cover
Contact Name
Argyo Demartoto
Contact Email
jas@mail.uns.ac.id
Phone
+62271637277
Journal Mail Official
jas@mail.uns.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.uns.ac.id/jas/about/editorialTeam
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Analisa Sosiologi
ISSN : 23387572     EISSN : 26150778     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Analisa Sosiologi (JAS) diterbitkan per semester pada bulan April dan Oktober oleh Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan ISSN : 2338 - 7572 (Print) dan ISSN: 2615-0778 (Online). JAS berdasarkan kutipan dan keputusan Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor: 21/E/KPT/2018, tanggal 9 Juli 2018 tentang hasil akreditasi jurnal ilmiah periode 1 tahun 2018, telah terakreditasi Peringkat 4 yang berlaku 5 Tahun, yaitu Volume 5 Nomor 1 tahun 2016 sampai Volume 9 Nomor 2 Tahun 2020. JAS memfokuskan diri pada hasil penelitian terkait isu-isu sosial-kontemporer di Indonesia, khususnya yang berkenaan dengan perkembangan masyarakat dari berbagai aspek. Selain itu, JAS juga menerima artikel yang bersumber pada telaah pustaka terkait dengan upaya pengembangan teori-teori sosiologi. Informasi mengenai JAS juga bisa diperoleh melalui media sosial.
Articles 225 Documents
EKSKLUSIFITAS SISWA (STUDI FENOMENOLOGI KONSTRUKSI SOSIAL POLA EKSKLUSIFITAS SISWA PADA KELAS UNGGULAN DI SMA MUHAMMADIYAH 1 SRAGEN TAHUN AJARAN 2011/2012) Rita Indawatik; Drajat Tri Kartono; Trisni Utami
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.816 KB) | DOI: 10.20961/jas.v2i1.17386

Abstract

Superior class (school) is designed to provide adequate learning service to the students with high academic competency. Consequently, this strategy cannot support the attempt of optimizing the rapid development of human resource. On the other hand, the superior class phenomenon also gives rise to exclusive behavior in which the students tend to make group and have intercourse with their superior classmates only. It is that makes the author interested in finding out how the exclusiveness pattern of behavior emerges in the superior students.The research strategy employed was phenomenological study. The respondent was selected using purposive sampling technique considering the compatibility between information and the problem studied. This study was based on constructivism paradigm under the heading of Social Definition paradigm. This Peter L. Berger’s constructivism idea stated that in constructivism idea, learning was based on the students’ understanding.The exclusiveness behavioral pattern in the superior students occurred in thought, appearance, space, facility pattern and intercourse. Meanwhile, the process of exclusiveness process establishment occurred since they were stated as passing the admission test in superior class. The factors supporting the establishment of exclusiveness pattern were school policy, parent and student because of the process of interpreting their status as the students of superior class. Keywords: social construction, exclusiveness, superior students.
TEKNOLOGI DAN KEHIDUPAN MASYARAKAT Hendro Setyo Wahyudi; Mita Puspita Sukmasari
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.823 KB) | DOI: 10.20961/jas.v3i1.17444

Abstract

Kemajuan teknologi saat ini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Berbagai informasi yang terjadi di berbagai belahan dunia kini telah dapatlangsung kita ketahui berkat kemajuan teknologi (globalisasi). Pengaruhglobalisasi, sekarang ini tidak dapat dipungkiri lagi karena banyaknyakemajuan teknologi yang masuk kedalam Negara dan bangsa kita.Berikut iniadalah beberapa tindakan yang bisa menghindari penyalah gunaanHandphone. (1) Menolak ajakan teman untuk menyimpan maupun melihathal-hal yang meyangkut pornoaksi dan pornografi. (2) Tidak membawahandphone ke sekolah atau mematikan handphone saat pelajaran berlangsungagar tidak mengganggu konsentrasi belajar. (3) Ketika berada dirumahsebaiknya mengatur waktu sebaik-baiknya antara belajar dan menggunakanhandphone. (4) Belajar sebaik mungkin agar tidak sampai menggunakanhandphone saat ujian. (5) Menghindari mengakses situs porno ataumendownload konten-konten porno darihandphone. (6) Menggunakanhandphone jika diperlukan dan untuk hal-hal yang penting saja. (7)Memperbanyak konten-konten religi pada handphone. (8) Memberi kodepengaman pada handphone jika diperlukan. Dalam hal ini pengawasan dariorang tua juga sangat penting. Mengingat banyaknya kenakalan remaja yangkurang diperhatikan oleh orang tua.Kata kunci: Globalisasi, teknologi, penyimpangan anak.
PERAN UMKM DALAM PEMBANGUNAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT KABUPATEN BLORA Adnan Husada Putra
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.524 KB) | DOI: 10.20961/jas.v5i2.18162

Abstract

According data from the Ministry of Cooperatives and Small and Medium Enterprises in 2014, there are about 57.8 million actors of MSMEs in Indonesia. In 2017 and the next few years it is estimated that the number of MSME perpetrators will continue to grow. MSMEs have an important and strategic role in national economic development. In addition to its role in economic growth and employment, MSMEs also play a role in distributing development outcomes. So far, MSME has contributed 57,60% Gross Domestic Product (PBD) and employment rate about 97% of all national work force (MSME Business Profile by LPPI and BI 2015). SMEs have also been proven not affected by the crisis. When the crisis hit the period of 1997-1998, only MSMEs were able to remain strong. Data from the Central Bureau of Statistics shows that after the economic crisis of 1997-1998 the number of MSMEs has not decreased, it has been increasing, even absorbing 85 million to 107 million workers until 2012. In that year, the number of entrepreneurs in Indonesia is 56,539,560 units. Of this amount, Micro Small and Medium Enterprises (MSMEs) of 56,534,592 units or 99.99%. The rest, about 0.01% or 4,968 units is a major undertaking. Examples of MSME policies of Blora district government regarding the role of MSMEs in development, especially in Blora district itself. Government at the central, provincial, to district / municipal levels are required to improve the welfare of their citizens through various efforts and innovation. To be able to achieve these goals, there are stages and processes that must be passed. So it takes seriousness with all related parties and inter-regional cooperation ties. Application of populist economy in order to realize the development and welfare of the community. The real form of the populist economy is in the form of support to micro, small and medium enterprises (MSME), so that the production of MSMEs is not only marketed in the local market but also outside the region and growing. Moreover, if supported by the use of information technology, product marketing is no longer limited by time and place.Keywords: MSME (Micro, Small, Medium Enterprise), Development, Community Welfare.AbstrakBerdasarkan data dari Kemenrian Koperasi dan UMKM pada tahun 2014, terdapat sekitar 57,8 juta pelaku UMKM di Indonesia pada tahun 2017 dan beberapa tahun kedepan diperkirakan bahwa jumlah pelaku UMKM akan terus bertambah. UMKM memiliki peran penting dan strategis dalam perkembangan ekonomi nasional. Sebagai tambahan dalam perannya dalam perkembangan ekonomi dan ketengakerjaan, UMKM juga berperan dalam perkembangan distribusi hasil. Sejauh ini, UMKM telah berkontribusi sebanyak 57,60% Produk Domestik Bruto (PBD) dan mempunyai tingkat penyerapan tenaga kerja sekitar 97% dari seluruh tenaga kerja nasional (Profil Bisnis UMKM oleh LPPI dan BI, 2015). UKM juga telah terbukti tidak terpengaruh oleh krisis. Ketika krisis yang melanda pada periode 1997-1998, hanya UMKM yang dapat kuat bertahan. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukan bahwa setelah krisis ekonomi 1997-1998 jumlah UMKM tidak berkurang, UMKM bertambah, bahkan menyerap 85 juta hingga 107 juta pekerja hingga tahun 2012. Pada tahun itu, jumlah pengusaha di Indonesia sebanyak 56,539,560 unit. Dari jumlah ini, UMKM menduduki jumlah 56,534,592 unit atau sebanyak 99,99%, selebihnya sekitar 0,01% atau 4.968 unit adalah pengusaha besar. Contoh dari kebijakan UMKM di pemerintahan kabupaten Blora terkair dengan peran dari UMKM terhadap pembangunan, secara khususnya di Kabupaten Blora sendiri. Pemerintah pusat, provinsi hingga tingkat kabupaten/kotamadya diperlukan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai usaha dan inovasi. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, terdapat beberapa langkah dan proses yang harus dilewati. Sehingga dibutuhkan keseriusan seluruh pihak yang terkait dan ikatan kerjasama antar daerah. Aplikasi populisme ekonomi dalam upaya untuk merealisasikan pembangunan dan kesejahteraan dari masyarakat. Bentuk nyata dari populisme ekonomi adalah dalam bentuk dukungan kepada UMKM, sehingga produksi UMKM tidak hanya dipasarkan di pasar lokal namun juga merambah ke pasar yang lebih luas. Selain itu, jika didukung oleh penggunakan informasi teknologi, pemasaran produk tidak lagi terhambat oleh waktu dan tempat.Kata Kunci: Usaha Mikro Kecil Menengah Pembangunan, Kesejahteraan Masyarakat.
RELASI KUASA DAN MODAL: STUDI PERLAWANAN MASYARAKAT DESA NANGKA TERHADAP PEMBUKAAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PT. GEMILANG CAHAYA MENTARI irwan sardi
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.752 KB) | DOI: 10.20961/jas.v6i2.18082

Abstract

This study aims to see the relations made by the authorities and entrepreneurs related to the opening of oil palm plantations,has left people neglected in giving their participation, coupled with policy-making on the basis of materialistic interest, ultimately making the community seek to fight and form a forum to eliminate such an impartial policy.The method used is qualitative research with analytical descriptive approach. Data were analyzed through critical theory of Herbert Marcuse of individual relation, power and consciousness. Ultimately the practice can be analyzed and viewed as a scientific study in academic field.The results shows, the relationship between authorities and businessmen based more on logic instrumentalist with the practice of the unbalanced relations in the determination of policy and discourse oil palm plantations. Practice was manifest in the results of decisions that harm the public with the negotiation and manipulation of structured, which ultimately only benefit the village the apparatus and subordinate. The situation was conducted by village the apparatus as the highest authority in the public, because it has the authority in making decisions. It turns of power owned has been applying of authoritarian power, because power was used to enrich themselves and their group. Moreover, without the articipation of the public to be involved in taking the policy, finally making an attempt to counteract such power shape. Resistance was none other than to disassemble domination and patterns power carried the village the apparatus by means of unification through the establishment of environmental care Nangka village. As a forum to disassemble the power of the practice and the public in expressing their aspirations legally.Keywords:Relation, Power, Capital and Resistance.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk melihat relasi yang dilakukan oleh pihak penguasa dan pengusaha terkait pembukaan perkebunan kelapa sawit, telah membuat masyarakat diabaikan dalam memberikan partisipasinya, ditambah dengan pembuatan kebijakan atas dasar kepentingan materialistis, akhirnya membuat masyarakat berupaya untuk melakukan perlawanan dan membentuk forum untuk menghilangkan kebijakan yang tidak memihak tersebut. Metode yang digunakan ialah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Data dianalisis melalui teknik analisis kritis mengunakan teori kritis Herbert Marcuse mengenai konsep relasi, kekuasan dan kesadaran individu. Akhirnya praktik itu dapat dianalisis dan dipandang sebagai sebuah kajian ilmiah dalam bidang akademis. Hasil penelitian menunjukan, hubungan yang terjadi antara penguasa dan pengusaha lebih didasarkan pada logika instrumentalis dengan adanya praktik relasi yang tidak seimbang dalam penentuan kebijakan dan wacana pembukaan perkebunan kelapa sawit. Praktik itu terwujud dalam hasil keputusan yang merugikan masyarakat dengan adanya negosiasi dan manipulasi terstruktur, yang akhirnya hanya menguntungkan pihak aparatur desa dan bawahanya. Keadaan itu dilakukan oleh aparatur desa sebagai pemegang kekuasaan tertingi dan memiliki wewenang dalam membuat keputusan. Ternyata kekuasan yang dimilikinya telah menerapkan kekuasan yang otoriter dalam upaya untuk memperkaya dirinya sendiri dan golongannya. Terlebih lagi tanpa adanya partisipasi masyarakat untuk dilibatkan dalam mengambil kebijakan itu, akhirnya membuat masyarakat berupaya untuk melawan bentuk kekuasan tersebut. Perlawanan dilakukan tidak lain adalah untuk membongkar dominasi dan pola kuasa yang dijalankan aparatur desa dengan cara melakukan penyatuan melalui pembentukan forum peduli lingkungan Desa Nangka, sebagai wadah untuk membongkar praktik kuasa dan tempat masyarakat dalam menyampaikan aspirasinya secara legal.Kata Kunci: Relasi, Kuasa, Modal dan Perlawanan.
WARGA PEDULI AIDS WUJUD PERAN SERTA MASYARAKATDALAM PENANGGULANGAN HIV/AIDS Argyo Demartoto
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.931 KB)

Abstract

The increased HIV/AIDS epidemic makes the social-economic development burden heavier. The objective of research is to analyze public participation in overcoming HIV/AIDS as the manifestation of warga peduli AIDS (local residents concerned about AIDS). The target group in this case study was community and stakeholders such as Kelurahan, Warga Peduli AIDS Administrator, AIDS Commission of Surakarta City, Surakarta Health Service, Solo Plus Peer Support Group, and LSM Peduli AIDS (NGO concerned about AIDS) in Surakarta selected purposively. Data collection was carried out using observation, in-depth interview, and documentation. Data was validated using data source triangulation, and then analyzed using Parsons’ social system theory. The result of research showed that some citizens concerned about AIDS and were active but had not participated much in coping with AIDS, due to their limited knowledge, limited awareness, and fear of undertaking HIV test, less optimal, non-sustainable socialization from AIDS Commission and AIDS-Concerned institution focusing on risk group only, so that people got inadequate information about HIV/AIDS, stigma and discrimination against people with HIV/AIDS. AIDS overcoming needs active role from many parties including government, community, those infected and affected in preventing, treating, mitigating the effect, and developing conducive environment systemically and in integrated manner, in order to achieve the objective.     Keywords: AIDS, Participation, Citizen, Integrated   AbstrakPeningkatan epidemi  HIV/AIDS menyebabkan beban sosial ekonomi pembangunan semakin berat. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran serta masyarakat dalam penanggulangan HIV/AIDS sebagai wujud warga peduli AIDS. Kelompok sasaran  penelitian studi kasus ini adalah masyarakat dan stakeholders terkait, seperti Kelurahan, pengurus Warga Peduli AIDS,Komisi Penanggulangan AIDS Kota Surakarta, Dinas Kesehatan Surakarta, Kelompok Dukungan Sebaya Solo Plus, LSM Peduli AIDS di Surakarta  yang dipilih secara purposif. Pengumpulan data dengan observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Triangulasi sumber data untuk menguji validitas data, lalu dianalisis dengan teorisistem sosial Parsons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada warga yangpeduli AIDS dan aktif, namun banyak yang belum terlibat dalam penanggulangan AIDS, karena minimnya pengetahuan, kesadaran, dan takut melakukan tes HIV, sosialisasi dari Komisi Penanggulangan AIDS dan lembaga peduli AIDSbelum optimal, tidak berkelanjutan dan hanya fokus kelompok berisiko saja, sehingga masyarakat kurang mendapat informasi HIV/AIDS secara menyeluruh,masih ada stigma dan perlakuan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS.Penanggulangan AIDS memerlukan peran aktif multi pihak baik pemerintah, masyarakat, mereka yang terinfeksi dan terdampak dalampencegahan, pengobatan, mitigasi dampak dan pengembangan Iingkungan yang kondusif secara sistemik dan terpadu agar tujuan tercapai. Kata Kunci: AIDS, Partisipasi, Warga, Terpadu
SOCIAL EMPOWERMENT TO DEAL WITH NEGATIVE STIGMA AND DISCRIMINATIVE TREATMENT AGAINST PEOPLE WITH HIV/AIDS Argyo Demartoto; Siti Zunariyah; Tyas Nur Haryani
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.965 KB)

Abstract

The existence of people with HIV/AIDS or PWHAs in daily life results in a variety of social problems to themselves, family, friend, neighbor, surrounding environment, and wide society. This qualitative research with phenomenological approach aimed to analyze social empowerment to deal with negative stigma and discriminative treatment against PWHA in Surakarta, Indonesia. Primary data was collected from PWHAs, Solo Plus Peer Support Group, health workers, Surakarta AIDS Commission, and NGOs caring about AIDS. The result of observation, in-depth interview, and some related documents were analyzed using community empowerment theory and labeling. The result of research showed that social empowerment with intensive information education and communication on HIV/AIDS can change people’s interpretation on PWHAs. Government policy supporting PWHAs’ need, improved participation of PWHAs in such activities as HIV/AIDS overcoming in family, community, work environment, and society, and sustainable facilitation can solve social medical problem of PWHAs. The presence of improved capacity and social-cultural structure of society conducive to HIV/AIDS is expected to overcome negative labeling and discrimination against PWHA.     Keywords: PWHA empowerment, social economic and medical support for PWHAs AbstrakKeberadaan orang dengan HIV/AIDS atau ODHA dalam kehidupan sehari-hari menimbulkan aneka masalah sosial baik dengan dirinya sendiri, keluarga, teman, tetangga, lingkungan sekitar, dan masyarakat luas. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis ini bertujuan menganalisis pemberdayaan sosial untuk mengatasi stigma negatif dan perlakuan diskriminatif terhadap ODHA di Surakarta Indonesia. Data primer dikumpulkan dari ODHA, Kelompok Dukungan Sebaya Solo Plus, pelayan kesehatan, Komisi Penanggulangan AIDS Surakarta dan NGO peduli AIDS. Hasil observasi, in-depth interview, dan beberapa dokumen terkait dianalisis dengan teori pemberdayaan masyarakat dan labelling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan sosial dengan Komunikasi Informasi Edukasi yang intensif tentang HIV/AIDS dapat mengubah interpretasi masyarakat terhadap ODHA. Kebijakan pemerintah yang mendukung kebutuhan ODHA, meningkatnya partisipasi ODHA dalam berbagai kegiatan termasuk penanggulangan HIV/AIDS baik di keluarga, komunitas, lingkungan kerja dan masyarakat, serta pendampingan yang berkelanjutan dapat mengatasi masalah sosial medis ODHA. Dengan adanya peningkatan kapasitas dan struktur sosial budaya masyarakat yang kondusif terhadap HIV/AIDS diharapkan dapat mengatasi label negatif dan ketidakadilan terhadap ODHA.  Kata kunci : pemberdayaan ODHA, dukungan sosial ekonomi dan medis bagi ODHA
WAYANG WAHYU : HIBURAN DAN MEDIA PEMBELAJARAN Thomas Aquinas Gutama
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.608 KB) | DOI: 10.20961/jas.v9i1.29192

Abstract

The life of modern society offers a variety of entertainment media, so traditional entertainment such as wayang is no longer interesting. Some religious institutions open themselves so that their religious teachings can be learned through the wayang wahyu revelation. The purpose of this study is to examine the wayang Ngajab Rahayu revelation which was chosen as a medium for planting the values of community life, and the community's response to the wayang wahyu revelation and understanding and implementing it in social life. This qualitative descriptive study was conducted on the audience of Wayang Wahyu Ngajab Rahayu, dhalang Wayang Wahyu Ngajab Rahayu, a Christian religious figure in Surakarta. Data analysis techniques using an interactive analysis model with the Functional Structural Theory of Parsons. The results showed that Wayang Wahyu is not just a spectacle that is used as a guide, but rather a guidance that is exhibited and realized by Christians. So that Wayang Wahyu is seen from an artistic point of view as an entertaining spectacle with its jokes, while from the point of view of preaching it is a model for learning the Christian faith. Wayang Wahyu provides an example of good deeds, which is a learning process for Christians to "ground" the teachings of Christ in the past for modern life. After people become acquainted with religion, their adherents often make it an exaggerated difference. For that we need wisdom in dealing with differences. There needs to be a "dialogue" that expresses what is taught by a religion, so that other religions can know and understand it. Wayang Wahyu can be an example of dialogue between religious communities.Keywords: Puppet Wahyu; Entertainment; Learning Media.AbstrakKehidupan masyarakat modern banyak menawarkan berbagai media hiburan, sehingga hiburan tradisional seperti wayang tidak menarik lagi. Lembaga agama ada yang membuka diri agar ajaran agamanya bisa dipelajari melalui pentas wayang wahyu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji wayang wahyu Ngajab Rahayu yang dipilih sebagai media penanaman nilai-nilai kehidupan bermasyarakat, dan tanggapan masyarakat terhadap pertunjukkan wayang wahyu dan memaknai dan mengimplementasikannya dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian deskriptif kualitatif ini dilakukan terhadap penonton Wayang Wahyu Ngajab Rahayu, dhalang Wayang Wahyu Ngajab Rahayu, tokoh agama Kristiani di Surakarta. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif dengan teori Struktural Fungsional dari Parsons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wayang Wahyu bukan sekedar tontonan yang dijadikan tuntunan, melainkan suatu tuntunan yang dipertontonkan dan diwujudkan oleh para pemeluk agama Kristiani. Sehingga Wayang Wahyu dilihat dari sudut kesenian merupakan suatu tontonan yang menghibur dengan leluconnya, sedangkan dari sudut pewartaan merupakan model pembelajaran iman Kristiani. Wayang Wahyu memberikan contoh perbuatan baik merupakan suatu pembelajaran bagi pemeluk agama Kristiani untuk “membumikan” ajaran Kristus pada jaman yang lampau untuk kehidupan modern ini. Setelah orang mengenal agama, pemeluknya sering menjadikannya suatu perbedaan yang terlalu dibesar-besarkan. Untuk itu perlu kearifan dalam menyikapi perbedaan. Perlu adanya suatu “dialog” yang mengungkapkan apa yang diajarkan oleh suatu agama, sehingga agama lain dapat mengetahui dan memahaminya. Wayang Wahyu dapat menjadi contoh ajang dialog antar umat beragama.  Kata kunci : Wayang Wahyu; Hiburan; Media Pembelajaran.
KONSTRUKSI SOSIAL MASYARAKAT TERHADAP ALAM GUNUNG MERAPI: STUDI KUALITATIF TENTANG KEARIFAN LOKAL YANG BERKEMBANG DI DESA TLOGOLELE KECAMATAN SELO KABUPATEN BOYOLALI M. Nur Budi Prasojo
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.868 KB) | DOI: 10.20961/jas.v4i2.17434

Abstract

this is a study of people who live on the slopes of Merapi, the most activevolcano in Indonesia and they face the volcanic threats. This study is mainlybased on field data, collected by ethnography method, in Tlogolele SeloBoyolali, Central Java. Ethnography is a qualitative research approach whichexplores the worldview of people and demonstrates their dailylife, how to see,listen, speak, and think. Based on Social Contruction of Reality Theory fromBerger and Luckmann, this study tries to explore the social construction ofpeople who live on the slopes of Merapi. Villagers living on Merapiconstructed a system of religious belief. The villagers view Merapi as a friendnot a threats. They construct knowledge and tradition as a local wisdom. As alocal wisdom, the system of religious belief, kwoledge, and tradition have aspecial place in daily life of Tlogolele people. Local wisdom is based onJavanese culture concept ”memayu hayuning bawana”, which is applicated inseveral tradition slametan.Keywords: etnography, social construction, local wisdom
INTERAKSI SIMBOLIK ANTARA SHADOW DENGAN ANAK AUTIS DI “SEKOLAH KREATIF” SURABAYA Achmad Syarifudin; Ardhie Raditya
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.119 KB) | DOI: 10.20961/jas.v5i1.18096

Abstract

Autism is a pervasive disorder experienced by a person from birth or a toddlerwho makes himself unable to relate socially or communicate normally. A goodparent’s understanding of autism make the parents do not necessarily rule outthe education of children who suffer from autism. A good self-acceptance fromparents will allow their child to go to a regulatory school known as aninclusion school. Shadow teacher is someone wjo can help classroom teacherin assisting autistic children in following the learning process. The existenceof shadow teacher in “Sekolah Kreatif” Junior School of Muhammadiyah asan effort of the school to provide assistance and part of the educationalprocess for students with special needs. This research is a qualitative researchwith symbolic interaction approach. The results showed that shadow teacherinteractions with autistic children in inclusion schools were part of a symbolicinteraction. The process of symbolic interaction between shadows with autisticchildren is mediated by the symbols used to represent an object. Symbols usedin the form of spoken, body, cues and pictures language.Keywords: Autism, Shadow Teacher, Symbolic Interaction. AbstrakAutis merupakan suatu gangguan perkembangan pervasif yang dialami olehseseorang sejak lahir atau masa balita yang membuat dirinya tidak dapatberhubungan sosial atau komunikasi secara normal. Pemahaman orang tuayang baik mengenai autis ini membuat orang tua tidak serta mertamengesampingkan pendidikan anaknya yang menderita autis. Penerimaan diriyang baik dari orang tua akan memungkinkan anaknya untuk bersekolah disekolah reguler yang dikenal dengan sekolah inklusi. Shadow atau gurupendamping adalah seseorang yang dapat membantu guru kelas dalammendampingi anak autis dalam mengikuti proses pembelajaran. Keberadaanguru pendamping atau shadow di “Sekolah Kreatif’ SD Muhammadiyah 16Surabaya adalah sebagai upaya pihak sekolah untuk memberikanpendampingan dan bagian dari proses pendidikan bagi siswa berkebutuhankhusus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi simbolikantara shadow dengan anak autis di “Sekolah Kreatif’ SD Muhammadiyah 16Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekataninteraksi simbolik. Hasil penelitian ini menunjukkan interaksi antara shadowdengan anak autis di sekolah inklusi merupakan bagian dari interaksi simbolik.Proses interaksi simbolik antara shadow dengan anak autis dimediasi olehsimbol-simbol yang digunakan untuk merepresentasikan mengenai suatuobyek. Simbol yang digunakan berupa bahasa lisan, tubuh, isyarat dangambar.Kata Kunci: Autis; Interaksi Simbolik; Shadow Teacher.  
KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI SINGLE MOTHER DALAM RANAH DOMESTIK DAN PUBLIK Afina Septi Rahayu
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.378 KB) | DOI: 10.20961/jas.v6i1.18142

Abstract

Self-sufficiency in the soul of a single mother is needed to run a dual role in the domestic sector, that is to serve in household affairs such as cooking, washing dishes and clothes, cleaning the house, preparing food for the family, taking care of, raising and educating her children and in the public sector economic duty so that the needs remain fulfilled is to earn a living for the family and socially that is socializing with the community. The balance of domestic and public roles needs to be accomplished with extra effort through a process of patience, knowledge, and consistency to run it. As a single mother to work for a living, there must be a lot to consider from a relative income source, an efficient time to be able to carry on the main task of being a single mother without putting aside the household chores, therefore as a single mother, women are required to be able to adapt and move on without a husband, earn a living and balance between domestic and public roles. This research aims to determine the implementation of social economic live doing single mother as a single parent in maintaining the survival of his family in Cepokosawit village. This research used descriptive qualitative method to produce and process the research data descriptive nature, such as transcripts of interviews and observations. The population in this study are all citizens of the women in Cepokosawit village, Sawit district, Boyolali regency.The selected Informants were several single mothers in Cepokosawit village. The technique of taking informants using purposive sampling based on certain criteria. The collection of data carried out by interview and observation. The validity of the data using triangulation techniques and triangulation resources. Data analysis technique is done by means of data collection, data reduction, data display and drawing conclusions or data verification. The results of this research are, First, social strategy that is indicated by a single mother is to live with their parents to avoid social pressure on communities, involve their parents in take care of their child when single mother go to work, participate in various activities in the community to eliminate a bad impression of the single mother and be independent in raising and caring for children without the involvement of ex-husband. Second, the economic adaptation strategies in a single mother family visible in how they align with the amount of income a family needs every day of his life and their strategy for living place by staying at their parent’s home. Forms of economic planning is also evident from the way a single mother to save, set aside in part piecemeal revenue that could be used to meet the needs of their child's education and are used for urgent needs.Keywords: Single Mother, Social, Economic, Talcott Parsons, AGIL Concept.AbstrakKemandirian dalam jiwa single mother diperlukan untuk menjalankan dua peran dalam sektor domestik, yaitu untuk menjalankan rumah tangga seperti memask, mencuci piring dan pakaian, membersihkan rumah, menyiapkan makanan untuk keluarga, merawat, membesarkan dan mendidik anak dan di sektor publik tugas ekonomi perlu untuk dipenuhi sehingga dapat mencari nafkah untuk keluarga dan secara sosial yakni bersosialisasi dengan komunitas.Keseimbangan anfara peran domestik dan publik perlu dicapai dengan usaha tambahan melalui proses kesabaran, pengetahuan dan konsistensi untuk menjalankannya. Sebagai single mother untuk berkerja mencari nafkah, terdapat banyak pertimbangan dari sumber penghasilan, efisiensi waktu untuk dapat menjalankan tugas utama sebagai seorang ibu tanpa mengesampingkan pekerjaan rumah tangga, oleh karena itu sebagai single mother, perempuan dituntut untuk dapat beradaptasi dan melanjutkan tanpa suami, mencari nafkah dan menyeimbangkan antara peran domestik dan publik. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menentukan implementasi kehidupan sosial ekonomi sebagai single mother  sebagai orang tua tunggal dalam mempertahanan keberlangsungan hidup keluarga di Desa Cepokosawit. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif untuk memproduksi dan memproses data penelitian dengan cara deskriptif naratif, yakni transkrip dari wawancara dan observasi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua penduduk perempuan di Desa Cepokoksawit, Kecamatan Sawit, Kabupatan Boyolali. Terdapat beberapa informan single mother yang dipilih di Desa CepokosawitTeknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purpsive samplingberdasarkan beberapa kriteria. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Teknik validitas data menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Teknik analisis data menggunakan teknik pengumpulan data, reduksi data, tampilan data dan menarik kesimpulan atau verifikasi data. Hasil dari penelitian ini adalah, pertama, strategi sosial yang ditunjukan oleh seorang single mother hidup dengan orang tua mereka untuk menghindari tekanan sosial dalam komunitas, melibatkan orang tua mereka dalam merawat anak ketika single mother pergi bekerja, berpartisipasi dalam berbagai macam kegiatan dalam komunitas untuk mengeliminasi pandangan negatif terhadap single mother dan menjadi mandiri dalam membesarkan anak tanpa keterlibatan mantan suami.Kedua, strategi adaptasi ekonomi dalam keluarga single mother  terlihat dalam bagaimana mereka menyelaraskan dengan jumlah pendapatan dan kebutuhan keluarga setiap hari dan strategi mereka untuk tinggal di rumah orang tua mereka. Dari rencana ekonomi juga jelas terlihat dari cara single mother untuk menabung, mensisihkan pendapatan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak dan digunakan untuk kebutuhan mendadak.Kata Kunci: Single Mother, Sosial, Ekonomi, Talcott Parsons, Konsep AGIL.

Page 9 of 23 | Total Record : 225