Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 1 No. 2 (2017): Albacore"
:
10 Documents
clear
PERSEPSI PEMANFAATAN PETA DAERAH PENANGKAPAN IKAN DI PERAIRAN SENDANG BIRU MALANG
Onesimus Dhyas Dwi Atmajaya;
Domu Simbolon;
Budy Wiryawan
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2017): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (349.691 KB)
|
DOI: 10.29244/core.1.2.163-170
Perairan Sendang Biru merupakan perairan yang sangat potensial sebagai daerah penangkapan ikan di Pantai Selatan Jawa, lokasi yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia memungkinkan terjadinya masukan-masukan ikan dari perairan bebas sehingga menambah keanekaragaman jenis ikan yang ditangkap. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari DKP Kabupaten Malang (2013) produksi perikanan di Sendang Biru terus meningkat dari tahun ke tahun, dimana pada tahun 2010 produksi perikanan tercatat 9600 ton dan meningkat menjadi 10566 ton pada tahun 2013, dan diprediksi akan terus mengalami peningkatan sekitar 5 % pertahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi para aktor dan agen mengenai informasi pemanfaatan peta perencanaan daerah penangkapan ikan (PPDPI) yang dibuat oleh Balai Penelitian dan Observasi Laut(BPOL). Para aktor berpendapat bahwa PPDPI masih belum terlalu penting, maka dari itu perlu adanya pendekatan secara insentif dari agen dalam pengelolaan perikanan secara berkelanjutan menggunakan PPDPI.Kata kunci: informasi, insentif, persepsi, daerah penangkapan ikan, aktor, agen.
INTENSITAS KERJA PADA AKTIVITAS NELAYAN PURSE SEINE DI KABUPATEN SIKKA
Yohanes DBR Minggo;
Budhi Hascaryo Iskandar;
Fis Purwangka
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2017): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (745.378 KB)
|
DOI: 10.29244/core.1.2.185-197
Data kecelakaan nelayan di Kabupaten Sikka tahun 2014 hingga 2015 disebutkan telah terjadi 10 kasus kecelakaan. Nelayan di Kabupaten Sikka pada umumnya menggunakan alat tangkap purse seine. Pengoperasian alat tangkap purse seine dilakukan secara manual sehingga banyak membutuhkan tenaga dan pikiran yang berpengaruh pada tingkat kelelahan hingga berpotensi terjadinya kecelakaan. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi aktivitas dan melihat intensitas kerja nelayan yang dapat berpotensi menimbulkan kecelakaan pada saat melakukan pengoperasian alat tangkap purse seine. Metode yang digunakan adalah deskriptif numerik dengan analisis Hierarchical Task Analysis (HTA). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 10 tahapan aktivitas dengan jumlah aktivitas sebanyak 62 aktivitas dengan porsi tanggung jawab terbesar adalah kepala kerja. Rangking aktivitas tertinggi terdapat pada tahap ke 5, 8, dan 4 yakni hauling, unloading hasil tangkapan dan setting. Perlu adanya perhatian khusus pada ketiga tahapan tersebut agar proses penangkapan ikan bisa dilakukan dengan baik dan aman.Kata kunci: hta, intensitas kerja, keselamatan kerja,purse seine, Sikka.
KAJIAN KARAKTERISTIK TIPOLOGI PANTAI UNTUK PENGEMBANGAN WISATA REKREASI PANTAI DI SUKA ALAM PERAIRAN SELAT PANTAR KABUPATEN ALOR
Imanuel Lamma Wabang;
Fredinan Yulianda;
Handoko Adi Susanto
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2017): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (353.55 KB)
|
DOI: 10.29244/core.1.2.199-209
SAP Selat Pantar terletak di Kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kawasan ini memiliki daya tarik berupa pantai karang berpasir putih yang landai dengan pemandangan bawah laut yang indah. Penelitian ini dilaksanakan di SAP Selat Pantar Kabupaten Alor, pada bulan Agustus s/d Oktober 2016. Penelitian bertujuan untuk mengkaji kesesuaian kawasan untuk kegiatan wisata rekreasi pantai dan menganalisis daya dukung (carrying capacity) kawasan SAP Selat Pantar untuk kegiatan wisata bahari berbasis ekologi. Penelitian ini menggunakan data primer pengambilan data analisis kualitas air, metode penentuan kesesuaian kawasan berdasarkan perkalian skor dan bobot yang diperoleh dari setiap paremeter, kedalaman, tipe pantai, lebar pantai, kecerahan, kecepatan arus, material dasar perairan, pengamatan biota berbahaya, dan ketersediaan air tawar. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa potensi ekowisata pantai di SAP Selat Pantar ditemukan ada dua kategori yaitu kategori sangat sesuai dengan nila IKW mencapai 85.71% dan kategori sesuai dengan nilai IKW sebesar 64.24%. Daya dukung kawasan kategori ekowisata rekreasi pantai 302 (Orang/hari).Kata kunci : ekowisata pantai, kesesuaian kawasan, daya dukung kawasan, SAP Selat Pantar.
KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN DAN UKURAN LOBSTER DENGAN JARING INSANG DI PERAIRAN KABUPATEN ACEH JAYA
Irfannur -;
Ronny Irawan Wahju;
Mochammad Riyanto
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2017): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (728.318 KB)
|
DOI: 10.29244/core.1.2.211-223
Kabupaten Aceh Jaya memiliki potensi perikanan lobster yang cukup potensial untuk dikembangkan menjadi komoditi unggulan perikanan. Terdapat 6 spesies lobster yang bernilai ekonomis tinggi di perairan Aceh Jayayaitu Panulirus homarus, P. longipes, P. ornatus, P. penicillatus, P. polyphagus dan P. versicolor.Tujuan penelitian adalahmenganalisis komposisi jenis dan distribusi ukuran hasil tangkapan lobster di perairan Aceh Jaya, mengetahui hubungan panjang dan berat lobster dikaitkan dengan panjang karapas pertama kali matang gonad (CLM) dan aturan yang ada, dan mengestimasi produktivitas penangkapan lobster dengan jaring insang (gillnet) di perairan Aceh Jaya. Pengumpulan data dilakukan dengan survei lapang di lokasi pendaratandan tempat pengumpulan lobster padabulan Januari-Febuari tahun 2016 di Kabupaten Aceh Jaya. Komposisi hasil tangkapan gillnet lobster didominasi oleh P. penicillatussebanyak 31.41%, diikuti oleh P. homarus sebanyak 27.92%, P. longipes sebanyak 22.17%,P. versicolor sebanyak 11.97% dan P. ornatus sebanyak 4.68%. Pola hubungan panjang dan berat ke lima jenis lobster yang tertangkap bersifat allometrik negatif. Hasil tangkapan lobster yang layak tangkap berkisar antara 56.66 – 100%, jika dibandingkan dengan PERMEN-KP No 56 tahun 2016 dengan ukuran legal tangkap diatas 8 cm sebesar60.00 – 90,00%. Produktivitas penangkapan lobster menggunakan gillnet terjadi pada bulan April sebesar 2.440 kg/trip dan terendah pada bulan Januari sebesar 1.330 kg/trip.Kata kunci: jaring insang, lobster, panulirus, produktivitas penangkapan.
PENENTUAN ALAT TANGKAP UNGGULAN UNTUK IKAN PELAGIS KECIL DI PALABUHANRATU SUKABUMI
Joharis Silaban;
Mustaruddin -;
Deni Achmad Soeboer
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2017): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (323.766 KB)
|
DOI: 10.29244/core.1.2.225-234
Pantai Palabuhanratu terletak pada titik koordinat 70- 70 12’ lintang selatan dan 1060 21’ - 1060 31’ bujur timur. Perairan teluk ini berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, sehingga kondisi perairan dan ikan yang terdapat di perairan teluk banyak dipengaruhi oleh perairan Samudera Hindia (PPN Palabuhanratu 2007). Permasalahan yang menyangkut keberlanjutan perikanan tangkap adalah perilaku nelayan, produktivitas penangkapan, tingkat pendapatan, ketersediaan sumberdaya ikan dan kegiatan pengelolaan (manajemen) perikanan tangkap ikan pelagis kecil itu sendiri. Untuk mengoptimalkan perikanan pelagis kecil secara berkelanjutan maka dibutuhkan analisis dengan menggunakan skoring untuk menentukan alat tangkap unggulan untuk perikanan pelagis kecil. Usaha penangkapan ikan pancing ulur memiliki nilai tertinggi berdasarkan aspek lingkungan sedangkan bagan apung adalah alat tangkap yang memiliki nilai tertinggi berdasarkan aspek teknik,sosial dan ekonomi. Secara keseluruhan alat tangkap bagan apung merupakan alat tangkap yang unggul untuk perikanan pelagis kecil. Kesimpulan dari penelitian ini adalah alat tangkap unggulan untuk perikanan pelagis kecil di perairan Pelabuhanratu berdasarkan aspek teknik, ekonomi, sosial dan lingkungan yaitu bagan apung.Kata kunci: keberlanjutan, skoring, pengelolaan, unggulan.
PENGGUNAAN LAMPU LIGHT EMITTING DIODE (LED) BIRU TERHADAP HASIL TANGKAPAN BAGAN APUNG DI KABUPATEN ACEH JAYA
Khairul -;
Wazir Mawardi;
Mochammad Riyanto
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2017): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (602.447 KB)
|
DOI: 10.29244/core.1.2.235-243
Nelayan bagan apung di Aceh menggunakan lampu neon berwarna putih sebagai alat bantupenangkapan ikan. Saat ini berkembang lampu Light Emitting Diode (LED) biru sebagai alternatifsumber cahaya pada perikanan bagan yang hemat energi, namun belum diketahui efektivitasnya.Penelitian ini membandingkan hasil tangkapan antara lampu neon warna putih dan LED biru. Tujuandari penelitian ini adalah untuk menentukan komposisi hasil tangkapan lampu neon dan LED biru.Pengambilan data dilakukan dengan uji coba penangkapan ikan dengan mengoperasikan 2 unit bagansecara bersamaan di lokasi yang berdekatan selama 10 hari operasi pada bulan September-Oktober 2016di Gampoeng Lhoek Kruet, Kabupaten Aceh Jaya. Bagan pertama dengan menggunakan lampu neonsebagai kontrol dan bagan kedua dengan lampu LED biru. Komposisi hasil tangkapan bagan denganLED biru terdiri dari 6 spesies ikan yaitu teri (Stolephorus insularis ) sebesar 47%, rebon (Mysis relicta)20%, layur (Trichiurus savala) 7%, cumi-cumi (Mastigoteuthis Flammea) 3%, gerot-gerot (Pamadasysmaculatus) 7% dan talang-talang (Scomberoides commersonnianus) 16%. Penggunaan lampu LEDsecara signifikan meningkatkan total tangkapan sebesar 31,15% dibandingkan dengan lampu neon.Lampu LED biru ini cocok untuk menangkap ikan layur dan cumi-cumi.Kata kunci: bagan apung, lampu biru, lampu neon, light emitting diode (LED).
STRATEGI OPTIMALISASI FUNGSI PELABUHAN PERIKANAN DALAM PEMASARAN HASIL TANGKAPAN DI PPP LEMPASING
Aprilia Syah Putri;
Iin Solihin;
Eko Sri Wiyono
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2017): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (277.103 KB)
|
DOI: 10.29244/core.1.2.171-183
Provinsi Lampung memiliki sumberdaya perikanan laut yang sangat besar mencapai 388.000 ton/tahun. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Lempasing merupakan salah satu pelabuhan terbesar di provinsi lampung yang tidak terlepas dari aktivitas pemasaran hasil tangkapan. Banyak permasalahan yang terjadi pada sistem pemasaran di pelabuhan perikanan untuk mencapai pemasaran yang efisien sehingga diperlukan strategi optimalisasi fungsi pelabuhan perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efisiensi pemasaran hasil tangkapan pada 5 komoditas ikan dan merumuskan strategi optimalisasi fungsi pelabuhan perikanan dalam pemasaran hasil tangkapan di PPP Lempasing. Metode yang digunakan adalah metode survey dan metode wawancara yang meliputi kepala pelabuhan, nelayan dan pedagang. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis efisiensi pemasaran dan analisis SWOT dengan metode USG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya cumi-cumi yang memiliki nilai efisien yang tinggi (3,33%). Strategi optimalisasi fungsi pelabuhan perikanan meliputi 3 strategi utama yaitu meningkatkan mutu hasil tangkapan pasca panen, peningkatan higenitas dan sanitasi di area sekitar tpi serta peningkatan sosialisasi kepada pedagang dan nelayan terkait mutu ikan.Kata Kunci: analisis SWOT, efisiensi pemasaran, metode USG, Pelabuhan Perikanan, PPP Lempasing, strategi.
STRATEGI PENCEGAHAN PENCEMARAN LINGKUNGAN PELABUHAN PERIKANAN : KASUS PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA PALABUHANRATU
Aris Wahyudi;
Ernani Lubis;
Anwar Bey Pane
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2017): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (596.81 KB)
|
DOI: 10.29244/core.1.2.139-152
Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu (PPNPr) yang terletak di Teluk Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu dari 15 Pelabuhan Perikanan Nusantara di Indonesia. Produksi perikanan tangkap di PPNPr tahun 2015 adalah 9.122.320 kg. Banyaknya produksi hasil tangkapan tanpa adanya pengelolaan yang baik pada aktivitas pendaratan, pengolahan, dan pemasaran, serta aktivitas lain akan berdampak buruk terhadap kondisi lingkungan PPNPr. Pencemaran lingkungan di PPNPr menjadi permasalahan penting yang harus dicari solusinya agar tercipta pelabuhan berwawasan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pencegahan pencemaran lingkungan di PPNPr dan menentukan strateginya. Metode penelitian ini adalah studi kasus terhadap strategi pencegahan pencemaran lingkungan pelabuhan perikanan kasus PPNPr. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder yang selanjutnya dilakukan analisis deskriptif kualitatif, spasial dan Strength Weakness Opportunity Treath (SWOT). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa pelaksanaan pencegahan pencemaran lingkungan di PPNPr telah melakukan kegiatan kebersihan, keamanan dan ketertiban (K3) yang belum optimal (belum dilengkapi peraturan, fasilitas, anggaran, pedoman praktis, sanksi dan sosialisasi). Strategi yang perlu dilakukan untuk pencegahan pencemaran lingkungan di PPNPr adalah peningkatkan kinerja pengelola dan pengguna pelabuhan dengan melaksanakan program kerja bersama, penerapan peraturan dengan sanksi yang tegas, dan pengawasan ketat, serta meningkatkan sosialisasi kepada pengguna terhadap kebersihan lingkungan pelabuhan.Keywords : pelabuhan perikanan, pencemaran, palabuhanratu, SWOT.
PENERAPAN METODE BALANCED SCORECARD SEBAGAI SISTEM PENGUKURAN KINERJA PADA GALANGAN KAPAL KPNDP DKI JAKARTA
Izza Mahdiana Apriliani;
Sugeng Hari Wisudo;
Budhi Hascaryo Iskandar;
Yopi Novita
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2017): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (102.55 KB)
|
DOI: 10.29244/core.1.2.153-161
Galangan kapal merupakan salah satu kebutuhan kapal dalam menentukan kelaikan kapal di laut. Potensi bisnis galangan kapal yang besar di wilayah Muara Angke belum dimanfaatkan dengan baik oleh pengelola perusahaan galangan kapal. Terbukti dengan keberadaan galangan kapal yang belum berkembang namun berbanding terbalik dengan jumlah kapal yang meningkat setiap tahunnya. Galangan kapal Koperasi Pegawai Negeri Dinas Perikanan (KPNDP) DKI Jakarta di Muara angke merupakan salah satu dari keempat galangan yang berada di wilayah muara angke. Galangan ini memiliki tingkat produktivitas yang tinggi dan selalu meningkat setiap tahunnya berdasarkan data produksi UPT BTPI dari tahun 2009 sampai 2012. Penilaian teknologi galangan kapal ini berada pada level semi modern. Perlu dilakukan analisis lebih lanjut terkait strategi pengembangan teknologi di galangan kapal KPNDP. Perumusan strategi perlu didahului dengan penilaian kinerja. Penilaian dilakukan dengan metode balanced scorecard. Balanced scorecard memberikan suatu kerangka kerja bagi pihak manajemen untuk menerjemahkan misi dan strategis organisasi. Analisis hasil penilaian kinerja didapatkan hasil sebesar 73. Skor ini menunjukkan bahwa galangan kapal KPNDP harus melakukan inisiatif-inisiatif (strategi) dalam pengembangan manajemen teknologinya.Kata kunci : balanced scorecard, galangan kapal, penilaian kinerja.
BENTUK LINGGI HALUAN KAPAL PENANGKAP IKAN (KURANG DARI 30 GT)
Tri Nanda Citra Bangun;
Yopi Novita;
Budhi Hascaryo Iskandar
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2017): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (458.653 KB)
|
DOI: 10.29244/core.1.2.127-137
Haluan kapal merupakan bagian terdepan yang terkena dampak secara langsung terhadap gelombang laut. Di Indonesia, haluan kapal ikan memiliki keragaman dan ciri khusus yang disesuaikan dengan karakteristik setiap daerahnya. Bentuk haluan kapal ikan diduga disesuaikan dengan unit alat tangkap, daerah penangkapan ikan, dan daerah pembuatan kapal. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi bentuk linggi haluan kapal berdasarkan jenis alat tangkap, daerah penangkapan, dan daerah pembuatan kapal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dan studi pustaka. Analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan parameter alat tangkap yang digunakan, daerah penangkapan ikan, dan daerah pembuatan kapal. Melalui proses survei dan studi pustaka, diperoleh tiga puluh kapal sampel. Kapal sampel teridentifikasi menjadi dua bentuk linggi haluan, yaitu bentuk haluan miring (raked bow) dan bentuk haluan sendok (spoon bow). Berdasarkan hasil analisa, bentuk linggi haluan dibuat masyarakat nelayan di galangan kapal dengan mempertimbangkan suatu kebiasaan suatu daerah dalam membuat kapal.Kata kunci: bentuk haluan kapal, kapal ikan, raked bow, spoon bow.