cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Biologi Tropis
Published by Universitas Mataram
ISSN : 14119587     EISSN : 25497863     DOI : -
Jurnal Biologi Tropis (ISSN Cetak 1411-9587 dan ISSN Online 2549-7863) diterbitkan mulai tahun 2000 dengan frekuensi 2 kali setahun oleh Program Studi Pendidikan Biologi PMIPA FKIP Universitas Mataram, berisi hasil penelitian dan ulasan Ilmiah dalam bidang Biologi Sains.
Arjuna Subject : -
Articles 2,360 Documents
Luteinizing Hormone (LH) pada Kerang Mutiara Jenis Pinctada maxima Syachruddin AR
Jurnal Biologi Tropis Jurnal Biologi Tropis. Vol.14 No. 2 Desember 2014
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.248 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v14i2.140

Abstract

ABSTRAKPinctada maxima merupakan jenis kerang mutiara yang dibudidayakan di NTB.Perubahan jenis kelamin atau fungsi gonadnya sangat ditentukan oleh faktor lingkungan(makanan) dan kemampuan metabolisme untuk menghasillkan energi atau protein sertahormon reproduksi (FSH atau LH) yang dihasilkan. Penelitian yang telah dilakukan padatahun 1997 terhadap kadar LH dari 10 ekor kerang mutiara saat spawning dan seminggusetelah spawning yang menggunakan spektrofluorometri (TLC) dan analisa statitikdengan uji t. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar LH (Luteinizing Hormone) sangat tinggi(61,533 ppm/cc) pada saat spawning, dan seminggu setelah spawning menurun menjadi52,926 ppm/cc. Indikasi ini menunjukkan bahwa kadar LH pada kerang mutiara dalamwaktu 1 minggu mengalami penurunan yang sangat signifikan (8,607 ppm/cc) denganthitung= 5,10 pada taraf signifikansi 5% dan ttabel = 4,03. Penurunan ini kemungkinannyaakan mencapai titik neutral. Hal ini menunjukkan bahwa kadar LH sangat menentukanpertumbuhan dan perkembangan gonad pada kerang mutiara.Kata kunci : gonad, hormon, kadar, pemijahan.ABSTRACTPinctada maxima are oyster pearl of cultures in NTB. The sex or functional gonadchange are the very heighten food factor in environment and the metabolism ability forhormone reproduction (FSH and LH). The research is already in 1997 year, tendency forto know LH grade spawning time and after spawning a week’s to tail ten at oyster’s pearlis same. The LH grades analysis use spektrofluorometri (TLC) and statistic analysis t testuses. That mother pearl oyster’s at spawning time, LH (Luteinizing Hormone) grade thehigh production (61.533 ppm/cc) and grade happen the descending 52.926 ppm/cc afterspawning a week’s. The descend LH grade to pearl oysters is show that happen highsignification (8.607 ppm/cc whit tcalculate = 5,10 at 5% signification stage and ttable = 4,03.The descending it’s quite possible that reach neutral period. The high grading of LH a surethat indicate gonad growth of pearl oysters.Key word: gonad, hormone, grade, spawning
Studi Karakteristik Morfometrik Ikan Julung-Julung (Hemiramphus Archipelagicus) Di Daerah Intertidal Teluk Ekas I Gde Suryawan, Mahrus dan Karnan
Jurnal Biologi Tropis Jurnal Biologi Tropis. Vol.16 No.2 Desember 2016
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.132 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v16i2.222

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfometrik dan meristik ikan julung-julung di Teluk Ekas, Lombok Timur. Sampel penelitian berjumlah 165 ikan yang di tangkap pada daerah intertidal dengan metode swept area menggunakan pukat pantai (beach seine) di tiga stasiun. Karakteristik morfologi yang terlihat dengan jelas pada ikan julung-julung ini yaitu memiliki rahang bawah dengan warna merah pada ujungnya dan memiliki ukuran yang jauh lebih panjang jika dibandingkan dengan rahang atasnya. Hasil pengukuran karakteristik morfometrik menunjukkan bahwa ikan julung-julung yang terdapat pada daerah intertidal perairan Teluk Ekas merupakan ikan muda (juvenile) dengan frekuensi panjang total (PT) tertinggi terdapat pada ukuran 13,1-15 cm. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ikan julung-julung di daerah intertidal Teluk Ekas memiliki karakteristik morfometrik yang hampir sama dengan ikan julung-julung pada umumnya. Kata-kata kunci: Ikan Julung-Julung, Karakteristik, Meristik, Morfometrik   ABSTRACT This research intended to know the morphometric and meristic characteristic of jumping halfbeak at Ekas Bay, East Lombok. The sample of this research consisted of 165 fishes which caught at intertidal zone using swept area method with beach seine in three stations. The morphological characteristic which can be seen clearly on jumping halfbeak has lower jaw with red tip and longer than its upper jaw. The results of measurement of morphometric characteristic proved that jumping halfbeak at intertidal zone of Ekas Bay were young fish (juvenile) total length highest frequency on range of 13,1-15 cm. The conclusion of this research is jumping halfbeak at the intertidal zone of Ekas Bay has the similar characteristic morphometric to the general one. Keywords: Characteristic, Jumping halfbeak, Meristic, Morphometric
Peran Ekosistem Hutan Mangrove Sebagai Habitat Untuk Organisme Laut Karimah .
Jurnal Biologi Tropis Jurnal Biologi Tropis vol.17 No.2 Desember 2017
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.118 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v17i2.497

Abstract

AbstrakTulisan ini menjelaskan tentang peran ekosistem hutan mangrove sebagai habitat untuk organisme laut dengan menggunaan analisis diskriptif. Data diambil dari literatur-literatur terkait yang kemudian didiskripsikan lebih lanjut. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa hutan mangrove di Indonesia diperkirakan mencakup area seluas 4,25 juta hektar, hanya sekitar 2% dari seluruh wilayah daratan, namun nilai ekonomi dan lingkungannya tidak boleh di bawah perkiraan, oleh karena itu kehadirannya harus dijaga. Sebagai zona transisi antara ekosistem terestrial dan laut, ekosistem mangrove telah lama dikenal memiliki banyak fungsi dan merupakan penghubung penting dalam menjaga keseimbangan biologis ekosistem pesisir. Ekosistem hutan mangrove merupakan habitat penting bagi organisme laut. Umumnya didominasi oleh moluska dan krustasea. Moluska ini terdiri terutama dari Gastropoda dan selanjutnya didominasi oleh dua keluarga, yaitu Potamidae dan Ellobiidae. Sedangkan untuk krustasea, terutama terdiri dari Brachyura. Beberapa fauna mangrove juga dikenal sebagai bahan habis pakai dan secara ekonomi penting seperti Terebralia palustris, Telescopium telescopium (Gastropoda), Anadara kuno, Coaxans polymesoda, Ostrea cucullata (Bivalvia), dan Scylla serrate, S. olivacea, Portunus pelagicus, Epixanthus dentatus, Labnanium politum (Crustacea).Kata kunci : hutan mangrove, ekosistem mangrove, moluska                                                                     Abstract              This paper describes the role of the mangrove forest ecosystem as a habitat for marine organisms by using descriptive analysis. The data are drawn from related literatures which are further described. The data obtained indicate that mangrove forests in Indonesia are estimated to cover an area of 4.25 million hectares, only about 2% of the entire land area, but its economic and environmental value should not be underestimated, therefore its presence must be maintained. As a transition zone between terrestrial and marine ecosystems, the mangrove ecosystem has long been known to have many functions and is an important link in maintaining the biological balance of coastal ecosystems. The mangrove forest ecosystem is an important habitat for marine organisms. Generally dominated by molluscs and crustaceans. This mollusc consists mainly of Gastropods and is further dominated by two families, namely Potamidae and Ellobiidae. As for crustaceans, mainly consisting of Brachyura. Some mangrove fauna are also known as economical and economically important materials such as Terebralia palustris, Telescopium telescopium (Gastropoda), ancient Anadara, Coaxans polymesoda, Ostrea cucullata (Bivalvia), and Scylla serrate, S. olivacea, Portunus pelagicus, Epixanthus dentatus, Labnanium politic (Crustacea). Keywords: mangrove forest, mangrove ecosystem, mollusk.
PENGARUH PEMBERIAN PROBIOTIK Bacillus spp. MELALUI PAKAN TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP DAN LAJU PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Muhammad Masyarul Rusdani, Sadikin Amir Saptono Waspodo dan Zaenal Abidin
Jurnal Biologi Tropis Jurnal Biologi Tropis. Vol.16 No. 1 Juni 2016
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.418 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v16i1.212

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menguji kinerja bakteri probiotik Bacillus spp. dan prebiotik molase dengan dosis berbeda terhadap tingkat kelangsungan hidup dan kinerja pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini menggunakan motede eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) dan melibatkan 5 perlakuan, yaitu kontrol (K), Bacillus spp. 10 ml/kg pakan (A); Bacillus spp. 10 ml/Kg pakan + molase 10 v/v (B); Bacillus spp. 20 ml/Kg pakan (C); dan Bacillus spp. 20 ml/Kg pakan + molase 10 v/v(D). Hasil yang diperoleh menunjukkan variasi untuk total bakteri, yaitu dari 2,24x108 hingga 3,78x108 CFU/ml. Demikian juga dengan total Bacillus spp. dari 1,07x106 hingga 2,02x107 CFU/ml. Adapun untuk pengamatan tingkat kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Meski demikian, perlakuan D memiliki hasil yang relatif lebih baik dengan nilai SR dan LPH berturut-turut 96,67% dan 1,01 %/hari. Kata kunci : probiotik Bacillus spp., prebiotik molase,  total bakteri dan Bacillus spp., tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan harian  ABSTRACTThis study was aimed to determine the good combination of probiotic bacillus spp. and prebiotic molasses with different doses to survival rate and growth performance of tilapia (Oreochromis niloticus). this study has used experimental design with completely randomized design (CRD) and five treatment, i.e. Control (K), without probiotic and prebiotic; Bacillus spp. 10 ml/kg feed (A); Bacillus spp. 10 ml/Kg feed + molasses 10 v/v (B); Bacillus spp. 20 ml/Kg feed (C); dan Bacillus spp. 20 ml/Kg feed + molasses 10 v/v (D). The results showed variation for total bacteria and total Bacillus spp. The average of total bacteria obtained in this study ranged from 2,24x108 to 3.78x108 CFU/ml. Likewise, the total Bacillus spp. were obtained from 1.07x106 to 2.02x107 CFU/ml. While for survival rate (SR) and the growth rate (DGR) did not showed significant results. However, treatment D has a relatively better then treatment else with SR and DGR respectively 96.67% and 1.01%.day-1. Keywords : probiotic Bacillus spp., prebiotic molasses, total bacteria and Bacillus spp., survival rate, specific growth rate.
Daftar isi jurnal biologi tropis januari 2014 husnul fuadi
Jurnal Biologi Tropis Jurnal Biologi Tropis. Vol.14 No. 1 Juni 2014
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.677 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v14i1.208

Abstract

Daftar isi jurnal biologi tropis januari 2014
Potensi Pemanfaatan Ekosistem Pesisir Pantai Labuhan Haji Lombok Timur Sebagai Daerah Ekowisata Deni Apriana S., Daindo Milla
Jurnal Biologi Tropis Jurnal Biologi Tropis vol.17 No.1 Juni 2017
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.286 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v17i1.388

Abstract

Abstrak  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi-potensi yang dimiliki oleh ekosistem pesisir pantai Labuhan Haji Lombok Timur untuk dikembangkan menjadi daerah ekowisata. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif melalui kegiatan kajian pustaka/ literature yang dilakukan untuk mendapatkan informasi terkait dengan judul penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa ekosistem pesisir pantai Labuhan Haji memiliki potensi yang besar dalam memberikan jasa/ layanan ekosistem khususnya jasa kebudayaan dari ekosistem tersebut. Potensi yang dimiliki diantaranya memiliki bentang alam indah yang banyak dimanfaatkan oleh wisatawan yang ingin melihat keindahan matahari saat terbit, pantai dengan ombak yang tidak terlalu tinggi, dikelilingi oleh persawahan dan perkebunan masyarakat yang masih alami. Banyaknya potensi yang dimiliki oleh ekosistem pesisir Pantai Labuhan Haji yang didukung oleh peran serta masyarakat sebagai pengelola dan wisawatan untuk memelihara dan menjaga ekosistem tersebut dari kerusakan ataupun terhadap pencemaran lingkungan mennyebabkan ekosistem pesisir pantai Labuhan Haji tepat jika dikembangkan sebagai salah satu daerah ekowisata yang ada di Lombok Timur. Kata Kunci: Ekosistem pesisir, Jasa kebudayaan Ekosistem, Ekowisata. Abstact                 This study aims to analyze the potentials possessed by the coastal ecosystem of Labuhan Haji Lombok Timur to be developed into ecotourism area. The research method used is descriptive analysis through literature review activities / literature conducted to obtain information related to the title of research. The results of the analysis indicate that the coastal ecosystem of Labuhan Haji has great potential in providing ecosystem services / services, especially the cultural services of the ecosystem. Potentials of which have beautiful landscapes are widely used by tourists who want to see the beauty of the sun when rising, the beach with a wave that is not too high, surrounded by rice fields and plantations that are still natural communities. The number of potency possessed by coastal ecosystem of Labuhan Haji Beach which supported by society participation as manager and wisawatan to maintain and maintain the ecosystem from damage or to environmental pollution mennyebabkan coastal ecosystem Labuhan Haji precisely if developed as one of ecotourism area in Lombok East. Keywords: coastal ecosystem, ecosystem services, ecotourism.  
IDENTIFIKASI LOKASI PERAIRAN UNTUK PENGEMBANGAN BUDIDAYA LAUT DI KABUPATEN LOMBOK UTARA M. Junaidi, Nurliah, M.Marzuki, Nunik Cokrowati, Ibadur Rahman
Jurnal Biologi Tropis Vol. 18 No. 1 (2018): Januari - Juni
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.66 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v18i1.730

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mengidentifikasi lokasi perairan untuk pengembangan budidaya laut di Kabupaten Lombok Utara. Pengumpulan data kondisi biofisik perairan yang mencakup aspek kualitas perairan dan oseanografi yang merupakan data penunjang bagi pengambilan keputusan kesesuaian biofisik pengembangan budidaya laut.Identifikasi lokasi perairan untuk budidaya laut menuntut penerapan beberapakriteria. Penerapan kriteria sangat membantu dalam mengidentifikasi dan memilihlokasi budidaya secara obyektif, dimana secara mendasar terdiri dari atas kelompok kriteria kesesuaian kualitas air dan oseanografi. Hasil  identifikasi lokasi perairan berdasarkan aspek oseanografi dan kualitas perairan, maka perairan Kabupaten Lombok Utara terutama di Kecamatan Tanjung dan Gangga sangat sesuai untuk pengembangan budidaya laut, terutama komoditas yang memiliki peluang ekspor tinggi seperti kerapu, rumput laut dan  kerang mutiara.Kata kunci : identifikasi, lokasi perairan, budidaya laut, pengembangan Abtract               This study aimed to identify the location of the waters for mariculture development in North Lombok regency.The data collection biophysical conditions of waters which includes aspects of water quality and oceanographic constitute supporting data for decision making biophysical suitability of mariculture development.Identify the location of the waters for mariculture requires the application of several criteria.The application of the criteria is very helpful in identifying and selecting the location of cultivation in an objective, which is basically composed of the top group suitability criteria for water quality and oceanographic. Results of identifying the location of water based on aspects of oceanography and water quality, the waters of the North Lombok, especially in the district of the Tanjung  and the Ganga is very suitable for the development of marine aquaculture, especially commodities which have high export opportunities such as grouper, seaweed and pearl shells.Keywords: identification, location waters, aquaculture, development
PENGARUH MINYAK KAYU PUTIH (Melaleuca leucadendron L.) DAN MINYAK SEREI (Cymbopogon nardus L.) SERTA CAMPURANNYA TERHADAP TANGKAPAN LALAT BUAH BACTROCERA Fitri Aulani, I Putu Artayasa Muh. Liwa Ilhamdi
Jurnal Biologi Tropis Jurnal Biologi Tropis. Vol.13 No.1 Juni 2013
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.43 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v13i1.68

Abstract

ABSTRAKIndonesia memiliki banyak jenis tanaman terutama jenis tanaman buah-buahan, tetapi terdapat kendaladalam produksi buah-buahan karena serangan hama atau organisme pengganggu tumbuhan (OPT)seperti lalat buah Bactrocera. Berbagai cara dilakukan untuk menangani serangan lalat buah sepertipenggunaan atraktan dari tumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh minyakKayu Putih (Malaleuca leucadendron L.) dan minyak Serei (Cymbopogon nardus L.) sertacampurannya terhadap tangkapan lalat buah. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimen. Data yangdiperoleh dianalisis menggunakan uji Varians satu arah pada taraf nyata 5 %. Hasil analisis datamenunjukkan Fhitung> Ftabel artinya, pemberian minyak kayu putih (Malaleuca leucadendron L.) danminyak Serei (Cymbopogon nardus L.) serta campurannya berpengaruh terhadap tangkapan lalat buah,dan dilanjutkan dengan Uji Tukey pada taraf nyata 0,05% untuk melihat perbedaan pengaruh masingmasingperlakuan, Hasil analisis disimpulkan bahwa pemberian minyak kayu putih(Malaleucaleucadendron L) dan minyak serei (Cymbopogon nardus L.) serta campurannyaberpengaruh terhadap tangkapan lalat buah.Kata-kata Kunci : Kayu Putih (Melaleuca leucodendron L.), Serei (Cymbopogon nardus L.),Atraktan, Lalat Buah, BactroceraABSTRACTIndonesia has so numerous species of plants especially for the species of fruit plants, but there is aproblem which the total of fruit production caused by the pest of fruit flies. A number of methods havebeen used to solve the problem such as by using the plants atractan. This an experimental research wasconducted to determine the effect of Eucalyptus oil (Melaleuca leucodendron L.), Lemongrass oil(Cymbopogon nardus L.), and their mixtures in catching of Bactrocera fruit flies. The data of thisresearch were analyzed by using one-way variance test on the real level of 0,05 %. Result of dataanalysis shows that Fcount > Ftable. This is means that giving of Eucalyptus oil (Melaleuca leucodendronL.), Lemongrass oil (Cymbopogon nardus L), and their mixtures significantly influenced in catchingnumber of the Bactrocera fruit flies. The data analysis was followed by Tukey tes at the real level of5% to see how the different effect of each treatment. Based on the result of data analysis. This researchconcluded that both Eucalyptus oil (Melaleuca leucodendron L.), and Lemongrass oil (Cymbopogonnardus L.) were significantly influence the catching number of fruit flies.Key words: Eucalyptus (Melaleuca leucodendron L.), Lemongrass (Cymbopogon nardus L.)Atractant, Bactrocera Fruit flies.
Kajian Struktur Ukuran Dan Parametr Populasi Kepiting Bakau (Scylla serrata) di Ekosistem Mangrove Teluk Bintan, Kepulauan Riau M. Tahmid, Achmad Fahrudin dan Yusli Wardiatno
Jurnal Biologi Tropis Jurnal Biologi Tropis. Vol.15 no.2 Desember 2015
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.21 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v15i2.192

Abstract

ABSTRAKKepiting bakau (Scylla serrata) merupakan salah satu potensi komoditas perikanan skala kecil yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Kelimpahan populasi dipengaruhi oleh upaya penangkapan dan kondisi ekosistem mangrove sebagai habitat utamanya. Produksi kepiting bakau di Teluk Bintan menurun dan penyebabnya belum diketahui dengan pasti. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian tentang biologi kepiting bakau di Teluk Bintan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status populasi kepiting bakau yang meliputi struktur ukuran, parameter pertumbuhan dan laju mortalitas dan eksploitasi. Pengambilan data kepiting bakau dilakukan dengan pendekatan yaitu fisher-based survey. Hasil penelitian menunjukkan ukuran kepiting bakau yang tertangkap mulai dari lebar karapas (CW) 64-172 mm, ukuran fase muda kepiting jantan yang tertangkap mencapai 46,62% dan betina mencapai 48,06%, keduanya hampir setengah dari tangkapan total, ini menunjukkan bahwa alat tangkap yang digunakan belum selektif. CW∞ jantan mencapai 176,93 mm lebih tinggi dari kepiting betina sebesar 169,58 mm, namun sebaliknya nilai koefesien K jantan (0,360) lebih kecil dari betina (0,390), sehingga pertumbuhan kepiting bakau betina lebih cepat dari jantan. Perkiraan angka kematian alami (M) jantan = 0,5566 dan kematian akibat penangkapan (F) jantan = 0,6434 sedangkan M betina = 0,59 dan F betina = 0,41. Laju eksploitasi (E) kepiting jantan mencapai 53,62%, ini dapat dikatakan telah terjadi lebih tangkap atau over eksploitasi. Kata kunci: Scylla serrata, parameter pertumbuhan, struktur ukuran, mangrove and Teluk Bintan ABSTRACTMud crab (Scylla serrata) is one of the potential of small-scale fishery commodities that have high economic value. The abundance of the population is affected by the fishing effort and conditions mangrove ecosystem as its main habitat. Mud crab production in the Gulf of Bintan declined and the cause is not known with certainty. Therefore, it is necessary to study on the biology of mud crab in the Gulf of Bintan. This study aims to assess the status of mangrove crab population that includes the size structure, parameters of growth and the rate of mortality and exploitation. Data retrieval is done with a mangrove crab fisher-based survey. The results showed that the size of mud crab caught from carapace width (CW) 64-172 mm, the size of the young phase male crabs caught females reached 46.62% and reached 48.06%, both are almost half of the total catch, it indicates that fishing gear used is not selective. CW∞ males reach 176.93 mm higher than the female crabs of 169.58 mm, but instead value koefesien K males (0.360) is smaller than females (0.390), so that the growth of female mud crabs faster than males. Estimated natural mortality rates (M) male = 0.5566 and deaths from arrest (F) male = 0.6434 while M females female F = 0.59 and = 0.41. The rate of exploitation (E) male crabs reached 53.62%, can be said to have occurred over fishing or over-exploitation. Keywords: Scylla serrata, growth parameters, structure size, mangrove and bay Bintan
Studi Struktur dan Pertumbuhan Populasi Kerang Pokea (Batissa violacea var. celebensis, von Martens 1897) di Sungai Pohara Sulawesi Tenggara Bahtiar, Hamzah, M dan Hari, H
Jurnal Biologi Tropis Jurnal Biologi Tropis. Vol.15 no.2 Desember 2015
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.08 KB) | DOI: 10.29303/jbt.v15i2.154

Abstract

ABSTRAKPokea merupakan bivalvia air tawar yang hidup di segmen muara. Bivalvia ini terusmengalami tekanan sejalan dengan peningkatan aktivitas kegiatan penangkapan danmenurunnya kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur danpertumbuhan populasi kerang pokea di Sungai Pohara Sulawesi Tenggara. Penelitian inidilaksanakan di segmen muara Sungai Pohara selama setahun dari bulan Maret 2007-Februari2008. Parameter populasi (L∞ dan K) dan to masing-masing dianalisis dengan menggunakanpergerakan modus frekuensi panjang dan nilai L0=0.025. Pola pertumbuhan dianalisismenggunakan inverse von Bertalanffy sedangkan struktur populasi dianalisis menggunakandistribusi normal dari plot Bhattacharya yang secara keseluruhan terakomodasi pada programFiSAT II versi 3.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebar asimtotik dan koefisienpertumbuhan jantan dan betina masing-masing yaitu 7.16 cm, 0.59 dan 6.92 cm, 0.96. Olehkarenai tu, pertumbuhan pokea betina lebih cepat dibandingkan pokea jantan. Populasikerang pokea tersebar pada berbagai kelompok ukuran yang mewakili ukuran muda, dewasadan tua dengan nilai tengah berada pada 1.49 dan 6.01 yang menyebar pada tiga kelompokukuran. Kelompok ukuran dominan pada jantan betina relatif berbeda yang tersebar padanilai tengah masing-masing 1cm dan 2cm. Secara umum, struktur populasi pokea di SungaiPohara relatif stabil.Kata kunci : pokea, pertumbuhan, struktur, populasi, sungai, PoharaABSTRACTPokea clam was fresh water bivalve that lived on well into estuary segments. Thisbivalve have experienced in under pressure as activity increase in fishing events and decreasein water quality. This research aimed to understand the structure and growth population ofpokea clam in Pohara river on Southeast Sulawesi. This research was conducted in estuarysegment of Pohara river from March 2007 to February 2008. Parameters of population (L∞dan K) and to were analyzed by using movements in modus of length frequency andLo=0.025. Growth pattern was analyzed by using von Bertalanffy inverse, and populationstructure was analyzed by using normal distribution from Bhattacharya plot with fullaccommodation on FiSAT II version 3.0. The results of this research indicated thatasymptotic width and growth coefficient for male and female were 7.16 cm, 0.59 cm, and0.96 cm. Therefore, the growth of female pokea was faster than male. Pokea clam populationspread to several size groups that represented as young, adult, and old with median 1.49 and6.01. The dominant length measurement on male and female was relatively different whichpropagated in median 1 cm and 2 cm. Generally, population structure of pokea clam inPohara river was relatively stable.Keyword: pokea, growth, structure, population, river, Pohara

Page 5 of 236 | Total Record : 2360


Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 4 (2025): Oktober-Desember Vol. 25 No. 4b (2025): Special Issue Vol. 25 No. 4a (2025): Special Issue Vol. 25 No. 3 (2025): Juli-September Vol. 25 No. 2 (2025): April-Juni Vol. 25 No. 1 (2025): Januari - Maret Vol. 24 No. 4 (2024): Oktober - Desember Vol. 24 No. 3 (2024): July - September Vol. 24 No. 2 (2024): April - Juni Vol. 24 No. 2b (2024): Special Issue Vol. 24 No. 1 (2024): Januari - Maret Vol. 24 No. 1b (2024): Special Issue Vol. 23 No. 4 (2023): October - December Vol. 23 No. 3 (2023): July - September Vol. 23 No. 2 (2023): Special Issue Vol. 23 No. 2 (2023): April-June Vol. 23 No. 1 (2023): Special Issue Vol. 23 No. 1 (2023): January - March Vol. 22 No. 4 (2022): October - December Vol. 22 No. 3 (2022): July - September Vol. 22 No. 2 (2022): April - June Vol. 22 No. 1 (2022): January - March Vol. 21 No. 3 (2021): September - Desember Vol. 21 No. 2 (2021): Mei - Agustus Vol. 21 No. 1 (2021): Januari - April Vol. 20 No. 3 (2020): September - Desember Vol. 20 No. 2 (2020): Mei - Agustus Vol. 20 No. 1 (2020): Januari - April Vol. 19 No. 2 (2019): Juli - Desember Vol. 19 No. 1 (2019): Januari - Juni Vol. 18 No. 2 (2018): Juli - Desember Vol. 18 No. 1 (2018): Januari - Juni Jurnal Biologi Tropis vol.17 No.2 Desember 2017 Jurnal Biologi Tropis vol.17 No.1 Juni 2017 Jurnal Biologi Tropis. Vol.16 No.2 Desember 2016 Jurnal Biologi Tropis. Vol.16 No. 1 Juni 2016 Jurnal Biologi Tropis. Vol.15 no.2 Desember 2015 Jurnal Biologi Tropis. Vol.15 No. 1 Juni 2015 Jurnal Biologi Tropis. Vol.14 No. 2 Desember 2014 Jurnal Biologi Tropis. Vol.14 No. 1 Juni 2014 Jurnal Biologi Tropis. Vol.13 No. 2 Desember 2013 Jurnal Biologi Tropis. Vol.13 No.1 Juni 2013 More Issue