cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice)
ISSN : 20888139     EISSN : 24432946     DOI : -
Core Subject : Health,
JMPF is the first open access journal in Indonesia specialized in both research of pharmaceutical management and pharmacy practice. Articles submitted in JMPF are peer reviewed, we accept review articles and original research articles with no submission/publication fees. JMPF receives manuscripts in both English (preferably) and Indonesian Language (Bahasa Indonesia) with abstracts in bilingual, both Indonesian and English. JMPF is also open for various fields such as pharmaceutical management, pharmacoeconomics, pharmacoepidemiology, clinical pharmacy, community pharmacy, social pharmacy, pharmaceutical marketing, goverment policies related to pharmacy, and pharmaceutical care.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 4" : 8 Documents clear
ANALISIS MANAJEMEN PENYIMPANAN OBAT DI PUSKESMAS SE-KOTA BANJARBARU Nabilah Hadiah Akbar; Nani Kartinah; Candra Wijaya
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.354

Abstract

Manajemen obat merupakan suatu rangkaian kegiatan paling penting yang mendapatkan alokasi dana dari pemerintah sebesar 40-50% dari dana alokasi pembangunan kesehatan yang menyangkut aspek perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat. Proses penyimpanan merupakan proses yang sangat penting pada kegiatan manajemen obat. Penyimpanan merupakan suatu kegiatan pengamanan terhadap obat-obatan yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses manajemen penyimpanan obat di seluruh puskesmas di kota Banjarbaru melalui analisis manajemen penyimpanan obat ditinjau dari indikator stok mati, obat kadaluwarsa dan stok akhir obat di puskesmas se-kota Banjarbaru. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan analisis data menggunakan Analyze frequencies.Instrumen penelitian yang digunakan adalah LPLPO dan catatan obat kadaluwarsa tahun 2014-2015 puskesmas se-kota Banjarbaru sebagai sumber data. Hasil persentase stok mati tahun 2014- 2015 sebanyak 41,07%; 38,54%, hasil persentase obat kadaluwarsa tahun 2014- 2015 sebanyak 0,50%; 0,52%, dan hasil persentase nilai stok akhir obzt tahun 2014- 2015 sebanyak 14,27%; dan 16,94%. Hal ini menunjukkan bahwa proses manajemen obat berdasarkan banyaknya persentase stok mati, obat kadaluwarsa dan nilai stok akhir obat di seluruh puskesmas di kota Banjarbaru masih belum efisien.
PERBANDINGAN PILL BOX DAN MEDICATION CHART DALAM MENINGKATKAN KEPATUHAN DAN OUTCOME KLINIK GERIATRI KOTA BATAM Suci Fitriani Sammulia; Fita Rahmawati; Tri Murti Andayani
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.358

Abstract

Banyaknya obat yang dikonsumsi oleh pasien geriatri dengan penyakit kronis meningkatkan penurunan kepatuhan. Ada beberapa cara dalam meningkatkan kepatuhan diantaranya dengan menggunakan Pill box dan Medication reminder chart. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektifitas penggunaan Pill box dengan Medication reminder chart dalam meningkatkan kepatuhan pasien geriatri dengan hipertensi di Kota Batam. Rancangan Penelitian ini adalah studi experimental; Randomized Controlled Trial dengan desain penelitian pre test dan post test control group. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik random alokasi sampling. Pasien akan dikelompokkan menjadi dua kelompok subjek yang berbeda, yaitu kelompok yang mendapat intervensi berupa Pill box dan Medication reminder chart. Data dikumpulkan secara prospektif sesuai dengan kriteria inklusi padap asien geritri rawat jalan, dengan diagnosa penyakit hipertensi di dua rumah sakit Kota Batam, penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai April 2016. Pengukuran tingkat kepatuhan menggunakan kuesioner MMAS-8 dan pill count dan outcome klinik pasien diukur dengan melihat tekanan darah sistolik dan diastolik yang disesuaikan dengan diagnosa dokter yang tertera di rekam medik. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan. Data dianalisis secara statistik menggunakan deskripitif, uji bivariat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pill box dapat meningkatkan kepatuhan (P=0,000) dan menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik secara signifikan (P=0,000 dan P=0,002), sedangkan pada Medication reminder chart hanya efektif dalam meningkatkan kepatuhan (P=0,000). Terdapat perbedaan yang signifikan antara Pill box dan Medication reminder chart dalam meningkatkan kepatuhan (P=0,008) dan pada penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik (P=0,006 dan P= 0,016).
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PENGELOLA OBAT TERHADAP PENGELOLAAN OBAT DI PUSKESMAS Alyxia Fatma Aryani; Anjar Mahardian Kusuma; Githa Fungie Galistiani
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.360

Abstract

Pada tahun 2011 di seluruh puskesmas di Indonesia menunjukkan bahwa hanya 17,5% puskesmas di Indonesia yang  memiliki apoteker dan ada sekitar 32,2% puskesmas yang tidak memiliki tenaga kefarmasian sama sekali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan pengelola unit farmasi di puskesmas, mengetahui bagaimana pengelolaan obat yang dilakukan oleh pengelola unit farmasi yang ada di puskesmas, mengetahui ada tidaknya hubungan antara tingkat pengetahuan pengelola unit farmasi dengan kemampuannya mengelola obat di puskesmas.Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik melalui pendekatan cross sectional. Kuisioner digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan dan daftar ceklis untuk mengukur pengelolaan obat.  Peneliti melakukan Penelitian di Puskesmas Kabupaten Banyumas dengan jumlah responden 37 responden. Data dianalisis menggunakan uji statstik spearman rank. Hasil penelitian menunjukkan nilai p value sebesar 0,031 yang menunjukkan ada hubungan antara tingkat pengetahuan pengelola unit farmasi terhadap pengelolaan obat di Puskesmas Kabupaten Banyumas. Nilai Coefficient Correlation 0,355 yang menunjukkan kekuatan dan arah penelitian yang bersifat searah yang jika tingkat pengetahuan tinggi maka pengelolaan obat akan tinggi pula.
PENGARUH PENGETAHUAN TERHADAP KUALITAS HIDUP DENGAN KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT SEBAGAI VARIABEL ANTARA PADA PASIEN DM Iwan Yuwindry; Chairun Wiedyaningsih; Gunawan Pamudji Widodo
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.353

Abstract

Pengetahuan tentang DM sangat penting untuk pasien DM. Pengetahuan akan mempengaruhi kepatuhan penggunaan obat dalam penerapan manajemen DM untuk mengontrol kadar gula darah mereka dan mencegah komplikasi kronik sehingga meningkatkan kualitas hidup. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan terhadap kualitas hidup dengan kepatuhan penggunaan obat sebagai variabel antara.Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dengan carasurvey selama 3 bulan. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner Diabetes Knowlegde Questionnaire(DKQ 24), New  8 item  Self   Report  Morinsky  Medication Adherence Scale (MMAS-8) dan Quality of Life (WHOQOL) –BREF.Sampel ditetapkan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah sampel sebanyak 34.Pemberian kuesioner kepada responden dilakukan pendampingan dalam pengisiannya.Data jawaban responden direkapitulasi dan dihitung skor masing-masing kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan analisis jalur (Path Analisis).Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan pasien diabetes mellitus tipe 2 berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup sebesar 31,6%. Tingkat pengetahuan pasien diabetes mellitus tipe 2 berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan penggunaan obat sebesar 25,1%. Kepatuhan penggunaan obat pasien diabetes mellitus tipe 2 berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup sebesar 75,2%. Kepatuhan penggunaan obat sebagai variabel antara meningkatkan pengaruh tingkat pengetahuan pasien DM tipe 2 terhadap kualitas hidup dari 24% menjadi 29%. 
IS INTERPROFESSIONAL PRACTICE (IPP) FOCUSED ON MEDICATION SAFETY FEASIBLE IN INDONESIA? A QUALITATIVE STUDY Desak Ketut Ernawati; Ya Ping Lee; Bruce Sunderland; Jeff Hughes
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.356

Abstract

This paper explores facilitators for and barriers to the implementation of IPP focusing on medication safety in a public hospital in Bali, Indonesia. Qualitative methods involved interviews with stakeholders from a university and a hospital and focus group discussions with healthcare professionals in the hospital. Semi-structured questions were developed as a guide for the interviews and discussions. All interviews and discussions were recorded. The six steps of Braun and Clarke’s thematic analysis methodology were implemented in determining the themes. The Consolidated Criteria for Reporting Qualitative Research (COREQ) checklist was employed in reporting of findings. Participants indicated that support from the government and perceived benefits of IPP were facilitators for IPP. However, the participants mostly mentioned the barriers of IPP including lack of competencies for IPP and lack of understanding of the role of other healthcare professionals as barriers to the implementation of IPP. This showed that these were the barriers identified to the implementation of IPP in the study hospital. Despite the fact that participants were supportive of IPP, the participants identified some barriers to the implementation of IPP in the study hospital. The implementation requires support of the government, professional organisations, and stakeholders at the university and hospital levels.
EVALUASI PELAKSANAAN E-PURCHASING OBAT PADA DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA TENGAH TAHUN 2015 Kusmini Kusmini; Satibi Satibi; Sri Suryawati
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.357

Abstract

Metode pengadaan obat secara e-purchasing berdasarkan e-catalogue merupakan sistem pengadaan obat yang relatif baru di Indonesia. E-purchasing obat bertujuan untuk meningkatkan transparansi, efektifitas dan efisiensi proses pengadaan obat di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dampak kendala e-purchasing obat banyak dirasakan  satuan kerja di bidang kesehatan, termasuk di Jawa Tengah. Penting untuk mengetahui hambatan yang terjadi pada pelaksanaan e-purchasingobat dan dampaknya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui permasalahan yang menjadi hambatan pada pelaksaaan e-purchasing obat dan dampaknya terhadap ketersediaan obat dan efisiensi biaya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional studi kasus yang bersifat deskriptif analitis. Data yang digunakan berupa data retrospektif dan prospektif. Data retrospektif tahun 2015 meliputi data rencana e-purchasing, realisasi e-purchasing, hambatan e-purchasing, realisasi none-purchasing dan ketersediaan obat. Data prospektif meliputi pendalaman terkait hambatan pelaksanaan e-purchasing obat. Penelitian dilakukan pada 35 dinas kesehatan kabupaten/kota (DKK) di Jawa Tengah.Data kuantitatif diolah dan disajikan dalam bentuk tabel dan data kualitatif dianalisis dengan content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 45,3% obat indikator diadakan melalui mekanismee-purchasingoleh 97,3% DKK.Realisasi obat yang tidak sesuai rencana sebesar 23,9%, yang menunjukkan adanya hambatan pelaksanaan e-purchasing. Hambatan terbesar adalah ketidakmampuan suplai oleh industri farmasi (IF) penyedia. Hambatan berdampak pada pengurangan ketersediaan obat dan efisiensi biaya obat. Pelaksanaan e-purchasingyang berjalan lancar akan menyumbangkan potensi penghematan biaya obat sebesar 19,1%. Kesimpulan, terdapat hambatan pelaksanaan e-purchasing obat. Hambatan terbesar adalah ketidakmampuan suplai oleh IF. Hambatan berdampak pada pengurangan ketersediaan obat dan efisiensi biaya obat. Terjadi potensi penghematan biaya obat pada pelaksanaan e-purchasing yang berjalan lancar.
FAKTOR PASIEN YANG MEMPENGARUHI RESPONGLIKEMIK PENGGUNAAN MONOTERAPI METFORMIN PADA DIABETES MELITUS TIPE 2 Vitarani Dwi Ananda Ningrum; Zullies Ikawati; Ahmad Hamim Sadewa; M. Robikhul Ikhsan; Yunilistiaingsih Yunilistiaingsih
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.355

Abstract

Metformin sebagai obat antidiabetik oral terpilih pada terapi diabetes melitus tipe 2 (DMT2) menunjukkan ketidaktercapaian target glikemik pada 35 – 40% pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor pasien yang berpengaruh terhadap respon glikemik penggunaan metformin tunggal pada pasien DMT2. Penelitian kohort prospektif dilakukan pada 5 Puskesmas periode Januari-Oktober 2015 dengan melibatkan pasien DMT2 dewasa tanpa riwayat disfungsi tiroid dan gagal hati kronik. Parameter respon glikemik menggunakan glukosa darah puasa (GDP) dan glycated albumin (GA). Sebanyak 35 pasien dengan rata-rata usia, indeks masa tubuh (IMT), serta eLFG masing-masing yaitu 50,48±6,67 tahun, 25,99±4,79 kg/m2, dan 96,49±18,17 mL/mnt terlibat dalam penelitian. Penelitian menunjukkan selain indeks glikemik awal, faktor demografi pasien tidak berkorelasi baik dengan nilai GDP, GA maupun perubahan nilai keduanya setelah penggunaan rutin monoterapi metformin. Sementara itu, lama terapi metformin sebelumnya mempengaruhi nilai GDP akhir dan perubahan nilai GDP (P<0,05), namun tidak dengan nilai GA setelah penggunaan monoterapi metformin. Penelitian ini merekomendasikan durasi penggunaan rutin metformin sebelumnya perlu dipertimbangkan untuk penentuan waktu pemantauan ketercapaian target glikemik penggunaan metformin dalam implikasinya terhadap penyesuaian besaran dosis pada pasien DMT2. 
BERAPA KEBUTUHAN DIAZEPAM UNTUK MEMENUHI PELAYANAN KESEHATAN DI INDONESIA? STUDI KASUS KONSUMSI DIAZEPAM DI INDONESIA Nunung Priyatni W
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 6, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.359

Abstract

Diazepam adalah obat esensial golongan benzodiazepin yang penggunaannya diawasi secara nasional dan global, oleh karena itu  ketersediaan untuk pelayanan kesehatan harus dapat terpenuhi. Tujuan penelitian untuk mengkaji kebutuhan diazepam dengan menganalisis konsumsi diazepam selama 5 tahun dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 serta menghitung kebutuhan yang harus tersedia. Penelitian studi kasus dengan pendekatan diskriptif analitik. Menggunakan data sekunder untuk mengkaji  penggunaan diazepam selama tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. Penggunaan  diazepam dihitung berdasarkan data konsumsi, yaitu data produksi, impor dan ekspor. Nilai konsumsi diazepam (dalam kg) per tahun diubah dalam “Define Daily Doses for Statistical purposes” (S-DDD). S-DDD adalah unit teknis pengukuran untuk tujuan analisis statistik dan tidak direkomendasikan untuk dosis peresepan. Menghitung kebutuhan diazepam untuk penderita gangguan jiwa berdasarkan nilai S-DDD. Konsumsi diazepam mengalami penurunan selama tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. Konsumsi tertinggi pada tahun 2010 dan terendah pada tahun 2014, rerata konsumsi diazepam selama 5 tahun sebesar 0,36 S-DDD.Ketersediaan diazepam belum mencukupi untuk kebutuhan penderita gangguan jiwa.Sebagai obat esensial konsumsi diazepam di Indonesia masih rendah, belum mencukupi untuk memenuhi pelayanan kesehatan. Kuantifikasi kebutuhan yang tepat diperlukan untuk memenuhi ketersediaan dan akses pasien mendapat pengobatan.

Page 1 of 1 | Total Record : 8