cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada
ISSN : 08536384     EISSN : 25025066     DOI : -
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada are published to promote a critical review of the various investigative issues of interest in the field of fisheries between the researchers, academics, students and the general public, as a medium for communication, dissemination, and utilization of wider scientific activities.
Arjuna Subject : -
Articles 460 Documents
Reproduction of Indian Mackerel Rastreliger kanagurta (Cuvier, 1816) in Morodemak Coast Demak Regency Dwi Rachmanto; Djumanto Djumanto; Eko Setyobudi
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.48440

Abstract

Indian mackerel is a group of small pelagic fish that has high economic value and is ecologically important. The catch of Indian mackerel in the Morodemak Coastal Fishing Port of Central Java has decreased within 2016-2018, which is suspected by overexploitation. This study aims to observe the reproduction of Indian mackerel. Fish samples were collected from the catches of the mini purse seine operated by fishermen in April-June 2019. The fish samples were measured their length and weight individually, then the abdomen dissected to collect gonad, and counted in sub-sample of the egg number. Data were analyzed to determine the length-weight relationship of fish, sex ratio, gonad maturity level (GML), gonad maturity index (GMI), the size of the first gonad matured, and the egg number in each gonad brood fish. The results showed a negative allometric length relationship, and the length-weight relation equation in female fish was W = 0.038 L 2.59 and in male was W = 0.178 L 2.03. The value of fish condition factors in males, and females obtained values ranging from 1-2. The proportion of fish in GML III ranges from 27.2 to 82.5%, while GML IV ranges from 3.6 to 33.8%. Fish GMI ranged from 0.17 to 4.75%. The eggs number ranged from 11.235 to 40.878 grain. The female Indian mackerel get the first gonad matured at the size of 15.2 cm.
Analisa Keberlanjutan Pengelolaan Sumber Daya Perikanan di Perairan Selat Madura Jawa Timur Zainul Hidayah; Nike Ika Nuzula; Dwi Budi Wiyanto
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.53099

Abstract

Selat Madura merupakan perairan yang memisahkan antara Pulau Madura dengan daratan Pulau Jawa bagian timur. Sejak tahun 2010 status penangkapan ikan di perairan ini telah melebihi batas lestarinya (over-fishing). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status keberlanjutan terhadap pengelolaan sumberdaya perikanan dan pengaruhnya terhadap lingkungan serta masyarakat di perairan Selat Madura. Waktu penelitian ini adalah bulan Februari sampai dengan Oktober 2018. Metode Multi Dimensional Scaling (MDS) dengan analisa terhadap 5 dimensi (lingkungan, ekonomi, teknologi, sosial dan kelembagaan) digunakan untuk mengetahui status keberlanjutan pengelolaan perikanan. Data diperoleh dari beberapa sumber, antara lain berasal dari laporan tahunan Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur, studi-studi terdahulu yang dilakukan di Selat Madura dan wawancara dengan responden kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk dimensi ekologi, ekonomi dan teknologi, pengelolaan perikanan di Selat Madura berada pada status kurang berkelanjutan (skor <50). Sementara itu untuk dimensi sosial dan kelembagaan berada pada status cukup berkelanjutan hingga berkelanjutan. Untuk meningkatkan status keberlanjutan pengelolaan sumber daya perikanan di Selat Madura diperlukan upaya rehabilitasi lingkungan pesisir, bantuan subsidi atau modal bagi nelayan dan pemanfaatan teknologi untuk membantu aktivitas penangkapan ikan
Studi Pertumbuhan dan Biologi Reproduksi Ikan Tambayuk (Puntius lineatus) di Danau Hanjalutung, Kota Palangka Raya Rosana Elvince; Aunurafik Aunurafik
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.54001

Abstract

Danau Hanajalutung merupakan salah satu danau oxbow yang terdapat di Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Danau tersebut memiliki arti penting bagi penduduk sekitar sebagai tempat melakukan kegiatan perikanan, baik penangkapan maupun kegiatan budidaya. Penelitian yang dilakukan di Danau Hanjalutung untuk mempelajari panjang berat, rasio kelamin dan tingkat kematangan gonad Ikan Tambayuk (Puntius lineatus). Pengambilan sampel ikan dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan menggunakan jaring insang dengan ukuran mata jaring 1 inch, 1 1/2 inch, 2 inch dan 21/2 inch. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 9 famili dengan total 916 ekor ikan yang tertangkap. Sedangkan hubungan panjang berat ikan Tambayuk jantan dan betina adalah allometrik negatif atau pertambahan panjang lebih cepat dari pertambahan beratnya dengan nilai b= 1,450. Rasio kelamin antara jantan dan betina adalah rata-rata 46,76%, dan tingkat kematangan gonad tahap II paling banyak teramati. Ikan Tambayuk didominasi oleh tingTKG II, hal ini menunjukkan bahwa ikan Tambayuk yang tertangkap di Danau Hanjalutung pada bulan April dalam tahap pematangan gonad.
Detection of 16S Mitochondrial Gene Polymorphism on Barb Fish (Barbodes binotatus Valenciennes, 1842) from Lake Lebo Taliwang, West Nusa Tenggara Tuty Arisuryanti; Astin Alfianti; Nadya Ulfa Nida&#039; Firdaus; Lukman Hakim
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.54064

Abstract

The spotted barb fish (Barbodes binotatus), a tropical cyprinid fish, is one of the abundant fishes in Lake Lebo Taliwang commonly consumed due to high nutrition and utilized as an aquarium trade due to their exotic colour. However, no genetic information related to the intra-population genetic variation of the fish species in Lake Lebo Taliwang. Genetic information of the spotted barb fish can play an important role for the fish conservation. Therefore, the objective of this study was to detect 16S mitochondrial gene polymorphism of the spotted barb fish which can be used to detect their genetic variation. The method used in this study was a PCR method with primers 16Sar and 16Sbr. The data was then analysed using MESQUITE, MEGA, DnaSP and PopART to identify 16S mitochondrial gene polymorphism. This study obtained 610 base pairs after alignment of 16S sequences of all samples. Five haplotypes were detected with 9 variable sites and 2 parsimony informative sites. Haplotype diversity and nucleotide diversity of the spotted barb fish were 1.00 and 0.0066 respectively. In addition, genetic distance among the samples was 0.66. This finding exhibited polymorphism on 16S gene sequence among the fish samples and this data indicated genetic variation of the spotted barb from Lake Lebo Taliwang.
Evaluasi Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) yang dihidrolisis Cairan Rumen Domba sebagai Bahan Baku Pakan Ikan Lele (Clarias sp.) Achmad Noerkhaerin Putra; Irhas Malik Maula; Aryati Aryati; Mas Bayu Syamsunarno; Mustahal Mustahal
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.57468

Abstract

Serat kasar tinggi yang terkandung dalam tepung daun kelor (TDK) menjadi penghambat penggunaan TDK sebagai bahan baku pakan ikan lele. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan TDK yang dihidrolisis dengan cairan rumen domba untuk pakan ikan lele. Uji hidrolisis pada TDK dengan menggunakan 4 dosis cairan rumen yaitu 0, 100, 125, 175 mL/kg dan lama inkubasi selama 0, 12, 24 jam, dilakukan untuk memperoleh dosis dan waktu inkubasi terbaik untuk menurunkan nilai serat kasar dalam TDK. Penelitian terdiri dari tiga pelakuan dan tiga kali ulangan, yaitu pakan referensi/acuan, pakan uji TDK tanpa hidrolis cairan rumen, dan pakan uji TDK dengan hidrolisis cairan rumen. Ikan lele dengan bobot sebesar 5,05±0,005 g dipelihara selama 45 hari dengan padat tebar 15 ekor/wadah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis rumen 175 mL/kg dengan lama inkubasi 12 jam menghasilkan nilai serat kasar terkecil (4,33%). Pakan uji TDK dengan hidrolisis cairan rumen menghasilkan nilai kecernaan bahan baku tiga kali lipat lebih besar (50,19%) dibandingkan dengan pakan uji tanpa hidrolisis (16,90%). TDK yang dihidrolisis cairan rumen domba dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ikan lele karena meningkatkan kecernaan nutrien, rasio konversi pakan dan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pakan uji TDK tanpa hidrolisis pada pemeliharaan ikan lele.
Evaluasi Kandungan Nutrien dan Antinutrien Tepung Daun Kelor Terfermentasi sebagai Bahan Baku Pakan Ikan Senny Helmiati; Rustadi Rustadi; Alim Isnansetyo; Zulprizal Zulprizal
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.58526

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kandungan nutrien dan antinutrien tepung daun kelor terfermentasi sebagai sumber protein nabati pakan ikan. Tahap penelitian meliputi pembuatan tepung daun kelor, persiapan dan penghitungan kepadatan bakteri, proses fermentasi, dan analisis kandungan nutrien dan antinutriennya. Bakteri yang digunakan untuk fermentasi merupakan campuran bakteri T2A (Bacillus sp.), T3P1 (Bacillus sp.) dan JAL11 (Lactococcus raffinolactis) dengan kepadatan sebesar 2,16x109 cfu/mL. Fermentasi tepung daun kelor dilakukan selama 168 jam. Analisis kandungan nutrien dan zat antinutrien tepung daun kelor terfermentasi dilakukan pada jam ke-24, ke-48, ke-72, ke-96, ke-120, ke-144 dan ke-168. Kandungan nutrien tepung daun kelor meliputi kadar air (9,04±0,00%), abu (9,70±0,21%), protein (25,77±0,08%), lemak (4,80±0,52%), serat kasar (11,60±0,13%), bahan ekstrak tanpa nitrogen (39,06±0,52%), energi (351,27±3,27 kkal/00 g), hemiselulosa (13,79±0,07%), selulosa (9,9±0,06%) dan lignin (15,34±0,31%). Fermentasi dapat meningkatkan kadar air, abu, protein dan lemak, serta menurunkan kadar serat kasar, bahan ekstrak tanpa nitrogen, hemiselulosa, selulosa, lignin dan antinutrien, antara lain fenol, tanin, asam fitat dan HCN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi dapat meningkatkan kandungan nutrien dan menurunkan kandungan antinutrien tepung daun kelor, sehingga dapat digunakan sebagai sumber protein nabati pada bahan baku pakan ikan.
Pengaruh Padat Tebar dan Penggunaan Injektor Venturi terhadap Laju Pertumbuhan Udang (Litopenaeus Vannamei) dalam Bak Beton Romi Novriadi; Khoirun Nisa Alfitri; Supriyanto Supriyanto; Rudy Kurniawan; Deendarlianto Deendarlianto; Rustadi Rustadi; Wiratni Wiratni; Sinung Rahardjo
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.60516

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan evaluasi terhadap efek dari perlakuan padat tebar yang berbeda dan penggunaan injektor venture terhadap laju pertumbuhan udang Litopenaeus vannamei yang dipelihara di bak beton. Udang Vannamei (berat awal 0,3 ± 0,07 g) dimasukkan ke dalam 32 bak pemeliharaan dengan ukuran 8x8x1 m dengan padat tebar 300, 400, 500, 600 udang m-2 dan masing-masing padat tebar memiliki delapan pengulangan. Untuk pengamatan injektor venturi, dilakukan di dua kepadatan berbeda yakni 300 dan 600 udang m-2 dengan memasang injektor venturi masing-masing di tiga bak pengamatan dan dibandingkan dengan kontrol. Jumlah pakan yang diberikan ditentukan terlebih dahulu berdasarkan asumsi pertambahan berat udang Vannamei 1 g per minggu, rasio konversi pakan (FCR) 1,4 dan kematian mingguan sebanyak 3 %. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat korelasi negatif antara peningkatan padat tebar dengan laju pertumbuhan udang. Berat akhir udang berada di kisaran 13,0±0,2, 11,6±0,5, 10,3±0,4 dan 9,3±1,0 g untuk padat tebar 300, 400, 500, dan 600 udang m-2. Laju pertambahan berat harian berada di kisaran 0,14±0,02 – 0,17±0,02 g dan semakin membaik ketika pada tebar diturunkan (P<0,05). Sementara, tidak ada perbedaan yang nyata untuk parameter FCR dan tingkat kelulushidupan udang (P<0,05). Injektor venturi dapat meningkatkan produktivitas produksi sebesar 6,63±0,094% untuk kepadatan 600 udang m-2 dan 7,97±0,054% untuk kepadatan 300 udang m-2 dibandingkan bak kontrol. Selama masa produksi, tidak ada pengaruh nyata untuk penggunaan empat padat tebar berbeda terhadap kondisi kualitas air media pemeliharaan dan tidak ada insiden munculnya wabah penyakit.
Karakter Morfometrik dan Meristik Ikan Layang (Decapterus macrosoma Bleeker, 1851) di Pantai Selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia Rachma Cintya Kusumanigrum; Nahla Alfiatunnisa; Murwantoko Murwantoko; Eko Setyobudi
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.52348

Abstract

Suatu spesies harus memiliki satu taksonomi yang jelas dan disepakati secara global untuk mempermudah para peneliti dalam membahas suatu spesies. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies ikan layang (Decapterus spp.) yang tertangkap di Perairan Daerah Istimewa Yogyakarta secara morfologi, morfometrik, dan meristik. Ikan layang diperoleh dari tangkapan nelayan Sadeng pada bulan Maret-Juni 2019. Sampel yang diambil berjumlah 207 ekor. Identifikasi secara morfologi dilakukan dengan pengukuran 23 karakter truss morfometrik dan 6 karakter meristik. Analisis data morfometrik menggunakan Principal Component Analysis sedangkan data meristik dibandingkan dengan pustaka. Jenis ikan layang yang ditemukan di Perairan Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan identifikasi morfologi adalah Decapterus macrosoma. Karakter meristik di dapatkan rumus D1 VIII; D2 . I, 31-39; A. II, I, 25-32; P. 22-23; V. 23-30; L1 scute 23-40. Spesies layang yang ditemukan di Perairan Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dibedakan secara morfometrik yaitu berdasarkan jarak akhir tulang kepala dengan bawah tutup insang, jarak akhir tulang kepala dengan sirip ventral, jarak sirip dorsal pertama dengan sirip ventral, jarak sirip dorsal pertama dengan sirip anal bagian depan, jarak sirip ventral dengan sirip dorsal kedua bagian depan dan jarak sirip anal bagian belakang dengan anal finlet bagian atas.
Analisis Kesesuaian Air Sumber untuk Budidaya Udang di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo Arief Rahmat Setyawan; Setyawan Purnama; Sudarmadji Sudarmadji
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.57412

Abstract

Kecamatan Purwodadi merupakan kawasan yang diarahkan sebagai wilayah pertambakan udang karena ketersediaan areal pesisir yang luas dan sumber air yang memadai. Kesesuaian lokasi merupakan faktor penting pada budidaya udang, karena dapat mempengaruhi kesuksesan dan keberlanjutan suatu tambak. Pengukuran kualitas parameter perairan terhadap komoditas budidaya perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat kesesuaiannya terhadap komoditas yang dibudidayakan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kesesuaian air tanah di kawasan pertambakan Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Penelitian dilakukan dengan membandingkan nilai kualitas air sumber dengan baku mutu yang ada dengan menggunakan 10 sumur sumber tambak udang. Hasil pengamatan terhadap kualitas air tanah pada sumur sumber tambak di kawasan pertambakan Kecamatan Purwodadi menunjukan dari 10 parameter yang digunakan, terdapat 4 parameter yang tidak sesuai dengan baku mutu air sumber untuk budidaya udang vanname yaitu oksigen  terlarut (6 sumur sumber), chemical oxygen demand (COD) (8 sumur sumber), nitrit (5 sumur sumber), dan amonia (3 sumur sumber). Berdasarkan tingkat kualitas air sumur sumber, mayoritas sumur sumber tidak memenuhi kriteria dengan hanya sumur 5 yang memenuhi baku mutu, dan sumur 3 serta 4 yang paling tidak memenuhi kriteria (4 parameter tidak memenuhi baku mutu). Pemilihan lokasi sumur sumber dan pengecekan kualitas sumur sumber diperlukan untuk mendapatkan air sumber yang memenuhi ambang batas serta penerapan teknologi dalam budidaya perlu dilakukan untuk menjaga kualitas air budidaya.
Klasterisasi Spasial Keragaman Spesies Tuna di Perairan Selatan Jawa Ledhyane Ika Harlyan; Abu Bakar Sambah; Feni Iranawati; Rani Ekawaty
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.58917

Abstract

Terjadinya penurunan produktivitas perikanan tuna di Perairan Selatan Jawa salah satunya disebabkan oleh adanya kondisi tangkap lebih yang terjadi akibat ketidaktersediaannya informasi geografis akurat terkait jumlah dan jenis spesies. Pendekatan spasial keragaman habitat spesies mampu memberikan prediksi akurat tentang jenis dan jumlah spesies pada suatu daerah penangkapan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan peta klasterisasi spasial keragaman spesies tuna berdasarkan data hasil tangkapan tuna dan data lokasi penangkapan di Perairan Selatan Jawa yang diperoleh dari kapal rawai tuna yang menangkap ikan di Samudera Hindia dan mendaratkan  tangkapannya di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Benoa pada bulan September-November 2019 dengan menggunakan beberapa analisis yaitu: (1) analisis keragaman spesies (Shannon-wiener index dan Menhinick index) dan analisis klasterisasi spasial (ward-hierarchical clustering dengan bootstrapped p-value). Berdasarkan kedua hasil analisis tersebut diperoleh tiga klaster pola sebaran daerah penangkapan tuna di Perairan Selatan Jawa yaitu: (1) klaster yang didominasi oleh spesies Thunnus albacares, (2) klaster yang didominasi oleh Thunnus obessus, dan (3) klaster dengan jumlah spesies tuna yang berimbang. Informasi mengenai ketiga klaster daerah penangkapan ini selanjutnya dapat digunakan sebagai rujukan penentuan pengelolaan perikanan tuna dan upaya pembatasan kapasitas penangkapan khususnya pada spesies tuna yang mengalami penurunan stok.