cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 1: Mei 2024" : 10 Documents clear
Etika Kristen dalam Platform Digital: Upaya Meningkatkan Moralitas dan Karakter Kristiani Rahayu, Yohana Fajar; Yasin, Harlin
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 1: Mei 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v8i1.326

Abstract

In the era of increasingly sophisticated social media and increasingly dominating everyday life, new challenges have emerged in implementing Christian ethics and maintaining morality and character in cyberspace. The background of this study focuses on the negative impacts of social media, such as the spread of hoaxes, hate speech, and cyberbullying, which can erode moral values ??in society. And give rise to flawed characters in the development of Christianity. The research method used is a descriptive qualitative method with a literature study approach, so it can be concluded that Christianity needs to be aware of the influence of social media on Christian values and the existence of Christian ethical principles in interacting on social media. This is due to the challenges and moral dilemmas in cyberspace. Therefore, the role of the church and Christianity is to initiate a movement in the role of the church to improve morality on social media. This contributes to enhancing morality and creating more constructive interactions in cyberspace.   Abstrak Di era media sosial yang semakin canggih dan semakin mendominasi kehidupan sehari-hari, muncul tantangan baru dalam menerapkan etika Kristen serta menjaga moralitas dan karakter di dunia maya. Latar belakang penelitian ini berfokus pada dampak negatif dari media sosial, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan cyberbullying, yang dapat mengikis nilai-nilai moral dalam masyarakat. Dan menimbulkan karakter yang tidak baik dalam perkembangan agama Kristen. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur, sehingga dapat disimpulkan bahwa kekristenan perlu mewaspadai pengaruh media sosial terhadap nilai-nilai kekristenan, dan juga adanya prinsip-prinsip etika kekristenan dalam berinteraksi di media sosial. Hal ini dikarenakan adanya isu tantangan dan dilema moral di dunia maya. Oleh karena itu, peran gereja dan kekristenan adalah menginisiasi sebuah gerakan dalam peran gereja untuk meningkatkan moralitas di media sosial. Hal ini berkontribusi pada peningkatan moralitas dan menciptakan interaksi yang lebih konstruktif di dunia maya.  
Iman Kristen dalam Membentuk Etika Konsumerisme: Refleksi Teologis terhadap Tanggung Jawab Sosial dan Ekonomi di Era disruptif van der Krogt, Hanniel Jehoshua
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 1: Mei 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v8i1.373

Abstract

Excessive and unwise consumer ethics, which are not based on needs but placing and hedonistic lifestyles, have become rampant and increasingly dominate social and economic life in the modern era. This behavior has created inequality and injustice and ignored spiritual values ??in human life. Consumerism, which focuses on purchasing goods and consumption as an indicator of happiness and prestige more than self-esteem, has had a negative impact that is very different and contradicts the teachings in the Bible about simplicity. This study explores the relevance of Christian teachings in forming more sustainable and responsible consumer ethics. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it was found that the Christian faith is an ethical construction with social and economic responsibility in dealing with consumer behavior. Abstrak Etika konsumerisme yang berlebihan dan tidak bijak yang mana disdasari bukan kebutuhan namun plexing dan gaya hidup hedon telah menjadi-jadi dan semakin mendominasi kehidupan sosial dan ekonomi di era modern. Perilaku ini telah menciptakan ketimpangan dan ketidakadilan, serta mengabaikan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan manusia. Konsumerisme yang berfokus pada pembelian barang dan konsumsi sebagai indikator kebahagiaan dan prestise lebih dari harga diri telah membawa dampak negative yang mana hal ini sangat berbeda dan bertentangan dengan ajaran-ajaran dalam Alkitab tentang kesederhanaan. Penelitian ini bertujuan untuk membuka pemahama terkait relevansi ajaran Kristen dalam membentuk Etika Konsumerisme yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka didapatkan bahwa iman Kristen menjadi konstruksi etika yang memiliki tanggung jawab sosial dan ekonomi dalam menghadapi perilaku konsumtif.
Inovasi Pendidikan Kristiani dalam Peran Gereja untuk Meningkatkan Spiritualitas Anak Marginal di Era Kontemporer Agustini
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 1: Mei 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v8i1.462

Abstract

There are challenges faced by marginalized children in society, especially in obtaining an education that is not only academic but also leads to the development of spiritual welfare and practical building. As a spiritual institution, the church has a significant role and potential to create Christian education innovations relevant to marginalized children, considering that they are by the teachings of faith that can shape character and strengthen their faith and spirituality. This study aims to provide an understanding and strategy of how the church's role in Christian education innovation can contribute to the spiritual well-being of marginalized children. Using descriptive qualitative methods and a literature study approach, it was found that Christian education is precious for marginalized children. Hence, the church plays a vital role in developing and teaching Christian values ??to them.   Abstrak Adanya tantangan yang dihadapi oleh anak-anak marginal dalam masyarakat, khususnya dalam memperoleh pendidikan yang tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga mengarah pada per-kembangan kesejahteraan rohani dan membangun afektif. Gereja sebagai lembaga kerohanian memiliki peran dan potensi besar untuk menciptakan inovasi pendidikan kristiani yang relevan bagi anak-anak marginal, mengingat sesuai dengan ajaran iman yang dapat membentuk karakter dan memperkuat iman dan keroahnian mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman dan strategi bagaimana peran gereja dalam inovasi pendidikan kristiani dapat memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan rohani anak marginal. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan studi pustaka, didapatkan bahwa pendidikan kristiani sangat berharga bagi anak marginal, sehingga gereja berperan penting dalam mengembangkan dan  mengajarkan nilai-nilai kristiani bagi mereka.
Memanusiakan Manusia: Konseling Pendidikan Kristiani dalam Mengatasi Sikap Apatis Remaja Manalu, Johanes; Arisman; Sitorus, Johnson; Ndraha, Amoli; Sukatman, Kristian
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 1: Mei 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v8i1.463

Abstract

The rapid development of technology has become a means for human needs to carry out various activities, and it has even become a place to make money. The use of gadgets, a technology that is so sophisticated and almost owned by every group, makes humans dependent on gadgets. This paper studies how the use of gadgets causes the loss of social interest in adolescents and how its influence causes apathy in adolescents. This research focuses on the use of gadgets by adolescents and their influence on the attitudes and behavior of adolescents in their environment. The aim is to look at the development of adolescents through the progress of today's times and how to react to it so that they remain on the right track and do not deviate from the teachings of the Word of God. The author uses a qualitative method with a literature study approach to review and analyze topics from various sources, such as journals, books, and the Internet, that are relevant to the discussion of writing. The influence of gawais erodes the attitude of respect, and respect affects social interest and becomes apathetic, so a good mentor who can monitor teenagers' activities and self-control from the teenagers themselves so that the wrong dependence on the use of gawais does not carry them away.   Abstrak Perkembangan teknologi yang begitu pesat menjadi sarana kebutuhan manusia untuk melakukan berbagai aktifitas, bahkan telah menjadi wadah untuk mencari uang. Penggunaan gawai yang adalah bentuk teknologi canggih yang hampir dimiliki setiap kalangan, membuat manusia bergantung pada gawai. Dalam penulisan ini mengkaji bagaimana penggunaan gawai mempengaruhi peranan remaja sebagai manusia yang adalah makhluk sosial, terhadap lingkungan sekitarnya. Penelitian ini berfokus pada penggunaan gawai oleh remaja upaya mengatasi sikap apatis. Tujuannya untuk melihat perkembangan remaja melalui kemajuan zaman saat ini dan bagaimana cara menyikapinya supaya tetap dijalur yang baik dan benar, yang tidak menyimpang dari ajaran Firman Tuhan. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan literatur untuk mengkaji dan menganalisis topik dari berbagai sumber seperti jurnal, buku, internet yang relevan dengan pembahasan penulisan. Pengaruh gawai mengikis sikap hormat dan respek yang memengaruhi minat sosial dan menjadi apatis, sehingga dibutuhkan mentor yang baik yang dapat memantau aktivitas remaja serta pengendalian diri dari remaja itu sendiri supaya tidak terhanyut pada ketergantungan yang salah pada penggunaan gawai.    
Menghadapi Ajaran Sesat di Era Digital: Perspektif Teologi Kristen dan Strategi Pendidikan Iman untuk Menghadapi Konsekuensi Digitalisasi Sitanggang, Mariati Purnama
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 1: Mei 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v8i1.477

Abstract

The rapid development of the world of digital technology within the scope of the internet and the industrial era 4.0 in recent decades has had a significant impact on the spiritual life of Christianity. One of the most striking impacts is the spread of heresies through digital platforms that are increasingly widespread and easily accessible. However, some teachings differ from Christian teachings, often spread through social media and quickly reach a universal audience. This situation poses a significant challenge for churches and Christians in maintaining the truth of doctrine and faith. This study aims to analyze the phenomenon of the spread of heresies in the digital era and examine the perspective of Christian theology on how to overcome this. And also the role of the church and Christianity in formulating effective faith education strategies in facing the challenges of digitalization. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the phenomenon of the spread of heretical teachings in the digital era needs to be anticipated by understanding the perspective of Christian theology on heretical teachings and digital misdirection. So, Christianity raises the importance of Faith Education Strategies in Facing the Challenges of Digitalisation. This is so that Christianity can assist people to be more critical of the teachings circulating in cyberspace.   Abstrak Perkembangan pesat dunia teknologi digital dalam lingkup internet dan era industri 4.0 dalam beberapa dekade terakhir telah membawa dampak signifikan terhadap kehidupan spiritualitas kekristenan. Salah satu dampak yang paling mencolok adalah penyebaran ajaran sesat melalui platform digital yang semakin luas dan mudah diakses. Namuna ada ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran Kristen yang seringkali tersebar melalui media sosial yang menjangkau audiens secara universal dalam waktu singkat. Keadaan ini menimbulkan tantangan besar bagi gereja dan umat Kristen dalam menjaga kebenaran doktrin ajaran dan iman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena penyebaran ajaran sesat di era digital dan mengkaji perspektif teologi Kristen mengenai cara menanggulangi hal tersebut. Dan juga peran gereja dan kekristenan dalam merumuskan strategi pendidikan iman yang efektif dalam menghadapi tantangan digitalisasi. Menggunkan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature, maka dapat disimpulkan bahwa adanya fenomena Penyebaran Ajaran Sesat di Era Digital perlu diwaspadahi dengan memberikan pemahaman terkait perspektif Teologi Kristen terhadap Ajaran Sesat dan Penyesatan Digital. Sehingga kekristenan memunculkan pentingnya Strategi Pendidikan Iman dalam Menghadapi Tantangan Digitalisasi. Ini dimaksud supaya kekristenan dapat mendampingi umat agar lebih kritis terhadap ajaran yang beredar di dunia maya.  
Dialog dengan yang tak Terlihat: Menguak Pesan Penglihatan Elifas dalam Ayub 4:12-17 Sonata, Valeria
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 1: Mei 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v8i1.484

Abstract

This study examines Eliphaz's vision in Job 4:12-17, which has given rise to various interpretations regarding the identity of the spirit that appears. Through textual analysis, it is found that Eliphaz’s message, accusing Job of sin and doubting his righteousness before God, contradicts the depiction of Job as a righteous man in the book’s prologue. Although initial attempts to shake Job’s faith through physical and emotional suffering prove ineffective, Satan’s message of unbelief reappears through the vision Eliphaz recounts, indicating a thematic continuation of skepticism surrounding the authenticity of human righteousness and devotion to God. The study also explores the complexities of the language and theological context surrounding the vision and the implications of the influence of an evil spirit that may have played a role in conveying this misleading message.   Abstrak  Penelitian ini membahas visi Elifas dalam Kitab Ayub 4:12-17, yang menimbulkan berbagai interpretasi mengenai identitas roh yang muncul. Melalui analisis teks, ditemukan bahwa pesan Elifas, yang menuduh Ayub berdosa dan meragukan kebenarannya di hadapan Tuhan, bertentangan dengan penggambaran Ayub sebagai orang benar dalam prolog kitab. Meskipun upaya awal untuk menggoyahkan iman Ayub melalui penderitaan fisik dan emosional terbukti tidak berhasil, pesan ketidakpercayaan Setan muncul kembali melalui penglihatan yang diceritakan Elifas, yang menunjukkan kelanjutan tematik dari skeptisisme seputar keaslian kebenaran manusia dan pengabdian kepada Tuhan. Penelitian ini juga mengeksplorasi kompleksitas bahasa dan konteks teologis yang mengelilingi visi tersebut, serta implikasi dari pengaruh roh jahat yang mungkin berperan dalam penyampaian pesan yang menyesatkan ini.    
Kepemimpinan Kristen dan Tantangan Hedonisme: Membimbing Jemaat Menghindari Perangkap Pinjaman Online Diana, Messelina
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 1: Mei 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v8i1.503

Abstract

The influence of hedonism and the rise of online loans (pinjol) in this country hurt financial life. Hedonistic attitudes and unhealthy debt habits often encourage individuals to ignore the values of healthy financial management. Although offering easy access, online loans favored by the public usually lead to mounting debt problems. Therefore, Christian leadership, namely pastors and clergy, guides the congregation to avoid this trap and return to sound financial principles to overcome the impact of hedonism and loan sharks on everyday life. Using a descriptive qualitative method, it is concluded that there is an influence of hedonism in the context of modern society, so it is hoped that the role of Christian leadership in guiding congregations to face the temptation of online loans is by applying biblical principles in financial management and solutions to overcome the traps of hedonism and online loans.   Abstrak Pengaruh hedonisme dan maraknya pinjaman online (pinjol) di negara ini dan tentunya berdampak negatif terhadap kehidupan finansial. Sikap hedon dan kebiasaan utang yang tidak sehat seringkali mendorong individu untuk mengabaikan nilai-nilai pengelolaan keuangan yang sehat. Pinjaman online yang diminati oleh masyarakat, meskipun menawarkan kemudahan akses, seringkali berujung pada masalah utang yang semakin menumpuk. Maka itu dalam kepemimpinan Kristen yaitu gembala dan para rohaniawan sejatinya memiliki peran dalam membimbing jemaat untuk menghindari perangkap ini dan kembali pada prinsip-prinsip keuangan yang sehat. Sehingga dapat mengatasi dampak hedonisme dan pinjol dalam kehidupan sehari-hari. Menggunkan metode kualitatif deskritif maka disimpulkan bahwa adanya pengaruh sikap hedonisme dalam konteks masyarakat modern, maka diharaapkan adanya peran kepemimpinan Kristen dalam membimbing jemaat menghadapi godaan pinjaman online yaitu dengan menerapkan prinsip alkitabiah dalam pengelolaan keuangan dan solusi untuk mengatasi perangkap hedonisme dan pinjaman online.
Eksodus sebagai Paradigma Kebebasan Spiritual: Analisis Kritis Teologi Pembebasan dalam Perjanjian Lama Andreas Christanto; Netti Uli Manullang
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 1: Mei 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The transition from Mount Sinai to Mount Zion in biblical tradition highlights the progressive nature of God's plan of salvation, combining justice and grace. Mount Sinai represents establishing a covenantal community by giving the law, while Mount Zion portrays the eschatological reality of peaceful fellowship with God through divine grace. This journey teaches that true freedom involves adherence to justice and moral responsibility values, culminating in divine grace. This transition is relevant as a paradigm for building inclusive, just, and harmonious communities in the modern context. The church is called to integrate the principles of Sinai's justice and Zion's grace in its ministry, creating spaces for inter-community dialogue and promoting social justice. By merging the aspects of law and grace, the church can become an agent of social transformation, reflecting God's character in a world rife with injustice.
Feminisme Kristen bagi Komunitas Perempuan Inklusif: Sebuah Kontribusi Elizabeth Schüssler Fiorenza terhadap Etika Solidaritas Sumual, Ivonne Sandra; Yemima Pasulu
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 1: Mei 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Elizabeth Schüssler Fiorenza offers a new paradigm in feminist theology through the concepts of kyriarchy and ekkl?sia of wo/men, which serve as critiques of patriarchal domination within the church and society. This study addresses the relevance of Fiorenza's thoughts in deconstructing the patriarchal structures embedded in Indonesian churches, which often perpetuate gender-based discrimination and hinder women's full participation in religious and social life. This research employs a qualitative approach with a literature review method to analyze Fiorenza's works and their relevance within Indonesia's social, cultural, and religious contexts. The findings reveal that Fiorenza's feminist hermeneutics can serve as a tool for ecclesiastical transformation by reinterpreting biblical texts in a more inclusive and relevant manner. The concept of ekkl?sia of wo/men provides a model for an egalitarian faith community, enabling churches to create inclusive spaces for women. Inclusive solidarity ethics offers concrete steps for Indonesian churches to act as agents of social change, responding to the challenges of gender injustice. This study underscores the importance of church reform rooted in the principles of justice and inclusion.
Cinta yang Menebus: Studi Teologis Kitab Hosea sebagai Paradigma Relasi Allah yang Penuh Kasih dan Pemulihan bagi Umat-Nya Pekuwali, John Riwu; Sintia Permatasari Mulla
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 8 No 1: Mei 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Book of Hosea portrays God's unconditional love amid Israel's unfaithfulness through the metaphor of Hosea's marriage to Gomer. This prophetic message illustrates God's transformative steadfast love (hesed), bringing His people spiritual, moral, and social restoration. In the socio-political context of 8th-century BCE Israel, idolatry, social injustice, and reliance on political alliances reflected severe spiritual decline. However, as revealed in Hosea's eschatological dimensions, God remained committed to restoring the covenant relationship through active and inclusive love. This love surpasses mere forgiveness, offering profound renewal. Hosea's message is highly relevant for today's church as a paradigm for restorative ministry amid modern challenges such as spiritual alienation and community disintegration. Through hesed, the church is called to become an agent of healing for social and spiritual wounds, offering hope and restoration. By adopting the model of God's love in Hosea, the church can reflect God's character in social services, spiritual care, and global mission, responding to the needs of a broken and sinful world.

Page 1 of 1 | Total Record : 10