatuhan dan outcome klinik pasien DM tipe 2 rawat jalan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Penelitian eksperimental selama7 bulan di Poliklinik Endokrin RSUP Dr. Sardjito pada bulan Desember 2012 – Juni 2013 dengan sampel 26 pasien kelompok intervensi dan 28 pasien kelompok kontrol. Kelompok intervensi dibagi dalam 10 kelompok yang terdiri atas 2-3 pasien/kelompok yang mendapat edukasi dari apoteker. Pengukuran skor kepatuhan dilakukan dengan Morinsky Medication Adherence Scale dan outcome klinik diukur dengan perubahan nilai HbA1c sesaat sebelum edukasi dan setelah 3 bulan. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan paired t test, independent t test, dan linear regression. Edukasi apoteker secara kelompok dapat meningkatkan kepatuhan pasien DM tipe 2 rawat jalan di RSUP Dr. Sardjito terhadap pengobatan dan memperbaiki kontrol glikemik kelompok intervensi dibandingkan dengan kelompokkontrol dengan masing-masingnilai p adalah 0,023(p<0,05) dan 0,010 (p<0,05). Selain itu, kepatuhan pasien berpengaruh terhadap perbaikan kontrol glikemik (HbA1c) dengan nilai p 0,002 (p<0,05). Kata Kunci: edukasi kelompok, kepatuhan, HbA1c
GAMBARAN BUDAYA ORGANISASI DAN KOMITMEN ORGANISASIONAL DI UNIT STRUKTURAL RUMAH SAKIT Hardika Aditama; Edi Prasetyo Nugroho; Satibi Satibi
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.187

Abstract

Budaya dan komitmen organisasional memegang peranan penting di dalam organisasi, termasuk rumah sakit. Mengetahui budaya suatu organisasi menjadi keuntungan tersendiri. Penelitian ini berutujan untuk mengetahui gambaran budaya organisasi dan komitmen organisasi di unit struktural (Gedung Administrasi Pusat) RSUP Dr. Sardjito. Penelitian ini merupakan penelitiandeskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner budaya organisasi dan komitmen organisasional. Validitas dan reliabilitas instrumen diuji dengan menggunakan analisis faktor dan perhitungan alfa Chronbach. Delapan puluh satu kuesioner yang diperoleh kemudian dilakukan penilaian dan dikelompokkan berdasarkan kategorisasi skor nilai. Semua komponen budaya organisasi unit struktural RSUP Dr. Sardjito termasuk dalam kategori tinggi, walaupun terdapat 2 indeks yang termasuk kategori sedang yaitu pengembangan kemampuan serta koordinasi-integrasi. Keadaan komitmen organisasionalnya pun baik, karena semua komponen komitmen organisasional berada pada kategori tinggi.Kata kunci: budaya, komitmen, organisasi
PENGARUH FASILITATOR TERHADAP SIKAP APOTEKER UNTUK MENGIMPLEMENTASIKAN PHARMACEUTICAL CARE M. Rifqi Rokhman; Kanthi Noorani Utami; Nurul Adila Dianastuti
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.225

Abstract

Meskipun banyak apoteker telah menerima konsep pharmaceutical care, namun implementasi pada farmasi komunitas terbukti lebih lambat dari yang diharapkan sehingga diperlukan fasilitator sebagai faktor yang dapat mempercepat sekaligus mengatasi hambatan dalam implementasi pharmaceutical care. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fasilitator terhadap sikap apoteker untuk mengimplementasikan pharmaceutical care pada farmasi komunitas di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian termasuk penelitian asosiatif dengan menggunakan alat bantu kuesioner. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 110 apoteker. Fasilitator yang diteliti yaitu peningkatan hubungan profesional apoteker dengan dokter, kemampuan klinis apoteker, peran organisasi profesi, remunerasi, permintaan pasien, institusi pendidikan, dan individu apoteker. Data dianalisis menggunakan uji statistik regresi linier berganda dengan bantuan software SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 variabel yaitu peran organisasi profesi (p=0,000), institusi pendidikan (p=0,005), dan individu apoteker (p=0,001) secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap apoteker untuk mengimplementasikan pharmaceutical care. Dua fasilitator yaitu peran organisasi profesi dan institusi pendidikan merupakan fasilitator pada tingkat organisasi. Hal ini mengindikasikan implementasi pharmaceutical care sebaiknya dilakukan tidak hanya dengan pendekatan individu namun juga dengan pendekatan level organisasi. Model mampu menjelaskan sikap apoteker sebesar 63,6%.  Kata kunci: implementasi, pharmaceutical care, farmasi komunitas, fasilitator
STRATEGI PENGEMBANGAN INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT Sumarti binti Amrin; Oetari Oetari; Satibi Satibi
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.188

Abstract

Seiring dengan bertambah tingginya tuntutan dan harapan pelanggan terhadap pelayanan kesehatan, maka perlu adanyapeningkatan pelayanan yang berkualitas oleh pihak penyedia jasa pelayanan kesehatan. Ini menunjukkan perlunya strategi rumahsakit yang mampu beradaptasi atau mengendalikan faktor tersebut yang terus berubah, baik faktor internal dan faktor eksternal.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui posisi Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Sayang Rakyat Makassar, terhadaplingkungan internal dan eksternal dengan analisis SWOT serta mengidentifikasi strategis alternatif yang diterapkan. Penelitianmenggunakan rancangan deskriptif kualitatif mengunakan kuesioner. Data kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman Instalasi Farmasi diperoleh dengan observasi, dan in depth interview. Dari analisis SWOT diperoleh matriks SWOT berdasarkan External Factor Analysis Summary (EFAS) dan Internal Factor Analysis Summary (IFAS). Hasil penelitian menunjukkan Instalasi Farmasi RSU Sayang Rakyat Makassar berada pada kuadran dua dengan strategi diversifikasi dalam usaha menerapkan strategi pengembangannya. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa strategi yang direncanakan adalah melakukan peningkatkan anggaran IFRS, penerapan sistem manajemen satu pintu, pengembangan sumber daya manusia baik kuantitas dan kualitas, fasilitas sebagai pendukung dalam kegiatan pelayanan farmasi, serta perlunya dilakukan studi banding dengan instalasi farmasi rumah sakit lain yang lebih unggul.Kata kunci: strategi manajemen, pengembangan instalasi farmasi, SWOT
ANALISIS PENGENDALIAN OBAT SITOSTATIKA DENGAN METODE EOQ DAN ROP Ercis Ercis; Gunawan Pamudji Widodo
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.194

Abstract

Tingginya jumlah pasien dan mahalnya harga obat sitostatika menjadikan obat sitostatika membutuhkan perhatian khusus dalam pengelolaanya di di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Efisiensi biaya untuk meningkatkan ketersediaan obat sitostatika dapat dilakukan melalui pengendalian dengan metode EOQ dan  ROP. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan  menganalisis pengendalian obat sitostatika dengan metode EOQ dan ROP di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian ini  menggunakan metode komparatif non eksperimental dengan pengambilan data obat sitostatika secara retrospektif tahun 2012. Data diperoleh melalui pengamatan langsung dan dari  dokumentasi Instalasi Farmasi, bagian keuangan, dan bagian logistik. Data dianalisis untuk mengetahui efisiensi biaya obat sitostatika dengan menggunakan metode EOQ dan ROP. Hasil penelitian selanjutnya diuji dengan menggunakan Paired-Sampel t test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada tahun 2012 pengendalian obat  sitostatika menggunakan metode analisis EOQ diketahui dapat meningkatkan efisiensi biaya hingga sebesar Rp.224.845.245 atau 73% dari total cost kenyataan sebesar Rp.306.956.410 dalam  pengendalian persediaan obat. Analisis ROP menunjukkan bahwa obat sitostatika dapat dilakukan pemesanan kembali dan diketahui pada setiap item obat sitostatika memiliki ROP bervariasi.Kata Kunci: pengendalian, sitostatika, metode EOQ, metode ROP
ANALISIS KINERJA INSTALASI FARMASI RSUD KANJURUHAN KABUPATEN MALANG DENGAN PENDEKATAN BALANCED SCORECARD Ika Ratna Hidayati; Satibi Satibi; Achmad Fudholi
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.192

Abstract

Instalasi Farmasi RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang belum pernah melakukan suatu pengukuran kinerja sehingga belum diketahui sejauh mana keberhasilan pengelolaan tangible dan intangible assets dalam mencapai visi dan tujuan organisasi.Selain itu, pengukuran kinerja juga diperlukan dalam mendukung proses akreditasi rumah sakit. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kinerja Instalasi Farmasi RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang dengan pendekatan balanced scorecard (BSC) melalui 4 perspektif yaitu pembelajaran dan pertumbuhan, proses bisnis internal, pelanggan, dan keuangan. Penelitian merupakan penelitian non eksperimental dengan analisis secara deskriptif  analitik. Data diperoleh secara prospektif dan retrospektif. Data kualitatif diperoleh melalui kuesioner dan wawancara mendalam dengan Kepala Instalasi Farmasi RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang pada tahun 2011 dan 2012. Data kuantitatif diperoleh melalui observasi langsung, survei terhadap resep, dan laporan keuangan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kinerja perspektif pembelajaran dan pertumbuhan pada human capital belum mampu melakukan inovasi dalam mendukung  pekerjaannya, budaya organisasi sudah sangat baik di IFRS, dan teknologi informasi belum beroperasi dengan baik. Kinerja perspektif proses bisnis internal pada rata-rata dispensing time untuk resep racikan19,34 menit dan resep non racikan 6,7 menit, kadang–kadang masih ada kegiatan yang dapat memungkinkan terjadinya medication error, rata–rata tingkat ketersediaan obat 93,7%, Standard Operating Procedure (SOP) sudah dibuat sesuai dengan standar 5 dan 6 akreditasi rumah sakit. Kinerja perspektif pelanggan menunjukkan bahwa pasien belum puas dengan layanan terutama pada dimensi tangible (-0,680) dan emphati (-0,366). Tingkat keterjaringan pasien sebesar 95% dan tingkat pertumbuhan pelanggan -1% tiap bulannya. Kinerja perspektif keuangan menunjukkan Inventory Turnover Ratio (ITOR) 7,7 kali per tahun pada 2011 dan 6 kali per tahun pada 2012, selisih antara Rencana Bisnis Anggaran (RBA) dengan realisasi sebesar 2,43% pada tahun 2011 dan 6,50% pada tahun 2012. Kata kunci: analisis kinerja, balanced scorecard, instalasi farmasi rumah sakit

Page 1 of 1 | Total Record : 10