cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Jurnal Media Pertanian
ISSN : 25031279     EISSN : 25811606     DOI : -
urnal Media Pertanian dipublikasikan dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan dua kali dalam setahun. Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dan artikel review bidang ilmu Agronomi secara luas.
Arjuna Subject : -
Articles 169 Documents
Pertumbuhan dan Produktivitas Lahan Tumpang Sari Tanaman Pinang (Areca catechu L.) dan Kopi (Coffea sp.) Nasamsir Nasamsir; Harianto Harianto
Jurnal Media Pertanian Vol 3, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.48 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v3i2.64

Abstract

ABSTRAKTumpang sari tanaman pinang dengan tanaman kopi merupakan sebuah kombinasi efektif untuk pemanfaatan lahan. Penanaman kopi dapat dilakukan di antara barisan pinang, sehingga menghasilkan pertumbuhan tanaman dan produktivitas lahan yang optimal. Penelitian dilakukan di Desa Parit Tomo, Kecamatan Betara Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dengan kondisi lahan gambut, dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2018. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai nisbah kesetaraan lahan (NKL) pada tanaman tumpang sari pinang dengan kopi serta menentukan model tanam tumpang sari pinang dengan kopi. Penelitian ini menggunakan metode survey pada lahan-lahan petani yang ditanami pinang dan kopi monokultur dan pinang ditumpangsarikan dengan kopi. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja karena pada lokasi-lokasi tersebut terdapat budidaya tumpang sari pinang dengan kopi. Peubah yang diamati yaitu; jarak tanam (m), tinggi batang (m), lingkar batang (cm), ketebalan daun (mm), warna daun, intensitas cahaya (fc), suhu (0C), dan produktivitas lahan (ton ha-1). Untuk menjawab hipotesis yang diajukan, data yang diperoleh di lapangan dilakukan analisis statistika dengan metode deskriptif dalam bentuk tabulasi dan analisis inferensi dengan uji Z berpasangan dengan taraf ? 0,05%. Hasil penelitian menunjukkan, nilai nisbah kesetaraan lahan (NKL) > 1 (1,84), menggambarkan bahwa sistem tumpang sari pinang dan kopi lebih menguntungkan dibandingkan sistem tunggal dan model pola tanam tumpang sari yang baik menurut penulis adalah model 2 .Kata kunci :, tumpang sari, jarak tanam, nisbah kesetaraan lahan ABSTRACTIntercropping areca plants with coffee plants is an effective combination for land use. Coffee planting can be done between rows of areca plants, resulting in optimal plants growth and productivity of the land. The research will be conducted in Parit Tomo, Betara, Tanjung Jabung Barat, with the condition of peatland. This research will be conducted from April to Mei 2018. This study aims to determine the value of land equivalent ratio (LER) in the intercropping of areca plants with coffee plants and determine the model of cultivation intercropping of areca plants with coffee plants. This research used survey method on farmers' land planted monoculture and intercropping with areca plants and coffee plant. The location of this study was chosen intentionally because at these locations there is a cultivation of intercropping with areca plants and coffee plants. The observed variables are; planting distance (m), stem height (m), stem circumference (cm), leaf thickness (mm), leaf color, light intencity (fc), temperature (0C), and land productivity (ton ha-1). To answer the proposed hypothesis, the data obtained in the field is done statistical analysis with descriptive method in the form of tabulation and inference analysis with paired sample Z-test ? 0,05%. The results showed that land equivalent ratio (LER) was > 1 (2,39), illustrating that the areca plants with coffee plants intercropping system was more profitable than a monocropping system and intercropping model which was good according to the authors was model 2.Keywords : intercropping, planting distance, land equivalent ratio
Karakteristik Tanah Area Pasca Penambangan Di Desa Tanjung Pauh Ida Nursanti
Jurnal Media Pertanian Vol 3, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.357 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v3i2.73

Abstract

The post-mining soil has poor chemical and physical properties and has a very low fertility rate. The objective of this research is to know the land post-mining characteristics related to planting medium. Implementation of research in Tanjung Pauh Village and soil Laboratory. The research was conducted by survey method and soil laboratory test. Data analysis of the diversity of post-mining soil characteristics is presented in table form and discussed descriptively. Post-mine soil chemical and physical characteristic: soil acidity level in very acidic position pH 4, Al saturation of high criterion equal to 52,86%, iron content 1,51% high criterion, Cation Exchange Capacity of 15,21 cmol (+) kg-1 is low, Saturation saturation of 49.44% is moderate, C-organic is very low that is equal to 0.16%, C / N value of soil 1.46 is very low, N total 0, 11%, P available 9,20 mg kg-1 and K total of soil 0,15 mg kg-1 are each classified as low. The post-mining land has poor physical and chemical characteristics of soil as planting medium. Keywords: soil chemistry, physical soil, Post MineABSTRAKTanah pasca penambangan memiliki sifat kimia dan fisik yang kurang baik serta memiliki tingkat kesuburan yang sangat rendah. Penelitian bertujuan mengetahui karakteristik tanah pasca tambang terkait sebagai media tanam. Pelaksanaan penelitian di Desa Tanjung Pauh dan Laboratorium tanah. Penelitian dilaksanakan dengan metode survey dan uji laboratorium tanah. Analisis data keragaman karakteristik jenis tanah pasca penambangan disajikan dalam bentuk tabel dan dibahas secara deskriptif. Karakteristik kimia dan fisik tanah pasca tambang: tingkat kemasaman tanah berada pada posisi sangat masam pH 4, kejenuhan Al kriteria tinggi sebesar 52,86%, kadar besi 1,51% kriteria tinggi, KTK (Kapasitas Tukar Kation) tanah sebesar 15,21 cmol(+)kg -1 tergolong rendah, Kejenuhan Basa (KB) sebesar 49,44% tergolong sedang, C-organik sangat rendah yaitu sebesar 0,16%, Nilai C/N tanah 1,46 tergolong sangat rendah, N total 0,11%, P tersedia 9,20 mg kg-1 dan K total tanah 0,15 mg kg-1 masing-masing tergolong rendah.Tanah pasca penambangan memiliki karakteristik fisik dan kimia tanah yang kurang baik sebagai media tanam.Kata kunci : Kimia tanah, fisik tanah, Pasca Tambang
PENGGUNAAN JAMUR ENTOMOPATHOGEN (Beauveria bassiana ) UNTUK MENEKAN TINGKAT SERANGAN HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO (Conopomorpha cramerella Snell.) DI KEBUN RAKYAT DESA BETUNG KABUPATEN MUARO JAMBI Hayata Hayata
Jurnal Media Pertanian Vol 3, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.221 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v3i2.66

Abstract

ABSTRACTOne of the barriers in the cacao caltivation is attacking of hama penggerek Buah Kakao (PBK) that caused by conopomorpha cramerella.Inflicted Damage caused by PBK larvae was look like broken and wrinkled seeds, and there was a dark color on its skin that caused the decreasing of products weight and its quality.To control this BPK pests of cocoa could C Cramerella, generally farmers used chemical insecticide. The continously use of this insecticide was feared a bigger trouble such as pest resistance, environmental pollution, and product refusing caused by the pesticide leftover over the standard. Biological control using entomopatogen was one of PHT. Concept. The useness of entomopatogen such as beauveria bassiana fungi as a controller agent is one way to avoid the negative impacts of chemicals toward to the environment .B. bassiana Fungi possess the high reproductive capacity, easily produced and it is able to produce a long surviving spores on a unfavorable condition. B. bassiana has a high potential in controlling various types of pest. Beside, this fungi shows easily obtained, it also easy propagated so that it can be reduces the control cost.The useness of B. bassiana fungi as a cacao pest control that will be conducted in small cocoa plantations in the Kebun Sembilan village will show how its ability in reducing the cacao pest population.The research uses completly randomsed block design which rice media with B. bassiana as a treatment factor. The result should has relation with cacao quality.Key word: Conopomorpha cramerella , beauveria bassiana , attacking intensitas.ABSTRAKSalah satu kendala dalam pengembangan tanaman kakao adalah serangan hama penggerek buah kakao (PBK) yang disebabkan oleh Conopomorpha cramerella. Kerusakan yang ditimbulkan oleh larva PBK berupa rusak dan mengeriputnya biji, timbulnya warna gelap pada kulit biji yang mengakibatkan turunnya berat dan mutu produk. Untuk mengendalikan hama penggerak buah kakao C. cramerella tersebut umumnya petani menggunakan insektisida kimia. Penggunaan insektisida secara terus-menerus dikhawatirkan menimbulkan masalah yang lebih berat, antara lain terjadinya resistensi hama, pencemaran lingkungan, dan ditolaknya produk akibat residu pestisida yang melebihi ambang toleransi.Pengendalian hayati dengan menggunakan entomopatogen merupakan salah satu dari konsep PHT. Penggunaan entomopatogen jamur Beauveria bassiana sebagai agen pengendali merupakan salah satu cara untuk menghindari dampak negatif dari bahan kimia terhadap lingkungan. Jamur B. bassiana mempunyai kapasitas reproduksi yang tinggi, mudah diproduksi dan pada kondisi yang kurang menguntungkan dapat membentuk spora yang mampu bertahan lama di alam. B. bassiana memiliki potensi yang besar dalam mengendalikan berbagai jenis hama. Selain mudah didapat, jamur ini mudah diperbanyak sehingga dapat menurunkan biaya pengendalian. Pengunaan jamur B. bassiana untuk pengendalian penggerek buah kakao yang akan dilakukan di perkebunan kakao rakyat di desa kebun sembilan akan memperlihatkan bagaimana kemampuan jamur tersebut dalam menekan populasi penggerek buah kakao. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan faktor perlakuan berat media beras nasi yang terkandung B. bassiana. hasil akhirnya adalah kualitas buah kakao.Kata kunci : Conopomorpha cramerella, Beauveria bassiana, Intensitas serangan,
PERTUMBUHAN KELAPA SAWIT (Elais guineensis Jacq.) ASAL PEREMAJAAN TUMBANG TOTAL DAN SISIPAN Rudi Hartawan; Edy Marwan; Ali Suharjo
Jurnal Media Pertanian Vol 3, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.754 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v3i2.67

Abstract

Produktivitas tanaman kelapa sawit terus menurun setelah mencapai usia 25 tahun. Peremajaan merupakan solusi untuk mengembalikan produktivitas tanaman. Beberapa metode peremajaan digunakan oleh petani swadaya yang disesuaikan dengan kebutuhan dan modal yang tersedia. Metode peremajaan yang umum dilakukan adalah tumbang total dan sisipan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan kelapa sawit asal peremajaan tumbang total dan sisipan. Penelitian ini dilaksanakan di lahan peremajaan tumbang total dan lahan peremajaan sisipan yang berada di Desa Panca Mulya kecamatan Sungai Bahar Kabupaten Muaro Jambi. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman kelapa sawit varietas Tenera berumur dua tahun yang di tanaman pada lahan peremajaan tumbang total dan sisipan dengan metode pengambilan sampel systematic sampling dan peubah yang diamati adalah fisik tanaman, pH tanah, intensitas cahaya, suhu, dan kelembaban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik peremajaan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman, dan tanaman kelapa sawit dapat tumbuh baik pada lahan peremajaan tumbang total. Pertumbuhan yang lebih baik pada tanaman kelapa sawit diindikasi dengan semakin besar diameter batang maka lebih baik, semakin rendah tinggi tanaman maka lebih baik, semakin banyak jumlah pelepah maka lebih baik, semakin terang warna daun maka lebih baik, dan semakin tipis ketebalan daun maka lebih baik. Tindakan agronomi yang biasa dilakukan adalah pengendalian gulma dan pemupukan. Tindakan lain seperti pengendalian hama dan penyakit, kastrasi, dan pembuangan bunga dompet jarang dilakukan.
TEKNIK PENGEMASAN BENIH KAKAO (Theobroma cacao L) DALAM PENYIMPANAN Nengsih, Yulistiati; Hartawan, Rudi
Jurnal Media Pertanian Vol 3, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.455 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v3i2.69

Abstract

Cocoa seeds are included in recalcitrant seeds that have the characteristic of aging and regrowth of seeds during storage, viability of seeds decreases when their water content is decreased (12-31%) and can not stand to be stored at low temperature and humidity. For the provision of quality seeds need to be mastered technology seed storage properly. The aim of this research is to get the proper packing technique in maintaining viability of cocoa seed (Theobroma cacao L) during storage. The research will be conducted from Pebruari to Juni 2018, at Batanghari University Basic Laboratory. The design used is the Randomized Complete environment with the treatment of cardboard packaging with several ventilation holes: P0 = cardboard without ventilation, P1 = 2% ventilation box, P2 = 4% ventilation box, P3 = 6% ventilation box and P4 = cardboard box 8 %. The observed variables were: percentage of moisture content, percentage of seeds germinated in storage, percentage of sprout gain after storage, germination rate after storage, percentage of moldy seeds in storage and identification mushrooms. To see the effect, F test was done at 5% level, then continued with Duncan test at α 5%. The result of the research showed that the treatment of the packing ventilation had an effect on the percentage parameter of moldy and germinated seed in storage and seed viability and vigor. In the treatment between ventilation, did not show any difference, but economically recommended the use of ventilation by 8%. Until storage on day 12 of the treatment of packaging vents can withstand the fungus attack 17.19% compared to control. The amount of ventilation does not show ability to withstand viability and vigor after storage. The fungus identified in seed storage is Fusarium spp. and Aspergillus spp Keywords: Recalcitrant, viability, moisture content of seeds AbstrakBenih kakao termasuk benih rekalsitran yang mempunyai sifat  mengalami penuaan dan kemunduran benih selama penyimpanan, viabilitas benih menurun apabila diturunkan kadar airnya (12-31%) dan tidak tahan disimpan pada suhu dan kelembaban rendah. Untuk pengadaan benih berkualitas perlu dikuasai teknologi penyimpanan benih secara tepat. Penelitian  bertujuan untuk mendapatkan teknik pengemasan yang tepat dalam mempertahankan viabilitas benih kakao (Theobroma cacao. L) selama penyimpanan. Penelitian  dilaksanakan pada bulan Pebruari  sampai  Juni 2018, di Laboratorium Dasar Universitas Batanghari. Rancangan yang digunakan adalah rancangan lingkungan Acak Lengkap dengan perlakuan kemasan kardus dengan beberapa lubang ventilasi yaitu : P0= kardus tanpa ventilasi, P1= kardus ventilasi 2%, P2= kardus ventilasi 4%, P3= kardus ventilasi 6 % dan P4= kardus ventilasi 8%. Peubah yang diamati adalah:  Kadar air benih, persentase benih yang berkecambah dalam penyimpanan, persentase daya kecambah setelah penyimpanan, kecepatan berkecambah setelah penyimpanan, persentase benih  berjamur dalam penyimpanan dan identifikasi jamur. Untuk melihat pengaruh perlakuan, dilakukan uji F pada taraf 5%, kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf α 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ventilasi pengemasan berpengaruh terhadap peubah persentase benih berjamur dan berkecambah dalam penyimpanan serta viabilitas dan vigor benih. Pada perlakuan antar ventilasi, tidak menunjukkan adanya perbedaan, akan tetapi secara ekonomis dianjurkan penggunaan ventilasi sebesar 8%. Sampai penyimpanan pada hari ke-12 perlakuan ventilasi kemasan dapat menahan serangan jamur 17,19% dibandingkan kontrol. Jumlah ventilasi tidak menunjukkan mampu menahan viabilitas dan vigor setelah penyimpanan. Jamur yang teridentifikasi dalam penyimpanan benih adalah Fusarium spp. dan Aspergillus spp. Kata kunci : Rekalsitran, viabilitas, kadar air benih
UJI LAPANG BAHAN ORGANIK MASUKAN RENDAH PADA BERBAGAI METODE APLIKASI PEMUPUKAN MELAUI TANAH DAN DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI (Glicyne max (L.) Merril) DI TANAH ULTISOL Zul Fahri Gani; Nasamsir Nasamsir
Jurnal Media Pertanian Vol 4, No 1 (2019): April
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.719 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v4i1.76

Abstract

Penelitian bertujuan untuk  menguji pengaruh penggunaan bahan organik masukan rendah pada berbagai metode aplikasi pemupukan melalui tanah dan daun terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai di tanah Ultisol sehingga dihasilkan pertumbuhan dan hasil tanaman Kedelai terbaik. Uji lapang dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jambi, Desa Mendalo Indah, Kabupaten Muaro Jambi. Percobaan berlangsung selama enam bulan, mulai bulan Mei – Oktober 2017. Benih Kedelai yang digunakan adalah varietas Rajabasa yang diberi perlakuan pemberian bahan organik (0-5 ton ha-1) yang diuji pada berbagai cara aplikasi pemupukan anorganik lewat tanah (2/3 dosis diberi saat tanam dan 1/3 dosis diberi saat memasuki fase reproduktif) dan pemupukan lewat daun (pagi dan sore hari).  Analisis data dilakukan melalui pendekatan uji ragam dan uji beda DNMRT pada taraf α 0.05. Berdasarkan hasil percobaan dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut, 1) Pemberian bahan organik masukan rendah pada tanaman Kedelai memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Kedelai yang disertai dengan cara aplikasi pemupukan yang tepat. 2) Pemberian bahan organik sebanyak 5 ton ha-1 yang diiringi dengan pemberian pupuk N,P, dan K 2/3 dosis saat tanam dan 1/3 dosis saat memasuki fase reproduktif yang disertai pemberian pupuk daun pagi dan sore hari memberikan hasil tertinggi pada variabel pertumbuhan, jumlah klorofil dan kandungan N daun, hasil tanaman serta bobot 100 butir biji, tetapi variabel pengamatan umur berbunga, mengalami perlambatan dibanding cara aplikasi pemupukan lainnya.Kata Kunci: Kedelai, Bahan Organik, Aplikasi Pupuk Melalui Tanah dan DaunABSTRACTThe study aims to examine the effect of low input organic matter on various methods of application of soil and leaf fertilization on the growth and yield of soybean plants in Ultisol so that the best soybean plants are grown and produced. Field tests were carried out at the Jambi University Faculty of Agriculture Experimental garden, Mendalo Indah Village, Muaro Jambi Regency. The experiment lasted for six months, starting in May - October 2017. The Soybean seeds used were Rajabasa varieties treated with organic materials (0-5 tons ha-1) which were tested in various ways the application of inorganic fertilizers through the soil (2/3 doses given during planting and 1/3 dose given when entering the reproductive phase) and fertilization through leaves (morning and evening). Data analysis was carried out through F- test  and DNMRT- test at the level of α 0.05.Based on the results of the experiment, some conclusions can be drawn as follows, 1) Giving low input organic matter to soybean plants gives a better influence on the growth and yield of soybean plants which is accompanied by proper application of fertilization applications. 2) Giving organic material as much as 5 tons ha-1 accompanied by administration of N, P, and K fertilizers 2/3 doses and 1/3 dose when entering the reproductive phase accompanied by the administration of morning and evening leaf fertilizers giving the highest yield on variable growth, amount of chlorophyll and leaf N content, plant yields and weight of 100 seeds, but the flowering age observation variable slowed compared to other fertilizer application methods.Keywords: Soybeans, Organic Ingredients, Application of Fertilizers Through Soil and Leaves
PEMBERIAN STIMULAN PADA BIDANG SADAP DALAM MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN KUALITAS LATEKS TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis (Muell. Arg.) Hayata Hayata; Yulistiati Nengsih; Rahmanto Wibowo
Jurnal Media Pertanian Vol 4, No 1 (2019): April
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (828.705 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v4i1.79

Abstract

Production increasing of latex on rubber plants can be increased by using a stimulants. One of it  is Vicar 10 SL. The purpose of this study was to find out the effect of Vicar 10 SL on the production and quality of latex. This research was carried out in the Kasang Parit Village, Sekernan District, Muaro Jambi Regency, and the Goods Quality Control and Certification Center on Industry and trade department   in Jambi Province. The study was conducted in July to August 2017. The design used was a completely randomized design with one treatment factor as the Vicar 10 SL application with four levels of treatment, namely; Without treatment (V0/control), 1 ml/Tree (V1), 2 ml/tree (V2), 3 ml/tree (V3). There were 4 times  repeatation on each treatment. Using  fingers, a Vicar 10 SL solution was applied to the tapping groove which was adjusted to the treatment, and allowed to keep it 24 hours. Tapping is done in the next morning, by following the grooves and be stored in a cup and left until the latex stoped dripping. Vicar was given once a week during 30 days. Tapping was done 3 times a week. The variables observed were latex production (gram/tree/day), dry rubber content (%), latex ash content (%), and latex dirt content (%). Vicar giving 10 SL in the tapping site with a dose of 2 ml / tree gave the highest yield of latex production (93.38 grams / tree / day) and dry rubber content (75.50%) and was significantly different compared to the other treatments. Vicar giving 10 SL in tapping site had no significant effect on latex dirt content and latex ash contentKeywords: Latex, stimulant, product and quality Abstrak Peningkatan produksi lateks pada tanaman karet dapat ditingkatkan dengan menggunakan stimulan. Salah satu pemakaian yang digunakan adalah Vikar 10 SL. Tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui penggunaan stimulan pada bidang sadap dalam mempengaruhi produksi dan kualitas lateks. Penelitian ini dilakukan di Desa kasang Parit Kecamatan Sekernan Kabupaten Muaro Jambi, dan Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) Disperindag Propinsi Jambi. Penelitian dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2017. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor perlakuan pemberian stimulan (Vikar 10 SL) dengan empat taraf perlakuan  yaitu; Tanpa perlakuan (V0/kontrol),  1 ml/ Pohon (V1),  2 ml/pohon (V2), 3 ml/pohon  (V3). Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Dengan menggunakan jari dioleskan larutan Vikar 10 SL pada alur sadap  yang disesuaikan dengan perlakuan, dan didiamkan selama 24 jam. Penyadapan dilakukan pada pagi hari esoknya, dengan mengikuti alur torehan dan ditampung dalam cawan dan dibiarkan sampai lateks berhenti menetes. Pemberian Vikar dilakukan sekali 7 hari selama 30 hari. Penyadapan dilakukan  3 kali dalam seminggu. Peubah yang diamati adalah produksi lateks (gram/pohon/hari)), kadar karet kering (%), kadar abu lateks (%), kadar kotoran lateks (%). Pemberian stimulan (Vikar 10 SL) pada bidang sadap dengan dosis 2 ml/pohon memberikan hasil yang tertinggi terhadap produksi lateks 93,38 gram/pohon/hari dan kadar karet kering 75,50 % dan berbeda nyata bila dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pemberian stimulan (Vikar 10 SL) pada bidang sadap berpengaruh tidak nyata terhadap kotoran lateks dan kadar abu lateksKata kunci :Lateks, stimulan, produksi dan kualitas
SURVEI SERANGAN HAMA PADA PERKEBUNAN TEBU (Saccharum officinarum L.) DI PROVINSI JAMBI Rizaldi Adrian; Nasamsir Nasamsir; Araz Meilin
Jurnal Media Pertanian Vol 4, No 1 (2019): April
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (949.395 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v4i1.77

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sungai Asam Kabupaten Kerinci, Desa Siulak Kecil Hilir, Hamparan Sungai Bermas, Kabupaten Kerinci, Desa Tangkit Kabupaten Muaro Jambi dan Desa Sungai Buluh Kabupaten Batanghari. Dari analisis data yang didapatkan dari pemasangan dua perangkap yellow trap dan pitfall, hasil identifikasi menunjukkan bahwa penyebab dari serangan penggerek batang Tebu adalah Kumbang (Rhabdoscelus obscurus) termasuk dalam family Curculionidae dan subfamily Rhynchophorinae Ordo Coleoptera , diindikasikan hama tersebut merupakan hama utama pada tanaman Tebu yang pradewasanya dikenal juga dengan hama uret. Hama uret ini dapat merusak bagian dalam batang tanaman tebu hingga menyebabkan kematian.Key words : tanamana Tebu, Rhabdoscelus obscures. RhynchophorinaeABSTRACTThis research was carried out in Sungai Asam Village, Kerinci Regency, Siulak Kecil Hilir Village Sungai Bermas , Kerinci District, Tangkit Village, Muaro Jambi Regency, and Sungai Buluh Village, Batanghari Regency.  Analysis of the data obtained from the installation of two yellow trap and pitfall traps, identification results indicate that the cause of the attack of sugarcane stem borer is the Beetle (Rhabdoscelus obscurus) included in the family Curculionidae and subfamily Rhynchophorinae Ordo Coleoptera indicated that these pests are the main pests in sugarcane plants which are commonly known as uret pests. This uret pest can damage the inside sugar cane stems to cause death.Key words : sugarcane, Rhabdoscelus obscures. Rhynchophorinae
NISBAH KESETARAHAN LAHAN POLIKULTUR PINANG (Areca catechu L.) DENGAN KELAPA DALAM (Cocos nucifera L.) DAN PINANG DENGAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) Rudi Hartawan; Fathul Hariadi
Jurnal Media Pertanian Vol 4, No 1 (2019): April
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.232 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v4i1.78

Abstract

Polikultur tanaman Kelapa Dalam dan Kelapa Sawit dengan tanaman Pinang merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan produktivitas lahan dan meningkatkan pendapatan petani. Penelitian bertujuan untuk membandingkan NKL polikultur Pinang dengan Kelapa Dalam dan Pinang dengan Kelapa Sawit. Pelaksanaan penelitian di Desa Sungai Beras, Kecamatan Mendahara Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur pada bulan Desember 2018 sampai Maret 2019. Pengumpulan data mengunakan metode survey pada lahan-lahan petani yang ditanami Pinang, Kelapa Dalam, dan Kelapa Sawit monokultur dan polikultur. Lokasi penelitian di pilih secara sengaja karena pada lokasi-lokasi tersebut terdapat budidaya polikultur Pinang dengan Kelapa Dalam dan Pinang dengan Kelapa Sawit. Peubah yang diamati yaitu; fisik tanaman dan umur berbuah, estimasi produksi (kg ha-1), produktivitas (kg ha-1 th-1). Data yang diperoleh di lapangan dilakukan analisis statistika dengan metode deskriptif dalam bentuk tabulasi dan analisis inferensi dengan uji t berpasangan dengan taraf α 0,05%. Dari hasil penghitungan nilai NKL diperoleh nilai polikultur Pinang dengan Kelapa Dalam 1,19 dan polikultur Pinang dengan Kelapa Sawit 1,10. Data ini mengambarkan bahwa polikultur Pinang dengan Kelapa Dalam lebih menguntungkan 9% dibandingkan polikultur Pinang dengan Kelapa Sawit.
PERTUMBUHAN BIBIT KOPI LIBERIKA TUNGKAL KOMPOSIT PADA BERBAGAI MEDIA TANAM Yulistiati Nengsih; Yuza Defitri
Jurnal Media Pertanian Vol 4, No 1 (2019): April
Publisher : Universitas Batanghari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.547 KB) | DOI: 10.33087/jagro.v4i1.74

Abstract

Good planting media is a medium that is able to provider water and nutrients is sufficient quantities for plant growth. This can be found on soils with good air conditioning, has a solid aggregate, good water holding ability and room for sufficient rooting. Proper use of media will provide optimal growth for the plants. This study aims to determine the best planting medium to support the growth of coffe seedling Liberika Tungkal Komposit. The research was conducted in the experimental garden Pijoan, University Batanghari Jambi. From March to May 2017. The research design in this experiment was planting  medium with complete randomized environmental design (RAL). The treatment is : M0 = plant medium 100% peat soil, M1 = plant medium 100% ultisol soil, M2 = planting medium 50% untisol soil + 50% rice husk charcoal, M3 = planting medium 50% ultisol soil + 50% cocopeat, M4 = planting medium 50% ultisol soil + 50% river sand, M5 = planting medium 50% peat soil + 50% rice husk charcoal, M6 = planting medium 50% peat soil + 50% cocopeat, M7 = planting medium 50% peat soil + 50% river sand. Parameter observed were plant height, stem diameter, root length, crown dry weight, root dry weight, root canopy ratio, total dry weight, quality index, initial pH media and final pH media. The result showed that the ultisol 100% ultisol garden media gave the heighes seed growth value based on single parameter ie plant height, stem diameter, root lenght, crown dry weight, root dry weight, root canopy ratio, total dry weight, and initial media pH and treatment integrated quality index that indicates that the seed is most ready to be moved to the field.Keywords: nurseries, plantations, coffee AbstrakMedia tanam yang baik adalah media yang mampu menyediakan air dan unsur hara dalam jumlah cukup bagi pertumbuhan tanaman. Hal ini dapat ditemukan pada tanah dengan tata udara yang baik, mempunyai agregat mantap, kemampuan menahan air yang baik dan ruang untuk perakaran yang cukup.Penggunaan media yang tepat akan memberikan pertumbuhan yang optimal bagi tanaman. Percobaan bertujuan untuk mengetahui media tanam yang paling baik untuk menunjang pertumbuhan bibit kopi Liberika Tungkal Komposit. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Batanghari di Pijoan, Muaro Jambi. Percobaan dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2017. Percobaan menggunakan rancangan lingkungan acak lengkap dan rancangan perlakuan media tanam (M) sebagai berikut: M0 = 100% gambut, M1= 100% tanah jenis ultisol, M2= 50% tanah jenis ultisol + 50% arang sekam padi, M3= 50% tanah jenis ultisol + 50% cocopeat, M4 = 50% tanah jenis ultisol + 50% pasir sungai, M5= 50% tanah gambut + 50% arang sekam padi, M6= 50% tanah gambut + 50% cocopeat, M7= 50% tanah gambut + 50% pasir sungai. Parameter yang diamati adalah pH awal dan pH akhir media, tinggi tanaman, diameter batang, panjang akar, bobot kering tajuk, bobot kering akar, nisbah tajuk akar, bobot kering total dan indek kualitas. Hasil percobaan menunjukkan media tanam 100% tanah jenis ultisol  menghasilkan pertumbuhan bibit tertinggi berdasarkan parameter tunggal yaitu tinggi tanaman, diameter batang, panjang akar, bobot kering tajuk, bobot kering akar, nisbah tajuk akar, bobot kering total dan parameter terintegrasi yaitu indeks kualitas.Kata kunci:  pembibitan, perkebunan, kopi

Page 4 of 17 | Total Record : 169