cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Buletin Farmatera
ISSN : 2528410X     EISSN : 2528410X     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
Tinjauan Penggunaan Penghambat Adrenergik 1A Pada Terapi Benign Prostatic Hypertrophy Ilham Hariaji
Buletin Farmatera Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.086 KB) | DOI: 10.30596/bf.v1i1.791

Abstract

PendahuluanPenghambat Adrenergik merupakan sekelompok senyawa yang bekerja menghambat saraf adrenergik. Golongan obat ini dibagi menjadi antagonis adrenergik reseptor (adrenoseptor)  dan penghambat saraf adrenergik.Antagonis adrenoseptor sering juga dikenal dengan nama adrenoseptor bloker, mekanisme kerjanya adalah berkompetisi dengan neurotransmiter adrenergik menduduki reseptornya sehingga terjadi hambatan impul saraf yang diperantarai oleh neurotransminter adrenergik sehingga organ efektor yang dipersarafinya efeknya menjadi berkurang, kita ketahui bahwa reseptor adrenergik terdiri dari reseptor α1, α2, β1, β2 ,β3.
Perbandingan Efektifitas (e-buk) “ Ekstrak Buah Mengkudu (M. citrifolia l.)” dengan Antibiotik Seftriakson terhadap Streptococcus pneumoniae Secara in Vitro Bagus Panji Nugraha
Buletin Farmatera Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.896 KB) | DOI: 10.30596/bf.v2i3.1218

Abstract

Latar Belakang:Salah satu bakteri patogen yang sering menginfeksi manusia contohnya Streptococcus pneumoniae. Kurangnya pedoman dalam penggunaan antibiotik dalam segi dosis yang tidak tepat dapat mengakibatkan bakteri menjadi resisten.Salah satu tanaman yang dapat digunakan menjadi antibiotik adalah buah mengkudu (Morinda citrifolia L) yang memiliki kandungan flavonoid, scopoletin, glikosida, alizarin, acubin, dan L.asperuloside.Tujuan:Untuk mengetahui efektifitas  ekstrak buah mengkudu (M.citrifolia L.) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus pneumoniae.Metode:Metode yang digunakan adalah metode penelitian eksperimental post test only control group design. Data diolah menggunakan uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan Mann-Whithney untuk uji beda. Hasil:Hasil penelitian diperoleh bahwa ekstrak buah mengkudu mempunyai efek antibotik terhadap Streptococcus pneumoniaepada konsentrasi 100% dengan diameter daya hambat 13,50mm, konsentrasi 90% memiliki diameter daya hambat  rata-rata 9,50 mm, konsentrasi 80% memiliki diameter daya hambat rata-rata 12,08 mm, dan konsentrasi 70% memiliki diameter daya hambat rata-rata 10,75 mm. Kesimpulan:Ekstrak buah mengkudu memiliki efek antibiotik terhadap Streptococcus pneumoniaeyang tertingi pada konsentrasi 80%.Keyword: Ekstrak buah mengkudu,Seftriakson, Streptococcus pneumoniae, Perbandingan Efektivitas. 
Perbedaan Respon Hemodinamik Akibat Tindakan Laringoskopi dan Intubasi pada Pemberian Intravena Fentanyl dan Magnesium Sulfat Dibandingkan dengan Fentanyl dan Lidokain Jefri Awaluddin Pane; Achsanuddin Hanafie; Akhyar H Nasution
Buletin Farmatera Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.775 KB) | DOI: 10.30596/bf.v3i3.2067

Abstract

Abstrak: Tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea pada anastesi umum dapat menyebabkan terjadinya peningkatan hemodinamik berupa hipertensi, takikardi, dan dapat membahayakan pasien-pasien yang mempunyai faktor resiko seperti penyakit jantung koroner, hipertensi, miokard infark, kelainan serebrovaskular, dan tirotoksikosis. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan perbedaan respon peningkatan hemodinamik pada pemberian fentanil dan magnesium sulfat (MgSO4) dengan fentanil dan lidokain akibat tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea. Subjek penelitian adalah 30 pasien yang menjalani pembedahan elektif dengan anestesi umum intubasi endotrakhea, usia 18 – 50 tahun, ASA 1. Pasien dibagi secara acak menjadi dua kelompok (kelompok M dan L). Premedikasi fentanyl ditambah MgSO4 intravena diberikan kepada Kelompok M, sedangkan premedikasi fentanyl ditambah Lidokain intravena diberikan kepada kelompok L Tidak dijumpai perbedaan yang bermakna pada nilai tekanan darah sistolik (TDS), tekanan darah diastolik (TDD), denyut jantung (DJ),  Rate Pressure Product (RPP) dan tekanan arteri rerata (TAR) antara kelompok M dan kelompok L pada pengamatan menit ke-1, ke-3 dan ke-5 setelah tindakan laringoskopi dan intubasi. Simpulan, tidak ada perbedaan respon hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakhea antara fentanyl ditambah MgSO4 dan Fentanyl ditambah lidokain.Kata kunci: laringoskopi, intubasi endotrakhea, lidokain, magnesium sulfat, Rate Pressure Product
Gambaran Histopatologi Selaput Ketuban pada Perempuan Hamil yang Mendapat Acetylsalicylic Acid (ASA) Dosis Rendah Cut Mourisa; R Zain Hamid; Betty Betty
Buletin Farmatera Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.061 KB) | DOI: 10.30596/bf.v3i3.2045

Abstract

Abstrak: Acetylsalicylic acid (ASA) adalah obat antiinflamasi golongan non steroid yang mempunyai efek kerja sebagai analgetik, antipiretik, anti-inflamasi dan antitrombotik (pada dosis rendah); dengan indikasi pada penatalaksanaan stroke, infarkmiokard, trombosis, sindrom antiphospholipid dan pencegahan pre-eklamsia dan eklamsia selama kehamilan. Pemberian ASA jangka panjang pada perempuan hamil menyebabkan keadaan defisiensi vitamin C melalui mekanisme hambatan absorpsi, transpor, peningkatan ekskresi vitamin C, sehingga mengganggu sintesa protein  pada matriks ekstraseluler (MES) selaput ketuban. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran struktur histopatologi (ketebalan lapisan amnion-korion) pada selaput ketuban perempuan hamil yang mendapat ASA dosis rendah. Penelitian ini menggunakan design cross sectional dengan menggunakan 81 subjek sebagai sampel dengan teknik consecutive sampling; kelompok kasus mendapat ASA dosis rendah dan kelompok control tanpa ASA dosis rendah. Pada saat persalinan dilakukan pengambilan selaput ketuban untuk diperiksa. Hasil penelitian menunjukkan selaput ketuban pada kelompok kasus (85,18±15,98) lebih tipis dibandingkan kelompok kontrol (111,68±27,19), (p<0,05). Simpulan, pemberian ASA dosis rendah jangka panjang pada perempuan hamil menurunkan ketebalan selaput ketuban.Kata kunci: ASA dosis rendah, histopatologi selaput ketuban, ketebalan selaput ketuban.
Dosis Obat Antiepilepsi pada Respons Awal Pengobatan Epilepsi Sinaga, Nurcahaya
Buletin Farmatera Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.444 KB) | DOI: 10.30596/bf.v3i3.2065

Abstract

Abstrak: Epilepsi merupakan satu dari penyakit neurologi yang sering menyebabkan disabilitas dan kematian. Dosis yang adekuat dalam tatalaksana menghentikan kejang merupakan hal yang penting selain pemilihan obat dan kepatuhan minum obat. Pentingnya diketahui berapa dosis OAE monoterapi terhadap pasien yang respons awal baik dengan yang tidak respons dalam tatalaksana pasien epilepsi baru. Mengetahui dosis  OAE monoterapi terhadap   respons awal yang baik  pada pasien epilepsi baru pertama kali di RSCM. Penelitian merupakan penelitian kohort  prospektif pada 92 anak berusia < 17 tahun dengan melihat dosis OAE monoterapi  pada pasien yang respons awal baik pada anak penderita epilepsi baru selama 3 bulan yang berobat ke poliklinik rawat jalan RSUP dr Cipto Mangunkusumo sejak Januari 2017 sampai Agustus 2017. Terdapat 92 pasien epilepsi baru yang memenuhi kriteria penelitian. Insidens epilepsi baru pada penelitian ini adalah 21,9%. Pasien yang menunjukan respons awal yang baik sebanyak 77,2%. OAE monoterapi  terbanyak adalah asam valproat sebesar 73% diikuti fenitoin 18%, phenobarbital dan karbamazepin masing masing 4,2%. Pasien yang sejak awal respons awal pengobatan baik menunjukkan dosis minimal sampai 3 bulan pengobatan. Pasien  epilepsi yang respons awal baik pada OAE monoterapi menunjukkan menggunakan dosis terkecil hingga 3 bulan pengobatan.Kata kunci: Epilepsi, respons awal OAE monoterapi, dosis OAE
Hubungan Kepatuhan Pasien Tuberkulosis Paru Mengkonsumsi Isoniazid Selama Pengobatan Obat Anti Tuberkulosis dengan Mutasi Gen katG Ser315thr (G944c) Mycobacterium Tuberculosis Mara Imam Taufiq Siregar
Buletin Farmatera Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.847 KB) | DOI: 10.30596/bf.v3i3.2066

Abstract

Abstrak:  Mutasi pada gen Mycobacterim tuberculosis merupakan penyebab utama terjadinya resistensi terhadap  obat anti tuberkulosis (OAT) oleh karena kadar terapi yang inadekuat akibat ketidakpatuhan selama mengkonsumsi obat. Mutasi pada gen katG Ser315Thr (G944C) merupakan salah mutasi yang terjadi akibat ketidakadekuatan dosis isoniazid (INH) . Penelitian kohort dilakukan terhadap 100 pasien TB paru BTA positif yang akan mulai mengkonsumsi INH di Rumah Sakit Umum dr. Pirngadi Medan, yang belum mengalami mutasi gen katG Ser315Thr (G944C) M tuberculosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepatuhan pasien TB paru mengkonsumsi INH selama pengobatan OAT dengan terjadinya mutasi gen katG Ser315Thr (G944C). Kepatuhan dinilai dengan pemeriksaan metabolit INH urin metode Arkansas menggunakan Taxo urine test stripÒ, sedangkan mutasi gen dengan metode PCR-RFLP. Turut dinilai karakteristik sosiodemografi penderita TB paru pada penelitian ini serta hubungannya dengan kepatuhan dalam mengkonsumsi INH selama pengobatan OAT. Hasil penelitian tidak dijumpai adanya mutasi gen katG Ser315Thr (G944C) M tuberculosis, baik pada kelompok penderita TB paru yang patuh (84%) maupun tidak patuh (16%) mengkonsumsi INH (100% wild type). Berdasarkan karakteristik sosiodemografi, tidak dijumpai hubungan antara umur, suku, tingkat pendidikan  dan jenis kelamin penderita TB paru dengan tingkat kepatuhan mengkonsumsi INH selama pengobatan OAT. Simpulan, INH masih sangat sensitif untuk digunakan sebagai obat lini pertama bagi penderita TB paru yang akan mulai mendapat pengobatan OAT sampai pada bulan pertama penggunaan INH.Kata kunci: Mycobacterium tuberculosis, mutasi gen katG Ser315Thr, PCR-RFLP, Taxo urine test stripÒ metode Arkansas, kepatuhan
Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Afrika (Vernonia Amygdalina Del.) sebagai Obat Antikolesterol pada Tikus Jantan Galur Wistar yang Diinduksi Kuning Telur Nuryani Nuryani; Yufi Yuwarditra; Sigit Kurniawan; Isra Thristy
Buletin Farmatera Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.69 KB) | DOI: 10.30596/bf.v3i3.2074

Abstract

Abstrak: Daun Afrika mengandung senyawa berupa senyawa flavonoid, saponin dan tannin untuk menurunkan kadar kolesterol. Daun Afrika banyak digunakan sebagai pengobatan alternatif hiperkolesterolemia. Daun Afrika diharapkan dapat menurunkan kadar kolesterol secara efektif sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit jantung koroner. Tujuan penelitian untuk membandingkan efektivitas ekstrak etanol daun Afrika (Vernonia amygdalina Del.) dengan simvastatin pada tikus jantan galur wistar yang diinduksi kuning telur. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan Pre and Post Test Controlled Group Design, yaitu jenis penelitian yang melakukan pengamatan pada dua kelompok (kontrol dan perlakuan) yang dilakukan sebelum dan sesudah tindakan. Penelitian ini menggunakan tikus putih (Rattus novergicus) sebanyak 30 tikus yang dibagi menjadi 5 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5 tikus, dengan 1 cadangan tikus masing-masing kelompok. Penelitian ini menggunakan 500 lembar daun Afrika dan kuning telur. Data yang diperoleh akan diuji menggunakan analisis data uji Oneway ANOVA dan uji Post Hoc. Uji Oneway ANOVA (Analysis of Variant) digunakan untuk membandingkan rata-rata lebih dari 2 kelompok, sedangkan uji Post Hoc digunakan untuk membandingkan rata-rata antara 2 kelompok. Hasil uji ANOVA, ada jumlah yang signifikan antara kelompok perlakuan satu, dua dan tiga kelompok perlakuan dengan p= ,002 (P<0,05). Simpulan, ekstrak etanol Vernonia amygdalina, simvastatin dan kombinasi simvastatin dengan ekstrak etanol Vernonia amygdalina dapat menurunkan kadar kolesterol total pada tikus.Kata kunci: Vernonia amygdalina, kolesterol total, simvastatin
Histopatologi Epitel Tubulus Seminiferus Testis, Kualitas dan Kuantitas Sel Sperma Tikus Hiperkolesterolemia yang dDiberi Vitamin C Wan Muhammad Ismail
Buletin Farmatera Vol 3, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.593 KB) | DOI: 10.30596/bf.v3i3.1847

Abstract

Abstrak: Hiperkolesterolemia dapat menyebabkan ketidaknormalan fungsi reproduksi laki-laki, dimana terjadi peningkatan produksi radikal bebas dan lipid peroksidase ditiap jaringan yang berbeda yang menimbulkan stres oksidatif. Akibatnya terjadi kerusakan pada membrane sperma, stuktur protein, dan DNA yang mempengaruhi fertilitas. Vitamin C merupakan antioksidan pemecah rantai utama dan dapat menetralisir radikal bebas. Jenis penelitian ini eksperimental dengan  menggunakan 35 ekor tikus wistar jantan terbagi  dalam 5 kelompok. Diperiksa kadar kolesterol total sebelum dan sesudah perlakuan pada hari 1 dan hari 61. Kemudian mengamati histopatologi ketebalan epitel tubulus seminiferus testis, kualitas dan kuantitas sel sperma setelah tikus didekapitasi. Hasil dianalisis univariat untuk menghitung mean dan standar deviasi Uji normalitas data dengan Saphiro Wilk, dilanjutkan One Way Anova, Post Hoc, Kruskal Wallis dan Mann Whitney U. Hasilnya kadar kolesterol total sebelum dan sesudah perlakuan tidak berbeda nyata (p>0,05), ketebalan epitel tubulus seminiferus pada masing-masing kelompok berbeda nyata (p<0,05), kualitas dan kuantitas sel sperma pada masing-masing kelompok berbeda nyata (p<0,05). Maka vitamin C dapat memperbaiki dan mempertahankan epitel tubulus seminiferous, kualitas dan kuantitas sel sperma tikus hiperkolesterolemia dikarenakan proses transportasi vitamin C pada epitel tubulus seminiferus yang memungkinkan untuk komunikasi dengan perkembangan sel germinalKata kunci: epitel tubulus seminiferus, hiperkolesterolemia, kualitas dan kuantitas sel sperma, vitamin C.
Polymorphism of Dopamine D2-141C Ins/Del Receptor Gene in Paranoid Schizophrenia and Non Schizophrenia Patients of Batak Ethnicity in Sumatera Utara Dede Bisma Kuncara
Buletin Farmatera Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.961 KB) | DOI: 10.30596/bf.v4i1.2176

Abstract

Introduction: Schizophrenia is a chronic mental condition which is characterized by reality distortion as well as thought, speech and behavior disorders. Several factors that may cause schizophrenia include genetic abnormalities of dopamine receptors that contribute to disorders in function of the brain, several studies have found an association between schizophrenic and non schizophrenic patients in the dopamine receptor gene polymorphism D2 -141C Ins/Del.Aim: To investigate the relationship of DRD2 -141C Ins/Del gene polymorphism in schizophrenic and non-schizophrenic patients of Batak ethnicity in Sumatera Utara, Indonesia.Methods: This research was done as an unpaired analytical case-control study. The subjects of the study were DNA isolates obtained from 60 patients of paranoid schizophrenia and 54 non-schizophrenia of Batak ethnicity in Sumatera Utara, Indonesia. PCR examination was performed on the DNA isolates to examine D2 -141C Ins/Del dopamine receptor gene polymorphism. The data collected were then analyzed statistically.Result: In this study, three variants of DRD2 gene polymorphism (I/D: 304bp, 160bp, 144bp), (I/I: 160bp, 144bp), (D/D: 304bp) was identified. In both schizophrenic and non-schizophrenic patients, the highest I/D genotypes were identified (71.7%) and (63%) , and the least D/D genotypes were identified (6.7%) and (7.4%) with p = 0.726. Based on the allele distribution there was no difference of risk on allele D and allele I on the cause factor of schizophrenia (OR: 1.13; 95% CI: 0.66-1.92). According to Hardy-Weinberg Equilibrium law, both schizophrenic and non schizophrenic patients of Batak ethnicity in Sumatera Utara is in disequilibrium p = 0.0002 and p = 0.0057 with significance of p <0,05.Conclusion: There is no significant association between genotypic distribution and DRD2 -141C Ins/Del gene alleles in schizophrenic and non schizophrenic patients.
Khasiat Jus Buah Pepaya Terhadap Kadar Kolesterol Total dan Malondialdehyde pada Tikus Hiperkolesterolemia Ilham Hariaji
Buletin Farmatera Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.178 KB) | DOI: 10.30596/bf.v4i1.2101

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis khasiat jus buah pepaya (Carica papaya L.) terhadap efek penurunan kadar kolesterol total dan kadar malondialdehyde (MDA) dalam plasma darah tikus putih (Rattus norvegicus) galur Wistar berjenis kelamin jantan  hiperkolesterolemia yang diinduksi kuning telur ayam petelur. Penelitian ini menggunakan pre test and post test with control group design menggunakan 35 ekor tikus yang dibagi dalam 5 kelompok, terdiri dari : K(-) (hanya diberikan pakan standar selama 8 minggu), K(+) (diberikan pakan standar 8 minggu,diinduksi kuning telur 2 minggu), P1 ( diberi pakan standar selama 4 minggu, diinduksi kuning telur 2 minggu dan diberikan jus pepaya selama 2 minggu, diperiksa kadar kolesterol total dan MDA pada minggu ke 4), P2 ( diberi pakan standar 6 minggu,diinduksi kuning telur 2 minggu dan diberikan jus pepaya selama 4 minggu, diperiksa kadar kolesterol total dan MDA pada minggu ke 6), P3 (diberi pakan standar 8 minggu, diinduksi kuning telur 2 minggu dan diberikan jus pepaya selama 6 minggu, diperiksa kadar kolesterol total dan MDA pada minggu ke 8). Semua kelompok dilakukan pengukuran kadar kolesterol total dan MDA sebelum dilakukan perlakuan apapun. Hasil pemeriksaan kadar kolesterol total dan MDA sebelum dan sesudah induksi kuning telur selama dua minggu menunjukan peningkatan yang bermakna (p<0,05) pada kelompok yang diinduksikan kuning telur. Selanjutnya kadar kolesterol total dan MDA setelah induksi jus buah pepaya menunjukan penurunan yang bermakna (p<0,05) pada kelompok P1, P2 dan P3. Penelitian ini membuktikan bahwa pemberian jus buah pepaya berkhasiat menurunkan kadar kolesterol total dan kadar malondialdehyde sebagai petanda stres oksidatif di dalam darah.

Page 5 of 25 | Total Record : 242