cover
Contact Name
Argyo Demartoto
Contact Email
jas@mail.uns.ac.id
Phone
+62271637277
Journal Mail Official
jas@mail.uns.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.uns.ac.id/jas/about/editorialTeam
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Analisa Sosiologi
ISSN : 23387572     EISSN : 26150778     DOI : -
Core Subject : Social,
Jurnal Analisa Sosiologi (JAS) diterbitkan per semester pada bulan April dan Oktober oleh Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan ISSN : 2338 - 7572 (Print) dan ISSN: 2615-0778 (Online). JAS berdasarkan kutipan dan keputusan Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor: 21/E/KPT/2018, tanggal 9 Juli 2018 tentang hasil akreditasi jurnal ilmiah periode 1 tahun 2018, telah terakreditasi Peringkat 4 yang berlaku 5 Tahun, yaitu Volume 5 Nomor 1 tahun 2016 sampai Volume 9 Nomor 2 Tahun 2020. JAS memfokuskan diri pada hasil penelitian terkait isu-isu sosial-kontemporer di Indonesia, khususnya yang berkenaan dengan perkembangan masyarakat dari berbagai aspek. Selain itu, JAS juga menerima artikel yang bersumber pada telaah pustaka terkait dengan upaya pengembangan teori-teori sosiologi. Informasi mengenai JAS juga bisa diperoleh melalui media sosial.
Articles 225 Documents
BUDAYA KONSUMERISME PETANI PERKOTAAN: STUDI GAYA HIDUP PETANI DI KELURAHAN JERUK, LAKARSANTRI, SURABAYA Oktafia Mustika Rani; Medhy Aginta Hidayat
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i2.44359

Abstract

Even though urban farmers in Jeruk Village, Lakarsantri, Surabaya live on the threshold of the poverty line, they show a consumptive lifestyle. This study examines the practices of consumerism culture carried out by urban farmers in Jeruk Village, Lakarsantri, Surabaya. This study uses a qualitative research method with a case study approach. Informants were selected based on a purposive sampling technique. Data were collected using documentation, observation, and in-depth interviews. The data analysis was guided by Jean Baudrillard’s theory of consumer society. The results of this study indicate that the practices of consumerism culture is driven by the level of income, level of education, lifestyle and taste, and the self-concept of meeting the needs of life. This study also found three main indicators that the practices of consumerism culture: a high taste in clothing, a large need for basic necessities shopping, and a high taste of valuable symbol of social status. This study also found that low income did not cause urban farmers to stop fulfilling the secondary and tertiary needs. In fact, urban farmers continue to carry out consumptive behaviors that tend to be disproportionate to their low income levels.Keywords: Consumerism Culture, Lifestyle, Quasi-Consumerism, Urban Farmers AbstrakMeskipun hidup di ambang garis kemiskinan, sejumlah petani perkotaan di Kelurahan Jeruk, Kecamatan Lakarsantri, Kota Surabaya, menunjukkan gaya hidup yang cenderung konsumtif. Penelitian ini bertujuan menjelaskan praktik budaya konsumerisme yang dilakukan oleh para petani perkotaan di Kelurahan Jeruk, Kecamatan Lakarsantri, Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatatif dengan pendekatan studi kasus. Informan dipilih berdasarkan teknik purposive sampling. Sumber data dikumpulkan melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara-mendalam. Analisis data dipandu oleh teori yang dipilih, yakni teori masyarakat konsumer Jean Baudrillard. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik budaya konsumerisme petani perkotaan didorong oleh sejumlah faktor, diantaranya adalah tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, gaya hidup dan selera, serta konsep diri terhadap pemenuhan kebutuhan hidup. Penelitian ini juga menemukan tiga indikator utama telah berlangsungnya praktik budaya konsumerisme di kalangan petani perkotaan, yakni selera yang cukup tinggi dalam membeli pakaian, selera yang cukup besar dalam berbelanja barang-barang kebutuhan pokok, serta selera dan kepemilikan yang cukup tinggi atas barang berharga sebagai simbol status sosial. Penelitian ini menggarisbawahi bahwa pendapatan yang rendah tidak menyebabkan petani perkotaan berhenti memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier. Bahkan, petani perkotaan dalam penelitian ini tetap melakukan aktivitas konsumsi dalam jumlah yang cukup besar dan cenderung tidak sebanding dengan tingkat penghasilan mereka yang rendah.Kata Kunci : Budaya Konsumerisme, Gaya Hidup, Kuasi-Konsumerisme, Petani Perkotaan
KARAKTERISTIK MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS GENDER Umi Pujiyanti; Yustin Sartika
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i1.40328

Abstract

The use of digital applications as a learning medium is one of the efforts to integrate technology and education. This descriptive qualitative research aims at figuring out how are the characters of Stop Motion Studio (SMS) and Life Lapse (LL), and how the preferences of both applications are used on a gender basis during the teaching-learning process at the English Letters Department, IAIN Surakarta. The SMS and LL are taken into account as the main sources of user interface characteristics. Further, there are 32 students of History of English Language and Literature (HELL) involved in this study to response to the applications’ user interface based on the gender through questionnaire and interview. The results exhibit a more neutral design of SMS compared to a more feminine LL. Secondly, gender indeed plays role in choosing the application between SMS and LL. Yet more detailed reasons for the preference are the ease of usage and feature completeness. Keywords: Gender, User-Interface, Mirroring-Principle, Learning Media. AbstrakPemanfaatan aplikasi digital sebagai media pembelajaran menjadi salah satu upaya integrasi teknologi dalam dunia pendidikan. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mengetahui karakter aplikasi Stop Motion Studio (SMS) dan Life Lapse (LL) dan preferensi penggunaan aplikasi sebagai media pembelajaran mahasiswa/wi Sastra Inggris IAIN Surakarta dengan berbasis gender. Subyek utama penelitian ini adalah SMS dan LL untuk mengetahui karaterikstik user interface-nya. Disamping itu, untuk melihat respon terhadap user interface berbasis gender, penelitian ini mengambil sampel sebanyak 32 mahasiwa siswa mata kuliah History of English Language and Literature (HELL). Penelitian ini menggunakan kuesioner dan wawancara. Temuan penelitian bisa disampaikan dalam dua hal: Pertama,  karakteristik desain antarmuka aplikasi SMS lebih netral sedangkan aplikasi LL lebih feminin. Preferensi gender perancang aplikasi terefleksikan dalam desain antarmuka. Kedua, gender hanya menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi preferensi penggunaan aplikasi oleh mahasiswa/wi. Kemudahan dan kelengkapan fitur menjadi faktor lain yang mempengaruhi preferensi penggunaan aplikasi. Kata Kunci: Gender, User-Interface, Mirroring-Principle, Media Pembelajaran
INTERAKSI SOSIAL ANTARA DIFABEL DENGAN PEDAGANG PASAR TANGGUL DI KOTA SURAKARTA Johan Effendy Dwi Saputra
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9 (2020): Edisi Khusus Implementasi Inovasi di Era Disrupsi
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i0.41587

Abstract

The rapid development and growth in the trade sector makes the traditional market a place where sellers and buyers exchange for goods and services. With the traditional market everyone has the right to access it as well as the diffable that have special needs. This research aims to determine the social interaction between the disabled and the market trader of Surakarta City and to know the service provided by the trader to the diffable. This study used the symbolic interacionism theory of George Herbert Mead. This research with a qualitative descriptive approach gathered from findings in the field through observation, in-depth interviews and documentation. The results of this research show that the form of social interaction that occurs between the diffable with the market trader of the city embankment of Surakarta is associative and dissociative. Pasar Tanggul also provides some services to the diffable by providing a friendly smile, good service by traders and market managers, whether it is to serve the diffable honestly and help the diffable in shopping. So that the diffable feel comfortable with the service provided. In addition, it is also supported and availability of accessible facilities that facilitate the accessibility of Tanggul market.Keywords: Social interactions, Diffable, Merchants, Traditional Markets. AbstrakPerkembangan dan pertumbuhan yang sangat pesat dalam sektor perdagangan menjadikan pasar tradisional sebagai tempat penjual dan pembeli mengadakan pertukaran barang dan jasa. Dengan adanya pasar tradisional semua orang berhak untuk mengaksesnya begitu juga dengan difabel yang memiliki kebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk interaksi sosial antara difabel dengan pedagang Pasar Tanggul Kota Surakarta dan Untuk mengetahui pelayanan yang diberikan pedagang terhadap difabel. Penelitian ini menggunakan teori Interaksionisme Simbolik dari George Herbert Mead. Penelitian ini dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang dikumpulkan dari hasil temuan di lapangan melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk interaksi sosial yang terjadi antara difabel dengan pedagang Pasar Tanggul Kota Surakarta yaitu asosiatif dan disosiatif. Pasar Tanggul juga memberikan beberapa pelayanan terhadap difabel dengan memberikan senyuman yang ramah, pelayanan yang baik oleh pedagang maupun pengelola pasar, baik itu dalam melayani difabel dengan jujur dan membantu difabel dalam berbelanja. Sehingga difabel merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan. Selain itu juga didukung dan tersedianya fasilitas yang ramah difabel yang mempermudah difabel dalam mengakses Pasar Tanggul.Kata kunci: Interaksi Sosial, Difabel, Pedagang, Pasar Tradisional. 
PENDIDIKAN BERBASIS RESPONSIF GENDER SEBAGAI UPAYA MERUNTUHKAN SEGREGASI GENDER Dini Damayanti; Fitria Rismaningtyas
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10 (2021): Edisi Khusus Sosiologi Perkotaan
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i0.47639

Abstract

Fair education is a right for all human beings. However, application does not always represent justice. Gender segregation is one of the problems in education. The separation between men and women can be a barrier in the learning process. Although access to education is extensive, it does not rule out the possibility that this gender segregation model is still stretched. This model can still be found in some boarding schools and schools with a strongly religious base. Separation can occur in some learning activities as well as the whole activities. This model is believed to perpetue gender bias and make the relationship between men and women tend to be rigid. Gender responsive education is one way to give students the widest possible space to learn together regardless of gender. The learning process in school tends to give full rights in learning and gives fair attention to the special needs of men and women. The purpose of this paper describes and analyzes how to realize the nuances of gender responsive education. The method used in this writing is qualitative method with descriptive analysis. The theory used to describe the reality of gender segregation in education is the theory of social construction. The results show that realizing a strong education of gender responsiveness requires support from all aspect of life. Aspects of awareness and understanding related to gender equality are important. Forming gender-responsive learning can be done with collaborative learning approaches and methods that collaborate with the participation of both men and women.  Keywords: Learning, Gender Responsiveness, Gender Segregation   AbstrakMengenyam pendidikan secara adil merupakan hak bagi semua manusia. Namun, penerapan tidak selalu merepresentasikan keadilan. Segregasi gender menjadi salah satu problematika dalam dunia pendidikan. Dimana pemisahan antara laki-laki dan perempuan dapat menjadi tembok pembatas dalam proses pembelajaran. Meskipun akses terhadap pendidikan begitu luas, tidak menutup kemungkinan model segregasi gender ini masih melenggang. Model ini masih dapat dijumpai di beberapa pondok pesantren maupun sekolah dengan basis agama yang kuat. Pemisahan dapat terjadi pada sebagian aktivitas belajar maupun keseluruhan aktivitas. Model ini disinyalir dapat melanggengkan bias gender dan menjadikan hubungan antara laki-laki dan perempuan cenderung kaku. Pendidikan dengan nuansa responsif gender merupakan salah satu cara untuk memberikan ruang seluas-luasnya pada para peserta didik untuk belajar bersama tanpa memandang gender. Pembelajaran cenderung memberikan hak sepenuhnya dalam belajar dan memberikan perhatian yang adil bagi kebutuhan khusus laki-laki dan perempuan. Tujuan penulisan ini mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana mewujudkan nuansa pendidikan yang responsif gender. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Sedangkan teori yang dipakai untuk menggambarkan realitas segregasi gender dalam pendidikan adalah teori konstruksi sosial. Hasil penelitian menunjukan bahwa mewujudkan pendidikan yang kental akan nuansa responsif gender membutuhkan support dari semua lapisan masyarakat. Aspek kesadaran dan pemahaman terkait dengan kesetaraan gender adalah penting. Membentuk pembelajaran yang responsif gender dapat dilakukan dengan pendekatan maupun metode pengajaran yang bersifat kolaboratif (collaborative learning) yang menggandeng partisipasi baik laki-laki maupun perempuan.  Kata Kunci: Pembelajaran, Responsif Gender, Segregasi Gender 
ANALYZING THE ROLES OF INDONESIAN IMMIGRATION AGAINST PANDEMIC Rizqi Ganis Ashari; Dwi Bima Achmad Setyawan
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10 (2021): Edisi Khusus ICOSAPS "Strengthening Resilient Society in the Disruptive Era"
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i0.46134

Abstract

The spread of Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) to various regions has initiated the government to formulate public policies to limit its spread. The restrictions to enter and exit a country's territory (lockdown), have become one of the public policies implemented by the governments. Despite the decision to apply lockdown, Indonesia has decided to apply a Large-Scale Social Restrictions (PSBB) program to overcome the transmission of COVID-19. The concrete impact of the implementation of the policy is dynamic changes in the Regulation of the Ministry of Law and Human Rights (Permenkumham) which acts as the basis for immigration practice. The study aimed to identify the role of Indonesian Immigration which stands on the four Laws of the ministerial regulations that were specifically formed in response to the spread of COVID-19. Based on a theoretical framework from the perspective of complexity and normative approaches using the Issue, Rule, Analysis/Application, and Conclusion methods, this study has identified a tendency for the role of Indonesian immigration to be adaptive following changes during a pandemic. The dynamics changes of ministerial regulations are formed through the interpretation of various facts. This interpretation has resulted in the gradual role of Indonesian Immigration which increasingly reinforces the regulation regarding the presence of foreigners in Indonesia at every change occurring in ministerial regulations. The implications regarding the adaptive nature of ministerial regulations are discussed further in this study by correlating the role of opinion leaders to minimizing negative images due to intensely changing policies. Keywords: Coronavirus Disease-19, Immigration Role, Public Policy, Complexity Perspective, Adaptive Regulation AbstrakPenyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang secara masif mewabah ke berbagai wilayah, mengakibatkan negara-negara di dunia merumuskan kebijakan publik untuk meminimalisir penularannya. Peraturan yang memperketat lalu lintas masyarakat untuk keluar dan masuk wilayah suatu negara (lockdown), menjadi salah satu opsi kebijakan publik yang banyak dipilih. Di tengah maraknya negara-negara di dunia menerapkan lockdown, Indonesia memilih opsi lain berupa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengatasi penularan COVID-19 di wilayahnya. Dampak kongkret dari diberlakukannya kebijakan itu adalah perubahan secara dinamis Peraturan Kementerian Hukum dan Asasi Manusia (Permenkumham) yang menjadi landasan atas berlangsungnya praktek keimigrasian. Penelitian ini kemudian bertujuan untuk mengetahui peran Imigrasi Indonesia yang berada pada empat Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia yang secara khusus dibentuk untuk merespon COVID-19. Dengan menggunakan kerangka teoritik dari perspektif kompleksitas dalam pembuatan kebijakan publik dan pendekatan normatif dengan metode Issue, Rule, Analysis/Application, serta Conclusion, penelitian ini menemukan adanya kecenderungan peran Imigrasi Indonesia bersifat adaptif mengikuti perubahan lanskap sosial di saat pandemi. Dinamika perubahan peraturan menteri itu terbentuk melalui interpretasi terhadap berbagai fakta aktual. Hal ini berjalan melalui empat tahap: 1) pembelajaran, 2) negosiasi persetujuan, 3) transfer gagasan, dan 4) kontekstualisasi. Keempat tahap ini menghasilkan peran Imigirasi Indonesia yang bersifat gradual dan semakin ketat mengatur keberadaan orang asing di Indonesia di setiap perubahan peraturan menteri. Implikasi mengenai sifat adaptif peraturan menteri dibahas lebih jauh di penelitian ini dengan mengaitkan peran opinion leader untuk menimalisir citra negatif akibat kebijakan yang berubah secara intens. Kata Kunci: Coronavirus Disease-19; Peran Imigrasi, Kebijakan Publik, Perspektif Kompleksitas, Regulasi Adaptif
PERILAKU MASYARAKAT KOTA: TELAAH KRISIS EKOLOGI DI KECAMATAN SERENGAN KOTA SURAKARTA Muhammad Alif Alauddin; Alif Akbar Pribandono; Fio Debi Saputri; Novenda Hijrah Nugraheni Pramukti; Khexe Purnama Sari; Rosseta Septia Menawati; Addin Kurnia Putri
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9 (2020): Edisi Khusus Implementasi Inovasi di Era Disrupsi
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i0.40665

Abstract

Population growth in big cities impact to various social problems. The city of Surakarta as the second largest municipality in Central Java is full of social problems due to the behavior caused by the people. This study explores the behavior of urban communities which widely impact to environmental damage or ecological crises. Serengan Subdistrict was chosen as the research location because of its limited environmental management facilities which are not evenly distributed compared to other sub-districts in Surakarta City. The focus of this study is the behavior of urban communities in Serengan District, Surakarta City. Researchers used a mixed method with a qualitative-dominant and quantitative-less design. Phenomenology is used as an approach to explore the various typifications of society from the perspective of behavior and ecological crises. In-depth interviews (in-depth interviews), observation, literature study, and documentation were carried out in collecting qualitative data. While there were 96 respondents who then used quantitative Pearson correlation analysis in presenting the data results. Qualitative research shows that in the Serengan District community there are 2 types of behavior and ecological crises, i.e gigantism and environmental management systems. The quantitative results show a positive relationship between the 2 variables. This research is useful as an in-depth study of sociology and environmental science on the development of urban communities, particularly in the city of Surakarta.Keywords: Urban Community Behavior, Urban Sociology, Ecology.AbstrakPertumbuhan penduduk di kota-kota besar menimbulkan beragam masalah sosial. Kota Surakarta sebagai kota madya terbesar kedua di Jawa Tengah penuh dengan permasalah sosial akibat perilaku masyarakatnya. Penelitian ini berusaha menggali perilaku masyarakat kota yang berpengaruh kepada kerusakan lingkungan atau krisis ekologi. Kecamatan Serengan dipilih menjadi lokasi penelitian karena keterbatasan fasilitas pengelolaan lingkungan yang tidak merata dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kota Surakarta. Fokus studi ini adalah perilaku masyarakat perkotaan di Kecamatan Serengan, Kota Surakarta. Peneliti menggunakan mixed method dengan desain qualitative-dominant and quantitative-less. Fenomenologi digunakan sebagai pendekatan untuk menggali ragam tipifikasi masyarakat atas perspektif perilaku dan krisis ekologi. Wawancara mendalam (indepth-interview), observasi, studi literatur, dan dokumentasi dilakukan dalam pengumpulan data kualitatif. Sedangkan terdapat 96 responden yang selanjutnya menggunakan analisis korelasi pearson kuantitatif dalam penyajian hasil data. Penelitian kualitatif menunjukan pada masyarakat Kecamatan Serengan terdapat 2 tipifikasi terhadap perilaku dan krisis ekologi yaitu gigantisme dan sistem pengelolaan lingkungan. Hasil kuantitatif menunjukan hubungan positif antara 2 variabel tersebut. Penelitian ini bermanfaat sebagai telaah mendalam sosiologis dan ilmu lingkungan terhadap perkembangan masyarakat kota khususnya di Kota Surakarta. Kata kunci: Perilaku Masyarakat Kota, Sosiologi Perkotaan, Ekologi.
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN WISATA PANTAI KENJERAN SURABAYA DAN KONFLIK NELAYAN Amal Taufiq; Siti Azizah
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i2.40072

Abstract

The focus of this research is the conflict that occurred between the the fishermen of Tambak Wedi Kenjeran Surabaya and PT PP Properti Suramadu, which represents the Surabaya city government as a result of government policies in developing the Kenjeran Beach tourism area, especially in the cable car development plan. This study used a qualitative approach, so that in the data mining technique the researcher used the method of observation, in-depth interviews, and documentation. From the research results, it was found that the Kenjeran beach tourism development policy carried out by the Surabaya City Government was in accordance with the natural and socio-cultural potential of the local community, but the impact of this policy was a conflict which in Ralf Dahrendorf's perspective there were three groups involved in the conflict. namely quasi groups, interest groups and conflict groups. The conflict started because of the demolition of a fishing post which had been used to monitor boats, three posts were dismantled, a fishing post for cumi-cumi group, kakap merah group and dorang groups, due to massive protests from fishermen until finally there was mediation by the Surabaya legislative, finally a fishing post was built. reset at the same location.Keywords: Tourism Area Development, Government Policy, Fishermen AbstrakFokus dalam penelitian adalah konflik yang terjadi antara nelayan Tambak Wedi kecamatan Kenjeran Surabaya dengan PT PP Properti Suramadu yang mewakili pemeritah kota Surabaya sebagai dampak dari kebijakan pemerintah dalam  pengembangan kawasan wisata Pantai Kenjeran terutama dalam rencana pembangunan Kereta Gantung. Penelitian ini  menggunakan pendekatan kualitatif, sehingga dalam teknik penggalian data peneliti menggunakan metode observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa kebijakan pengembangan kawasan wisata pantai Kenjeran yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya sesuai dengan potensi alam dan sosial budaya masyarakat setempat, namun dampak dari kebijakan itu terjadi konflik yang dalamk persepektif Ralf Dahrendorf ada tiga kelompok yang terlibat dalam konfik itu. yaitu kelompok semu, kelompok kepetingan dan kelompok komflik. Konflik dimulai karena adanya pembongkaran pos nelayan yang selama ini digunakan untuk memantau perahu, ada tiga pos yang dibongkar, pos nelayan kelompok cumi-cumi, kakap merah dan dorang, karena protes masif dari nelayan hingga akhirnya ada mediasi oleh DPRD Surabaya, akhirnya pos nelayan dibangun ulang di lokasi yang sama.Kata Kunci : Wisata Pantai; Kebijakan Pemkot;  Nelayan
HUBUNGAN PERAN GANDA DENGAN FUNGSI SOSIALISASI MELALUI RELASI GENDER DALAM KELUARGA BURUH GENDONG PASAR LEGI KOTA SURAKARTA Ika Agustina; Argyo Demartoto
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i1.44349

Abstract

The purpose of this research is to find out the relationship between the multiple roles and the function of socialization through gender relations, in the family of the carrying worker Pasar Legi, Surakarta. The Structural-functional theory of Parsons and Liberal Feminism are used in this research. This research uses a quantitative approach, type of explanatory research, and survey methods. The population in this study was 300 slave laborers with 83 samples taken. The data analysis technique uses data tabulation and correlation statistics (product-moment correlation test, partial correlation, and multiple correlations). Based on the results of this study, it indicates that the relationship between multiple roles and the function of socialization is not pure, but must go through gender relations. Gender relations as a test factor for predecessor variables. However, in a variable of multiple roles, the function of socialization, and gender relations have a joint relationship. The results of this study are under structural-functional theory and liberal feminism theory. It can be concluded that the more balanced the dual roles, the more balanced the family socialization function that is applied because of the more balanced gender relations.Keywords: family socialization function; gender; multiple roles; gender relations.Tujuan dalam penelitian skripsi ini adalah untuk mengetahui hubungan antara peran ganda dengan fungsi sosialisasi melalui relasi gender, dalam keluarga buruh gendong Pasar Legi Kota Surakarta. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Struktural Fungsional Parsons dan Feminisme Liberal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, jenis penelitian eksplanasi, dan metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah buruh gendong sebanyak 300 orang dengan sampel yang diambil sebanyak 83 orang. Teknik analisis data menggunakan tabulasi data dan statistik korelasi (uji korelasi product moment, korelasi parsial, dan korelasi ganda). Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa hubungan antara peran ganda dengan fungsi sosialisasi tidak murni, tetapi harus melalui relasi gender. Relasi gender sebagai faktor uji variabel pendahulu. Akan tetapi di dalam variabel peran ganda, fungsi sosialisasi, dan relasi gender memiliki hubungan secara bersama-sama. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori struktural fungsional maupun teori feminisme liberal. Dapat disimpulkan bahwa semakin seimbang peran ganda, maka semakin seimbang fungsi sosialisasi keluarga yang diterapkan karena semakin seimbang relasi gender.Kata Kunci : fungsi sosialisasi; gender; peran ganda; relasi gender.
KOTA FESTIVAL DAN SKEMA KEBIJAKAN WISATA KOTA DI SURAKARTA Akhmad Ramdhon; Heru Nugroho; Arie Sujito
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v9i2.43788

Abstract

Tourism in Surakarta has a long dynamic in the attempt of contributing to the city development agenda. Based on tourism economic policy with MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) tourism strategy, city tourism is supported with cultural festival. A series of festival agendas is used to promote city and MICE tourism as the city governance attempt as the part of tourism development in decentralization era.  This study explained art and cultural festival to support city tourism and its effect on the attempt of activating the economic. Primary data was collected with etnografi approach to a variety of city festival agendas, result of observation, in-depth interview, some related documents were review and analyzed. The result of research, Surakarta tourism policy along with cultural festival series becomes a cultural event supporting the tourist destination experiencing revitalization effort as well. The Spirit of Java becomes a policy node to support public participation in various festivals designed in regular event calendar. Tradition and history-based festival was recycled into creative works along with public enthusiasm in the platforms worked on grandiosely. The tourist visit rate affects the city’s economy and infrastructural development scheme, becoming the long-term city policy. Surakarta transforms gradually into new spaces to tourism industry with big challenge to ensure the preservation of city tradition, and conservation of culture. Keywords: City, Desentralization, City Tourism, Festival City AbstrakPariwisata di Kota Surakarta mempunyai dinamika yang panjang dalam upaya untuk berkontribusi pada agenda pembangunan kota. Berbasis kebijakan ekonomi wisata dengan strategi pengembangan wisata MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) pariwisata kota yang ditopang festival budaya. Rangkaian  agenda festival  untuk mempromosikan kota dan wisata MICE sebagai upaya tata kelola kota sebagai bagian dari perkembangan pariwisata diera desentralisasi.  Studi ini menjelaskan festival seni budaya untuk menopang pariwisata kota dan dampaknya bagi upaya menggerakkan roda ekonomi.  Data primer diambil lewat pendekatan etnografis atas berbagai agenda festival kota, hasil observasi, in-depth interview, dan beberapa dokumen terkait direview dan dianalisis.  Hasil dari studi ini, kebijakan pariwisata Surakarta dengan rangkaian festival budaya menjadi event budaya sekaligus menopang destinasi wisata yang juga mengalami upaya revitalisasi. The Spirit of Java menjadi simpul kebijakan untuk mendorong keterlibatan publik dalam berbagai festival yang dirancang dalam kalender event reguler. Festival dengan basis tradisi dan sejarah yang didaur ulang kembali menjadi kerja-kerja kreatif bersama antusiasme publik di panggung-panggung yang digarap dengan megah.  Angka kunjungan wisatawan menjadi dampak bagi ekonomi kota dan skema pengembangan infrastruktur menjadi skema kebijakan kota jangka panjang. Kota Surakarta bertahap bertransformasi menjadi ruang-ruang baru bagi industri wisata dengan tantangan besar untuk memastikan kelestarian tradisi, dan budaya kota tetap terjaga dengan baik.Kata kunci : Kota, Desentralisasi, Wisata Kota, Kota Festival
INTERAKSI SIMBOLIK PADA PERTUNJUKAN JARANAN JAWA TURONGGO BUDOYO DESA REJOAGUNG KABUPATEN TULUNGAGUNG Ristra Zhafarina Safira; I Nengah Mariasa
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v10i1.46550

Abstract

The purpose of writing this article is to describe how the symbolic interactions are established between the Jaranan Jawa Turonggo Budoyo arts that grow and develop in Rejoagung Village and the audience. This study uses an analysis of symbolic interactions pioneered by Goerge Hebert Mead. The Jaranan Jawa Turonggo Budoyo performance in Rejoagung Village through verbal communication carried out by the actors of the jaranan art, namely through the elements contained therein such as motion, property, offerings, costumes, etc. are the symbols that exist in this dance. The symbols presented have their own meaning, so that they get appreciation from various audiences who have different backgrounds. This dance is performed for people who have nadzar and when there are people who catch it and this is especially true for Rejoagung residents. This is a response from the audience who is interested in this dance. Artists are a group of Reajoagung residents who have participated and consciously joined the Turonggo Budoyo organization.Kata kunci: Jaranan Jawa Turonggo Budoyo, symbolic interactions, audience AbstrakPenulisan artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana terjalinnya interaksi simbolik antara kesenian Jaranan Jawa Turonggo Budoyo yang tumbuh dan berkembang di Desa Rejoagung dengan penonton. Metode yang digunakan yakni kualitatif deskkriptif. Penelitian ini mengunakan analisis dari interaksi simbolik yang dipelopori oleh Goerge Hebert Mead. Pertunjukan Jaranan Jawa Turonggo Budoyo melalui komunikasi verbal dilakukan oleh para pelaku kesenian jaranan, yaitu melaui unsur-unsur yang yang terkandung didalamnya seperti gerak, properti, sesaji, kostum, dan lain-lain merupakan simbol-simbol yang ada pada tarian ini. Simbol-simbol tersebut dihadirkan memiliki makna tersendiri, sehingga mendapatkan apresiasi dari berbagai penonton yang memiliki latar berlakang berbeda-beda. Tarian ini dipentaskan untuk pemenuhan nadzar terkhusus bagi warga Rejoagung. Hal tersebut merupakan adanya respon dari penonton yang tertarik pada tarian ini. Pelaku seni merupakan sekumpulan warga Reajoagung yang turut andil dan secara sadar bergabung dalam organisasi Turonggo Budoyo.Kata kunci: Jaranan Jawa Turonggo Budoyo, Interaksi simbolik, penonton

Page 11 of 23 | Total Record : 225