cover
Contact Name
Argyo Demartoto
Contact Email
jas@mail.uns.ac.id
Phone
+62271637277
Journal Mail Official
jas@mail.uns.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.uns.ac.id/jas/about/editorialTeam
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Analisa Sosiologi
ISSN : 23387572     EISSN : 26150778     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Analisa Sosiologi (JAS) diterbitkan per semester pada bulan April dan Oktober oleh Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan ISSN : 2338 - 7572 (Print) dan ISSN: 2615-0778 (Online). JAS berdasarkan kutipan dan keputusan Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor: 21/E/KPT/2018, tanggal 9 Juli 2018 tentang hasil akreditasi jurnal ilmiah periode 1 tahun 2018, telah terakreditasi Peringkat 4 yang berlaku 5 Tahun, yaitu Volume 5 Nomor 1 tahun 2016 sampai Volume 9 Nomor 2 Tahun 2020. JAS memfokuskan diri pada hasil penelitian terkait isu-isu sosial-kontemporer di Indonesia, khususnya yang berkenaan dengan perkembangan masyarakat dari berbagai aspek. Selain itu, JAS juga menerima artikel yang bersumber pada telaah pustaka terkait dengan upaya pengembangan teori-teori sosiologi. Informasi mengenai JAS juga bisa diperoleh melalui media sosial.
Articles 225 Documents
POSISI TAWAR PETANI DALAM TRANSAKSI EKONOMI PERTANIAN Nurina Adi Paramitha
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.907 KB)

Abstract

As an agricultural producer, peasant should have bargaining position as a price maker, but in reality peasant can't be the price maker. This research aims to determine the process of agricultural economic transactions and bargaining position of peasants in Dukuh Dempok Village. The research used descriptive qualitative method. The data collection was conducted using observation, interview, and documentation methods. The results showed that peasant usually sell agricultural commodities to traders. The bargaining position of peasant is low, because peasant have no role in determining commodity prices. The bargaining position of peasant determined based on education level, participation in farmer group, type of commodity, and strategy to sell the commodity. Generally, the bargaining position of landowner is the highest, bargaining position of penyakap is higher than land tenants, and bargaining position of pengedok is the lowest. Despite the low bargaining position, the action taken by peasant is considered rational as it fits his goal of profiting from his farm. Keywords: bargaining position; peasant; rationalPetani sebagai produsen pertanian semestinya membuat petani memiliki posisi tawar sebagai penentu harga, tetapi pada kenyataannya petani tidak dapat menentukan harga produk pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses transaksi ekonomi pertanian dan posisi tawar petani di Desa Dukuh Dempok. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif.Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani umumnya menjual komoditas pertanian kepada pedagang.Posisi tawar petani Desa Dukuh Dempok tergolong rendah, karena petani tidak berperan dalam menentukan harga komoditas.Posisi tawar petani di Desa Dukuh Dempok dapat diketahui berdasarkan tingkat pendidikan, keikutsertaan dalam kelompok tani, jenis komoditas yang ditanam, dan strategi penjualan komoditas.Secara umum, posisi tawar petani pemilik lahan adalah yang paling tinggi, posisi tawar petani penyakap lebih tinggi daripada petani penyewa lahan, dan posisi tawar pengedok adalah yang paling rendah. Meski posisi tawarnya rendah, tindakan apa pun yang dilakukan oleh seorang petani dianggap rasional karena sesuai dengan tujuannya yakni mendapat keuntungan dari usahataninya. Kata kunci: petani; posisi tawar; rasional
PILIHAN RASIONAL UMKM KERAJINAN SANDAL TOPENG MALANGAN DALAM MENGHADAPI MEA Risdawati Ahmad; Okta Pujiana; Sajidah Muhabbatillah; Nani Fhadillah; Yogi Dwi Maulana Ibrahim; Singgi Prasetya Devi; Imamul Huda Al Siddiq
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.352 KB)

Abstract

This study aims to explain the rational choice of Micro, Small, and Medium Enterprise (MSME) Kerajinan Sandal Topeng Malangan in determining strategies to face the ASEAN Economic Community (AEC). These MSME produce sandals and shoes combined with Malangan mask decorations and Yogyakarta’s batik. Because of its uniqueness, this product has been successfully marketed domestically to overseas. This study uses a qualitative methods with a descriptive approach. Informant consisted of MSME owners and three workers. The technique of collecting data is done through observation, interviews, and documentation. The results of the study show that there are several strategies chosen by MSME owners as determinants in running a bussines. The strategy was chosen because it was considered rational, because it has more value than other strategies. Strategies that are used as rational choices include, among others, 1) incorporating culture elements, namely the Malangan mask and Yogyakarta ‘batik tulis’ on its products, the purpose of which is to be unique and to introduce regional local wisdom at national and international levels. 2) Promoting its products through exhibition activities, for marketing purposes. 3) Creating a comfortable atmosphere for works, because the work atmosphere determines the results of the work obtained. 4) Choosing to use reseller services to market the product rather than market is themselves , the goal of it is to focus more an production activities or product quality improvement, and consider the number of workers and the size of small business houses. 5) Completeness of thecnology so that work is more effective and efficient. Keywords: ASEAN Economic Community, MSME (Micro, Small, Medium Enterprise), Rational Choice, Strategy AbstrakPenelitian ini untuk menganalisis pilihan rasional Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Kerajinan Sandal Topeng Malangan dalam menentukan strategi menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). UMKM ini memproduksi sandal dan sepatu dengan hiasan topeng Malangan dan batik tulis Yogyakarta. Produk ini telah berhasil dipasarkan di dalam negeri hingga keluar negeri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Informan terdiri dari pemilik UMKM serta tiga orang pekerjanya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan, terdapat beberapa strategi yang dipilih oleh pemilik UMKM selaku penentu dalam menjalankan usaha. Strategi tersebut dipilih karena dianggap rasional, sebab memiliki nilai lebih dibandingkan strategi yang lain. Strategi yang dijadikan sebagai pilihan rasional antara lain, 1) memasukkan unsur budaya yakni topeng Malangan dan batik tulis Yogyakarta pada produknya, tujuannya agar memiliki keunikan serta untuk memperkenalkan kearifan lokal daerah di tingkat nasional maupun internasional. 2) Mempromosikan produknya melalui kegiatan pameran, untuk tujuan pemasaran. 3) Menciptakan suasana yang nyaman bagi pekerja, karena suasana kerja menentukan hasil pekerjaan yang diperoleh. 4) Memilih menggunakan jasa reseller untuk memasarkan produk dibandingkan memasarkannya sendiri, tujuannya agar lebih fokus pada kegiatan produksi atau peningkatan kualitas produk, serta mempertimbangkan jumlah pekerja dan ukuran rumah usaha yang kecil. 5) Kelengkapan teknologi agar pekerjaan lebih efektif dan efisien. Kata Kunci: UMKM (Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah), Masyarakat Ekonomi ASEAN, Pilihan Rasional, Strategi.
MODAL SOSIAL DALAM REVITALISASI KEARIFAN LOKAL (STUDI KASUS DESA WISATA KANDRI KECAMATAN GUNUNG PATI KOTA SEMARANG) Syifa Ayyada Jannati; Dani Ramadhan; Cindy Nadya Dewi Pertiwi
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9 (2020): Edisi Khusus Sosiologi Perkotaan
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.446 KB) | DOI: 10.20961/jas.v9i0.39813

Abstract

Cities with various activities have a rapid change in every part of them. This change slowly began to threaten the value of local wisdom in society. It getting worst by globalization that will change the value of society and make them individualistic in this digital era. The revitalization for original culture through make a tourist village that will be the place for development local wisdom which is getting fade between village society in this globalization era is the right thought to solve this problem. The one of tourist village that elevate local wisdom is Kandri Tourist Village. Qualitative method has been selected by researchers to get data through interview an obsevation in research location. Social capital theory used by researches is the theory that was coined by Putnam. The goal of this research to give the knowledge to reader that tourist village notonly empowering society, but tourist village can elevate local wisdom that left out by this generation. The result in the process to realize culture revitalization and empowering other, have the different caracter is must that is local wisdom and have a leader as the developer to develop Kandri  tourist village. Keywords: Tourist Village, Local Wisdom, Social Capital.    AbstrakKota dengan berbagai hiruk pikuk yang ada di dalamnya mengalami perubahan pesat. Perkembangan ini secara perlahan mulai mengancam nilai kearifan lokal yang ada di masyarakat. Kondisi seperti ini diperparah dengan munculnya serbuan globalisasi yang semakin hari mulai mengubah tatanan masyarakat yang lebih individualis di era digital seperti sekarang ini. Dalam upaya untuk merevitalisasi budaya luhur yang telah ada, salah satu cara yang tepat dengan menggunakan desa wisata sebagai wadah guna merevitalisasi kearifan yang mulai luntur di masyarakat. Salah satu desa wisata yang mengangkat kearifan lokal yaitu Desa Wisata Kandri. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pengambilan data menggunakan wawancara dan observasi. Teori modal sosial yang digunakan adalah teori yang dicetuskan oleh Putnam. Tujuan penelitian ini digunakan untuk memberikan pemahaman bahwa dengan adanya Desa Wisata Kandri tidak hanya memberikan pemberdayaan tetapi ikut merevitalisasi kearifan lokal yang mulai ditinggal generasi sekarang. Hasil penelitian menunjukkan dalam mewujudkan revitalisasi budaya dan pemberdayaan harus memiliki karakter yang membedakan yaitu kearifan lokal serta memiliki pemimpin sebagai pelaksana segala wujud pengembangan Desa Wisata Kandri. Kata kunci : Desa Wisata, Kearifan Lokal, Modal Sosial.
PEMAKNAAN BONG PAY PADA WARGA KETURUNAN TIONGHOA DI KELURAHAN SUDIROPRAJAN SURAKARTA Yulia Masruroh; Bagus Haryono; Argyo Demartoto
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.411 KB) | DOI: 10.20961/jas.v4i1.17406

Abstract

Chinese culture is one of the oldest in the world. Chinese people have many interesting culture from their ancestor which they keep to preserved until today, and one of it is the making of bong pay. Bong pay is a tomb which a Chinese people called it, is a construction that build on top of the grave give a meaning that somebody has died. For Chinese people, bong pay is not just a sign but also have another hidden symbolic meaning. The purpose of this research is (1) to describe the meaning of Bong Pay to Chinese descendent at  Village Sudiroprajan of Surakarta, (2) describe the shift thing of bong pay meaning at present.This research is using a qualitative method with a phenomenological approach to obtain the source of information and data from descendants. The samples that had been taken were 4 people of Chinese descendants from Sudiroprajan village. The sampling technique is using purposive sampling. The data source that being used primary data that included the informant, places and the research location which is Sudiroprajan village. Another research is secondary which is data or records that supporting this research.The results of this research is (1) Chinese descendent people give a meaning to bong pay is a prove of love and respect to ancestor because ancestry is most glorifield in Confucianism, to Christian Chinese descent is a sign that a person has died not forgotten. As symbolic bong pay is describe as prestige ad social status for someone  has died, because it’s take a lot of money to make it. Bong pay is given meaning as a symbol of identity because it can be identified with culture and tradition of Chinese. (2) there is shifting on the meaning of bong pay at the present. It happen because the changing of the religion from Chinese descendent people. That changing is affecting their behavior and acting on giving the meaning of bong pay. Key world : Bong Pay, Chinese Descendent People, Symbolic
MOTIVASI BERAFILIASI SISWA ETNIS TIONGHOA DI SMA NEGERI 1 TEBAS Aan Khosihan
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.201 KB) | DOI: 10.20961/jas.v5i1.18124

Abstract

The existence of students with chinese ethnic background that is still very small in number in public schools is still a big question mark in education in Kecamatan Tebas. As the second most populous population after Malay, Chinese people prefer to send their children to a private school where their students are dominated by Chinese ethnics. However, the presence of ethnic Chinese students in a small number of public schools is an interesting thing to look at. This study aims to reveal the behavior and supporting factors that make Chinese students choose to stay in the country. Using the David McClelland needs theory approach as well as the use of qualitative methods with primary data collection of observations and interviews. In this study, the researcher took the main informants, which amounted to three people, consisting of one tenth grader, one at eleven class student of IPA, and one at eleven class student of IPS. the researcher successfully identified ten student behaviors that showed motivation of affiliation and two factors supporting the high motivation of affiliated Chinese students in SMA Negeri 1 Tebas.Keywords: Students of Ethnic Chinese, Motivation of Affiliation, Affiliated Behavior, Affiliated Factors. AbstrakKeberadaan siswa dengan latar belakang etnis tionghoa yang masih sangat sedikit jumlahnya di sekolah negeri masih menjadi tanda tanya besar dalam pendidikan di kecamatan tebas. Sebagai penduduk dengan jumlah terbanyak kedua setelah etnis melayu, masyarakat tionghoa lebih memilih untuk menyekolahkan anak mereka disekolah swasta yang para siswanya didominasi oleh kalangan etns Tionghoa. Namun, keberadaan siswa etnis tionghoa pada sekolah negeri yang jumlahnya sedikit menjadi hal yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perilaku dan faktor pendukung yang membuat siswa etnis tionghoa memilih bertahan disekolah negeri. Dengan menggunakan pendekatan teori kebutuhan David McClelland serta penggunaan metode kualitatif dengan pengumpulan data utama berupa observasi dan wawancara. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil informan utama yang berjumlah tiga orang, terdiri dari satu orang siswa kelas sepuluh, satu orang siswa kelas sebelas IPA, dan satu orang siswa kelas sebelas IPS. peneliti berhasil mengidentifikasi sepuluh perilaku siswa yang menunjukkan motivasi berafiliasi dan tiga faktor pendukung tingginya motivasi berafiliasi siswa etnis Tionghoa di SMA Negeri 1 Tebas.Kata Kunci: Siswa Etnis Tionghoa, Motivasi Berafiliasi, Perilaku Berafiliasi, Faktor Berafiliasi.
RELASI KUASA DALAM PERUBAHAN KURIKULUM 2013 Fisca Cahyani; Moh Mudzakkir
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.498 KB) | DOI: 10.20961/jas.v6i1.18186

Abstract

The most visible and most easily explained power is in the state aspect. This is illustrated clearly from the contents of the Constitution which became the benchmark or the basis of every decision made. The polemic started from the SBY administration which created a policy on the new curriculum, which was later named the Curriculum 2013. This curriculum is intended for young generation able to meet the competition MEA. But after the government changed hands and made a new policy (policy on curriculum evaluation and finally implemented two curriculum) some writings were twisted. The implementation of government policies and criticisms that are carried out as a form of resistance are never separated from the ideologies that lie behind them. This research uses content analysis as data analysis technique. The salin to sharpen analysts also used the theory of Liberal Paradigm of Girox and the Power of Curriculum Michel W. Apple. From the research conducted found that the background of M Noah and Boediono which including the technocrats led to decisions that are very hegemonic. Meanwhile, criticism made by some parties is very nationalist or berparadigma of critical education. This is because they are back to the romanticism of making the Constitution which should be used as the basis for further policy making. In addition, the illusions of educational perfection raised by the predecessor from Indonesia (Ki Hadjar Dewantara) also did not escape as the basis.Keywords: Curriculum Changes, Curriculum 2013, Ideology.AbstrakHal yang paling terlihat dan paling mudah untuk dijelaskan mengenai kekuasaan adalah dalam aspek negara. Ini digambarkan secara jelas dari konteks konstitusi yang menjadi cabang atau dasar dari setiap pembuatan keputusan Masalah dimulai dari pemerintahan SBY yang membuat kebijakan pembuatan kurikulum baru, yang setelahnya dinamai dengan Kurikulim 2013. Kurikulum ini dimaksudkan untuk generasi muda agar dapat bersaing di era MEA. Namun setelah pemerintah bepindah tangan dan membuat kebijakan baru (kebijakan dalam evaluasi kurikulum dan akhirnya mengimplementasi dua jenis kurikulum) beberapa aturan didalamnya tumpang tindih. Implementasi dari kebijakan pemerintah dan kritikan yang dilakukan sebagai bentuk resistensi tidak pernah terpisah dari ideologi yang berada dibalik mereka. Penelitian ini menggunakan konten analisis sebagai teknik analisis data. Untuk mempertajam analisis, penelitian ini juga menggunakan teori paradigma liberal dari Girox dan kekuatan kurikulum dari Michel W. Apple. Dari penelitian yang dilakukan menemukan bahwa latar belakang dari M. Noh dan Boediono yang melibatkan teknokrat menyebabkan keputusan yang dihasilkan sangat bersifat hegemonik. Sementara, kirikan yang dibuat oleh beberapa pihak sangat bersifat nasionalis atau berparadigma dari pendidikan kritis. Hal ini disebabkan karena mereka kembali kepada romantisme dalam membuat konstitusi yang seharusnya digunakan sebagai dasar pembuatan kebijakan dikemudian hari. Sebagai tambahan, ilusi dari kesempurnaan pendidikan yang diciptakan oleh pendahulu dari Indonesia (Ki Hadjar Dewantara) juga tidak lepas dari dasar ini.Kata Kunci: Perubahan Kurrikulum, Kurikulum 2013, Ideologi.
RELATIONSHIP BETWEEN INTERNET MEDIA EXPOSURE AND SEXUAL BEHAVIOUR AMONG YOUNG PEOPLE IN SURAKARTA: 2017/2018 YEAR TWO ENGLISH STUDENTS OF FACULTY OF EDUCATION, SEBELAS MARET UNIVERSITY, SURAKARTA Chinedu Cletus Agbo
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.67 KB)

Abstract

Internet technology nowadays shows a quick progress, and internet media increase their number of users on each day. Social networking, which is one of the main indicators of the internet technology era, attracts people of all ages while the virtual world goes beyond the real life via the applications it offers. Especially young people show an intense interest in internet which is an extension of the media technology. Internet media exposure is increasing both in Indonesia nay Surakarta and all around the world. This study aims to determine the Relationship between Internet Exposure and Sexual Behaviour among young people in Surakarta, and to make suggestions on the prevention of the harmful sexual behavioural effects to the exposure while stating the current work carried out on the subject in Indonesia. Explanatory quantitative cum survey type research model is used in the study, and Internet. In this study, the exposure factor of the Internet Status Scale is used as a data collection tool to measure level of sexual behaviour among young people. The study is conducted on 20 students between the ages of 19-21 with a finding that there is no significant gender difference in internet media exposure even though frequency of exposure and visits had impact on sexual behavior as results showed. Internet Exposure level shows a dramatic increase also in the case of daily time spent on the Internet. The study also provides suggestions on possible actions to prevent harmful sexual behaviour from the exposure. Keywords: Internet Media Exposure, Sexual Behaviour, Relationship, Young people..       AbstrakInternet jaman sekarang menunjukan perkembangan yang cepat, dan media internet meningkatkan jumlah pengguna mereka setiap hari. Jaringan sosial, yang merupakan salah satu indikator utama dari era teknologi internet, menarik orang dari segala usia sementara dunia maya melampaui kehidupan melalui aplikasi itu menawarkan. Khususnya generasi muda menunjukkan minat yang intens di internet yang merupakan perpanjangan dari media teknologi. Eksposur media internet meningkat di Indonesia nay Surakarta maupun di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara eksposur Internet dan perilaku seksual antara orang-orang muda di Surakarta, dan untuk membuat saran pencegahan efek perilaku seksual berbahaya untuk paparan sambil menyatakan saat ini pekerjaan yang dilakukan keluar pada subjek di Indonesia. Penjelasan kuantitatif cum survei jenis penelitian model digunakan dalam penelitian, dan Internet. Dalam studi ini, faktor paparan Internet Status skala digunakan sebagai data koleksi alat untuk mengukur tingkat perilaku seksual antara orang-orang muda. Kajian dilakukan terhadap 20 siswa berusia antara 19-21 dengan menemukan bahwa tidak ada perbedaan signifikan gender dalam eksposur media internet meskipun frekuensi eksposur dan kunjungan memiliki dampak pada perilaku seksual sebagai hasil menunjukkan. Tingkat pemaparan Internet menunjukkan peningkatan dramatis juga dalam kasus sehari-hari waktu yang dihabiskan di Internet. Studi juga menyediakan saran mungkin tindakan untuk mencegah perilaku seksual yang berbahaya dari eksposur. Kata kunci: Paparan Media Internet, Perilaku Seksual, Hubungan, Orang-Orang Muda
ANALISIS PERUBAHAN EKOSISTEM KAWASAN PESISIR PULAU SABANG mustaqim mustaqim Abubakar
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.283 KB)

Abstract

This research was intended to analyze the cause and impacts of the coastal ecosystem changes on the fishing community on Sabang island. The changes of coastal ecosystem of corals and mangroves were believed to have direct impacts to local communities who live on fishing in the island. Mix method approach such as survey, in-depth interviews, focus group discussions and observation was applied to collect the data. The results showed that those coastal ecosystem changes were caused by various communitie activities such as fish bombing, toxic materials, coral dredging, waste disposal, freshwater diversion and natural disaster such as tsunami. Therefore, changes in ecosystems have had serious impact on fishermen communities' activities. In addition, the most perceived impacts of recent years are reduced diversity of reef fish, further fishing range, declining marine biota population, and reduced mangrove areasKeywords: Ecosystems, Coastal Zones, Sabang IslandAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab dan dampak perubahan ekosistem pesisir terhadap masyarakat nelayan di Pulau Sabang. Perubahan ekosistem karang dan mangrove telah memiliki dampak langsung bagi masyarakat nelayan di Pulau Sabang. Pendekatan survei, wawancara mendalam, focus group discussion, dan observasi digunaan untuk mengumpulkan data. Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan ekosistem pesisir tersebut disebabkan oleh berbagai kegiatan masyarakat seperti pengeboman ikan, penggunaan bahan beracun, pengerukan karang, pembuangan limbah, pengalihan air tawar dan bencana alam seperti tsunami. Perubahan ekosistem berdampak serius pada kegiatan masyarakat nelayan. Dampak yang paling dirasakan beberapa tahun terakhir adalah berkurangnya keragaman ikan karang, jangkauan penangkapan ikan lebih jauh, penurunan populasi biota laut, dan berkurangnya luasan mangrove.Kata Kunci:  Ekosistem, Kawasan Pesisir, Pulau Sabang
OUTBOND SEBAGAI SARANA MENINGKATKAN KESEHATAN JASMANI DAN ROHANI DI PERUSAHAAN PT GARUDA PRIMA SENTOSA Sri Hilmi Pujihartati; Mahendra Wijaya; Thomas Aquinas Gutama
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (833.037 KB)

Abstract

AbstractThis study is motivated by the fact that the technical arrangements of work in the company determine the majority of the physical expenditure of the company's employees. As a result, company employees will experience psychological tension due to the degree of physical expenditure of the company's employees. In connection with this background there needs to be an activity as a means to improve the physical and spiritual health of employees at PT Garuda Prima Sentosa. This study method is outbound. The analysis was conducted with a qualitative descriptive approach. With these outbound activities, the aim is to improve the physical and spiritual health of employees and foster work spirit among employees of PT Garuda Prima Sentosa. The benefits achieved are maintaining the physical and spiritual health of employees and maintaining the morale of the employees of PT Garuda Prima Sentosa. Keywords: Outbound, Physical and Mental Health, Spirit of Work AbstrakStudi pada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh adanya fakta bahwa pengaturan teknis pekerjaan di perusahaan menentukan sebagian besar derajat pengeluaran tenaga fisik dari karyawan perusahaan. Akibatnya karyawan perusahaan akan mengalami ketegangan psikis akibat derajat pengeluaran tenaga fisik karyawan perusahaan. Berkaitan dengan latar belakang tersebut perlu adanya suatu kegiatan sebagai sarana untuk meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani karyawan di PT Garuda Prima Sentosa. Metode studi ini adalah dengan melakukan outbound. Analisis dilakukan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Dengan kegiatan outbond tersebut maka tujuannya untuk meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani karyawan dan menumbuhkan semangat kerja di kalangan karyawan PT Garuda Prima Sentosa akan tercapai. Adapun manfaat yang tercapai adalah terjaganya kesehatan jasmani dan rohani karyawan dan menjaga semangat kerja karyawan PT Garuda Prima Sentosa. Kata Kunci: Kegiatan Outbond, Kesehatan Jasmani dan Rohani, Semangat Kerja Karyawan
PERAN BUDAYA ORGANISASI DALAM PEMBENTUKKAN KARAKTER, ETIKA DAN MORAL SISWA SMA NEGERI DI KOTA MALANG Alan Sigit Fibrianto; Ananda Dwitha Yuniar
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.633 KB) | DOI: 10.20961/jas.v9i1.41372

Abstract

Moral of students as the next generation of the nation experienced a lot of shifts. This is evidenced from the many cases of students against teachers, brawls between students, addicted to online games and so on. With the behavior patterns of the younger generation like this, it can be said that the younger generation has experienced moral degradation. This study aims to explain how organizational culture is able to be a shield for poor student behavior. This descriptive qualitative research approach uses observation and interviews as data collection techniques and focuses on several organizations that exist in state high schools in Malang. The results show that there is an ideology that is firmly embedded in students who are members of the organization. In addition, the activities reflected in the organization are able to foster leadership and high sense of responsibility. The organization is part of the school curriculum that plays a role in creating activities that are non-academic and is expected to be able to contribute in the form of achievement and raise the good name of the school. The organization becomes a place in the formation of the character of the nation's next generation. Youth as an agent of change must have been formed since school, and the best formation period is at the high school level where individuals are already part of the society as a whole.Keywords: Culture of Organizatio; Ethics; Character; Morality; Youth Generation. AbstrakMoral siswa sebagai generasi muda penerus bangsa banyak mengalami pergeseran. Hal ini dibuktikan dari banyaknya kasus-kasus siswa melawan guru, tawuran antar siswa, kecanduan game online dan sebagainya. Dengan adanya pola perilaku generasi muda seperti ini, bisa dikatakan bahwa generasi muda telah mengalami degradasi moral. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan bagaimana budaya organisasi mampu menjadi tameng bagi perilaku pelajar yang buruk. Penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif ini menggunakan observasi dan wawancara sebagai teknik pengumpulan data dan berfokus pada beberapa organisasi yang ada di SMA Negeri di Kota Malang. Hasil menunjukkan bahwa terdapat ideologi yang tertanam kuat pada diri pelajar yang tergabung di dalam organisasi. Selain itu, kegiatan yang tercermin dari organisasi mampu menumbuhkan jiwa-jiwa kepemimpinan dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Organisasi merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang berperan dalam menciptakan aktivitas yang bersifat non-akademis serta diharapkan mampu memberikan sumbangsih berupa prestasi dan mengangkat nama baik sekolah. Organisasi menjadi wadah dalam pembentukkan karakter pemuda penerus bangsa. Pemuda sebagai agent of change sudah harus dibentuk sejak bangku sekolah, dan masa pembentukkan terbaiknya adalah pada jenjang SMA di mana individu secara perdana sudah menjadi bagian dari masyarakat secara utuh.   Kata kunci : Budaya Organisasi; Etika; Karakter; Moral; Pemuda.

Page 8 of 23 | Total Record : 225