cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian
Published by Universitas Semarang
ISSN : 16939115     EISSN : 2580846X     DOI : 10.26623
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 19 No. 2 (2024): September" : 5 Documents clear
Pengaruh Waktu Penyangraian Bawang Tiwai Terhadap, Sifat fisik, Detak Jantung dan Tekanan Darah Responden Hardianti, Siti; Sinaga, Umi Teresia; Rohmah, Miftakhur; Rachmawati, Maulida; Saragih, Bernatal
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol. 19 No. 2 (2024): September
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v19i2.7856

Abstract

Tiwai onion (Eleutherine americana Merr) is a medicinal plants used as an alternative treatment which is processed into herbal drinks. This study aims to determine the effect of roasting time on physical characteristics, heart rate and blood pressure in respondents. This study was arranged using a randomized block design (RBD) with 4 treatments, namely 0 minute roasting time, 5 minute, 10 minute, and 15 minute  with 3 replications. Data analysis of variance and BNT follow-up test (5% level). The results showed that the roasting time of tiwai onions on physical properties had a real influence on the insoluble components,  namely the treatment of 0 minutes and 15 minutes of roasting time. In terms of sensory properties, it has a significant effect on hedonic and hedonic quality of aroma, color, and taste with a description of the aroma of tiwai onions, blackish brown color and the taste of tiwai onions. On the blood pressure and heart rate of  respondents after drinking the roasted tiwai drink, it significa
Karakteristik Sensoris Dan Sifat Fisikokimia Biskuit Mp-Asi Dengan Substitusi Tepung Biji Nangka Dan Tepung Kacang Tunggak Wafi, Fakhri Ahmad; Nasifah, Dzurotun; Sarie, Audina Aura; Amalia, Wahyu; Ayu Rosita, Herlina Diah; Harini, Noor; Anggriani, Rista
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol. 19 No. 2 (2024): September
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v19i2.8984

Abstract

Penggunaan by product biji nangka dan kacang tunggak dapat dimanfaatkan sebagai bahan substitusi dalam pembuatan biskuit, penggunaan kedua bahan tersebut dapat mengurangi penggunaan tepung terigu dan sebagai bentuk diversifikasi pangan. Tepung biji nangka mengandung sekitar 36,7g karbohidrat, dan 4,2g protein. Selain itu, kacang tunggak menjadi salah satu jenis kacang-kacangan tinggi protein berkisar 24,4g/100g. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung biji nangka dan tepung kacang tunggak terhadap sesoris dan sifat fisikokimia biskuitPenelitian dilakukan dengan mensubstitusikan tepung terigu ; tepung biji nangka : tepung kacang tunggak dengan formulasi F0(100%:0%:0), F1 (60%:25%:15%), F2(50%:30%:20%), F3 (40%:35%:25%), F4 (30%:40%:30%), F5 (20%:45%:35%), dan F6 (0%:55%:45%). Selanjutnya biskuit dianalisis: kadar air, abu, lemak, protein, karbohidrat, densitas kamba, kecerahan (*L), organoleptik, dan takaran saji. Data dianalisis dengan ANOVA dan uji lanju
Sifat Kimia Dan Sensori Biskuit Dengan Formulasi Mocaf Dan Tepung Kacang Hijau Mubarak, M Zainun Syauqil; Mulyadi, Mochtar Nova
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol. 19 No. 2 (2024): September
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v19i2.9825

Abstract

Pada era global konsumsi makanan semakin tidak sehat salah satu dampaknya adalah kebiasaan mengonsumsi jajanan dan camilan yang tinggi lemak dan rendah serat, tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik yang memadai. Pola makan yang sering kali kurang seimbang antara pangan hewani dan nabati mengakibatkan rendahnya asupan serat. Hal ini dapat menyebabkan munculnya berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, tingginya kadar kolesterol, dan hipertensi Oleh karena itu, diperlukan pengembangan produk makanan yang bergizi dan praktis seperti biskuit, salah satu biji-bijian yang mengandung kadar serat tinggi yakni kacang hijau, kacang hijau juga dapat memberikan aroma khas. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan faktor tunggal (penambahan tepung kacang hijau:tepung mocaf), yaitu (F0) 0:100, (F1) 55:45, (F2) 65:35, (F3) 75:25 dengan 3 kali ulangan.   Parameter yang diamati adalah kadar air, kadar serat kasar dan sifat, organoleptik (rasa, aroma, ras dan tekstur). Data kadar air, kadar serat kasar dianalisis one way anova dan respons organoleptik biskuit dianalisis rm anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung kacang hijau memberikan pengaruh yang signifikan. Formulasi F3 Konsentrasi F3 yakni tepung kacang hijau:tepung mocaf (75:25). Formulasi ini memiliki rasa 3,30 (agak suka), aroma 3,67 (agak suka), tekstur 3,90 (agak suka), warna 1,83 (sangat tidak suka). Penambahan tepung kacang hijau juga mempengaruhi kadar air dan kadar serat kasar biskuit pada formulasi F3 kadar air 4,85% dan kadar serat kasar 5,67%.
Variasi Kadar Ekstrak Buah Kelengkeng (Dimacarpus longan) dan Lama Fermentasi Terhadap Karakteristik Fruit Wine Anjelina, Febrina; Rahmiati, Retnani; Sigit, Bambang
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol. 19 No. 2 (2024): September
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v19i2.9006

Abstract

Wine merupakan minuman hasil fermentasi yang dibuat dari sari buah anggur, tetapi  dapat dibuat dengan buah lainnya yang mengandung gula contohnya buah kelengkeng. Buah kelengkeng merupakan buah yang memiliki rasa yang manis, akan tetapi buah kelengkeng memiliki umur simpan yang pendek karena memiliki kadar air yang tinggi, sehingga buah kelengkeng diolah menjadi produk minuman seperti fruit wine. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi antara lama fermentasi dan kadar ekstrak buah pada proses pembuatan fruit wine agar menghasilkan fruit wine yang berkualitas baik dan disukai oleh masyarakat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial dengan 3 level pada setiap faktornya. Faktor pertama variasi ekstrak buah kelengkeng dengan level 50, 75, 100% dan faktor kedua lama fermentasi dengan level 8, 11, 14 hari. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Analisis kimia yang diujikan adalah total padatan terlarut, pH, total asam, gula reduksi dan kadar alkohol serta uji organoleptik yang meliputi warna, rasa dan aroma alkohol. Uji yang digunakan untuk menentukan perlakuan terbaik menggunakan uji efektifitas. Hasil uji ansira menunjukkan terdapat interaksi antar perlakuan pada kosentrasi ekstrak buah kelengkeng dengan lama fermentasi pada hasil uji kimia total padatan terlarut, total asam, gula reduksi dan kadar alkohol, sedangkan pada pH tidak terdapat interaksi. Perlakuan kosentrasi ekstrak buah kelengkeng 75% dan lama fermentasi 14 hari merupakan perlakuan terbaik dengan Nilai Hasil (NH) 0,846 dengan kriteria variabel penelitian total padatan terlarut 8°brix, pH 5,057, total asam 0,59 g/100ml, gula reduksi 1,89%, kadar alkohol 20.667%, warna 5 (agak suka), rasa 5 (agak suka), dan aroma 5 (agak suka).
Karakteristik Sifat Amilografi Tepung Kentang (Solanum tuberosum L.) Varietas Atlantik Dan Hasil Modifikasi Heat Moisture Treatment Yang Ditanam Di Dataran Medium Ajijah, Melia Siti; Utama, Raden Duhita Diantiparamudita
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol. 19 No. 2 (2024): September
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v19i2.10211

Abstract

Potatoes grow optimally in highlands areas at an altitude of more than 1000 meters above sea level (masl) with an ideal temperature of 18°C. However, continuously for potato cultivation in highlands can have negative impacts such as deforestation, erosion, landslides and floods. Therefore, the development of medium plain potatoes (300-700 masl) is increasing. This research aims to identify the amylographic characteristics of Atlantic potato flour from the high plain and atlantic potato flour from medium plain and the effect of modified by Heat Moisture Treatment . This study used an experimental method with t-test analysis. The results showed significant differences between the flour from highlands and medium plains with parameters of amylose content, amylopectin content and gel strength levels. Based on the gel strength value, highland potato flour is more stable than medium plain flour. In HMT modified flour and natural flour from medium plains and highlands there are significant differences in amylose content,  amylopectin content and whiteness. Based on the gel strength value, HMT modified flour shows better stability compared to natural flour from medium plains.

Page 1 of 1 | Total Record : 5