cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA
ISSN : 20890117     EISSN : 25805932     DOI : -
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA diterbitkan sejak 1 April 2011 oleh Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM) dengan Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) Cabang Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin dan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Daerah Banjarmasin.
Arjuna Subject : -
Articles 295 Documents
TINDAK TUTUR DALAM WACANA BIMBINGAN PRANIKAH DI KANTOR URUSAN AGAMA (KUA) KABUPATEN BALANGAN Junianti, Henny
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.379 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v9i1.6249

Abstract

AbstractThis study focused on assertive speech acts, directive speech acts, commissive speechacts, expressive speech acts, and declarative speech acts used in pre-marital counselingdiscourse. This research is expected to provide a description of these speech acts. Thisresearch used a qualitative approach. The source of data in this study was the KUAofficials who gave pre-marital counseling in KUA of Balangan. The data collectiontechniques in this research were recording and note-taking. From the results of theresearch, it was concluded that there were five types from Searle of speech acts used ina pre-marital counseling, namely: (1) assertive speech acts in the forms of a)maintaining marriage, b) stating the purpose of marriage, marriage problems, theimportance of marriage certificates, understanding the Board of Advisory, abouthusband and wife, and c) reporting ages of marriage; (2) directive speech acts in theforms of a) suggestions to get married, resolving marriage problems, and formingharmonious marriage, b) asking for forming and fostering sakinah, mawadah,warahmah marriage, and worshiping Allah, c) asking couples for carrying out theduties and obligations as husband and wife, and d) recommending marriage, carryingout duties and obligations of husband, wives, and carrying out joint obligations; (3)commissive speech acts in the form of submitting proposals for a marriage contract; (4)expressive speech acts in the forms of a) thanking prospective brides and grooms, b)congratulating couples, c) regretting if the reasons for marriage, d) apologizing tomarried couples, and e) censuring married couples who did not apply mandi wajib andwives; and (5) declarative speech acts in the form of determining whether the marriagewould be held or not and deciding the marriage of the couples.Key words: speech acts, premarital guidance discourse61AbstrakPenelitian ini memfokuskan pada tindak tutur asertif, ekspresif, dan tindak tuturdeklaratif yang digunakan dalam wacana bimbingan pranikah. Penelitian inidiharapkan dapat memberikan deskripsi tentang tindak tutur tersebut. Penelitian inimenggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah dalampetugas KUA yang memberikan bimbingan pranikah di KUA Kabupaten Balangan.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini ialah dengan teknik rekam dan teknikcatat. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan ada lima jenis tindak tutur menurutSearle yang digunakan dalam bimbingan pranikah, yakni: (1) tindak tutur asertifberupa a) mempertahankan rumah tangga, b) menyatakan tujuan menikah, masalahrumah tangga, pentingnya buku nikah, dan tentang suami istri, dan c) melaporkan usiamenikah; (2) tindak tutur direktif berupa a) menyuruh nikah/kawin, menyelesaikanpermasalahan rumah tangga, dan membentuk rumah tangga yang harmonis, b)memohon membentuk dan membina rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah,dan beribadah kepada Allah Swt., c) menuntut melaksanakan tugas dan kewajibansuami, istri, dan syarat poligami, dan d) menyarankan menikah/kawin, melaksanakantugas dan kewajiban suami, istri, dan kewajiban bersama.; (3) tindak tutur komisifberupa mengajukan usulan melanjutkan, menunda, atau membatalkan akad nikah; (4)tindak tutur ekspresif berupa a) terima kasih pada calon pengantin, b) mengucapkanselamat menempuh hidup baru kepada pasangan pengantin, c) menyesalkan alasanpernikahan, d) permintaan maaf pada pasangan suami istri, dan e) mengecampasangan suami istri tidak melaksanakan mandi wajib dan suka berselisih.; dan (5)tindak tutur deklaratif berupa memutuskan akan berlangsungnyapernikahan/perkawinan dan memutuskan nikah/kawinnya pasangan pengantin.Kata-kata kunci: tindak tutur, wacana bimbingan pranikah
NILAI KARAKTER DALAM TEKS LAGU BANJAR Erni Rohliyani Zulkifli Rusma Noortyani
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.051 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v9i1.6250

Abstract

AbstractThe Character Value on the text of the Banjarese Song. This research aims to knowingthe character values in the Banjar’s text song and the application of the character’svalues in social life. The method in this research is a qualitative method with contentanalysis method. This research type is documentation with technique that is datacollecting, selecting data, analyzing data in table, and concluding data. By using thismethod is expected the research can produce the purpose which with what is expectedresearcher. Researcher take data as much as 10 song text Banjar. Data’s sorce takendoes not consider who sing and create that Banjar’s song. The character valuecontained in the Banjar’ text song refers to 18 characters values, which are: religious,honest, toleracet, discipline, hard work, creative, independent, democratic, curiosity,nationality’s spirit or nationalism, love of the country, appreciate the achievement,communicative, like in peace, like to read, cares to environment, cares to social, andresponsibility. Character value’s form in social life depends on awareness-self inimportance to be a moral nation generation, good morals, and self responsible, social,and nation.Key words: character value, banjarese songAbstrakNilai Karakter dalam Teks Lagu Banjar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuinilai-nilai karakter dalam teks lagu Banjar dan penerapan (wujud) nilai-nilai karakteritu dalam kehidupan bermasyarakat. Metode dalam penelitian ini merupakan metodekualitatif dengan metode analisis isi. Jenis penelitian ini adalah dokumentasi denganteknik pengumpulan data yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyeleksian data, (3)menganalisis data dalam tabel, dan (4) menyimpulkan data. Dengan menggunakanmetode ini diharapkan penelitian dapat menghasilkan tujuan yang sesuai dengan apayang diharapkan peneliti. Peneliti mengambil data sebanyak 10 teks lagu Banjar.Sumber data yang diambil tidak mempertimbangkan siapa yang menyanyikan danpencipta lagu Banjar tersebut. Nilai karakter yang terdapat dalam teks lagu Banjarmengacu kepada 18 nilai karakter, yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras,kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan atau nasionalisme,cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, pedulilingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Wujud nilai karakter dalam kehidupanbermasyarakat bergantung kepada kesadaran diri akan pentingnya menjadi generasibangsa yang bermoral, berakhlak baik, dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri,masyarakat, dan bangsa.Kata-kata kunci: nilai karakter, lagu banjar
PENGGUNAAN BAHASA SLANG WARIA DI KOTA BARABAI Nani Marliani M. Rafiek Jumadi
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.507 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v9i1.6245

Abstract

AbstractThe Use Transgender Slangs in Barabai City. This study aims to describe and explain theuse of transgender slangs in the city of Barabai as well as to the describe and explain thefrom of the word formations in the use of transgender slangs in the city of Barabai. Thisresearch uses descriptive qualitative research method with sociolinguistic approach. Thedata of this research is from the speeches of the transgender people, so the data source isthe transgender people. Data collection was done by observation technique, interviewtechnique, recording technique, and technique of renotetaking. The data then weretranscribed, classified, presented and concluded. The instrument of this research is a tablethat classifies data in accordance with the types of word forms, namely the forms of theword based and the word formations. The results of this study indicate that there are 201words of the transgender slangs used in 62 discourse fragments analyzed which arecreated from the transgender language itself or from the word formations which endingsconsist of 12 categories and the formations are from the English language. The meaningsof these words have various meanings depending on the conversations carried out bytransgender people, for example: one word has many meanings and it depends on thecontents of the conversations they have. From the 60 discourse conversations, there are270 uses of slang words in the form of affixation process,i.e. prefixes, infixes (insertion),suffixes or confixes (prefix and suffix) and reduplication process.Key words: slang, transvestite, wordAbstrakPenggunaan Bahasa Slang Waria di Kota Barabai. Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan dan menjelaskan penggunaan kosakata bahasa slang waria di kotaBarabai serta mendeskripsikan dan menjelaskan wujud kata bentukan dalam penggunaanbahasa slang waria di kota Barabai. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian metodedeskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiolinguistik. Data penelitian ini adalah darituturan para waria dan sumber datanya dari para waria. Pengumpulan data dilakukandengan cara teknik observasi, teknik wawancara, teknik rekaman, dan teknik catat. Dataitu lalu mentranskripsikan, mengklasifikasi, menyajikan serta menyimpulkan. Instrumenpenelitian ini berupa tabel yang mengklasifikasikan data sesuai dengan jenis wujud kata,yaitu wujud kata dasar dan kata bentukan. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwapenggunaan kosakata bahasa slang yang digunakan dari 62 penggalan wacana yang telahdianalisis terdapat 201 kosakata yang tercipta dari bahasa waria itu sendiri maupun daritata bentukan kata yang berakhiran yang terdiri dari 12 kategori dan tata bentukan daribahasa Inggris. Makna dari kata-kata tersebut mempunyai berbagai arti tergantung dari16percakapan yang dilakukan para waria, misalnya dari satu kata mempunyai banyak artidan itu tergantung pada isi pembicaraan atau percakapan yang mereka lakukan. Dan dari60 percakapan wacana terdapat 270 penggunaan kosakata bahasa slang dalam wujudkata bentukan berupa proses afiksasi yaitu prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks(akhiran) maupun konfiks (awalan dan akhiran) dan proses reduplikasi.Kata-kata kunci: slang, waria, kata
PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PREFIKS BER- DALAM BAHASA INDONESIA DAN BA- DALAM BAHASA BANJAR Rustam Effendi
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.566 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v9i1.6251

Abstract

AbstractSimilarities and Differences in the Prefix ber- in Indonesian and ba- in Banjarese.Prefixes ber- and ba- in Indonesia and Banjarese have similarities and differences interms of forms, fungtions, and meanings. The similarities is due to the fact thatIndonesia and Banjarese have the same origin, wich comes from Malay. The prefikxber- in Indonesia has three allomorphs namely ber-, be-, and bel- while the Banjareseonly two, namely ba- and bal. Ber- and ba- functions are the same as formingintransitive verbs, but ba- in Banjar language can also function to form transitive verbs.The meaning of ber- and ba- has many similarities but there are also differences.Prefixes ba-, for example, can mean ‘more or intentionally doing a work’ as examplepanjang → bapanjang; kaina → bakaina, and gugur → bagugur.Key words: ber- prefix, ba- prefix, Indonesian language, Banjar languageAbstrakPersamaan dan Perbedaan Prefiks Ber- dalam Bahasa Indonesia dan Ba- dalambahasa Banjar. Prefiks ber- dalam bahasa Indonesia dan ba- dalam bahasa Banjarmemiliki persamaan dan perbedaan dalam hal bentuk, fungsi, dan makna. Persamaanitu disebabkan bahwa bahasa Indonesia dan bahasa Banjar memiliki asal yang samayakni berasal dari bahasa Melayu. Prefiks ber- dalam bahasa Indonesia memiliki tigaalomorf, yakni ber-, be-, dan bel-, sedangkan bahasa Banjar hanya memiliki duaalomorf, yakni ba- dan bal-. Fungsi ber- dan ba- sama-sama sebagai pembentuk katakerja intranstif, namun, ba- dalam bahasa Banjar dapat juga berfungsi untukmembentuk kata kerja transitif, seperti pada baunjun sapat ‘mengail ikan sepat’, danlain-lain. Makna ber- dan ba- memiliki banyak kesamaan, namun ada pulaperbedaannya. Prefiks ba-, misalnya, dalam bahasa Banjar dapat mengandung makna‘semakin, dengan sengaja melakukan suatu pekerjaan’ apabila ba- itu berhubungandengan kata adjektiva, seperti panjang → bapanjang, kaina → bakaina, gugur →bagugur, dan lain-lain.Kata-kata kunci: prefiks ber-, prefiks ba-, bahasa Indonesia, bahasa Banjar
ETNOPEDAGOGI DALAM KUMPULAN CERPEN RAK-RAK GUI KALUMPU KISAH RANDAH BASA BANUA Sari Noor Azijah
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.903 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v9i1.6246

Abstract

AbstractEtnopedagogy in Collection of Short Stories Rak-rak Gui Kalumpu Kisah Randah BasaBanua. Ethnopedagogi is ethnically educational, ethnopedagogical education makes localwisdom a source of such empowerment that can be empowered. Local wisdom here can beconcepts of life, facts that develop for generations, beliefs etc. While ethnopedagogi ismeant in this research is about the use of terms or concepts that exist in life that grows inthe community of Banjar Ulu associated with the value of Relevant, Environmental,Aesthetic, Economic and Health contained in a collection of short stories Rak-Rak GuiKalumpu Kisah Randah Basa Banua. The data writing technique used in this study is toread the story again and collect quotations that contain ethnopedagogy, then conductinterviews directly with Kandangan people about the understanding of the existingquotations. The results of this study found (1) etnopedagogi related to elements of trust,(2) etnopedagogi related to environmental elements, (3) etnopedagogi related to aestheticelements, (4) etnopedagogi related to economic elements, and (5) etnopedagogi related tohealth elements contained in a collection of short stories Rak-rak Gui Kalumpu Story ofBanua Basa Randah.Key words: ethnopedagogy, elements, trust, environmental, aesthetic, economic, healthAbstrakEtnopedagogi dalam Kumpulan Cerpen Rak-rak Gui Kalumpu Kisah Randah BasaBanua. Etnopedagogi adalah pendidikan etnik, pendidikan etnopedagogis yangmenjadikan kearifan lokal sebagai sumber pemberdayaan yang dapat diberdayakan.Kearifan lokal di sini dapat berupa konsep kehidupan, fakta yang berkembang darigenerasi ke generasi, keyakinan, dan lain-lain. Sedangkan ethnopedagogi yang akandibahas dalam penelitian ini adalah tentang penggunaan istilah atau konsep yang adadalam kehidupan sehari-hari yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Banjar Uluyang terkait dengan nilai kepercayaan, lingkungan, estetika, ekonomi dan kesehatan yangterkandung dalam kumpulan cerita pendek Rak-Rak Gui Kalumpu Kisah Randah BasaBanua. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengancara membaca cerpen berulang-ulang dan mengumpulkan kutipan-kutipan yangmengandung etnopedagogi, lalu kemudian melakukan wawancara langsung kepadaorang-orang Kandangan tentang pengertian dari kutipan-kutipan yang ada. Hasil daripenelitian ini menemukan (1) Pendidikan etnik terkait dengan unsur kepercayaan, (2)29pendidikan etnik terkait dengan unsur lingkungan, (3) pendidikan etnik terkait denganunsur estetika, (4) pendidikan etnik terkait dengan unsur ekonomi,dan (5) pendidikan etnikyang terkait dengan unsur kesehatan yang terkandung dalam kumpulan cerpen Rak-rakGui Kalumpu Kisah Randah Basa Banua.Kata-kata kunci: etnopedagogi, unsur, kepercayaan, lingkungan, estetika, ekonomi, kesehatan
STRUKTUR NARASI PERKAWINAN ADAT BANJAR DI KECAMATAN PULAU LAUT UTARA KABUPATEN KOTABARU Mahliana Mahliana
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.24 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v9i1.6247

Abstract

AbstractNarrative Structure on Banjar Traditional Marriage in Kecamatan Pulau Laut UtaraKabupaten Kotabaru. Narrative structures are the narrator's way of presenting events toaudiences. The narrative has a structure from start to finish. The narrative structure foundin Banjar marriage in Kecamatan Pulau Laut Utara consists of 3 (three) stages: first,middle, and end. Adat Banjar is an idea of Banjar urban culture in developing culturalsystem, social system and cultural material which is related to religion, through variousprocess of adaptation, acculturation and assimilation. So that will appear to be mixing incultural aspects. The focus of this research is the narrative structure, at the stage of jujurmaatar and stage of marriage ceremony. The approach used is anthropological approach,with the type of descriptive research, and research method used is qualitative method. Theresults of this study are as follows: narrative structure found in Banjar customarymarriage, namely: 1) the structure of narrative stage jujuran maatar, early stage(welcoming the prospective groom), middle stage (delivery of delivery by the prospectivegroom) male and acceptance of delivery by the prospective bride), and the final stage(prayer and fresh bite). 2) The structure of the narrative stage of the marriage ceremony;2.1 stages of requesting permission to be married, early stage (prospective bride askspermission to be married), middle stage (guardians grant permission), and final stage(guardian represents to the penghulu and penghulu receive to represent the guardian). 2.2phase of marriage ceremony, early stage (opening ceremony of marriage ceremony),middle stage (qabul qabul and sighat ta'lik reading), and final stage (prayer read).Key words: narrative structure, Banjar customary marriageAbstrakStruktur Narasi Perkawinan Adat Banjar di Kecamatan Pulau Laut Utara KabupatenKotabaru. Struktur narasi adalah cara pembuat narasi dalam menghadirkan peristiwakepada khalayak. Narasi mempunyai struktur dari awal hingga akhir. Struktur narasi yangterdapat pada perkawinan adat Banjar di Kecamatan Pulau Laut Utara, terdiri dari 3(tiga) tahap, yaitu: tahap awal (beginning), tahap tengah (midle), dan tahap akhir (end).Adat Banjar adalah sebuah gagasan kebudayaan urang Banjar dalam mengembangkansistem budaya, sistem sosial dan material budaya yang mana berkaitan dengan religi,melalui berbagai proses adaptasi, akulturasi dan asimilasi. Sehingga akan tampakterjadinya pembauran dalam aspek-aspek budaya. Fokus penelitian ini adalah strukturnarasi, pada tahap maatar jujuran dan tahap upacara nikah. Pendekatan yang gunakanadalah pendekatan antropologis, dengan jenis penelitian deskriptif, dan metode penelitianyang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:37struktur narasi yang terdapat pada perkawinan adat Banjar, yaitu: 1) struktur narasitahap maatar jujuran, tahap awal (penyambutan pihak calon mempelai laki-laki), tahaptengah (penyerahan hantaran oleh pihak calon mempelai laki-laki dan penerimaanhantaran oleh pihak calon mempelai perempuan), dan tahap akhir (doa dan tapung tawar).2) Struktur narasi tahap upacara nikah; 2.1 tahap meminta izin untuk dinikahkan, tahapawal (calon mempelai perempuan meminta izin untuk dinikahkan), tahap tengah (walimemberikan izin), dan tahap akhir (wali berwakil kepada penghulu dan penghulumenerima untuk mewakilkan wali). 2.2 tahap akad nikah, tahap awal (pembukaan acaraakad nikah), tahap tengah (ijab qabul dan pembacaan sighat ta’lik), dan tahap akhir(pembacaan doa).Kata-kata kunci: struktur narasi, perkawinan adat Banjar
RETORIKA BAHASA SALES PRODUK BUMBU MASAK DI KOTA BANJARMASIN Aminah Aminah
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.582 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v9i1.6248

Abstract

AbstractRhetorical Language of The Sellers of Cooking Seasoning Products in Banjarmasin City. The purposesof this research are: 1) to identify the forms of rhetorical languages of the sellers of seasoning products inBanjarmasin, 2) to identify the functions of rhetorical languages of the sellers of seasoning products inBanjarmasin, and 3) to identify the rhetorical language strategies of the sellers of seasoning products inBanjarmasin. This research includes descriptive qualitative research type. The data collected in this studyare types, functions, and meanings of the sentences that are said in sales in marketing cooking seasonings.The data are obtained from interviews and literature study. Data collection is done through documentation,interviews and observations. Data collection is analyzed through four stages, namely classifying data, datareduction, data presentation, and data conclusion. From the results of this study, it is concluded that: (1)the forms of rhetorical language of the sellers of the cooking seasoning products in Banjarmasin areprioritizing simple and easy wording to understand and set the tone in speaking because these things canaffect consumer responses to the messages expressed by the sellers about the seasoning products, (3) therhetorical strategies used by the sellers in marketing cooking seasoning products are throughpersuasiveness by using first impressions, attracting empathy, and building credibility and empathy.It isexpected that the results of this study can help improve the language skills of the salesmen in marketingcooking seasoning products and the results of this study can be a reference for future researches related torhetorical languages.Key words: rhetorical language, sellers, forms, functions, strategyAbstrakRetorika Bahasa Sales Produk Bumbu Masak di Kota Banjarmasin.Tujuan dalam penelitian ini adalah:1) Untuk mengetahui bentuk retorika berbahasa sales produk bumbu masak di Banjarmasin. 2) Untukmengetahui fungsi retorika berbahasa sales produk bumbu masak di Banjarmasin, dan 3) Untukmengetahui strategi retorika berbahasa sales produk bumbu masak di Banjarmasin. Penelitian initermasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah jenis,fungsi, dan makna dari kalimat yang diucapkan sales dalam memasarkan bumbu masak. Data tersebutdiperoleh dari hasil wawancara dan studi pustaka. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi,wawancara dan observasi. Data yang terkumpul dianalisis melalui empat tahap, yakni mengklasifikasikandata, reduksi data, penyajian data dan penyimpulan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1)Bentuk retorika berbahasa sales produk bumbu masak di Banjarmasin adalah mengutamakan pemilihankata yang sederhana dan mudah dimengerti serta mengatur nada dalam berbicara karena hal-hal tersebutdapat mempengaruhi respon konsumen terhadap pesan yang disampaikan oleh sales mengenai bumbumasak, (2) Fungsi retorika berbahasa sales produk bumbu masak di Banjarmasin meliputi empat aspek,yaitu : menyampaikan informasi, pendidikan, menghibur, dan mempengaruhi orang lain, (3) Strategiretorika yang digunakan oleh sales dalam memasarkan produk bumbu masak adalah melalui persuasif47melalui kesan pertama, menarik empati, membangun kredibilitas dan empati. Diharapkan hasil penelitianini dapat membantu meningkatkan kemampuan berbahasa sales dalam memasarkan produk bumbu masakdan hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu acuan untuk penelitian yang berkaitan dengan retorikabahasa.Kata-kata kunci: retorika bahasa sales, bentuk, fungsi, strategi
KARAKTER DAN KONFLIK TOKOH DALAM NASKAH PERTUNJUKAN MAMANDA KARYA SIRAJUL HUDA (THE FIGURES’ CHARACTERS AND CONFLICTS IN THE SCRIPT OF THE SHOW OF MAMANDA BY SIRAJUL HUDA) Rahayuningsih Rahayuningsih
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 2 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.592 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v7i2.4419

Abstract

Karakter dan Konflik Tokoh dalam Naskah Pertunjukan Mamanda karya Sirajul Huda. Bukuini yang berjudul naskah pertunjukan mamanda teater tradisi banjar berisi kesejarahan dari cirikarakter tokoh yang dilakoni dan sekaligus nama-nama pada Mamanda sebuah simbol yang memilikimakna pada jalan alur cerita tersebut. Dengan demikian, peneliti tertarik membahas penelitian agarmasyarakat Banjar cinta akan budaya dan kesenian tradisional pada cerita teater. Sehingga, penelitianini bertujuan menjawab dua masalah yaitu, (a) memaparkan karakter dalam kumpulan naskahpertunjukkan Mamanda karya Sirajul Huda, dan (b) mendeskripsikan konflik tokoh yang ada dalamkumpulan naskah Mamanda karya Sirajul Huda. Metode yang digunakan dalam penelitian terhadapdrama Mamanda Teater Tradisi Banjar karya Sirajul Huda ini adalah dengan menggunakan metode185deskriptif analisis. Dari hasil penelitian karakter dan konflik tokoh sebagai wujud dari analisis karakterpada naskah mamanda dari kelima judul seperti Bara api dari utara, kumala naga mirah sila utama,merajut asa di palinggam cahaya, putri cahaya khairani, dan raden angga sukma perdana, adalahkarakter yang beragam namun memiliki konflik yang berbeda-pada tiap sudut pandang alur ceritatersebut, memiliki kesamaan pada nama tokoh namun peran dan cerita berbeda masalah salah satunyakonflik perebutan tahta, kekacauan pada lingkungan masyarakat, penculikan putri kerajaan, bahkandari segi percintaan sesama alam lain pun juga ada, pada naskah pertunjukan mamada tradisi banjarini lebih melek unsur budaya banjar baik dari perkataan, kebiasaan, bahkan apa saja yang diperlukansaat menanggulangi permasalahan yang muncul selalu dihadapi dengan baik, yaitu memberikan sarandan masukan kepada ke kerajaan maupun sultan yang mendengarkan atau menghargai pendapat yanglebih dewasa. Dengan demikian, tradisi di Banjar yang santun dapat diapresiasikan pada kehidupansehari-hari.Kata-kata kunci: karakter, konflik, mamanda
KEMAMPUAN PENGUCAPAN PIRANTI MORFOLOGI ANAK TUNAGRAHITA KELAS VII SMP LB BANJARMASIN Lili Agustina Irni Cahyani
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.435 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v9i1.6252

Abstract

AbstractThe Ability to Pronounce Morphological Devices Mentally Retarded Children at TheSeventh Grade Students of SMP LB Banjarmasin. This study focuses on pronunciationof morphological devices, namely affixation, source reduplication in SMP LBBanjarmasin.This study used qualitative descriptive method. The data collected wasbased on the actual environment and in the situation as it was the ability to pronouncementally retarded children. Data collection started from observation, recording,interviewing, and library techniques. Sources of the data study were mild mentallyretarded children. Based on the result of the study, it can be concluded that topronounce affixtion of students of SMP LB Banjarmasin seen in using prefix me-, ber-,ter-, pe-, di-, sufix -an, -kan, and confix me-kan, ke-an. Mentally retarded children oftenadd phonemes when speaking, as in prefks men- became meng, prefix ber- becamebeng, and mentally retarded children often removed phonemes when speaking as prefixme(N)- became me-. The reduplication abilty found was reduplication in the form ofintact repetition, partial reduplication and basic affixed reduplication. The ability tocomposition mild mentally retarded chldren pronounces in using composition such asbahasa Indonesia, naik kelas, salat jumat, musim hujan, musim panas, and makansiang. But, there were some of mild mentally retarded children who did not usecomposition correctly such as pak gulu, lumah sakit, tanah ail, ail mata, kelas kepala,keleta api, melimpah luah, halta benda, jalan laya, olang tua, padang lumput, and halilibul. The ability to pronounce mild retarded children when they were affixed,duplicated, and composed by morphophonemic process including changes n phoneme/r/ became phoneme /l/ caused by mild retarded children experiencing obstacles whenreciting phoneme /r/.Key words: pronounce, morphological, tunagrahita2AbstrakKemampuan Pengucapan Piranti Morfologi Anak Tunagrahita Kelas VII SMP LBBanjarmasin. Penelitian ini memfokuskan kemampuan pengucapan piranti morfologi,yaitu afiksasi, reduplikasi komposisi pada siswa SMP LB Banjarmasin. Penelitian inimenggunakan metode kualitatif deskriptif. Data yang dikumpulkan berdasarkan darilingkungan yang sebenarnya dan dalam situasi apa adanya, yaitu kemampuanpengucapan anak berketerbelakangan mental (tunagrahita). Pengambilan data dimulaidari teknik observasi, rekaman, wawancara, pencatatan dan teknik kepustakaan.Sumber data penelitian adalah anak tunagrahita ringan. Berdasarkan hasil penelitiandapat disimpulkan bahwa kemampuan pengucapan afikasasi siswa SMP LBBanjarmasin terlihat dalam menggunakan prefiks me-, ber-,ter-, pe-, di- sufiks -an, -kan, dan konfiks me-kan, ke-an. Anak tunagrahita sering melakukan penambahanfonem ketika berbicara, seperti pada prefiks men- menjadi meng, prefiks ber- menjadibeng, serta anak tunagrahita ringan sering melakukan penghilangan fonem ketikaberucap, seperti prefiks me(N)- menjadi me-. Kemampuan reduplikasi yang ditemukanadalah reduplikasi berupa pengulangan utuh, reduplikasi sebagian, dan reduplikasidasar berafiks. Kemampuan komposisi anak tunagrahita ringan tepat mengucapkandalam menggunakan komposisi, yaitu bahasa Indonesia, naik kelas, salat jumat, musimhujan, musim panas, dan makan siang. Namun, ada sebagian anak tunagrahita ringanyang tidak tepat menggunakan komposisi seperti pak gulu, lumah sakit, tanah ail, ailmata, kelas kepala, keleta api, melimpah luah, halta benda, jalan laya, olang tua,padang lumput, dan hali libul. Kemampuan pengucapan anak tunagrahita ringan ketikaberafiksasi, bereduplikasi, dan berkomposisi yang dilakukan dengan prosesmorfofonemik, meliputi perubahan fonem /r/ menjadi fonem /l/ yang disebabkan anaktunagrahita ringan mengalami hambatan ketika melafalkan fonem /r/.Kata-kata kunci: pengucapan, morfologi, tunagrahita
DERIVASI VERBA BAHASA BANJAR Arif Rahman
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 2 (2018): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.892 KB) | DOI: 10.20527/jbsp.v8i2.5506

Abstract

AbstractDerivation verbs of Banjarese. Derivation does not only happen in Indonesian language, it also happenin local language, such as Banjarmasin. This research focuses on problems of the Derivarion Verbs ofBanjarese. The purposes of this research are (1) to describe the form of derivation verbs of Banjarese,and (2) to describe the function of derivation verbs of Banjarese. Data of this research are the words inBanjarese. The data sources of this research are documentation and informants. Extracting data is takenby using interview technique and record. Data analyzed did by qualitative analysis techniques. Based onthe result research, obtained conclusions are (1) Derivation verbs through affixes, are ba-, di- maN-, ta-,ba-an, di-i, di-akan, di-iakan, maN-i, maN-akan, maN-iakan, ta-i, ta-akan, ta-iakan, -i, -akan, -iakan,and tapa-. Derivation verbs through reduplication, are found some forms such as intact reduplication,partial reduplication (first tribal reduplication, first tribal reduplication + affixes), and changes soundreduplication. While derivation through composition are found some forms, such as composition of freeform with free form and composition of free form with bound form/bound form with free form, and (2)derivation function, affixes addition, repetitions, composition function to change word class.Key words: form, derivation verbs, function, banjareseAbstrakDerivasi Verba Bahasa Banjar. Derivasi tidak hanya terjadi di dalam bahasa Indonesia saja, derivasijuga terjadi dalam bahasa daerah, seperti Banjarmasin. Penelitian ini memfokuskan masalah DerivasiVerba Bahasa Banjar. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) memaparkan bentuk derivasi verbabahasa Banjar, dan (2) memaparkan fungsi derivasi verba dalam bahasa Banjar. Data penelitian iniadalah kata-kata dalam bahasa Banjar. Sumber data penelitian ini adalah dokumentasi dan informan.Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan rekaman. Analisis data dilakukan denganteknik análisis kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan (1) Derivasi verba melaluiafiks, yakni ba-, di-, maN-, ta-, ba-an, di-i, di-akan, di-iakan, maN-i, maN-akan, maN-iakan, ta-i,ta-akan, ta-iakan, -i, -akan, iakan, dan tapa-. Derivasi verba melalui reduplikasi ditemukan bentukbentuk,sperti reduplikasi utuh, reduplikasi sebagian (reduplikasi suku pertama, reduplikasi sukupertama + afiks), dan reduplikasi berubah bunyi. Sedangkan derivasi melalui komposisi ditemukanbentuk-bentuk, seperti komposisi bentuk bebas dengan bentuk bebas dan komposisi bentuk bebasdengan bentuk terikat/bentuk terikat dengan bentuk bebas, sedangkan (2) fungsi derivasi, penambahanafiks, pengulangan, komposisi berfungsi mengubah kelas kata.Kata-kata kunci: bentuk, derivasi verba, fungsi, bahasa Banjar

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2025): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 2 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 1 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 13, No 2 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 13, No 1 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 12, No 2 (2022): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 12, No 1 (2022): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 11, No 2 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 11, No 1 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 10, No 2 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 10, No 1 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 9, No 2 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 8, No 2 (2018): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 8, No 1 (2018): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 7, No 2 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 7, No 1 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 6, No 2 (2016): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 6, No 1 (2016): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 5, No 2 (2015): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 5, No 1 (2015): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 4, No 2 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 4, No 1 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 3, No 2 (2013): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 3, No 1 (2013): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) More Issue