cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
journal.pm.uinsuka@gmail.com
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta 55281, Indonesia.
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan
ISSN : 2580863X     EISSN : 25977768     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan (ISSN : (p) 2580-863X | (e) 2597-7768 ) is a peer-reviewed journal published and managed by Islamic Community Development, Faculty of Da'wah and Communication, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta in collaboration with Asosiasi Pembangunan Sosial Indonesia (APSI) and Perkumpulan Pengembangan Masyarakat Islam (P2MI). This scientific journal specifically addresses findings, new methods, and research experiences on Muslim society development. This journal includes, but not limited to, research in social policy of development, community-based tourism, Islamic philanthropy of development, and Islamic community development. The journal has been indexed in DOAJ and accredited by the Indonesian Ministry of Research Technology and ranked Sinta 2 (second grade) by Science and Technology Index.
Arjuna Subject : -
Articles 248 Documents
Participatory Learning And Action (PLA) di Desa Terpencil: Peran LSM PROVISI Yogyakarta dalam Pemberdayaan Masyarakat di Lubuk Bintialo Sumatra Selatan Alin Fatharani Silmi
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.737 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.011-05

Abstract

The objective of this research is to analyze the empowerment conducted by NGO Provisi Yogyakarta by using the Participatory Learning and Action (PLA) empowerment method and the strategy undertaken by the NGO to empower remote village communities. This research uses the qualitative descriptive method based on what happened in the field, data collection is done through an interview, direct observation, Focus Group Discussion (FGD) and documentation. Selection of informants is done by purposive sampling that is Project Manager LSM Provisi, Team Leader, and field staff of NGO Provisi, and empowered a community. Research location in LubukBintialo, MusiBanyuasin Regency, Palembang, South Sumatra. Empowerment of underdeveloped villages is analyzed through an approach using Participatory Learning and Action (PLA). This participation-based approach is one of the empowerment methods that prioritize community participation in the process of empowerment. The results of this study based on findings in the field are, this empowerment method is done by direct way, that is giving direction but also practice. There are two focuses of empowerment conducted to LubukBintialo community, namely empowerment based on fisheries and agriculture.Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis pemberdayaan yang dilakukan oleh LSM Provisi Yogyakarta dengan menggunakan metode pemberdayaan Participatory Learning and Action (PLA) dan strategi yang dilakukan oleh LSM tersebut untuk memberdayakan masyarakat desa terpencil. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif berdasarkan apa yang terjadi di lapangan, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pengamatan langsung, Focus Group Discussion (FGD) dan dokumentasi. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling yaitu Manager Project LSM Provisi, Team Leader, dan staff lapangan LSM Provisi, dan masyarakat yang diberdayakan. Lokasi penelitian di Lubuk Bintialo, Kabupaten Musi Banyuasin, Palembang, Sumatra Selatan. Pemberdayaan desa tertinggal ini dianalisis melalui pendekatan dengan menggunakan Participatory Learning and Action (PLA). Pendekatan berbasis partisipasi ini merupakan salah satu metode pemberdayaan yang mengedepankan partisipasi masyarakat dalam suatu proses  pemberdayaan. Hasil penelitian ini berdasarkan temuan di lapangan ialah, metode pemberdayaan ini dilakukan dengan cara langsung, yaitu memberikan pengarahan tetapi sekaligus praktik. Ada dua fokus pemberdayaan yang dilakukan kepada masyarakat Lubuk Bintialo, yaitu pemberdayaan berbasis perikanan dan pertanian.
Peningkatan Kebahagiaan Lansia dengan Pelatihan Relaksasi Dzikir di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma Nadia Dwi Karisna; Pihasniwati Pihasniwati
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.122 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2019.031-07

Abstract

Elderly happiness can be influenced by the religious factor. Participation in religious activities is also an important factor to improve elderly happiness. The aim of this research is to investigate the effect of Dzikir Relaxation Training to increase happiness at derelict elderly social services home Budhi Dharma Yogyakarta. The hypothesis of this research is Dzikir Relaxation Training can increase elder happiness at derelict elderly social services home Budhi Dharma Yogyakarta. The participants of this research were 10 elders who are 61-86 years old and have low until a medium score of happiness. This research uses one group pre-test post-test design. Data were collected using the Likert scale made by the researchers. The intervention consists of three sessions with 60 minutes for every session. Data were analyzed by Friedman’s technique through SPSS (version). Data analysis shows score Chi-square 15.80 (p<0.0001), it is indicated the dzikir relaxation training to improve elderly happiness.      Kebahagiaan lansia salah satunya dapat dipengaruhi oleh faktor agama. Partisipasi dalam kegiatan keagamaan juga menjadi faktor penting untuk meningkatkan kebahagiaan lanjut usia (lansia). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh relaksasi dzikir dalam meningkatkan kebahagiaan lansia di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar (RPSLUT) Budhi Dharma Yogyakarta. Hipotesis penelitian ini adalah pelatihan relaksasi dzikir mampu meningkatkan kebahagiaan lansia di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Budhi Dharma Yogyakarta. Partisipan dalam penelitian ini adalah 10 orang lanjut usia yang berusia antara 61-86 tahun dan memiliki skor kebahagiaan dalam tingkat sedang hingga rendah. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah one group pre-test post-test. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala likert yang disusun oleh peneliti. Intervensi dalam penelitian ini terdiri dari tiga sesi dengan waktu 60 menit setiap sesinya. Analisis data penelitian menggunakan teknik Friedman’s test untuk menguji perbedaan skor antara pre-test, post-tes dan follow up. Hasil analisis menunjukkan skor Chi-square sebesar 15.80 (p<.0001) mengindikasikan bahwa pelatihan relaksasi dzikir terbukti dapat meningkatkan kebahagiaan lansia.
Membangun Kesadaran Sodaqoh Sampah Sebagai Model Pemberdayaan Masyarakat Suyanto Suyanto
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.94 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.012-02

Abstract

This article will discuss the importance of awareness to manage household-based trash. In quantity, the volume of waste every year is always increasing, while the Final Dump (Tempat Pembuangan Sampah Akhir—TPSA) is inadequate. Seeing this condition requires awareness the waste management of importance. After being able to collect type-based waste, it will be encouraged to be given away or redeemed with primary needs that have been managed by the board of Neighborhood Association (Rukun Warga—RW). Thus the people of Barongan Jetis Bantul are helped to fulfill the basic needs by way of making the garbage. This research uses Participatory Action Research (PAR) approach, a participatory action research method, which aims to identify the formulation of research problems based on the needs of the subjects studied. The end result of this study is the change for the subject itself, the action is performed as a form of research recommendation PAR. This study is interesting, considering that other studies do not focus on the subject of research, but on the wishes of the researchers themselves.Tulisan ini hendak membicarakan pentingnya kesadaran mengelola sampah berbasis rumah tangga. Secara kuantitas, volume sampah setiap tahun selalu meningkat, sementara Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) kurang memadai. Melihat kondisi ini diperlukan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah. Setelah mampu menghimpun sampah berbasis jenisnya, maka akan di dorong untuk bisa disodaqohkan atau ditukarkan dengan sembako yang sudah dikelola oleh pengurus Rukun Warga (RW). Dengan demikian masyarakat Barongan Jetis Bantul terbantu untuk memenuhi kebutuhan pokok dengan cara mensodaqohkan sampah tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), yaitu metode penelitian aksi partisipatoris, yang bertujuan untuk mengidentifikasi rumusan masalah penelitian berdasarkan kebutuhan dari subyek yang diteliti. Hasil akhir dari penelitian ini adalah adanya perubahan bagi subyek sendiri, adanya aksi yang dilakukan sebagai bentuk rekomendasi penelitian PAR. Penelitian ini menarik, mengingat penelitian lainnya tidak berfokus pada subyek penelitian, melainkan pada keinginan dari peneliti sendiri.
Model Kewirausahaan Sosial di Lembaga Agriculture Entrepreneur Clinics Yuliska Yuliska
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.489 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-08

Abstract

Entrepreneur activities are very important, not only become tools for increasingly individual life quality but also to improve state qualities. For the reason, a country must be having entrepreneurship to very much in society. Hence, as an organization of mobility form entrepreneur motivation, Agriculture Entrepreneur Clinics (AEC) has had the commitment to improving the quality of people. With the field research, this article aims to describe of concept, implementation, and result who social entrepreneur in this institution of AEC. The result of research is showing that the concept of social entrepreneurship in the institution of AEC conducted with the way of revolving and advantageous between institution AEC and peasant in simultaneously. Meanwhile, in implementation is conducting of the activities just like shared rice excellent from the result of researching discovery, conducted of new training methods for the ways of plant, coaching, and buying rice for harvest farmers who then sold by institution AEC. Social entrepreneurship in the institution AEC is not only improving for management but also increasingly for society.Pentingnya berwirausaha tidak hanya menjadi alat untuk meningkatkan kualitas hidup secara individu, namun juga untuk meningkatkan kualitas negara. Atas dasar inilah sebuah negara harus memiliki pengusaha yang banyak. Dengan demikian, sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang motivasi wirausaha, lembaga Agriculture Entrepreneur Clinics (AEC) memiliki komitmen untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Melalui penelitian lapangan, maka artikel ini hendak mendeskripsikan konsep, implementasi dan hasil yang dicapai dalam berwirausaha sosial di lembaga AEC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep kewirausahaan sosial di lembaga AEC dilakukan dengan cara berputar dan sama-sama menguntungkan antara lembaga AEC dengan petani binaannya. Implementasinya, yaitu dengan melakukan kegiatan seperti membagikan padi unggul hasil temuan lembaga, melakukan pelatihan metode tanam terbaru, melakukan pendampingan, dan membeli padi hasil panen petani  yang kemudian dijual dalam bentuk beras oleh lembaga AEC.  Kewirausahaan sosial di lembaga AEC ini tidak hanya menguntungkan bagi lembaga saja, namun juga menguntungkan bagi masyarakat.
Penyaluran Dari Tunai Ke Non Tunai: Studi Peran Pendamping dalam Mengawal Konversi PKH di Dlingo Riswantoro Riswantoro
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.824 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.021-03

Abstract

Conditional Cash Transfer (CCT) is the country’s poverty reduction policy. In 2017, CCT has changed its cash distribution mechanism to non-cash. The change in the distribution mechanism was alleged as the state’s response to the problems that arose beforehand so that through non-cash it could be really well received by the beneficiaries effectively. This policy change is evenly distributed throughout Indonesia, including in Bantul Regency, Dlingo District. To see the effectiveness of the program from cash to non-cash, this article aims to examine the role of facilitators in the distribution process to beneficiaries. This article is a development of the results of qualitative research. The data collection is through the interview, observation, and documentation methods. Meanwhile, not all participants were interviewed, but only a small part was taken by probability sampling methods. The results of the study in this article show that the role of the facilitator can run effectively with several main activities, including participant sharing, education, and training for beneficiaries, assisting the priority and empowering potential, and organizing learning groups.Program Keluarga Harapan (PKH) adalah kebijakan penanggulangan kemiskinan negeri ini. Di tahun 2017 PKH telah berubah mekanisme penyalurannya dari tunai menjadi non tunai. Perubahan mekanisme penyaluran ini disinyalir sebagai respon negara atas persoalan yang muncul sebelumnya sehingga melalui non tunai dapat betul-betul diterima dengan baik oleh Keluarga Penerima Manfaat (KPM) secara efektif. Perubahan kebijakan ini merata di seluruh Indonesia tidak terkecuali di Kabupaten Bantul, Kecamatan Dlingo. Untuk melihat efektivitas program dari tunai ke non tunai, artikel ini hendak mengkaji tentang peran pendamping dalam proses penyaluran kepada KPM. Artikel ini merupakan pengembangan dari hasil penelitian kualitatif. Adapun pengambilan data melalui metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tentu pengambilan data tidak semua peserta diwawancarai, namun hanya sebagian kecil diambil dengan metode probability sampling. Hasil kajian pada artikel ini menunjukan bahwa peran pendamping dapat berjalan secara efektif dengan beberapa kegiatan pokok, antara lain: pembagian peserta, pendidikan dan pelatihan bagi KPM, mendampingi yang prioritas dan memberdayakan yang potensial, dan pengorganisasian kelompok belajar.
Kampung Wisata Gurameh Sebagai Model Pemberdayaan Budidaya Ikan Tawar di Kergan Tirtomulyo Bantul Muhammad Afri Nur Cahya; Muhammad Ash-Shiddiqy
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.608 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-09

Abstract

This article aims to examine the initial ideas for the formation of the Pokdakan (working group for freshwater fish farming) Mina Mulya, the stages of empowerment, and the implications of the empowerment model. These three studies are based on the problem of the consumption of freshwater fish in the Bantul community, which is increasing every year. Meanwhile, the production of fish cultivation managed by the community is very minimal. During this time the local government to meet the consumption needs of fish for households, food stalls, restaurants, until processed fish sold at tourist recreation centers taken from the area of Central Java and East Java. Seeing a potential area to develop fish cultivation production is very relevant. The intelligence of the Kergan Village community in Tirtomulyo looking at the direction of economic development based on community participation is so contextual. Through qualitative research with a case study approach, this paper found a novelty about the model of community empowerment. The model offered by the people is the “Gurameh” tourist village. As a model for empowering freshwater fish farming, Kergan Village is transformed into a more innovative and creative locus of community activities. In another aspect, the initial idea of the establishment of a “Gurameh” tourist village was initiated by Sunarto who had anxiety about the potential of his residence. Starting from comparative studies to other places, the idea of a tourist village “Gurameh” has become a model of empowerment based on fish farming. As a model, the tourist village “Gurameh” also processes the harvested fish for snacks and “souvenir” for anyone who wants to visit. Many creative and innovative activities in Kergan Village to develop in other locations. Starting from Sunarto’s idea, the concept of the trickle-down effect has spread in almost every community working group that is able to develop freshwater fish farming.Artikel ini hendak mengkaji tentang ide awal pembentukan Pokdakan Mina Mulya, tahapan pemberdayaan, dan implikasi model pemberdayaan. Tiga kajian ini dilandaskan pada masalah konsumsi ikan tawar masyarakat Bantul yang setiap tahun semakin meningkat. Sementara itu, produksi budidaya ikan yang dikelola masyarakat sangat minim. Selama ini pemerintah lokal untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan bagi rumah tangga, warung makan, restoran, hingga olahan ikan yang dijajakan pada pusat rekreasi wisata diambil dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Melihat kawasan yang cukup potensial untuk mengembangkan produksi budidaya ikan menjadi sangat relevan. Kecerdasan masyarakat Dusun Kergan Desa Tirtomulyo membaca arah pengembangan ekonomi berbasis partisipasi masyarakat begitu kontekstual. Melalui penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, paper ini menemukan kebaruan tentang model pemberdayaan masyarakat. Model yang ditawarkan oleh masyarakat adalah kampung wisata “Gurameh”. Sebagai model pemberdayaan budidaya ikan tawar, Dusun Kergan disulap menjadi lokus kegiatan masyarakat yang lebih inovatif dan kreatif. Pada aspek lain, ide awal dibentuknya kampung wisata “Gurameh” diinisasi oleh Sunarto yang memiliki kegelisahan tentang potensi tempat tinggalnya. Berawal dari studi banding ke daerah lain, ide kampung wisata “Gurameh” telah menjadi model pemberdayaan berbasis budidaya ikan. Sebagai model, kampung wisata “Gurameh” juga mengolah ikan hasil panen untuk dijadikan camilan dan ‘buah tangan’ bagi siapa saja yang hendak berkunjung. Banyak aktivitas kreatif dan inovatif di Dusun Kergan untuk terus berkembang di lokasi lain. Berawal dari ide Sunarto, konsep trickle down effect, telah menjalar hampir di setiap kelompok kerja masyarakat yang mampu mengembangkan budidaya ikan tawar.
Dealektika Pemikiran dalam Dialog Antar Umat Beragama: Studi Kasus Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) DI. Yogyakarta Afif Rifa&#039;i
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.752 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.011-04

Abstract

Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) is a communication forum among the faithful initiated by interfaith religious scholars who aim to build true peace and brotherhood by placing multicultural spirituality as the foundation of the movement. Based on this, this study answers the problem formulation, as follows: (1) how FPUB effort in building inter-religious dialogue in Yogyakarta? (2) what are the constraining factors in FPUB’s efforts to build interfaith dialogue in Yogyakarta. This study aims to describe the efforts of FPUB in building interreligious dialogue in Yogyakarta and reveal what are the obstacles in the effort of FPUB to build interreligious dialogue in Yogyakarta. The informants in this study consisted of Leaders/People of FPUB initiatives. Data collection methods used were interview, observation and documentation, while data analysis was done with qualitative approach. To achieve this goal, this forum has divisions and coordinators that support various activities, namely (1) Division of religious dialogue: conducting dialogue with visits to various places of worship, hermitage and village hall, dialogue of works and social assistance in the affected areas. 2). Peace Campaign Division: organizes peaceful campaigns through various cultural activities, interfaith prayer, interfaith intercession, humanitarian action and the spread of peaceful action through the media. 3). Media and Information Division: publishes magazine titles to disseminate ideas and interfaith dialogue activities organized by FPUB. The obstacles faced by FPUB in establishing genuine peace and brotherhood are prejudice, both internal and external to religious communities who still prejudice negative and suspicious dialogues among interfaith dialogue. Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) merupakan forum komunikasi antar umat beriman yang digagas oleh para agamawan lintas agama yang bertujuan untuk membangun perdamaian dan persaudaraan sejati dengan menempatkan spiritualitas multikultur sebagai fondasi gerakan. Berdasarkan hal ini, maka penelitian ini menjawab rumusan masalah, sebagai berikut: (1) bagaimana upaya FPUB dalam membangun dialog antar agama di Yogyakarta? (2) apa saja faktor penghambat dalam upaya FPUB membangun dialog antar  agama di Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan  upaya FPUB dalam membangun dialog antar agama di Yogyakarta dan mengungkapkan apa saja yang menjadi penghambat dalam upaya FPUB membangun dialog antar agama di Yogyakarta. Informan dalam kajian ini terdiri dari pemuka/tokoh pemrakarsa FPUB. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Untuk mencapai tujuan tersebut, forum ini mempunyai divisi dan koordinator yang menunjang berbagai kegiatan, yaitu (1) Divisi dialog agama: menyelenggarakan dialog dengan berkunjung ke berbagai tempat ibadah, padepokan dan balai desa, dialog karya serta bantuan sosial pada daerah yang tertimpa musibah. 2). Divisi Peace Campaign (Kampanye Damai): menyelenggarakan berbagai kampanye damai melalui berbagai aktivitas budaya, doa bersama lintas iman, syawalan antar iman, aksi kemanusian dan penyebaran aksi damai melalui media. 3). Divisi Media dan Informasi: menerbitkan majalah Suluh untuk menyebarkan gagasan dan kegiatan dialog antar iman yang diselenggarakan oleh FPUB. Hambatan yang dihadapi oleh FPUB dalam membangun perdamaian dan persaudaraan sejati adalah adanya prejudice atau prasangka, baik dari internal maupun eksternal umat beragama yang masih menaruh prasangka negatif dan kecurigaan terhadap dialog antaragama.
Pendampingan Sosial Berbasis Restorative Justice: Eksplorasi Tiga Kasus Anak Berhadapan dengan Hukum Sri Pranitawati
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.15 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.012-09

Abstract

This paper aims at how the social mentoring process Yayasan Lembaga Perlindungan Anak (YLPA) Special Region of Yogyakarta (DIY) in intervening the protection for children in children faced with a law or juvenile delinquency (Anak yang Berhadapan dengan Hukum-ABH). In addition, also see the extent to which the application of Law No. 11 of 2012 on the Child Criminal Justice System (Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak—SPPA) of 3 cases accompanied. As it is known, the fundamental substance of the birth of the SPPA Act is to promote restorative justice whose point of pressure is diversified. Because this article is the development of a thesis, the research is compiled using a qualitative method approach. Data collection was collected using interview method, observation, and documentation. Based on the facts in the field, it can be found that social mentoring conducted by YLPA DIY consists of an intervention process in litigation advocacy when the child facing the law is faced with the trial process. Meanwhile, the implementation of the SPPA Act in the implementation process has been implemented, but still not in accordance with what is expected, because there is still a difference of perception between law enforcement officers (Aparat Penegak Hukum-APH) in each institution authorized. Among the factors affecting the non-maximization of the implementation of the SPPA Act are: first, the socialization of the SPPA Law is still lacking, as many communities and APH have not understood, considering the applicable law is still new; second, the Government Regulation (Peraturan Pemerintah-PP) which regulates technical guidelines on the handling of ABH, including the diversion order, has not yet been issued by the government.Tulisan ini hendak mengkaji tentang bagaimana proses pendampingan sosial Yayasan Lembaga Perlindungan Anak (YLPA) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam melakukan intervensi perlindungan bagi anak yang berhadapan dengan hukum. Selain itu, juga melihat sejauh mana penerapan Undang-Undang No. 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) dari 3 kasus yang didampingi. Seperti yang diketahui bersama, substansi mendasar lahirnya UU SPPA adalah mengedepankan keadilan restoratif yang titik tekannya diversi. Oleh karena artikel ini merupakan pengembangan dari sebuah tesis, maka penelitian yang disusun menggunakan pendekatan metode kualitatif. Pengumpulan data dihimpun menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan fakta di lapangan, dapat ditemukan bahwa pendampingan sosial yang dilakukan oleh YLPA DIY terdiri dari proses intervensi dalam advokasi ligitasi saat anak yang berhadapan dengan hukum dihadapkan pada proses persidangan. Sementara itu, implementasi UU SPPA dalam proses penerapannya sudah dapat terlaksana, namun masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan, karena masih adanya perbedaan persepsi antara Aparat Penegak Hukum (APH) di masing-masing institusi berwenang. Diantara faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakmaksimalan implementasi UU SPPA tersebut antara lain: pertama, sosialisasi dari UU SPPA masih kurang, karena banyak masyarakat dan Aparat Penegak Hukum (APH) yang belum memahami, mengingat UU penerapannya masih baru; kedua, Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur tentang petunjuk teknis penanganan ABH, termasuk didalamnya tata cara diversi, juga belum diterbitkan oleh pemerintah.
Pembangunan Desa Wisata Ketep Magelang: Studi Proses dan Hasil Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Lokal Ikhsan Hidayah
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.68 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2018.022-04

Abstract

This paper discusses the development of Ketep tourism village. The terminology of rural tourism development means that there is a process of change carried out consciously by the community from the old style to a new style with the aim of providing benefits in various aspects. This development activity is carried out through the characteristics and potential of the village, natural panorama, and a beautiful environment. With the development of village potential it is expected to become a leading tourist area to achieve community welfare through the development of the local economy. This article aims to review the development process and examine the impacts of the development results of Ketep tourism village. The hope of the development and empowerment of this tourist village area has a direct impact on improving the local economy and the community is more prosperous. In exploring field data, I uses qualitative methods. After the complete field data is then analyzed by drawing a conclusion. To test the results of field data, I tries to do validity with the triangulation method. From the field data extraction, the work finally showed that Ketep Village which was designed as a tourist village needed a long process involving various elements of the local government and the community that were accommodated in Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). After the realization of village tourism facilities and infrastructure, the community can develop its potential through economic activities and not forget the values of local wisdom. That way, Ketep tourism village offers cheap recreational rides that are full of educational values. The destinations offered at Ketep tourism village are trade facilities (pasar rakyat), culinary places, homestays, agrotourism, volcanic educational tours, and own strawberry gardens.[Tulisan ini mendiskusikan tentang pembangunan desa wisata Ketep. Terminologi pembangunan desa wisata berarti adanya proses perubahan yang dilaksanakan secara sadar oleh masyarakat dari gaya lama menjadi gaya baru dengan tujuan memberi manfaat di berbagai aspek. Kegiatan pembangunan ini dilakukan melalui karakteristik desa, potensi, panorama alam, dan lingkungan yang masih asri. Dengan pengembangan potensi desa diharapkan menjadi kawasan wisata unggulan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekonomi lokal. Artikel ini bertujuan untuk mengulas proses pembangunan dan mengkaji dampak-dampak hasil pengembangan  Desa Wisata Ketep. Harapan dari pembangunan dan pengembangan kawasan desa wisata ini berdampak langsung kepada peningkatan ekonomi lokal dan masyarakat lebih sejahtera. Dalam menggali data-data lapangan, penulis menggunakan metode kualitatif. Setelah data lapangan lengkap selanjutnya dianalisis dengan menarik sebuah kesimpulan. Untuk menguji hasil data lapangan, penulis mencoba melakukan validitas dengan metode trianggulasi. Dari penggalian data lapangan akhirnya penulis dapat menunjukkan bahwa Desa Ketep yang di desain menjadi desa wisata membutuhkan proses panjang yang melibatkan berbagai unsur pemerintah daerah dan masyarakat yang terakomodir dalam kumpulan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Setelah terwujudnya sarana dan prasarana desa wisata, masyarakat dapat mengembangkan potensinya melalui kegiatan ekonomi dan tidak melupakan nilai-nilai kearifan lokal. Dengan begitu, Desa Wisata Ketep menawarkan wahana rekreasi murah yang penuh nilai-nilai edukasi. Destinasi yang ditawarkan di Desa Wisata Ketep adalah sarana perdagangan (pasar rakyat), tempat kuliner, homestay, agrowisata, wisata pendidikan kegunungapian, dan kebun strawberry petik sendiri.]
Aral Terjal Menghadang Perempuan: Studi Pencegahan Kekerasan Bagi Perempuan Oleh LSM Rifka Annisa di Ngalang Gunungkidul Istiqomah Istiqomah
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.005 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2017.011-08

Abstract

A number of population in D.I Yogyakarta continued to increase, this affects the opportunities and employment opportunities. A rare job opportunity make unemployment higher and eventually lead to poverty. Poverty causes the occurrence of violence against women. Gunungkidul is the district with the highest violent rate compared to other regencies/cities in DI. Yogyakarta. The aims of this paper are to describe the role of Rifka Annisa NGO through Komunitas Ibu at Ngalang, Gendangsari, Gunungkidul in violence prevention efforts for women. The research method used is a descriptive qualitative method using interviews, observation, and study the documentation to collect data. The results of this research are (1) Komunitas Ibu was formed in 2013 as one of violence prevention against women; (2)there are 3 factors caused violence against women i.e. lack of gender awareness, cultural construction in this society, and low economic income; and (3) acts of violence can be threat, coercion, or restriction for doing something in the public area as well as domestic.Jumlah penduduk di D.I Yogyakarta terus meningkat mempengaruhi peluang dan kesempatan kerja. Kesempatan kerja sempit membuat angka pengangguran tinggi dan menyebabkan kemiskinan. Kemiskinan menjadi salah satu faktor terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Gunungkidul merupakan kabupaten yang angka kekerasannya paling tinggi dibanding dengan kabupaten/kota lain se-DIY. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjabarkan peran LSM Rifka Annisa melalui komunitas Ibu di Ngalang, Gedangsari, Gunungkidul dalam upaya pencegahan kekerasan bagi perempuan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil dari penelitian ini antara lain (1) Komunitas Ibu dibentuk tahun 2013 sebagai salah satu upaya pencegahan terhadap perempuan; (2) ada 3 faktor penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan yakni kurangnya kesadaran gender, kontruksi budaya patriarki di masyarakat, dan rendahnya pendapatan ekonomi; (3) tindak kekerasan dapat berupa ancaman, paksaan, maupun pembatasan kebebasan di area publik maupun domestik.

Page 7 of 25 | Total Record : 248