cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 393 Documents
Pelvic Floor Ultrasound for the Evaluation of Urethral Mobility in Women with Stress Urinary Incontinence: A Literature Review Utari, Sania; Fakhrizal, Edy
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.1006

Abstract

Introduction: Stress urinary incontinence (SUI) is the most common urinary incontinence in women, mainly associated with urethral hypermobility and reduced intrinsic sphincter function. Transperineal pelvic floor ultrasound (PFU) is a minimally invasive, low-cost imaging method that quantifies urethral mobility through bladder neck descent (BND), urethral rotation angle (URA), and retrovesical angle (RVA).Objectives: To summarize available evidence on PFU diagnostic performance and its potential clinical role in identifying urethral hypermobility in women with SUI.Methods: This literature review focuses on transperineal PFU as a noninvasive approach to assess urethral hypermobility, primarily using BND, URA, and RVA measurements.Results: Multiple studies report PFU provides reproducible measurements with acceptable sensitivity and specificity for diagnosing SUI. Although cutoff values for URA and RVA vary depending on study quality and methodology, these parameters consistently serve as key indicators of urethral hypermobility. Compared with standard invasive techniques, PFU improves patient comfort, offers real-time dynamic visualization, and allows greater clinical flexibility.Conclusion: PFU is a promising adjunct for diagnosing passive urethral hypermobility and may reduce reliance on invasive tests while maintaining accuracy. Larger studies are needed to standardize protocols and validate cutoff values across diverse populations. AbstrakPendahuluan: Stress urinary incontinence (SUI) merupakan jenis inkontinensia urin yang paling sering pada perempuan, terutama berkaitan dengan hipermobilitas uretra dan penurunan fungsi sfingter intrinsik. Ultrasonografi dasar panggul (PFU) transperineal adalah metode pencitraan yang minim invasif dan berbiaya rendah untuk menilai mobilitas uretra secara kuantitatif melalui penurunan leher kandung kemih (BND), sudut rotasi uretra (URA), dan sudut retrovesikal (RVA).Tujuan: Merangkum bukti yang tersedia mengenai kinerja diagnostik PFU serta potensi perannya dalam praktik klinis untuk mengidentifikasi hipermobilitas uretra pada perempuan dengan SUI.Metode: Tinjauan pustaka ini berfokus pada PFU transperineal sebagai metode noninvasif untuk menilai hipermobilitas uretra, dengan parameter utama berupa BND, URA, dan RVA.Hasil: Berbagai studi melaporkan bahwa PFU menghasilkan pengukuran yang reprodusibel dengan sensitivitas dan spesifisitas yang dapat diterima untuk diagnosis SUI. Meskipun nilai ambang URA dan RVA bervariasi bergantung pada kualitas dan metodologi studi, kedua parameter tersebut secara konsisten menjadi indikator penting hipermobilitas uretra. Dibandingkan teknik invasif standar, PFU meningkatkan kenyamanan pasien, menyediakan visualisasi dinamis secara real-time, dan menawarkan fleksibilitas klinis yang lebih tinggi.Kesimpulan: PFU merupakan pemeriksaan tambahan yang menjanjikan untuk mendiagnosis hipermobilitas uretra pasif dan berpotensi mengurangi ketergantungan pada tes invasif tanpa menurunkan akurasi. Namun, diperlukan studi berskala lebih besar untuk menstandardisasi protokol dan memvalidasi nilai ambang pada berbagai populasi. 
Comparison of Quality of Life and Sexual Function between Pelvic Organ Prolapse Patients Using Pessary and Surgical Intervention Nurtanio, Setyawan; Sasotya, RM Sonny; Sukarsa, M. Rizkar Aref; Achmad, Eppy Darmadi; Rinaldi, Andi; Ma'soem, Aria Prasetya; Praharsini, Kania
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.1035

Abstract

Objective: This study aims to compare the improvement in QoL (measured by PFDI-20) and sexual function (measured by FSFI) in POP patients (stage II-IV) treated with either surgical intervention or pessary insertion.Methods: The study employed a quasi-experimental pre–posttest design involving 60 patients with stage II–IV pelvic organ prolapse (POP), consisting of 30 patients in the surgical group and 30 patients in the pessary group, conducted at two tertiary referral hospitals in Bandung. Quality of life and sexual function were assessed using the Pelvic Floor Distress Inventory-20 (PFDI-20) and the Female Sexual Function Index (FSFI) before and three months after the intervention. Statistical analyses included paired t-tests to evaluate within-group changes before and after the intervention and independent t-tests to compare post-intervention outcomes between the two groups.Results: The results demonstrated that both the surgical group and the pessary group showed significant improvements in quality of life and sexual function (p<0.001). In the surgical group, the FSFI score increased from 16.46 ± 6.88 to 27.68 ± 3.17, surpassing the threshold for normal sexual function, while the PFDI-20 score decreased from 114.34 ± 57.44 to 14.93 ± 7.37. The pessary group also showed significant improvement, with the FSFI score increasing from 18.69 ± 4.76 to 24.80 ± 3.83 and the PFDI-20 score decreasing from 130.24 ± 48.80 to 36.98 ± 21.37. Post-intervention comparative analysis showed statistically better outcomes in the surgical group for both the FSFI score (p=0.002) and the PFDI-20 score (p<0.001).Conclusion: Both surgical and pessary interventions are effective in improving the quality of life and sexual function in women with pelvic organ prolapse. Surgical intervention, however, offers superior and lasting outcomes. Pessary usage remains an important non-surgical option for patients seeking conservative management. AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan membandingkan perubahan kualitas hidup dan fungsi seksual pada pasien POP stadium II–IV yang menjalani terapi bedah dan penggunaan pessarium.Metode: Metode penelitian yang digunakan yaitu kuasi-eksperimental dengan desain pre–posttest yang dilakukan pada 60 pasien POP stadium II–IV, terdiri atas 30 pasien kelompok bedah dan 30 pasien kelompok pessarium, di dua rumah sakit rujukan tersier di Bandung. Penilaian kualitas hidup dan fungsi seksual dilakukan menggunakan kuesioner Pelvic Floor Distress Inventory-20 (PFDI-20) dan Female Sexual Function Index (FSFI) sebelum dan tiga bulan setelah intervensi. Analisis statistik menggunakan uji t berpasangan untuk menilai perubahan sebelum dan sesudah intervensi pada tiap-tiap kelompok serta uji t tidak berpasangan untuk membandingkan luaran pascaintervensi antar kelompok.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok dengan terapi bedah dan kelompok dengan pessarium menunjukkan peningkatan bermakna pada kualitas hidup dan fungsi seksual (p<0,001). Pada kelompok bedah, skor FSFI meningkat dari 16,46 ± 6,88 menjadi 27,68 ± 3,17, melewati ambang fungsi seksual normal, sedangkan skor PFDI-20 menurun dari 114,34 ± 57,44 menjadi 14,93 ± 7,37. Kelompok pessarium juga menunjukkan perbaikan yang bermakna, dengan peningkatan skor FSFI dari 18,69 ± 4,76 menjadi 24,80 ± 3,83 dan penurunan skor PFDI-20 dari 130,24 ± 48,80 menjadi 36,98 ± 21,37. Analisis perbandingan pascaintervensi menunjukkan hasil yang secara statistik lebih baik pada kelompok bedah baik untuk skor FSFI (p=0,002) maupun PFDI-20 (p<0,001).Kesimpulan:Terapi bedah dan penggunaan pessarium secara bermakna meningkatkan kualitas hidup dan fungsi seksual pada pasien prolaps organ panggul. Terapi bedah memberikan perbaikan yang lebih besar dan lebih menyeluruh, sedangkan penggunaan pessarium tetap merupakan pilihan nonbedah yang efektif dan aman pada pasien terpilih. 
The Association Between Obesity and Endometriosis: A Case-Control Study at Margono Soekarjo Hospital Rizal, Rivaldi; Sumawan, Herman; Erfiandi, Febia
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.1076

Abstract

Objective: To investigate the association between obesity and the risk of endometriosis.Methods: A retrospective case-control study was conducted at Prof. Dr. Margono Soekarjo General Hospital from January 2022 to May 2024. Cases were defined as patients with suspected endometriosis that was histopathologically confirmed, while controls were patients with suspected endometriosis who had negative histopathology results. Body mass index (BMI) was calculated using the Asia-Pacific classification. Data were analyzed using chi-square tests and multivariate logistic regression to estimate odds ratios (ORs) with 95% confidence intervals (CIs).Results: A total of 100 participants were included, with 50 cases and 50 controls. Obesity was more prevalent among women with endometriosis (54%) compared to the control group (26%). Bivariate analysis revealed a significant association between obesity and endometriosis (OR = 3.34; 95% CI: 1.44–7.75; p = 0.004). Multivariate logistic regression confirmed that obesity remained significantly associated with endometriosis after adjusting for age and parity (adjusted OR = 1.66; 95% CI: 1.36–7.24; p = 0.042).Conclusion: Obesity is strongly linked to a higher risk of endometriosis. These findings indicate that metabolic factors, especially obesity, could play a role in the development of the disease. AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan menginvestigasi asosiasi antara obesitas dan kejadian endometriosis.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus-kontrol retrospektif yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo pada periode Januari 2022 hingga Mei 2024. Kelompok kasus didefinisikan sebagai pasien dengan dugaan endometriosis yang terkonfirmasi melalui pemeriksaan histopatologi, sedangkan kelompok kontrol merupakan pasien dengan dugaan endometriosis namun dengan hasil histopatologi negatif. Indeks massa tubuh (IMT) dihitung menggunakan klasifikasi Asia-Pasifik. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik multivariat untuk menghitung odds ratio (OR) dengan interval kepercayaan 95%.Hasil: Sebanyak 100 subjek dilibatkan dalam penelitian ini, terdiri atas 50 kasus dan 50 kontrol. Obesitas lebih banyak ditemukan pada wanita dengan endometriosis (54%) dibandingkan dengan kelompok kontrol (26%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara obesitas dan kejadian endometriosis (OR = 3,34; IK 95%: 1,44–7,75; p = 0.004). Analisis regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa obesitas tetap berhubungan secara signifikan dengan endometriosis setelah dilakukan penyesuaian terhadap usia dan paritas (adjusted OR = 1,66; IK 95%: 1,36–7,24; p = 0.042).Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara obesitas dengan kejadian endometriosis. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor metabolik seperti obesitas dapat berkontribusi terhadap perkembangan endometriosis.Kata kunci: Asosiasi; endometriosis; indeks massa tubuh; kasus kontrol; obesitas 
Precision Chromosomal Surgery before Birth: Allele-Specific CRISPR-Cas9 Editing for Trisomy 21 in Perinatal Medicine Sanjaya, I Nyoman Hariyasa; Andonotopo, Wiku; Bachnas, Muhammad Adrianes; Prabowo, Wisnu; Yuliantara, Eric Edwin; Lukas, Efendi; Dewantiningrum, Julian; Pramono, Mochammad Besari Adi; Wiradnyana, Anak Agung Gede Putra; Mulyana, Ryan Saktika; Kusuma, Anak Agung Ngurah Jaya; Pangkahila, Evert Solomon; Gumilar, Khanisyah Erza; Darmawan, Ernawati; Akbar, Muhammad Ilham Aldika; Yeni, Cut Meurah; Aldiansyah, Dudy; Bernolian, Nuswil; Pribadi, Adhi; Anwar, Anita Deborah; Suryawan, Aloysius; Putra, Ridwan Abdullah; Gondo, Harry Kurniawan; Nugraha, Laksmana Adi Krista; Andanaputra, Waskita Ekamaheswara Kasumba; Dharma, Wibisana Andika Krista; Djanas, Dovy; Stanojevic, Milan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.965

Abstract

Objective: Trisomy 21 remains the most common live-born aneuploidy and a major contributor to perinatal morbidity. Although prenatal screening, particularly non-invasive prenatal testing (NIPT), has advanced substantially, clinical management offers no corrective options. Emerging allele-specific genome-editing approaches propose targeted removal or silencing of the extra chromosome 21. This review summarizes current evidence and evaluates the translational relevance of these technologies in perinatal medicine.Methods: A narrative review was conducted following PRISMA-aligned procedures. A structured search of PubMed, Scopus, and Web of Science (January 2000–July 2025) identified 1,242 records. After duplicate removal, title/abstract screening, and full-text assessment based on predefined inclusion criteria, 54 studies met eligibility requirements. Data were synthesized across four domains: mechanistic strategies, developmental applicability, translational feasibility, and ethical–regulatory considerations.Results: Allele-specific CRISPR-Cas9 studies demonstrated selective cleavage of the supernumerary chromosome 21 in cellular models, with partial restoration of near-euploid transcriptional patterns. Additional approaches—XIST-mediated silencing and centromere destabilization—provided alternative mechanisms with varying stability and specificity. Evidence remains limited to in vitro systems, with no validated embryo or fetal applications. Key challenges include mosaicism, delivery barriers, individualized SNP targeting, and ethical governance.Conclusions: Allele-specific chromosome editing represents a promising but still experimental direction for future perinatal therapeutics. Current findings justify continued multidisciplinary investigation while emphasizing cautious interpretation and rigorous ethical oversight prior to any clinical translation. Abstrak Tujuan: Trisomi 21 tetap menjadi aneuploidi yang paling sering ditemukan pada kelahiran hidup dan merupakan kontributor utama terhadap morbiditas perinatal. Meskipun skrining prenatal—khususnya non-invasive prenatal testing (NIPT)—telah mengalami kemajuan yang signifikan, penatalaksanaan klinis hingga kini belum menawarkan opsi korektif. Pendekatan pengeditan genom spesifik alel yang mulai berkembang mengusulkan penghilangan atau penghambatan terarah terhadap salinan ekstra kromosom 21. Tinjauan ini merangkum bukti terkini serta mengevaluasi relevansi translasional teknologi tersebut dalam kedokteran perinatal.Metode: Tinjauan naratif dilakukan dengan mengikuti prosedur yang selaras dengan PRISMA. Pencarian terstruktur terhadap PubMed, Scopus, dan Web of Science (Januari 2000–Juli 2025) mengidentifikasi 1.242 rekaman. Setelah penghapusan duplikasi, penyaringan judul/abstrak, dan penilaian teks lengkap berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditentukan, sebanyak 54 studi memenuhi persyaratan kelayakan. Data disintesis ke dalam empat domain: strategi mekanistik, aplikabilitas perkembangan, kelayakan translasional, serta pertimbangan etika dan regulasi.Hasil: Studi CRISPR-Cas9 spesifik alel menunjukkan pemotongan selektif terhadap kromosom 21 supernumerari pada model seluler, dengan pemulihan parsial pola transkripsi menuju profil ekspresi gen yang menyerupai kondisi euploid. Pendekatan lain—seperti penghambatan berbasis XIST dan destabilisasi sentromer—menyediakan mekanisme alternatif dengan tingkat kestabilan dan spesifisitas yang bervariasi. Bukti saat ini terbatas pada sistem in vitro, tanpa aplikasi yang tervalidasi pada embrio maupun janin. Tantangan utama meliputi mosaikisme, hambatan pengantaran, kebutuhan penargetan SNP individual, serta tata kelola etis.Kesimpulan: Pengeditan kromosom spesifik alel merupakan arah yang menjanjikan, namun masih bersifat eksperimental bagi terapi perinatal di masa mendatang. Temuan saat ini mendukung keberlanjutan penelitian multidisipliner, sekaligus menekankan perlunya interpretasi yang hati-hati dan pengawasan etika yang ketat sebelum penerapannya dalam praktik klinis.Kata Kunci: Bedah genom janin; CRISPR-Cas9; Penyuntingan gen perinatal; Terapi kromosom; Trisomi 21
Outcomes of Total Laparoscopic Hysterectomy Versus Total Abdominal Hysterectomy with Bilateral Salpingo-Oophorectomy in Endometrial Carcinoma Wibowo, Viko Duvadilan; Erfiandi, Febia; Bayuaji, Hartanto
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.1019

Abstract

Objective: Management of endometrial carcinoma may involve total hysterectomy with bilateral salpingo-oophorectomy (TH-BSO), performed either laparoscopically or via laparotomy. This evaluation is crucial for assessing recovery and determining appropriate follow-up care in patients with endometrial cancer based on the ECOG Performance Status.Methods: This retrospective cohort study examined data from patients who underwent THBSO at Dr. Hasan Sadikin Hospital in 2024. The primary outcome measured was ECOG performance status at one month and six months post-surgery. The analysis was conducted using the Mann-Whitney U test to compare ECOG scores between the laparoscopic and laparotomy groups. Result: Of the 47 patients (28 laparotomies and 19 laparoscopies), the Mann-Whitney U test results for the ECOG score one month postoperatively showed no significant difference between patients who underwent THBSO with laparoscopic and laparotomy techniques (p = 0.921). However, the results of the 6-month postoperative ECOG score test indicated a significant difference between the two groups (p = 0.026), with better outcomes in the laparoscopic group. Conclusion: ECOG performance status after laparoscopy in endometrial cancer cases was better than after laparotomy. AbstrakTujuan: Penatalaksanaan karsinoma endometrium dapat dilakukan dengan histerektomi total disertai salpingo-ooforektomi bilateral, yang dilakukan baik secara laparoskopi maupun melalui laparotomi. Penilaian ini penting untuk mengevaluasi proses pemulihan dan menentukan tata laksana tindak lanjut yang tepat pada pasien kanker endometrium berdasarkan ECOG Performance Status.Metode: Studi kohort retrospektif ini menganalisis data pasien yang menjalani HTSOB di RSUP Dr. Hasan Sadikin pada tahun 2024. Luaran utama yang dinilai adalah ECOG performance status satu bulan dan enam bulan postoperatif. Analisis dilakukan menggunakan uji Mann-Whitney U untuk membandingkan skor ECOG antara kelompok laparoskopi dan laparotomi.Hasil: Dari 47 pasien (28 laparotomi dan 19 laparoskopi), hasil uji Mann-Whitney U terhadap skor ECOG satu bulan postoperatif menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara pasien yang menjalani HTSOB dengan teknik laparoskopi dan laparotomi (p = 0.921). Sedangkan hasil uji skor ECOG 6 bulan postoperatif menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok (p = 0.026), dengan hasil lebih baik pada kelompok laparoskopi.Kesimpulan: ECOG performance status pasca laparoskopi pada kasus kanker endometrium lebih baik daripada laparotomi. 
Comparison of Maternal and Neonatal Outcomes in Adolescent and Adult Pregnancies in West Java in 2024: A Retrospective Cross-Sectional Study Yulianti, Chiendo Irine; Tambunan, Lies Ani; Irianti, Setyorini
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.1057

Abstract

Objective: To identify differences in maternal and neonatal outcomes between adolescent pregnancy (ages 16 – 19 years) and adult pregnancy (ages 20 – 35 years) in West Java in 2024.Methods: A retrospective cross-sectional study analyzed 654 singleton pregnancies (adolescents: 16 – 19 years; adults: 20 – 35 years) at Dr. Hasan Sadikin and Cibabat General Hospitals from January to December 2024. Data were analyzed using Chi-square, Fisher’s exact, and Mann-Whitney U tests.Results: Compared to adults, adolescents showed higher rates of preterm delivery (54.5% vs. 49.8%), premature rupture of membranes (30.3% vs. 14.0%), and unintended pregnancies (12.12% vs. 0.64%). Placental abnormalities were observed in 48.9% of adults, compared with 0% of adolescents (p=0.004). No significant differences in neonatal outcomes were found in birth weight (p=0.674), length (p=0.738), APGAR score at 1 minute (p=0.051), and APGAR score at 5 minutes (p=0.137).Conclusion: Adolescent pregnancies have higher maternal complication risks but do not show significant differences in key neonatal outcomes compared to adults. AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan luaran maternal dan neonatal antara kehamilan remaja (usia 16 – 19 tahun) dan kehamilan dewasa (usia 20 - 35 tahun) di Jawa Barat pada tahun 2024.Metode: Metode penelitian ini adalah retrospective cross-sectional yang menganalisis 654 kehamilan tunggal (remaja: 16 – 19 tahun; dewasa: 20 – 35 tahun) di Rumah Sakit Umum Dr. Hasan Sadikin dan RSUD Cibabat, Bandung, pada periode Januari–Desember 2024. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square, Fisher’s exact, dan Mann–Whitney.Hasil: Remaja memiliki insiden lebih tinggi untuk preterm delivery (54,5% vs. 49,8%), premature rupture of membranes (30,3% vs. 14,0%), dan unintended pregnancy (12,12% vs. 0,64%). Kelainan plasenta ditemukan pada 48,9% dewasa vs. 0% remaja (p=0,004). Tidak ada perbedaan signifikan pada luaran neonatal: berat lahir (p=0,674), panjang badan (p=0,738), APGAR 1 menit (p=0,051), APGAR 5 menit (p=0,137).Simpulan: Kehamilan remaja memiliki risiko komplikasi maternal lebih tinggi tetapi tidak berbeda signifikan pada hasil neonatal utama dibandingkan kehamilan dewasa. 
OSCS (One Step Conservative Surgery) vs MOSCUS (Modified One Step Conservative Uterine Surgery) for Placenta Accreta Spectrum (PAS) Surgery, Which One Is More Preferred? A Literature Review Anakita, Cantika; Simanjuntak, Arya Marganda; S., Donel; Noviardi, Noviardi; Razali, Renardy Reza
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.898

Abstract

Introduction: Placenta Accreta Spectrum (PAS) is a severe obstetric complication causing hemorrhage, maternal morbidity, and mortality. Two widely adopted approaches to treatment are OSCS and MOSCUS. This literature review compares OSCS and MOSCUS to provide evidence-based insights for optimizing PAS treatment.Objective: This study aims to compare the preferred conservative uterine surgical approaches in the management of Placenta Accreta Spectrum (PAS).Methods: A literature review was undertaken following the scale assessment of narrative review articles (SANRA). We utilized various databases to evaluate current evidence for OSCS and MOSCUS in treating PAS. Relevant articles were reviewed to perform a comparative analysis between OSCS and MOSCUS in order to address the objective.Result: The key difference between OSCS and MOSCUS lies in bleeding control by optimal uterine reconstruction with transverse b-lynch suture and selective vascular ligation. While OSCS is ideal for simpler cases due to its efficiency and practicality, MOSCUS is better suited for complex PAS cases, offering reduced complications and improved outcomes.Conclusion: MOSCUS may be preferable to OSCS in terms of technique with optimal uterine reconstruction by adding several techniques to potentially preserve the uterus. More comparative research between the two required to evaluate the results prospectively. AbstrakPendahuluan: Placenta Accreta Spectrum (PAS) merupakan komplikasi obstetri berat yang menyebabkan perdarahan, morbiditas dan mortalitas ibu. Dua pendekatan yang banyak diadopsi adalah OSCS dan MOSCUS. Tinjauan literatur ini membandingkan OSCS dan MOSCUS untuk memberikan wawasan berbasis bukti untuk mengoptimalkan tatalaksana PASTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pilihan tindakan bedah uterus konservatif yang lebih disukai dalam penatalaksanaan Placenta Accreta Spectrum (PAS).Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinjauan literatur yang mengikuti penilaian kualitas SANRA. Kami menggunakan berbagai basis data untuk mengevaluasi bukti terkini OSCS dan MOSCUS dalam tatalaksana PAS. Artikel didiskusikan untuk membuat tinjauan yang komprehensif dan membuat analisis komparatif antara OSCS dan MOSCUS untuk menjawab tujuan penelitian.Hasil: Perbedaan antara OSCS dan MOSCUS bergantung pada kontrol perdarahan dengan rekonstruksi uterus yang optimal dengan jahitan b-lynch melintang dan ligasi pembuluh darah selektif. OSCS ideal untuk kasus-kasus yangKesimpulan: MOSCUS dapat menjadi pilihan dibandingkan dengan OSCS dalam hal teknik dengan rekonstruksi rahim yang optimal dengan menambahkan beberapa teknik yang berpotensi mempertahankan rahim. Penelitian komparatif lebih lanjut antara keduanya diperlukan untuk mengevaluasi hasilnya secara prospektif. 
Association between Maternal Body Mass Index and Neonatal Apgar Scores: A Multicenter Study Darajatun, Ryan Haryana; Aditiyono, Aditiyono; Aziz, Muhammad Alamsyah; Aladawiyah, Nurul Robiah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.1059

Abstract

Objective: To determine the association between maternal body mass index (BMI) and neonatal Apgar scores in two tertiary referral hospitals in Indonesia between 2023 and 2024.Methods: This cross-sectional study analyzed the medical records of 200 women who delivered at Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung, and Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital, Purwokerto, from August 2023 to July 2024. Participants were classified based on maternal BMI. The associations between BMI, mode of delivery, and Apgar scores were analyzed using chi-square tests and logistic regression.Results: Maternal BMI, mode of delivery, age, parity, gestational age, and comorbidities showed no significant association with Apgar scores (p > 0.05). Birth weight was the only significant predictor; infants with low birth weight were associated with Apgar scores <7 (OR 0.219; 95% CI: 0.118–0.407). Regarding mode of delivery, 69.2% of obese mothers underwent cesarean section compared to 52.3% of normoweight mothers. Obese mothers were significantly more likely to have a cesarean delivery, although this did not correlate with lower Apgar scores.Conclusion: Maternal obesity is associated with a higher chance of cesarean delivery but does not significantly affect neonatal Apgar scores. Infant birth weight remains the strongest predictor of Apgar scores in this group. AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asosiasi antara indeks massa tubuh (IMT) dan skor Apgar dengan obesitas pada kehamilan di Rumah Sakit Margono dan Rumah Sakit Hasan Sadikin selama tahun 2023 – 2024.Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Data diperoleh dari rekam medis 200 ibu bersalin periode Agustus 2023 – Juli 2024 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dan RS Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Subjek diklasifikasikan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Hubungan antara IMT dengan metode persalinan dan skor Apgar dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari seluruh variabel, hanya berat lahir bayi yang berpengaruh signifikan terhadap skor Apgar. Bayi dengan berat lahir rendah berisiko lebih tinggi mendapat skor Apgar rendah (p < 0,05) OR 0,219 (CI 95% 0,118–0,407). Tidak ditemukan hubungan signifikan antara IMT maupun metode persalinan dengan skor Apgar (p > 0,05). Persalinan seksio sesarea terjadi pada 52,3% ibu dengan IMT normoweight dan 69,2% pada kelompok obesitas. Kesimpulan: Obesitas pada ibu hamil meningkatkan risiko persalinan dengan seksio sesarea. Berat lahir bayi merupakan prediktor skor Apgar yang signifikan. 
Prenatal Diagnosis and Termination of Pregnancy for Alobar Holoprosencephaly with Cyclopia at 18 Weeks: A Case Report Aziz, Aryani; Abdul Salam, Uqbah
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.973

Abstract

Introduction: Holoprosencephaly is a rare brain malformation caused by the failure of the prosencephalon to divide into separate cerebral hemispheres. Alobar holoprosencephaly, the most severe form, presents with a monoventricle, lack of interhemispheric fissures, and craniofacial abnormalities such as hypotelorism and cyclopia. Early diagnosis and counseling are crucial for informed decision-making. This case highlights the ethical and diagnostic challenges involved in managing lethal fetal malformation. Case Report: A 32-year-old pregnant woman at 18 weeks’ gestation was referred to the fetomaternal clinic with a diagnosis of alobar holoprosencephaly, confirmed by ultrasound. The imaging revealed significant fetal malformations. After counseling, the patient chose to proceed with pregnancy termination. The patient underwent induction of labor without immediate complications. Psychological support and post-procedure counseling regarding the possibility of future pregnancies were provided in this case. Written informed consent was obtained from the patient for publication. Conclusion: This case report describes a 32-year-old female, 18 weeks pregnant, diagnosed with alobar holoprosencephaly via ultrasound, who chose to terminate her pregnancy after being counseled on the prognosis. Alobar holoprosencephaly has poor outcomes. Early ultrasound diagnosis and counseling provided the family with the information needed to make an informed decision about pregnancy termination. Multidisciplinary support, including psychological and counseling, is essential for patients and their families when facing complex clinical decisions. Abstrak Pendahuluan: Holoprosensefali adalah malformasi otak yang langka, disebabkan oleh kegagalan prosensefalon untuk membelah menjadi dua hemisfer otak yang terpisah. Alobar holoprosensefali merupakan bentuk paling berat, ditandai dengan adanya satu ventrikel, tidak adanya fisura interhemisferik, serta kelainan kraniofasial seperti hipotelorisme dan siklopia. Diagnosis dan konseling dini sangat penting untuk pengambilan keputusan yang tepat. Kasus ini menyoroti tantangan etis dan diagnostik dalam menangani malformasi janin yang mematikan.Laporan Kasus: Seorang wanita hamil berusia 32 tahun pada usia kehamilan 18 minggu yang dirujuk ke klinik fetomaternal dengan diagnosis alobar holoprosencephaly, yang dikonfirmasi melalui ultrasonografi. Pemeriksaan pencitraan menunjukkan kelainan janin yang signifikan. Setelah konseling, pasien memutuskan untuk melanjutkan dengan pengakhiran kehamilan. Pasien menjalani induksi persalinan tanpa komplikasi. Dukungan psikologis dan konseling pasca tindakan untuk kemungkinan kehamilan berikutnya diberikan pada kasus ini. Persetujuan tertulis untuk publikasi diperoleh dari pasien.Kesimpulan: Laporan kasus ini mempresentasikan kasus wanita 32 tahun hamil 18 minggu, didiagnosis dengan alobar holoprosencephaly melalui pemeriksaan ultrasonografi, dan memutuskan untuk menghentikan kehamilan setelah mendapatkan konseling mengenai prognosis kondisi tersebut. Alobar holoprosencephaly memiliki prognosis yang buruk. Diagnosis dini melalui ultrasound dan konseling memungkinkan keluarga untuk membuat keputusan yang tepat terkait terminasi kehamilan. Dukungan multidisiplin ilmu termasuk dukungan psikologis dan konseling, sangat penting bagi pasien dan keluarga dalam menghadapi keputusan klinis yang kompleks. 
Strategic Surgical Management of Complex Ovarian Masses During Second-Trimester Pregnancy: A Serial Case Report Homenta, Christian; Erfiandi, Febia; Mantilidewi, Kemala Isnainiasih
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.993

Abstract

Introduction: Ovarian masses are found in about 1.5% – 5.7% of pregnancies, with suspicion of malignancy in 1% – 6% of cases. Large or complex adnexal masses can increase the risk of torsion, rupture, or malignant transformation. This report aims to highlight the importance of personalized surgical management of ovarian masses during pregnancy, particularly emphasizing the benefits of second-trimester intervention, and to explore the research question: Can elective adnexal surgery during the second trimester improve maternal and fetal outcomes in high-risk pregnancies? Case Report: Two pregnant patients with adnexal masses were evaluated clinically and radiologically. Decision-making was based on gestational age, mass characteristics, and maternal-fetal considerations. Both underwent surgical management in the second trimester, with histopathological confirmation obtained. Case 1: A 37-year-old G5P3A1 at 16 weeks’ gestation presented with a multilocular cystic mass (25×12×8 cm) in the right ovary. Salpingo-oophorectomy at 19 weeks revealed a benign non-papillary cyst. Case 2: A 24-year-old G3P2A0 at 23 weeks’ gestation had a complex adnexal mass (20×20×15 cm). Partial oophorectomy revealed sebaceous material, hair, and cartilage. Histopathology confirmed a mature cystic teratoma. The pregnancy progressed uneventfully, culminating in spontaneous vaginal delivery at term.Conclusion: This case report emphasizes the importance of prompt surgical intervention during the second trimester of pregnancy. It offers unique insights into the strategic management of complex ovarian masses, contributing valuable information to the limited literature and guiding clinical decision-making in similar cases. Abstrak Pendahuluan: Massa ovarium ditemukan pada sekira 1,5% – 5,7% kehamilan, dengan kecurigaan keganasan pada 1% – 6% kasus. Massa adneksa yang besar atau kompleks dapat menimbulkan risiko torsi, ruptur, atau transformasi ganas. Laporan ini bertujuan untuk menyoroti peran penatalaksanaan bedah individual pada massa ovarium selama kehamilan, khususnya dengan menekankan keuntungan intervensi pada trimester kedua, serta menjawab pertanyaan penelitian: Dapatkah pembedahan adneksa elektif pada trimester kedua mengoptimalkan luaran maternal dan janin pada kehamilan berisiko tinggi?Laporan Kasus: Dua pasien hamil dengan massa adneksa dievaluasi secara klinis dan radiologis. Pengambilan keputusan didasarkan pada usia kehamilan, karakteristik massa, dan pertimbangan maternal-janin. Keduanya menjalani penatalaksanaan bedah pada trimester kedua, dan konfirmasi histopatologi diperoleh. Kasus 1: Wanita 37 tahun G5P3A1 pada usia kehamilan 16 minggu dengan massa kistik multilokular (25×12×8 cm) pada ovarium kanan. Salpingo-ooforektomi pada usia kehamilan 19 minggu menunjukkan kista jinak non-papiler. Kasus 2: Wanita 24 tahun G3P2A0 pada usia kehamilan 23 minggu dengan massa adneksa kompleks (20×20×15 cm). Ooforektomi parsial menunjukkan adanya material sebaceous, rambut, dan kartilago. Histopatologi mengonfirmasi teratoma kistik matur. Kehamilan berlangsung tanpa komplikasi dan berakhir dengan persalinan spontan pervaginam aterm.Kesimpulan: Pembedahan adneksa elektif pada trimester kedua memberikan kondisi anatomi dan obstetri yang optimal, serta meminimalkan risiko teratogenik dan persalinan prematur. Dengan pendekatan individual, multidisipliner, dan berbasis bukti, strategi ini dapat memberikan luaran maternal dan neonatal yang baik pada kehamilan berisiko tinggi terpilih.