cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Biologi Tropis
Published by Universitas Mataram
ISSN : 14119587     EISSN : 25497863     DOI : -
Jurnal Biologi Tropis (ISSN Cetak 1411-9587 dan ISSN Online 2549-7863) diterbitkan mulai tahun 2000 dengan frekuensi 2 kali setahun oleh Program Studi Pendidikan Biologi PMIPA FKIP Universitas Mataram, berisi hasil penelitian dan ulasan Ilmiah dalam bidang Biologi Sains.
Arjuna Subject : -
Articles 2,562 Documents
PENGARUH PERBEDAAN UMUR PANEN TERHADAP KANDUNGAN LEMAK Nitzschia sp. Baiq Tri Khairina Ilhami, Lalu Japa Sri Puji Astuti dan Rina Kurnianingsih
Jurnal Biologi Tropis Jurnal Biologi Tropis. Vol.15 no.2 Desember 2015
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.469 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v15i2.203

Abstract

ABSTRAK Mikroalga merupakan protista berklorofil yang memanfaatkan energi matahari dan CO2 dalam proses fotosintesis sehingga dalam biomassanya terkandung bahan-bahan seperti: lemak, protein, dan karbohidrat. Salah satu jenis mikroalga yang memiliki kandungan lemak adalah Nitzschia sp. Kelebihan mikroalga sebagai bahan baku biodiesel jika dibandingkan dengan jarak, biji bunga matahari, jagung, dan tumbuhan lainnya yaitu pertumbuhan mikroalga yang sangat cepat, tidak bersaing dengan produksi pangan, tidak membutuhkan lahan yang luas, dan ramah lingkungan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kandungan lemak tertinggi pada Nitzschia sp. berdasarkan umur kultivasi. Dilakukan penelitian eksperimental kuantitatif menggunakan  Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5  kali panen dan 3 kali ulangan, percobaan dilakukan di Laboratorium Pakan Alami Balai Budidaya Laut (BBL) Lombok, Sekotong pada bulan Agustus sampai September 2014. Kadar lemak ditentukan dengan Metode Soxhlet. Hasil penelitian menunjukkan umur pemanenan hari ke-13 memiliki kandungan lemak tertinggi dengan persentase sebesar 1,84% sedangkan kandungan lemak terendah pada umur panen hari ke-11 dengan persentase sebesar 0,89%. Tinggi rendahnya kandungan lemak Nitzschia sp. dipengaruhi oleh nutrien, kepadatan sel dan faktor lingkungan media kultur.  ABSTRACT Photosynthetic Protist, microalgae can trap sun light energy and CO2 for photosynthesis process, and they produce lipid, protein, and carbohydrate. One species of  microalga that can produce lipid in high portion of their total dry wight is Nitzschia sp. The lipid can highly use as raw material for biodiesel production. The benefits of  microalga as source of biodiesel are they grow faster, they do not compete with other food soruces production, they do not need wide area, and they are invironmental friendly. A quantitative experiment research of rendom complete design was done in the Laboratorium Pakan Alami Balai Budidaya Laut (BBL) Lombok, Sekotong during the months of August to  September 2014. The research was conducted in five time harfesting of each in three repetation The lipid content was ditermined using Soxhlet method. The results showing that the highest lipid content (1.84%) of Nitzschia sp. occurred at the day of thirteen of culturing, and the lowest lipid content (0.89%) of Nitzschia sp. was in the day of eleven of culture. 
PENDUGAAN UKURAN PERTAMA KALI MATANG GONAD IKAN KEMBUNG (Rastrelliger sp) DI PERAIRAN DESA SIDANGOLI DEHE KECAMATAN JAILOLO SELATAN KABUPATEN HALMAHERA BARAT Salim Abubakar; Riyadi Subur; Irmalita Tahir
Jurnal Biologi Tropis Vol. 19 No. 1 (2019): Januari - Juni
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.142 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v19i1.1008

Abstract

Abstrak:Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ukuran pertama kali matang gonad dan ukuran mata jaring gillnet untuk penangkapan ikan kembung (Rastrelliger sp) di perairan Sidangoli Dehe. Pengambilan sampel dengan mengikuti kegiatan operasi penangkapan.dengan nelayan. Operasi penangkapan ikan dilakukan sebanyak 2 kali setiap minggu dan dilakukan selama satu bulan. Hasil tangkapan diambil secara acak (random sampling). Hasil tagkapan selanjutnya dilakukan pengukuran panjang cagak dan body girth. Penentuan tingkat kematangan gonad (TKG) yang dilakukan secara visual dengan melihat bentuk, warna serta perkembangan isi gonad.Hasil penelitian diperoleh ukuran pertama kali matang gonad ikan kembung (Rastrelliger sp) yang tertangkap di perairan Desa Sidangoli Dehe dengan kisaran panjang cagak 250,7 mm sedamgkan ukuran mata jaring insang minimum yang sebaiknya digunakan untuk penangkapan ikan kembung (Rastrelliger sp) yaitu 11,8 cm (4,6 inchi). Kata Kunci : Matang gonad, mata jaring, Rastrelliger sp, Sidangoli Dehe Abstract: The purpose of this study is to determine the size of first-time gonads and the size of gill-net for catching mackerel (Rastrelliger sp) in Dehe Sidangoli waters. Sampling by taking part in arrest operationswith fishermen. Fishing operations are carried out twice a week and carried out for one month. The catch is taken randomly. The result of the next tag is the measurement of the fork length and body girth. Determination of the level of gonad maturity (TKG) that is done visually by looking at the shape, color and development of gonadal contents. The results showed that the first size of mackerel gonad (Rastrelliger sp) that was caught in the waters of Sidangoli Dehe Village with a fork length of 250.7 mm was the minimum size of the gill-net which should be used for catching mackerel (Rastrelliger sp) which was 11.8 cm (4.6 inches). Keywords: Gonad mature, mesh, Rastrelliger sp, Sidangoli Dehe 
PENDUGAAN LIMBAH ORGANIK BUDIDAYA UDANG KARANG DALAM KERAMBA JARING APUNG TERHADAP KUALITAS PERAIRAN TELUK EKAS PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Muhammad Junaidi
Jurnal Biologi Tropis Jurnal Biologi Tropis. Vol.16 No.2 Desember 2016
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.813 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v16i2.225

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi mengenai jumlah (kuantitatif) limbah organik (N, P dan C) dari kegiatan budidaya udang karang dalam keramba jaring apung (KJA), dan pengaruh kegiatan budidaya udang karang terhadap status kualitas perairan Teluk Ekas Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam hubunganya dengan kelayakan perairan tersebut untuk pengembangan budidaya perikanan Iaut. Pendugaan total bahan organik dihitung  dengan mengacu pada total pakan yang tidak dikonsumsi dan jumlah feses. Pengumpulan limbah feses  dan sisa pakan dilakukan setiap bulan selama kegiatan budidaya udang karang.  Metode pengambilan dan penanganan contoh air mengacu pada APHA (1992), analisis data kualitas air dengan Principal Component  Analysis, serta penentuan status kualitas perairan Teluk Ekas dengan Nemerow Pollution Index (PI).Selama pemeliharaan udang karang yang berlangsung 270 hari dengan pemberian pakan ikan rucah, diperoleh  laju pertumbuhan harian adalah 0,74 g/hari, sintasan 66% dan  dengan rasio konversi pakan 11,15. Beban limbah budidaya udang karang dalam KJA yang terbuang ke lingkungan perairan sebanyak 1.256,38 kgN; 259,26 kgP dan  2.212,91 kgC/ton produksi udang. Status kualitas  perairan Teluk Ekas termasuk kriteria tercemaran sedang sampai tercemar berat, dimana   parameter yang melebihi baku mutu adalah amonia (0,3 mg/l), nitrat (0,008 mg/l), dan fosfat (0,015 mg/l). Dengan demikian, untuk mengantisipasi penurunan kelayakan habitat dan dampaknya terhadap lingkungan perairan budidaya, maka perlu mencari upaya-upaya yang dapat menekan laju buangan limbah tersebut ke dalam lingkungan budidaya, sehingga dapat meminimalkan dampak kegiatan budidaya dalam perairan tersebut. Kata kunci :  limbah organik, budidaya udang karang, keramba jaring apung, kualitas air, Teluk Ekas
PEMETAAN PADANG LAMUN SEBAGAI PENUNJANG EKOWISATA DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR Husnayati Hartini; Yuniar Lestarini
Jurnal Biologi Tropis Vol. 19 No. 1 (2019): Januari - Juni
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.063 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v19i1.927

Abstract

Abstrak:Padang lamun merupakan ekosistem pesisir yang sangat potensial baik dari segi ekologis maupun ekonomis. Kabupaten Lombok Timur memiliki potensi padang lamun yang cukup besar dan tersebar mulai dari bagian selatan sampai bagian utara. Tujuan penelitian ini adalah memetakan padang lamun yang ada di Kabupaten Lombok Timur. Pemetaan padang lamun dilakukan dengan  metode survey in situ. Untuk mengetahui sebaran lamun dilakukan dengan metode UTSG yang merupakan  gabungan antara “Line Intersecpt  Transect” dan metode “Stop and Go”. Analisis kesesuaian wisata dilakukan dengan menghitung indeks kesesuaian wisata (IKW).Berdasarkan hasil penelitian diperoleh delapan jenis lamun yang tersebar di delapan lokasi yaitu Pantai Poton Bakau, Gili Kere, Gili Bembek, Gili Sunut, Pantai Pink, Pantai Te Elong-elong, Gili Sulat dan Gili Lawang. Kondisi lamun di semua lokasi rata-rata masih bagus dengan jumlah jenis yang paling banyak yaitu di Gili Kere dan Gili Sunut. Indeks kesesuaian wisata di tiap lokasi bervariasi berkisar dari 72-96% dan masuk dalam kategori sesuai hingga sangat sesuai untuk ekowisata lamun.Di Gili Kere, Gili Bembek, Gili Sunut, Pantai Pink, Gili Sulat dan Gili lawang rata-rata memiliki nilai IKW yang cukup tinggi (96%) dan masuk dalam kategori sangat sesuaiuntuk kegiatan ekowisata padang lamun kategori snorkeling. Kata Kunci : Padang lamun, Ekowisata, Pulau Lombok Abstract: Seagrass beds are a potential coastal ecosystem both ecologically and economically. East Lombok Regency has the potential for seagrass beds which are quite large and spread from the south to the north. The purpose of this study was to map the seagrass beds in East Lombok Regency in an effort to support Eco-tourism. Mapping of seagrass beds is done by in situ survey methods. To find out the distribution of seagrass was done by the UTSG method, which is a combination of "Intercept Transect Line" and "Stop and Go" method. Travel suitability analysis is done by calculating the tourist suitability index (IKW). Based on the results of the study, eight species of seagrass were scattered in eight locations, namely Poton Bakau Beach, Gili Kere, Gili Bembek, Gili Sunut, Pink Beach, Te Elong-elong Beach, Gili Sulat and Gili Lawang. Seagrass conditions in all locations on average are still good with the highest number of species, namely in Gili Kere and Gili Sunut. The tourist suitability index in each location varies from 72-96% and falls into the appropriate category to be very suitable for seagrass Eco-tourism.In Gili Kere, Gili Bembek, Gili Sunut, Pink Beach, Gili Sulat and Gili Lawang the average value of IKW is quite high (96%) and included in the category very suitable for seagrass Eco-tourism activities in the snorkeling category. Keywords: Seagrass beds, Eco-tourism, Lombok Island
KEANEKARAGAMAN MOLLUSCA SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS PERAIRAN DI KAWASAN TPA KEBON KONGOK LOMBOK BARAT Athifah Athifah; Maya Nuansa Putri; Sahid Imam Wahyudi; Immy Suci Rohyani
Jurnal Biologi Tropis Vol. 19 No. 1 (2019): Januari - Juni
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.823 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v19i1.774

Abstract

Abstract: Research has been done in the area of Kebon Kongok landfill by looking at the diversity of Mollusca as a bioindicator of water quality. This research is important because the river in Kebon Kongok landfill area is utilized by the surrounding community for daily needs. The research was conducted in May-June 2018 at Sungai Ayu River, Gerung District, West Lombok which aims to provide information about the water quality in this area. The research was done by purposive sampling method using cruising technique. There are 3 research stations selected based on the difference of environmental conditions around the waters of  Kebon Kongok landfill. Station 1 is located east of the Kebon Kongok landfill adjacent to the landfill waste pond landfill, station 2 is located in the northwest part of the Kebon Kongok landfill where it is located adjacent to the main river body and station 3 is located in the southwest adjacent to the residential area. There were 13 Mollusca species belonging to 8 families: Lymnaeidae, Ampullaroidae, Thiaridae, Viviparidae, Planorbidae, Ariophantidae, Neritidae and Corbiculidae. The Tarebia granifera of the Thiaridae family is the most common of 127, 92 and 47 in each station. There were Shannon-Wiener (H ') diversity index data where H' each station was 1.3, 1.5 and 1.4 respectively. This data concludes that the water quality around the Kebon Kongok landfill is moderately polluted with moderate diversity criteria (H '= 1.0-2.0). Key words: Kebon Kongok landfill, Indeks Shannon-Wienner, Mollusca, and Bioindicator. Abstrak: Telah dilakukan penelitian di kawasan TPA Kebon Kongok dengan melihat keanekaragaman Mollusca sebagai bioindikator kualitas perairan. Penelitian ini penting dilakukan mengingat sungai di kawasan TPA Kebon Kongok dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk kebutuhan sehari-hari. Penelitian telah dilakukan pada bulan Mei-Juni 2018 di sungai Taman Ayu Kecamatan Gerung,  Lombok Barat yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai kualitas perairan di kawasan tersebut. Penelitian dilakukan dengan metode purposive sampling menggunakan teknik jelajah. Ada 3 stasiun penelitian yang dipilih berdasarkan perbedaan kondisi lingkungan di sekitar perairan TPA Kebon Kongok. Stasiun 1 terletak di sebelah timur TPA Kebon Kongok yang bersampingan dengan kolam limbah lindi TPA, stasiun 2 terdapat di bagian barat laut TPA Kebon Kongok dimana letaknya berdekatan dengan badan sungai utama dan stasiun 3 terletak di sebelah barat daya yang berdampingan dengan pemukiman penduduk. Ditemukan 13 spesies Mollusca yang tergabung dalam 8 famili yakni  Lymnaeidae, Ampullaroidae, Thiaridae, Viviparidae, Planorbidae, Ariophantidae, Neritidae dan Corbiculidae. Tarebia granifera dari famili Thiaridae merupakan individu terbanyak yakni 127, 92 dan 47 di masing-masing stasiun. Didapatkan data indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) dimana H’ setiap stasiun berturut-turut yakni 1.3, 1.5 dan 1.4. Data ini menyimpulkan bahwa kualitas perairan sekitar TPA Kebon Kongok adalah tercemar sedang dengan kriteria diversitas sedang (H’=1,0-2,0). Kata kunci: TPA Kebon Kongok, Indeks Shannon-Wienner, Mollusca, dan Bioindikator
STRUKTUR KOMUNITAS SUMBERDAYA IKAN PADANG LAMUN DI TELUK EKASLOMBOK TIMUR Karnan Karnan; Lalu Japa; Ahmad Raksun
Jurnal Biologi Tropis Jurnal Biologi Tropis. Vol.15 No. 1 Juni 2015
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.839 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v15i1.1067

Abstract

AbstractResearch on seagrass fishes resources condition was conducted in the intertidal zone of Ekas Bay, East Lombok. Sampling of fishes was conducted using the swept area method with beach seine. The result of this research in three station showed that the degree of fishes diversity was low. There was a strong indication that the fishes species in the research area were dominated by certain fish species. In general, the firtility of Ekas Bay coastal water was semilar with the other coastal waters, however the environmental condition mainly the low of persentage of seagrass covering in the research location was the main couse of the low diversity of seagrass fish of the area. High exploitation followed by destruction methods of exploitation can be the main causes of fish degradation habitat, mainly in the seagrass of Ekas Bay, East Lombok. Key words: fish habitat, Lombok, marine,seagrass fishs AbstrakPenelitian kondisi sumberdaya ikan padang lamun telah dilakukan di wilayah intertidal Teluk Ekas, Lombok Timur. Pengambilan sampel ikan menggunakan metode swept area dengan pukat pantai (beach seine) di tiga stasiun pengamatan menunjukkan bahwa tingkat keanekaragaman ikan di lokasi penelitian rendah. Ada indikasi yang sangat kuat bahwa dominansi suatu jenis ikan di setiap stasiun pengamatan. Secara umum, kesuburan perairan Teluk Ekas relatif sama dengan perairan lainnya, namun kondisi lingkungan terutama persentasi penutupan padang lamun yang rendah menjadi penyebab utama rendahnya keanekaragaman ikan padang lamun di lokasi penelitian. Tingkat eksploitasi yang tinggi disertai dengan cara eksploitasi yang tidak mempertimbangkan kesinambungan pemanfaatan sumberdaya menjadi penyebab rusaknya habitat ikan, khususnya padang lamun di Teluk Ekas, Lombok Timur. Kata kunci: ikan padang lamun, habitat ikan, laut, Lombok.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK METANOL BATANG BIDARA LAUT (Strychnos ligustrina) TERHADAP BAKTERI PATOGEN Edy Kurniawan; Dwi Soelistya Dyah Jekti; Lalu Zulkifli
Jurnal Biologi Tropis Vol. 19 No. 1 (2019): Januari - Juni
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.933 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v19i1.1040

Abstract

Abstract : Strychnos ligustrina stem has been empirically used by the people of West Nusa Tenggara and Bali in the treatment of malaria, tooth ache and diarrhea, but there is no scientific data that supports it. This study aims to determine and prove the antibacterial activity of Strychnos ligustrina methanol extract to pathogenic bacteria in vitro and in vivo. This research is an experimental study conducted by measuring the inhibition zone (mm) growth of pathogenic bacteria, determining minimum inhibitory concentration (MIC) and minimum killing concentration (MKC) in vitro, and determining the percentage of antibacterial activity of methanol extract of S. ligustrina stem in vivo. The experiment was conducted using 4 groups of concentrations of S. ligustrina stem methanol extract in an in vitro study of 25, 50, 75, and 100% with ciprofloxacin as a positive control and aquadest as a negative control. In vivo studies experiments were carried out using 6 treatment groups of test animals male mice Balb / c (Mus musculus). The in vitro test results showed that methanol extract of S. ligustrina stems was able to inhibit the growth of pathogenic bacteria with medium categories of clinical isolates of Staphylococcus aureus and categories of weaks to Klebsiella pneumonia and Escherichia coli isolates. The minimum inhibitory concentration (MIC) for S. aureus and K. pneumonia bacteria isolates was at a concentration of 25% while for E. coli isolates at a concentration of 30%. The methanol extract of the S. ligustrina stem has no killing power against the pathogenic bacteria tested. Antibacterial activity in vivo was able to inhibit the growth of S. aureus pathogenic bacteria by 6.60% (at 25% concentration), 8.62% (at 50% concentration), and 17.31% (at 100% concentration), against K. pneumonia was 11.85% (at 25% concentration), 51.21% (at 50% concentration), and 65.92% (at 100% concentration), against E. coliat 19.18% (at concentration 25%), 29.98% (at 50% concentration), and 40.88% (at 100% concentration). Methanol extract of S. ligustrina stem proved to have antibacterial activity in vitro and in vivo. Key words: Srychnos ligustrina, pathogenic bacteria, antibacterial, in vitro, in Vivo. Abstrak : Strychnos ligustrina secara empiris  telah digunakan oleh masyarakat Nusa Tenggara Barat dan Bali dalam pengobatan penyakit malaria, sakit gigi, dan diare, tetapi belum ada data ilmiah yang mendukung. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dan membuktikan aktivitas antibakteri ekstrak metanol batang bidara laut terhadap bakteri patogen secara in vitrodan in vivo. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan dengan mengukur zona hambat (mm) pertumbuhan bakteri patogen, menentukan konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM) secara in vitro, serta menentukan persentase aktivitas antibakteri ekstrak metanol batang bidara laut secara in vivo. Percobaan dilakukan menggunakan 4 kelompok konsentrasi ekstrak metanol batang bidara laut pada penelitian in vitro yaitu 25, 50, 75, dan 100% dengan ciprofloxacin sebagai kontrol positif serta aquadest sebagai kontrol negatif. Pada penelitian in vivo percobaan dilakukan menggunakan 6 kelompok perlakuan hewan uji mencit jantan galur Balb/c (Mus musculus). Hasil uji in vitro menunjukkan ekstrak metanol batang bidara laut mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen dengan kategori sedang terhadap Staphylococcus aureus isolat klinis dan kategori lemah terhadap Klebsiella pneumonia dan Escherichia coli isolat klinis. Nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) untuk isolat bakteri S. aureus dan K. pneumoniae adalah pada konsentrasi 25% sedangkan untuk isolat E. coli pada konsentrasi 30%. Ekstrak metanol batang bidara laut tidak memiliki daya bunuh terhadap bakteri patogen yang diuji. Aktivitas antibakteri secara in vivo mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen S. aureus sebesar 6,60% (pada konsentrasi 25%), 8,62% (pada konsentrasi 50%), dan 17,31% (pada konsentrasi 100%), terhadap K. pneumonia sebesar 11,85% (pada konsentrasi 25%), 51,21% (pada konsentrasi 50%), dan 65,92% (pada konsentrasi 100%),   terhadap E. coli sebesar 19,18% (pada konsentrasi 25%), 29,98% (pada konsentrasi 50%), dan 40,88% (pada konsentrasi 100%). Ekstrak metanol batang bidara laut terbukti memiliki aktivitas antibakteri secara in vitro dan in vivo. Kata kunci: Srychnos ligustrina, bakteri patogen, antibakteri, in vitro, in vivo
KEPADATAN OPTIMUM UNTUK MENUNJANG TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN BANDENG (Chanos chanos) PADA TRANSPORTASI SISTEM TERTUTUP Mas Bayu Syamsunarno; Muh Kholik Maulana; Forcep Rio Indaryanto; Mustahal Mustahal
Jurnal Biologi Tropis Vol. 19 No. 1 (2019): Januari - Juni
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.699 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v19i1.1036

Abstract

Abstract: This research aims to determine the optimum density in closed system transportation of milkfish juvenile. Milkfish juveniles used in the research had an average weight 1.48±0.12 g. The study consisted of several stages, namelydetermining the ability to fast fish, determining the level of oxygen consumption, determining the rate of excretion of total ammonia nitrogen and determining the optimum density in transportation for 48 hours.The treatments were performed differences in the density of 100, 150, 200, and 250 fish/L using polyethylene plastic size 35x50 cm and styrofoam size of 75 × 43 × 40 cm.The results showed the seed fish can survive and swim actively for 7 days without feeding with oxygen consumption rate as much as 2640 mgO2 and TAN excretion rate 0.1200 mg/L. The different treatment of density had an effect on the survival rate of milkfish juvenile. The optimal density for transportation of milkfish juvenile size 1.48 ± 0.12 g in a closed transportation system with a time of 48 hours is 150 juvenile/L with a 100% survival rate. At the density 250 juvenile/L, the can be done with a long time of 30 hours and resulted in a survival rate above 99%.  Keyword: Chanos chanos, Density, Transportation closed system, Survival rate, Water Quality Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kepadatan optimal dan lama waktu dalam transportasi sistem tertutup benih ikan bandeng.Benih ikan bandeng yang digunakan memiliki bobot rata-rata 1,48±0,12g. Penelitian terdiri dari beberapa tahap, yaitu penentuan ketahanan ikan tanpa diberi makan, tingkat konsumsi oksigen, laju ekskresi total amoniak nitrogen dan kepadatan optimal benih ikan bandeng dalam transportasi selama 48 jam. Perlakuan yang dilakukan perbedaan kepadatan yaitu 100, 150, 200, dan 250 ekor/L dengan menggunakan plastik polyetylen (PE) ukuran 35x50 cm dan styrofoam ukuran 75×43×40 cm.Hasil penelitian menunjukkan benih ikan bandeng mampu bertahan hidup dan berenang aktif selama 7 hari pemuasaan ikan dengan tingkat konsumsi oksigen sebanyak 2640 mgO2 dan laju ekskresi TAN 0,1200 mg/L.Perlakuan perbedaan kepadataan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup benih ikan bandeng.Kepadatan optimal untuk transportasi benih ikan bandeng ukuran 1,48±0,12 g/ekor pada sistem transportasi tertutup selama 48 jam adalah 150 ekor/L dengan tingkat kelangsungan hidup 100%. Pada kepadatan 250 ekor/L, transportasi dapat dilakukan dengan lama waktu 30 jam dan menghasilkan tingkat kelangsungan hidup di atas 99%. Kata Kunci: Ikan bandeng, Kepadatan, Kualitas Air, Transportasi sistem tertutup, Tingkat Kelangsungan Hidup
PERTUMBUHAN, MORTALITAS DAN TINGKAT PEMANFAATAN KERANG POKEA (Batissa violacea var. celebensis von Martens, 1897) DI SUNGAI LAEYA KONAWE SELATAN PROVINSI SULAWESI TENGGARA Sitti Nurlailah Basri; Bahtiar Bahtiar; La Anadi
Jurnal Biologi Tropis Vol. 19 No. 1 (2019): Januari - Juni
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.007 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v19i1.1059

Abstract

Abstract : Pokea clam are one of the potential resources and have an important role both ecologically and economically. One of areas suitable for the life of this clam is the laeya river. This research aimed to determine growth, mortality and eksploitation rate of Pokea clam on the Laeya River in South Konawe which was started in September 2016 – February 2017. This research used swept area method by using a catching tool namely tangge. Data were growth, mortality and the exploitation level was analysed using Bhattacharya method, inverse von Bertalanffy, width converted catch curve and empirical Pauly, accommodated in FiSAT II version 3.0. The total sample of pokea clam during the research were 849 individuals. The result of growth analysis showed that the asymptotic width value (L∞), growth constant (K), estimated value t0 for the growth of pokea clam was 7,41, 0,56 and -0,38. The result of estimation analysis for the level of morality showed that the natural mortality value (M) was 1,84, the catching mortality (F) was 1,19, and the total mortality (Z) was 3,03. The exploitation rate (E) was 0,39 which shows the level exploitation rate of pokea clam in the waters of the Laeya River was still relatively low (under fishing). Keywords : Pokea Clam, Laeya Rivers, Growth, Mortality, Exploitation Rate Abstrak : Kerang pokea merupakan salah satu sumberdaya potensial dan mempunyai peranan penting baik secara ekologis maupun ekonomis. Salah satu wilayah yang cocok untuk kehidupan kerang ini adalah Sungai Laeya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan, mortalitas dan tingkat pemanfaatan kerang pokea di Sungai Laeya Konawe Selatan yang dimulai pada bulan September 2016 – Februari 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah luas sapuan (swept area method) dengan memakai alat tangkap tangge. Data pertumbuhan, mortalitas dan tingkat eksploitasi masing-masing menggunakan metode Bhattacharya, model inverse von Bertalanffy, hasil tangkapan yang dikonversi dari data lebar cangkang dan empiris Pauly yang terakomodasi dalam program FiSAT II versi 3.0. Total sampel kerang pokea selama penelitian sebesar 849 individu. Hasil analisis pertumbuhan menunjukan nilai lebar asimtotik (L∞), konstanta pertumbuhan (K), nilai dugaan t0 pada pertumbuhan kerang pokea masing-masing 7,41, 0,56, dan -0,38. Hasil analisis pendugaan tingkat mortalitas menunjukkan nilai mortalitas alami (M) 1,84, mortalitas penangkapan (F) 1,19, dan mortalitas total (Z) 3,03. Tingkat eksploitasi (E) yaitu 0,39 yang menunjukkan tingkat eksploitasi kerang pokea di perairan Sungai Laeya masih tergolong rendah (under fishing). Kata Kunci : Kerang Pokea, Sungai Laeya, Pertumbuhan, Mortalitas, Tingkat Eksploitasi
KANDUNGAN LOGAM BERAT Pb UNDUR-UNDUR LAUT DAN IMPLIKASINYA PADA KESEHATAN MANUSIA Cyrum Barnike Beru Ketaren; Agus Alim Hakim; Achmad Fahrudin; Yusli Wardiyatno
Jurnal Biologi Tropis Vol. 19 No. 1 (2019): Januari - Juni
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.047 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v19i1.1066

Abstract

Abstract: The mole crab (Hippidae) is a filter feeder organism from crustacean that inhabits in sandy coastal areas. Due to its nature, this organism is able to accumulate heavy metals in a large amount. The concentration of heavy metals in this organism will increase in line with the polluting condition of its habitat. Heavy metals which exceed the standard in the organism body will be implicated to the human health who consumes the organism. The sandy crabs are found in large amount in Widara Payung coastline, Cilacap Regency. They are captured by the locals for meals. The heavy metal content such as Lead in the organism body never been investigated in this area previously. This research aimed to estimate the health risk of people who consume the sandy crabs in the area of Widara Payung, Cilacap Regency. This research was conducted on April to May 2018 and a location of sampling was determined purposively. Samples consisted of three types namely sandy crab body, sediment, and seawater. Each sample was preserved in an ice box and then transported to Aquatic Productivity and Environment Laboratory in Bogor Agricultural Univeristy for heavy metal analyzing. Results of this research exhibited that the average of Lead content in the water, sediment, and body of the sandy crab were 0.007 mg/l, 43.43 mg/kg, 0,97 mg/kg, respectively. The Lead content in the crab body the standard issued by the government of Indonesia through the BPOM, namely 0.20 mg/kg. Regular monitoring of Pb concentration in the mole crab and its habitat is suggested.  Keywords: consumption, Emerita emeritus, Hippidae, intertidal, pollution  Abstrak: Undur-undur laut (Hippopidae) adalah crustacea filter feeder yang hidup di daerah pantai intertidal berpasir. Karena sifatnya, organisme ini mampu mengakumulasi logam berat dalam jumlah besar. Konsentrasi logam berat dalam organisme ini akan meningkat sejalan dengan kondisi polusi habitatnya. Logam berat yang melebihi standar dalam tubuh organisme akan berimplikasi pada kesehatan manusia yang mengkonsumsi organisme tersebut. Undur-undur laut dapat ditemukan dalam jumlah besar di pesisir Widara Payung, Kabupaten Cilacap. Mereka ditangkap oleh penduduk setempat untuk dikonsumsi. Kandungan logam berat seperti Pb dalam tubuh undur-undur laut belum pernah diteliti di daerah ini sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi timbal (Pb) pada undur-undur laut dan implikasinya terhadap kesehatan manusia bila mengkonsumsinya di daerah Widara Payung, Kabupaten Cilacap. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai Mei 2018 dan lokasi pengambilan sampel ditentukan secara purposif. Sampel terdiri dari tiga jenis yaitu undur-undur laut, sedimen, dan air laut. Setiap sampel yang diambil disimpan dalam kotak pendingin dan kemudian dibawa ke Laboratorium Produktivitas dan Lingkungan Perairan di Institut Pertanian Bogor untuk analisis logam berat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata kandungan Pb dalam air, sedimen, dan undur-undur laut masing-masing adalah 0,007 mg/l, 43,43 mg /kg, 0,97 mg/kg. Kandungan timbal dalam undur-undur laut telah melampaui standar yang telah dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia melalui BPOM yaitu 0,20 mg/kg. Dengan nilai tersebut, konsumsi undur-undur laut memiliki resiko kesehatan pada manusia. Monitoring kandungan logam di lingkungan habitat dan pada undur-undur laut menjadi prioritas.  Kata kunci: Emerita emeritus, Hippidae, intertidal, konsumsi, pencemaran

Page 13 of 257 | Total Record : 2562


Filter by Year

2013 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 26 No. 1 (2026): Januari-Maret Vol. 25 No. 4b (2025): Special Issue Vol. 25 No. 4a (2025): Special Issue Vol. 25 No. 4 (2025): Oktober-Desember Vol. 25 No. 3 (2025): Juli-September Vol. 25 No. 2 (2025): April-Juni Vol. 25 No. 1 (2025): Januari - Maret Vol. 24 No. 4 (2024): Oktober - Desember Vol. 24 No. 3 (2024): July - September Vol. 24 No. 2b (2024): Special Issue Vol. 24 No. 2 (2024): April - Juni Vol. 24 No. 1 (2024): Januari - Maret Vol. 24 No. 1b (2024): Special Issue Vol. 23 No. 4 (2023): October - December Vol. 23 No. 3 (2023): July - September Vol. 23 No. 2 (2023): Special Issue Vol. 23 No. 2 (2023): April-June Vol. 23 No. 1 (2023): January - March Vol. 23 No. 1 (2023): Special Issue Vol. 22 No. 4 (2022): October - December Vol. 22 No. 3 (2022): July - September Vol. 22 No. 2 (2022): April - June Vol. 22 No. 1 (2022): January - March Vol. 21 No. 3 (2021): September - Desember Vol. 21 No. 2 (2021): Mei - Agustus Vol. 21 No. 1 (2021): Januari - April Vol. 20 No. 3 (2020): September - Desember Vol. 20 No. 2 (2020): Mei - Agustus Vol. 20 No. 1 (2020): Januari - April Vol. 19 No. 2 (2019): Juli - Desember Vol. 19 No. 1 (2019): Januari - Juni Vol. 18 No. 2 (2018): Juli - Desember Vol. 18 No. 1 (2018): Januari - Juni Jurnal Biologi Tropis vol.17 No.2 Desember 2017 Jurnal Biologi Tropis vol.17 No.1 Juni 2017 Jurnal Biologi Tropis. Vol.16 No.2 Desember 2016 Jurnal Biologi Tropis. Vol.16 No. 1 Juni 2016 Jurnal Biologi Tropis. Vol.15 no.2 Desember 2015 Jurnal Biologi Tropis. Vol.15 No. 1 Juni 2015 Jurnal Biologi Tropis. Vol.14 No. 2 Desember 2014 Jurnal Biologi Tropis. Vol.14 No. 1 Juni 2014 Jurnal Biologi Tropis. Vol.13 No. 2 Desember 2013 Jurnal Biologi Tropis. Vol.13 No.1 Juni 2013 More Issue