cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA
ISSN : 20890117     EISSN : 25805932     DOI : -
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA diterbitkan sejak 1 April 2011 oleh Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM) dengan Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) Cabang Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin dan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Daerah Banjarmasin.
Arjuna Subject : -
Articles 295 Documents
SISTEM SOSIAL, KULTURAL, DAN KEPRIBADIAN DALAM NOVEL EDENSOR KARYA ANDREA HIRATA (SOCIAL, CULTURAL, AND PERSONALITY SYSTEM IN THE EDENSOR NOVEL BY ANDREA HIRATA) Gesit Aprianto
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 12, No 2 (2022): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v12i2.10768

Abstract

Social, Cultural, and Personality System in the “Edensor” Novel by Andrea Hirata. This study discusses the social, cultural, and personality systems found in the “Edensor” novel. This research is a qualitative research with a literary anthropological approach. The object of this research is a novel entitled "Edensor" by Andrea Hirata and focuses on social systems, cultural systems, and personality systems. The data used in this study are all texts in the novel "Edensor" which contain social, cultural, and personality systems. The data obtained were analyzed using the theory developed by Tallcot Parson. Based on the analysis, it can be seen that in Andrea Hirata's Edensor novel there are social systems, cultural systems, and personality systems. The social systems found include community subsystems, fiduciary systems, government systems, and economic systems. The cultural systems found include the norms subsystem, activity subsystem, and work subsystem. The personality system found includes motivation and needs.Key words: social system, cultural system, personality system, literary anthropology, Talcott Parsons' theorySistem Sosial, Kultural, dan Kepribadian dalam Novel “Edensor” karya Andrea Hirata. Penelitian ini membahas sistem sosial, budaya, dan kepribadian yang terdapat pada novel “Edensor”. Penelitian ini berupa penelitian kualitatif dengan pendekatan antropologi sastra. Objek dari penelitian ini adalah novel berjudul “Edensor” karya Andrea Hirata dan berfokus pada sistem sosial, sistem kultural, dan sistem kepribadian. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua teks dalam novel “Edensor” yang mengandung sistem sosial, budaya, dan kepribadian. Data-data yang diperoleh dianilisis menggunakan teori yang dikembangkan oleh Tallcot Parson. Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat diketahui bahwa di dalam novel Edensor karya Andrea Hirata terdapat sistem sosial, sistem kultural, dan sistem kepribadian. Sistem sosial yang ditemukan meliputi subsistem komunitas kemasyarakatan, sistem fiduciary, sistem pemerintahan, dan sistem ekonomi. Sistem kultural yang ditemukan meliputi subsistem norma, subsistem aktivitas, dan subsistem karya. Sistem kepribadian yang ditemukan meliputi motivasi dan kebutuhan.Kata-kata Kunci: sistem sosial, sistem kultural, sistem kepribadian, antropologi sastra, teori Talcott Parsons
ANALISIS NOVEL “BUMI MANUSIA” KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER: KAJIAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHES (ANALYSIS OF THE NOVEL “BUMI MANUSIA” BY PRAMOEDYA ANANTA TOER: ROLAND BARTHES SEMIOTICS STUDY) Noor Hanifah
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 12, No 2 (2022): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v12i2.10995

Abstract

Analysis of the novel "Bumi Manusia" by Pramoedya Ananta Toer: A Semiotic Study of Roland Barthes. This study aims to describe the meaning of denotation, connotation and myth in the text of the novel Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer. The method used is descriptive and the approach used is the semiotic approach. Data analysis techniques with content analysis. The results showed that each data analyzed contained denotation, connotation and myth based on the concept of Roland Barthes. The conclusion from this research is the text in the novel Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer, that myths are discourses that were believed during the time when the discourse was circulating, the findings that the researchers found were closely related to the meaning of connotations in the text. The meaning of denotation contained in the novel Bumi Manusia is that it describes the condition of the Indonesian people during the Dutch East Indies colonial period, politics, the ideology of the people at that time. The meaning of connotations in the analysis of the novel Bumi Manusia is a social allusion to the injustices experienced by the natives.Key words: semiotics, Roland Barthes, novel, denotation, connotationAnalisis Novel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer: Kajian Semiotika Roland Barthes. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna denotasi, makna konotasi dan mitos dalam teks novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Metode yang digunakan yaitu deskriptif dan pendekatan yang digunakan pendekatan semiotika. Teknik analis data dengan content analysis. Hasil penelitian menunjukkan setiap data yang dianalisis terdapa makna denotasi, makna konotasi dan mitos menurut konsep Roland Barthes. Hasil simpulan dalam penelitian ini teks dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, bahwa mitos merupakan wacana-wacana yang dipercayai pada masa wacana itu beredar, temuan yang peneliti temukan mitos berkaitan erat dengan makna konotasi dalam teks. Makna denotasi yang terdapat dalam novel Bumi Manusia yaitu menggambarkan keadaan rakyat Indonesia pada masa penjajahan Hindia Belanda, politik, ideologi orang-orang pada masa itu. Makna konotasi yang dalam analisis novel Bumi Manusia yaitu singgungan sosial tentang ketidakadilan yang dialami Pribumi.Kata-kata Kunci: semiotika, Roland Barthes, novel, konotasi, denotasi
SESAT PIKIR DALAM TUTURAN WARGANET DI FACEBOOK (LOGICAL FALLACIES IN INTERNET CITIZEN SPEECH ON FACEBOOK) Yoga Tri Adhi
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 12, No 2 (2022): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v12i2.10942

Abstract

Logical Fallacies in Internet Citizen Speech on Facebook. This study aims to understand the form of logical fallacies in the speech of internet citizens on Facebook. This research is a qualitative research. This type of qualitative approach is based on the logical context of the language on Facebook. The data of this research are internet citizens utterances which are identified as logical fallacies. The data collection technique used is documentation technique. The data analysis technique is done by reducing the data, display the data, and drawing conclusions. The technique of checking the validity of the data is carried out by means of persistence/regularity of observation of the form of logical thought that is displayed. The results of the research obtained are that there are ten types of logical fallacies that occur in five news topics that are selected with a certain logical form, namely: red herring, the strawman fallacy,ad hominem, false dilemma, hasty generalization, prejudicial language, appeal to faith, argument from ignorance, slippery slope, and weak analogy.Key words: logical fallacies, language, logic, social media, philosophySesat Pikir dalam Tuturan Warganet di Facebook. Penelitian ini bertujuan untuk memahami wujud sesat pikir dalam tuturan warganet di Facebook. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Jenis pendekatan kualitatif ini didasarkan pada konteks logika berbahasa di Facebook. Data penelitian ini adalah tuturan warganet yang teridentifikasi sebagai sesat pikir. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Teknik pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan cara ketekunan/keajegan pengamatan terhadap wujud sesat pikir yang ditampilkan. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan adanya sepuluh jenis sesat pikir yang terjadi pada lima topik berita yang dipilih dengan bentuk logika tertentu, yaitu: red herring, strawman fallacy, ad hominem, false dilemma, hasty generalization, prejudicial language, appeal to faith, argument from ignorance, slippery slope, dan weak analogy.Kata-kata Kunci: sesat pikir, logika, bahasa, media sosial, filsafat
MANTRA MELAUT PADA ETNIS MANDAR LONTAR: INTERPRETASI SEMIOTIKA RIFFATERRE (FISHING MANTRAS ON THE MANDAR LONTAR ETHNICITY: RIFFATERRE'S INTERPRETATION OF SEMIOTICS) Ardiansyah Ardiansyah
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 13, No 1 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v13i1.13493

Abstract

AbstractFishing Mantras on the Mandar Lontar Ethnicity: Riffaterre's Interpretation of Semiotics. The research objectives were to describe (1) the function of the mantras contained in the Mandar Lontar Ethnic fishing mantras; (2) the indirect expression of the Mandar Lontar Ethnic fishing mantras; and (3) the meaning of the Mandar Lontar Ethnic fishing mantras based on heuristic and hermeneutic readings. The method used in this research was descriptive research method with a qualitative approach, while the type of research was oral literature research with Riffaterre's semiotic theory. The results of this study were the function of the Mandar Lontar ethnic fishing mantras in general as a tool or medium to convey a request or prayer to Allah Swt. The indirect expression contained in the sandeq, wind, sailing, fishing, and bagang mantras in the Mandar Lontar ethnicity were the replacement of meaning and deviation of meaning and the creation of meaning. In the heuristic reading of the Mandar Lontar ethnic fishing mantras, various spell texts were found did not have a literal meaning. There were also texts of the Mandar Lontar ethnic fishing mantras which had different meaning if it were described in words and sentences, while in hermeneutic reading, it was found that there were meaning behind the metaphor that was characteristic of Islam.Keywords: mantras, fishing, mandar lontar ethnicity, interpretation, riffaterre semioticsAbstrakMantra Melaut pada Etnis Mandar Lontar:  Interpretasi Semiotika Riffaterre. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan (1) fungsi mantra yang terdapat dalam mantra melaut Etnis Mandar Lontar; (2) ketidaklangsungan ekspresi pada mantra melaut Etnis Mandar Lontar; dan (3) makna mantra melaut Etnis Mandar Lontar berdasarkan pembacaan heuristik dan hermeneutik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitiannya adalah penelitian sastra lisan dengan teori semiotika Riffaterre. Hasil penelitian ini adalah fungsi mantra melaut etnis Mandar Lontar secara umum merupakan sebagai alat atau media untuk menyampaikan permohonan atau doa kepada Allah Swt. Ketidaklangsungan ekspresi yang terdapat dalam mantra sandeq, angin, berlayar, memancing, dan bagang pada etnis Mandar Lontar yaitu penggantian arti dan penyimpangan arti serta penciptaan arti. Dalam pembacaan heuristik pada mantra melaut etnis Mandar Lontar ditemukan berbagai teks mantra yang tidak mempunyai arti harfiah. Ada juga teks mantra melaut etnis Mandar Lontar yang mempunyai arti yang berbeda jika diuraikan perkata dan perkalimat, sedangkan dalam pembacaan hermeneutik menemukan adanya makna dibalik metafora yang berciri khas Islam.Kata-kata kunci: mantra, melaut, etnis mandar lontar, interpretasi, semiotika riffaterre
STRUKTUR DAN MAKNA PROSESI PERKAWINAN ADAT DAYAK NGAJU (THE STRUCTURE AND MEANING OF THE DAYAK NGAJU TRADITIONAL MARRIAGE PROCESSES) Lastaria Lastaria; Ahmad Alghifari Fajeri
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 13, No 1 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v13i1.14574

Abstract

AbstractThe Structure and Meaning of The Dayak Ngaju Traditional Marriage Processes. The lack of written works related to the culture of the Dayak Ngaju tribe is the most basic thing so this research is very important to be explored as an effort to document local cultural forms. The research aims to explore the culture of the Dayak Ngaju tribe so it will be known and understood in terms of the meaning contained in the traditional wedding procession. The research result can be used as a foundation for conducting the traditional wedding. The research approach is qualitative with an explorative method and descriptive method. The research data are in the form of Dayak Ngaju people’s activities related to the procession and items of customary requirements. The data sources include traditional leaders, mantir (assistant of traditional apparatus), and public figures. The data collection techniques employ observation techniques, recording, and interviews. The research results indicate that the structure of Dayak Ngaju traditional wedding starts with the fulfillment of “jalan hadat” by conducting “amak rakang injang” by meeting the 20 requirements paid by the groom and it is ended with the fulfillment of the final condition called “batu kaja” that is paid during the “pakaja manantu” (the procession of taking the bride to the groom family after the wedding procession). The meaning of the traditional wedding procession is teaching the procedures of “belum bahadat” (civilized life) so that humans have respect, good manners, and morals.Keywords: Structure, meaning, traditional mating, Ngaju DayakAbstrak Struktur dan Makna Prosesi Perkawinan Adat Dayak Ngaju. Minimnya karya tulis terkait kebudayaan suku Dayak Ngaju menjadi hal yang paling mendasar sehingga penelitian ini sangat penting untuk digali sebagai upaya pendokumentasian bentuk kebudayaan lokal. Tujuan penelitian untuk mengeksplorasikan kebudayaan suku Dayak Ngaju agar tidak hanya dikenal tetapi dapat dipahami pula makna yang terkandung dalam prosesi perkawinan adat tersebut. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai pijakan jika ingin melangsungkan pernikahan melalui adat. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan kualitatif dengan metode eksploratif dan deskriptif. Data dalam penelitian ini adalah wujud aktivitas masyarakat Dayak Ngaju terkait prosesi perkawinan adat serta benda-benda yang menjadi syarat adat, sedangkan sumber data adalah ketua adat, mantir, dan tokoh masyarakat. Adapun teknik pengumpulan data, yaitu observasi, rekaman, dan wawancara. Dari hasil penelitian tentang struktur dalam kawin adat suku Dayak Ngaju dimulai dari pemenuhan jalan hadat dengan menggelar amak rakang injang sebagai tanda dimulainya pemenuhan jalan adat perkawinan suku Dayak Ngaju dengan memenuhi 20 syarat yang dibayarkan mempelai laki-laki dan ditutup dengan pemenuhan syarat terakhir yang disebut batu kaja yang dibayarkan saat prosesi pakaja manantu (ngunduh mantu). Adapun makna yang terkandung dalam prosesi kawin adat pada dasarnya mengajarkan tata cara ‘belum bahadat’ (hidup beradab) agar manusia memiliki sikap hormat, berbudi pekerti, dan bermoral.Kata kunci: struktur, makna, kawin adat, Dayak Ngaju
REPRESENTASI SOSIALISME DALAM NOVEL BUMI MANUSIA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER (SOCIALISM AS REFLECTED IN PRAMOEDYA ANANTA TOER’S NOVEL BUMI MANUSIA) Jihaduddin Akbar
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 13, No 1 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v13i1.12745

Abstract

AbstractSocialism As Reflected In Pramoedya Ananta Toer’s Novel Bumi Manusia. Literature use to bring out the deepest desire of a writer. Literature appear as result of inner turmoil of a writer who try to see the world from his point of view, then literature be a messenger to public. Pramoedya Ananta Toer as a writer try to inculcate his wild ideas in to a brilliant creation be entitled Bumi Manusia. In Buru Tetralogy, this novel is a beginning of seeding the maturity of character named Minke, learning process, seeking knowledge, and sharpen his mind. describe the representation of socialism in the novel Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer. This research is a qualitative descriptive study using genetic structuralism as a technical analysis. The data sources of this research come from sentences that represent socialism in the fields of education, law, and gender in the novel Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer. Overall, incident in Bumi Manusia Novel is protest form to colonial injustice practice in Hindia Belanda.Key words: reflected, genetic-structuralism, socialism, education, law, genderAbstrakRepresentasi Sosialisme dalam Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Sastra muncul sebagai hasil pergolakan batin seorang sastrawan yang mencoba melihat dunia dari sudut pandangnya, sastra kemudian menjadi penyampai pesan pada masyarakat. Pramoedya Ananta Toer sebagai seorang sastrawan mencoba menanamkan gagasan-gagasan liarnya ke dalam salah satu karya cemerlang berjudul Bumi Manusia. Dalam Tetralogi Buru, novel ini merupakan awal penyemaian kedewasaan tokoh Minke, proses belajar, mencari ilmu pengetahuan, serta menajamkan pikiran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi sosialisme dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan strukturalisme genetik sebagai teknis analisis. Sumber data penelitian ini berasal dari kalimat-kalimat yang merepresentasikan sosialisme dalam bidang pendidikan, hukum, dan gender pada pada novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Secara keseluruhan kejadian-kejadian dalam novel Bumi Manusia merupakan bentuk protes pada praktik ketidakadilan kolonial di Hindia Belanda.Kata-kata kunci: representasi, strukturalisme-genetik, sosialisme, pendidikan, hukum, gender
TINDAK TUTUR DALAM PIDATO PRESIDEN JOKO WIDODO “VISI INDONESIA” (SPEECH ACTION IN PRESIDENT JOKO WIDODO'S SPEECH “VISION OF INDONESIAN”) Dimas Fajar Ariyanto Putra
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 13, No 1 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v13i1.11894

Abstract

AbstractSpeech Actions in President Joko Widodo's Speech "Vision of Indonesia." Language is an essential factor in human life that functions as a means of communicating and exchanging information in everyday life. This shows that humans have a very close relationship with language, where language is a key for humans in their role as social beings. Humans use language in various lines where there are many variations of language use. It is not only used as a means of exchanging information. Language is also used in a political context. In this case, language is used as a means of invitation or command for a particular interest in the issue discussed in the community. In addition, language in a political context aims to form a person's identity. Therefore, this study examines the use of Ludwig Wittgenstein's second-period language game, complemented by John Langshaw Austin's perspective in President Joko Widodo's speech. The theoretical basis used in this study uses the thoughts of the philosopher Ludwig Wittgenstein II with the addition of understanding through the perspective of the philosopher John Langshaw Austin. The data analysis technique used hermeneutics. The data source was President Joko Widodo's speech taken from the YouTube site KOMPAS TV which was uploaded on July 14, 2019, with the title "Speech of the Elected President Joko Widodo: Visi Indonesia," and the video duration was twenty-three minutes and eleven seconds. In the analysis process, there is a language game in President Joko Widodo's speech with the title Visi Indonesia carried out. It can be concluded that the language game in the delivery of President Joko Widodo's speech entitled "VISION Indonesia" contains locutionary speech acts (phonetics and fatigue), illocutionary (verdicative) speech acts. Exercisive, commissive, behatitive, and expositive), and perlocutionary, the most dominant speech act found in the speech is locutionary speech acts, namely phonetic acts. This is under the subject matter in the book Philosophical Investigations (Kaelan, 2004); Wittgenstein explains that language games are a process of using words and rules for using language.Key words: Speech Act, Austin Perspective, Jokowi's SpeechAbstrakTindak Tutur dalam Pidato Presiden Joko Widodo “Visi Indonesia”. Bahasa merupakan faktor yang penting dalam kehidupan manusia yang memiliki fungsi sebagai sarana berkomunikasi dan bertukar informasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini memperlihatkan bahwa manusia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan bahasa, dimana bahasa merupakan suatu kunci manusia atas perannya sebagai makhluk sosial. Bahasa digunakan manusia dalam berbagai lini yang terdapat banyak variasi penggunaan bahasa. Tidak hanya digunakan sebagai sarana bertukar informasi, bahasa salah satunya juga digunakan dalam konteks politik. Dalam hal ini, bahasa digunakan sebagai sarana ajakan atau perintah untuk suatu kepentingan khusus dalam isu yang sedang dibahas di kalangan masyarakat. Selain itu, bahasa dalam konteks politik bertujuan untuk membentuk suatu identitas seseorang. Oleh karena itu, penelitian ini membahas penggunaan permainan bahasa (language ame) Ludwig Wittgenstein periode kedua yang dilengkapi dengan perspektif John Langshaw Austin dalam pidato presiden Joko Widodo. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pemikiran dari filsuf Ludwig Wittgenstein II dengan penambahan pemahaman melalui perspektif filsuf John Langshaw Austin. Teknik analisis data menggunakan hermeneutika. Data yang digunakan dalam penelitian ini pidato presiden Joko Widodo yang diambil melalui sumber situs YouTube KOMPAS TV yang diunggah pada tanggal 14 Juli 2019 dengan judul “Pidato Presiden Terpilih Joko Widodo: Visi Indonesia” dan durasi video dua puluh tiga menit sebelas detik. Pada proses analisis terdapat permainan bahasa pada pidato Presiden Joko Widodo dengan judul Visi Indonesia yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa permainan bahasa dalam penyampaian pidato presiden Joko Widodo yang berjudul “Visi Indonesia” ini terdapat tindak tutur lokusi (fonetik dan fatik), ilokusi (verdiktif, eksersitif, komisif, behatitif, dan ekspositif), dan perlokusi, tindak tutur yang paling dominan terdapat dalam pidato tersebut adalah tindak tutur lokusi, yaitu tindak fonetik. Hal ini sesuai dengan pokok bahasan dalam buku Philisophical Investigations (Kaelan, 2004), Wittgenstein menjelaskan bahwa permainan bahasa adalah suatu proses pemakaian kata dan aturan penggunaan bahasa.Kata-kata kunci: tindak tutur, perspektif austin, pidato jokowi
GAYA BERILOKUSI USTAD ADI HIDAYAT PADA VIDEO CERAMAH “DZIKIR PENUNTAS KEGELISAHAN” DI MEDIA DIGITAL YOUTUBE (USTAD ADI HIDAYAT'S ILLOCUTIONAL STYLE ON THE VIDEO OF THE “DZIKIR PENUNTAS KEGELISAHAN” ON YOUTUBE) Deasy Wahyu Hidayati
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 13, No 1 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v13i1.13740

Abstract

AbstractUstad Adi Hidayat's Illocutional Style On The Video Of The “Dzikir Penuntas Kegelisahan” On Youtube. Ustad Adi Hidayat (UAH) is one of the popular lecturers who conveys religious ideas in a gentle and tolerant manner so that many people like him. UAH and the team manage YouTube as a medium for lectures on a digital platform. Therefore, this study will analyze UAH's illocutionary style in his video lectures on the official YouTube channel "Adi Hidayat Official". The research method is qualitative with a naturalistic approach. The naturalistic approach means that the research process is carried out naturally. The data source used was a UAH video lecture entitled "Dzikir Penuntas Kegelisahan" with the data collection technique used was the note-taking technique, namely listening to the UAH video lecture and noting important points related to the research data. The technique of data analysis was carried out by examining based on the theory of illocutionary speech acts, including assertive, directive, expressive, commissive, and declarative in UAH lectures. The results showed that predominantly, UAH used an assertive illocutionary style as information to the speech partner in order to reveal a bond of truth based on what was said with certain references. In addition to assertive speech acts, the second dominant is directive speech acts. In this speech, UAH uses the form of a directive to give advice to his interlocutors about what to do in the practice of worship. These results indicate that Ustad Adi Hidayat's illocutionary style prioritizes assertive and directive forms in his lectures rather than expressive, commissive, and declarative illocutionary.Keywords: Illocution Style, Ustad Adi Hidayat, YouTubeAbstrakGaya Berilokusi Ustad Adi Hidayat pada Video Ceramah “Dzikir Penuntas Kegelisahan” Di Media Digital Youtube. Ustad Adi Hidayat (UAH) adalah salah satu penceramah populer yang menyampaikan gagasan-gagasan keagamaan secara lembut dan toleran sehingga banyak disukai oleh masyarakat. UAH bersama tim mengelola YouTube sebagai media ceramah dalam platform digital. Oleh karena itu, penelitian ini akan menganalisis gaya berilokusi UAH dalam video ceramahnya di kanal YouTube resmi “Adi Hidayat Official”. Metode penelitian adalah kualitatif dengan pendekatan naturalistik. Pendekatan naturalistik berarti proses penelitian dilaksanakan secara alamiah/natural. Sumber data yang digunakan adalah satu video ceramah UAH berjudul “Dzikir Penuntas Kegelisahan” dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tenik simak-catat, yaitu menyimak video ceramah UAH dan mencatat poin penting terkait data penelitian. Tenik analisis data dilakukan dengan mengkaji berdasarkan teori tindak tutur ilokusi antara lain asertif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklaratif pada ceramah UAH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara dominan, UAH menggunakan gaya berilokusi asertif sebagai informasi kepada mitra tutur guna mengungkapkan sebuah ikatan kebenaran berdasarkan dari apa yang dituturkan dengan referensi-referensi tertentu. Selain tindak tutur asertif, yang terdominan kedua adalah tindak tutur direktif. Pada tuturan ini, UAH menggunakan bentuk direktif untuk memberikan saran kepada para mitra tuturnya tentang apa-apa yang harus dilakukan dalam praktik beribadah. Hasil tersebut menunjukkan bahwa gaya berilokusi Ustad Adi Hidayat mengutamakan bentuk asertif dan direktif dalam ceramah-ceramahnya dibanding ilokusi ekspresif, komisif, dan deklaratif.Kata-kata kunci: Gaya ilokusi, Ustad Adi Hidayat, YouTube
KESANTUNAN BERBAHASA DALAM ADAT BANJAR BAANTARAN JUJURAN (LANGUAGE POLITENESS IN THE TRADITIONAL BANJAR BAANTARAN JUJURAN) Rohmi Yati
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 13, No 1 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v13i1.10703

Abstract

AbstractPolite Language in the Traditional Banjar of Baantaran Jujuran. This study aims to describe the form, strategy and function of polite language in communication between jujuran deliverymen and jujuran recipients. The type of research conducted in this research is qualitative research. The object of this research is the introductory speech of jujuran introduction and jujuran recipient in the traditional Banjar of baantaran jujuran. Data obtained through recording, and field notes. The data obtained were analyzed in three stages, namely (1) data reduction, (2) data presentation, and (3) conclusion/verification. Based on the analysis carried out, it can be seen that in the Banjar baantaran jujuran tradition there are forms, strategies and functions of politeness. The speakers in this traditional show polite language through choosing the right words according to the culture of the Banjar people and according to the context when the speech occurs, speakers use subtle expressions, use fences and use honorific words.Key words: form, strategy, function, language politeness, Banjar customAbstrakKesantunan Berbahasa dalam Adat Banjar Baantaran Jujuran. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan wujud, strategi dan fungsi kesantunan berbahasa dalam komunikasi antara pengantar jujuran dengan penerima jujuran. Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah  penelitian kualitatif. Objek dari penelitian ini adalah tuturan pengantar jujuran dan penerima jujuran dalam tradisi adat Banjar baantaran jujuran. Data diperoleh melalui perekaman, dan catatan lapangan. Data-data yang didapatkan dianalisis melalui tiga tahap, yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data,  dan (3) penyimpulan/ verifikasi. Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat diketahui bahwa di dalam tradisi Banjar baantaran jujuran terdapat wujud, strategi dan fungsi kesantunan. Para penutur dalam tradisi adat ini menunjukkan kesantunan berbahasa melalui pemilihan kata yang tepat sesuai budaya masyarakat Banjar dan sesuai dengan konteks pada saat pertuturan terjadi, penutur menggunakan ungkapan halus, menggunakan pagar dan menggunaan kata honorifik.Kata-kata kunci: wujud, strategi, fungsi, kesantunan berbahasa, adat Banjar
PEMEROLEHAN PERTANYAAN MANA? (STUDI KASUS PADA MZ, ANAK LAKI-LAKI USIA 2 TAHUN 8 BULAN SAMPAI 3 TAHUN) (THE ACQUISITION OF WHERE QUESTION? (CASE STUDY ON MZ, BOYS AGED 2 YEARS 8 MONTHS TO 3 YEARS)) Muhammad Rafiek
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA Vol 13, No 1 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v13i1.13737

Abstract

AbstractThe Acquisition of Where Question? (Case Study on MZ, Boys Aged 2 Years 8 Months To 3 Years. Research on where question by boys has not been done much by researchers. Therefore, this study is a study of where question to obtain in boys. This study aims to describe and explain where question was obtained by MZ from the age of 2 years 8 months to 3 years. This study uses the theory of the early speech stage of children from Steinberg et al. (2001) and the theory of question words where Hoff (2009), Klima & Bellugi (1966), Lust (2006), Lightbown & Spada (2006), and Yule (2015). This research method is a qualitative descriptive method with a longitudinal approach. The result of this study was that a pattern of obtaining which question was found in boys named MZ aged 2 years 8 months to 3 years. Which question pattern is which question word + subject + where + ? and which question word + subject +?. The findings of the question pattern in this MZ turned out to be in accordance with the theory of the initial utterances of the children of Steinberg et al. (2001), namely at the telegraphic stage. Telegraphic utterances are two- and three-word utterances. In addition, in this study it was also found that MZ could only pronounce his suffix eloquently at the age of 3 years.Keywords: question, where, speech patterns, telegraphic utterances, boysAbstrakPemerolehan Kalimat Tanya Mana? (Studi Kasus pada MZ, Anak Laki-Laki Usia 2 Tahun 8 Bulan sampai 3 Tahun). Penelitian mengenai pertanyaan mana oleh anak laki-laki belum banyak dilakukan oleh para peneliti. Oleh karena itu, penelitian ini merupakan penelitian pemerolehan pertanyaan mana pada anak laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan tentang pemerolehan pertanyaan mana oleh MZ dari usia 2 tahun 8 bulan sampai 3 tahun. Penelitian ini menggunakan teori tahap tuturan awal anak dari Steinberg et al. (2001) dan teori kata tanya mana Hoff (2009), Klima & Bellugi (1966), Lust (2006), Lightbown & Spada (2006), dan Yule (2015). Metode penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan longitudinal. Hasil penelitian ini adalah ditemukan pola pemerolehan pertanyaan mana pada anak laki-laki bernama MZ berusia 2 tahun 8 bulan sampai 3 tahun. Pola pertanyaan mana adalah kata tanya mana + subjek + mana + ? dan kata tanya mana + subjek +?. Temuan pola pertanyaan pada MZ ini ternyata sesuai dengan teori tuturan awal anak dari Steinberg et al. (2001), yaitu pada tahap telegrafik. Tuturan telegrafik adalah tuturan-tuturan dua dan tiga kata. Selain itu, dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa MZ baru bisa mengucapkan akhiran -nya secara fasih pada usia 3 tahun.Kata-kata kunci: pertanyaan, mana, pola, tuturan telegrafik, anak laki-laki

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2025): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 2 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 1 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 13, No 2 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 13, No 1 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 12, No 2 (2022): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 12, No 1 (2022): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 11, No 2 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 11, No 1 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 10, No 2 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 10, No 1 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 9, No 2 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 8, No 2 (2018): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 8, No 1 (2018): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 7, No 2 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 7, No 1 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 6, No 2 (2016): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 6, No 1 (2016): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 5, No 2 (2015): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 5, No 1 (2015): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 4, No 2 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 4, No 1 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 3, No 2 (2013): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 3, No 1 (2013): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) More Issue