cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
journal.pm.uinsuka@gmail.com
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta 55281, Indonesia.
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan
ISSN : 2580863X     EISSN : 25977768     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan (ISSN : (p) 2580-863X | (e) 2597-7768 ) is a peer-reviewed journal published and managed by Islamic Community Development, Faculty of Da'wah and Communication, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in collaboration with Asosiasi Pembangunan Sosial Indonesia (APSI) and Perkumpulan Pengembangan Masyarakat Islam (P2MI). This scientific journal specifically addresses findings, new methods, and research experiences on Muslim society development. This journal includes, but not limited to, research in social policy of development, community-based tourism, Islamic philanthropy of development, and Islamic community development. The journal has been indexed in DOAJ and accredited by the Indonesian Ministry of Research Technology and ranked Sinta 2 (second grade) by Science and Technology Index.
Arjuna Subject : -
Articles 248 Documents
Penyaluran Dari Tunai Ke Non Tunai: Studi Peran Pendamping dalam Mengawal Konversi PKH di Dlingo Riswantoro, Riswantoro
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 2 No. 1 (2018): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.824 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-03

Abstract

Conditional Cash Transfer (CCT) is the country’s poverty reduction policy. In 2017, CCT has changed its cash distribution mechanism to non-cash. The change in the distribution mechanism was alleged as the state’s response to the problems that arose beforehand so that through non-cash it could be really well received by the beneficiaries effectively. This policy change is evenly distributed throughout Indonesia, including in Bantul Regency, Dlingo District. To see the effectiveness of the program from cash to non-cash, this article aims to examine the role of facilitators in the distribution process to beneficiaries. This article is a development of the results of qualitative research. The data collection is through the interview, observation, and documentation methods. Meanwhile, not all participants were interviewed, but only a small part was taken by probability sampling methods. The results of the study in this article show that the role of the facilitator can run effectively with several main activities, including participant sharing, education, and training for beneficiaries, assisting the priority and empowering potential, and organizing learning groups.Program Keluarga Harapan (PKH) adalah kebijakan penanggulangan kemiskinan negeri ini. Di tahun 2017 PKH telah berubah mekanisme penyalurannya dari tunai menjadi non tunai. Perubahan mekanisme penyaluran ini disinyalir sebagai respon negara atas persoalan yang muncul sebelumnya sehingga melalui non tunai dapat betul-betul diterima dengan baik oleh Keluarga Penerima Manfaat (KPM) secara efektif. Perubahan kebijakan ini merata di seluruh Indonesia tidak terkecuali di Kabupaten Bantul, Kecamatan Dlingo. Untuk melihat efektivitas program dari tunai ke non tunai, artikel ini hendak mengkaji tentang peran pendamping dalam proses penyaluran kepada KPM. Artikel ini merupakan pengembangan dari hasil penelitian kualitatif. Adapun pengambilan data melalui metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tentu pengambilan data tidak semua peserta diwawancarai, namun hanya sebagian kecil diambil dengan metode probability sampling. Hasil kajian pada artikel ini menunjukan bahwa peran pendamping dapat berjalan secara efektif dengan beberapa kegiatan pokok, antara lain: pembagian peserta, pendidikan dan pelatihan bagi KPM, mendampingi yang prioritas dan memberdayakan yang potensial, dan pengorganisasian kelompok belajar.
Pembangunan Desa Wisata Ketep Magelang: Studi Proses dan Hasil Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Lokal Hidayah, Ikhsan
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 2 No. 2 (2018): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.68 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-04

Abstract

This paper discusses the development of Ketep tourism village. The terminology of rural tourism development means that there is a process of change carried out consciously by the community from the old style to a new style with the aim of providing benefits in various aspects. This development activity is carried out through the characteristics and potential of the village, natural panorama, and a beautiful environment. With the development of village potential it is expected to become a leading tourist area to achieve community welfare through the development of the local economy. This article aims to review the development process and examine the impacts of the development results of Ketep tourism village. The hope of the development and empowerment of this tourist village area has a direct impact on improving the local economy and the community is more prosperous. In exploring field data, I uses qualitative methods. After the complete field data is then analyzed by drawing a conclusion. To test the results of field data, I tries to do validity with the triangulation method. From the field data extraction, the work finally showed that Ketep Village which was designed as a tourist village needed a long process involving various elements of the local government and the community that were accommodated in Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). After the realization of village tourism facilities and infrastructure, the community can develop its potential through economic activities and not forget the values of local wisdom. That way, Ketep tourism village offers cheap recreational rides that are full of educational values. The destinations offered at Ketep tourism village are trade facilities (pasar rakyat), culinary places, homestays, agrotourism, volcanic educational tours, and own strawberry gardens.[Tulisan ini mendiskusikan tentang pembangunan desa wisata Ketep. Terminologi pembangunan desa wisata berarti adanya proses perubahan yang dilaksanakan secara sadar oleh masyarakat dari gaya lama menjadi gaya baru dengan tujuan memberi manfaat di berbagai aspek. Kegiatan pembangunan ini dilakukan melalui karakteristik desa, potensi, panorama alam, dan lingkungan yang masih asri. Dengan pengembangan potensi desa diharapkan menjadi kawasan wisata unggulan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi lokal. Artikel ini bertujuan untuk mengulas proses pembangunan dan mengkaji dampak-dampak hasil pengembangan  Desa Wisata Ketep. Harapan dari pembangunan dan pengembangan kawasan desa wisata ini berdampak langsung kepada peningkatan ekonomi lokal dan masyarakat lebih sejahtera. Dalam menggali data-data lapangan, penulis menggunakan metode kualitatif. Setelah data lapangan lengkap selanjutnya dianalisis dengan menarik sebuah kesimpulan. Untuk menguji hasil data lapangan, penulis mencoba melakukan validitas dengan metode trianggulasi. Dari penggalian data lapangan akhirnya penulis dapat menunjukkan bahwa Desa Ketep yang di desain menjadi desa wisata membutuhkan proses panjang yang melibatkan berbagai unsur pemerintah daerah dan masyarakat yang terakomodir dalam kumpulan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Setelah terwujudnya sarana dan prasarana desa wisata, masyarakat dapat mengembangkan potensinya melalui kegiatan ekonomi dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan lokal. Dengan begitu, Desa Wisata Ketep menawarkan wahana rekreasi murah yang penuh nilai-nilai edukasi. Destinasi yang ditawarkan di Desa Wisata Ketep adalah sarana perdagangan (pasar rakyat), tempat kuliner, homestay, agrowisata, wisata pendidikan kegunungapian, dan kebun strawberry petik sendiri.]
Strategi Mempercepat Pembangunan Desa Mandiri: Studi di Desa Kemadang Gunungkidul Nur Arifah, Mir'atun; Kusumastuti, Nugrahani
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 2 No. 1 (2018): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.377 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-09

Abstract

The commitment of the government in developing villages has been implemented in ‘Nawacita Programs’, the theme of Developing Indonesia’s rural areas. For that, the developing country very impossible can regularly, if the government not prepared for this program with the excellently. Hence, this research is the goals for knowing of the strategy which doing of government in the implementation of developing transformation until making Kemadang Village become an independent rural area in 2015 old. In addition, this paper aims to explain about developing transformation form become in Kemadang Village who has an independent rural area. The result of the research shows to us that in the strategy of implementing, is the government of Village Kemadang conducted mapping potential area, coaching and mentoring, building of the network, and implemented of governance village become modern organizations. Meanwhile, the form of developing transformation is increasing of services, and health facilities. For the production of livelihood, society is increasingly in disaster mitigation.Komitmen pemerintahan dalam membangun desa tertuang dalam Nawacita, yakni “Membangun Indonesia Dari Pinggiran Dengan Memperkuat Daerah-Daerah dan Desa dalam Kerangka Negara Kesatuan”. Sebuah pembangunan suatu daerah tidak akan terlepas dari campur tangan pemerintah itu sendiri. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi yang dilakukan pemerintah dalam melaksanakan transformasi pembangunan hingga menjadikan Desa Kemadang menjadi desa mandiri pada tahun 2015. Selain itu, kajian ini hendak menjelaskan bentuk transformasi pembangunan yang terjadi di Desa Kemadang setelah menjadi desa mandiri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam hal strategi yang dilakukan, pemerintah Desa Kemdang melakukan pemetaan potensi, pembinaan dan pendampingan, membangun sinergisitas dan menerapkan tata kelola desa menjadi organisasi modern. Sedangkan wujud dari transformasi pembangunan itu sendiri ialah terjadi peningkatan pada pelayanan, sarana dan prasarana kesehatan. Dalam keragaman produksi masyarakat dan program dalam hal mitigasi bencana juga turut meningkat.
Pemberdayaan Perempuan di Kampung Damai: Studi Pendampingan Komunitas oleh Wahid Foundation di Gemlegan Klaten Susilawati, Susilawati
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 2 No. 2 (2018): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (38.612 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-10

Abstract

Indonesia is a multicultural country. For the statement, we are always found social conflict who directly to conducted intolerance action. This intolerance has been attacking group or hate speech in public space. To prevent intolerance issues, Wahid Foundation as a non-government organization has been trying the movement in humanism activities and peace promotes. The activities are through women economic empowerment approach who including “Kampung Damai” concept. For instance, this article is trying the description of women economic empowerment and the result of promoting peace in Gemlegan Village have conducted by Wahid Foundation the name of “Kampung Damai”. This paper is developing of research with a used qualitative-description method. To take informant was used snowball sampling technique. The data collecting was used observation, interview, and documentation methods. For the validity data, I am using triangulation sources and it can analysis through reduction data, display data, and conclusion process. Based on data analysis who collecting has have found that women economic empowerment in Gemlegan Village I share of three-part, namely building group of UKM (Usaha Kecil Menengah), capacity building, and developing the enterprise. Meanwhile, women economic empowerment was the same with peace promote. Hence, the result of women empowerment can be seen of individual aspect (the women who involved in economic development), parents and community, and village government. From the activities carried out by the Wahid Foundation, in general, it has led to a big idea, namely a harmonious and peaceful life. As a basis to strengthen a tolerated life through the increased family economy.Indonesia merupakan negara multikultur. Berangkat dari hal tersebut, tak jarang konflik yang mengarah pada tindakan intoleransi sering kali terjadi. Berupa tindakan menyerang maupun melalui ujaran kebencian (hate speech). Menangkal isu intoleransi yang muncul, Wahid Foundation sebagai lembaga non pemerintah mencoba bergerak dalam ranah kemanusiaan dan mengkampanyekan perdamaian. Kegiatan yang dilakukan melalui pendekatan pemberdayaan ekonomi perempuan dan dikemas dalam konsep “Kampung Damai”. Artikel ini mencoba mendeskripsikan bagaimana pendampingan pemberdayaan ekonomi perempuan yang dilakukan oleh Wahid Foundation dan implikasinya menjadi desa inklusi untuk mempromosikan perdamaian. Paper ini merupakan pengembangan dari penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif. Teknik penarikan informan menggunakan snowball sampling. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Validitas data yang digunakan adalah triangulasi sumber dan dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan analisis data yang terhimpun dapat ditemukan bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan di Desa Gemlegan penulis bagi menjadi tiga, yaitu pembentukan kelompok Usaha Kecil Menengah (UKM), penguatan kapasitas, dan pengembangan usaha. Sementara itu, pemberdayaan ekonomi perempuan berjalan seiringan dengan pesan perdamaian. Pada gilirannya, hasil pemberdayaan bagi perempuan dapat dilihat dari aspek individu (perempuan yang terlibat dalam pemberdayaan ekonomi), keluarga dan komunitas, serta pemerintahan desa. Dari kegiatan yang dilakukan Wahid Foundation, secara umum, sudah mengarah kepada gagasan besar, yaitu hidup yang rukun dan damai. Sebagai basis untuk menguatkan kehidupan yang penuh toleransi melalui peningkatan ekonomi keluarga.
Creating Shared Value di Industri Migas: Pelajaran dari Balongan dalam Meminimalisir Pengangguran dan Menekan Potensi Kecelakaan Kerja Simatupang, Erwinton; Yoga Swara, Vandy
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 2 No. 1 (2018): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.34 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-04

Abstract

This article examines the involvement of the oil and gas industry in a social issue that not only alleviates the social problem but also becomes a powerful basis for business sustainability. Specifically, this paper analyzes Pertamina RU VI Balongan CSR program called Forum Komunikasi Safety Indramayu (FOKSI) in Indramayu District, West Java Province. This research uses the qualitative descriptive method. Data is collected through documentation, interview, and direct observation. Interview data collected as main data is sorted and triangulated with other data sources, both those obtained from observation and data from the result of documentation studies. The validity of the data is followed up at the analysis stage. The result shows that PT Pertamina RU VI Balongan succeeds to reduce unemployment issue in Indramayu through the FOKSI program based on the CSV approach. At the same time, the company is successful in obtaining skilled workers in alleviating potential work accidents in the oil and gas industry. Moreover, the knowledge and skills acquired by beneficiaries are disseminated at the community level. The involvement of the government through Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) in the scheme also indirectly provides an opportunity for the creation of clean governance. However, the program has not significantly reduced the problem of unemployment in Indramayu. Therefore, PT Pertamina RU VI Balongan needs to invite other industries in alleviating the problem of unemployment by employing the safety employees.Artikel ini mengkaji keterlibatan industri migas pada isu sosial yang bukan saja menekan masalah sosial, akan tetapi juga menjadi basis kekuatan bagi keberlanjutan bisnis. Secara spesifik, tulisan ini menganalisis program CSR Pertamina RU VI Balongan bernama Forum Komunikasi Safety Indramayu (FOKSI) di Kabupaten Indramayu Provinsi Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi, pertanyaan wawancara dan observasi langsung. Data hasil wawancara yang terkumpul sebagai data utama disortir dan ditriangulasi dengan sumber data lainnya, baik itu yang didapat dari hasil observasi maupun data dari hasil studi dokumentasi. Data yang teruji kesyhahihannya ditindaklanjuti pada tahap analisis. Hasil menunjukkan bahwa PT Pertamina RU VI Balongan berhasil meminimalisir pengangguran di Kabupaten Indramayu melalui program FOKSI berdasarkan pendekatan CSV. Pada saat bersamaan, perusahaan itu sukses memperoleh tenaga kerja terampil dalam menekan potensi kecelakaan kerja di industri migas. Apalagi, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh penerima manfaat disebarkan di level masyarakat. Keterlibatan pemerintah melalui Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) dalam skema itu juga secara tidak langsung memberikan peluang terciptanya tata kelola pemerintahan yang bersih. Namun, program itu belum secara signifikan mengurangi masalah pengangguran di Indramayu. Oleh sebab itu, PT Pertamina RU VI Balongan perlu untuk mengajak industri lain dalam menekan persoalan pengangguran dengan cara mempekerjakan tenaga safetyman.
‘Sangu Akhirat’ Sebagai Gerakan Filantropi: Transformasi Bantuan Pembangunan Masjid Al-Amin Menjadi Dana Sosial Umat Efendi, Aweng; Abu Suhud, Moh.
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 2 No. 1 (2018): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.378 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-10

Abstract

The program ‘Sangu Akhirat’ is popularity by people of Sumber Gamol Village, Sleman. If we are variously from behind, ‘Sangu Akhirat’ program is a model of Muslim philanthropy movement who increasingly develops in the society of this country for old. For the early, this programs has been the purpose of cost salvage building mosque in 2007, but the next step when mosque building after finished is still existed until right now. Meanwhile, the programs have been changing of function become social cost since 2012. Hence, this article aims to explain the transforming develop from cost building mosque become social cost security for empowerment. For the step early, this paper is developing research of thesis for the graduate program, then this article cultivated to become a narrative field study with a qualitative approach. Data of this research has been treated through the interview process, observation, and documentation. Moreover, the data was cultivated by reduction data, display data, and conclusion. Based on field discovery, this article is twice part of the implementation program both interpretation and organizing steps and the application program. After the implementation of ‘Sangu Akhirat’ program, I am discovering of impact in the growth of mutual assistance spirit, increasingly of sympathy, and developing for spirit helping people in the village.Program ‘Sangu Akhirat’ dipopulerkan oleh masyarakat Dusun Sumber Gamol, Sleman. Jika ditelisik, ‘Sangu Akhirat’ masuk dalam gerakan filantropi Islam yang sudah tumbuh berkembang di tengah masyarakat negeri ini. Pada tahap awal, program ini bertujuan untuk menutupi biaya pembangunan masjid di tahun 2007, namun tahap selanjutnya ketika pembangunan masjid selesai, program ini masih memiliki eksistensi. Di mana eksistensi program ini berubah fungsi menjadi dana sosial umat sejak 2012. Dengan demikian, artikel ini menjelaskan tentang transformasi program bantuan pembangunan masjid Al-Amin Aminah Binti Saif menjadi dana sosial umat. Secara eksploratif, artikel ini menjelaskan lebih dalam tentang implementasi program ‘Sangu Akhirat’. Pada awalnya, kajian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan jenis kualitatif. Seiring dengan kebutuhan publikasi, maka hasil draft penelitian ini diolah menjadi sebuah artikel dengan analisis deskriptif. Data penelitian ini diolah dari proses wawancara, obsevasi, dan dokumentasi. Adapun data yang diperoleh melalui proses penyederhanaan dengan cara reduksi data, menyajikan data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan temuan lapangan, artikel ini di bagi menjadi dua implementasi program, yakni tahapan interpretasi, tahapan pengorganisasian, dan tahapan aplikasi. Setelah melalui tahap implementasi, penulis menemukan beberapa dampak dari program ini, antara lain: tumbuhnya semangat gotong royong,  meningkatnya rasa simpatik sesama masyarakat, dan berkembangnya rasa saling tolong menolong di masyarakat.
Profil dan Kinerja Usaha ‘Mindring’ di Sektor Informal: Studi Eksplorasi tentang Kisah Perantau Kuningan di Godean Sleman Yogyakarta Susepah, Ipah
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 2 No. 1 (2018): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.569 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-05

Abstract

This article aims to examine the profile and performance of Mindring enterprise in the informal sector, especially the Kuningan migrants in Padukuhan Pandean VII Sidoluhur, Godean, Sleman, Yogyakarta. In this paper, the study is the development of the results of research using qualitative methods. Reports are prepared using descriptive-narrative methods, resulting in a deep story with an exploration of Mindring enterprise activists. Mindring is the sale of goods by means of credit. This transaction is favored by someone who is not enough money to get the desired item. Actors of Mindring like to provide convenience to their customers. It gives credit for various items needed by customers with a flexible payment system, such as letting customers make installments as best they can, occasionally customers are allowed not to pay installments in installments. Because it is natural, this Mindring business actor is often labeled as a helping angel by his customers. The flexibility of this payment system is actually a method of attracting customers not to run away from their business circles. They realize that increasing enterprise competition is a threat that must be faced, and cannot be avoided. Therefore, good performance is needed for the enterprise of Mindring to mind that their business will continue, and the relationship between harmony with customers also can be increased.     Artikel ini hendak mengkaji mengenai profil dan kinerja usaha Mindring di sektor informal, khususnya para perantau Kuningan yang ada di Padukuhan Pandean VII Sidoluhur Godean Sleman Yogyakarta. Studi pada kajian ini merupakan pengembangan dari hasil penelitian yang menggunakan metode kualitatif. Laporan disusun menggunakan cara deskriptif-naratif, sehingga menghasilkan cerita yang mendalam dengan eksplorasi para pegiat usaha Mindring. Mindring adalah penjualan barang dengan cara kredit. Transaksi ini digemari oleh seseorang yang tidak cukup uang demi mendapatkan sebuah barang yang diinginkan. Pelaku Mindring suka memberi kemudahan kepada pelanggannya. Dia memberikan kredit berbagai barang yang dibutuhkan pelanggan dengan sistem pembayaran yang luwes, seperti membiarkan pelanggan memberikan angsuran semampunya, sesekali pelanggan diperbolehkan untuk tidak menyicil angsurannya. Karena itu wajar, pelaku usaha Mindring ini sering diberi label sebagai sosok malaikat penolong oleh para pelanggannya. Keluwesan sistem pembayaran ini sesungguhnya adalah sebuah metode menarik pelanggan agar tidak lari dari lingkaran bisnisnya. Mereka menyadari bahwa meningkatnya persaingan usaha merupakan sebuah ancaman yang mesti harus dihadapi, dan tidak dapat dihindarkan. Karena itu, dibutuhkan kinerja yang baik bagi pelaku usaha mindring agar usahanya tetap berjalan dan hubungan harmoni dengan pelanggan terus meningkat.
Pengelolaan Sentra Industri Kerajinan Blangkon dan Efeknya Bagi Masyarakat Kampung Bugisan Indrawati, Lisa
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 2 No. 2 (2018): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.074 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-06

Abstract

Kampung Bugisan in town of Yogyakarta is an area that is quite well-known as the center of the Blangkon craft industry. However, there is an assumption that the local government has not wholeheartedly provided an affirmative program for crafts that have long been carried out by the community. Through the absurd basic assumptions, this article would like to describe the management of the Blangkon craft industry center and its effect on the lives of the people of Kampung Bugisan. Because this article is a development of field research, I tries to narrate the facts using a qualitative approach. Data collection techniques are carried out by interview, observation and documentation. All data are seen as validity of the data and analyzed through the process of reduction data, display data, and conclusion drawing. The results of this study indicate that the emergence of the center of the Blangkon craft industry in Kampung Bugisan originated from individuals who later developed into group activities. The raw materials used are Batik cloth, drill cloth, cardboard paper or ‘kloso’, sewing thread and patchwork. The production process through several stages including preparing materials and tools, making ‘congkeng’, mewiru, making Blangkon or mblangkon, and finishing. The marketing of Blangkon handicrafts in Kampung Bugisan is done by selling at Beringharjo Market, and with online media. The positive impact of the Blangkon business in Kampung Bugisan is the creation of jobs, absorbing workers, the emergence of new craftsmen, and increasing income. But there is also another aspect that might be a challenge for the activists of the Blangkon craft industry, which is creating increasingly fierce competition and changing people’s lifestyles.[Kampung Bugisan Kota Yogyakarta merupakan kawasan yang cukup terkenal sebagai sentra industri kerajinan Blangkon. Namun ada asumsi yang muncul bahwa pemerintah daerah belum sepenuh hati memberikan afirmatif program bagi kerajinan yang sudah sejak lama dilakukan oleh masyarakat. Melalui asumsi dasar yang absurd maka artikel ini hendak mendeskripsikan pengelolaan sentra industri kerajinan blangkon dan efeknya bagi kehidupan masyarakat Kampung Bugisan. Oleh karena artikel ini pengembangan dari penelitian lapangan, penulis mencoba menarasikan fakta yang ada dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Semua data dilihat validitas datanya dan dianalisis melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa munculnya sentra industri kerajinan Blangkon di Kampung Bugisan berawal dari individu yang kemudian berkembang menjadi kegiatan kelompok. Bahan baku yang digunakan adalah kain batik, kain drill, kertas karton atau kloso, benang jahit dan kain perca. Proses produksinya melalui beberapa tahap diantaranya menyiapkan bahan dan alat, membuat congkeng, mewiru, membuat blangkon atau mblangkon, dan finishing. Pemasaran kerajinan blangkon di Kampung Bugisan dilakukan dengan menjual di Pasar Beringharjo, dan dengan media online. Dampak positif adanya usaha Blangkon di Kampung Bugisan adalah terciptanya lapangan pekerjaan, menyerap tenaga kerja, munculnya pengrajin baru, dan meningkatkan penghasilan. Namun juga ada aspek lain yang kiranya menjadi tantangan bagi para pegiat industri kerajinan Blangkon, adalah menciptakan persaingan semakin ketat dan mengubah gaya hidup masyarakat.]
Pemberdayaan Berbasis Kemitraan Antara Pemerintah dengan Kelompok Tani Tri Tunggal Wonorejo Derry Ahmad Rizal
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.983 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.012-07

Abstract

This paper examines how the partnership was established between the Sleman Government and the peasant group of Tri Tunggal in Wonorejo—a policy appropriate partnership. It is known that the perceived policy sometimes turns things around with what is in the field or the right target regulations according to the needs of the community. This article is based on two theories, top-down policies and social capital as a form of organizing peasant groups. In answering the question, in fact, this article is an extension of the design of a qualitative research model that describes, analyzes, and interprets field data in a narrative way. For that, the method of interviewing, observation, and documentation is chosen to complete the data until it can be interpreted into the new meaning of science. Thus, this research has produced some interesting findings, such as government partnership to peasant group of Tri Tunggal with the approach of counseling, mentoring, and marketing of the agricultural product. As a matter of fact, the regulation is a reference for the government in empowering peasant groups.Tulisan ini mengkaji tentang bagaimana kemitraan yang dibangun antara Pemerintah Sleman dengan Kelompok Tani Tri Tunggal Wonorejo—kemitraan yang sesuai dengan kebijakan. Diketahui bahwa kebijakan yang dipersepsikan terkadang berbalik keadaan dengan apa yang ada di lapangan atau regulasi yang tepat sasaran sesuai kebutuhan masyarakat. Artikel ini didasari atas dua teori, kebijakan yang bersifat top down dan modal sosial sebagai bentuk pengorganisasian kelompok tani. Dalam menjawab persoalan tersebut, sebetulnya, artikel ini merupakan pengembangan dari desain model penelitian kualitatif yang menggambarkan, menganalisa, dan menginterpretasikan data lapangan secara naratif. Untuk itu, metode wawancara, observasi, dan dokumentasi dipilih untuk melengkapi data hingga dapat ditafsirkan ke dalam makna baru keilmuan. Dengan begitu, riset ini melahirkan beberapa temuan menarik, antara lain kemitraan yang dilakukan pemerintah kepada kelompok tani Tri Tunggal dengan pendekatan penyuluhan, pendampingan, dan pemasaran hasil produksi pertanian. Sebagai dasarnya, regulasi Perda menjadi acuan bagi pemerintah dalam memberdayakan kelompok tani.
‘Mas Zakky’: Model Zakat Pemberdayaan dari Baznas Kota Yogyakarta Pajar Hatma Indra Jaya
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.023 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-02

Abstract

The model of zakat management in the modern era is divided into two, namely the charity model (consumptive zakat) and the productive zakat model (zakat empowerment). So far, zakat distribution uses a lot of charity models so that it does not give long-term contribution because it is consumptive. Through this article, I would like to explain the marketing of productive zakat (empowerment model) with the name of the program Mas Zakky and see its impact on society. Distribution Mas Zakky’s model is done in four stages, namely the determination of the right muztahiq (recipient program), debriefing, giving power, and mentoring are tightly controlled. This study found that the keyword for the success of the zakat empowerment program is that it should not stop at giving assistance, but must be assisted within one year so that new habits are formed from the mustahiq. The new habit arises because of awareness, habituation, and strict control through monitoring of good financial management, which mustahiq are required to provide daily business reports, monthly profit reports, savings obligations of at least 2.5 percent of gross sales every month, and learn to invest input “sedino sewu” (one day one thousand rupiah) cans in their place of business. Mas Zakky’s program has an impact on the loss of the mustahiq conditions due to the emergence of new jobs, the growing awareness that trading business is a form of profitable work, the emergence of awareness to save, diligently praying Dhuha, the formation of tissue, and the emergence of habits of infaq (donation).Model pengelolaan zakat di era modern dibagi menjadi dua, yaitu model carity (zakat konsumtif) dan model zakat produktif (zakat pemberdayaan). Selama ini penyaluran zakat banyak menggunakan model carity sehingga kurang memberi kontribusi jangka panjang karena sifatnya konsumtif. Melalui artikel ini penulis hendak menjelaskan pentasarufan zakat produktif (model pemberdayaan) dengan nama program Mas Zakky dan melihat dampaknya bagi masyarakat. Pentasarufan model Mas Zakky dilakukan dengan empat tahap, yaitu penentuan muztahak yang tepat, pembekalan, pemberian daya, dan pendampingan yang terkontrol secara ketat. Penelitian ini menemukan bahwa kata kunci keberhasilan program zakat pemberdayaan adalah tidak boleh berhenti pada pemberian bantuan, namun harus dilakukan pendampingan dalam waktu satu tahun sehingga terbentuk kebiasaan baru dari para mustahik. Kebiasaan baru tersebut muncul karena penyadaran, pembiasaan, serta kontrol ketat lewat pemantauan tentang manajemen keuangan yang baik, yangmana mustahik diwajibkan untuk memberikan laporan usaha harian, laporan keuntungan bulanan, kewajiban menabung minimal 2,5 persen dari penjualan kotor setiap bulan, dan belajar berinfaq dengan menaruh kaleng “sedino sewu” di tempat usaha mereka. Program Mas Zakky berdampak pada mulai hilangnya kondisi fakir para mustahik karena munculnya pekerjaan baru, tumbuhnya kesadaran bahwa usaha dagang merupakan bentuk pekerjaan yang menguntungkan, munculnya kesadaran untuk menabung, rajin sholat dhuha, terbentuknya jaringan, dan munculnya kebiasaan berinfak.

Page 5 of 25 | Total Record : 248