cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 181 Documents
Perbedaan kadar interleukin-6 serum pada kehamilan trimester ketiga normotensi dan preeklampsia Renny Junitasari
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 50, No 1 (2017): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendahuluan :lnflamasi merupakan salah satu etiologi preeklampsia. Sitokin inflamasi seperti IL-6 mengalami peningkatan pada Preeklampsia . Mengelahui perbedaan kadar IL-6 antara kelompok normotensi dan preeklampsia.Metode :Penelitian cross-sectional. Dilakukan pemeriksaan kadar IL-6 dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) pada serum ibu hamil trimester ketiga normotensi dan preeklampsia dengan total 52 sampel, di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr.Pirngadi, dan RSU. Haji Mina Medan, mulai Januari hingga Mei 2016. Data dianalis secara statistik,dan dilakukan dengan uji Mann-Whitney. Hasil:Rerata kadar IL-6 serum kelompok normotensi lebih rendah 3.63 pg/mL dibandingkan dengan preeklampsia 23.47 pg/mL. Dijumpai perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok, dengan nilai p<0.05 Simpulan : Terdapat perbedaan yang bermakna kadar IL-6 serum pada kelompok normotensi dan preeklampsia.Kata kunci :Preeklampsia, kehamilan normotensi, dan IL-6. Abstract Introduction :lnflammation is one of etiology preeclampsia.Inflammatory cytokines such as IL-6 increased in preeclampsia. To determine diffarences between levels of IL-6 normotensive group and preeclampsia. Method :Cross-sectional research.Evaluation of serum IL-6 levels by enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA),of third trimester pregnant women normotensive and preeclampsia with total of 52 samples, at Adam Malik, Pirngadi,and Haji Mina General Hospitals, from January to Mel 2016 . Data were statistically analyzed, with Mann-Whitney testResult: The mean serum levels of IL-6 is lower normotensive group, 3.63 pg/mL than preeclampsia 23.47 pg/mL. There is a significant difference between the two groups, with p value <0.05 Conclusion : There were significant differences in serum levels of IL-6 normotensive group and preeclampsia. Keywords :Preeclampsia, Pregnancy norrnotensive, and IL-6.
Peran Infeksi Helicobacter pylori terhadap Profil Lipid pada Pasien Dispepsia Kronik Yuliana Sarly Sinabutar
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 51, No 2 (2018): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction : The aim of this study to find out the role of H. pylori infection on changes in lipid profile in patients with chronic dyspepsia.Method : This analitical cross sectional study was conducted in H. Adam Malik Hospital Medan in Oct – Dec 2013. The samples were chronic dyspepsia patients then examined whether infected by H. pylori bacteria with bacterial antigen test, H.pylori Stool Antigent (HpSA) in the feces of patients. All patients were then examined the lipid profile.Result : There are significant differences in total cholesterol level between HpSA+ (198.25±33.52) and HpSA- (176.71±33.63) and triglyserides level between HpSA+ (159.96±59.21) and HpSA- (117.71±46.09) with p <0.05, while LDL level between HpSA+ (138.50±33.86) and HpSA- (122.32±34.30) and HDL level between HpSA+ (45.61±17.60) and HpSA - (46.32±13.89) with p >0.05 did not show significant differences.Discussion: H. pylori infection is thought to have an effect on endothelium injury, as it produces excessive proinflammatory factors that cause vascular damage and modifying serum lipid profile.Conclusion : There are significant differences in total cholesterol and triglyserides, between chronic dyspeptic patients infected H.pylori compared with uninfected, whereas Low Density Lipoprotein cholesterol (LDL) and High Density Lipoprotein cholesterol (HDL) value did not show significant differences.Key words : dyspepsia, H.pylori infection, Lipid Profile. AbstrakPendahuluan : Helicobacter pylori (H.Pylori) merupakan bakteri penyebab infeksi kronis di saluran cerna. Berbagai studi meneliti dan membuktikan bahwa infeksi H.Pylori berperan dalam patogenesa penyakit diluar saluran cerna, antara lain penyakit kardiovaskuler. Infeksi oleh H.pylori diduga menyebabkan perubahan profil lipid yang merupakan faktor resiko meningkatkan kejadian penyakit kardiovaskuler.Metode : Penelitian dilakukan dengan metode observasional analitik dengan pendekatan potong lintang, yang dilakukan di RSUP HAM Medan, pada bulan Oktober - Desember 2013. Sampel penelitian adalah pasien yang dinyatakan sebagai dispepsia kronis yang kemudian diperiksa apakah terinfeksi oleh bakteri H.pylori dengan pemeriksaan antigen bakteri tersebut H.pylori Stool Antigen (HpSA) melalui feses dari penderita. Seluruh pasien kemudian dilakukan pemeriksaan profil lipid.Hasil : Pada penelitian ini didapat hasil ada perbedaan yang signifikan pada nilai kolesterol total antara HpSA+ (198.25±33.52) dan HpSA– (176.71±33.63) dan nilai trigliseria antara HpSA+ (159.96±59.21) dan HpSA- (117.71±46.09) dengan p<0.05 sedangkan nilai Low Density Lipoprotein cholesterol (LDL) kolesterol antara HpSA+ (138.50±33.86) dan HpSA- (122.32±34.30) dan nilai High Density Lipoprotein cholesterol (HDL)-kolesterol antara HpSA+(45.61±17.60) dan HpSA- (46.32±13.89) dengan p>0.05 tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan . Simpulan : Terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai kolesterol total dan trigliserida pasien dispepsia kronik yang positif terinfeksi H.pylori dibanding dengan yang tidak terinfeksi, sedangkan nilai LDL dan HDL kolesterol tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Kata kunci : dispepsia, infeksi H.pylori, profil lipid
Hubungan Indeks Volume Atrium Kanan dan Disfungsi Sistolik Ventrikel Kanan pada Pasien Gagal Jantung Kronik Jarmila Elmaco
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 51, No 2 (2018): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.279 KB)

Abstract

AbstrakPendahuluan : Nilai potensial klinis pengukuran atrium kanan sebagian ditentukan faktor yangmempengaruhi pengisian diastolik ventrikel kanan bertindak sebagai penanda awal disfungsi ventrikelkanan, sering didahului disfungsi sistolik ventrikel kanan. Memberikan informasi prognostik signifikanpasien gagal jantung sistolik kronik dan hipertensi pulmonal. Tujuan penelitian untuk mengetahuihubungan indeks volume atrium kanan dan disfungsi sistolik ventrikel kanan pada pasien gagal jantungkronik.Metode : Studi potong lintang, dilakukan dari September sampai Desember 2014, melibatkan 35 pasiengagal jantung kronik tidak terkompensasi akibat penyakit jantung koroner dan penyakit jantunghipertensi menjalani ekokardiografi. Derajat asosiasi menggunakan uji korelasi Spearman.Hasil : Penelitian ini mendapatkan rerata right atrial volume (RAV) 33.01cm2 (SB=7.45). Rerata nilairight atrial volume index (RAVi) 45.83ml/m2 (SB=11.87). Rerata nilai tricuspid annular plane systolicexcursion (TAPSE) 13.49mm (SB=3.71). Rerata left ventricular ejection fraction (LVEF) 33%(SB=6.52%). Ditemukan hubungan yang signifikan antara RAV dengan TAPSE (p=0.004). RAVi ≥40.97ml/m2 memiliki sensitivitas 78.1% dan spesifitas 100% (p<0.004) memprediksi rendahnya tahapdisfungsi sistolik ventrikel kanan (TAPSE) <11mm. Ditemukan hubungan yang signifikan antara RAVidengan TAPSE (p=0.017). Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara RAVi dengan LVEF(p=0.318). Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara TAPSE dengan LVEF (p=0.548).Simpulan : Indeks volume atrium kanan dapat menandakan beratnya disfungsi sistolik ventrikel kanan.Kata kunci : RAVi, TAPSE, Gagal Jantung Kronik.AbstractIntroduction : The potential value of clinical measurement of right atrial partly determined factorsaffecting the right ventricular diastolic filling act as an early marker of right ventricular dysfunction, oftenprecedes right ventricular systolic dysfunction. Provide significant prognostic information chronic systolicheart failure and pulmonary hypertension. The aim of this research to determine the relationshipbetween right atrial volume index and right ventricular systolic dysfunction in chronic heart failurepatients.Method : A cross-sectional study, conducted from September to December 2014, involving 35 patientswith chronic heart failure were not offset from coronary heart disease and hypertensive heart diseaseunderwent echocardiography. The degree of association using Spearman correlation test.Result : This research obtains a mean value of right atrial volume (RAV) 33.01cm2 (SD=7.45). Themean value of right atrial volume index (RAVi) 45.83ml/m2 (SD=11.87). The mean value of tricuspidannular plane systolic excursion (TAPSE) 13.49mm (SD=3.71). The mean value of left ventricularejection fraction (LVEF) was 33% (SD=6.52%). Found a significant relationship between RAV withTAPSE (p= 0.004). Found a significant relationship between RAVi with TAPSE (p=0.017). RAVi≥40.97ml/m2 had 78,1% sensitivity and a 100% specificity (p<0.004) for predicting RV systolicdysfunction (TAPSE) <11mm. Found no significant relationship between RAVi with LVEF (p=0.318).Found no significant relationship between TAPSE with LVEF (p=0.548).Conclusion : The RAVi may express the severity of RV systolic dysfunction in patients with chronicsystolic heart failure.Key words : RAVi, TAPSE, Chronic Heart Failure.
Gambaran Kualitas Hidup Pasien Kanker Ginekologik dengan Menggunakan Functional Assessment of Cancer Therapy-General (FACT-G) Questionnaire di RSUP H. Adam Malik Ade Ayu Chartyansari
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 51, No 2 (2018): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.619 KB)

Abstract

AbstrakPendahuluan Disamping Angka Ketahanan Hidup 5 Tahun (5-years survival rate), keberhasilanpengobatan kanker juga diukur dari kualitas hidup penderita. Keterlambatan pasien dalam mencaripengobatan meningkatkan morbiditas dan memperngaruhi kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untukmenilai kualitas hidup penderita kanker ginekologik setelah mendapatkan terapi. Hasil dari penelitian inidiharapkan dapat digunakan sebagai dasar bahwa pengobatan kanker harus bersifat holistik, tidak hanyaeradikasi penyakit, tetapi juga peningkatan kualitas hidup.Metode Sebanyak 47 pasien yang berobat ke Poli Onkologi Ginekologi Rumah Sakit Umum Pusat(RSUP) H. Adam Malik Medan sejak Mei – Oktober 2015 diminta untuk mengisi kuesioner FACT-G untukpenilaian kualitas hidup. Data pribadi dan penyakit diambil dari rekam medik yang bersangkutan. Analisisdata dilakukan secara statistik dengan menggunakan uji one way ANOVA.Hasill Penelitian menunjukkan bahwa dimensi fisik, sosial, emosional dan fungsional penderita kankertidak jauh berbeda berdasarkan variabel penelitian yang diteliti. Kualitas hidup lebih tinggi dijumpai padapenderita kanker endometrium dibanding jenis kanker yang lain, untuk modalitas terapi kualitas hiduplebih tinggi pada pasien yang menjalani radiasi, untuk lama pengobatan lebih tinggi yang menjalanipengobatan lebih dari 6 bulan, dan untuk stadium lebih tinggi pada stadium dini. Tidak ada perbedaansecara statistik kualitas hidup penderita kanker ginekologik dengan modalitas terapi, lama pengobatandan stadium penyakit (p>0.05).Simpulan Kualitas hidup pasien kanker ginekologik yang datang untuk kontrol setelah menjalanipengobatan umumnya baik, walaupun keluhan fisik dan emosional masih dijumpai.Kata Kunci Kanker Ginekologi, FACT-G Questionnaire, modalitas terapi, lama pengobatan, stadium penyakitAbstractIntroduction Successful cancer treatment is not only measured by 5-years survival rate, but also thequality of life of patients. Delayed in seeking treatment resulted in high morbidity and impact on quality oflife. This study aims to assess the quality of life of patients with gynecology cancer after therapy. Thisresearch is expected to support the notion that cancer treatment should use holistic approach,consudering patient’s quality of life.Methods Using descriptive design, 47 survey respondents who visited Gyneco-oncology outpatient clinicat Haji Adam Malik Hospital Medan from May to October, 2015 were asked to fill out a questionnaire withFACT-G for the assessment of quality of life. Personal data and disease were taken from tmedicalrecords. The data then statistically analyzed with SPSS using one way Anova test.Results The physical, social, emotional and functional of cancer patients are not much different based onthe variables studied. Higher quality of life found in patients with endometrial cancer than any othercancer and in patients undergoing radiation, for the duration of treatment is higher on treatment for morethan 6 months, and higher in early stages. There is no statistical difference of the quality of life of patientsbased on therapeutic modalities, time after treatment and the stage of disease (p> 0.05).Conclusion The quality of life of patients with gynecologic cancer was generally good, although thephysical and emotional complaints were stil need to bel encountered.Keywords: Gynecological Cancer, FACT-G Questionnaire , Quality of Life
Profil Penderita Fraktur Klavikula di RSUP Haji Adam Malik Medan Periode Januari 2013 - Desember 2014 Antonius Haratua Pakpahan
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 51, No 2 (2018): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.078 KB)

Abstract

AbstrakTujuan Untuk mengetahui profil pasien fraktur klavikula di RSUP Haji Adam Malik Medan selamaJanuari 2013 hingga Desember 2014Metode Data – data karakteristik pasien diobservasi secara retrospketif dari rekam medis pasien yangdidiagnosa fraktur klavikula selama kurun waktu Januari 2013 hingga Desember 2014. Rekam medisyang tidak memiliki variabel karektiristik yang diteliti dimasukkan ke dalam kriteria eksklusiHasil Pada penelitian ini dijumpai sebanyak 44 pasien yang didiagnosa fraktur klavikula dan memilikirekam medis dengan variabel yang lengkap. Setiap data medis dan demografi di sajikan dalam bentuktabel distribusi, diagram, dan persentase dalam bentuk rata-rata.Kesimpulan Sebagian besar pasien dengan fraktur klavikula adalah laki-laki dengan umur 15 tahunsampai 25 tahun, dengan latar belakang pendidikan sekolah menegah, rata-rata berasal dari luar kotamedan, dan datang ke rumah sakit lebih dari 72 jam setelah trauma. Bagian dari tulang klavikula yangpaling sering terkena yaitu pada bagian pertengahan klavikula, hanya 1 kasus datang dengan frakturterbuka, dengan mekanisme trauma tidak langsung. Cedera kepala merupakan cedera lain yang palingsering terjadi pada pasien fraktur klavikula.Kata kunci: Fraktur klavikula, profil pasienAbstractObjective To observe the profile of clavicle fracture patients in Haji Adam Malik General Hospital Medanfrom January 2013 to December 2014.Method The data was collected by observation method retrospectively from orthopedic medical recordpatients during period January 2013 to December 2014 which are diagnosed with clavicle fracture. Anymedical record that did not contain specific variables was excluded.Result In this research, there are 44 medical record of patients, with diagnose of clavicle fracture andhave complete data variables are recorded. Each of medical and demographic data variables arerecorded descriptively in frequent distribution table, diagram, and percentage in the mean form.Conclusion: Most of patients with clavicle fracture are manfrom 15 years old until25 years old, have asenior high school background, mostly came fromoutside of medan city, and usually admitted to hospitalafter 72 hours of trauma. The most common site of bone are in the midshaft of clavicle, only 1 casepresented open fracture, with directly mechanism of trauma. Head injury is the most common ofassosiated condition came with clavicle fracture.Keywords: Clavicle fracture, patient profile
PREDICE Score sebagai Prediktor Mortalitas 90 Hari pada Pasien Gagal Jantung Diana Puspita Sari Purba
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 51, No 2 (2018): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.504 KB)

Abstract

AbstrakPendahuluan Hospitalisasi pada pasien-pasien gagal jantung kronis berkaitan dengan tingginya angkamortalitas dan morbiditas baik pada saat perawatan maupun pasca perawatan. Meskipun denganadanya berbagai terapi yang tersedia saat ini, tingkat mortalitas dan rehospitalisasi dalam 60 – 90 haripasca rawat inap masih cukup tinggi. Periode ini kemudian dikenal sebagai fase rentan. Dengan adanyaalat bantu evaluasi prognosis pada pasien-pasien gagal jantung yang dirawat inap diharapkan dapatmembantu mengidentifikasi individu dengan risiko tinggi, maka dapat dilakukan pemantauan yang lebihketat serta intervensi yang lebih intensif.Tujuan Untuk mengetahui apakah PREDICE score dapat berfungsi sebagai parameter dalam penilaianmortalitas 90 hari pada pasien gagal jantung.Metode Penelitian observasional dengan metode pengukuran kohort yang bersifat prospektif terhadap34 pasien gagal jantung kronis yang dirawat inap oleh karena perburukan. Kemudian dilakukan follow upselama 90 hari setelah pemeriksaan awal dengan primary end point kematian.Hasil Dari total subyek penelitian 34 orang, 16 orang subyek meninggal selama masa follow-up 90 hari.Dijumpai perbedaan bermakna rerata PREDICE score kelompok yang meninggal 17,06 (2,76) dankelompok yang hidup 12,83 (3,60) dengan nilai p=0.001 dan diperoleh area di bawah kurva (AUC) ROCadalah 84% (95% CI: 60,9% - 97,4%).Simpulan PREDICE score memiliki kemampuan yang baik untuk memprediksi mortalitas 90 hari padapasien gagal jantungEfusi pleura adalah akumulasi cairan yang berlebihan di rongga pleura, hal inidisebabkan penyakit yang mendasarinya. Efusi pleura menyebabkan gangguan ventilasi terutamarestriksi, dan disertai keluhan pasien dengan sesak napas. Tindakan aspirasi cairan pleura denganevakuasi cairan pleura dari rongga pleura, dimana jumlah cairan pleura berhubungan dengan ukuranrongga dada. Tujuan penelitian ini menilai faal paru dilakukan sebelum dan sesudah dua puluh empatjam tindakan aspirasi cairan pleura.Kata Kunci : Gagal jantung, mortalitas, PREDICE scoreAbstractIntroduction Hospitalization in chronic heart failure patients associated with high mortality dan morbidityrate. The 90 days postdischarge period following hospitalization in heart failure patients is known as thevulnerable phase, it carries high risk of poor outcomes due to persistent elevated filling pressure at timeof discharge and subsequent acute or subacute worsening of postdischarge haemodynamics.Identification of high risk individuals by using prognostic evaluation was intend to do a closer follow upand more intensive intervention and decreasing the morbidity and mortality rate of heart failure.Objective To determine whether PREDICE score could predict mortality within 90 days in hospitalizedheart failure patientsMethod This is an observational cohort study of 34 heart failure patients who were hospitalized due toworsening chronic heart failure. Patients were followed for up to 90 days after initial evaluation with theprimary end point is death.Result From 34 subjects, 16 subject died within 90 days. We found a statistical significant differencebetween PREDICE score in died goup 17,06 (2,76) and alive group 12,83 (3,60) with p value = 0.001and the model showed a c-statistic of 84% (95% CI: 60,9% - 97,4%).Conclusion PREDICE score has a good ability to predict mortality within 90 days in heart failurepatients.Keywords : Heart failure, mortality, PREDICE score
Hubungan antara Kadar D-Dimer Hari Pertama Masuk Rumah Sakit dan Hari Ketujuh dengan Tampilan Klinis pada Pasien Stroke Iskemik Akut Ayu Nurul Zakiah
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 51, No 2 (2018): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.242 KB)

Abstract

AbstrakPendahuluan: Stroke merupakan ancaman terbesar menimbulkan kecacatan pada manusia. Diagnosisstroke iskemik berdasarkan pemeriksaan klinisi, pencitraan otak dan laboratorium (d-dimer). Menurutbeberapa penelitian, d-dimer meningkat dengan meningkatnya keparahan stroke, terutama pada stroketromboembolik.Metode: Penelitian kohort prospektif dari bulan Agustus - September 2016 terhadap 30 pasien strokeiskemik akut dan dilakukan anamnesis, Computed Tomography (CT) scan kepala, pengukuran tinggibadan, berat badan, indeks massa tubuh, Hemorrhagic Screening Test (HST), d-dimer hari pertama danhari ketujuh serta skor Indeks Barthel hari pertama dan hari ketujuh.Hasil: Dari 30 subyek, terdapat perbedaan bermakna rerata kadar d-dimer hari pertama dan hari ketujuh(p<0.05). Terdapat perbedaan bermakna skor Indeks Barthel hari pertama dan hari ketujuh (p<0.05).Terdapat korelasi negatif yang rendah kadar d-dimer hari pertama dengan skor Indeks Barthel haripertama (r=-0.383; p<0.05). Terdapat korelasi negatif sedang kadar d-dimer hari ketujuh dengan skorIndeks Barthel hari ketujuh (r=-0.576;p<0.05).Kesimpulan: Terdapat korelasi negatif antara kadar d-dimer dengan skor Indeks Barthel pada pasienstroke iskemik akutKata kunci: d-dimer, tampilan klinis, Indeks Barthel, stroke iskemikAbstractIntroduction: Stroke, one of the biggest threats is the cause of disability in people's lives. The diagnosisof ischemic stroke based on examination of clinicians, plus the brain imaging and laboratoryexaminations (d-dimer). According to some research, the d-dimer levels increased with increasingseverity of stroke, especially on stroke thromboembolic.Methods: A prospective cohort study from August - September 2016 against 30 acute ischemic strokepatients and anamnesis, a head Computed Tomography (CT) scan, the measurement of height, weight,body mass index, Hemorrhagic Screening Test (HST), d-dimer first day and the seventh day and the firstand the seventh day of the Barthel Index score.Results: Of the 30 subjects, there is a meaningful difference in average d-dimer’s value on the first dayof hospital admission and the seventh day (p<0.05). There are meaningful differences Barthel indexscore on the first day of hospital admission and the seventh day (p<0.05). There is a negative lowcorrelation d-dimer’s value on the first day with the Barthel Index score on the first day (r=-0.383;p<0.05).There are negative medium correlations of d-dimer’s value of the seventh day with the Barthel Indexscore on the seventh day (r=-0.576; p<0.05).Conclusion: There’s a negative correlation between d-dimer’s value with Barthel Index score in strokeischemic patientsKeywords: d-dimer, clinical outcome, Barthel Index, ischemic stroke
Rasio HDL/LDL Kolesterol pada Penderita DM Tipe 2 yang Mengkonsumsi Obat Lipid Lowering Agent Novindy Fahlawani Lubis
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 51, No 2 (2018): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.866 KB)

Abstract

AbstrakPendahuluan Dislipidemia sering menyertai penyakit DM. DM dan dislipidemia merupakan kombinasimematikan, pasien DM 2–4 kali lebih beresiko terhadap penyakit kardiovakular. Penting untukmengetahui resiko seorang penderita DM terhadap komplikasi kardiovaskular, salah satunya dengancara menghitung rasio HDL/LDL. Dengan mengetahui rasio HDL/LDL diharapkan dapat menjadipedoman klinisi dalam pengelolaan terapi dislipidemia pada pasien DM.Metode Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Dilakukan diDepartemen Patologi Klinik RSUP H. Adam Malik Medan, terhadap 50 sampel pasien laki-laki yangterdiagnosa DM tipe 2 selama 4 tahun atau lebih dan telah mengkonsumsi obat lipid lowering agentselama 1 tahun atau lebih, tidak menggunakan obat-obat yang meningkatkan KGD atau kadar Lipiddarah. Dilakukan pemeriksaan HbA1C untuk membagi kelompok pasien menjadi DM tipe 2 terkontrol(HbA1C ≤ 7%) dan DM tipe 2 tidak terkontrol (HbA1c > 7%) dan juga pemeriksaan kadar HDL, LDL danperhitungan rasio HDL/LDL.Hasil Pada uji t berpasangan, tidak terdapat perbedaan bermakna rasio HDL/LDL pada kedua kelompok(p= 0.235). Pada uji kolerasi didapati hubungan yang signifikan antara lamanya menderita DM denganrasio HDL/LDL pada kelompok DM tipe 2 tidak terkontrol (p = 0.0001), tetapi tidak didapati hubunganyang signifikan pada kelompok DM tipe 2 terkontrol (p = 0.753).Simpulan Tidak terdapat perbedaan yang signifikan rasio HDL/LDL kelompok DM tipe 2 yang menderitaDM 4 tahun atau lebih, baik yang terkontrol ataupun tidak terkontrol dimana pada kedua kelompok telahmenggunakan obat lipid lowering agent 1 tahun atau lebih.Kata Kunci rasio HDL/LDL, DM tipe 2, dislipidemia, obat lipid lowering agentAbstractIntroduction Dislipidemic often following DM illness, noted that DM and dislipidemic seen may cause aheavy serious combination to death, patient with DM 2-4 is more risks to cardiovascular disease. It isindeed too important to know the risks on one with DM, mainly to cardiovascular complication, one ofthem is to assess the risk in HDL/LDL ratio. In knowing the risk of HDL/LDL ratio, then as expected holda clinical guidance to administer the therapy of dislipidemic on patient with DM.Methods This study is an observational analytical research with cross-sectional approach. It was doneon Department of Clinical Pathology RSUP H. Adam Malik Medan, involved 50 samples patient-men asdiagnosed DM type-2 for 4 years or more, had already consumed Lipid lowering agent medicine for 1year or more, not consumed any medicines increasing KGD up or blood lipid level. It has beenconducted a check HbA1C to classify the group of patients into DM type-2 control (HbA1C ≤ 7%) andDM type-2 non-control (HbA1c > 7%) and also check HDL, LDL rate and ratio assessment HDL/LDL.Results There is no significant different in HDL/LDL ratio to both groups. There is significant correlationsbetween the length of contracting DM with HDL/LDL ratio on group uncontrolled DM type-2. However, iti s no significant correlation in controlled DM type-2 group (p = 0.753).Conclusion There is no significant different of HLD/LDL ratio in either controlled or uncontrolled DMtype 2 which has been prescribed lipid lowering agents for 1 year or more.Keywords : HDL/LDL ratio, DM type 2, dislipidemic, lipid lowering agent
Gambaran Simtom Ansietas dan Depresi pada Pasien Diabetes Melitus tipe- 2 di Instalasi Rawat Jalan RSUP H. Adam Malik Medan Deasy Hendriati
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 51, No 2 (2018): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.468 KB)

Abstract

AbstrakPendahuluan Diabetes melitus (DM) tipe-2 sering mengalami gangguan ansietas dan depresi denganprevalensi dan insidensi 20 – 60% menderita depresi, dan 14-40% menderita ansietas. DM tipe-2beresiko 2 kali lipat menderita ansietas maupun depresi dan sering tidak terdeteksi sehingga tidakmendapat penanganan dengan baik. Penelitianini bertujuan untuk mengetahui gambaran simtomansietas dan depresi pada pasien DM tipe-2 dengan menggunakan kuesioner Hospital Anxiety andDepression Scale (HADS).Metode Penelitian deskriptif dengan metode cross sectional pada bulan Maret – April 2013 di InstalasiRawat Jalan Divisi Endokrin dan Metabolik RSUP. H. Adam Malik Medan. Pasien DM tipe-2 yangmemenuhi kriteria inklusi dan mengisi kuesioner Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS) untukpenilaian simtom ansietas dan depresi.Hasil Berdasarkan kelompok usia 55 – 64 tahun simtom ansietas yang terbanyak 62,5% dan simtomdepresi yang terbanyak 46,2%, kelompok jenis kelamin simtom ansietas laki-laki dan perempuan terbagirata 50% dan simtom depresi laki-laki dan perempuan terbagi rata 50%, kelompok pekerjaan sebagaipensiunan simtom ansietas 37,5% dan simtom depresi 30,7%, kelompok pendidikan SLTA simtomansietas 62,5% dan simtom depresi 61,6%, kelompok status kawin simtom ansietas 87,5% dan simtomdepresi 84,6%, kelompok tempat tinggal di kota simtom ansietas 75% dan simtom depresi 65,4%Simpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa pada pasien DM tipe-2 yang terkontrol (HbA1C <7%)ternyata dijumpai simtom ansietas 8% dan simtom depresi 26%, berdasarkan karakteristik demografikyang terbanyak untuk kelompok usia sekitar 55 – 64 tahun, kelompok jenis kelamin sama antara lakilakidan perempuan, kelompok bekerja pada pensiunan, kelompok pendidikan SLTA, kelompokmenikah dan kelompok yang bertempat tinggal di kota.Kata kunci Diabetes melitus, simtom ansietas dan depresi HADSAbstractIntroduction Type-2 diabetes mellitus (DM) with anxiety and depressive disorders prevalence andincidence was 20 – 60% depression, and 14 – 40% anxiety. Type-2 diabetes mellitus with anxiety anddepression undetected so do not get treatment as well. This study was aimed to determine symptoms ofanxiety and depression in patients with type-2 DM using Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS)questionnaires.Methods A descriptive study with cross-sectional method in March-April 2013 Outpatient in Endocrineand Metabolic Division H. Adam Malik hospital. Type-2 DM patient with inclusion criteria and fill out theHADS questionnaire to assess anxiety and depression symptoms.Results The largest anxiety and depression simptoms based on the age group of 55-64 years that were62.5% and 46.2%, in the sex group were split in to 50%, in the work group as a retired were 37.5% and30.7%, in high school group were 62.5% and 61.6%, in the marital status group were 87.5% and 84.6%,in the residing group in the city were 75% and 65.4%.Conclusion This study shows that type-2 DM patients who controlled (HbA1c <7%) turned out to beencountered anxiety and depression symptoms were 8% and 26%, The largest anxiety and depressionsimptoms based on the demographic characteristics was in the age group of 55-64 years, in the sexgroup was same between men and women, in the group worked was retired, in the groups educationwas high school, in the marital status group was married and in the residing group was in the city.Keywords : Diabetes mellitus, anxiety and depression symptoms, HADS
Hubungan Modifikasi Kadar Natrium Dialisat dengan Kualitas Hidup yang Diukur dengan SF-36 pada Pasien Hemodialisis Reguler Bangun Tua Siregar
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 51, No 3 (2018): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.189 KB)

Abstract

AbstrakPendahuluan Pasien hemodialisis reguler sering menunjukkan fluktuasi kualitas hidup yangdipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain anemia, usia, regulasi volume cairan tubuh, status nutrisidan lain-lain. Dalam penatalaksanaan pasien hemodialisis reguler, disamping tindakan hemodialisisyang adekuat, penilaian terhadap kualitas hidup juga merupakan faktor utama. Kualitas hidupberhubungan dengan morbiditas dan mortalitas. Untuk mengurangi keluhan intradialitik yang terjadidengan cara memodifikasi natrium dialisat saat tindakan hemodialisis. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui hubungan modifikasi Natrium dialisat dengan kualitas hidup yang diukur dengan short form-36 (SF-36) pasien hemodialisisMetode Penelitian eksperimental dengan rancangan case-control dilakukan pada 54 pasien penyakitginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUP H. Adam Malik, keseluruhan pasien diperiksa kadarnatrium serum, pengisian kuesioner SF-36 sebelum dan sesudah modifikasi Natrium dialisat.Selanjutnya dianalisis perbedaan serta korelasinya.Hasil Dijumpai hubungan korelasi sangat kuat kelompok modifikasi antara skor kualitas hidup SF-36dimensi fisik dengan modifikasi Natrium dialisat nilai, r = 0.869. Sedangkan skor kualitas hidup SF-36dimensi mental berkorelasi sedang nilai r = 0.339.Simpulan Pada penelitian ini didapati hubungan korelasi yang positif antara modifikasi Natrium dialisatdengan kualitas hidup dimensi kesehatan fisik dan mental pasien hemodialisisKata Kunci : modifikasi Natrium dialisat, Kualitas hidup ( SF-36), HemodialisisAbstractIntroduction Regular hemodialysis patients frequently showed fluctuation of quality of life influence byseveral factors such as anaemia, age, body water volume regulation and nutritional status and others.Sodium dialysate concentration can be regulated by manually and automatically through hemodyalisismachine. The aim of this study was to determine correlation between sodium dialysate modification andQuality of life measured by Short form-36 (SF-36) in hemodialysis patients.Methods This is an experimental study with case-control design. We recruited 54 chronic hemodialysispatients in hemodialysis center at Adam Malik hospital. Blood sample for sodium serum were taken andquality of life measurement by SF -36 questionaire before and after sodium dialysate modification wasperformed to all subjects. Then to evaluate the difference and correlation.Results Positive significant correlation found in modification group between physical and mentaldimension score and sodium dialysate modification with r = 0.864 and r = 0.339.Conclusion There was a significant correlation between Sodium dialysate modification and physical andmental health dimension from quality of life measured in by SF-36 in hemodialysis patients.Keywords :Sodium dialysate modification, Quality of life (SF-36),Hemodialysis