cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL TATA KELOLA SENI
ISSN : 24429589     EISSN : 26147009     DOI : -
Jurnal Tata Kelola Seni adalah jurnal yang dikelola oleh Program Studi Tata Kelola Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Jurnal ini memuat hasil penelitian dan tinjauan buku dalam bidang tata kelola, terkhusus di wilayah seni.
Arjuna Subject : -
Articles 124 Documents
Partisipasi Audiens dalam Penciptaan Karya Film Box Office Wishnu Subekti
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 12, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Graduate School of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jtks.v12i1.19850

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana audiens bekerja sama dengan produser film dalam menciptakan karya box office melalui governance workflow dan movie co-creation. Studi ini berangkat dari kondisi industri film Indonesia yang masih terkonsentrasi pada genre horor, komedi, dan drama romantika, sementara banyak film yang mengikuti tren justru gagal secara komersial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam dengan sembilan informan kunci yang mewakili unsur produksi, kreatif, manajerial, pendanaan, distribusi, dan kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa performa movie box office utamanya ditopang oleh naskah, sinematografi dan teknologi, fandom aktor, promosi, dan distribusi. Di antara kelimanya, naskah merupakan faktor paling menentukan karena membentuk kebaruan, diferensiasi, dan resonansi pasar. Namun, partisipasi audiens tidak otomatis menghasilkan nilai strategis. Kontribusi audiens baru menjadi produktif ketika dikelola melalui governance workflow yang adil dan transparan, meliputi kejelasan peran, prosedur pengajuan ide, mekanisme review dan seleksi, pengaturan hak kekayaan intelektual, otoritas keputusan, dan kompensasi. Alur tata kelola tersebut mendorong movie co-creation, terutama pada pengembangan naskah, yang selanjutnya memperkuat movie performance. Audience Participation in the Creation of Box Office Films ABSTRACT This study examines how audience cooperates with film producers to create box-office works through governance workflow and movie co-creation. It is grounded in the condition of the Indonesian film industry, which remains concentrated in horror, comedy, and romantic drama, while many trend-following films still fail commercially. Using a descriptive qualitative approach, this study draws on in-depth interviews with nine key informants representing production, creative, managerial, financing, distribution, and policy functions. The findings show that movie box-office performance is mainly supported by screenplay, cinematography and technology, actor fandom, promotion, and distribution. Among these, screenplay emerges as the most decisive factor because it determines novelty, differentiation, and market resonance. However, audience participation does not automatically create strategic value. Its contribution becomes productive only when managed through fair and transparent governance workflow covering role clarity, idea submission procedures, review and selection mechanisms, intellectual property arrangements, decision authority, and compensation. Such governance enables movie co-creation, especially in screenplay development, and subsequently strengthens movie performance. The study concludes that governance workflow is the key managerial link between audience participation, creative transformation, and market-oriented film success.
Analisis Strategi dan Resiliensi Bisnis pada Sajian Musik Pemandu Hura-Hura A. Ferdi Nur Saftiaji; Aldia Wulandari; Indah Fikriyyati
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 12, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Graduate School of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jtks.v12i1.17849

Abstract

Transformasi sosial yang dipengaruhi oleh digitalisasi telah mengubah ekosistem industri seni secara fundamental. Seniman (musisi) dituntut untuk berinovasi dan kreatif dalam mencari sumber pendapatan baru. Penelitian ini berfokus pada fenomena pemandu karaoke massal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Pulau Jawa sebagai inovasi model bisnis, dengan menggunakan studi kasus Pemandu Hura-Hura dari Banjarmasin sebagai manifestasi ketahanan bisnis di luar industri musik sentral. Ari Sutrisno (Gorr) sebagai pendiri Pemandu Hura-Hura muncul sebagai respons kerinduan masyarakat terhadap sajian musik dan momen bernyanyi bersama (sing-along) dan berhasil memanfaatkan format sajian ini menjadi salah satu sumber penghasil yang cukup signifikan. Melalui pendekatan metode penelitian kualitatif, penelitian ini menganalisis strategi Pemandu Hura-Hura dalam mempertahankan relevansi dan keberlanjutan bisnis melalui replikasi serta adaptasi dari format yang sudah teruji, personal branding yang kuat, dan pemenuhan kebutuhan audiens akan pengalaman kolektif, menjadikan inovasi di era digital adalah esensi untuk bertahan hidup bagi seniman (musisi) lokal.Analysis of Business Strategy and Resilience in the Musical Presentation of Pemandu Hura-Hura ABSTRACT Social transformation driven by digitalization has fundamentally altered the ecosystem of the art industry. Artists (musicians) are required to innovate and explore alternative revenue streams. This research examines the phenomenon of "mass karaoke performance" in Jakarta and other major cities in Java as a business model innovation. Using a case study method, this paper focuses on Pemandu Hura-Hura from Banjarmasin as a manifestation of business resilience outside the centralized music industry. Founded by Ari Sutrisno (Gorr), this form of performance emerged in response to the public's yearning for "sing-along" experiences, and successfully monetizing this format into a significant income source. Employing a qualitative research methodology, this study analyzes strategies for maintaining business relevance and sustainability through the replication and adaptation of proven formats, robust personal branding, and the fulfilment of audience demands for collective experiences. The findings suggest that in the digital era, innovation is an essential survival mechanism for local musicians to maintain their livelihoods and cultural presence.
Tata Kelola Pameran Seni di Perguruan Tinggi: Studi Manajemen, Kuratorial, dan Partisipasi Publik Bangkit Sanjaya; Restu Lanjari; Rahina Nugrahani
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 12, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Graduate School of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jtks.v12i1.19507

Abstract

Pameran telah menjadi tradisi dan ajak eksis yang berfungsi sebagai ruang eksperimen artistik dan sosial. Mahasiswa tidak sebatas menampilkan karya, tetapi mempraktikkan peran sebagai pengelola pameran, kurator, dan agen publik yang menjembatani karya seni dengan masyarakat luas. Mengkaji pameran seni dari aspek manajemen dan kuratorial dalam menjaring partisipasi publik. Metode menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui observasi pameran, wawancara dengan pengelola mahasiswa dan dosen pembimbing, serta analisis dokumentasi pameran, menyoroti praktik tata kelola pameran sebagai pembelajaran kuratorial dan manajerial di pendidikan tinggi. Hasil penelitian tata kelola pameran: (1) perencanaan dan operasi manajerial mahasiswa; (2) kuratorial mulai dari pemilihan karya, kurasi ruang hingga komunikasinya; dan (3) pelibatan publik melalui aktivitas kunjungan, diskusi karya, dan media sosial kampus. Namun, terdapat tantangan seperti anggaran, kurangnya SDM khusus, dan kualitas partisipasi publik. Bahasan penelitian tentang rekomendasi bagaimana model tata kelola pameran yang lebih sistematis, kolaborasi antar-stakeholder kampus dan masyarakat, penguatan aspek komunikasi dan evaluasi bagi pengunjung. Simpulannya, tata kelola pameran seni di lingkungan perguruan tinggi merupakan bagian dari ekosistem pendidikan seni dan praktik produksi kreatif. Praktik cukup baik dari sisi manajemen, kuratorial, dan partisipasi publik, dengan mahasiswa sebagai pelaku utama. Terdapat kendala keterbatasan sumber daya, kurangnya pelatihan kuratorial formal, dan partisipasi publik yang belum maksimal.Governance of Art Exhibitions in Higher Education: Management, Curatorial and Public Participation Studies ABSTRACT Exhibitions have become a tradition and an invitation to exist, serving as spaces for artistic and social experimentation. Students are not limited to displaying works but also practice the roles of exhibition managers, curators, and public agents who bridge works of art and the wider community. Examining art exhibitions from a management and curatorial aspect in gathering public participation. The method uses a qualitative-descriptive approach through exhibition observation, interviews with student managers and supervisors, and analysis of exhibition documentation, highlighting exhibition governance practices as curatorial and managerial learning in higher education. The results of the exhibition governance research: (1) student managerial planning and operations; (2) curatorial, starting from the selection of works, curating space to communication; and (3) public involvement through visiting activities, work discussions, and campus social media. However, there are challenges such as budget, lack of specialized human resources, and the quality of public participation. The research discussion is about recommendations for a more systematic exhibition governance model, collaboration between campus stakeholders and the community, and strengthening communication and evaluation aspects for visitors. The conclusion is the governance of art exhibitions in the university environment as part of the arts education ecosystem and creative production practices. Practices are quite good in terms of management, curatorial, and public participation, with students as the primary actors. There are challenges such as limited resources, a lack of formal curatorial training, and suboptimal public participation.
Tata Kelola Musik Pop–Etnik dalam Praktik Musik Kontemporer Indonesia: Studi atas Djaduk Ferianto dan Kua Etnika Dani Fajrul Arisyi; Andi Taslim Saputra
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 12, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Graduate School of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jtks.v12i1.19519

Abstract

Artikel ini bertujuan menganalisis praktik perpaduan musik pop dan musik etnik dalam musik kontemporer Indonesia melalui studi atas karya dan inisiatif Djaduk Ferianto bersama Kua Etnika, dengan menempatkannya dalam perspektif tata kelola budaya. Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana praktik musikal tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetik, tetapi juga sebagai strategi pengelolaan seni yang mampu merespons dominasi logika komersial dalam industri musik Indonesia serta menjaga keberlanjutan nilai budaya lokal. Artikel ini berpijak pada kerangka konseptual musik kontemporer, etnomusikologi, dan tata kelola seni yang memandang musik sebagai bagian dari ekosistem budaya yang relasional, partisipatif, dan dinamis. Tata kelola budaya dipahami sebagai proses yang melibatkan relasi antara seniman, komunitas, ruang publik, dan sistem produksi musik. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-kualitatif melalui studi literatur dan analisis praktik artistik, dengan menelaah karya, pola kolaborasi, serta model pengorganisasian pertunjukan yang dikembangkan oleh Djaduk Ferianto dan Kua Etnika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpaduan musik pop dan etnik dalam musik kontemporer berfungsi sebagai medium strategis untuk membangun ekosistem seni berbasis komunitas, mendistribusikan nilai budaya secara kontekstual, serta menawarkan model tata kelola alternatif di luar sistem industri musik arus utama. Kesimpulannya, praktik musik kontemporer berbasis etnik tidak hanya menjembatani tradisi dan modernitas, tetapi juga berperan penting dalam penguatan tata kelola budaya yang berkelanjutan dan inklusif di Indonesia.Governance of Pop–Ethnic Music in Indonesian Contemporary Music Practices: A Study of Djaduk Ferianto and Kua Etnika ABSTRACT This article examines the practice of integrating pop and ethnic music within Indonesian contemporary music through a study of the works and initiatives of Djaduk Ferianto and Kua Etnika, framed within the perspective of cultural governance. The main issue addressed is how this musical practice functions not only as an aesthetic expression but also as a strategic approach to arts governance that responds to the dominance of commercial logic in the Indonesian music industry while sustaining local cultural values. The study is grounded in conceptual frameworks of contemporary music, ethnomusicology, and arts governance, which view music as part of a relational, participatory, and dynamic cultural ecosystem. Cultural governance is understood as a process shaped by interactions among artists, communities, public spaces, and music production systems. This research employs a descriptive qualitative method through literature review and analysis of artistic practices, focusing on musical works, collaborative patterns, and organizational models of performances developed by Djaduk Ferianto and Kua Etnika. The findings reveal that the integration of pop and ethnic elements in contemporary music serves as a strategic medium for building community-based art ecosystems, contextualizing cultural values, and offering alternative governance models beyond mainstream music industry structures. In conclusion, ethnic-based contemporary music not only bridges tradition and modernity but also plays a significant role in strengthening sustainable and inclusive cultural governance in Indonesia.

Page 13 of 13 | Total Record : 124