cover
Contact Name
Sarip Hidayat
Contact Email
mohsyarifhidayat@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
metasastra@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bandung,
Jawa barat
INDONESIA
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra
ISSN : 20857268     EISSN : 25032127     DOI : -
Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra is a journal published by Balai Bahasa Jawa Barat, ISSN printed 2085-7268 and ISSN online 2503-2127. This journal is a literary research journal that publishes various research reports, literature studies, and literary papers on literature. Published periodically twice a year in June and December. This journal also serves as a media dissemination of information research results and literature review.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2013)" : 13 Documents clear
STRUKTUR NARATIF SYAIR RIWAYAT NABI MUHAMMAD KARYA KIAI AFIFUDDIN DARI DESA BAKOM KECAMATAN DARMA KUNINGAN (THE NARATIVE STRUCTURE OF KIA AFIFUDDIN’S SYAIR RIWAYAT NABI MUHAMMAD FROM BAKOM VILLAGE DARMA KUNINGAN DISTRICT) Fauziah, Fauziah; Kosasih, Ade; Kalsum, Kalsum
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i2.81-90

Abstract

Syair Riwayat Nabi Muhammad (kemudian disingkat SRNM) adalah salah satu dari sekian banyak  karya sastra lama yang berbentuk syair. SRNM yang ditemukan di Kabupaten Kuningan ini ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Di dalam naskah SRNM disisipkan beberapa unsur cerita naratif yang sifatnya mengisi dan melengkapi teks SRNM sehingga membentuk sebuah alur cerita yang utuh. Penelitan ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur naratif  dalam SRNM. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deksriptif dengan pendekatan struktural. Dari hasil penelitian diketahui bahwa SRNM termasuk puisi tradisional yang memiliki pola khusus, tetapi struktur naratifnya cukup menonjol. SRNM menarasikan sejarah kehidupan Nabi Muhammad. SRNM juga mengandung data berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia dan Sunda pada tahun 1947-an. Bila dikaji lebih mendalam, dapat dikatakan bahwa naskah SRNM dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan penting untuk dikaji terutama dari segi bahasa. Bahasa dalam naskah SRNM sarat dengan kebahasaan yang memiliki makna dan bernilai tinggi untuk dijadikan kerangka referensial dalam keilmuan bahasa.Abstract:Syair Riwayat Nabi Muhammad (SRNM) is one of old literary works in the form of poem. SRNM found in Kuningan district was written in both of Indonesian and Sundanese. In the SRNM’s manuscript, there are some narrative stories completing the SRNM ‘s  in order to form a storyline intact. The present research attempts to describe the narrative structure in SRNM. The applied method in the research is descriptive method by using structural approach.  The results of the research show that SRNM including traditional poetry contains a specific pattern, yet the narra- tive structure is quite prominent. SRNM narrated the history of the life of Prophet Muhammad. The SRNM also consists of  the data that was related to the use of Indonesian and Sundanese in the 1947’s. When studied more deeply, it can be said that the SRNM manuscript is seen as something that is both valuable and important to study, especially in the term of language perspective. Lan- guage in the SRNM’s manuscript loaded with meaningful and highly valued form in order to be used as  a referential framework in  linguistics.
PELANGI KISAH DARI LIMA NEGARA SERUMPUN Asmalasari, Devyanti
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i2.137-140

Abstract

MORFOLOGI KABA PUTI NILAM CAYO (Morphology of Kaba Puti Nilam Cayo) Arriyanti, Arriyanti
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i2.17-32

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk mengkaji morfologi kaba Puti Nilam Cayo dengan menerapkan teori morfologi cerita rakyat Vladimir Propp. Apa yang telah ditelaah oleh Propp atas cerita rakyat Rusia diterapkan untuk melihat fungsi pelaku dan rumusan struktur salah satu cerita tradisional Minangkabau tersebut. Selain menguraikan fungsi pelaku, makalah ini juga membahas skema dan pola cerita termasuk distribusi fungsi di kalangan pelaku serta cara-cara pengenalan pelaku. Metode yang digunakan  adalah metode analisis deskriptif. Dari hasil pembahasan ditemukan bahwa kaba Puti Nilam Cayo mengandung sembilan belas fungsi pelaku dengan empat pergerakan cerita.Abstract:This paper is an endeavor to study morphology of Kaba Puti Nilam Cayo by applying the morphology theory of folktale written by Vladimir Propp. What Propp has studied on the Russian folktale is to reveal the character function and the structure of one of the Minangkabau traditional folktales. Besides describing the character function, this paper attempts to study  scheme and pattern of the story including function distribution among the characters as well as the ways of characters introduction.  The method used is descriptive qualitative method. The results of the research indicate that  Puti Nilam Cayo consists of nineteen character functions and four story movements.
HALAMAN DEPAN: Metasastra Volume 6, Nomor 2, Desember 2013 Mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i2.%p

Abstract

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA DALAM CARITA PANTUN MUNDINGLAYA DI KUSUMAH: KAJIAN STRUKTURAL-SEMIOTIK DAN ETNOPEDAGOGI (THE VALUES OF NATION CHARACTER EDUCATION IN PANTUN MUNDINGLAYA DI KUSUMAH: AN ANALYSIS OF STRUCTURE-SEMIOTICS AND ETHNOPEDAGOGY) Koswara, Dedi
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i2.33-48

Abstract

Di dalam khazanah sastra Sunda  klasik terdapat sebuah cerita rakyat yang amat populer dan bernilai mitis-religio-magis bagi masyarakat Sunda masa lalu, yaitu Carita Pantun Mundinglaya di Kusumah (CPMK). Penelitian ini bertujuan untuk menjawab masalah (1) bagaimanakah struktur formal puisi naratif sastra lisan CPMK? (2) bagaimanakah nilai-nilai pendidikan karakter bangsa yang dikemas dalam teks CPMK? Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif dengan metode struktural. Berdasarkan hasil penerapan pendekatan sastra, diperoleh beberapa temuan, yaitu sebagai berikut. (1) Di dalam sastra lisan CPMK terdapat 8 formula, 13 fungsi cerita, dan 7 lingkungan tindakan. (2) Hadirnya teks (cerita) yang dikemas dalam sastra lisan CPMK secara semiotik dan etnopedagogi patut dimaknai sebagai adanya suatu perlambang kehidupan manusia yang tersembunyi di balik rangkaian peristiwa yang dialami para tokoh. CPMK mengisyaratkan makna tentang perjalanan hidup manusia. Hidup adalah perjuangan. Jalan menuju kemuliaan akan selalu dihadang oleh berbagai cobaan dan ujian. Hanya pribadi-pribadi yang tangguh yang akan mampu mengatasi cobaan dan ujian sehingga mencapai martabat terpuji. Ungkapan terakhir ini adalah salah satu konsep dari nilai-nilai pendidikan karakter bangsa (etnopedagogi).Abstract:In the classic Sundanese literary work there is  a  kind of popular folktale containing magical religious myth for Sundanese society in the past called Carita Pantun Mundinglaya Di Kusuma (CPMK). The study aims at answering the research questions:  (1) what are the formal sructure of CPMK oral literary narrative poetry? (2) what are the values of nation character education in CPMK text? The present study  applies objective approach with structural method.  Based on the application of literary approach, the findings are as follows. (1) in the CPMK orality there are  8 formulas, 13 narrative func- tions, and 7 settings. (2) The presence of CPMK oral literature  semiotically and ethnopedagogically should be  meant as a symbol of human life behind a series of events happening to the characters. CPMK contains meaning of the course of human life. Life is struggle. The path to dignity will always deal with obstacles. Only strong individuals are able to deal with them in order to achieve a glorious dignity.This statement is one  of the concepts of the values of nation character education in CPMK story.
MASKULINITAS KULIT PUTIH DALAM BURMESE DAYS DAN SHOOTING AN ELEPHANT KARYA GEORGE ORWELL (The Masculinity of White Men in George Orwell’s Burmese Days and Shooting An Elephant) Rikma Dewi, Nenden; Priyatna, Aquarini; Aksa, Yati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i2.103-114

Abstract

Orwell menjadikan pengalaman hidupnya sebagai bagian dari setiap karyanya dan menggunakannya untuk menyampaikan berbagai gagasannya. Melalui novel Burmese Days dan sebuah esai berjudul Shooting an Elephant yang keduanya saling berkaitan, Orwell mengemukan gagasannya mengenai wacana kolonialisme di wilayah koloni Inggris di Burma. Isu yang terkadang luput dalam pembacaan karya Orwell adalah isu gender. Oleh karena itu, kajian ini akan menganalisis bagaimana maskulinitas laki-laki kulit putih dipaparkan dan faktor-faktor pendorong atau penghalang maskulinitas tersebut. Agar dapat menganalisis isu tersebut, kajian ini menggunakan pendekatan yang ditawarkan Mosse, Bhabha dan Sinha mengenai maskulinitas dalam wacana poskolonial. Berdasarkan analisis yang dilakukan, kajian ini dapat menunjukkan bahwa maskulinitas laki-laki kulit putih koloni Inggris di wilayah Burma, khususnya Kyauktada disebabkan oleh konsep mereka mengenai isu superioritas dan inferioritas.Abstract:Orwell made his life experiences as a part of his works and used them to convey a variety of his ideas. Through his novel entitling  Burmese Days and his essay called Shooting an Elephant, both of them were related to, Orwell wrote his ideas about discourse of colonialism in the British colony in Burma. A peculiar issue in Orwell’s work is the gender issue. Therefore, this study shows masculinity of white men, and the factors motivating or obstructing such masculinity. In order to analyze these issues, this study applies George Mosse’s (1996), Homi K. Bhabha’s (1995) and Mrinalini Sinha’s (1995) approach on masculinity in postcolonial discourse. Based on the analy- sis, this study is to provide the assumption that masculinity of white men in the British colony in Burma, particularly Kyauktada, was caused by  their concept of superiority and inferiority.
PROBLEMATIKA DUNIA KEPENGARANGAN SASTRA JAWA PERIODE 1980—1997: SEBUAH STUDI KASUS (Problems of Javanese Literary Authorship World in the Period of 1980—1997: A Case Study) Priyo Prabowo, Dhanu
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i2.49-64

Abstract

Dunia kepengarangan sastra Jawa periode 1980—1997 ditopang oleh media berbahasa Jawa (koran dan majalah). Kehadiran institusi itu ternyata mampu memberikan kontribusi yang sangat luas terhadap sistem kesastraan Jawa. Kenyataan ini menunjukkan bahwa institusi-institusi itu telah mampu menggeser peranan penerbit buku. Di tengah situasi seperti itu, pengarang Jawa menggunakan nama samaran perempuan untuk memertahankan eksistensinya (ekonomis dan popularitas). Usaha tersebut ternyata dapat memperteguh sikap para pengarang sastra Jawa dalam memertahankan sastra Jawa, walaupun keadaan ekonomi para pengarang sastra Jawa sangat kecil jumlahnya jika dibandingkan dengan pengarang sastra Indonesia. Sastra Jawa sebagai sastra daerah di Indonesia tetap dapat dipertahankan ekistensi oleh para para pengarang baru dan pengarang lama. Penelitian ini menggunakan teori makro sastra dari Ronald Tanaka. Dengan teori itu, penelitian ini dapat mengungkapkan dunia kepengarangan sastra Jawa pada periode 1980—1997. Adapun metode sosiologis dalam penelitian dipergunakan untuk memahami secara komprehensif persoalan di dalam dunia sastra Jawa periode 1980—1997.Abstract:Javanese literary authorship world in the period of 1980-1997  supported by Javanese media (newspaper and magazine). The presence of the instituation was able to give a broader contribution to Javanese literary system. The fact showed that the institutions had been able to shift the role of book’s publisher. In the midst of such a situation, the Javanese authors wrote under pseudonyms to maintain their existence (economic and popularity). The effort  was able to rein- force the literary Javanese  authors’ attitude in preserving the Javanese literature despite the economic condition in this period that made their payment for their works very small when com- pared to Indonesian literary authors’ payment. The existence of Javanese literature as regional literary works  in Indonesia can still be maintained by new  and  old authors. The present study applies the  Ronald Tanaka’s literary macro theory. By using the theory, the research tries to  reveal the world of Javanese literary authorship  in the period of 1980—1997.  The sociological method of the research is used to understand problems comprehensively in Javanese literary world in the period of 1980—1997.
Abstrak Bahasa Inggris Mulyani, Yeni
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i2.%p

Abstract

PENGALAMAN SPIRITUAL K.H. BISRI MUSTOFA DALAM NASKAH MANASIK HAJI: TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA (The Spiritual Experience of KH Bisri Mustofa in Manasik Haji Manuscript : A Literary Socio- logical Review) Karim Fatkhullah, Faiz
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i2.65-82

Abstract

Di dalam naskah lama tersimpan ide, pemikiran, dan pengalaman penulisnya yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Naskah Tuntunan Ringkas  Manasik Haji (TRMH) karya K.H. Bisri Mustofa (KHBM) mengungkap kondisi sosial masyarakat berkaitan dengan pengalaman spiritual haji penulisnya ke Tanah Suci pada masa transportasi kapal laut sebagai kendaraan pilihannya. Penelitian ini bertujuan mengungkap pengalaman spiritual KHBM dalam naskah TRMH. Penelitian ini menggunakan metode penelitian filologi dan sosiologi sastra. Dari hasil penelitian filologi (kritik teks), dihasilkan kesalahan tulis substitusi sebanyak 16 kata, adisi 2 kata, omisi 3 kata, dan transposisi 2 kata atau kalimat. Naskah TRMH adalah potret pengalaman spiritual KHBM dan juga potret pengalaman spiritual haji masyarakat Indone- sia pada saat itu. Berdasarkan analisis sosiologi sastra diperoleh lima hasil penelitian tentang pengalaman spiritual KHBM, yaitu pengalaman spiritual 1) saat di kapal laut menuju Tanah Suci, 2) saat berziarah ke makam Rasulullah, 3) saat menyaksikan jemaah bertabaruk (mengharap berkah) berlebihan di Tanah Suci, 4) saat menyaksikan air Sumur Aris yang kering, dan 5) saat salat arba’in (salat empat puluh waktu).Abstract:In the old manuscripts,  ideas, thoughts, and author’s experience are stored. The manu- script of Tuntunan Ringkasan Manasik Haji (TRMH) by  Bisri Mustafa (KHBM) reveals social conditions associated with author’s pilgrimage spiritual experiences to the Holy Land author dur- ing sea transportation as choice. The present research  aims at revealing the KHBM spiritual experiences in TRMH manuscript. In addition, this study also uses philological research method and literary sociology.  The results of the research indicate that in philological research (textual criticism) there are  substitution errors  as many as 16 words, 2 words addition, 3 words omission and two words or sentences transposition. TRMH manuscript is a portrait of a KHBM spiritual experience  and also people’s pilgrimage spiritual experience that occurred at that time. Based on the analysis of literary sociology it can be summarized that there are  five findings  on KHBM spiritual experience: his observation on spiritual experience during on voyage to the Holy Land, during a pilgrimage to the tomb of the Prophet Muhammad, during the pilgrims praying to expect a plentiful blessing(tabarruk) in the Holy Land, during the experience to see the Aris dry well , and during prayer forty time praying (Arba’in)
PERBANDINGAN SONETA ARTIFISIAL WING KARDJO DENGAN SONETA SITOR SITUMORANG (THE COMPARISON OF WING KARDJO’S ARTIFICIAL SONNET WITH SITOR SITUMORANG’S) Suyatno, Suyono
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 2 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i2.125-136

Abstract

Soneta di tangan dua penyair yang berbeda melahirkan kecenderungan yang berbeda pula. Soneta Sitor Situmorang cenderung lebih liris dan ekspresi estetiknya pun lebih setia pada konvensi soneta. Sementara itu, soneta Wing Kardjo cenderung naratif dan hanya memanfaatkan pola ekspresi soneta sambil memarodikannya. Kecenderungan memarodikan soneta bagi Wing Kardjo sejalan dengan keinginannya memarodikan situasi sosial politik di negeri ini. Kecenderungan liris pada soneta Sitor Situmorang tidak terlepas dari muatan soneta Sitor yang menampilkan persoalan-persoalan personal, terutama dalam hal relasi lelaki-perempuan. Di sisi lain, kecenderungan naratif soneta Wing Kardjo terkait dengan muatan soneta Wing Kardjo yang merupakan respon terhadap situasi sosial politik di negeri ini.Abstract:Sonnets in the hands of two different poets creat different tendencies. Sitor Situmorang’s sonnet tends to be more lyrical and aesthetic in its expression. It  is more faithful to those stated in the convention. Meanwhile, Wing Kardjo’s  tends to be  narrative and only make use of the expres- sion pattern of the sonnet while parodying it. Tendency of parodying  sonnet for  Wing Kardjo was in line with his desire for parodying social and political situation in the country. Lyrical tendencies in the  Sitor Situmoran’s sonnet cannot be separated from the type of  his work  depicting personal problems, especially, in the male-female relationships. On the other hand, the tendency of the Wing Kardjo ‘s  narrative sonnet is the content of  Wing Kardjo’s that   was a response to the social and political situation in the country.

Page 1 of 2 | Total Record : 13