cover
Contact Name
Muchamad Suradji
Contact Email
jurnaldarelilmi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaldarelilmi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. lamongan,
Jawa timur
INDONESIA
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora
ISSN : 23033487     EISSN : 25500953     DOI : -
Core Subject : Education,
DAR EL-ILMI: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan, dan Humaniora diterbitkan oleh Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul Ulum Lamongan. Terbit pada bulan April dan Oktober setiap tahun. DAR EL-ILMI: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan, dan Humaniora memuat kajian-kajian ilmiah tentang pemikiran dalam bidang Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora dalam bentuk: 1) Hasil penelitian, 2) Gagasan konseptual, 3) Kajian kepustakaan, dan pengalaman praktis.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 2 (2018): Oktober" : 11 Documents clear
NALAR SUFISTIK ISLAM NUSANTARA DALAM MEMBANGUN PERDAMAIAN Sauqi Futaqi
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 2 (2018): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.357 KB)

Abstract

Tulisan ini mencoba menemukan nalar sufistik dalam pemikiran Islam Nusantara. Kajian ini bertujuan untuk (1) melakukan konstruksi nalar sufistik yang sebenarnya memiliki basis historis yang cukup kuat dalam pergumulan Islam di Nusantara; (2) menjadikan nalar sufistik sebagai tawaran dalam membangun perdamaian dunia. Untuk menemukan konstruksi ini, penulis akan memulai dengan pembahasan diskursus Islam Nusantara dalam rangka untuk menemukan legitimasi historis nalar sufistik. Dengan legitimasi historis ini, penulis mencoba menemukan konstruksi nalar sufstik yang dibangun dalam pergumulan Islam di Nusantara. Berdasarkan kajian yang penulis lakukan, konstruksi nalar sufistik ini memuat nalar sufistik yang dominan, yakni 1) nalar sufistik menjadikan Tuhan sebagai pusat; 2) nalar sufistik sangat memperhatikan aspek keikhlasan dan kekhusu’an; 3) nalar sufistik dibangun berdasarkan model keberagamaan berbasis afektif dan rasa, dengan semangat peningkatan moral dan keluhuran budi pekerti; 4) nalar sufistik dikonstruksi melalui pemahaman keagamaan yang inklusif dan toleran. Empat konstruksi nalar sufistik ini menjadi penting dalam membangun perdamaian dunia. Dalam tataran teoritis, kehadirannya dapat menembus tembok-tembok pemisah antara satu disiplin keislaman dengan disiplin keislaman dan antara disiplin keislaman dengan displin keilmuan lainnya. Dalam tataran praktis, konstruksi nalar ini akan berkontribusi dalam mengatasi hambatan atau keterbatasan hubungan yang disebabkan perbedaan keyakinan, agama, paham/aliran dalam internal umat beragama, budaya, adat istiadat, kedaerahan, dan perbedaan lain yang melekat pada individu.
PERBEDAAN KUALITAS MODEL PENSEKORAN KOMPOSIT DAN PENALTI DITINJAU DARI DAYA BEDA DAN RELIABILITAS BUTIR SOAL PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Siti Hajaroh
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 2 (2018): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan daya beda butir antara sekor siswa yang dihitung dengan menggunakan sekor komposit dan sekor penalti pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, untuk mengetahui perbedaan reliabilitas butir antara sekor siswa yang dihitung dengan menggunakan sekor komposit dan sekor penalti pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini disebut quasi eksperimental karena data-data diperoleh melalui kegiatan eksperimen, Quasi experimen digunakan karena pada kenyataanya sulit mendapatkan kelompok kontrol yang digunakan untuk penelitian. Adapun rancangan penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan The Posttest-Only Design with nonequivalent Group.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN I Gerung Kabupaten Lombok Barat yang berjumlah 312 siswa yang kemudian diambil secara acak yang dijadikan sebagai sampel. Uji hipotesis penelitian yakni melakukan uji kesamaan dua rerata:kedua kelas berdistribusi normal dan homogen, maka dilakukan uji kesamaan dua rerata (Uji-t) melalui uji dua pihak menggunakan independent sample t-test. Hasil uji hipotesis I menunjukkan bahwa thitung= 0,471 sehingga thitung= 0,471 >Ltabel(0,05:78)=1,669Maka H0 diterima dan H1 ditolak , pada taraf signifikan α=0,05 artinya tidak terdapat perbedaan Daya Beda antara sekor komposit dengan. Penalti. Ini menunjukkan bahwa jika ditinjau dari dari rata-rata kedua sekor, maka penekoran kedua kelompok tersebut adalah relatif sama. Dan hasil uji hipotesis ke 2 menunjukkan bahwa thitung= 4,2 sehingga thitung= 4,2>Ltabel(0,05:10)=1,812, Maka H0 ditolak dan H1 diterima pada taraf signifikan α=0,05 artinya terdapat perbedaan Reliabilitas antara sekor komposit dengan penalti. Melihat perbandingan rata-rata dari kedua model pensekoran menunjukkan sekor penalti lebih tinggi dari pada sekor komposit. Artinya bahwa reliabilitas model pensekoran penalti lebih tinggi di banding dengan komposit
A CONTRASTIVE ANALYSIS OF INTERROGATIVE SENTENCES IN ENGLISH AND INDONESIAN LANGUAGE Khoirul Huda
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 2 (2018): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.497 KB)

Abstract

Human beings are social creatures. They need a language for communication. A human being who came from different country has different language for communication. Although the languages are different, those have some similarities. The similarities of languages make the students easy to learn the languages as second or foreign languages. However, the differences of languages cause students face some difficulties to learn other languages. This research has analyzed some differences of interrogative sentences in English and Indonesian language in order to contribute positively in language learning and teaching. This research uses a method to know the differences between two languages. The method is contrastive analysis. Contrastive Analysis is a method of language analysis that popular in linguistic study in middle of 20th century. This method is used to contrast between two languages that have differences. Through this method, linguists or language learners find the differences which make them find the difficulties of languages which make them find the conveniences in learning. Interrogative sentences that have been analyzed in this research are sentences have essential roles in communications and learning language process too. Through this sentence, questioners obtain some information from respondent and teachers also invite the students’ idea. Before analyze the differences between two languages, this research presents the data presentation that explains the kinds of interrogative sentences in English and Indonesian language clearly. Then, researcher contrast two languages to find out differences of them. The differences between two languages are found, such as in placing of question words, the use of “who”, the form of interrogative sentences, tag questions. Based on this analysis can be known that interrogative sentences in English and Indonesian language have brief differences. The research findings have been found based on the structure and the uses of sentences.
DISKRIMINASI GENDER DALAM KEBIJAKAN PESANTREN Suwarno Suwarno
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 2 (2018): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.825 KB)

Abstract

Pondok pesantren Al Muhamad Cepu sebagai lembaga pendidikan Islam yang bercorak salaf dan modern tidak menutup kemungkinan terdapat beberapa kebijakan yang masih di anggap diskriminatif terhadap kesetaraan gender contoh kasus kebijakan seperti adanya penekanan dan memperketat peraturan pada santri putri pada saat izin keluar, dengan alasan menjaga untuk tidak terjadi hubungan ghoiru muhrim (lawan jenis), ruang relasi gender terasa sangat minim sekali di pesantren ini, mengutip pernyataan omid safi bahwa kesetaraan dan keadilan gender harus diberikan kepada kaum wanita bukan sebagai hadiah atau belas kasihan, melainkan mereka adalah bagian dari umat manusia yang memang memiliki hak melekat atas semua yang semestinya mereka dapatkan. Penelitian ini dilakukan untuk memahami secara mendalam kondisi pesantren Al Muhamad Cepu yang menimbulkan perlakuan diskriminatif terhadap santri putri. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan instrument kunci adalah peneliti sendiri. Sedangkan dalam proses pengumpulan datanya peneliti menggunakan alat bantu instrument yaitu berupa lembaran catatan data, tape recorder, foto, dan instrumen lain yang terkait dengan kebutuhan peneliti. Penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa di pondok pesantren Al Muhamad Cepu telah berjalan sebuah peraturan yang baik untuk membentuk pribadi disiplin dengan harapan alumninya akan menjadi insan yang berbudi luhur dan berakhlaqul karimah, karena pesantren bertindak dan berfungsi sebagai bengkel moral. Tetapi apabila dilihat dengan kacamata kesetaraan gender pedoman pengasuh yang masih normatif dan bersifat universal seperti tidak melanggar molimo dan memiliki azas manfaat yang dijadikan landasan oleh pengurus keamanan santri putri. penafsiran dan pengejawantahannya di lapangan masih cenderung bersifat patriarkhi, dengan bukti adanya perbedaan peraturan antara santri putri dengan santri putra dalam hal urusan keluar pesantren. Pesantren putri lebih terasa diperketat daripada pesantren putra, pesantren putri lebih sulit untuk menjalin relasi di luar sedangkan pesantren putra bebas.
ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA ARAB MAHASISWA UNIVERSITAS ISLAM DARUL ‘ULUM LAMONGAN JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB Ida Latifatul Umroh
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 2 (2018): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.027 KB)

Abstract

Kesalahan berbahasa dan pengajaran bahasa merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dalam mengajarkan bahasa pasti ditemukan kesalahan-kesalahan berbahasa yang dilakukan pembelajar. Kesalahan-kesalahan tersebut bisa diminimalisir bahkan dihilangkan jika telah diketahui pola kesalahan yang dilakukan oleh pembelajar bahasa. Pendidikan bahasa Arab merupakan salah satu jurusan di universitas Islam darul ‘ulum Lamongan. Sebagai jurusan bahasa Arab, mahasiswanya harus mampu menggunakan bahasa Arab dengan baik, terutama dalam hal tulisan, karena tugas akhir yang berupa skripsi harus ditulis dengan menggunakan bahasa Arab. Kenyataannya, dalam proses pembelajaran bahasa Arab nampak mahasiswa melakukan banyak kesalahan dalam penggunaan kaidah bahasa Arab. Hal tersebut yang menarik peneliti untuk melakukan penelitian tentang kesalahan berbahasa Arab. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kesalahan bahasa Arab yang berfokus pada kesalahan tulisan dalam kategori linguistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian lapangan, karena data yang dikumpulkan langsung dari lokasi penelitian, yaitu universitas Islam darul ‘ulum Lamongan. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa ada empat jenis kesalahan yang dilakukan mahasiswa, yaitu: fonologi, morfologi, sintaksis, dan kesalahan semantik.
IMPLEMENTASI MEDIA PAPAN MAHIR BAHASA ARAB DALAM PEMBELAJARAN MAHAROH KITABAH Khoirotun Ni’mah
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 2 (2018): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.305 KB)

Abstract

Mata pelajaran bahasa Arab menempati posisi yang penting dalam pendidikan. Materi bahasa Arab terdiri dari beberapa keterampilan yaitu: maharah istima’, maharah kalam, maharah qiro’ah dan maharah kitabah. Maharah kitabah merupakan keterampilan berbahasa yang rumit, namun kerumitan itu dapat kita atasi dengan menghadirkan media pembelajaran. Papan mahir bahasa Arab merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk pembelajaran bahasa Arab pada maharah kitabah. Media papan mahir bahasa Arab dirancang dengan sistem bermain sehingga dalam pembelajaran media papan mahir bahasa Arab memberikan suasana bermain yang menyenangkan dan meningkatkan semangat belajar anak.
OPTIMALISASI KESEDERHANAAN SARANA PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN SALAFIYYAH DALAM MEMBENTUK KARAKTER ISLAMI Siti Lathifatus Sun’iyah
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 2 (2018): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.095 KB)

Abstract

Modernisasi lembaga pendidikan tidak terlepas dari pengembangan sarana pendidikan. Lembaga pesantren Salafiyah yang dibuat dengan kesederhanaan terkesan tidak dapat optimal dalam penyelenggaraan pendidikannya. Kesederhanaan sarana pesantren tidak menyurutkan santri untuk berprestasi. Keunggulan pesantren Salafiyah terletak pada keberadaan. Asrama sebagai tempat yang menyediakan lingkungan mendukung praktek pembiasaan berperilaku Islami. Masjid merupakan sarana pendidikan pesantren karena sistem pembiasaan memerlukan tempat tersebut sebagai pembiasaan salat berjamaah dan amaliah lainnya. Pembelajaran ilmu ‘Alat juga merupakan sarana pendidikan sudah dioptimalkan di pendidikan pesantren Salafiyah. Pergaulan di lingkungan pesantren jauh lebih terjaga daripada pergaulan muda-mudi lainnya. Hal ini dapat dioptimalisasi dengan kelompok belajar bersama.
METODE PEMBELAJARAN DALAM PERSPEKTIF HADIS NABI Khotimah Suryani
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 2 (2018): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.196 KB)

Abstract

Pembelajaran merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan seseorang melalui serangkaian kegiatan membaca, mengamati, meniru dan mengikuti arahan. Pembelajaran akan lebih baik jika subyek belajar mengalami sendiri apa (materi) yang dibelajarkannya, sehingga proses transfer ilmu tidak bersifat verbalistik tetapi bersifat pengalaman individual (teacher’s experience). Sementara proses transfer ilmu ke objek -dalam batas tertentu- membutuhkan metode dan teknis operasional, agar capaian pembelajaran dapat diperoleh secara maksimal. Masa Nabi adalah masa yang singkat dalam proses transfer ilmu (hadis). Masa ini menuntut keseriusan dan kehati-hatian para sahabat sebagai generasi pertama pewaris ajaran Islam dan penerima pertama sumber hukum Islam yang kedua (hadis), karena di tangan merekalah hadis harus terjaga dan tersebar kepada pewaris selanjutnya secara simultan dan berkesinambungan. Penyampaian dan penyebaran hadis dimulai dari proses pembelajaran Nabi kepada para sahabatnya sehingga metode pembelajaran Nabi perlu dikaji. Terkait dengan persoalan ini, perlu dibahas beberapa hal: (a) bagaimana perkembangan hadis pada masa Nabi; (b) bagaimana keadaan pembelajaran hadis pada masa Nabi; dan (c) bagaimana metode pembelajaran Nabi dalam proses penyebaran hadis kepada murid-muridnya (sahabatnya). Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan beberapa hal berikut: (1) Hadis yang diterima sahabat tertentu (setelah mendapat pembelajaran dari Nabi) disebarluaskan kepada orang lain. Para sahabat sibuk mengkaji hadis disamping kesibukan harian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagi sahabat yang tidak bisa selalu hadir di majlis Nabi, melakukan perjanjian sesama mereka untuk bergantian datang di majlis Nabi. Dengan begitu, hadis berkembang dari mulut ke mulut hingga dapat terwariskan kepada generasi sesudah mereka, bahkan sampai hari ini; (2) Pembelajaran hadis dilakukan sejak permulaan wahyu turun, yakni ketika Nabi masih di Makkah, sekalipun hanya terfokus pada sedikit tempat. Sedang ketika di Madinah, dakwah Nabi tidak hanya terfokus pada sedikit tempat melainkan banyak tempat, artinya dimana ada kesempatan dakwah maka di situ hadis dibelajarkan; (3) Pembelajaran Nabi dilakukan melalui tahapan yang bersifat gradual, dengan cara elegan, bersifat variatif, melalui keteladanan dalam kehidupan praktis, selalu mempermudah umat (murid-muridnya) dalam mengikuti pembelajarannya, dan tidak diskriminatif. Artinya, pembelajaran Nabi tidak terbatas pada kaum dengan level tertentu, usia tertentu dan jenis kelamin tertentu, karena tugas Nabi adalah melakukan pencerahan untuk semua umat.
PEMIKIRAN KALAM SYEKH ABDUL QODIR AL-JAILANI Mahbub Junaidi
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 2 (2018): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.384 KB)

Abstract

Di akhir abad V dan awal abad VI yang berada dalam pergolakan poltik yang hebat memberikan pengaruh tersendiri dalam karakter berfikir maupun pola hidup masyarakat, tidak terkecuali para tokoh dan ulama muslim. Kenyataan ini tidak menyeret Abdul Qadir ke dalam kelamnya kebodohan dan ketidak berdayaan. Justru keadaan ini menjadikannya pribadi yang penuh dengan keyakinan, optimis dan senentiasa membangun jiwa maupun keilmuanAl-Jailani mengajarkan: berbagai disiplin ilmu keislaman, seperti Tauhid, Fiqih, Tafsir, hingga Tasawuf. Dalam bidang Tauhid ia mengajarkan secara garis besar ketauhidan yang dibangun olehnya sama dengan konsep Ahlu Sunnah wal jama’ah. Dalam masalah kenabian ia mengharuskan umat islam harus meyakini Muhammad bin Abdullah adalah Rasulullah dan pemimpin para Rasul serta penutup para Nabi, tidak ada nabi sesudahnya. Tentang kiamat, ia mengajarkan akan ada pembalasan bagi seluruh manusia. Ruh para syuhada’ dan orang-orang mukmin akan datang menemui jasadnya lagi ketika peniupan ruh yang kedua ke bumi untuk klarifikasi dan penghitungan amal. Dalam hal Bid’ah ia menegaskan, bahwa tidak ada keberuntungan hingga umat islam mengikuti al-Kitab dan al-Sunnah. Lebih lanjut ia menegaskan pentingnya mengikuti ulama’ dalam memahami nash-nash al-Qur’an dan sunnah. Terhadap pemimpin ia mengajarkan konsep kehidupan sosial politik Aahlu Sunnah wal Jama’ah, bahwa umat harus mendengar dan mentaati pemimpin Islam, mengikuti mereka, shalat di belakang mereka, baik pemimpin yang adil, jahat, maupun lalim, baik orang yang menggantinya maupun orang yang yang mewakilinya.
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN LIFE SKILL DALAM PEMBENTUKAN KEMANDIRIAN SANTRI Desy Naelasari
DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora Vol 5 No 2 (2018): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.531 KB)

Abstract

Learning in school should be useful for the provision of student life in the present and the future. Boarding school program the students are generally preoccupied with the Koran. This is in contrast with the PP-UW, students are not only taught here mrngaji, but students are also equipped with the skills / life skills / commonly called pious charity. Through this pious charity, the students had a spirit of independence. This study was to determine how the Life Skill education at UW-PP, PP-independence students at UW and implementation of Life Skill Education in the Formation of Self-Reliance Students in PP-UW. This research included the category of field research (fieldwork). Dippergunakan data collection techniques; interviews, observations and the data dokumentasi.analisis include; reduction, presentation and conclusion and verification. While the validity of test data is done by triangulai techniques and resources. From this research, life skill education in PP-UW existed since Abah Qoyim leadership. Education at boarding school al Urwatul Wutsqo is tarekah education where each job prioritizing practice than theory. Autonomy of each students in PP-UW, can be demonstrated by the students responsibility for their respective duties, students proficient create on, students become spoiled, students can determine the direction of his own life, the students were able to adapt to the outside environment, students become dependent on others , students skilled in solving their own problems, and students can take care of himself. Self-reliance here is not simply to open a business, but to glorify God. Implementation of life skills education in the formation of self-sufficiency in PP-UW students can be seen from their charitable activities in PP-UW pious soul kemandiran establish yourself each students. So, when the students out of the hut, they have the skill / expertise, skills in other areas, which will be useful in future society.

Page 1 of 2 | Total Record : 11