cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
journal.pm.uinsuka@gmail.com
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta 55281, Indonesia.
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan
ISSN : 2580863X     EISSN : 25977768     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan (ISSN : (p) 2580-863X | (e) 2597-7768 ) is a peer-reviewed journal published and managed by Islamic Community Development, Faculty of Da'wah and Communication, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in collaboration with Asosiasi Pembangunan Sosial Indonesia (APSI) and Perkumpulan Pengembangan Masyarakat Islam (P2MI). This scientific journal specifically addresses findings, new methods, and research experiences on Muslim society development. This journal includes, but not limited to, research in social policy of development, community-based tourism, Islamic philanthropy of development, and Islamic community development. The journal has been indexed in DOAJ and accredited by the Indonesian Ministry of Research Technology and ranked Sinta 2 (second grade) by Science and Technology Index.
Arjuna Subject : -
Articles 248 Documents
Warung Beres Sebagai Modal Sosial Meningkatkanan Produktifitas Ekonomi Umat: Studi Pemberdayaan Komunitas oleh Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa Jogja di Kabupaten Gunungkidul Sriharini Sriharini; Moh Abu Suhud
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.48 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.011-06

Abstract

Poverty is a global social problem facing and the attention of the world. In Islamic teachings, to overcome poverty and be considered telling is zakat. If the zakat is well managed and the distribution is right on target then it can improve the welfare of the people so that it can overcome poverty. For example, one of the zakat fund management institutions that have a community empowerment program is Dompet Dhuafa Yogyakarta. At this institute has a field that specifically conducts economic development with the concept of Warung Beres-abbreviation of Clean Enak Sehat. Thus, this article describes how the concept, strategy, and impact of Warung Beres program for people who are members of the Working Group in Kecamatan Playen Gunungkidul Regency. This article that is written is the development of qualitative research methods case studies. The results of the conclusions in this article are divided into three contents, namely (1) Warung Beres concept is an economic empowerment effort for the traders of five times, especially the angkringan traders through the approach of applying the principles of clean healthy living; (2) the implementation of the program in community empowerment through Warung Beres through several stages of the activities being undertaken, among others: angkringan business training, capital equipment business assistance, forming pangkuban traders angkringan “Warung Beres Gunungkidul”; (3) the impact of the program for the improvement of the economy is the development of the attitude and behavior of clean, healthy and healthy oriented business of angkringan, possessing improved business equipment, having paguyuban of angkringan traders, obtaining easiness in borrowing business capital, and increasing income. From the results of this conclusion, it is expected to have a real contribution in the field of development of community empowerment science and become the output of government policy development in preparing the anti-poverty program.Kemiskinan merupakan masalah sosial yang bersifat global yang dihadapi dan menjadi perhatian dunia. Dalam ajaran Islam, untuk mengatasi kemiskinan dan dianggap jitu adalah zakat. Apabila zakat dikelola dengan baik dan pendistribusiannya tepat sasaran maka dapat meningkatkan kesejahteraan umat sehingga bisa mengatasi kemiskinan. Misalkan, salah satu lembaga pengelola dana zakat yang memiliki program pemberdayaan masyarakat adalah Dompet Dhuafa Yogyakarta. Pada lembaga ini telah memiliki bidang yang secara khusus melakukan pengembangan ekonomi dengan konsep Warung Beres—singkatan dari Bersih Enak Sehat. Dengan begitu, artikel ini mendeskripsikan bagaimana konsep, strategi, dan dampak program Warung Beres bagi masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Kerja di Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul. Artikel ini yang ditulis merupakan pengembangan dari metode penelitian kualitatif-studi kasus. Hasil simpulan dalam artikel ini terbagi ke dalam tiga kontens, yaitu (1) konsep Warung Beres adalah upaya pemberdayaan ekonomi bagi para pedagang kali lima khususnya pedagang angkringan melalui pendekatan penerapan prinsip hidup bersih sehat; (2) implementasi program dalam pemberdayaan masyarakat melalui Warung Beres melalui beberapa tahapan kegiatan yang dilalui antara lain: pelatihan usaha angkringan, bantuan modal peralatan usaha, membentuk paguyuban pedagang angkringan “Warung Beres Gunungkidul”; (3) dampak program bagi peningkatan perekonomian adalah terbangun sikap dan perilaku bisnis angkringan yang berorientasi pada bersih, enak dan sehat, memiliki peralatan usaha yang lebih meningkat, memiliki paguyuban para pedagang angkringan, mendapat kemudahan dalam meminjam modal usaha, dan peningkatan pendapatan. Dari hasil simpulan ini, diharapkan memiliki kontribusi nyata dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan pemberdayaan masyarakat dan menjadi output pengembangan kebijakan pemerintah dalam menyusun program anti-kemiskinan.
“Bela Beli Kulonprogo” dan Implikasinya Bagi Peningkatan Kualitas SDM di Industri Batik Sinar Abadi Desa Ngentakrejo Wafa Insanul Musfiroh
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.851 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2019.031-06

Abstract

“Bela Beli Kulonprogo” policy has have come a spirit for entrepreneurship of home industry in Ngentakrejo Village particularly by industry of Batik Sinar Abadi.  This spirit is considering for researcher to proved what has used criteria to improved quality of product. For that, this article aims to increase quality of human resources by Sinar Abadi Batik of industry. We conducted a case study approach, the data in this research was collected through interview and field observation process. This context has occurred by Batik Sinar Abadi that implemented new role of the quality product of increase it. Before production of promoted in the market, Sinar Abadi Batik of industry has conducted empleyment criteria to accepted. After that, an employee was given to supporting work harder until synchronous productivity with the company vision.  For achievers employment, they are giving reward in the form of money who is supported workers harder by labor. One side, the author was founded new role based on before and after improving human resources. On the other side, the quality of improving those human resources has have given positive impact and increasingly to promotion for region until it shall be branding of village.Kebijakan “Beli Beli Kulonprogo” menjadi spirit para pengelola home industri. Terutama industri Batik Sinar Abadi Desa Ngentakrejo. Spirit ini menyita perhatian peneliti untuk membuktikan kriteria apa saja yang digunakan untuk meningkatkan kualitas produksi tersebut. Untuk itu, artikel ini membahas mengenai peningkatan kualitas sumber daya manusia oleh Industri Sinar Abadi Batik. Dengan menerapkan case study approach, data-data dalam riset ini dikumpulkan melalui proses wawancara dan obervasi lapangan. Oleh karena corak penelitian bersifat narasi deskriptif, peneliti menemukan sebuah kebaruan pada paper ini. Konteks semacam ini terjadi karena industri Batik Sinar Abadi di Desa Ngentakrejo menerapkan pola baru dalam meningkatkan kualitas produknya. Sebelum hasil produksi dipasarkan, industri Sinar Abadi Batik melakukan kegiatan seleksi karyawan. Setelah itu, karyawan yang diterima dilatih (training) disesuaikan dengan job descriptions. Jika sudah mahir, karyawan diberikan support lain untuk terus bekerja lebih giat, sehingga sesuai dengan harapan perusahaan. Bagi karyawan yang berprestasi, mereka diberikan reward berupa uang lembur yang mendorong pembatik lebih baik dalam bekerja. Di satu sisi, penulis menemukan pola perubahan berdasarkan pra dan pasca adanya peningkatan sumber daya manusia. Di sisi lain, peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut memberikan kontribusi positif dan promosi daerah sehingga menjadi branding desa.
Dakwah Islam di Kalangan Anak Muda di Kota Samarinda: Sebuah Eksplorasi Awal M Tahir
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.349 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.012-03

Abstract

This paper aims at mapping out models of Da’wa movement involving youths as a social group in Samarinda and understanding how such social group constructing a perceived ideal da’wa movement in the society. Exploratory research combined with qualitative technique is applied to analyse data gathered through indepth interview, documentation, and focussed group discussion. Findings suggest that there are at leas three models of da’wa movement involving youths in Samarinda. First, syntetic da’wa movement that combine profane popular culture and cultural practice deemed sacred hence Islamic by the society. Secondly, da’wa movement oriented towards moral puricication of its activists in the form of tasawwuf-thariqa. Thirdly, structural da’wa that deeply orients its activity towards the idea of enjoining good and forbidding eveil. Ideal da’wa movement as it is perceived by youths in Samarinda, therefore, can be seen as a continuum where the syncretic model lies in one point and a structural and noncompromistic model lies in another point.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model-model gerakan dakwah yang melibatkan kelompok sosial anak muda di Kota Samarinda serta untuk mengetahui bagaimana pandangan kelompok sosial tersebut mengenai konsep gerakan dakwah yang ideal di tengah masyarakat. Teknik penelitian eksploratif dengan model kualitatif diterapkan untuk menganalisis data yang diperoleh melalui wawancara, dokumentasi dan diskusi kelompok terbatas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat setidaknya tiga model gerakan dakwah yang melibatkan kalangan anak muda di Kota Samarinda. Pertama, gerakan dakwah sintetik yang menggabungkan antara budaya popular yang profane dengan tradisi popular yang dianggap Islami di tengah masyarakat. Kedua, gerakan dakwah yang berorientasi pada pembenahan internal dari actor-aktor dakwah dalam bentuk keterlibatan anak-anak muda dalam pengajian-pengajian bergenre tasawwuf-tarekat. Ketiga, model gerakan dakwah melalui jalur structural yang menitik-beratkan pada konsep ‘amar ma’ruf nahi mungkar’. Konsep gerakan dakwah yang ideal sebagaimana dipersepsikan oleh kalangan anak muda dari ketiga model gerakan dakwah di atas dapat dilihat sebagai garis rentang di mana terdapat gerakan dakwah yang sintetik di satu titik dan gerakan dakwah sebagai sebuah gerakan yang murni religious dan bersifat nonkompromistik di titik yang lain.
Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berbasis Pertanian Terpadu di Joglo Tani Nurhidayah Nurhidayah
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.061 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-07

Abstract

Indonesia is an agrarian country where most of its territory in the form of agricultural land and using as a livelihood for its people. With increasing demand and developing new technology, peasants are faced with the selection of alternatives to utilize limited resources. Thus, economic empowerment of integrated agriculture-based communities is needed to open employment opportunities in rural areas, create food sovereignty and increase farmers’ income. This study aims to determine the concept, implementation, and results of integrated agriculture-based economic empowerment in Joglo Tani Mandungan, Margoluwih, Seyegan, Sleman, Yogyakarta. The results showed that the concept of integrated agriculture-based economic empowerment in Joglo Tani uses six principles, namely: two basic capital, five initial capital, five basic capital, five principles, six strategies, and nine plans. The implementation of integrated economic empowerment of community-based agriculture is carried out by making activities such as Mina Padi, large livestock, poultry, making compost fertilizer and cultivating horticulture plants. The results of community economic empowerment based on integrated agriculture by Joglo Tani include increasing the income of the Mandungan Hamlet community, the creation of food sovereignty, and the realization of employment in rural areas.Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar wilayahnya berupa lahan pertanian dan dimanfaatkan menjadi mata pencaharian masyarakatnya. Dengan bertambahnya kebutuhan dan meningkatnya teknologi, petani dihadapkan dengan pemilihan alternatif guna memanfaatkan sumber daya yang jumlahnya terbatas. Dengan demikian, diperlukan pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pertanian terpadu untuk membuka lapangan pekerjaan di pedesaan, menciptakan kedaulatan pangan dan peningkatan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kosep, implementasi dan hasil dari pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pertanian terpadu di Joglo Tani Mandungan, Margoluwih, Seyegan, Sleman, Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pertanian terpadu di Joglo Tani menggunakan enam prinsip, yaitu: dua modal dasar, lima modal awal, lima modal dasar, lima prinsip, enam strategi, dan sembilan perencanaan. Implementasi pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pertanian terpadu dilakukan dengan membuat kegiatan seperti mina padi, ternak besar, ternak unggas, pembuatan pupuk kompos dan budidaya tanaman hortikultura. Hasil dari pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pertanian terpadu oleh Joglo Tani diantaranya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat Dusun Mandungan, terciptanya kedaulatan pangan, dan terwujudnya lapangan pekerjaan di pedesaan.
Deradikalisasi Masjid Inklusi: Upaya Penghapusan Ideologi Radikal di Yogyakarta Muryanti Muryanti; Tri Mulyani
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpm.2019.031-03

Abstract

Radicalization has recently strengthened in Indonesia. The real act makes in burning and killing war. The violence war takes  the results in casualties and damage. This paper talks the process of deradicalization in the cases of phenomenology radicalization in recent years. One of the activities on the issue is to restore the function of the mosque with various activities at 3 important mosques in Yogyakarta. The UIN Sunan Kalijaga Mosque as a Religious Laboratory in the development of da'wah, the Syuhada Mosque as an Educational and economic institution, and the Jogokaryan Mosque as a pesantren in prospering the environment. These 3 findings indicate the potential character of the inclusion mosque. This gave rise to empowerment activities in religious studies and economic education. the activities in the mosque's efforts to reduce radicalization based on religion.Radikalisasi atas nama agama akhir-akhir ini menguat di Indonesia. Wujud nyata dari hal tersebut adalah aksi teror. Hal ini menggunakan kekerasan yang berakibat korban jiwa dan kerusakan. Tulisan ini hendak mengkaji proses deradikalisasi dalam fenomena pada banyak kasus radikalisasi beberapa tahun ini. Salah satu aktivitas pada isu tersebut mengembalikan fungsi masjid dengan berbagai macam kegiatan pada 3 masjid penting di Yogyakarta. Masjid UIN Sunan Kalijaga sebagai Laboratorium Agama dalam pengembangan dakwah, Masjid Syuhada sebagai Lembaga Pendidikan dan ekonomi, dan Masjid Jogokaryan sebagai pesantren dalam memakmurkan lingkungan tersebut. 3 temuan ini menunjukan potensi karakter masjid inklusi. Hal ini memunculkan kegiatan pemberdayaan dalam kajian keagamaan dan Pendidikan ekonomi. Berbagai macam kegiatan dalam aktivitas masjid tersebut merupakan upaya meredam radikalisasi berbasiskan agama.
Social Policy in the Early Decentralization Era: Formulation and Politicization to the Local Public Health Insurance in Banyuwangi Bayu Mitra A. Kusuma
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.84 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-02

Abstract

In the development of a country or a region, the quality of citizen’s health is very important. So that’s why, in order to improve the quality of citizen’s health, there needs a social policy action by the government, especially with the right decision making in its formulation process. In the local context, the Banyuwangi Public Health Services Insurance (JPKMB) Program is the answer to these problems, where the program offers free primary health service without charge for whole community levels. The main finding in this research is that in the decision making of the JPKMB Program, the decision-maker claims that they have done in-depth consideration and analysis using the rational approach model. But the facts on the research suggests that decision-makers tend to use an incremental approach model, where they make decisions quickly because it is affected by various limitations. This is due to health issues being politicized in terms of political campaigning purposes by one of the candidates who was competing in the local general elections of Banyuwangi Regency 2005. Consequently, after the candidate has been elected, the candidates should run the free health service program immediately, no matter what way. Its can be said that the decision making of the JPKMB Program is not going through a mature process.Dalam pembangunan suatu negara ataupun daerah, kualitas kesehatan masyarakat sangatlah penting. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, dibutuhkan kebijakan sosial yang baik dari pemerintah, kususnya melalui pembuatan keputusan yang tepat dalam proses formulasinya. Pada tataran lokal, Program Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Banyuwangi (JPKMB) adalah jawaban dari masalah tersebut, dimana dalam program tersebut disediakan pelayanan kesehatan gratis bagi seluruh lapisan masyarakat. Temuan utama dari penelitian ini adalah bahwa dalam pembuatan keputusan program JPKMB, pembuat keputusan mengklaim telah menggunakan pertimbangan dan analisis mendalam dengan model pendekatan rasional. Tapi pada faktanya peneliti lebih menemukan gejala bahwa pembuat keputusan cenderung menggunakan model inkremental, dimana mereka membuat keputusan dalam proses yang sangat cepat disebabkan berbagai keterbatasan. Dalam hal ini isu kesehatan telah dipolitisasi sebagai alat kampanye politik dari salah satu kandidat yang berkompetisi di Pilkada Banyuwangi 2005. Konsekuensinya setelah kandidat tersebut terpilih, pelayanan kesehatan gratis harus segera dilakukan, tidak peduli bagaimanapun caranya. Sehingga dapat dikatakan bahwa pembuatan keputusan program JPKMB tidaklah melalui proses yang matang.
Penerapan Konsep Suply Chain Management dalam Pengembangan Pola Distribusi dan Wilayah Pemasaran UMKM Desa Krambilsawit Muhfiatun Muhfiatun; Muh Rudi Nugraha
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.44 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-08

Abstract

This research aims to formulate development strategies and regional distribution pattern of Small Medium Enterprises (SME) marketing Village Krambilsawit. Low productivity and the narrowness of the region of product marketing, requires that SMEC Village Krambilsawit doing repairs ranging from upstream to downstream processes. The use of the concept of supply chain management, where very precise in order to resolve the problems occurred at Krambilsawit village of SME. In this study researchers using qualitative and quantitative research methods. Data obtained from the results of the direct interview to the perpetrators of the SMEC Village Krambilsawit. As for the methods of analysis used to formulate policy that is by using SWOT analysis. From this research that the results obtained in order to develop patterns of distribution and marketing SME Krambilsawit Village area required the presence of revamping the Groove Commerce SMEC, i.e. by implementing two levels or three levels of channel to expand network marketing. The implications of the end, the author hopes this research could be a reference in developing patterns of distribution and marketing of SME Krambilsawit Village.Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan pola distribusi dan wilayah pemasaran UMKM Desa Krambilsawit. Rendahnya produktifitas serta sempitnya wilayah pemasaran produk, mengharuskan UMKM Desa Krambilsawit melakukan perbaikan mulai dari proses hulu ke hilir. Penggunaan konsep supply chain management, dirasa sangat tepat guna menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada UMKM Desa Krambilsawit. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Data diperoleh dari hasil waawancara secara langsung kepada pelaku UMKM Desa Krambilsawit. Adapun metode analisis yang digunakan guna merumuskan kebijakan yaitu dengan menggunakan analisis SWOT. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa guna mengembangkan pola distribusi dan wilayah pemasaran UMKM Desa Krambilsawit maka diperlukan adanya pembenahan alur tata niaga UMKM, yakni dengan menerapkan two level chanel atau three level chanel guna memperluas jaringan pemasaran. Implikasi akhir, penulis berharap penelitian ini bisa menjadi acuan dalam mengembangkan pola distribusi dan wilayah pemasaran UMKM Desa Krambilsawit.
Fenomena Social Loafing dalam Program Pemberdayaan Masyarakat di Desa Binaan PMI: Studi Fenomenologi dalam Praktek Pengembangan Masyarakat Siti Aminah
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.546 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.011-07

Abstract

Social loafing is the tendency of individuals to give less effort when in groups than when working alone. Social loafing is known to occur as the group size increases, if it is tied, the results obtained from group work are lower than the total work result individually. Group workloads that should be done together and produce a better quality of ideas and quantity of ideas and much the opposite. Observations of researchers in pre-research that many of the work practices of the group ranging from among students, lecturers, institutions that have a social loafing attitude that is not willing to try, do not want to play, do not want to donate energy maximally when in a group/group. So this research using phenomenology approach is used to reveal the personal dimension of the subjective experience involved in PPM, exploring the effect of PPM group in groups on the individual, group impact on task performance, and social loafing attitude on the PPM group. The results illustrate that the tasks of PPM include: to recognize real problems in society, identify and solve them. But the nature of PPM 1 students does awareness of the potential and solution problems that exist in the community. As the group grows, social influence will decrease because the demands of outsiders are divided into many targets. Arousal reduction. The enthusiasm will encourage business in PPM. PPM members who consider their inputs to be less significant in their collective achievements have less effort than those who consider their role as important.Social loafing adalah kecenderungan individu untuk memberikan usaha yang lebih sedikit ketika dalam kelompok dibandingkan jika ketika bekerja sendirian. Social loafing diketahui semakin terjadi seiring dengan bertambahnya ukuran kelompok, jika ditotalkan, hasil yang diperoleh dari kerja kelompok justru lebih rendah dari total hasil pekerjaan secara individual. Beban kerja kelompok yang seharusnya dikerjakan bersama-sama dan menghasilkan kualitas ide dan kuantitas ide yang lebih bagus dan banyak malah kebalikannya. Pengamatan peneliti dalam pra penelitian bahwa banyak praktekpraktek kerja kelompok mulai dari kalangan mahasiswa, dosen, lembaga-lembaga yang memiliki sikap social loafing yakni sikap tidak mau berusaha, tidak mau berperan, tidak mau menyumbangkan tenaganya secara maksimal ketika berada dalam group/kelompok. Maka penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi digunakan untuk mengungkap dimensi personal pengalaman subjektif yang terlibat dalam PPM, menggali efek kelompok PPM secara berkelompok pada individu, dampak kelompok pada task performance, dan sikap social loafing pada kelompok PPM tersebut. Hasilnya menggambarkan bahwa tugas PPM antara lain: mengenal masalah-masalah riil di masyarakat, mengidentifikasi dan memecahkannya. Tetapi alam PPM 1 mahasiswa melakukan penyadaran akan potensi dan solusi masalah yang ada di masyarakat. Seiring bertambahnya anggota kelompok, pengaruh sosial akan semakin menurun sebab tuntutan pihak luar terbagi pada banyak target. Arousal reduction atau penurunan semangat. Adanya semangat akan mendorong terjadinya usaha dalam PPM. Anggota PPM yang menganggap input yang mereka berikan tidak terlalu signifikan dalam pencapaian kolektif ternyata mengeluarkan usaha yang lebih sedikit dibandingkan mereka yang menganggap bahwa peran mereka sangat penting.
Gerakan Muhammadiyah dalam Membumikan Wacana Multikulturalisme: Sebuah Landasan Normatif-Institusional Muh Syamsuddin
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.156 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.012-08

Abstract

This paper examines the debate and internal dynamics of the Muhammadiyah’s da’wa movement in Kotagede on easing the multiculturalism context. With the debate, how did the Muhammadiyah of Kotagede understand the phenomenon of multiculturalism as the real life ultimate? So, how is the involvement of Muhammadiyah member institutionally in its role in addressing multiculturalism? Furthermore, what methods and strategies are applied in easing the discourse of multiculturalism? Departing from Nakamura’s early work, which examines the reformist-modernist movement in anthropological perspective, this article is also based on a phenomenological-naturalistic qualitative approach that reveals the truth of the facts in the field until it is interpreted to be a novelty of meaning. It’s expected can contribute positively to the development of multiculturalism in the framework of pluralism (diversity) and Pancasila to meet a harmonious nation life. Thus, the facts in the field found that the debate of Muhammadiyah member questioning the discourse of multiculturalism was preceded by the congress Bali in 2002s when the advisory of council (Dewan Tanwir) decided the meaning of amar ma’ruf nahi munkar (calling for good, preventing evil) was not only interpreted as textuality, but how the progressive movement that carried the issue of ‘cultural da’wa’ (dakwah kultural) was implemented well. Based on the result of a decision, Muhammadiyah’s own member internally can be mapped into three groups, namely puritan, moderate, and reformist. Although the ‘cultural da’wa’ is much opposed by the Puritans, in fact is just few agree with the group. The echoes of moderate and reformist groups are larger, the whole multicultural movement can be implemented well to the grassroots.Tulisan ini mengkaji tentang perdebatan dan dinamika internal gerakan dakwah Muhammadiya di Kotagede dalam membumikan konteks multikulturalisme. Dengan adanya perdebatan tersebut, bagaimana warga Muhammadiyah Kotagede memahami fenomena multikulturalisme sebagai realitas kehidupan hakiki? Lantas, bagaimana keterlibatan warga Muhammadiyah tersebut secara institusional dalam peranannya menyikapi multikulturalisme? Selanjutnya, metode dan strategi apa yang diterapkan dalam membumikan wacana multikulturalisme? Berangkat dari tesis awal Nakamura, yang mengkaji gerakan reformis-modernis dalam perspektif antropolog, artikel ini juga dilandasi dengan pendekatan kualitatif fenomenologis-naturalistis yang mengungkap kebenaran fakta di lapangan hingga diinterpretasikan menjadi sebuah kebaruan makna. Di mana harapannya dapat memberikan kontribusi positif bagi perkembangan multikulturalisme dalam bingkai pluralisme (diversity) dan pancasila guna menyongsong kehidupan berbangsa yang harmonis. Dengan begitu, fakta di lapangan ditemukan bahwa perdebatan warga Muhammadiyah menyoal wacana multikulturalisme diawali hasil muktamar Denpasar Bali tahun 2002 ketika dewan tanwir memutuskan makna amar ma’ruf nahi munkar tidak hanya dimaknai sebatas tekstualitas, tapi bagaimana gerakan berkemajuan yang mengusung isu ‘dakwah kultural’ diimplementasikan dengan baik. Dalam perjalanannya, hasil keputusan tersebut warga Muhammadiyah sendiri secara internal dapat dipetakan menjadi tiga kelompok, yakni puritan, moderat, dan reformis. Walaupun ‘dakwah kultural’ banyak ditentang oleh kelompok puritan, faktanya sedikit yang sepakat dengan kelompok tersebut. Gaung kelompok moderat dan reformis lebih besar, secara utuh gerakan multikulturalisme dapat diimplementasikan dengan baik hingga ke akar rumput (grassroots).
Pembangunan Pedesaan ‘Endogen’: Kiprah KKN UIN Sunan Kalijaga di Karangdukuh Klaten Muhammad Qowim
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.188 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-03

Abstract

Endogenous Rural Development is an application concept of Endogenous Regional Development in rural scale. This study portrays the progress of UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in supporting endogenous rural development in Karangdukuh Village, Jogonalan District, Klaten Regency. Continuing the progress of UIN Sunan Kalijaga 2017, this article empowers a peasant community named Sentra Peternakan Rakyat (SPR) in Kebon Wulang Reh, in Karangdukuh Village. This study was first elaborated through two FGD processes. The FGD process is the first step to understanding the expectations and mapping of SPR needs. After conducting the Particypatory Rural Appraisal (PRA) survey, the study in this article was carried out in 3 concrete actions, namely the development of ‘Cakruk Pintar’ at the SPR location, Health Promotion and Trial Learning in ‘Cakruk Pintar’. These three main variables are people’s livestock, public health, and community learning habitus. The results of the development of 'endogenous' village development in the community service process have an elaborative and collaborative spirit. The collaboration aspect is the entrance to invite practitioners so that they can generate positive reactions from the social community. Meanwhile, elaborative aspects can give birth to new dissemination from all stakeholders, partners and policy makers. Where this Participatory Action Research (PAR) village development process can succeed if there is academic sustainability, both programs can be continued or stopped.Pembangunan Pedesaan Endogen (Endogenous Rural Development) merupakan konsep penerapan dari Pembangunan Regional Endogenus dalam skala pedesaan. Penelitian ini memotret kiprah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam mendukung pembangunan pedesaan endogen di Desa Karangdukuh, Kecamatan Jogonalan Kabupaten Klaten. Melanjutkan kiprah UIN Sunan Kalijaga 2017, artikel ini melakukan pemberdayaan pada sebuah komunitas peternak bernama Sentra Peternakan Rakyat (SPR) Kebon Wulang Reh, di Desa Karangdukuh. Kajian ini terlebih dahulu dielaborasi melalui proses FGD yang dilakukan selama dua kali. Proses FGD merupakan langkah awal untuk memahami harapan dan pemetaan kebutuhan SPR. Setelah melakukan survei Particypatory Rural Appraisal (PRA), kajian pada artikel ini dilakukan dalam 3 tindakan nyata, yaitu pembangunan Cakruk Pintar di lokasi SPR, Promosi Kesehatan dan Uji Coba Pembelajaran di Cakruk Pintar. Tiga variabel utama ini adalah peternakan rakyat, kesehatan masyarakat, dan habitus belajar masyarakat. Hasil pengembangan dari pembangunan desa ‘endogen’ pada proses pengabdian masyarakat memiliki semangat elaboratif dan kolaboratif. Aspek kolaborasi menjadi pintu masuk mengundang para praktisi sehingga dapat memunculkan reaksi positif dari komunitas sosial. sementara itu, aspek elaboratif dapat melahirkan diseminasi baru dari semua stakeholder, mitra dan pengambil kebijakan. Di mana proses pembangunan desa berbasis Partisipatory Action Research (PAR) ini dapat berhasil jika ada keberlanjutan akademis, baik dapat dilanjutkan ataupun dihentikan programnya.

Page 6 of 25 | Total Record : 248