cover
Contact Name
Sarip Hidayat
Contact Email
mohsyarifhidayat@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
metasastra@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bandung,
Jawa barat
INDONESIA
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra
ISSN : 20857268     EISSN : 25032127     DOI : -
Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra is a journal published by Balai Bahasa Jawa Barat, ISSN printed 2085-7268 and ISSN online 2503-2127. This journal is a literary research journal that publishes various research reports, literature studies, and literary papers on literature. Published periodically twice a year in June and December. This journal also serves as a media dissemination of information research results and literature review.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue " Vol 8, No 1 (2015)" : 15 Documents clear
HALAMAN DEPAN: Metasastra Vol 8, No 1, Juni 2015 mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i1.%p

Abstract

RESENSI BUKU: “PEREMPUAN YANG MERESISTENSI BUDAYA PATRIARKI” Kurnia, Nia
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i1.155-160

Abstract

Identitas BukuJudul : Perempuan dalam Tiga Novel Karya Nh. DiniPengarang : Aquarini PriyatnaPenerbit : Pustaka MatahariCetakan : pertamaTahun Terbit : 2014Jumlah Halaman : 146 halaman
TRADISI LISAN CEPUNG: SASTRA PERLAWANAN KOMUNITAS SASAK TERHADAP KEKUASAAN BALI DI PULAU LOMBOK (Cepung Oral Tradition: Literature Resistance of Sasak Community to Domination of Bali in Lombok Island) Nur Alaini, Nining
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i1.47-60

Abstract

Cepung merupakan seni pertunjukan tradisional yang tumbuh dalam komunitas Sasak di Pulau Lombok. Dalam tradisi ini dibacakan lontar Monyeh yang diiringi instrument-instrumen suling, redep (rebab dalam gambang kromong, Betawi) dan musik vokal menirukan bunyi gendang, kenceng, dan rincik. Lontar klasik Monyeh digubah dalam bentuk pantun dalam bahasa Sasak. Lontar ini mengisahkan seorang putri raja yang disisihkan delapan saudaranya.  Cerita Monyeh sebenarnya merupakan sebuah bentuk perlawanan komunitas Sasak terhadap hegemoni Karangasem di Pulau Lombok. Hal yang menarik adalah adalah bergabungnya  komunitas Bali dalam tradisi lisan ini. Cepung secara pragmatik dan kultural menjadi menarik, karena sastra yang semula merupakan sebuah perlawanan, pada akhirnya menyatukan dua komunitas, Sasak dan Bali dalam sebuah harmoni seni pertunjukan tradisi lisan.  Melalui kajian pragmatik, tulisan ini akan mengungkapkan tujuan nonliterer  dalam tradisi lisan Cepung. Dari kajian yang telah dilakukan disimpulkan bahwa keterlibatan suku Bali dalam tradisi lisan Cepung ini didorong oleh kekecewaan mereka terhadap perilaku negatif para penguasa Bali di Lombok. Oleh karena itu, melalui Cepung pula, mereka menyampaikan kekecewaannya.Abstract:Cepung is a traditional performance art that grows in Sasak in Lombok Island. In this tradition, Lontar Monyeh is recited while accompanied by suling (flute)  instruments, redep (fiddle in Gambang Kromong, Betawi) and vocal music imitating sound of gendang, kenceng, and rincik. Lontar Monyeh is composed in the form of rhyme in Sasak language. Monyeh story is actually a form of resistance of Karangasem Sasak community to the Karangasem hegemony in Lombok island.The interesting thing is that the community of Bali   takes a part  in this oral tradition. Cepung is pragmatically and culturally  interesting as  the original literature which was initially as a resistance, then eventually uniting the two communities, Sasak and Bali in a  performance art harmony  of oral tradition. Through the study of pragmatics, this study  will reveal the nonliterer purpose in the Cepung oral tradition. From the study it can be concluded that Balinese involve- ment in the tradition was triggered by their dissatisfaction with the negative behavior of  Balinese rulers in Lombok. Therefore,  they  also  expressed their disappointment through it.
MORFOLOGI CERITA RAKYAT ARSO WATUWE: SEBUAH ANALISIS NARATOLOGI VLADIMIR PROPP (Morphology of Arso’s Folktale Watuwe: An Analysis of Vladimir Propp’s Narratology) Ria Lestari, Ummu Fatimah
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i1.139-154

Abstract

Penelitian ini mengkaji morfologi cerita rakyat Arso Watuwe berdasarkan teori struktur naratologi Propp. Latar belakang dilakukannya penelitian ini karena penelitian morfologi terhadap cerita rakyat tersebut belum pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan datanya melalui studi pustaka (dokumentasi). Dalam pelaksanaannya, penelitian ini menganalisis morfologi cerita rakyat berdasarkan teori dan metode penelitian struktur naratologi Propp. Konsep dasar analisis struktur naratologi Propp adalah fungsi dan peranan pelaku dalam cerita. Cara analisis dilakukan dengan memeriksa kembali data-data dan memilah-milahnya berdasarkan jenis dan tipenya. Selanjutnya, fungsi dalam dongeng didentifikasi dan dimasukkan ke dalam tanda atau lambang khusus yang telah dibuat oleh Propp. Terakhir, fungsi-fungsi tersebut didistribusikan ke dalam lingkaran tindakan tertentu. Simpulan penelitian ini adalah ditemukan dua puluh satu fungsi naratif, tiga pola cerita, dan lima lingkaran tindakan. Selain itu, terdapat nilai moral, seperti pantang menyerah, disiplin, kerja keras, dan menjaga solidaritas dalam cerita tersebut.Abstract:This research investigates morphology of Arso’s folktale “Watuwe” based on Propp’s theory. The background of conducting the research is that  the research has not been carried out yet.  The study uses qualitative method. The data collection technique is by doing library research (documentation). In this study, the author analyzes morphology of the folktale based on theory and research method of Propp’s narratology structure. The basic concepts of it are function and role of characters in the story. It is analyzed by rechecking and selecting data based on its kinds and types. Then, the functions are identified and symbolized in Propp’s symbols. Finally, the func- tions are distributed to Propp’s speres of action. From the investigation, it is found that there are twenty one narratology functions, three story patterns, and five speres of action.  Furthermore, there is a moral value, such as persevering, discipline, hard work, and keeping solidarity within the story.
Abstrak Bahasa Inggris mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i1.%p

Abstract

IDENTITAS TOKOH PEREMPUAN LINTAS BUDAYA DALAM KUMPULAN CERPEN MALAM TERAKHIR KARYA LEILA S. CHUDORI (The Cross Cultural Identity of Female Protagonist in Leila S. Chudori’s Short Stories Compilation Malam Terakhir) Nurhayati, Nita; Priyatna, Aquarini; Rahayu, Lina Meilinawati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i1.61-76

Abstract

Tulisan ini mengkaji identitas tokoh perempuan lintas budaya yang terdapat dalam kumpulan cerpen Malam Terakhir karya Leila S. Chudori. Kajian ini menggunakan teori identitas, lintas budaya, dan naratologi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan struktural yang menganalisis struktur narasi yang membangun konstruksi identitas tokoh perempuan lintas budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis. Hasil analisis menunjukkan bahwa identitas tokoh perempuan lintas budaya dalam cerpen-cerpen karya Chudori ditampilkan sebagai identitas yang cair, identitas yang dapat berubah sesuai dengan konteks sosial dan budaya tempat tokoh perempuan berada. Gambaran tokoh perempuan lintas budaya dapat dilihat melalui ciri-ciri fisik tokoh yang dapat dibedakan dengan penduduk setempat dan pendatang, interaksi tokoh dengan penduduk setempat, dan keterasingan yang dialami tokoh perempuan. Selain itu, identitas perempuan lintas budaya juga dapat ditunjukkan melalui penggambaran latar yang terdapat dalam cerpen-cerpen karya Chudori.Abstract:This paper examines cross cultural identities of female protagonist in Chudori’s short stories compilation “Malam Terakhir”. The study uses the theory of identity, cross-cultural theory, and naratology. The approach applied in the research is   structural%it  analyzes narrative struc- ture which builds  cross-cultural construction of female identity. The method used in this research is analytic descriptive method. The results of the research show that cross-cultural identity of fe- male characters in Chudori’s short stories compilation are fluid identity, the identity of a female protagonist which can change   according to the social and cultural context where the female character lives. The image of cross cultural identitiy of female protagonist can be seen through physical characteristics which can be distinguished from the natives and settlers, interaction with the native, and the alienation experienced by the female protagonist. In addition, cross-cultural identity of female protagonist can be seen through setting description in Chudori’s short stories compilation.
Petunjuk Penulisan Metasastra Vol 8, No 1, Juni 2015 Mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i1.%p

Abstract

IDEALISME KWEE TEK HOAY TENTANG SISTEM PENDIDIKAN BERBASIS BUDAYA TIONGHOA DALAM CERITA PENDEK “RUMA SEKOLA YANG SAYA IMPIKEN” (Kwee Tek Hoay’s Idealism in Establishing A Tionghoa-Culture Based System of Education in “Ruma Sekola Yang Saya Impiken”) Hapsari, Dyah Eko; Hariyanti, Rosana
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i1.1-16

Abstract

Sebagai bagian dari masyarakat multietnis di Indonesia, etnis Tionghoa mengalami berbagai tekanan dan diskriminasi.Secara internal, mereka juga mengalami persoalan identitas terkait dengan jarak budaya antargenerasi yang mengarah pada melemahnya identitas kultural Tionghoa di kalangan kaum mudanya. Kwee Tek Hoay merupakan satu tokoh Tionghoa yang memiliki gagasan pemertahanan dan pelestarian identitas tersebut seperti tercermin dalam karyanya, “Ruma Sekola Yang Saya Impiken”, sebuah cerita pendek mengenai sekolah impian bagi anak-anak Tionghoa. Metode penelitian kualitatif diterapkan dalam penelitian ini. Data literer yang ditemukan dideskripsikan dan dianalisis dengan menggunakan pendekatan sosiologis, terutama yang terkait dengan kajian mengenai etnisitas Melayu- Tionghoa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep pendidikan ideal bagi anak-anak Tionghoa berupa kurikulum yang komprehensif, dengan ditekankan pada praktik, yang berdasar pada nilai serta falsafah hidup yang berakar pada budaya leluhur. Konsep tersebut merupakan bagian dari resinication.Abstract:As a part of Indonesian multiethnicity in Indonesia, the Tionghoa (Chinese-Indonesian) have undergone various racial discrimination. They also internally have  identity problem  due to intergenerational gap, which leads to weaken the Tionghoa’s cultural identity among their youths. Kwee Tek Hoay is one of the Tionghoa figures having the idea of the retention and preservation of the identity as reflected in his work, “Ruma Sekola Yang Saya Impiken”, a short story about his utopian school for Tionghoa’s children. The applied method is qualitative research. The literary data is described and analyzed by using sociological approach, especially those connected to the study of Malay-Tionghoa ethnicity. The results show that the concept of ideal education for Tionghoa’s children is in the form of a comprehensive curriculum, emphasizing  on the practice, which is based on values and a philosophy of life that is rooted in ancestral cultures. The concept is one of resinications.
WAYANG GARING: FUNGSI DAN UPAYA MEREVITALISASI WAYANG KHAS BANTEN (Wayang Garing: The Function and The Revitalization Efforts of Bantenese Iconic Culture) Seha, Nur; Rivay, Ovi Soviaty
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i1.77-90

Abstract

Mayoritas masyarakat belum mengenal wayang garing Banten dengan baik. Dengan demikian, upaya pelestarian dan pemahaman tentang wayang khas Banten ini belum maksimal. Hal itu disebabkan wayang garing lahir dan berkembang hanya di wilayah Kabupaten Serang, Banten. Untuk itu diperlukan kajian atau penelitian ilmiah sebagai bahan informasi dan apresiasi terhadap keberadaan wayang garing. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan melestarikan wayang garing asal Kabupaten Serang, Banten. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik perekaman, wawancara, pengamatan, dan studi pustaka. Teori yang digunakan adalah teori fungsi Wellek dan Warren. Penelitian ini pun mencermati upaya revitalisasi wayang garing sebagai penguatan kearifan lokal Banten. Simpulan dari tulisan ini adalah wayang garing berfungsi sebagai alat  pemenuhan kebutuhan hidup bagi Kajali, satu-satunya pelaku wayang garing Banten. Fungsi lainnya adalah pemertahanan bahasa Jaseng (Jawa Serang) dan wayang khas Banten, serta dapat menjadi alternatif media pengajaran bahasa dan sastra Banten. Upaya revitalisasi yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah menyelenggarakan bengkel wayang garing, sosialisasi, dan kaderisasi.Abstract:The majority of people have not known Bantenese Wayang Garing (the Bantenese pup- pet) well. Hence, conservation effort and understanding of the typical Bantenese puppet have not been maximized. These are due to the puppet born and developed only in Serang regency, Banten. Based on the fact, it is necessary to  conduct a study or scientific research as substantial  informa- tion and appreciation of the  existences of the puppet. The study is aimed at describing and pre- serving the puppet  in Serang regency, Banten. The data collection technique is  carried out by recordings, interviews, observations and literature studies.The applied theory is functions by Wellek and Warren. The research is also paying close attention to the revitalization efforts as the way to strengthen the local wisdom of Banten. From the research it can be concluded that  the puppet has its function as subsistence for Kajali, the only puppeteer in Banten. It can also be a tool for the retention of Jaseng (JawaSerang) language, the preservation of Banten iconic puppet and a me- dia of teaching Bantenese language and literature. The revitalization efforts which can be done by the government are conducting workshops, giving socialization, and finding regeneration to con- tinue this iconic traditional culture.
PANDANGAN DUNIA ORANG SUNDA DALAM TIGA NOVEL INDONESIA TENTANG PERANG BUBAT (Sundanese World View in Three Indonesian Novels about Bubat War) Hidayat, S.Pd., M.Hum., Sarip
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i1.104-120

Abstract

Penelitian ini membahas pandangan dunia orang Sunda yang terdapat dalam tiga novel Indonesia tentang Perang Bubat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan struktural. Melalui analisis terhadap alur dan pengaluran, penokohan, latar, serta sudut pandang, penulis menggali pandangan dunia orang Sunda yang hadir dalam ketiga novel tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam ketiga novel tersebut, para tokohnya memperlihatkan pola tindak, pola tutur, dan pola pikir yang mengarah pada pandangan dunianya tentang kepemimpinan dan harga diri; perempuan dan arti cinta, kepasrahan, serta kebahagiaan. Hal tersebut ditunjukkan oleh para tokoh setelah melalui berbagai peristiwa yang kemudian mengubah jalan hidup mereka karena terjadi konflik dalam Perang Bubat.Abstract:  This research discusses Sundanese world  view in three Indonesian novels about Bubat War. This study uses qualitative methods and structural approaches. Through the analysis of plot, characterization, setting, and point of view, the author explores the Sundanese world view presented in the three novels. The results reveal that in the three novels, the characters show the act pattern , speech pattern, and mindset leading their world view on leadership and self-esteem: women as well as the meaning of love, surrender, and happiness. Those are shown by the characters through series of events changing their lives because of conflict in Bubat War.

Page 1 of 2 | Total Record : 15