cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
journal.pm.uinsuka@gmail.com
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta 55281, Indonesia.
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan
ISSN : 2580863X     EISSN : 25977768     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan (ISSN : (p) 2580-863X | (e) 2597-7768 ) is a peer-reviewed journal published and managed by Islamic Community Development, Faculty of Da'wah and Communication, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in collaboration with Asosiasi Pembangunan Sosial Indonesia (APSI) and Perkumpulan Pengembangan Masyarakat Islam (P2MI). This scientific journal specifically addresses findings, new methods, and research experiences on Muslim society development. This journal includes, but not limited to, research in social policy of development, community-based tourism, Islamic philanthropy of development, and Islamic community development. The journal has been indexed in DOAJ and accredited by the Indonesian Ministry of Research Technology and ranked Sinta 2 (second grade) by Science and Technology Index.
Arjuna Subject : -
Articles 248 Documents
‘SANGU AKHIRAT’ SEBAGAI GERAKAN FILANTROPI: TRANSFORMASI BANTUAN PEMBANGUNAN MASJID AL-AMIN MENJADI DANA SOSIAL UMAT Efendi, Aweng; Abu Suhud, Moh.
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-10

Abstract

The program ‘Sangu Akhirat’ is popularity by people of Sumber Gamol Village, Sleman. If we are variously from behind, ‘Sangu Akhirat’ program is a model of Muslim philanthropy movement who increasingly develops in the society of this country for old. For the early, this programs has been the purpose of cost salvage building mosque in 2007, but the next step when mosque building after finished is still existed until right now. Meanwhile, the programs have been changing of function become social cost since 2012. Hence, this article aims to explain the transforming develop from cost building mosque become social cost security for empowerment. For the step early, this paper is developing research of thesis for the graduate program, then this article cultivated to become a narrative field study with a qualitative approach. Data of this research has been treated through the interview process, observation, and documentation. Moreover, the data was cultivated by reduction data, display data, and conclusion. Based on field discovery, this article is twice part of the implementation program both interpretation and organizing steps and the application program. After implementation of ‘Sangu Akhirat’ program, I am discovering of impact in the growing of mutual assistance spirit, increasingly of sympathy, and developing for spirit helping people in the village.[Program ‘Sangu Akhirat’ dipopulerkan oleh masyarakat Dusun Sumber Gamol, Sleman. Jika ditelisik, ‘Sangu Akhirat’ masuk dalam gerakan filantropi Islam yang sudah tumbuh berkembang di tengah masyarakat negeri ini. Pada tahap awal, program ini bertujuan untuk menutupi biaya pembangunan masjid di tahun 2007, namun tahap selanjutnya ketika pembangunan masjid selesai, program ini masih memiliki eksistensi. Di mana eksistensi program ini berubah fungsi menjadi dana sosial umat sejak 2012. Dengan demikian, artikel ini menjelaskan tentang transformasi program bantuan pembangunan masjid Al-Amin Aminah Binti Saif menjadi dana sosial umat. Secara eksploratif, artikel ini menjelaskan lebih dalam tentang implementasi program ‘Sangu Akhirat’. Pada awalnya, kajian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan jenis kualitatif. Seiring dengan kebutuhan publikasi, maka hasil draft penelitian ini diolah menjadi sebuah artikel dengan analisis deskriptif. Data penelitian ini diolah dari proses wawancara, obsevasi, dan dokumentasi. Adapun data yang diperoleh melalui proses penyederhanaan dengan cara reduksi data, menyajikan data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan temuan lapangan, artikel ini di bagi menjadi dua implementasi program, yakni tahapan interpretasi, tahapan pengorganisasian, dan tahapan aplikasi. Setelah melalui tahap implementasi, penulis menemukan beberapa dampak dari program ini, antara lain: tumbuhnya semangat gotong royong,  meningkatnya rasa simpatik sesama masyarakat, dan berkembangnya rasa saling tolong menolong di masyarakat.]
AKAR DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN NEGARA PADA AGAMA PRIBUMI DALAM PERSPEKTIF SOSIAL-ANTROPOLOGI Aziz Faiz, Abd.
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.601 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.%x

Abstract

 In a practical context, the state of Indonesia  has accommodated and acknowledged the existence of indigenous religions with other names, Penghayat Kepercayaan (belivers of mystical gorup), even its position now maybe equivalent to six religions recognized by the state,  but in the context of practical services it needs to be investigated further. Unfortunately, the state has not used the definition of religion social-anthropologically yet, it uses a biased politically definition. The implication is that the state see indigenous religion as not religion. This led to the need for religiousization of it followers which led to the conflicts of mission from six world religions. Because of this, indigenous religions experienced conflict with the state, in the same time it also conflict with six world religions. Their position was finally squashed, therefore the recommendations of this paper looked at the need for Penghayat Kepercayaan to be placed in the Ministry of Religion by forming the BIMAS Penghayat Kepercayaan, at least the country put indigenous religion important and equivalent with six world religions.  Dalam konteks yang praktis, negara telah mengakomodir dan mengakui eksistensi agama pribumi dengan nama lain yaitu Penghayat Kepercayaan, dan bahkan kedudukannya mungkin setara dengan agama besar, meski dalam konteks pelayanan praktis perlu diteliti lebih jauh. Sayangnya hinga saat ini negara belum menggunakan definisi agama secara sosial-antropologis, tetapi menggunakan definisi yang bias politik kekuasaan. Implikasinya adalah negara memandang agama pribumi bukan agama. Hal ini membawa perlunya agamaisasi pengikut agama pribumi yang menimbulkan konflik misi dari agama-agama besar. Karena itu, agama pribumi mengalami konflik denga negara, juga dengan agama-agama besar sekaligus. Posisi mereka akhirnya serba terjepit, karena itu rekomendasi tulisan ini memandang perlu Penghayat Kepercayaan diletakkan di Kemeterian Agama dengan membentuk BIMAS Penghayat Kepercayaan, setidaknya dengan demikian negara meletakkan agama pribumi penting dan setara dengan agama besar lainnya
MAS ZAKKY: MODEL ZAKAT PEMBERDAYAAN DARI BAZNAS KOTA YOGYAKARTA Jaya, Pajar Hatma Indra
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpm.2018.%x

Abstract

Ada dua model pengelolaan zakat di masyarakat, yaitu model carity (zakat konsumtif) dan model zakat produktif (zakat pemberdayaan). Dari dua model tersebut, model carity merupakan model yang paling sering digunakan. Padahal menurut Zakiyuddin Baidhawy (2015) model carity akan kesulitan untuk metransformasikan mustahik menjadi muzaki. Oleh karena itu saat ini BAZ/LAZ mulai mencoba bereksperimen untuk mempraktikan model zakat produktif, namun hasilnya belum optimal. Masih diperlukan eksperimen untuk membangun model zakat produktif yang ideal. Di BAZNAS Kota Yogyakarta terdapat program zakat pemberdayaan yang unik dengan nama Mas Zakky dalam Program Yogya Sejahtera. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pentasarufan zakat pemberdayaan model Mas Zakky dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat. Pentasarufan model Mas Zakky dilakukan dengan empat tahap, yaitu penentuan muztahak yang tepat, pembekalan, pemberian daya, dan pendampingan yang terkontrol secara ketat. Penelitian ini menemukan bahwa kata kunci keberhasilan program zakat pemberdayaan adalah tidak boleh berhenti pada pemberian bantuan, namun harus dilakukan pendampingan dalam waktu satu tahun sehingga terbentuk kebiasaan baru dari para mustahik. Kebiasaan baru tersebut muncul karena penyadaran, pembiasaan, serta kontrol ketat lewat pemantauan tentang manajemen keuangan yang baik, yangmana mustahik diwajibkan untuk memberikan laporan usaha harian, laporan keuntungan bulanan, kewajiban menabung minimal 2,5 persen dari penjualan kotor setiap bulan, dan belajar berinfaq dengan menaruh kaleng “sedino sewu” di tempat usaha mereka. Program Mas Zakky berdampak pada mulai hilangnya kondisi fakir para mustahik karena munculnya pekerjaan baru, tumbuhnya kesadaran bahwa usaha dagang merupakan bentuk pekerjaan yang menguntungkan, munculnya kesadaran untuk menabung, rajin sholat dhuha, terbentuknya jaringan, dan munculnya kebiasaan berinfak.
KONTRIBUSI EKONOMI ISLAM DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN: SEBUAH PELUANG ATAU TANTANGAN? Wahyu Safitri, Ika
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The economy in Indonesia in the past few years is still on the decline and has not shown an indication of collective improvement in the economic aspects of both micro and macro. Islamic economic development is used as an alternative in solving the problem of poverty in an effort to prosper the people. The approach to Islamic economic development is seen from the institutional and government dimensions. First, equal opportunities in terms of education and employment so that the community can grow and prosper well. Second, zakat waqf and sodaqoh where good performance in the institution can improve people's welfare because the aim of the institution is to focus on poverty alleviation. Third, Islamic banking is one alternative to improve economic downturn in Indonesia, where it must grow and breed more widely. Fourth, the role of the government is not only to pay attention to the regulatory and formal legal aspects but also the real alignments to Islamic banking and sharia financial institutions in economic and development policies[Ekonomi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir masih terpuruk dan belum menunjukkan indikasi perbaikan secara kolektif pada aspek mikro maupun makro. Di tengah deras pesaingan ekonomi global, tawaran ekonomi Islam dapat menjadi alternatif untuk memecahkan masalah kemiskinan sebagai upaya untuk mensejahterakan umat. Tentu saja, jika kita sepakat ekonomi Islam memiliki kontribusi nyata dalam pembangunan, maka konteks ini perlu mensinergiskan peran swasta dengan pemerintah. Pertama, peluang yang sama dalam hal pendidikan dan pekerjaan agar masyarakat dapat tumbuh dan sejahtera dengan baik. Kedua, zakat wakaf dan sodaqoh dimana kinerja yang baik dalam lembaga tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan umat karena tujuan dari lembaga tersebut berfokus pada pengentasan kemiskinan. Ketiga, perbankan syariah merupakan salah satu alternative untuk memperbaiki keterpuruan ekonomi di Indonesia dimana harus tumbuh dan dikembangbiakkan secara lebih luas. Keempat, peran pemerintah yang tidak hanya memperhatikan segi regulasi dan legal formal tetapi juga keberpihakan yang riil kepada lembaga perbankan syariah dan keuangan syariah dalam kebijakan ekonomi dan pembangunan.]
Kebijakan Negara dalam Mengakomodir Agama Pribumi Perspektif Sosial-Antropologi Aziz Faiz, Abd
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 2 No. 2 (2018): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.216 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-01

Abstract

Indonesia as a multicultur state has accommodating and acknowledged the existence of indigenous religions with other names, Penghayat Kepercayaan (belivers of mystical gorup), even its position now equivalent to six religions recognized by the state, but in the context of practical services it needs to be investigated further. Unfortunately, the state has not used the definition of religion social-anthropologically yet, it uses a biased politically definition. The implication is that the state see indigenous religion as not religion. This led to the need for religiousization of it followers which led to the conflicts of mission from six world religions. Because of this, indigenous religions experienced conflict with the state, in the same time it also conflict with six world religions. Their position was finally squashed, therefore the recommendations of this paper looked at the need for Penghayat Kepercayaan to be placed in the Ministry of Religion by forming the BIMAS Penghayat Kepercayaan, at least the country put indigenous religion important and equivalent with six world religions.Indonesia sebagai negara multikultur telah mengakomodir dan mengakui eksistensi agama pribumi dengan nama lain yaitu Penghayat Kepercayaan, dan bahkan kedudukannya setara dengan agama besar, meski dalam konteks pelayanan praktis perlu diteliti lebih jauh. Sayangnya hinga saat ini negara belum menggunakan definisi agama secara sosial-antropologis, tetapi menggunakan definisi yang bias politik kekuasaan. Implikasinya adalah negara memandang agama pribumi bukan agama. Hal ini membawa perlunya agamaisasi pengikut agama pribumi yang menimbulkan konflik misi dari agamaagama besar. Karena itu, agama pribumi mengalami konflik dengan negara, juga dengan agama-agama besar sekaligus. Posisi mereka akhirnya serba terjepit, karena itu rekomendasi tulisan ini memandang perlu Penghayat Kepercayaan diletakkan di Kementerian Agama dengan membentuk BIMAS Penghayat Kepercayaan, setidaknya dengan demikian negara meletakkan agama pribumi penting dan setara dengan agama besar lainnya.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR) Mandiri Bersama Bank Mandiri di Mrican Umbulharjo Marwah, Novia
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 2 No. 1 (2018): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.587 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-06

Abstract

Corporate social responsibility (CSR) is an important part of a company because in Indonesia there are laws that regulation of CSR. In addition to complying with the Act, CSR is also carried out because of the company’s awareness in assisting the country in alleviating poverty. One of the companies in the banking sector—Bank Mandiri—has a CSR program with empowerment, namely Mandiri Bersama Mandiri (MBM). This study attempts to describe the concept, implementation, and results of the MBM program conducted by Bank Mandiri in Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta. The results of this study indicate that the concept of Bank Mandiri’s CSR in the MBM program in broad outline is to build community independence through the utilization of local potential. The implementation of CSR carried out by Bank Mandiri through urban agriculture development programs, Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs), and the development of public facilities. Meanwhile, the results of physical empowerment are the creation of a clean and beautiful environment in Mrican, the realization of community meeting halls, increased cooking equipment for PKK mothers, savings in expenditure, and the creation of an increase in the community’s economy. Non-physical is the formation of public awareness, increased knowledge of the community, the formation of skilled mothers, and the creation of community independence.Corporate social responsibility (CSR) merupakan bagian penting dalam sebuah perusahaan, karena di Indonesia ada Undang-Undang (UU) yang mengaturnya. Selain untuk mematuhiUU, CSR dilakukan juga karena kesadaran perusahaan dalam membantu negara dalam mengentaskan kemiskinan. Salah satu perusahaan di sektor perbankan—Bank Mandiri—mempunyai program CSR dengan pemberdayaan, yaitu Mandiri Bersama Mandiri (MBM). Penelitian ini berusaha mendeskripsikan konsep, implementasi dan hasil dari program MBM yang dilakukan oleh Bank Mandiri di Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep CSR Bank Mandiri dalam program MBM secara  garis besar adalah membangun kemandirian masyarakat melalui  pemanfaatan potensi lokal. Implementasi CSR yang dilaksanakan oleh Bank Mandiri melalui program pengembangan pertanian perkotaan, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), dan pengembangan fasilitas publik. Sementara, hasil pemberdayaannya secara fisik adalah terciptanya lingkungan bersih dan asri di Mrican, terwujudnya balai pertemuan warga, bertambahnya perlengkapan memasak ibu-ibu PKK, penghematan pengeluaran belanja, dan terciptanya peningkatan perekonomian masyarakat. Secara non-fisik adalah terbentuknya kesadaran masyarakat, bertambahnya pengetahuan masyarakat, terbentuknya ibu-ibu terampil, dan terciptanya kemandirian masyarakat.
Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berbasis Pertanian Terpadu di Joglo Tani Nurhidayah, Nurhidayah
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 2 No. 1 (2018): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.061 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-07

Abstract

Indonesia is an agrarian country where most of its territory in the form of agricultural land and using as a livelihood for its people. With increasing demand and developing new technology, peasants are faced with the selection of alternatives to utilize limited resources. Thus, economic empowerment of integrated agriculture-based communities is needed to open employment opportunities in rural areas, create food sovereignty and increase farmers’ income. This study aims to determine the concept, implementation, and results of integrated agriculture-based economic empowerment in Joglo Tani Mandungan, Margoluwih, Seyegan, Sleman, Yogyakarta. The results showed that the concept of integrated agriculture-based economic empowerment in Joglo Tani uses six principles, namely: two basic capital, five initial capital, five basic capital, five principles, six strategies, and nine plans. The implementation of integrated economic empowerment of community-based agriculture is carried out by making activities such as Mina Padi, large livestock, poultry, making compost fertilizer and cultivating horticulture plants. The results of community economic empowerment based on integrated agriculture by Joglo Tani include increasing the income of the Mandungan Hamlet community, the creation of food sovereignty, and the realization of employment in rural areas.Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar wilayahnya berupa lahan pertanian dan dimanfaatkan menjadi mata pencaharian masyarakatnya. Dengan bertambahnya kebutuhan dan meningkatnya teknologi, petani dihadapkan dengan pemilihan alternatif guna memanfaatkan sumber daya yang jumlahnya terbatas. Dengan demikian, diperlukan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pertanian terpadu untuk membuka lapangan pekerjaan di pedesaan, menciptakan kedaulatan pangan dan peningkatan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kosep, implementasi dan hasil dari pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pertanian terpadu di Joglo Tani Mandungan, Margoluwih, Seyegan, Sleman, Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pertanian terpadu di Joglo Tani menggunakan enam prinsip, yaitu: dua modal dasar, lima modal awal, lima modal dasar, lima prinsip, enam strategi, dan sembilan perencanaan. Implementasi pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pertanian terpadu dilakukan dengan membuat kegiatan seperti mina padi, ternak besar, ternak unggas, pembuatan pupuk kompos dan budidaya tanaman hortikultura. Hasil dari pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pertanian terpadu oleh Joglo Tani diantaranya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat Dusun Mandungan, terciptanya kedaulatan pangan, dan terwujudnya lapangan pekerjaan di pedesaan.
Pembangunan Pedesaan ‘Endogen’: Kiprah KKN UIN Sunan Kalijaga di Karangdukuh Klaten Qowim, Muhammad
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 2 No. 2 (2018): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.188 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-03

Abstract

Endogenous Rural Development is an application concept of Endogenous Regional Development in rural scale. This study portrays the progress of UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in supporting endogenous rural development in Karangdukuh Village, Jogonalan District, Klaten Regency. Continuing the progress of UIN Sunan Kalijaga 2017, this article empowers a peasant community named Sentra Peternakan Rakyat (SPR) in Kebon Wulang Reh, in Karangdukuh Village. This study was first elaborated through two FGD processes. The FGD process is the first step to understanding the expectations and mapping of SPR needs. After conducting the Particypatory Rural Appraisal (PRA) survey, the study in this article was carried out in 3 concrete actions, namely the development of ‘Cakruk Pintar’ at the SPR location, Health Promotion and Trial Learning in ‘Cakruk Pintar’. These three main variables are people’s livestock, public health, and community learning habitus. The results of the development of 'endogenous' village development in the community service process have an elaborative and collaborative spirit. The collaboration aspect is the entrance to invite practitioners so that they can generate positive reactions from the social community. Meanwhile, elaborative aspects can give birth to new dissemination from all stakeholders, partners and policy makers. Where this Participatory Action Research (PAR) village development process can succeed if there is academic sustainability, both programs can be continued or stopped.Pembangunan Pedesaan Endogen (Endogenous Rural Development) merupakan konsep penerapan dari Pembangunan Regional Endogenus dalam skala pedesaan. Penelitian ini memotret kiprah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam mendukung pembangunan pedesaan endogen di Desa Karangdukuh, Kecamatan Jogonalan Kabupaten Klaten. Melanjutkan kiprah UIN Sunan Kalijaga 2017, artikel ini melakukan pemberdayaan pada sebuah komunitas peternak bernama Sentra Peternakan Rakyat (SPR) Kebon Wulang Reh, di Desa Karangdukuh. Kajian ini terlebih dahulu dielaborasi melalui proses FGD yang dilakukan selama dua kali. Proses FGD merupakan langkah awal untuk memahami harapan dan pemetaan kebutuhan SPR. Setelah melakukan survei Particypatory Rural Appraisal (PRA), kajian pada artikel ini dilakukan dalam 3 tindakan nyata, yaitu pembangunan Cakruk Pintar di lokasi SPR, Promosi Kesehatan dan Uji Coba Pembelajaran di Cakruk Pintar. Tiga variabel utama ini adalah peternakan rakyat, kesehatan masyarakat, dan habitus belajar masyarakat. Hasil pengembangan dari pembangunan desa ‘endogen’ pada proses pengabdian masyarakat memiliki semangat elaboratif dan kolaboratif. Aspek kolaborasi menjadi pintu masuk mengundang para praktisi sehingga dapat memunculkan reaksi positif dari komunitas sosial. sementara itu, aspek elaboratif dapat melahirkan diseminasi baru dari semua stakeholder, mitra dan pengambil kebijakan. Di mana proses pembangunan desa berbasis Partisipatory Action Research (PAR) ini dapat berhasil jika ada keberlanjutan akademis, baik dapat dilanjutkan ataupun dihentikan programnya.
Model Kewirausahaan Sosial di Lembaga Agriculture Entrepreneur Clinics Yuliska, Yuliska
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 2 No. 1 (2018): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.489 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-08

Abstract

Entrepreneur activities are very important, not only become tools for increasingly individual life quality but also to improve state qualities. For the reason, a country must be having entrepreneurship to very much in society. Hence, as an organization of mobility form entrepreneur motivation, Agriculture Entrepreneur Clinics (AEC) has had the commitment to improving the quality of people. With the field research, this article aims to describe of concept, implementation, and result who social entrepreneur in this institution of AEC. The result of research is showing that the concept of social entrepreneurship in the institution of AEC conducted with the way of revolving and advantageous between institution AEC and peasant in simultaneously. Meanwhile, in implementation is conducting of the activities just like shared rice excellent from the result of researching discovery, conducted of new training methods for the ways of plant, coaching, and buying rice for harvest farmers who then sold by institution AEC. Social entrepreneurship in the institution AEC is not only improving for management but also increasingly for society.Pentingnya berwirausaha tidak hanya menjadi alat untuk meningkatkan kualitas hidup secara individu, namun juga untuk meningkatkan kualitas negara. Atas dasar inilah sebuah negara harus memiliki pengusaha yang banyak. Dengan demikian, sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang motivasi wirausaha, lembaga Agriculture Entrepreneur Clinics (AEC) memiliki komitmen untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Melalui penelitian lapangan, maka artikel ini hendak mendeskripsikan konsep, implementasi dan hasil yang dicapai dalam berwirausaha sosial di lembaga AEC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep kewirausahaan sosial di lembaga AEC dilakukan dengan cara berputar dan sama-sama menguntungkan antara lembaga AEC dengan petani binaannya. Implementasinya, yaitu dengan melakukan kegiatan seperti membagikan padi unggul hasil temuan lembaga, melakukan pelatihan metode tanam terbaru, melakukan pendampingan, dan membeli padi hasil panen petani  yang kemudian dijual dalam bentuk beras oleh lembaga AEC.  Kewirausahaan sosial di lembaga AEC ini tidak hanya menguntungkan bagi lembaga saja, namun juga menguntungkan bagi masyarakat.
Kampung Wisata Gurameh Sebagai Model Pemberdayaan Budidaya Ikan Tawar di Kergan Tirtomulyo Bantul Afri Nur Cahya, Muhammad; Ash-Shiddiqy, Muhammad
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 2 No. 2 (2018): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.608 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-09

Abstract

This article aims to examine the initial ideas for the formation of the Pokdakan (working group for freshwater fish farming) Mina Mulya, the stages of empowerment, and the implications of the empowerment model. These three studies are based on the problem of the consumption of freshwater fish in the Bantul community, which is increasing every year. Meanwhile, the production of fish cultivation managed by the community is very minimal. During this time the local government to meet the consumption needs of fish for households, food stalls, restaurants, until processed fish sold at tourist recreation centers taken from the area of Central Java and East Java. Seeing a potential area to develop fish cultivation production is very relevant. The intelligence of the Kergan Village community in Tirtomulyo looking at the direction of economic development based on community participation is so contextual. Through qualitative research with a case study approach, this paper found a novelty about the model of community empowerment. The model offered by the people is the “Gurameh” tourist village. As a model for empowering freshwater fish farming, Kergan Village is transformed into a more innovative and creative locus of community activities. In another aspect, the initial idea of the establishment of a “Gurameh” tourist village was initiated by Sunarto who had anxiety about the potential of his residence. Starting from comparative studies to other places, the idea of a tourist village “Gurameh” has become a model of empowerment based on fish farming. As a model, the tourist village “Gurameh” also processes the harvested fish for snacks and “souvenir” for anyone who wants to visit. Many creative and innovative activities in Kergan Village to develop in other locations. Starting from Sunarto’s idea, the concept of the trickle-down effect has spread in almost every community working group that is able to develop freshwater fish farming.Artikel ini hendak mengkaji tentang ide awal pembentukan Pokdakan Mina Mulya, tahapan pemberdayaan, dan implikasi model pemberdayaan. Tiga kajian ini dilandaskan pada masalah konsumsi ikan tawar masyarakat Bantul yang setiap tahun semakin meningkat. Sementara itu, produksi budidaya ikan yang dikelola masyarakat sangat minim. Selama ini pemerintah lokal untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan bagi rumah tangga, warung makan, restoran, hingga olahan ikan yang dijajakan pada pusat rekreasi wisata diambil dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Melihat kawasan yang cukup potensial untuk mengembangkan produksi budidaya ikan menjadi sangat relevan. Kecerdasan masyarakat Dusun Kergan Desa Tirtomulyo membaca arah pengembangan ekonomi berbasis partisipasi masyarakat begitu kontekstual. Melalui penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, paper ini menemukan kebaruan tentang model pemberdayaan masyarakat. Model yang ditawarkan oleh masyarakat adalah kampung wisata “Gurameh”. Sebagai model pemberdayaan budidaya ikan tawar, Dusun Kergan disulap menjadi lokus kegiatan masyarakat yang lebih inovatif dan kreatif. Pada aspek lain, ide awal dibentuknya kampung wisata “Gurameh” diinisasi oleh Sunarto yang memiliki kegelisahan tentang potensi tempat tinggalnya. Berawal dari studi banding ke daerah lain, ide kampung wisata “Gurameh” telah menjadi model pemberdayaan berbasis budidaya ikan. Sebagai model, kampung wisata “Gurameh” juga mengolah ikan hasil panen untuk dijadikan camilan dan ‘buah tangan’ bagi siapa saja yang hendak berkunjung. Banyak aktivitas kreatif dan inovatif di Dusun Kergan untuk terus berkembang di lokasi lain. Berawal dari ide Sunarto, konsep trickle down effect, telah menjalar hampir di setiap kelompok kerja masyarakat yang mampu mengembangkan budidaya ikan tawar.

Page 4 of 25 | Total Record : 248