cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpenataanruang@gmail.com
Editorial Address
Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan dan Kebumian (FTSPK),Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Sukolilo, Surabaya 60111
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Penataan Ruang
ISSN : 19074972     EISSN : 2716179X     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penataan Ruang (JPR) merupakan jurnal yang dikelola oleh Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Indonesia. Tujuan dari Jurnal Penataan Ruang adalah sebagai wadah diseminasi hasil-hasil penelitian pengabdian masyarakat pada bidang Perencanaan Wilayah dan Kota, baik di Indonesia maupun internasional.
Articles 208 Documents
Food Carrying Capacity in Gerbangkertosusila Metropolitan Area Using Ecosystem Service-Based Carrying Capacity Firmansyah, Fendy; Jatayu, Anoraga; Syafitri, Rivan Aji Wahyu Dyan; Pratomoatmojo, Nursakti Adhi
Jurnal Penataan Ruang Vol 18, No 2 (2023): Jurnal Penataan Ruang 2023
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v18i2.17055

Abstract

The issue of food security in Indonesia will persist due to the availability of agricultural area and problems surrounding it. Agricultural land conversion, urbanization-led urban expansion, endogenous and exogenous growth of the region with its population also helps intensify the issue of food security. Gerbangkertosusila metropolitan area is the largest urban agglomeration in East Java Province. Compared to other area in East Java, it has a relatively rapid increase in growth. This causes the quality and quantity of the environment to decrease. Efforts to support the sustainability of an area to meet the needs of humans and other living things require the carrying capacity and capacity of the environment. Therefore, it is necessary to analyze the status of food carrying capacity based on the environmental service. This research uses the modified environmental service-based carrying capacity with spatially calculated dynamic, as opposed to the administrative-based calculation that the common measurement has. The spatial dynamics in a region are captured with the grid-system, with other variables also follows the same grid. The result shows that mostly over 89% of the regions’ (represented in grids) food carrying capacity has already been overshot, and that all of the population threshold has also been overshot with exception in Lamongan Regency. It shows that Gerbangkertosusila metropolitan area is currently in a critical situation where it couldn’t support the food security by itself and that it needs to rely on other region forming a larger regional system to maintain its sustainability.
Pengaruh Penyelenggaraan Major Greening Event “Kampung Surabaya Hebat” terhadap Pembangunan Multidimensi Kota Surabaya Novitasari, Alifia Dian; Navitas, Prananda
Jurnal Penataan Ruang Vol 19 (2024): Special Edition: Jurnal Penataan Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v19i0.21101

Abstract

Penyelenggaraan event kota pada skala besar maupun kecil (Giga-Mega-Major event) berpotensi menjadi solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan perkotaan seperti kemiskinan, kekumuhan, dan ketimpangan infrastruktur, serta menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas perencanaan kota dan kesejahteraan masyarakat dengan memaksimalkan potensi pembangunan di segala aspek. Pengaruh event dapat ditingkatkan dengan memahami tujuan event, skala, kondisi kebutuhan kota, serta dampaknya di masa depan. Penelitian yang ada cenderung berfokus pada percepatan kontribusi sosial-ekonomi melalui penyelenggaraan event skala besar seperti Pertandingan Olimpiade, Piala Dunia FIFA atau World Expo. Event lokal juga dapat memberikan pengaruh transformasi secara berkelanjutan. Namun, hingga kini, pengaruh tersebut belum tereksplorasi. Penelitian ini berupaya memahami kontribusi major greening event Kampung Surabaya Hebat (KSH) sebagai even lokal terhadap pembangunan Kota Surabaya. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis 94 kampung dari 31 kecamatan di Kota Surabaya, menggunakan variabel pengukuran pengaruh event yang komprehensif serta melibatkan beragam pihak. Data yang diperoleh diolah dengan pendekatan metode campuran, diawali dengan Multivariate Analysis – Structural Equation Model (SEM – PLS) untuk mengetahui kontribusi dalam variabel event, dengan event sebagai variabel mediasi. Kemudian, Content Analysis dilakukan untuk mengungkap pengaruh KSH terhadap pembangunan Kota Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KSH mempengaruhi pembangunan multidimensi Kota Surabaya, baik secara langsung maupun tidak langsung, sebagai salah satu sub kegiatan pembangunan yang memfasilitasi keterlibatan berbagai aktor. Model konstruk KSH yang terbentuk menjelaskan kontribusi KSH terhadap pembangunan Kota Surabaya. KSH berpengaruh secara positif terhadap pertumbuhan ekonomi sektor informal, serta mendorong modal sosial dan menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kegiatan pembangunan. Selain itu, KSH juga turut mengubah citra dan kondisi lingkungan perkampungan, serta membantu memastikan keberlanjutan program pembangunan di masyarakat.
Penilaian Komponen Kota Berkelanjutan pada Kawasan Kota Lama Semarang Muqsit, Faruq Al; Kurniati, Rina
Jurnal Penataan Ruang Vol 19, No 1 (2024): Jurnal Penataan Ruang 2024
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v19i1.17376

Abstract

Perkembangan kota tidak pernah terlepas dari adanya masalah dan kompleksitas. Guna menghadapi masalah dan kompleksitas perkotaan, maka diperlukan suatu pendekatan yang relevan dengan kondisi perkotaan. Dalam hal ini konsep kota berkelanjutan dapat menjawab masalah dan kompleksitas perkotaan karena kota berkelanjutan dapat meningkatkan kondisi kota dengan pengembangan ekonomi, perlindungan lingkungan dan pengembangan sosial secara serentak. Kawasan Kota Lama Semarang merupakan salah satu wisata yang menjadi landmark Kota Semarang. Perkembangan wisata Kawasan Kota Lama Semarang harusnya memiliki pengembangan ekonomi, perlindungan lingkungan dan pengembangan sosial yang baik. Identifikasi konsep kota berkelanjutan dalam Kawasan kota Lama dapat membuat Kawasan menjadi terjaga nilainya dan dapat melestarikan keunikan yang ada. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dibuat kajian identifikasi penerapan konsep kota berkelanjutan. Dari kajian ini kemudian dapat dilihat kondisi Kawasan Kota Lama sehingga dapat dirumuskan rekomendasi bagi konsep kota berkelanjutan di Kawasan Kota Lama Semarang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik analisis deskriptif. Adapun data yang digunakan adalah data primer dan sekunder yang didapatkan dengan observasi lapangan dan telaah dokumen. Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan bahwa konsep kota berkelanjutan telah diterapkan dalam Kota Lama Semarang, terutama dalam berbagai variable dan konsep desain kota berkelanjutan. Namun konsep tersebut belum secara penuh diterapkan dalam elemen rancang kota yaitu pada variabel sirkulasi dan parkir serta variable aktivitas pendukung yang masih kurang dalam penerapan kota berkelanjutan.
Prioritas Penanganan Lemahnya Pengendalian Ruang dalam Mengatasi Perkembangan Permukiman terhadap Konurbasi di Kabupaten Sidoarjo Puspita, Anggi Dela Ayu; Pamungkas, Adjie
Jurnal Penataan Ruang Vol 19 (2024): Special Edition: Jurnal Penataan Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v19i0.21065

Abstract

Kabupaten Sidoarjo merupakan salah satu kabupaten yang menerima dampak dari perkembangan Kota Surabaya yang ditandai dengan pembangunan ring pada jalan arteri utama sehingga berdampak signifikan pada perumahan dan permukiman. Penggunaan lahan pemukiman di Sidoarjo meningkat sebesar 7,63% per tahun pada rentang waktu tahun 1994 hingga 2012. Pertumbuhan pemukiman yang dramatis di Sidoarjo menunjukkan kelemahan dalam pengendalian pemanfaatan ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prioritas penanganan lemahnya pengendalian ruang dalam mengatasi perkembangan permukiman terhadap konurbasi di Kabupaten Sidoarjo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif berupa content analysis dengan alat bantu NVIVO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian ruang yang lemah berkontribusi terhadap perkembangan konurbasi di Kabupaten Sidoarjo. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa factor prioritas meliputi: 1) Penegakkan Hukum: Tema ini mencakup actor penegakkan, sosialisasi, dan pelaporan pelanggaran. Ini memiliki frekuensi tertinggi (120) dan porsi terbesar (0.68). Ini merupakan tema paling mendesak dengan frekuensi dan kekuatan tertinggi; dan 2) Perizinan: Tema ini membahas dasar hukum, actor perizinan, dan penilaian KKPR. Ini memiliki frekuensi kedua tertinggi (70) dan rasio berat 0.39. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka perlunya prioritas penanganan. Prioritas penanganan lemahnya pengendalian ruang mencakup hal-hal di bawah ini: Penegakkan Hukum meliputi 1) Aktor penegakkan berupa tidak adanya pembentukkan tim terpadu penegak RTRW, tidak jelasnya lingkup tugas Satpol PP dan DP2CKTR dalam penegakkan RTRW, PPNS tata ruang tidak independent; 2) Sosialisasi: kurang tersosialisasinya ke masyarakat terkait pelanggaran tanah kavling yang dibangun pada zona tidak sesuai; 3) Pelaporan Pelanggaran: sebagian masyarakat belum mengetahui ada media yang memudahkan masyarakat dalam melakukan pelaporan pelanggaran, saat ini pelaporan masih bernjenjang dari desa/kelurahan-kecamatan-Kabupaten. Perizinan meliputi 1) Dasar hukum: hilangnya kawasan pengendalian ketat yang diatur oleh Provinsi; 2) Aktor perizinan: Terdapat oknum yang kurang profresional terkait legalisasi perizinan permukiman: 3) Penilaian KKPR: Tidak ada standar jelas terkait ketetentuan jenis KKPR yang bisa dimasukkan dalam kategori FPR dan FPR sebagai forum diskusi OPD tidak berjalan maksimal karena Keputusan tetap berada di wewenang tertinggi, minimnya partisipasi aktor lokal dalam mempertimbangkan penilaian KKPR
Strategi Percepatan Pengentasan Kemiskinan di Kabupaten Tuban melalui Sinergitas Program dan Kolaborasi Multi Stakeholder Yuliani, Yuliani; Santoso, Eko Budi
Jurnal Penataan Ruang Vol 19, No 1 (2024): Jurnal Penataan Ruang 2024
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v19i1.20170

Abstract

Kemiskinan merupakan persoalan kompleks yang dihadapi hampir seluruh wilayah di Indonesia. Presentase kemiskinan di Kabupaten Tuban berada pada peringkat lima tertinggi di Jawa Timur sebesar 14,91% atau sebanyak 177.250 jiwa pada tahun 2023. Berbagai program penanganan kemiskinan telah diupayakan, namun masih belum optimal dan belum spesifik menyasar masyarakat miskin. Permasalahan efektivitas program dikarenakan kurangnya sinergitas dan integrasi program antarstakeholder. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi sinergitas program dan kolaborasi multi stakeholder untuk percepatan pengentasan kemiskinan di Kabupaten Tuban. Metode eksploratori digunakan dalam penelitian ini melalui analisis stakeholder, Critical Success Factor (CSF) dan Social Network Analysis (SNA). Analisis yang dilakukan berdasarkan hasil wawancara kepada stakeholder terkait. Analisis stakeholder berguna untuk mengidentifikasi tingkat kepentingan dan pengaruh stakeholder, yang hasilnya mengelompokkan stakeholder menjadi empat kategori, yaitu players, subjects, context setters, dan crowd. Sedangkan analisis CSF dan SNA dilakukan untuk memetakan kondisi kolaborasi pengentasan kemiskinan di Kabupaten Tuban. Implementasi kolaborasi stakeholder dalam upaya pengetasan kemiskinan menggunakan pendekatan kolaborasi hexahelix yang terdiri dari unsur pemerintah, akademisi, perusahaan, organisasi non pemerintah, media, dan masyarakat. Implementasi kolaborasi program pengentasan kemiskinan berfokus pada lima faktor, yaitu penyediaan basis data terpadu kemiskinan, pengurangan beban pengeluaran masyarakat, peningkatan pendapatan masyarakat, penurunan kantong-kantong kemiskinan, dan stabilisasi harga.
Pengembangan Kawasan Minapolitan Berkelanjutan Kecamatan Puger Adiningsih, Teeusa Cahyani; Hasanuddin, Akhmad; Alfiah, Rindang
Jurnal Penataan Ruang Vol 18, No 2 (2023): Jurnal Penataan Ruang 2023
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v18i2.16724

Abstract

Kawasan Minapolitan merupakan suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi pengolahan, pemasaran komoditas perikanan, pelayanan jasa, dan/atau kegiatan pendukung lainnya. Kabupaten Jember terkenal akan adanya laut Kabupaten Jember yang tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun 2011 – 2031 terkait arahan pengembangan kawasan perikanan, diarahkan menjadi salah satu wilayah pengembangan kawasan minapolitan perikanan tangkap yaitu di kawasan Puger. Kecamatan Puger berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Jember Tahun 2015 – 2035, Kecamatan Puger merupakan kawasan strategis kabupaten sebagai kepentingan pertumbuhan ekonomi dengan menetapkan Kecamatan Puger sebagai pengembangan kawasan minapolitan. Maka dari itu  dalam penelitian ini membahas mengenai kawasan minapolitan berkelanjutan di Kecamatan Puger, akan tetapi kawasan minapolitan berkelanjutan Kecamatan Puger terdapat permasalahan dalam upaya pengembangan, seperti pemanfaatan sumber daya alam perikanan yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting dari kawasan minapolitan berkelanjutan berdasarkan lima dimensi (ekologi, ekonomi, sosial, infrastruktur dan kelembagaan) serta mengetahui nilai berkelanjutan di Kawasan Minapolitan Kecamatan Puger dan prioritas utama dalam pengembangan kawasan minapolitan berkelanjutan Kecamatan Puger. Terdapat tiga metode analisis yaitu yang pertama menggunakan analisis skoring untuk memberikan gambaran umum dari kawasan minapolitan Kecamatan Puger dari hasil observasi, wawancara. Metode analisis kedua yaitu dengan metode kuantitatif berupa AHP Analythic Hierarchy Process (AHP), untuk mengetahui prioritas utama dari setiap variabel yang diuji. Metode analisis ketiga yaitu SWOT, untuk mengetahui strategi pengembangan dari hasil analisis deskriptif dan analisis AHP. Dengan adanya penelitian ini bahwa Kawasan Minapolitan Berkelanjutan Kecamatan Puger sudah memadai selain itu, terdapat empat strategi pengembangan dari hasil analisis AHP dan SWOT yaitu pada variabel ekonomi dan ekologi yang belum sepenuhnya berkembang.
Identifikasi Pola Mobilitas pada Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Maharani, Kandi; Nurlaela, Siti; Navitas, Prananda
Jurnal Penataan Ruang Vol 19 (2024): Special Edition: Jurnal Penataan Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v19i0.21067

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola mobilitas pada kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam rangka mendukung pencapaian sebagai eco campus. Melalui survei primer dengan wawancara dan penyebaran kuesioner daring sebanyak 143 responden, data terkait penggunaan moda transportasi, waktu tempuh, dan perilaku berkendara dianalisis. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas warga kampus menggunakan sepeda motor sebagai moda transportasi utama karena kenyamanan dan fleksibilitasnya, salah satunya disebabkan infrastruktur pejalan kaki dan pesepeda masih kurang memadai. Untuk mencapai mobilitas kampus yang berkelanjutan, diperlukan peningkatan fasilitas pendukung bagi moda transportasi aktif dan integrasi yang lebih baik antar moda transportasi di kampus. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan profil eksisting pola mobilitas civitas akademi kampus ITS.
Optimal Location Determination For Boarding House Development In The Buffer Area Of The Sepuluh Nopember Institute Of Technology Billah, Al Baqi; Q Y, Arsha Kusumandaru; W D S, Rivan Aji; I, Naila Hafizhah; F, Hilmy
Jurnal Penataan Ruang Vol 19, No 1 (2024): Jurnal Penataan Ruang 2024
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v19i1.19242

Abstract

The limited availability and consequent high cost of land have driven urban development to focus on vertical structures, such as student boarding houses. The selection of locations for these boarding houses is crucial, as it involves numerous subjective criteria. Public participation is vital in understanding preferences and ensuring the optimal choice of settlements. Moreover, stakeholders can use this information to enhance planning efforts for areas with high potential for boarding house development, significantly impacting urban infrastructure. Sepuluh Nopember Institute of Technology (ITS) significantly influences the growth of vertical buildings, including apartments and boarding houses in its surrounding areas. This study analyzes the optimal locations for boarding houses development in the ITS buffer zone using multi-criteria decision analysis. By adopting a bottom-up approach that incorporates student preferences, the study evaluates importance score and values from variables such as proximity to the campus center, supermarkets, food vendors, accessibility, and land price range. The findings indicate that Gebang Putih, Kejawan Tambak, and Upper Keputih are the most suitable locations for boarding houses development.
Strategi Pengembangan Community Based Tourism Berdasarkan Peran Stakeholder Masyarakat (Studi Kasus: Kawasan Wisata Peneleh Kota Surabaya) Widya, Khafizh Salsabila; Santoso, Eko Budi
Jurnal Penataan Ruang Vol 19 (2024): Special Edition: Jurnal Penataan Ruang
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v19i0.20846

Abstract

Kelurahan Peneleh, yang terletak di pusat Kota Surabaya, mempunyai daya tarik wisata berupa peninggalan sejarah. Dinamika perkembangan pariwisata telah terjadi di kampung ini yang ditunjukkan melalui peningkatan jumlah kunjungan wisatawan secara bertahap setelah mengalami penurunan signifikan akibat pandemi Covid-19. Dalam mendukung pengelolaan pariwisata oleh warga Peneleh, telah terdapat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang menjadi modal utama perwujudan Community Based Tourism (CBT). CBT merupakan pariwisata yang melibatkan partisipasi aktif dan keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan kegiatan pariwisata. Permasalahan ditemukan masih lemahnya keberadaan Pokdarwis serta rendahnya partisipasi warga lokal dimana dapat mengancam eksistensi Peneleh kedepannya. Dalam menjaga eksistensinya, ketahanan masyarakat sebagai pelaku industri pariwisata dibutuhkan untuk beradaptasi, pulih, dan bertahan dari dinamika pariwisata yang terjadi seperti pandemi dan modernisasi perkotaan. Adapun, masyarakat sebagai stakeholder yang berperan dalam pengembangan pariwisata, memiliki pengaruh dan kepentingannya masing-masing. Guna mendukung pariwisata berkelanjutan, perlu mengetahui kondisi keduanya (ketahanan serta peran masyarakat) sebagai dasar dalam merumuskan strategi pengembangan CBT. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memformulasikan strategi peningkatan ketahanan masyarakat ketika menghadapi situasi unpredictable yang mengancam eksistensi Peneleh sesuai dengan peran stakeholder masyarakat dalam pengembangan pariwisata. Data penelitian diperoleh melalui studi literatur, observasi non partisipan, dan wawancara mendalam kepada responden masyarakat melalui teknik snowballing dan purposive sampling. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik skoring statistik dan content analysis. Pokdarwis merupakan stakeholder yang paling berkepentingan dan berpengaruh serta berperan sebagai konseptor, regulator, fasilitator, implementer, koordinator, dan akselerator. Ketahanan ekonomi paling rendah, begitu juga dengan ketahanan sosial dan kelembagaan yang ketiganya di bawah rata-rata ketahanan keseluruhan. Dengan demikian, perumusan strategi difokuskan untuk meningkatkan ketiga aspek tersebut, yakni terkait dengan: pembentukan komunitas bisnis, pembangunan balai kreatif dan koperasi pariwisata, pengadaan lokakarya kreatif, serta pengaturan monitoring dan evaluasi partisipatif.
Strategi Penyediaan Lahan Pemakaman Perkotaan: Studi Kasus Kota Probolinggo Merdekawati, Ihsani; Kurniawan, Meirli; Cahyaningati, Soby Eko
Jurnal Penataan Ruang Vol 19, No 1 (2024): Jurnal Penataan Ruang 2024
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2716179X.v19i1.19362

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk perkotaan dan perkembangan yang pesat di Kawasan Perkotaan menyebabkan peningkatan kebutuhan prasarana dan sarana dasar perkotaan termasuk lahan pemakaman. Terutama sejak adanya pandemi covid-19 dimana terjadi peningkatan jumlah kematian penduduk di Kawasan Perkotaan dan menyebabkan kebutuhan akan lahan pemakaman meningkat dan adanya penolakan dari beberapa warga asli sekitar makam terhadap jenazah yang bukan berasal dari Wilayah tersebut atau yang berasal dari perumahan baru yang berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya tampung lahan pemakaman di Kota Probolinggo hingga 10 (sepuluh) tahun mendatang dan strategi penyediaan lahan pemakamannya. Analisis daya tampung lahan pemakaman dilakukan untuk membandingkan antara ketersediaan lahan pemakaman yang tersisa dengan kebutuhannya dan triangulasi data untuk mendapatkan strategi penyediaan lahan pemakaman yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Kota Probolinggo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tampung lahan pemakaman masih mencukupi hingga tahun 2030. Akan tetapi, defisit/kekurangan lahan pemakaman diprediksi akan mulai terjadi di Kelurahan Triwung Lor, Jati dan Sukoharjo pada 2 tahun mendatang. Sedangkan untuk Wilayah Kecamatan, defisit lahan pemakaman diprediksi akan terjadi pada Kecamatan Kanigaran tahun 2028. Strategi Lahan pemakaman yang dapat dilakukan Pemerintah Kota Probolinggo, antara lain Penambahan luasan lahan pemakaman; Koordinasi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, ketua RT, dan juru kunci untuk meminimalisir konflik; Perubahan Peraturan Daerah Kota Probolinggo dan Peraturan Wali Kota Probolinggo dengan mangacu pada Peraturan diatasnya yang mengatur mengenai penyediaan lahan pemakaman bagi pengembang; dan Penampungan satu rekening dana kompensasi pembelian lahan makam oleh pengembang sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya.