cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Transportasi: Sistem, Material, dan Infrastruktur
ISSN : -     EISSN : 26226847     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2018)" : 9 Documents clear
Model Transportasi Pengiriman Ikan Segar untuk Industri Pengolahan Ikan (Studi Kasus Industri Surimi di Jawa Tengah) Margie Wiendy Christianingrum; Murdjito Murdjito; Hasan Iqbal Nur
Jurnal Transportasi: Sistem, Material, dan Infrastruktur Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1591.472 KB) | DOI: 10.12962/j26226847.v1i2.5037

Abstract

Kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan KP No 2 tahun 2015 tentang larangan penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) dan pukat tarik (seine nets), tak hanya berdampak pada nelayan, namun juga berdampak pada industri surimi, terutama industri surimi yang berada di Jawa Tengah. Lebih dari 80% pabrik surimi tidak beroperasi lagi karena kesulitan mendapatkan bahan baku (ikan demersal). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan model logistik pengangkutan ikan bahan baku surimi yang optimum dari masing-masing opsi lokasi pemasok dengan menggunakan bahan baku ikan alternatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode optimasi. Dari hasil analisis yang telah dilakukan bahan baku alternatif pengganti yang akan digunakan adalah ikan tenggiri, ikan kakap merah, ikan tigawaja dan ikan beloso. Alat angkut yang digunakan adalah kapal pengangkut ikan. Dari proses optimasi, skenario pengiriman melalui titik hub PPS Kendari memiliki biaya satuan yang paling minimum yakni Rp. 2,686 per kg. 5 rute yang terpilih dalam model tersebut antara lain, Rute 1 PPN Sungai Liat – PPP Tasik Agung dengan kargo ikan terkirim 13.389 ton/tahun, Rute 3 PPS Kendari – PPP Tasik Agung (16.750 ton/tahun), Rute 4 PPS Kendari – PPN Pekalongan (16.848 ton/tahun), Rute 5 PPN Ambon – PPS Kendari (21.570 ton/tahun), dan Rute 7 PPI Likupang – PPS Kendari (6.131 ton/tahun). Penambahan biaya transportasi akan menambah biaya produksi sebesar 15%.
Alternatif Perencanaan Abutment dan Oprit Fly Over Kandangan, Surabaya, Jawa Timur Pungky Aditya Saputra; Suwarno Suwarno; Trihanyndio Rendy Satrya
Jurnal Transportasi: Sistem, Material, dan Infrastruktur Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.419 KB) | DOI: 10.12962/j26226847.v1i2.5032

Abstract

Kota Surabaya merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang selalu bermasalah dalam bidang transportasi terutama kemacetan. Adanya pembangunan fly over yang melintasi jalur trek ganda kereta api Stasiun Benowo – Stasiun Kandangan KM 219+958 yang terletak di Desa Kandangan ini termasuk salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan di Surabaya barat khususnya di daerah Kandangan dan sebagai jalur alternatif menuju Gresik. Pada penulisan studi ini penulis memodifikasi desain awal fly over Kandangan yang awalnya dengan konstruksi pilar disetiap bentangnya, dirubah menjadi timbunan tanah dengan alasan biaya timbunan lebih ekonomis daripada konstruksi pilar jembatan. Direncanakan alternatif bentuk timbunan` oprit serta perkuatan tanah timbunan dan perbaikan tanah dasarnya. Dua alternatif bentuk timbunan yang dibandingkan yaitu timbunan bersisi tegak dan bersisi miring. Dalam perencanaan perkuatan oprit bersisi tegak akan dibandingkan dua alternatif perkuatan antara lain: geotextile wall reinforcement kombinasi dengan flat sheet-pile concrete, dan geogrid wall reinforcement kombinasi dengan keystone wall. Sedangkan untuk perencanaan perkuatan oprit bersisi miring akan dibandingkan dua alternatif perkuatan antara lain: geotextile slope reinforcement dan cerucuk berupa micropile beton. Abutment direncanakan dengan kestabilan konstruksi harus ditinjau terhadap pengaruh gaya-gaya eksternal maupun terhadap gaya-gaya internal yang dapat menyebabkan pecahnya konstruksi. Apabila abutment tidak memenuhi maka daya dukungnya harus direncanakan pondasi dalam berupa tiang pancang. Hasil dari perhitungan total biaya konstruksi pada perencanaan oprit didapatkan diantaranya untuk oprit bersisi tegak dengan alternatif perkuatan geotextile kombinasi sheet-pile adalah Rp. 86.280.857.674,34 dan untuk alternatif perkuatan geogrids kombinasi keystone-wall adalah Rp. 73.797.613.851,84. Sedangkan untuk oprit bersisi miring dengan alternatif perkuatan geotextile adalah Rp. 103.183.365.174,93 dan untuk alternatif perkuatan micropile adalah Rp. 134.243.009.394,93. Maka dipilih alternatif timbunan dan perkuatan yang paling efektif dari segi biaya, pelaksanaan, dan hemat ruang sehingga oprit bersisi tegak dengan perkuatan geogrids kombinasi keystone-wall adalah yang paling sesuai. Sedangkan untuk abutment direncanakan dengan lebar melintang 32,725 m dan tinggi total 12,530 m. Dimensi pilecap 32,725 m x 6,5 m. Pondasi dalam dipakai tiang pancang PC Spun Pile diameter 60 cm berjumlah 84 buah dengan dipancang kedalaman 42 m dari OGL.
Evaluasi Keselamatan Operasional Penerbangan dan Potensi Penambahan Rute di Bandara Sam Ratulangi Manado Halim Prasetyo Hutomo; Ervina Ahyudanari
Jurnal Transportasi: Sistem, Material, dan Infrastruktur Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.784 KB) | DOI: 10.12962/j26226847.v1i2.5028

Abstract

Bandara sam Ratulangi berlokasi di Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara. Evaluasi yang dilakukan terhadap ini adalah evaluasi panjang dan lebar runway, evaluasi kawasan keselamatan operasi penerbangan terhadap topografi, dan evaluasi pola pergerakan pesawat terhadap topografi. Selain itu dilakukan juga evaluasi kapasitas dan berat masing-masing pesawat terbang yang beroperasi berkaitan dengan penentuan jarak tempuh optimum pesawat yang digunakan untuk penentuan potensi rute tambahan. Terdapat 4 kesimpulan dalam Studi ini. Pertama, Untuk pesawat kritis Boeing 737 – 900, runway yang tersedia di Bandara Sam Ratulangi Manadomasih memenuhi dimana TORA pesawat Boeing 737 – 900 adalah 2580 m dan lebar runway dibutuhkan sesuai kriteria pesawat adalah 45 m. Sedangkan panjang runway yang tersedia adalah 2650 m dengan lebar 45m. Kedua, untuk evaluasi KKOP terhadap topografi, pada potongan memanjang topografi bandara masih memenuhi batasan KKOP. Sedangkan pada potongan melintangnya, terdapat topografi dimana ketinggiannya melebihi batas KKOP. Ketiga, pola pergerakan pesawat Boeing 737 – 900 tidak mengalami gangguan saat melakukan lift off. Sehingga untuk pola pergerakan pesawat selanjutnya tidak terjadi gangguan keselamatan operasi penerbangan akibat topografi. Sampai saat ini, Pesawat Boeing 737 – 900 beroperasi dengan jarak tempuh paling jauh 1790 nautical miles yaitu dari Bandara Sam Ratulangi Manado menuju Bandara Shanghai Pudong Tiongkok dengan konsumsi bahan bakar sebesar 18475.60 liter. Dari hasil jarak tempuh optimum yang bisa ditempuh pesawat diperoleh untuk jarak tempuh optimum pesawat Boeing 737 – 900 adalah 3544 km atau 1920 nautical miles dengan konsumsi bahan bakar sebesar 18720 liter.
Analisis Prioritas Pemeliharaan Jalan Kabupaten Karanganyar Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) Vanessa Sushera; M. Arif Rohman; Anak Agung Gde Kartika
Jurnal Transportasi: Sistem, Material, dan Infrastruktur Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.766 KB) | DOI: 10.12962/j26226847.v1i2.5033

Abstract

Persoalan keterbatasan dana seringkali menjadi kendala dalam menentukan prioritas pemeliharaan jalan, termasuk pada Kabupaten Karanganyar. Selama ini Dinas Bina Marga menentukan urutan prioritas jalan hanya berdasarkan pada penilaian subyektif. Oleh karena itu maka perlu adanya suatu metode mengenai penentuan prioritas jalan secara objektif yang akan dilakukan pemeliharaan agar tepat sasaran. Dalam Penelitian ini mengusulkan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) sebagai penentu urutan prioritas pemeliharaan Jalan di Kabupaten Karanganyar. dengan kriteria yang digunakan adalah kondisi jalan, Lalu Lintas Harian (LHR), lebar jalan, biaya penanganan, dan fungsi tata guna lahan. Dari hasil analisis didapatkan urutan kriteria yang paling berpengaruh adalah kriteria biaya pemeliharaan, kondisi jalan, LHR, fungsi tata guna lahan, dan lebar jalan.  Adapun urutan prioritas pemeliharaan jalan  yaitu  jalan Tasikmadu-Dagen, Sukosari - Jumantono, Jagan-Lemahbang, Beruk-Wonokeling, Matesih-Tegalgede, Jendral Sudirman, Jatiyoso-Jatisawit, Tepus-Sentul, Ngasem-Paseban, dan Jalan Wonosari-Kragan.
Alternatif Perencanaan Timbunan Jalan dengan Material Sirtu dan Material Ringan Mortar Busa pada Jalan Tol Batang – Semarang Seksi III Weleri – Kendal STA 414+525 – STA 424+576 Moch. Alfian Putra Adi; Yudhi Lastiasih; Indrasurya B. Mochtar
Jurnal Transportasi: Sistem, Material, dan Infrastruktur Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.844 KB) | DOI: 10.12962/j26226847.v1i2.5029

Abstract

Jalan Tol Batang – Semarang merupakan bagian dari proyek Jalan Tol Trans Jawa. Jalan Tol Trans Jawa adalah jaringan jalan tol antar kota di Pulau Jawa dengan tujuan utamanya untuk menghubungkan wilayah di Pulau Jawa, yaitu dari Kota Jakarta sampai Kota Surabaya, dan rencana akan dilanjutkan hingga Kabupaten Banyuwangi. Proyek Jalan Tol Batang – Semarang direncanakan memiliki panjang total ± 75 km terbagi dalam 3 seksi. Jalan tol ini rencananya akan dibangun di atas timbunan dengan elevasi yang relatif tinggi yaitu 3-meter s/d 12-meter pada STA 414+525 – STA 424+576. Kondisi tanah dasarnya adalah tanah lunak hingga medium yang memilki kedalaman ± 10 meter dengan nilai N-SPT rata – rata berkisar 5 s.d. 12 sehingga memiliki daya dukung yang rendah dan pemampatan tanah yang relatif besar. Oleh karena itu, perlu adanya desain perencanaan konstruksi timbunan jalan dari material yang aman dan cukup ringan agar pemampatan tanah dasar yang terjadi dapat diminimalisir. Diperlukan juga perencanaan perbaikan tanah dasar dan perencanaan perkuatan timbunan agar timbunan menjadi lebih stabil. Perencanaan timbunan jalan dilakukan dengan menggunakan 2 (dua) material yang berbeda, yaitu material tanah sirtu dan material ringan mortar busa sebagai material timbunan. Metode perbaikan tanah dasar direncanakan menggunakan metode pra – pembebanan (pre-loading) yang dikombinasikan dengan Prefabricated Vertical Drain (PVD) kedalaman penuh sedalam tanah lunak dan vacuum pre-loading direncanakan untuk perbaikan tanah dasar dibantu dengan pompa untuk mengangkat air dari dalam lapisan tanah dasar. Hasil analisa, perencanaan timbunan dengan material mortar busa memiliki nilai pemampatan tanah yang lebih kecil daripada perencanaan timbunan dengan material tanah sirtu. PVD yang digunakan memakai pola segitiga dengan jarak 1 m dan 1,2 m. Selain itu, perencanaan timbunan dengan material mortar busa jauh lebih stabil sehingga tidak membutuhkan perkuatan, sedangkan untuk perencanaan timbunan dengan material tanah sirtu membutuhkan perkuatan geotextile un-woven sebanyak 4 – 43 lapis untuk tinggi timbunan rencana 11,5m dan untuk timbunan rencana 3,1m tidak memerlukan geotextile sebagai perkuatan. Total biaya material perencanaan untuk variasi timbunan dengan material mortar busa jauh lebih besar daripada total biaya material perencanaan untuk timbunan tanah sirtu.
Pengukuran Tingkat Keseimbangan Node dan Place di Kawasan Transit Oriented Development (TOD) Terminal Joyoboyo, Surabaya Alita Nadyla; Siti Nurlaela
Jurnal Transportasi: Sistem, Material, dan Infrastruktur Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.572 KB) | DOI: 10.12962/j26226847.v1i2.5034

Abstract

Kawasan Terminal Joyoboyo merupakan kawasan strategis yang saat ini telah dilayani oleh dua (2) moda transportasi umum, yaitu bus dan lyn. Berdasarkan RDTRK UP. Wonokromo tahun 2017, kawasan ini diarahkan sebagai hub antara Surotram dan Boyorail sebagai Angkutan Massal Cepat (AMC). TOD dan node-place merupakan konsep yang mengintegrasikan antara titik transit dan kawasan di sekitarnya. Namun, penerapan konsep TOD belum tercermin pada kawasan ini. Maka diperlukan pengukuran indeks node dan place kawasan TOD berdasarkan konsep node-place model, sehingga dapat diketahui keseimbangan peran kawasan TOD Terminal Joyoboyo sebagai kawasan berbasis node-place model. Penelitian ini dilakukan dengan identifikasi karakteristik kawasan berdasarkan kriteria dan parameter TOD serta node-place model. Teknik analisis weighted multi criteria analysis digunakan untuk mengetahui tingkat keseimbangan antara node dan place index. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kawasan transit joyoboyo masuk kedalam kategori unsustained place. Hal ini dikarenakan node index sebesar 0,48, sedangkan place index sebesar 0,64.
Disain Fasilitas Sisi Udara dan Operasional Bandar Udara Jenderal Besar Soedirman, Purbalingga Muhammad Yuanto Permana; Ervina Ahyudanari
Jurnal Transportasi: Sistem, Material, dan Infrastruktur Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.687 KB) | DOI: 10.12962/j26226847.v1i2.5030

Abstract

PT. Angkasa Pura II akan membangun Bandara Jenderal Besar Soedirman di Purbalingga dengan kelas bandara III C, menggunakan lahan yang dimiliki oleh TNI AU di Wirasaba, Kab. Purbalingga. Adanya pembangunan bandara ini perlu dilengkapi dengan studi detil disain fasilitas sisi udara yang meliputi runway, taxiway, dan apron. Pada disain fasilitas sisi udara pada Bandara Jenderal Besar Soedirman ini dilakukan pengumpulan data penumpang dari proyeksi pengguna moda transportasi kereta eksekutif pada Stasiun Purwokerto. Dari hasil analisis yang dilakukan, didapatkan jumlah penumpang per-hari. Pesawat rencana untuk disain ini adalah pesawat ATR 72-600, dengan kapasitas 68 orang penumpang. Setelah itu dilakukan perhitungan kapasitas runway didapatkan bahwa dibutuhkan single runway untuk melayani pergerakan pesawat pada Bandara Jenderal Besar Soedirman. Disain fasilitas sisi udara ini juga memperhitungkan kawasan keselamatan operasional penerbangannya, agar dapat dilakukan disain pengembangan terhadap bandara ini. Mengingat bandara yang sudah ada sebelumnya yaitu Bandara Tunggul Wulung Cilacap tidak memungkinkan dilakukannya pengembangan karena terdapat cerobong asap pembangkit listrik tenaga uap yang menjulang, sehingga Bandara Jenderal Besar Soedirman ini yang nantinya akan terus dikembangkan
Faktor-faktor yang Memengaruhi Permintaan Commuter Line Berdasarkan Karakteristik Fasilitas Park and Ride di Stasiun Sidoarjo Annisa Rizky Nurkhariza; Siti Nurlaela
Jurnal Transportasi: Sistem, Material, dan Infrastruktur Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.881 KB) | DOI: 10.12962/j26226847.v1i2.5035

Abstract

Setiap harinya, terdapat 500.000 masyarakat Sidoarjo yang beraktivitas di Surabaya. Level of service (LOS) dari Jalan Ahmad Yani yang mencapai tingkat E menunjukkan tingginya penggunaan kendaraan pribadi dan kurangnya minat masyarakat dalam menggunakan transportasi massal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningfkatkan penggunaan transportasi massal adalah dengan penyediaan fasilitas park and ride. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui factor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap permintaan akan commuter line berdasarkan karakteristik fasilitas park and ride. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan empat sasaran penelitian, yaitu pemilihan stasiun berdasarkan indikator fasilitas park and ride dan tingkat penumpang tinggi sebagai studi kasus, menganalisis karakteristik fasilitas park and ride di stasiun terpilih, identifikasi karakteristik pengguna dan non-pengguna commuter line, dan identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi permintaan commuter line berdasarkan karakteristik fasilitas park and ride. Hasil penelitian menunjukkan, dari 14 variabel independen, terdapat lima variabel yang berpengaruh secara signifikan, yaitu usia, maksud perjalanan, waktu, kemudahan mencapai lokasi, dan tingkat layanan angkutan.
Geometri Jalan Rel Kamal-Pelabuhan Tanjung Bulupandan di Madura Muhammad Zainal Muttaqin; Wahju Herijanto; Budi Rahardjo
Jurnal Transportasi: Sistem, Material, dan Infrastruktur Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.058 KB) | DOI: 10.12962/j26226847.v1i2.5031

Abstract

Di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Bangkalan tahun 2009-2019 terdapat rencana pengembangan strategis jalur kereta api terutama untuk melayani angkutan massal regional maupun nasional baik penumpang maupun barang bagi wilayah industri terutama pelabuhan serta melayani terminal penumpang laut. Sedangkan Kabupaten Bangkalan memiliki rencana pengembangan prasarana transportasi laut yaitu proyek pembangunan Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Bulupandan di Kecamatan Klampis sebagai pelabuhan peti kemas internasional, serta pengembangan zona industri di kawasan pelabuhan peti kemas. Adapun tujuan yang akan dicapai dalam pembangunan jaringan jalan rel Kabupaten Bangkalan antara lain dari aspek transportasi ialah berkurangnya konstruksi jalan raya dan pemakaian energi dalam jumlah yang besar dengan adanya perpindahan angkutan massal dari jalan raya ke jalan rel. Metode yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan adalah mengumpulkan data sekunder, menentukan rute terbaik beberapa alternatif rute menggunakan multi criteria analysis, membuat Gambar geometrik dari rute yang terpilih dan membuat rencana anggaran biaya (RAB). Hasil dari studi ini adalah rencana trase Kamal-Pelabuhan Tanjung Bulupandan. Jalur kereta api didesain menggunakan jenis rel R54 dengan lebar sepur 1067 mm, kecepatan maksimum 120 km/jam, jenis penambat pandrol elastik tunggal, Panjang trase yang dirancang sepanjang 37,1 km menggunakan bantalan beton dengan jarak 60 cm. Dan rencana anggaran biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 785.448.669.000

Page 1 of 1 | Total Record : 9