cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL TATA KELOLA SENI
ISSN : 24429589     EISSN : 26147009     DOI : -
Jurnal Tata Kelola Seni adalah jurnal yang dikelola oleh Program Studi Tata Kelola Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Jurnal ini memuat hasil penelitian dan tinjauan buku dalam bidang tata kelola, terkhusus di wilayah seni.
Arjuna Subject : -
Articles 119 Documents
Analisis SWOT dalam Menentukan Strategi Pemasaran (Studi Kasus Maharoepa Art Project) Asha, Tania Syahla
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 10, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Graduate School of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jtks.v10i1.10496

Abstract

Maharoepa Art Project adalah salah satu badan usaha yang bergerak dalam bidang seni yaitu busana dan tari. Perkembangan usaha di zaman sekarang semakin beragam, maka dari itu setiap pengusaha memiliki strategi masing-masing untuk meningkatkan usahanya. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan strategi pemasaran yang bersaing unggul dan tepat dengan menggunakan metode analisis SWOT (Strenghts, Weaknesses, Opportunities, and Threats) pada usaha Maharoepa Art Project. Hasil analisis matriks IFE menunjukkan nilai tertingginya “Memiliki busana fesyen bernuansa etnik modern” yaitu sebesar 0,572 sedangkan hasil analisis EFE menunjukkan nilai tertinggi “Target belum dalam cakupan luas” yaitu sebesar 0,72. Dilihat dari hasil analisis matriks IE posisi usaha Maharoepa Art Project menunjukkan Growth and Build (tumbuh dan bina) karena berada pada posisi II. Variasi strategi yang cocok adalah Intensif atau Integrasi. Sedangkan menurut hasil kuadran SWOT posisi usahanya berada pada kuadran II yaitu strategi generic combination. Oleh karena itu, dalam usaha ini strategi generik yang akan digunakan adalah combination. Manfaat dari penelitian ini adalah diharapkan dalam sebuah usaha sudah memikirkan strategi apa yang tepat digunakan dalam proses meningkatkan usaha/bisnis tersebut sehingga metode-metode yang digunakan ditujukan kepada target pasar yang tepat. SWOT Analysis in Determining Marketing Strategy (Case Study: Maharoepa Art Project) ABSTRACT Maharoepa Art Project is one of the business entities engaged in art, namely fashion and dance. Business development currently is increasingly diverse, because of that every entrepreneur has their own strategy to improve their business. This study aims to formulate a superior and appropriate competitive marketing strategy using the SWOT analysis method (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat) in the Maharoepa Art Project business. The results of the IFE matrix analysis showed the highest value of "Having modern ethnic fashion clothing" which was 0.572 while the results of the EFE analysis showed the highest value of "Target not yet in broad coverage" which was 0.72. Judging from the results of the IE matrix analysis, Maharoepa Art Project's business position shows Growth and Build because it is in position II. A suitable strategy variation is Intensive or Integration. Meanwhile, according to the results of the SWOT quadrant, its business position is in quadrant II, which is a generic combination strategy. Therefore, in this effort the generic strategy that will be used is combination. The benefit of this research is that it is expected to have thought about what strategies are right to use in the process of improving the business/business so that the methods used are aimed at the right target market.
Manajemen Seni Pertunjukan Geratri Festival sebagai Wadah Membangun Ekosistem Seni di Kota Batam Asra, Rezky Gustian; Merry, Merry
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 10, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Graduate School of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jtks.v10i1.11811

Abstract

Geratri Festival di Batam merupakan inisiatif dari Beatus Finis Creative, menjadi wadah penting untuk mengapresiasi seni pertunjukan di tengah perkembangan seni di Kota Batam. Dalam konteks kebutuhan ruang apresiasi seni tari di Batam, festival ini membangun sinergi antara pelaku seni tari berpengalaman dan pendatang baru, menggabungkan tari tradisi, kreativitas modern, dan pemahaman mendalam terhadap seni budaya. Program Bincang Seni Santai memberikan kontribusi pada pendidikan dan pengembangan pengetahuan seni pertunjukan di Batam. Artikel ini menyoroti peran kunci manajemen seni dalam kesuksesan Geratri Festival sebagai wujud perayaan Hari Tari Dunia. Artikel ini mengungkapkan bahwa manajemen seni berperan penting dalam mengkoordinasikan pengelolaan Geratri Festival demi membangun ekosistem seni lokal. Melalui metode kualitatif, termasuk pengamatan langsung, wawancara, dan dokumentasi, penelitian ini mengeksplorasi kontribusi Geratri Festival pada pengembangan seni di Batam. Temuan penelitian menggarisbawahi peran manajemen seni dan dampak Geratri Festival pada pertumbuhan ekosistem seni di Kota Batam, serta memperhatikan peran institusi pendidikan dalam membangun dan memelihara festival seni di kota ini. The Role of Arts Governance in Geratri Festival as a Platform to Build the Arts Ecosystem in Batam City ABSTRACT The Geratri Festival in Batam is an initiative by Beatus Finis Creative, serving as a crucial platform to appreciate performing arts amidst the evolving artistic scene in Batam City. Addressing the need for a space to appreciate dance in Batam, the festival fosters collaboration between experienced and emerging dance artists, blending traditional dance, modern creativity, and a profound understanding of cultural art. The 'Bincang Seni Santai' program contributes to the education and development of performing arts knowledge in Batam. This article highlights the key role of arts management in the success of the Geratri Festival as a celebration of World Dance Day. It reveals that arts management is vital in coordinating Geratri Festival operations to build the local arts ecosystem. This research explores the Geratri Festival's contribution to developing the arts in Batam using qualitative methods, including direct observation, interviews, and documentation. The findings underscore the role of Arts Governance and the impact of the Geratri Festival on the growth of the arts ecosystem in Batam, also emphasizing the role of educational institutions in establishing and sustaining art festivals in the city.
Dampak Ekonomi, Pariwisata, dan Budaya Festival Isen Mulang di Kalimantan Tengah 2023 Darnita, Cristi Devi
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 10, No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Graduate School of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jtks.v10i1.11252

Abstract

Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan di Kalimantan Tengah sebagai salah satu agenda kegiatan ulang tahun provinsi. FBIM menjadi sarana pengembangan ekonomi pariwisata melalui festival budaya. Penelitian ini bertujuan menjelaskan dampak ekonomi pariwisata dan budaya kegiatan FBIM 2023. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasilnya, dampak ekonomi pariwisata dari FBIM menjadikan kunjungan wisatawan mencapai 60.300 selama 6 hari. Dampak ekonominya, memicu perputaran uang sebesar Rp399.371.000,00 selama 6 hari. Adapun dampak budayanya, memecahkan rekor MURI Tari Dadas dengan jumlah 700 orang penari. Tahun ini juga menyajikan 20 cabang lomba yang dilaksanakan, cabang lomba karnaval budaya, magenta, malamang, panginan sukup simpan, sepak sawut, balogo, bagasing, jukung tradisional, besei kambe, manyipet, lawing sakepenng, mangaruhi, karungut, lagu daerah Kalimantan Tengah, Lomba Pemilihan Jagau dan Bawi Pariwisata Kalimantan Tengah, Lomba Maneweng, manetek tuntang manyila kayu, tari daerah Kalimantan Tengah, perahu hias, lomba videografi dan fotografi yang dilaksanakan memiliki filosofi sesuai kebudayaan Kalimantan Tengah. The Economic, Tourism and Cultural Impact of Isen Mulang Festival in Central Kalimantan 2023 ABSTRACT The Isen Mulang Cultural Festival (FBIM) is an annual event held in Central Kalimantan to celebrate the province's anniversary. FBIM aims to boost the local tourism economy through cultural festivals. This study seeks to examine the economic and cultural impacts of the 2023 FBIM activities. The research utilizes qualitative methods with a case study approach. The tourism economic impact of FBIM resulted in 60,300 tourist visits over 6 days, generating a total turnover of IDR 399,371,000 during this period. In terms of cultural impact, FBIM set a new MURI Dadas Dance record with 700 dancers. Additionally, this year's event includes 20 competitions such as cultural carnival competitions, magenta, Malamang, Pinginan Sukup Simpan, sepak sawut, Balogo, Batung, traditional jukung, besei kambe, manyipet, lawing sakepenng, mangaruhi, sackut, Central Kalimantan regional songs, Central Kalimantan Tourism Jagau and Bawi Selection Competition, Maneweng Competition, wooden manetek tuntang manyila, Central Kalimantan regional dance, floats, videography, and photography competitions, each reflecting the philosophy of Central Kalimantan culture. 
Penguatan Citra Pasar Prawirotaman Yogyakarta sebagai Destinasi Wisata Berbasis Ekonomi Kreatif yang Berkelanjutan Roofiif, M. Sulthon; Pratiwi, Re Kurnia Kukuh; Vibra, Yudis Ritmana
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 11, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Graduate School of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jtks.v11i2.15109

Abstract

Penelitian ini menganalisis strategi penguatan citra Pasar Prawirotaman sebagai destinasi wisata berbasis ekonomi kreatif dan budaya lokal dalam konteks pembangunan pariwisata berkelanjutan di Yogyakarta. Melalui pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, data diperoleh melalui observasi lapangan selama dua bulan, wawancara mendalam dengan enam narasumber, serta dokumentasi visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi fisik pasar, pengembangan ruang kreatif seperti Studio 103, serta keterlibatan komunitas lokal berkontribusi positif terhadap peningkatan citra dan daya tarik pasar. Integrasi aktivitas seni, kuliner lokal, dan identitas visual menjadikan pasar ini sebagai ruang interaksi budaya yang dinamis dan inklusif, sejalan dengan konsep creative city dan community-based tourism. Namun demikian, tantangan yang dihadapi mencakup rendahnya literasi digital, belum optimalnya strategi branding digital, serta ketiadaan sistem monitoring keberlanjutan. Penelitian ini merekomendasikan penerapan strategi kolaboratif berbasis model pentahelix melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media sebagai pendekatan integratif untuk menjawab tantangan tersebut. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan model branding pasar tradisional sebagai destinasi wisata yang edukatif, kreatif, dan berkelanjutan. Strengthening the Image of Yogyakarta Prawirotaman Market as a Sustainable Creative Economy Based Tourism DestinationABSTRACTThis research analyzes the strategy of strengthening the image of Prawirotaman Market as a tourist destination based on creative economy and local culture in the context of sustainable tourism development in Yogyakarta. Using a qualitative approach and case study method, data were obtained through field observations for two months, in-depth interviews with six resource persons, and visual documentation. The results show that the physical revitalization of the market, the development of creative spaces such as Studio 103, and the involvement of local communities contribute positively to the improvement of the market's image and attractiveness. The integration of art activities, local culinary, and visual identity makes this market a dynamic and inclusive space for cultural interaction, in line with the concept of creative city and community-based tourism. However, challenges include low digital literacy, suboptimal digital branding strategies, and the absence of a sustainability monitoring system. This research recommends the implementation of a collaborative strategy based on the pentahelix model involving government, academics, businesses, communities and media as an integrative approach to address these challenges. The findings make an important contribution to the development of a traditional market branding model as an educational, creative and sustainable tourist destination.
Komodifikasi Budaya dan Dampaknya Terhadap Pariwisata Marcelliantika, Adinda; Rahmawati, Anisa Puput; Sandikusumah, Ahrman
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 11, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Graduate School of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jtks.v11i2.15373

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses komodifikasi budaya terhadap Tradisi Sesaji Rewanda di Desa Wisata Kandri serta dampaknya terhadap keberlanjutan pariwisata di Kota Semarang. Fokus penelitian diarahkan pada dua hal utama, yaitu bagaimana komodifikasi budaya dilakukan dalam konteks desa wisata dan bagaimana dampaknya terhadap aspek sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat setempat. Penelitian ini berlandaskan pada teori komodifikasi budaya, konsep pariwisata berkelanjutan, dan pendekatan Community-Based Tourism  yang menekankan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan wisata berbasis budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus tunggal di Desa Wisata Kandri. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposif yang terdiri dari tokoh adat, pengurus Pokdarwis, masyarakat pelaku tradisi, serta pelaku UMKM. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik dengan pendekatan induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komodifikasi budaya dilakukan secara adaptif dan partisipatif. Tradisi Sesaji Rewanda dikemas menjadi dua bagian, yaitu pelaksanaan sakral untuk masyarakat dan atraksi budaya untuk wisatawan. Komodifikasi ini berkontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat, perluasan peluang usaha, serta penguatan identitas budaya lokal. Namun demikian, muncul kekhawatiran terhadap pergeseran makna spiritual dan ketegangan antar generasi dalam memaknai tradisi. Kesimpulannya, komodifikasi budaya dapat menjadi strategi penguatan pariwisata berkelanjutan jika dikelola secara inklusif, bijaksana, dan tetap menjaga otentisitas budaya. Cultural Commodification of the Sesaji Rewanda Tradition in Kandri Tourism Village and Its Impact on Sustainable Tourism in Semarang City ABSTRACTThis study aims to analyze the cultural commodification process of the Sesaji Rewanda tradition in Kandri Tourism Village and its impact on sustainable tourism in Semarang City. The research focuses on two main issues: how cultural commodification is carried out in the tourism village context and its effects on the local community’s social, cultural, and economic aspects. This study is grounded in the theory of cultural commodification, the concept of sustainable tourism, and the Community-Based Tourism approach, which emphasizes community participation in managing cultural tourism. The research employed a qualitative approach with a single case study method. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, and documentation. Purposive sampling was used to select key informants including customary leaders, Pokdarwis members, community tradition bearers, and small business actors. Thematic analysis with an inductive approach was used to interpret the data. The findings reveal that the commodification process is adaptive and participatory. The Sesaji Rewanda tradition has been divided into two parts: a sacred ritual for the community and a cultural attraction for tourists. This strategy contributes to increased community income, entrepreneurial opportunities, and the reinforcement of cultural identity. Nevertheless, concerns over spiritual meaning dilution and generational tensions in interpreting the tradition have emerged. It is concluded that cultural commodification can support sustainable tourism development when managed inclusively, prudently, and with respect for cultural authenticity.
Dinamika Kepemimpinan Studio Dinding Luar sebagai Organisasi Nonprofit melalui Pendekatan Peran Manajerial Henry Mintzberg Sundjava, Prada Aga; Marcelliantika, Adinda; Wahyuningtyas, Dinda Nastiti
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 11, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Graduate School of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jtks.v11i2.15444

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika kepemimpinan yang terjadi di Studio Dinding Luar (SDL), sebuah organisasi seni nonprofit berbasis komunitas yang bergerak di bidang seni rupa kontemporer. Masalah yang diangkat adalah bagaimana pemimpin SDL menjalankan berbagai peran manajerial dalam organisasi yang tidak memiliki struktur formal yang jelas. Penelitian ini menggunakan teori peran manajerial Henry Mintzberg sebagai landasan untuk memahami peran-peran kepemimpinan yang dijalankan oleh figur sentral dalam organisasi. Mintzberg mengemukakan sepuluh peran yang terbagi dalam tiga kategori utama: peran interpersonal, peran informasional, dan peran pengambilan keputusan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi kasus pada SDL. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan tematik untuk mengidentifikasi pola-pola yang muncul dari data yang diperoleh. Penelitian ini mengungkapkan bahwa pemimpin SDL menjalankan peran-peran manajerial secara simultan yang mencakup pengelolaan hubungan internal dan eksternal, pengambilan keputusan strategis, serta pembagian sumber daya yang efisien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan di SDL sangat bergantung pada figur sentral yang menjalankan peran interpersonal, informasional, dan pengambilan keputusan. Meskipun menghadapi tantangan struktural seperti ketergantungan pada figur utama, SDL berhasil bertahan dan berkembang dengan mengimplementasikan strategi adaptif, membangun kemitraan eksternal, dan memperkuat regenerasi kepemimpinan. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi organisasi seni komunitas lainnya dalam mengelola dinamika kepemimpinan secara efektif. The Leadership Dynamics of Studio Dinding Luar as a Nonprofit Organization through Henry Mintzberg's Managerial Roles ApproachABSTRACTThis study aims to analyze the leadership dynamics at Studio Dinding Luar (SDL), a nonprofit community-based organization engaged in contemporary visual arts. The problem raised in this study is how SDL leaders perform various managerial roles in an organization without a clear formal structure. The study uses Henry Mintzberg’s managerial roles theory as a framework to understand the leadership roles carried out by key figures in the organization. Mintzberg identifies ten roles categorized into three main categories: interpersonal roles, informational roles, and decision-making roles. The research method used is a qualitative descriptive approach with a case study on SDL. Data was collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. Data analysis was conducted using thematic analysis to identify emerging patterns. The study reveals that SDL leaders simultaneously perform managerial roles that involve managing internal and external relationships, making strategic decisions, and allocating resources efficiently. The findings show that leadership at SDL heavily depends on the central figure performing interpersonal, informational, and decision-making roles. Despite facing structural challenges, such as dependency on a key figure, SDL has managed to survive and grow by implementing adaptive strategies, building external partnerships, and strengthening leadership regeneration. This study provides valuable insights for other community-based art organizations in effectively managing leadership dynamics.
Refleksi Hidup di Pengasingan: Tinjauan Tata Kelola Pameran Tunggal Semsar Siahaan Abad Akbar Muhammad, Arramadhan; Margana, Sri
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 11, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Graduate School of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jtks.v11i2.18055

Abstract

Penelitian ini mengkaji penerapan prinsip manajemen POACE (Planning, Organizing, Actuating, Controlling, Evaluating) dalam penyelenggaraan pameran tunggal The Shade of Northern Lights oleh Semsar Siahaan di Galeri Nasional Indonesia pada tahun 2004. Pameran ini menjadi peristiwa penting dalam perjalanan karier Semsar, karena menandai kepulangannya ke Indonesia setelah bertahun-tahun tinggal di Kanada serta memperlihatkan dinamika hubungan antara seni, pengalaman diaspora, dan konteks sosial-politik pascareformasi. Melalui pendekatan deskriptif-analitis dan studi dokumentasi kearsipan, penelitian ini menelusuri secara sistematis proses perencanaan, pengorganisasian tim, pengelolaan karya dan logistik, strategi publikasi, hingga mekanisme pengendalian dan evaluasi yang dijalankan oleh Semsar dan berbagai pihak yang terlibat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur manajemen yang diterapkan Semsar mencerminkan pemahaman yang kuat terhadap prinsip POACE, terlihat melalui kesiapannya dalam menyusun proposal, menjalin komunikasi lintas negara, mengatur distribusi karya, serta membangun jejaring dengan institusi lokal. Pendekatan ini memperlihatkan kecenderungan internasionalisme yang turut membentuk karakter pameran tersebut. Kendati demikian, penelitian juga menemukan sejumlah keterbatasan, terutama minimnya dokumentasi terkait tahap evaluasi serta keterlambatan dalam pelaporan administrasi keuangan. Meskipun demikian, pameran ini berhasil memperkuat kembali posisi Semsar dalam ekosistem seni rupa Indonesia dan menawarkan model praktik manajemen pameran yang relevan untuk kajian tata kelola seni kontemporer. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap studi manajemen seni di Indonesia yang masih jarang dikaji secara mendalam, sekaligus menegaskan pentingnya penerapan prinsip POACE sebagai kerangka analitis dalam membaca praktik pengelolaan pameran seni. Reflections on Life in Exile: A Review of the Management of Semsar Siahaan's Solo Exhibition ABSTRACTThis study examines the application of the POACE (Planning, Organizing, Actuating, Controlling, Evaluating) management principles in organizing the solo exhibition The Shade of Northern Lights by Semsar Siahaan at the National Gallery of Indonesia in 2004. This exhibition was a significant milestone in Semsar's career, as it marked his return to Indonesia after years in Canada and demonstrated the dynamic relationship between art, diasporic experiences, and the post-Reformasi socio-political context. Using a descriptive-analytical approach and archival documentation studies, this study systematically traces the planning process, team organization, work and logistics management, publication strategies, and control and evaluation mechanisms implemented by Semsar and the various parties involved. The results show that Semsar's management structure reflects a strong understanding of the POACE principles, as evidenced by his readiness to prepare proposals, establish cross-border communication, organize the distribution of works, and build networks with local institutions. This approach demonstrates a tendency towards internationalism that also shaped the character of the exhibition. However, the study also found several limitations, particularly the lack of documentation related to the evaluation stage and delays in financial administration reporting. Nevertheless, this exhibition successfully reaffirmed Semsar's position in the Indonesian art ecosystem and offered a model of exhibition management practices relevant to the study of contemporary art governance. This research contributes to the rarely studied in-depth study of arts management in Indonesia, while also emphasizing the importance of applying the POACE principle as an analytical framework for understanding art exhibition management practices.
Strategi Pemasaran 7P Inovasi Batik Cap Kertas Daur Ulang untuk Pemberdayaan Disabilitas Sukanadi, I Made; Dewi, Riza Septriani; Irawani, Titiana; Suharson, Arif; Maharani, Tri; Azkanisa, Asiah; Amanda, Aurelia
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 11, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Graduate School of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jtks.v11i2.17656

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penerapan bauran pemasaran 7P (product, price, place, promotion, people, process, physical evidence) pada inovasi batik cap berbahan limbah kertas bertema heroic spirit Pangeran Diponegoro untuk pemberdayaan penyandang disabilitas di Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Inovasi ini menggabungkan nilai seni, budaya dan keberlanjutan lingkungan dalam proses serta strategi pemasaran produk batik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap kelompok masyarakat Sanggar Pinilih Sedayu Sejahtera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan bauran 7P berperan penting dalam meningkatkan nilai jual dan citra produk batik, memperluas jaringan pasar, serta memperkuat kemandirian ekonomi kelompok disabilitas. Inovasi ini tidak hanya menghasilkan nilai estetika karya seni dan budaya yang tinggi, tetapi juga menjadi model pengembangan seni inklusif dan berkelanjutan berbasis masyarakat. Marketing Strategy of the 7P for Recycled Paper–Stamped Batik Innovation to Empower Persons with Disabilities ABSTRACTThis article aims to analyze the implementation of the 7P marketing mix (product, price, place, promotion, people, process, physical evidence) in the innovation of batik cap made from paper waste with the theme of Prince Diponegoro's heroic spirit for the empowerment of people with disabilities in Sedayu, Bantul, Yogyakarta. This innovation combines the values of art, culture, and environmental sustainability in the process and marketing strategy of batik products. This study uses a descriptive qualitative approach through observation, interviews, and documentation of the Sanggar Pinilih Sedayu Sejahtera community group. The results of the study show that the application of the 7P mix plays an important role in increasing the selling value and image of batik products, expanding market networks, and strengthening the economic independence of disabled groups. This innovation not only produces high aesthetic value in art and culture but also serves as a model for inclusive and sustainable community-based art development. 
Visi Kepemimpinan dalam Pengelolaan Galeri Seni sebagai Lembaga Informasi dan Budaya Tresnawan, Hanifa Akmalia; Khoerunnisa, Lutfi; Setiawati, Linda
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 11, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Graduate School of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jtks.v11i2.15529

Abstract

Keberhasilan program suatu lembaga informasi tidak jauh dari peran seorang pemimpin dan visi yang dipegangnya. Artikel ini bertujuan untuk menyelidiki lebih jauh tentang bagaimana visi kepemimpinan diterapkan dalam pengelolaan galeri seni di Indonesia, khususnya di Griya Seni Popo Iskandar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dengan pemimpin galeri, serta analisis dokumen atau studi literatur seperti pada artikel ilmiah lain yang relevan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pemimpin yang memiliki visi masa depan jelas dibutuhkan untuk keberlangsungan suatu lembaga khususnya galeri seni.  Seorang pemimpin yang memiliki visi yang kuat dapat memandu galeri agar berfungsi tidak hanya sebagai tempat pameran seni, tetapi juga sebagai lembaga yang memberikan informasi budaya yang edukatif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Untuk mewujudkan visinya, pemimpin menjadikan galeri sebagai pusat pengetahuan publik, pelindung karya Popo Iskandar, serta sebagai ruang yang bermanfaat bagi kolektor dan masyarakat, terlihat dari strategi adaptasi dan inovasi yang diterapkan. Penelitian ini merekomendasikan agar galeri seni yang sudah ada membangun visi kepemimpinan yang tidak hanya terfokus pada pelestarian karya seni, tetapi juga mempertimbangkan potensi pendidikan dan dampak ekonomi budaya. Visi ini harus disampaikan dengan jelas dan diterapkan dalam strategi manajerial yang konsisten. Looking to the Future: Leadership Vision in Art Gallery Management as an Information and Cultural InstitutionABSTRACTThe success of an information institution's program is closely related to the role of a leader and the vision it holds. This article aims to investigate further how leadership vision is applied in the management of art galleries in Indonesia, especially in Griya Seni Popo Iskandar. This research uses a descriptive qualitative approach. Data collection is done by observation, interviews with gallery leaders, and document analysis. The research findings indicate that leaders with a vision of the future are clearly needed for the sustainability of art galleries.  A leader with strong vision can guide the gallery to function not only as a place for art exhibitions, but also as an institution that provides cultural information that is educative and in accordance with the needs of the community. To realize his vision, the leader makes the gallery a center of public knowledge, a protector of Popo Iskandar's works, as a useful space for collectors and the community, as seen from the adaptation and innovation strategies applied. This study recommends that existing art galleries develop a leadership vision that is not only focused on the preservation of artworks but also considers the potential for education and cultural economic impact. 

Page 12 of 12 | Total Record : 119