cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Invensi (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni)
ISSN : 24600830     EISSN : 26152940     DOI : -
INVENSI adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal INVENSI memuat semua tulisan yang berobjek materi seni, baik seni pertunjukan, seni rupa, maupun seni media rekam dan bersifat multidimensional. INVENSI bermaksud untuk memberikan ruang mewadahi berbagai macam ide, gagasan, atau kritik yang merupakan hasil penelitian empiris kuantitatif dan kualitatif terkait dengan seni pertunjukan, seni rupa, dan seni media rekam yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2020): Juni 2020" : 6 Documents clear
Metode Revitalisasi Koreografi Gubang di Jemaja, Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau Widyanarto Widyanarto; Denny Eko Wibowo; Siguti A. Sianipar
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.809 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i1.3498

Abstract

ABSTRAKGubang merupakan tarian tradisional yang ada di Desa Jemaja, Kabupaten Anambas, Pulau Letung. Tarian Gubang menurut masyarakat setempat dipercaya secara turun-temurun sebagai tarian bunian. Bentuk penyajian tarinya khas dengan menggunakan topeng. Pertunjukan tari Gubang biasanya dipertontonkan pada hari-hari tertentu, seperti acara pesta perkawinan, perayaan hari kemerdekaan, atau acara pentas seni, dan pesta kebudayaan daerah di waktu malam hari. Tarian ini kini mengalami penurunan eksistensi, berkaitan dengan berkurangnya acara-acara yang memerlukan sajian Gubang. Kondisi ini mendorong upaya penggalian, pembentukan, dan evaluasi melalui aspek koreografi sehingga eksistensi tari Gubang masih terpelihara tanpa mengurangi esensi dari pertunjukannya. Proses revitalisasi pada tari Gubang di Pulau Letung, Jemaja, Kepulauan Anambas, memanfaatkan metode kualitatif dengan tujuan untuk mendapatkan bentuk koreografi baru. Hasil revitalisasi terwujud dalam penggarapan pola lantai dan tata busana yang baru. Koreografi tari tersebut kemudian akan mendorong minat serta bentuk tindakan pelestarian yang lain.ABSTRACT Gubang is a traditional dance that appearance in Jemaja village, Anambas region, Letung island. According to the community, Gubang dance trusted as a bunian dance. The mode of representation of this dance used the masks. Gubang dance usually only performed at the night on certain days, such as wedding party, a celebration of the independent day, and culture celebration. This dance has a decrease in existence related to reduced events that need Gubang to performed. This condition encourages some effort to study, composing, and evaluating in the choreography aspects, to maintain the existence of Gubang without reducing the essence of performance. The process of revitalizing in Gubang dance in Jemaja used qualitative method intended to re-compose choreography. The result of this action is arranging in the new floor design and costume design. After that, the revitalize method can motivate the community interest for another preserve activities.
Studi Gaya Tari Inai pada Sanggar Sri Kemuning, Panggak Laut, Lingga dalam Perspektif Antropologi Tari Denny Eko Wibowo; Maria Regita Marpaung; Rudy Hartono; Willy Monet Cahyanti; Andy Wijaya Tie
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.088 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i1.3464

Abstract

Abstrak Tari Inai hampir dikenal di seluruh wilayah persebaran masyarakat Melayu di Indonesia. Tari Inai berhubungan dengan pelaksanaan upacara adat perkawinan masyarakat Melayu dalam prosesi Ber-Inai Besar dan Tepuk tepung Tawar. Lingga merupakan daerah yang melestarikan tari Inai, salah satu buktinya dengan pengakuan Unesco terhadap tari Inai pada tahun 2007 sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda. Metode penelitian ini adalah kualitatif yang didukung dengan tahap pengumpulan data melalui wawancara dan pengamatan langsung pada seniman tari Inai di Panggak Laut, Lingga. Tujuan penelitian ini adalah melakukan studi terhadap gaya tari Inai di sanggar Sri Kemuning, Lingga asuhan Mawardi. Identitas komunal dari tari Inai terdapat pada adab-adab Islami bagi penari laki-laki dan perempuan dalam menyajikan tari Inai di depan majlis. Studi tentang gaya tari dalam perspektif Antropologi Tari dibedakan dalam dua yakni gaya komunal (emblemic style) dan gaya personal (assertive style). Gaya komunal dan personal menjadi dua hal yang berbeda namun tak terpisahkan karena keduanya bersifat saling pengaruh-mempengaruhi. Aspek gerak, iringan tari, rias dan busana, properti tari, durasi penyajian, dan penari dari tari Inai asuhan Mawardi masih mengandung identitas tari Inai secara umum meskipun beberapa diantaranya telah disesuaikan dengan gaya personal yang diperoleh melalui pewarisan turun temurun dari keluarganya. Gaya komunal tari Inai Lingga juga secara umum juga didasarkan pada gaya antar seniman tari Inai yang telah menjadi pengetahuan bersama. The Inai Dance Style Studies in Sanggar Sri Kemuning, Panggak Laut, Lingga in Anthropology of Dance Perspective Abstract The Inai dance almost known in the all of Melayu peoples distribution domain in Indonesia. The Inai dance style related with traditional wedding ceremonies performance of Melayu people in Ber-Inai Besar and Tepuk Tepung Tawar procession. Lingga is a region that conserving Inai dance, one proof of that is Unesco’s recognition for Inai dance in 2007 as one of Intagible Heritage. This research use qualitative method that support by collecting datas through interviews and directly observation to Inai dance artist in Panggak Laut, Lingga. The aim of this research is studying Inai dance style in sanggar Sri Kemuning, Lingga by Mawardi. Communal identity of Inai dance there is Islamic culture for male and female dancer in the public. Dance style studies in Anthropology of Dance perspectives distinguished in communal style (emblemic style) and personal style (assertive style). Communal and personal style are different two things yet inseparable because has interaction or influence. Dance movement, dance music, make-up and costumes, dance property, dance duration, and dancer from Inai dance by Mawardi still contains common Inai dance identity, although there are be adapted with personal style that obtained through hereditary inheritance form his family. Communal style of Inai dance in Lingga commonly based on style of many Inai dance artist that be a shared knowledge.
Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna Simbolik Motif Gurda pada Batik Larangan Yogyakarta Septianti Septianti
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.131 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i1.4125

Abstract

ABSTRAKMotif gurda merupakan ragam hias yang terbentuk dari refleksi kebudayaan kita, akan tetapi dalam pemahaman beberapa masyarakat Indonesia terhadap makna motif gurda yang berbeda, adanya perubahan makna konseptual. Beranjak dari hal tersebut penelitian ini bertujuan memberikan pengetahuan mengenai bentuk, fungsi, dan makna simbolik yang ada pada motif gurda pada batik larangan Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode kualitatif deskriptif, dengan pendekatan multidisiplin, yaitu pendekatan estetika, pendekatan sejarah, dan pendekatan sosiologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bentuk gurda yang bervariatif disebabkan oleh hasil penyelesaian dalam pembuatan pola gurda selain itu adanya deformasi dan stilisasi terhadap bentuknya, sementara perbedaan gurda Yogyakarta dengan daerah lain disebabkan adanya faktor internal dan eksternal yaitu sosial kultural. Pada fungsi gurda, perubahan fungsi dari gurda sebagai benda sakral, bentuk status sosial, dan perubahan menjadi komoditas industri. Pada analisis kosmologi yang ada pada motif gurda yang ada pada batik larangan Yogyakarta, gurda melambangkan dunia atas yaitu seseorang yang mengendalikan hidupnya dapat mencapai kebenaran yaitu termasuk dunia atas. Pada batik semen yang terdapat motif sawat ageng melambangkan kekuasaan, keperkasaan yang hanya dikenakan oleh raja, mengacu pada mitologi Hindu-Jawa garuda mewakili dari bentuk manusia.ABSTRACT Gurda motifs are a variety of decorations that are formed from the reflection of our culture, but in the understanding of some Indonesian people towards the different meanings of the Gurda motif, there is a change in conceptual meaning. Starting from this, this study aims to provide knowledge about the forms, functions, and symbolic meanings that exist in gurda motifs in larangan batik of Yogyakarta. The method used in this research is a descriptive qualitative method, with a multidisciplinary approach, namely the aesthetic approach, historical approach, and sociological approach. The results of this study address the varied forms of gurda caused by the results of completion in the making of gurda patterns besides the deformation and stylization of the shape, while the difference between Yogyakarta and other regions is due to internal and external factors, namely social and cultural. In the gurda function changes the function of the gurda as a sacred object, a form of social status, and change into industrial commodities. In the cosmological analysis of the existing motifs of gurda in larangan batik of Yogyakarta, gurda symbolizes the upper world, namely someone who controls his life can achieve the truth, including the upper world. In the cement batik there is a motif of Sawat Ageng symbolizing power, might that is only worn by the king, referring to the Hindu-Javanese mythology of Garuda representing the human form.
Strategi Perancangan Infografik di Layanan Jejaring Sosial Instagram dalam Perspektif Desainer. Designer's perspective on the Strategy of Designing Infographics on Social Network Services (SNS): Instagram Muhammad Harun Rosyid Ridlo
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.541 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i1.3850

Abstract

Penerbitan infografik di Instagram memiliki tantangan berat. Infografik di Instagram harus berhadapan dengan berbagai jenis terbitan dan keberagaman motivasi pengguna. Tujuan kajian ini adalah untuk mengeksplorasi berbagai strategi perancangan infografik di Instagram. Responden dalam penelitian ini adalah sebanyak 32 perancang yang ditanya melalui angket daring. Seluruh data dianalisis berdasarkan hubungan antara kualitas dan strategi perancangan infografik. Hasilnya, ada beberapa strategi yang dilakukan para perancang: kesegaran dan urgensi topik, tampilan yang atraktif dan kejelasan informasi, resonansi terhadap emosi dan memori, serta validitas informasi.Infographics posting on Instagram faces some major challenges. It needs to deal with the various types of posts and the diverse motivations of the users. Hence, this study aims to explore various strategies of infographics design on Instagram. The total respondents are 32 designers who have answered an online questionnaire. Meanwhile, the collected data were analyzed based on the relation between the infographics design quality and strategy. The result shows that there are several strategies implemented by the designers, those are; immediacy and urgency of the topics, attractive displays and information clarity, resonance with emotion and memories, and information validity.
Partisipasi Aktif OMK dalam Mengembangkan Inkulturasi Musik Liturgi di Gereja Santa Maria Assumpta Pakem Yogyakarta Melania Septian Desti Saraswati
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.82 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i1.3865

Abstract

AbstrakFokus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana partisipasi orang muda katolik dalam mengembangkan inkulturasi musik liturgi di Gereja Santa Maria Assumpta Pakem Yogyakarta. Teori yang digunakan berdasarkan Dokumen Konsili Vatikan ke II dan landasan inkulturasi musik liturgi menurut Karl-Edmund Prier, SJ dan Emanuel Martasudjita, Pr. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, wawancara terstrutur dan tidak terstruktur serta menggunakan model purposive sampling. Hasil dari penelitian ini adalah sebagian besar OMK telah terlibat aktif dalam kegiatan Gereja maupun sebagai petugas musik liturgi. Kendala yang dihadapi OMK saat ini adalah mengenai bahasa, cara menyanyikan melodi, alat musik dan kurangnya pemahaman makna yang terkandung dalam inkulturasi musik liturgi. Oleh sebab itu, OMK membutuhkan pendamping yang menjadi rujukan yang dekat dan dapat dipercaya serta konsisten dalam melatih dan membimbing untuk dapat ikut serta berpartisipasi dalam mengembangkan inkulturasi musik liturgi.Kata kunci: partisipasi, orang muda katolik, inkulturasi, musik liturgi
Seni Tari sebagai Metode Pembinaan di Lapas Kota Jantho Aceh Besar Nadra Akbar Manalu; Fentisari Desti Sucipto; Tria Ocktarizka
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 5, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.391 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i1.3429

Abstract

ABSTRAKSeni tari mempunyai peran yang penting dalam kehidupan kita, yaitu sebagai media ekspresi, media komunikasi, media berpikir kreatif, dan media pengembangan bakat. Pelatihan seni tari sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kemandirian dan hal positif bagi warga binaan pemasyarakatan. Penelitian ini dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Jantho Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh, Indonesia. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis dan mendeskripsikan proses pembinaan kepada warga binaan pemasyarakatan di Lapas Jantho dalam bidang seni tari Rapa’i Geleng. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain non-eksperimental dengan metode “Ex post facto casual comparative research” di mana akan diobservasi pengaruh dari penerapan metode pembinaan melalui seni tari terhadap perilaku dan sikap dari warga binaan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pembinaan terhadap warga binaan Lapas Kota Jantho tepat sesuai sasaran dan memenuhi ekspektasi penulis. Hasil pembinaan juga memberikan dampak yang positif terhadap warga binaan Lapas Kota Jantho yang ditandai dengan adanya peningkatan karakter, mental, disiplin, rasa gotong-royong, dan kekeluargaan. Selanjutnya, lapas bukanlah sebuah lingkungan yang memaksakan seseorang untuk berada dalam tekanan psikologis. Hal ini dapat dicegah dengan adanya proses pembinaan-pembinaan dan pengembangan karakter terhadap warga lapas. Proses pembinaan ini juga memberikan manfaat yaitu terjalinnya hubungan baik antara ISBI Aceh dan Lembaga Pemasyarakatan Kota Jantho.ABSTRACT Dance performance plays an important role in human life as an expression media, communication media, creative thinking media, and gaining talent media. These include the people who spend their time in prison or inmate. The coaching of dance performance can improve their positive mind and activities especially becoming an autonomous person. The design method used Ex post facto casual comparative research which observed the influence of coaching method through dance performance towards to behavior and attitude of inmates. The conclusion of this research is the coaching method for inmates got a positive impact. Several activities have been applying to maintain their character building. The aim is for preventing them from doing bad things for the second time. Some of those activities are religion life and activities on arts. Prison is not a place where force someone to live in high psychological pressure. It can be prevented by doing the coaching process and character building to the inmates. This process also transferred some relationship beneficial from ISBI Aceh to the Jantho Prison.

Page 1 of 1 | Total Record : 6