cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (Jurnal CARE)
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 88 Documents
Integrasi Dan Dampak Program Pertanian Terpadu Sistem Inovasi Sosial Kelompok Setaria (Tante Siska) Jurnal CARE CARE; Agit Kriswantriyono; Elis Fauziyah; Sarah Dhea Pratiwi
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan industri pertambangan di Kecamatan Sangasanga selain membantu membuka lapangan kerja juga menimbulkan masalah lingkungan. Upaya penanganan persoalan pada sektor pertanian akibat adanya aktivitas tambang yang kurang berwawasan lingkungan di Kecamatan Sangasanga tidak dapat berjalan dengan optimal tanpa adanya sinergi pemangku kepentingan dalam satu visi untuk mengatasi persoalan pertanian diwilayah ini. Salah satu elemen pada sektor swasta yakni Pertamina EP Sangasanga Field, berupaya untuk mengatasi persoalan pertanian di Kecamatan Sangasanga melalui program pemberdayaan sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat. Program pemberdayaan ini dirumuskan dalam sektor pertanian dengan konsep inovasi sosial melalui Program Pertanian Terpadu Sistem Inovasi Sosial Kelompok Setaria (Program TANTE SISKA). Program ini dirancang untuk menangani persoalan utama berupa keberlanjutan kegiatan pertanian dan peningkatan kualitas lingkungan. Fokus utama pada Program TANTE SISKA meliputi pengembangan kegiatan pertanian yang berwawasan lingkungan dan pengolahan limbah secara integratif. Fokus kajian diarahkan kepada analisis siklus input-output beberapa unit produksi secara terintegrasi yang ada pada program TANTE SISKA sehingga menghasilkan zero waste dan meningkatkan nilai tambah pada produk yang dihasilkan dalam program tersebut. Disamping itu juga dilakukan analisis dampak program pada aspek ekonomi, sosial dan lingkungan sehingga dampak keberlanjutan program dapat terlihat. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Menganalisis keintegrasian program TANTE SISKA; (2) Menganalisis dampak program TANTE SISKA terhadap bidang sosial, ekonomi dan lingkungan, dan (3) Mendeskripsikan aspek kebaruan (novelty) program TANTE SISKA. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis life cycle sederhana untuk melihat keintegrasian antar sistem produksi. Kemudian untuk menganalisis dampak lingkungan menggunakan metode yang digunakan oleh IPCC. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi program TANTE SISKA telah terbukti mampu menghasilkan nilai tambah produk dan memberikan manfaat yang besar secara ekonomi, sosial dan lingkungan. Kata kunci : integrated farming, LCA, Pertamina EP Sangasanga, tante siska.
Karawang Berseri: Program Pengembangan Masyarakat Untuk Peningkatan Keberdayaan Perempuan Dan Anak Di Kabupaten Karawang Jurnal CARE CARE; Wazirul Luthfi; Anggun Intan Permata Sari; Alya Putri Mulyani; Adi Firmansyah
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT masih banyak terjadi pada banyak rumah tangga di Indonesia, baik di perkotaan maupun pedesaan, termasuk di Karawang. Atas dasar tersebut PT Pertamina EP Tambun Field menginisasi program Karawang Berseri. Kajian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis peran yang dilakukan perusahaan dalam meminimalisasi KDRT melalui Program Karawang Berseri; (2) Menganalisis dampak Program Karawang Berseri, baik dari aspek sosial, ekonomi dan ekologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data primer yang digunakan diperoleh melalui observasi lapang, dan wawancara. Data sekunder berupa laporan kegiatan dan publikasi terkait program. Waktu pelaksanan kajian pada bulan Agustus 2022. Pelaksanaan penelitian dilakukan di lokasi pelaksanaan program di Kelurahan Karawang Kulon, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang. Berdasarkan hasil kajian, program ini telah memberikan manfaat, baik dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dampak ekonomi dapat dilihat dari tambahan pendapatan yang diperoleh komunitas. Peningkatan pendapatan kelompok berasal dari hasil penjualan sampah, reseller dan budidaya hidroponik dalam kurun waktu satu tahun untuk menunjang pembiayaan penanganan perempuan dan anak korban kekerasan. Dampak sosial terlihat dari penguatan kapasitas kelembagaan satgas Karawang Berseri. Dampak lingkungan dapat dilihat dari kegiatan pengelolaan sampah melalui Sedekah Sampah yang dilakukan Kelompok Satgas Karawang Berseri. Kunci keberhasilan program ini terletak pada model pemberdayaan partisipatif baik dalam perencanaan, pelaksanaan, implementasi, maupun monitoring dan evaluasinya. Pendekatan dialog untuk membangun kesadaran pada komunitas juga menjadi pendorong keberlanjutan program Karawang Berseri. Kata kunci: CSR, Karawang Berseri, pemberdayaan masyarakat
Pesona Subang: Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pemanfaatan Serat Daun Nanas Untuk Mendukung Zero Waste Farming Jurnal CARE CARE; Wazirul Luthfi; K. Hendra Permana; Adi Firmansyah
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Subang dikenal sebagai daerah penghasil nanas terbesar di Jawa Barat, atau sekitar 92% total produksi nanas Provinsi Jawa Barat. Subang memiliki lahan nanas produktif seluas 1.630 Ha dan mencatatkan hasil produksi sebesar 187.448,2 ton (BPS 2021). Besarnya produksi komoditas nanas yang dihasilkan di Subang, selain memunculkan dampak positif, juga menimbulkan dampak negatif berupa limbah daun nanas yang jumlahnya besar. Kajian ini bertujuan untuk mengkaji program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan serat daun nanas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data primer yang digunakan diperoleh melalui observasi lapang, dan wawancara. Data sekunder berupa laporan kegiatan dan publikasi terkait program. Waktu pelaksanaan kajian pada bulan Juli-Agustus 2022. Pelaksanaan penelitian dilakukan di Desa Cikadu Kecamatan Cijambe. Berdasarkan hasil kajian, program ini telah memberikan manfaat, baik dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dampak ekonomi dapat dilihat dari tambahan pendapatan yang diperoleh masyarakat. Peningkatan pendapatan kelompok berasal dari hasil penjualan hasil pengolahan daun nanas. Dampak sosial terlihat dari penguatan kapasitas kelembagaan kelompok. Dampak lingkungan dapat dilihat dari jumlah limbah daun nanas yang terkelola. Kunci keberhasilan program ini terletak pada model pemberdayaan partisipatif baik dalam perencanaan, pelaksanaan, implementasi, maupun monitoring dan evaluasinya. Kata kunci: daun nanas, partisipatif, pemberdayaan masyarakat
Keanekaragaman Hayati Di Kawasan Cagar Alam Gunung Burangrang Sebagai Program Konservasi Satwa Langka Jurnal CARE CARE; Wulan Tresnasari Gantini; Adi Setiadi; Muhammad Rifky Afqari; Muhammad Rezky Fadillah; Adi Firmansyah
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis primata dan jenis tanaman yang ada di Kawasan Cagar Alam Gunung Burangrang (CAGB) yang merupakan lokasi program keanekaragaman hayati PT Pertamina EP Asset 3 Tambun Field. Kajian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode pembuatan jalur pengamatan (Transek) untuk data primata dan metode jalur transek dan petak kuadrat untuk data vegetasi. Berdasarkan hasil studi ditemukan 5 jenis primata di Kawasan Cagar Alam Gunung Burangrang dengan jenis yang mendominasi adalah Surili (Presbytis Comata) sebanyak 52 ekor. Berdasarkan Red-list IUCN terdapat jenis dengan kategori Endangered (EN) yaitu surili (Presbytis Comata), Owa Jawa (Hylobates Moloch) dan Lutung Jawa (Trachypithecus Auratus). Sedangkan berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 247/Kpts/Um/1979 serta berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 dan tertuang dalam lampiran PP No. 7 tahun 1999, Surili adalah salah satu jenis primata endemik Jawa yang telah masuk ke dalam daftar satwa dilindungi sejak 5 April 1979. Hasil perhitungan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) dan Indeks Kemerataan (E) pada kategori pohon di wilayah ini termasuk sedang dengan angka H sebesar 1. Maka dapat dikatakan potensi regenerasi pohon yang menjadi pohon pakan primata wilayah survei cukup baik, dimana sebanyak 15 spesies (35,71%) pohon memiliki sebaran strata pertumbuhan yang lengkap mulai dari semai, pancang tiang dan pohon. Dengan kondisi ini asumsi regenerasi hutan di wilayah survei masih berlangsung baik. Kata Kunci: surili, keanekaragaman hayati, cagar alam gunung burangrang
Monitoring Keanekaragaman Tumbuhan Di Hutan Kota Ranggawulung Jurnal CARE CARE; Tiara Rahmawati; Adi Firmansyah; Widya Yulastri; Aufan Asidqi; Valianto Rojulun Afif
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan hutan kota pada dasarnya dilakukan untuk kelestarian, keserasian dan keseimbangan ekosistem perkotaan. Sedangkan berdasarkan fungsinya, diharapkan hutan kota dapat memperbaiki dan menjaga iklim mikro, memiliki nilai estetika untuk kegiatan wisata masyarakat, daerah resapan air, menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Hutan Kota Ranggawulung memiliki potensi yang besar dari sektor wisata untuk pengembangan ekonomi lokal, mengingat lokasinya yang strategis dan potensi keanekaragaman yang ada. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menginventarisasi keanekaragaman jenis tumbuhan yang ada di Hutan Kota Ranggawulung (HKR). Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2022 dengan jumlah untuk pengambilan data tumbuhan (flora). Metode pengambilan data menggunakan metode transek garis berpetak. Analisis vegetasi pada lokasi HKR menunjukan Nilai Indeks Keanekaragaman (H’) semai dan tumbuhan bawah sebesar 3,39 dan pohon sebesar 2,97. Hasil tersebut menunjukkan kestabilan keanekaragaman flora pada semai dan tumbuhan bawah serta penurunan keanekaragaman pohon di Blok HKR. Kondisi indeks keanekaragaman hayati di Blok Buper Ranggawulung pada tahun 2022 menjadi 3,54 untuk semai dan tumbuhan bawah yang artinya meningkat dan 2,63 untuk tingkat pertumbuhan pohon yang artinya menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hasil eksplorasi menunjukkan terdapat 81 jenis yang terdapat di Blok HKR dan 71 jenis yang terdapat di Blok Buper Ranggawulung. Hasil analisis vegetasi menunjukkan secara umum terdapat 120 jenis tumbuhan di kawasan HKR. Beberapa jenis yang memiliki status konservasi penting antara lain angsana (Pterocarpus indicus) memiliki status terancam punah (Endangered), serta mahoni daun lebar (Swietenia macrophylla), dan mahoni daun kecil (Swietenia mahagoni) memiliki status Appendix II. Kata Kunci : Berkelanjutan, Keanekaragaman hayati, Hutan Kota Ranggawulung
Peran Sistem Biocyclo Farming Pada Program Kerja Tani Berdikari Dan Tahan Pangan Jurnal CARE CARE; Yulia Puspadewi Wulandari; Adi Firmansyah; Isyfi Syaufi Nafilah
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama turun temurun usaha pertanian padi sawah dan budidaya komoditas hortikultura menjadi tumpuan hidup petani Desa Cidenok dan Bongas Wetan. Pengenalan biocyclo farming system ditujukan memperkenalkan masyarakat pada usaha pertanian yang berorientasi bisnis dan ramah lingkungan. Kajian ini bertujuan 1) memberikan gambaran inovasi bicyclo farming dalam program Kerja Tani Berdikari dan Tahan Pangan (Jari Tangan), 2) mengukur dampak inovasi biocyclo farming, 3) memberikan rekomendasi pengembangan program Jari Tangan. Metode analisis yang ddilakukan meliputi aspek kebaruan inovasi, core competency, status inovasi dan dampak yang diberikan. Hasil kajian menunjukkan implementasi bicyclo farming pada program jari tangan dilakukan melalui pemanfaatan limbah pertanian dan sampah rumah tangga menjadi input pertanian, optimalisasi pemanfaatan lahan kosong, pengembangan sistem pertanian berorientasi bisnis. Dampak ekonomi dari program antara lain diashilkannya beberapa produk organik yang membuka peluang tambahan bagi kelompok sebesar Rp 30,086,850. Dampak sosial program dapat diukur melalui terbentuknya kelembagaan baru, temabahan ilmu pengetahuan dan keterampilan, meningkatnya kohesivitas masyarakat. Dampak lingkungan yang dirasakan berupa pemanfaatan limbah pertanian dan sampah rumah tangga serta optimalisasi pemanfaatan lahan kosong. Kata Kunci : pertanian, biocyclo farming, Bongas Wetan, Cidenok
Inovasi Abon Ikan Lele Daun Kelor Sebagai Upaya Dalam Membantu Pengentasan Kasus Gizi Kurang Di Jakarta Utara Jurnal CARE CARE; Ulfah Mubarokah; Sumardi
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mencermati permasalahan kasus gizi kurang di Provinsi DKI Jakarta khusunya di Jakarta Utara, PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Jakarta berkomitmen untuk membantu masalah gizi tersebut sebagai upaya pemberdayaan kepada masyarakat khususnya kepada para ibu rumah tangga dan ibu balita gizi kurang melalui kelompok pengolahan pangan ikan SULE (Semua Unsur Lele). Tahun 2022 ini, kelompok didampingi perusahaan berinovasi membuat olahan pangan berupa abon lele yang ditambahkan daun kelor. Tujuan dari kajian ini adalah 1) memaparkan program olahan serba lele khususnya pada inovasi pembuatan abon ikan lele dan daun kelor; 2) menganalisa aspek kebaruan, core competency, sensitivitas terhadap krisis, inovasi sosial dan efektivitas dari program tersebut bagi masyarakat dan 3) menyusun rekomendasi bagi keberlanjutan manfaat program di masa mendatang. Metode analisis yang ddilakukan meliputi aspek kebaruan inovasi, core competency, status inovasi dan dampak yang diberikan. Inovasi sosial yang lahir dari kelompok adalah adanya olahan pangan baru yang kaya akan gizi yakni abon ikan lele dengan penambahan daun kelor yang sangat bermanfaat tidak hanya untuk kandungan gizinya juga untuk lingkungan. Program ini memberikan manfaat ekonomi sebesar Rp. 810.000,-/bulan atau Rp. 9.720.000 tahun pada saat produk belum ditambahkan abon ikan lele daun kelor. Adanya produk baru tentunya memberikan tambahan pendapatan sebesar Rp.60.000 per bulan. Olahan abon ikan lele dan daun kelor ini adalah kombinasi yang tepat dimana kedua bahan tersebut mampu memenuhi kebutuhan protein anak balita sesuai umurnya dari 0-6 tahun dimana kandungan protein pada abon ikan lele sebesar 26,50 gr dan kandungan protein pada daun kelor serbuk 27 gr, sehingga telah memenuhi kebutuhan perkategori usianya yang hanya mencapai 25 gr. Kegiatan pengolahan limbah ikan lele menjadi olahan pangan, berpotensi mengurangi dampak emisi yang dihasilkan dari limbah tulang dan kulit ikan khususnya terhadap emisi CH4 sebesar 0,51 ton CO2eq/tahun dan CO2 sebesar 0,2 ton/tahun. Kata Kunci : abon, ikan lele, daun kelor, gizi kurang
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Inovasi Madu Sari Alam Di Desa Tanah Datar, Muara Badak, Kutai Kartanegara Jurnal CARE CARE; Adi Firmansyah; Naomi Shinta Pasila; Husnawati Djabbar
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menganalisis dampak dari program pemberdayaan masyarakat melalui inovasi Madu Sari Alam di Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara ini bagi kehidupan masyarakat sekitar, baik dari aspek sosial, ekonomi dan ekologi. Waktu pelaksanaan kajian pada bulan Agustus-September 2022. Pelaksanaan penelitian dilakukan di lokasi pelaksanaan program di Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian ini mempergunakan metode penelitian kualitatif (deskriptif). Ada dua jenis data yang digunakan yaitu data primer dan sekunder. Data primer yang digunakan diperoleh melalui observasi lapang, dan wawancara. Hasil kajian menunjukkan bahwa program pemberdayaan berbasis inovasi madu sari alam ternyata telah memberikan manfaat, baik dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dampak ekonomi dapat dilihat dari tambahan pendapatan yang diperoleh anggota kelompok. Peningkatan pendapatan kelompok berasal dari hasil penjualan madu, baik secara online maupun offline. Dampak sosial terlihat dari penguatan kapasitas kelembagaan kelompok, peningkatan kohesivitas kelompok dan kontribusi dalam pengurangan kemiskinan. Manfaat sosial lainnya adalah dalam hal kontribusi pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat karena penyediaan pangan sehat/madu. Dampak lingkungan dapat dilihat dari penanaman pohon sehingga mampu mengurangi emisi. Faktor keberhasilan program ini terletak pada pemberdayaan secara partisipatif baik dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Pendekatan dialog untuk membangun kesadaran pada komunitas juga menjadi pendorong kemandirian kelompok. Kata kunci: inovasi, lebah kelulut, madu sari alam
Penyuluhan Kelimpahan Hama pada Tumpangsari Sawi Hijau dengan Daun Bawang di Pertanian Organik pada Petani Yayasan Bina Bakti: Counseling on Pest Abundance in Collection of Green Saws With Leaves on Organic Agriculture at Bina Bakti Foundation Farmers Agief Julio Pratama; Balqis Khasyafi; Widyani Lailinur; Leonard Dharmawan; Muhammad Iqbal Nurulhaq
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 8 No. 1 (2023): Pemberdayaan Masyarakat berbasis Inovasi Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyuluhan tentang pertanian organik pada petani merupakan nilai tambah dalam pertanian. Salah satu komoditas yang cukup sering dibudidayakan dalam pertanian organik yaitu sawi hijau. Kendala yang dihadapi dalam budidaya sawi hijau secara organik yaitu ganguan dari organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dapat menurunkan produksi. Gangguan yang bersifat merusak merupakan implikasi dari kelimpahan hama yang datang pada suatu kawasan. Tujuan dilakukannya penelitian yaitu memberikan gambaran kelimpahan hama yang tersedia pada dua pola tanam. Penelitian dilakukan di Agatho Organis Farm pada bulan Februari hingga April 2021. Parameter yang diamati meliputi indeks keragaman, indeks kemerataan OPT, indeks kekayaan jenis, tinggi tanaman dan jumlah daun sawi hijau. Hasil penelitian menunjukkan indeks keragaman, indeks kemerataan dan indeks kekayaan (indeks Margalef) rendah pada dua pola tanam yang dilakukan dengan jumlah spesies hama yang merusak terendah pada pola tanam tumpangsari. Kata kunci: penyuluhan, pertanian organik, spesies hama
Pemberdayaan Petani pada Pengolahan Pascapanen Kopi Arabika Proses Full Wash (Coffea arabica L.) di Desa Kalisat Kidul, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara: Empowerment of Farmers in Post-Harvest Processing of Arabica Coffee (Coffea arabica L.) in Kalisat Kidul Village, Kalibening District, Banjarnegara Tri Budiarto; Leo Ayun; Muhammad Iqbal Nurulhaq
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 8 No. 1 (2023): Pemberdayaan Masyarakat berbasis Inovasi Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coffee is one of the important export potentials in world trade. Indonesia is classified as the fourth largest coffee exporting country in the world after Brazil, Vietnam and Colombia. (AEKI, 2020). Aceh Province is one of the centers of Gayo Arabica coffee producers in Indonesia. There are three main production areas for gayo arabica coffee, namely the districts of Central Aceh, Bener Meriah and Gayo Lues. Coffee is the main agricultural commodity for the people in the three districts. Post-harvest processing is the second stage after the coffee cultivation process or production management. This stage is important because the final result in post-harvest processing determines the added value or selling value of the harvest. Post-harvest processing is also an important aspect in coffee development. agriculture in Banjarnegara Regency. After harvesting, the next process is post-harvest processing, so that to support good coffee quality is the correct processing. In general, coffee processing can be divided into two, namely wet processing and dry processing. Arabica coffee produced in the Dieng Plateau (Banjarnegara and Pekalongan Districts) is generally processed by wet processing. The processing of coffee beans in Aceh Tengah and Bener Meriah regencies consists of harvesting, peeling fruit skin, fermentation, washing, drying, peeling the skin of coffee beans, sifting (grinding) and polishing. roasting process, manual sorting, warehousing, packaging and packing as well as process control and quality control. The quality of coffee is largely determined by its handling at harvest and post-harvest. So there is a need for empowerment at the farmer level so that farmers are able to produce good quality in the cultivation process. Key words: arabica coffee, empowerment, cherry, postharvest process