cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 181 Documents
Perbedaan Kadar Interleukin-6 serum pada kehamilan trimester ketiga normotensi dan preeklampsia Renny Junitasari
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 50, No 1 (2017): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak
Hubungan interleukin 6 dengan serum ferritin pada penderita penyakit ginjal kronik yang anemia dan menjalani hemodialisis reguler Syahfitri Aryani
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 50, No 1 (2017): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendahuluan :Anemia dijumpai pada sebagian besar penderita Penyakit Ginjal Kronik (PGK) dengan hemodialisis reguler.Berbagai studi invitro invivo menunjukkan pelepasan sitokin proinflamasi ke dalam darah berkontribusi timbulnya anemia.lnterleukin-6 berperan dalam regulasi dan metabolisme besi..Serum ferri1in masih diandalkan menentukan cadangan besi.Metode : Penelitian inimenggunakan metode analitik observasional pendekatan potong lintang yang dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan,maret-april 2016. Sebanyak 35 sampel penderita PGK yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.Subjek penelitian diperika darah lengkap, serum feritin dan interleukin 6. Hasil : Subyek 23 laki-laki (65%), 12 perempuan (35%). Dijumpai 24 orang (68.6%} kadar feritin meningkat,dan 11 (31.4%} yang normal. Sedangkan nilai IL-6 >100 pg/ml diperoleh 9 orang (25.7%) dan 10-100 pg/ml adalah 26 orang (74.3%).Pada uji spearman tidak didapat hubungan bermakna interleukin 6 dengan serum feritin (r= 0.028, p = 0.872) .Simpulan : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara interleukin 6 dengan serum feritin pada penderita PGK yang menjalani hemodialisis reguler. Kata kunci : Interleukin 6.feritin,PGK,hemodialisis Abstract Introduction :Anemia is found in most patients with Chronic Kidney Disease(CKD) undergoing regular hemodialysis.lnvitro invivo studies indicated that the release of cytokines in the blood contribute to the onset of anemia.Interleukin 6 plays a role in iron regulation .Ferritin serum is relied to show iron storage in CKD. Method :This study is using analytical observation method and cross sectional design that were conducted at HAM Hospital in March- April 2016.A total of 35 samples of CKD patients Result : Ferritin levels increased in 24 people {68. 6%) and was normal in 11(31.4%).Whereas IL-6 level obtained in 9 people (25.7%)were >100 pg/dl and in 26 (74.3%} were 10-100 pg/dl. In the spearman test there was no significant corellation IL-6 with ferritin serum (r= 0.028, p = 0.872) . Conclusion :There is no significant correlation between Interleukin 6 with ferritin serum in chronic kidney disease patientsKeywords :Interleukin 6, ferritin, CKD, Hemodialysis
Proporsi dan karakteristik koinfeksi servisitis gonore dan klamidia pada Wanita Pekerja Seksual (WPS) di lokalisasi Bandar Baru Kabupaten Deli Serdang Mohamad Mimbar Topik
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 50, No 1 (2017): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendahuluan :Servisitis adalah sindrom peradangan serviks dan merupakan kondisi yang umum pada Wani1a Pekerja Seksual (WPS).Servisitis yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae dan serirg terjadi koinfeksi dengan Clamydia trachomatis. Proporsi dan karakteristik koinfeksi servisitis gonore dan klamidia pada WPS di lokalisasi Bandar Baru, Kabupaten Deli serdang saat ini belum diketahui. Untuk mengetahui proporsi dan karakteristik koinfeksi servisitis gonore dan klamidia pada WPS dengan mengidentifikasi faktor-faktor sosiodemografik, prilaku, cara melindungi diri dan gambaran endoserviks.Metode :Merupakan penelitian deskriptif, cross sectional. Subjek penelitian adalah seluruh WPS di Bandar Baru berjumlah 52 orang yang masuk dalam kriteria inklusi dan ekslusi serta menandatangani surat persetujuan. WPS dianamnesis kemudian dilakukan swab endoserviks untuk pemeriksaan pewarnaan gram. Hasil positif gonore pada pewarnaan gram dilanjutkan dengan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) klamidia. Hasil: Dari 52 orang WPS,38 positif gonore dan dari 38 positif gonore didapatkan 18 orang positif klamidia. Proporsi koinfeksi servistis gonore dan klamidia 34.6% dengan karakteristik terbanyak pada usia 20-24 tahun (55.6%), tingkat pendidikan SMP/sederajat (50%),status perkawinan janda (72.2%), usia pertama kali melakukan hubungan seksual usia 16-18 tahun (66.7%), lama bekerja sebagai WPS > 12 bulan (61.1%), frekuensi berhubungan seksual perminggu dalam satu bulan terakhir 21-30 kali(44.4%), penggunaan kondom yang tidak konsisten pada mitra seksual (94.4%) dan selalu rnenggunakan bahan atau cairan pencuci vagina (83.3%). Gambaran endoserviks adanya sekret mukopurulen, mukosa yang eritem dan mudah berdarah (83.3%). Simpulan :Proporsi koinfeksi servistis gonore dan klamidia 34.6% dengan karakteristik umumnya berusia 20-24 tahun, tingkat pendidikan SMP/sederajat, janda,pertama kali berhubungan seksual usia 16-18 tahun,lama bekerja >12 bulan,frekuensi berhubungan seksual perminggu dalam satu bulan terakhir 21-30 kali,pemakaian kondom yang tidak konsisten dan selalu menggunakan bahan atau cairan pencuci vagina. Gambaran endoserviks adanya sekret mukopurulen, mukosa eritem dan mudah berdarah.Kata kunci :Gonore, klamidia, koinfeksi, WPS. Abstract Introduction: Cervicitis is a syndrome of cervical inflammation and a common condition in Female Sex Workers (FSVv).Cervicitis caused by Neisseria gonorrhoeae is often co-infected with Clamydia trachomatis.The proportion and characteristics of cervisitis gonorrhea and chlamydia co-infec1ion in FSW at Bandar Baru localization, Deli Serdang Regency is currently unknown..Method :This is a cross-sectional descriptive study. Subjects of this study are all of FSW in Bandar Baru which totally 52 women. All of the FSW were interviewed and had an endocervical swab for gram staining examination.The positive results of gonorrhea in gram staining were followed by Polymerase Chain Reaction (PCR) assay for chlamydia examination.Result :Of the 52 FSW, 38 women were gonorrhea positive and from 38 women gonorrhea positive, 18 women were positive chlamydia.The proportion of cervistis gonorrhea and chlamyoia co-infection is 34.6% with the most characteristics are 20-24 years old (55.6%). completed junior high school/equal (50%). widow (72.2%) first sexual intercourse at 16-18 years old (66.7%). duration of work as FSW more than 12 months (61.1%), the frequency of sexual intercourse 21-30 times per week (44.4%), the use of condoms by sexual partners is inconsistent (94.4%) and always use of materials or vaginal douches is 83.3%. Endocervical features with mucopurulent exudates,mucosal erythema and easily bleeding found in most of FSW (83.3%).Conclusion: The proportion of cervicitis gonorrhea and chlamydia co-infection is 34.6% with FSW characieristics are generally 20-24 years old, completed junior high school/equal. widow, first sexual intercourse at ·16-18 years old, duration of work as FSW more than 12 months, the frequency of sexual intercourse 21-30 times per week,condom use inconsitent and always use of materials or vaginal douches. Endocervical features with mucopurulent exudates. mucosal erythema and easily bleeding. Keyword :Gonoffhea, Chlamydia, co-infection, FSW
Hubungan antara tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, tekanan nadi dan tekanan arteri rata-rata dengan fungsi kognitif pada usia lima puluh tahun ke atas Toety Maria Simanjuntak
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 50, No 1 (2017): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendahuluan : Peningkatan dan penurunan tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, tekanan nadi dan tekanan arteri rata-rata pada usia pertengahan berhubungan denan peningkatan resiko penurunan fungsi kogiitif di kemudian hari.Metode :Penelitian ini merupakan studi potong lintang dengan subjek 130 orang pada usia >_ 50 tahun di Poli Umun Departemen Neurologi RSUP Haji Adam Malik Medan dan Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Karya Kasih Medan. Hasil:Dari 130 orang subjek terdiri dari 51 orang laki-laki (39.2%) dan 79 orang perempuan (60.8%). Hubungan tekanan darah sistolik dengan MMSE (r--0.203, p=0.021) dan CDT (r--0.221' p=0.012). Hubungan tekanan darah diastolik dengan MMSE (r= 0.037, p=0.677) dan CDT (r- 0.039, p=0.663). Hubungon tekanan nadi dengan MMSE (r- -0.212,p=0.015) can CDT (r- -0.250 p= 0.004). Hubungan tekanan arteri rata-rata dengan MMSE (r= -0.180, p=0.040) dan CDT (r- -0.175 dan p= 0.047) Diskusi :.Hubugan tekanan darah sistolik, tekanan nadi dan tekanan arteri rata-rata memiliki korelasi negatif yang signifikan terhadap fungsi kognitif. Namun pada tekanan darah diastolik memiliki korelasi positif yang tidak signifikan terhadap fungsi kognitif.Kata Kunci :Mini Mental State Examination (MMSE) : Clock Drawing Test(CDT); fungsi kognitif. Abstract Introduction : Elevated and decreased systolic blood pressure, dyastolic blood pressure, pulse pressure and mean arterial pressure in midlife were associated with increased risk for cognitive function impairment later in life.Methods :This study was a cross-sectional study with 130 subjects at ·3d 50 years old in Department Neurology of Haji Adam Malik General Hospital and Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Karya Kasih Medan. Results : From 130 subjects consisted of 51 men (39.2%)and 79 women (60.8%). The correlation systolic blood pressure vtith MMS (r=-0.203, p=0.021)  and CDT (r=-0.221,p=0.012). The correlation dyastolic blood pressure with MMSE (r- 0.037, p=0.218) and CDT (r = 0.039,p=0.663). The correlation pulse pressure with MMSE (r =-0.212,p=0.015) and CDT (r = -0.250, p=0.004). The correlation mean arterial pressure with MM (r =-0.180,p=0 .040) and CDT (r =-0.174 and p= 0.047). Discussion :The correlation of systolic blood pressure,pulse pressure and mean arterial pressure had a significant negative correlation to cognitive function. Whereas,the dyastolic blood pressure had positive correlation which no significant to cognitive function.Keywords :Mini Mental State Examination (MMSE); Clock Drawing Test (CDT); cognitive function.
Karakteristik penderita osteoartritis lutut Departemen Orthopaedi dan Traumatologi RSUP H. Adam Malik Medan periode Januari 2011-Desember 2013 M. Bayu Rizaldy
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 50, No 1 (2017): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendahuluan : Terdapat lebih dari 100 jenis kelainan pada sendi tubuh.Osteoartritis merupakan kelainan yang paling banyak ditemukan dan yang paling tinggi dalam prevalensi penyebab disabilitas yang kronis terutama pada usia tua.Osteoartrilis paling banyak ditemukan pada sendi panggul dan sendi lutut. Nyeri dan gejala lain yang disebabkan oleh osteoartrtitis sangat mempengaruhi kualitas hidup seseorang baik secara fisik maupun psikososial. Untuk itu diadakan peneletian agar dapat diketahui karakleristik pasien dengan diagnosa osteoartritis lutut diRSUP Haji Adam Malik Medan selama periode tiga tahun dari Januari 2011 hingga Desernber 2013 Metode :Data -data karakteristik pasien di observasi secara retrospketif dari rekam medis pasien yang didiagnosa osteoartritis lutut selama kurun waktu Januari 2011 hingga Desember 2013. Rekam medis yang tidak memiliki variabel karektiristik yang diteliti dimasukkan ke dalam kriteria eksklusi Hasil: Pada penelitian ini dijumpai sebanyak 145 pasien yang didiagnosa osteoartritis lutut dan memiliki rekam medis dengan variabel yang lengkap. Setiap data medis dan demografi di sajikan dalam bentuk tabel distribusi, diagram, dan persentase dalam bentuk rata-rata. Simpulan : Pada penelilian ini dijumpai sebahagian besar pasien dengan osteoartritis lutut adalah berjenis kelamin wanita, dengan usia diatas 60 tahun, memiliki latar belakang pendidikan perguruan tinggi, melakukan akvitas sehari-hari dengan beban sedang-berat, memiki jenis osteoartritis prime dan hanya satu sisi lutut, memiliki keluhan setidaknya 6 bulan, dan diklasifikasikan sebagai osteoartritis lutut Kellgreen & Lawrence grade II Kata kunci: osteoartritis lutut; karakteristik pasien; pesien orthopaedi Abstract Introduction :To observe the characteristics of knee osteoartrtis patients in Haji Adam Malik General Hospital Medan during three years period,from January 2011 to December 2013. Method :The data was collected by observation method retrospectively from Orthopaedic mecical record patients during period January 2011 to December 2013 which are diagnosed with knee osteoartritis. Any medical record that did not contain specific variables was excluded. Result :In this research,there are 145 medical record of patients,with diagnose of knee osteoartritis and have complete data variables are recorded. Each of medical and demographic data variables are recorded descriptively infrequent distribution tabel, diagram,and percentage in the mean form. Conclusion : Most of patients with knee osteoartritis are woman that above 60 years old, have a colege background, and have moderate weight daily activity. Most of them are primary osteoartritis, affect only one knee, complaining about the knee for at least 6 months before, and found with knee osteoartritis Kellgreen & Lawrence grade II. Keywords :knee osteoartritis; patients characteristics: orthopaedic patients
Prevalensi otitis media supuratif kronik di provinsi Sumatera Utara Budi Santoso
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 50, No 1 (2017): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendahuluan :Otitis media supuratif kronik (OMSK) terdapat pada semua bangsa diseluruh dunia baik di negara berkembang maupun negara maju,di negara berkembang angka kejadian lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju. Saat ini belum didapatkan data pasti prevalensi OMSK diprovinsi Sumatera Utara sehingga diperlukan data epidemiologi untuk menentukan strategi pencegahan dan tatalaksana yang sesuai untuk OMSK. Metode :Penelitian bersifat deskriptif dengan desain cross secfioral, dilakukan dibeberapa daerah terpilih yang mewakili provinsi Sumatera Utara. Hasil:Subyek penelitian sebanyak 1726 subyek,jumlah tersebut didapat dari 457 rumah tangga. OMSK didapatkan sebanyak 61 penderita OMSK. dengan demikian prevalensi di provinsi Sumatera Utara adalah 3.5%.Berdasarkan jumlah tersebut, OMSK tipe tubotimpanik. sebesar 80.4% dan OMSK tipe atikoantral sebesar 19.6%.Kelompok usia terbanyak yang menderila OMSK adalah kelompok usia 10-<20 tahun (26.23%). Jenis kelamin laki-laki menderita OMSK sebesar 54.1%. Keluhan terbanyak adalah telinga berair (45.9%). Simpulan : Prevalensi OMSK di provinsi Sumatern Utara sebesar 3.5%. Berdasarkan kriteria WHO maka termasuk dalam kriteria prevalensi tinggi, hasil tersebut menunjukkan bahwa OMSK merupakan masalah kese atan yang cukup serius di provinsi Sumatera Utara. Kata kunci:OMSK, Prevalensi, Profil, Sumafera Utara Abstract Introduction :Chronic Suppurative Otitis Media (CSOM) is a well-known disease in all nations,both developing and developed countries. The incidence is higher in developing country than developed country.As of or now, there is no exact data on the prevalence of CSOM in North Sumatera province, thereby the necessity of epidemiological data is to determine the strategy of prevention and management in accordance to the characteristics of the patients. Methods :A descriptive cross sectional design conducted in selected areas representing North Sumatera province.Results : 1726 subjects were obtained from '457 households. Total patients with CSOM is 61 out of 1726 subjects, and its prevalence in North Sumatera is 3.5%. Based on the sum,CSOM tubotympanic type is 80.4% and atticoantral type is 19.6%. The age group of patients suffering CSOM is between 10 - less than 20 years (26.23%). Male gender is more likely to suffer CSOM (54.1%). Most complaints were discharge from ears (45.9%). Conclusion: The prevalence of CSOW in the province of North Sumatera is 3.5%. According to 'WHO criteria, the prevalence obtained in this study is high, these results indicate that CSOM is a serious health prcblem in North Sumatera. Keywords : CSOM, Prevalence, Profile, North Sumatera
Pengaruh puguntano terhadap HOMA-IR pada pasien diabetes mellitus yang baru didiagnosa Billy Stinggo Siahaan
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 50, No 1 (2017): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendahuluan : Insulin resisten sangat penting pada diabetes sebagai prediktor yang kuat terhadap perkembangan diabetes dan target terapi saat hiperglikemia sudah terjadi.homeostatic model assessment insulin resistance (HOMA-IR) merupakan suatu metode yang telah tervalidasi dalam menilai resistensi insulin pada pasien diabetes. Puguntano suatu tanaman budidaya yang terdapat di Sumatra Utara diketahui memiliki efek anti diabetes. Studi ini mencoba menilai pengaruh Puguntano sebagai tanaman budidaya di Sumatera Utara terhadap resistensi insulin pada pasien Diabetes mellitus (DM) tipe 2. Untuk mengetahui pengaruh pemberian serbuk Puguntano terhadap HOMA-IR pada pasien DM tipe 2 yang baru didiagnosa.Metode :Dilakukan uji klinis terbuka, dengan desain paralel selama 12 minggu pada 24 pasien (12 pasien dan 12 kontrol) Diabetes Mellitus tipe 2 yang baru terdiagnosa yang dibagi dalam 2 grup masing-masing diberikan puguntano dan metformin selama 12 minggu. HOMA-IR dan HbA1c diperiksa pada awal dan di akhir pengobatan minggu ke 12. Hasil : Didapatkan rerata penurunan HOMA-IR pada grup puguntano 1.71 (± 2.29) (p=0.034). Tidak didapatkan perbedaan rerata penurunan HOMA-IR antara kedua grup pugutano vs metformin 1.71 (±2.29) vs 0.80 (±1.47) (p=0.402).Simpulan :Didapatkan penurunan nilai HOMA-IR dengan pemberian puguntano pada penderita Diabetes Mellitus tipe 2 yang baru didiagnosa dan hasil tersebut signifikan secara statistik. Kata Kunci :Diabetes Mellitus, Puguntano, HOMA-IR Abstract Introduction : Insulin resistance is important not only as a powerful predictor of future development of type 2 diabetes but also a therapeutic target once hyperglycemia is present. Homeostatic model assessment insulin resistanceHOMA-IR is a method for assessing insulin resistance and it has been validated worldwide. Puguntaro one of the traditional plant that found in North Sumatera had been recognize for the anti-diabetic effect. This study tried to assess the effect of Puguntano as a traditional plant in North Sumatera on insulin resistance in type 2 Diabetic Mellitus patient. To determine the effect of Puguntano treatment on HOMA-IR in newly diagnosed type 2 Diabetes Metlitus patient. Methods :This was a randomized open clinical trial held in 12 weeks in 24 patients (12 patients and 12 controls) newly diagnosed Type 2 Diabetes Mellitus that divide into 2 groups ,this two groups were given Puguntano and Metformin for 12weeks. HOMA­ IR and Hba1c were determined at baseline and in the end of 12 weeks. Result :In group Puguntano the mean decreased of HOMA-IR was 1.71 (± 2.29}(p=0.034). There is no difference for the mean decreased of HOMA-IR between both group Puguntano vs Metformin, 1.71 (±2.29) vs 0.80 (±1.47) (p=0.402).Conclusion : There is a decrease mean of HOMA-IR level with Puguntano treatment in newly diagnosed type 2 Diabetes Mellitus patient and it was significant statistically. Key Word :Diabetes Mellitus, Pugunlano, HOMA-JR
lmunisasi campak pada anak alergi telur Laily Munawwarah
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 50, No 1 (2017): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak lmunisasi campak sangat penting diberikan pada anak untuk mencegah terjadinya wabah campak. Angka kejadian campak menurun drastis sejak ditemukan vaksin campak. Sebelum dilaksanakan program imunisasi campak pada tahun 1963,campak terjadi pada hampir setiap anak. Diperkirakan 3 sampai 4 juta orang terinfeksi campak tiap tahun. Setelah program imunisasi angka perlindungan meningkat 85 persen. Anak yang memiliki alergi terhadap telur dapat timbul reaksi alergi bila diberikan vaksin yang ditanamkan pada kuning telur seperti pada vaksin campak. Reaksi alergi tersebut berhubungan dengan adanya protein telur pada kandungan vaksin.Mengingat pentingnya imunisasi campak diberikan untuk eradikasi campak sebagaimana kebijakan WHO,maka vaksin campak tetap dapat diberikan kepada anak dengan alergi telur. Hal ini membuat beberapa negara mengeluarkan rekomendasi mengenai pemberian vaksin campak pada anak alergi telur. Keywords :alergi telur, vaksin campak, anak anak Abstract Measles immunization is very important given to children in order to prevent measles epidemic. The prevalency of measles reduced since measles vaccine found.. Before implementation of the national measles vaccination program in 1963,measles occurred in epidemic cycles and virtually every person acquired measles before adulthood (an estimated 3 to 4 million persons acquired measles each year). After measles vaccine program,approximately 85% effective in preventing measles. Egg allergy childrens can respon anaphylaxis if administered vaccines which contain live attenuated virus prepared in chick-embryo fibroblastcell cultures. It is caused the protein contained in vaccine. As WHO guideline that immunization is important to measles eradication ,so child with egg allergy should get measles vaccine. It makes many countries recommended guideline vaccination in egg allergy children . Keywords :eqg allergy, measles vaccine, children
Perubahan pola tidur pada remaja Nova Juliana Sagala
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 50, No 1 (2017): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tidur adalah suatu keadaan menurunnya kesadaran dan respons terhadap lingkungan yang bersifat reversibel, dan biasanya berupa keadaan berbaring, tampak tenang dengan sedikit gerakan yang bermanfaat sebagai proses penyegaran, fungsi imunitas, pertumbuhan fisik, stabilitas emosional, mempertahankan fungsi kognitif dan perkembangan intelektual. Pola tidur yang mencakup fisiologi tidur, ritme tidur bangun, irama sirkadian dan kebutuhan durasi tidur berubah sepanjang kehidupan seseorang mulai dari neonatus sampai usia lanjut. Faktor biologis yaitu pubertas dan faktor psikososial seperti beban akademik di sekolah, akivitas sosial, dan penggunaan komputer atau televisi pada remaja menyebabkan remaja terbiasa untuk tidur lebih larut malam dan bangun lebih cepat di pagi hari. Semua hal ini berperan dalam menyebabkan kualilas tidur yang buruk pada remaja yang selanjutnya menimbulkan berbagai dampak negatif dalam kehidupan remaja. Kata kunci :Pola Tidur, Kualitas Tidur, Remaja Abstract Sleep is a reversible slate of reduced awareness of, and responsiveness to the environment. It usually occurs when lying down, quietiy,with little movement and which the functions including a restoration process,maintenance of immune systems, physically growth,emotionally stability, maintenance of cognitive function and intellectual function. Sleep pattern wich comprise of sleep physiology, sleep-wake rhythm, circadian rhythm and sleep requirements had changed in someone's life from newborn until old age.Biological factor like puberty and psychosocial factor like academic demands, social activities, computer and television attractions, leading the adolescents to sleep phase delay and wake-up earlier in the morning during the weekday.Finally, all of this contribute a poor sleep quality and variety consequences of sleep inadequate in adolescents. Keyword :Sleep Pattern, Sleep Quality, Adolescence
Pemberian nutrisi enteral pada bayi prematur Tapi Endang F. Lubis
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 50, No 1 (2017): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kelahiran prematur merupakan penyebab utama mortalitas dar morbiditas jangka panjang. lnsidensinya diperkirakan sebanyak 35% dari 3.1juta kematian di dunia per tahunnya dan paling tidak berkontribusi sekitar 50% dari semua kematian neonatal. Bayi prematur juga memiliki risiko untuk mengalami komplikasi post natal. Pemberian nutrisi yang benar dan optimal pada masa post natal sangat penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada bayi prematur. Pemberian nutrisi enteral lebih fisiologis,aman, murah, dan mudah dibandingkan nutrisi parenteral,serta menjadi pilihan utama bila saluran pencernaan masih dapat digunakan. Pemberian nutrisi harus  dilakukan sedini mungkin dan disesuaikan dengan kondisi klinis.Kata kunci :Nutrisi enteral; bayi prematur Abstract Preterm birth is responsible for longterm morbidity and mortality. The incidence is around 35% from 3 milion death in the world each year and contribute 50% for all cause mortality in neonate. Pre-mature infant also at risk for having post natal complication.The appropriate and optimal nutrition at the post nata are very important to support normal growth and development for premature infant. The enteral nutrition is more physiologic,safe, cheap and easy to compare to parenteral nutrition also became first choice if the gastrointestinal system can be used. The nutrition should be considered early and adjusted with the clinica l condition Key word : Enteral nutrition, premature infant