cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2023): April" : 7 Documents clear
ANALISA TERMAL JENDELA TINGKAP BANGUNAN VERNAKULAR-PEKANBARU Arman Susilo; Eddy Prianto
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 10, No 1 (2023): April
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lantang.v10i1.54890

Abstract

Rumah tradisional di Indonesia termasuk rumah Melayu kini telah banyak mengalami perubahan dan mulai ditinggalkan. Perubahan bentuk dan penggunaan material akan berpengaruh terhadap kinerja termal yang terjadi. Sementara itu rumah tradisional diyakini sebagai bangunan vernakular yang responsif terhadap iklim dan dapat memberikan kondisi termal yang cukup bagi penghuninya. Hal tersebut menjadi dasar untuk mengetahui kinerja termal yang terjadi pada rumah tradisional yang menggunakan jendela tingkap. Metode yang digunakan pada penelitian ini kuantitatif deskriptif dengan melihat korelasi variabel suhu, kelembaban, dan kecepatan angin pada objek dalam waktu tertentu dengan ragam ventilasi bukaan. Hal ini bertujuan mengetahui pengaruh ragam bukaan jendela tingkap terhadap kinerja termal yang terjadi. Hasil dari penelitian kinerja termal jendela tingkap ini adalah cukup baik yang berpengaruh pada tingkat kenyamanan temal. Dari hasil perolehan akhir perhitungan tingkat kenyamanan termal relatif sama antara ruang (perbedaan tidak signifikan), selasar dalam dengan PMV = 1,17 (agak hangat/slightly warm) dan ruang induk dengan nilai PMV=1,2 (agak hangat/slightly warm). THERMAL ANALYSIS OF VERNACULAR WINDOW IN PEKANBARU Traditional houses in Indonesia, including Malay houses, have undergone many changes and are starting to be abandoned. Differences in shape and use of materials will affect thermal performance. Meanwhile, traditional houses are believed to be vernacular buildings that are responsive to climate and can provide sufficient thermal conditions for their inhabitants. This is the basis for knowing the thermal performance in traditional houses that use casement windows. The method used in this research is quantitative descriptive by looking at the correlation of temperature, humidity, and wind speed variables on objects at a particular time with various ventilation openings. This aims to determine the effect of various window openings on thermal performance. The results of this casement window thermal performance study are pretty good, affecting the thermal comfort level. From the results of the final calculation, the level of thermal comfort is relatively the same between the rooms (the difference is not significant), the inner hallway with PMV = 1.17 (slightly warm) and the main room with a value of PMV = 1.2 (slightly warm). 
DARI REALITA MENJADI WACANA: REPRESENTASI PANOPTISISME PADA PERENCANAAN KOTA PROBOLINGGO Sayyidah Shabri; Susilo Kusdiwanggo; Yusfan Adeputera Yusran
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 10, No 1 (2023): April
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lantang.v10i1.55858

Abstract

Kota Probolinggo merupakan salah satu kota peninggalan zaman penjajahan Belanda. Menurut Hidayat & Widriyakara (2018), Kota Probolinggo menerapkan bentuk pengawasan panoptikon. Namun definisi panopticon tersebut tidak sepenuhnya terepresentasikan secara fisik pada tata Kota Probolinggo. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bahwa Kota Probolinggo tidak hanya merupakan bentuk kota yang menerapkan pengawasan fisik tetapi juga menggambarkan panoptisisme. Dengan menggunakan analisis deskriptif sinkronis-diakronis, penelitian ini mendeskripsikan sejarah perkembangan Kota Probolinggo sebelum tahun 1743, 1743-1850, 1850-1880an, dan 1880an-1940 untuk menggambarkan bentuk kekuasaan dan kendali panoptisisme pada masa itu dan kaitannya dengan morfologi Kota Probolinggo saat ini.FROM REALITY TO DISCOURSE: REPRESENTATION OF PANOPTICISM IN PROBOLINGGO CITY’S PLANNING Probolinggo City is one of the heritage cities of the Dutch colonial era. According to Hidayat & Widriyakara (2018), the City of Probolinggo represents a form of panopticon surveillance. However, the definition of the panopticon only partially means physically in the form of Probolinggo City. This research aims to reveal that the City of Probolinggo is not only a form of city that applied physical surveillance but also portrays panopticism. Using synchronic-diachronic descriptive analysis, this study describes the history of the development of Probolinggo City before 1743, 1743-1850, 1850-the 1880s, and 1880s-1940 to describe the form of power and control of panopticism at that time and its relation to the morphology of Probolinggo City today.
EVALUASI PENILAIAN AKSESIBILITAS KOTA SINGKAWANG BERDASARKAN KEPADATAN DALAM GRID Bontor Jumaylinda Br Gultom; Dian Rahayu Jati; Affrilyno Affrilyno
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 10, No 1 (2023): April
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lantang.v10i1.56335

Abstract

Kepadatan penduduk akan terus bertambah sejalan dengan peningkatan populasi dan kebutuhan tempat tinggal. Kepadatan penduduk di suatu kota dapat menyebabkan ketidaksesuaian antara ruang yang tersedia dengan daya dukung lingkungannya. Perbedaan yang terjadi dapat menyulitkan dalam pengalokasian sumber daya atau bantuan jika terjadi bencana. Saat ini, catatan persebaran penduduk hanya berupa data kepadatan kota atau kabupaten. Data ini tidak dapat menunjukkan secara pasti area dengan kepadatan penduduk yang spesifik. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian mengenai persebaran spasial penduduk dan aksesibilitas antar segmen spasial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran penduduk pada grid 1 km dan penilaian aksesibilitas di Kota Singkawang. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pemetaan populasi dan space syntax. Penelitian ini melakukan pemetaan kuadran serta analisis korelasi sebagai penilaian aksesibilitas kota. Hasil persebaran penduduk Kota Singkawang menunjukkan kepadatan tertinggi dan terkonsentrasi di Kecamatan Singkawang Barat. Peta kuadran menunjukkan Kota Singkawang memiliki aksesibilitas yang baik. Peta ini dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk pengembangan kota. Dengan adanya peta pembagian kuadran, pemerintah dapat mengkonsentrasikan pengembangan dan perbaikan di unit jaringan dengan aksesibilitas rendah terlebih dahulu. Nilai koefisien korelasi 42% dan 19% menunjukkan korelasi positif dan sedang antara distribusi kepadatan dan aksesibilitasnya pada setiap unit grid.EVALUATION OF SINGKAWANG CITY ACCESSIBILITY ASSESSMENT BASED ON GRID DENSITYPopulation density will continue to increase in line with the increase in population and housing needs. The population density in a city can cause a mismatch between available space and the carrying capacity of its environment. Differences can make it challenging to allocate resources or assistance in a disaster. Currently, records of population distribution are only in the form of city or district density data. These data cannot clearly show the area with a specific population density. In this regard, it is necessary to research the population's spatial distribution and accessibility between spatial segments. Data on the spatial distribution of the people and accessibility can be used as a basis for consideration in urban development. This study aims to determine the population distribution on a 1 km grid and assess accessibility in Singkawang City. The methodology used in this research is the population mapping method and space syntax. This study carried out quadrant mapping and correlation analysis to assess city accessibility. City population distribution of Singkawang City results shows the highest density is concentrated in the West Singkawang district. Quadrant map showing Singkawang City has good accessibility. This map can be used as a recommendation for city development. With the quadrant division map, the government can concentrate on development and improvement in network units with low accessibility first. The correlation coefficient values of 42% and 19% indicate a positive and moderate correlation between the density distribution and accessibility on each grid units 
STUDI PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA RELIGI MAKAM SUNAN GIRI GRESIK BERBASIS KEARIFAN LOKAL Ibrahim Tohar; Darmansjah Tjahja Prakasa
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 10, No 1 (2023): April
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lantang.v10i1.57056

Abstract

Destinasi Wisata Religi merupakan salah satu penggerak roda perekonomian di Kabupaten Gresik. Sebagai sebuah Kabupaten, Gresik memiliki objek wisata religi yang beragam, antara lain, Makam Sunan Giri, Makam Maulana Malik Ibrahim, Makam Sunan Prapen, Giri Kedaton, Makam Dewi Sekardadu, Makam Putri Cempo dan sebagainya. Sampai saat ini kondisi  objek-objek tersebut belum tertata secara optimal. Permasalahan yang dihadapi adalah aksesibilitas wisatawan menuju dan dari objek Wisata Religi Sunan Giri dan objek-objek wisata di sekitarnya belum terpetakan secara komprehensif. Kurangnya efektifitas aksesibilitas menuju objek wisata. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh konstelasi dan rute antar objek. Objek-objek yang ada juga belum bisa di akses oleh seluruh lapisan masyarakat termasuk para lansia dan difabel. Potensi budaya lokal juga belum optimal untuk diekspresikan dalam kawasan objek tersebut untuk memperkuat karakter kearifan lokal Gresik. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yaitu wawancara dan observasi lapangan serta kajian pustaka terkait. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Untuk pengembangan Wisata Religi Kabupaten Gresik, diperlukan pemetaan aksesibilitas secara komprehensif, perencanaan sarana prasarana yang berbasis kearifan lokalDEVELOPMENT STUDY ON THE RELIGIOUS TOURISM AREAS OF GRESIK SUNAN GIRI TOMB BASED ON LOCAL WISDOM Religious Tourism Destinations are one of the drivers of the economy in Gresik Regency. Gresik Regency has various religious tourism objects, including the Tomb of Sunan Giri, the Tomb of Maulana Malik Ibrahim, and the Tomb of Sunan Prapen. Until now, the condition of these objects has not been optimally arranged. The accessibility of tourists to the Sunan Giri Religious Tourism object has not been managed as a whole. The condition of local economic activities supporting religious tourism is still partially occurring. The potential of local culture could be more optimal to be expressed in the object area to strengthen the character of local wisdom. For this reason, this study aims to find the concept of applying local wisdom in developing Religious Tourism of the Tomb of Sunan Giri Gresik. The technique used in this research is data collection through interviews, field observations, and related literature reviews. The method used in this research is descriptive qualitative. The findings of this study are optimizing the use of the Andong as local transportation, increasing souvenirs and local snacks, and using local signage in the development of Religious Tourism of the Tomb of Sunan Giri Gresik.
AN EVALUATION OF ONLINE ARCHITECTURE DESIGN STUDIOS DURING THE COVID-19 PANDEMIC Widiyani Widiyani; Yorangga Citra Arundati; Margaret Yudhia Aditama; Witriani Witriani
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 10, No 1 (2023): April
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lantang.v10i1.60738

Abstract

During the "lockdown" of the COVID-19 pandemic from March to August of 2020, everyone was required to work and study online from home and limit social interaction.  For architecture schools to transfer lecture activities online is challenging. This is because the majority of architecture school courses are studio-based with an emphasis on teachers directly reviewing student work and providing feedback in the form of scribbles. Additionally, site visits are necessary throughout the design process. The purpose of this paper is to gain a deeper understanding of the significant aspects of online design studios from the perspective of first- and second-year undergraduate architecture students during the pandemic. In an online survey, students were asked about their opinions of online design studios and their preference for online or hybrid design studios (a combination of online and limited face-to-face studios) in the following semester. According to the findings of the study, respondents have varying preferences for online design studios based on the length of their studies and the drawing technique used for their assignments. The evaluation identifies three significant aspects of online design studios: the studio system, the supervision process, and the media and facilities. EVALUASI STUDIO DESAIN ARSITEKTUR ONLINE SAAT PANDEMI COVID-19Selama "lockdown" pandemi COVID-19 dari Maret hingga Agustus 2020, semua orang diharuskan bekerja dan belajar secara daring dari rumah serta membatasi interaksi sosial. Dalam pendidikan arsitektur mentransfer kegiatan perkuliahan secara online merupakan hal yang sulit. Hal ini dikarenakan mayoritas mata kuliah sekolah arsitektur berbasis studio, dengan penekanan pada dosen yang meninjau langsung hasil karya mahasiswa dan memberikan umpan balik berupa coretan. Selain itu, kunjungan ke lokasi diperlukan selama proses desain. Tujuan dari makalah ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang aspek signifikan dari studio online dari perspektif mahasiswa arsitektur sarjana tahun pertama dan kedua selama pandemi. Survei online menggunakan skala Likert dan pertanyaan terbuka dilakukan untuk menanyakan pendapat, 178 mahasiswa tentang studio online dan preferensi mereka untuk studio online atau studio hybrid (gabungan studio online dan studio tatap muka terbatas) pada semester berikutnya. Menggunakan analisis deskriptif, data menunjukkan responden memiliki preferensi yang berbeda-beda untuk studio online berdasarkan lama studi mereka dan teknik menggambar yang digunakan untuk tugas mereka. Evaluasi mengidentifikasi tiga aspek signifikan dari studio online: sistem studio, proses pengawasan, dan media dan fasilitas.
PENGARUH KEBERADAAN PKL TERHADAP PENGGUNA JALAN DAN KUALITAS KORIDOR JALAN DI SEMARANG Suzanna Ratih Sari; Edy Darmawan; Nindita Kresna Murti; Muhammad Fariz Hilmy
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 10, No 1 (2023): April
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lantang.v10i1.54358

Abstract

Fenomena keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang semakin bertumbuh pesat, terutama di sepanjang koridor-koridor jalan perkotaan, memberikan dampak yang cukup signifikan pada perilaku pengguna jalan hingga kualitas koridor jalannya itu sendiri, baik dampak positif maupun negatif. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menjelaskan secara detail pengaruh dari dampak yang ditimbulkan dari keberadaan PKL di koridor jalan terhadap kualitas ruang koridor jalannya itu sendiri. Metode kualitatif digunakan untuk menjelaskan dan mengeksplorasi secara detail fenomena dan masalah yang terjadi di lokasi studi. Data yang didapat melalui observasi dan wawancara akan dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif yaitu metode analisis yang didukung dengan diagram dan gambar yang relevan. Luaran dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif maupun negatif dari keberadaan PKL terhadap kualitas koridor jalan, dilihat dari aspek kenyamanan pengguna jalan (sirkulasi, iklim, bentuk furniture, kebersihan, kebisingan, keamanan, hingga keindahan).THE EFFECT OF THE PRESENCE OF STREET VENDORS ON THE QUALITY OF STREET CORRIDORS. CASE STUDY: HAYAM WURUK AND KERTANEGARA STREET CORRIDORS, SEMARANG CITY The phenomenon of street vendors overgrowing, especially along urban street corridors, has a significant impact on the behavior of street users to the quality of the street corridor itself, with both positive and negative effects. This research was conducted to explain in detail the impact arising from the presence of street vendors in the street corridor, as well as the implications for street users and the quality of the street corridor itself. Qualitative methods are used to explain and explore in detail the phenomena and problems that occur at the study site. Data obtained through observation and interviews will be analyzed using descriptive analysis methods, namely analytical methods supported by relevant diagrams and pictures. The output of this study shows that there are positive and negative influences from the presence of street vendors on the quality of street corridors, seen from the aspects of street user comfort (circulation, climate, furniture, cleanliness, noise, safety, to beauty).
POLA SEBARAN TERITORI PKL DI RUANG TERBUKA UNIVERSITAS TANJUNGPURA Estar Putra Akbar; Caesar Destria; Dewi Ria Indriana
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 10, No 1 (2023): April
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/lantang.v10i1.60806

Abstract

Kawasan Universitas Tanjungpura menjadi bagian dari ruang terbuka Kota Pontianak saat ini mulai ramai dikunjungi masyarakat, peningkatan jumlah kunjungan ini terlihat jelas sejak mulai ditatanya taman-taman yang berbatasan langsung dengan ruang terbuka Untan yaitu Taman Sepeda. Disisi lain ini memberikan dampak positif yaitu warga dan masyarakat kota Pontianak memiliki area ruang terbuka yang nyaman dikunjungi, namun disisi lain keberadaan ruang terbuka ini juga mendatangkan sektor informal seperti PKL. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pola sebaran ruang yang dibentuk oleh PKL di sepanjang kawasan Untan khususnya koridor jalan Auditorium Untan (Jln Moh Isja), dan faktor seting apa saja yang berperan di dalamnya, dan hasil penelitian ini dapat menjadi bagian rekomendasi awal dalam penataan PKL di Kawasan Untan. Metode pengamatan yang digunakan yaitu Behavior Mapping, place centered Mapping, dengan menggunakan variabel  bebas yaitu bentuk ruang dan variabel terikat yaitu elemen seting dan teritori sebagai amatan penelitian. Hasil penelitian ditemukan bawah pola sebaran teritori PKL adalah di sepanjang Streets atau jalan di depan Auditorium Untan (Jln Moh Isja) yang sebelumnya relatif rendah tingkat lalu lintas kendarannya atau merupakan jalur alternatif masuk kawasan untan, dan penanda ruang PKL yang digunakan yaitu seting yang sifatnya semi-fix seperti gerobak, payung dan tenda. TERRITORY DISTRIBUTION PATTERNS OF STREET VENDORS IN UNIVERSITAS TANJUNGPURA OPEN SPACE Universitas Tanjungpura/Tanjungpura University (Untan) area, which is part of the open space of Pontianak City, is currently starting to get crowded with people. The increase in the number of visits has been evident since the arrangement of parks directly adjacent to Untan's open space, namely the Bicycle Park. On the other hand, this has a positive impact, namely, the residents and people of Pontianak have an open space area that is comfortable to visit. Still, on the other hand, this open space also invites the informal sector, such as street vendors. This study aims to identify the spatial distribution pattern formed by street vendors along the Untan area, especially the Untan Auditorium road corridor (Jln Moh Isja). What setting factors play a role in it, and the results of this study can be part of the initial recommendations in structuring street vendors in Untan area. The observation method used is Behavior Mapping, place-centered Mapping, using the independent variables, namely the form of space, and the dependent variable, namely the elements of the setting and territory, as research observations. The results of the study found that the street vendors' territorial distribution pattern was along Streets or the road in front of the Untan Auditorium (Jln Moh Isja), which previously had a relatively low level of vehicle traffic or was an alternative route to enter the camel area, and the street vendor space markers used were semi-dark settings. -fixes such as carts, umbrellas, and tents.

Page 1 of 1 | Total Record : 7