cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23375124     EISSN : 2089970X     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Arjuna Subject : -
Articles 345 Documents
Efektivitas Midazolam Untuk Pencegahan Mual Muntah Pascabedah Pada Prosedur Laparaskopi Jamiludin Jamiludin; Husain AAA
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.518 KB) | DOI: 10.14710/jai.v5i3.6307

Abstract

Latar belakang : Seluruh pasien yang menjalani pembedahan beresiko untuk mengalami mual dan muntah pasca bedah (PONV). Kejadian PONV menjadi gejala yang sangat merugikan terutama setelah prosedur pembedahan ambulatori serta mengganggu proses pemulihan pasca anestesi dan pembedahan sehingga memperpanjang waktu perawatan. Laparoskopi adalah suatu prosedur pembedahan minimal invasif yang disertai insidens PONV cukup tinggi. Penyebab tingginya angka kejadian PONV pada pembedahan laparaskopi disebabkan oleh gas yang digunakan untuk insuflasi dan menyebabkan penekanan pada nervus vagus yang memiliki hubungan dengan pusat muntah di medulla oblongata. Selain itu, penyebab lain seperti teknik anestesi, jenis kelamin, nyeri, perawatan pasca operatif dan data demografik pasien yang berhubungan dengan pengaruh terjadinya emesis. Midazolam sebagai agen anti emetik dan  anxiolitik yang  menurunkan sintesis, pelepasan dan efek pasca sinaptik dopamin serta menhambat reuptake adenosin, sehingga menurunkan input dopamin dan 5-HT3 terhadap CRTZ dan mengurangi input dari thalamus yang mempengaruhi langsung pusat muntah.Tujuan: mengevaluasi pemberian midazolam sebagai agen anti emetik dan  anxiolitikMetode: Empat puluh delapan pasien yang akan menjalani prosedur pembedahan laparaskopi elektif secara acak dibagi menjadi dua kelompok. Setelah diberikan obat premedikasi, kelompok M (n=24) diberikan midazolam 35 μg/kgBB intravena kelompok O (n=24) diberikan ondansetron 4 mg intravena. Selama prosedur anestesi, pemakaian opioid dan lama operasi dicatat. Kemudian kejadian mual muntah pasca bedah diamati dan dicatat selama periode 8 jam pascabedah.Hasil: Kejadian mual muntah setelah prosedur pembedahan laparaskopi pada penelitian ini diukur menggunakan skor PONV dengan interval 30 menit selama di ruang pemulihan dan setiap 1 jam di ruang perawatan selama 8 jam pasca bedah. Pada penilitian ini, terdapat perbedaan yang bermakna diantara kedua kelompok dengan hasil p=0,022 (p<0,05) pada waktu pengamatan P2 (60 menit pasca bedah)    .Kesimpulan: Midazolam 35 μg/kgBB setelah premedikasi pada anestesi umum pada prosedur pembedahan laparaskopi elektif menurunkan kejadian mual muntah pascabedah terutama pada 1 jam pasca bedah.
Perbandingan Pemberian Deksametason Intravena dan Lidokain Spray pada Kejadian Nyeri Tenggorok Paska Ekstubasi Chandra Tirta Setiawan; Doso Sutiyono
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 8, No 1 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.812 KB) | DOI: 10.14710/jai.v8i1.11861

Abstract

Latar Belakang: Nyeri tenggorok merupakan salah satu komplikasi paska intubasi endotrakeal tersering, terjadi pada 30-70% pasien paska intubasi endotracheal. Hal ini disebabkan karena inflamasi dari mukosa trakea. Deksametason dan lidokain dipercaya bisa menekan inflarnasi pada mukosa trakea paska intubasi endotrakhea. Tujuan: Mengetahui efektivitas deksametason iv untuk mencegah nyeri tenggorok dibandingkan dengan lidokain spray. Metode: Penelitian jenis uji klinis acak tersamar ganda. Sampel penelitian 58 orang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 (Kl) diberikan dexametasone i.v 10 mg sebelum intubasi, kelompok 2 (K2) diberikan spray lidokain pada pipa endotrakea sepanjang 15 cm dari ujung distal. Kejadian nyeri tenggorok dinilai pada jam ke-1, ke-6 dan ke-24 paska ekstubasi.Hasil: Terdapat perbedaan tidak bermakna kejadian nyeri tenggorok pada kedua kelompok pada jam ke-1, ke-6 dan ke-24 (p=0,078, p=l,0, p=l,0). Terdapat perbedaan tidak bermakna kejadian suara serak pada kedua kelompok pada jam ke-1, ke-6 dan ke-24 (p=0,091,p=l,0, p=l,0) Simpulan: Pemberian deksametason i.v pre induksi untuk mencegah nyeri tenggorok pada pasien anestesi umum dengan intubasi endotrakhea tidak lebih efektif dibandingkan dengan lidokain spray.
Pengaruh Pemberian Cairan Ringer Laktat Dibandingkan Nacl 0,9% Terhadap Keseimbangan Asam-Basa Pada Pasien Sectio Caesaria Dengan Anestesi Regional Muhammad Mukhlis Rudi; Hariyo Satoto; Uripno Budiono
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v4i1.6434

Abstract

Latar belakang: Pemberian cairan pada pasien yang akan operasi, khususnya sectio caesaria (SC), sebelumnya jarang dilakukan pemeriksaan elektrolit, sehingga dapat menimbulkan gangguan keseimbangan elektrolit yang akan memperberat proses metabolik dan penyembuhannya. Pemeriksaan elektrolit setelah operasi sangat penting, karena intervensi cairan selama operasi, dengan alasan untuk mengontrol elektrolit dan keseimbangan asam-basa.Metode: Penelitian ini termasuk eksperimental berupa uji klinik tahap 2 yang dilakukan secara acak tersamar ganda dengan tujuan untuk mengetahui cairan mana yang lebih baik, RL ataupun NaCl 0,9% terhadap strong ion difference (SID) keseimbangan asam-basa yang didasarkan pada metode Stewart. Pasien yang dipersiapkan untuk menjalani operasi SC, sebagai salah satu persyaratan untuk menjalani tindakan pembiusan dan mencegah mual muntah. Kemudian dilakukan pemasangan jalur intravena serta pengambilan darah vena di ruang bedah sentral dan diberikan premedikasi serta “loading” cairan sebelum dibius dengan tujuan untuk mencegah terjadinya hipotensi akibat obat regional anestesinya. Setelah itu, selama operasi pasien diberikan cairan kristaloid. Setelah operasi selesai, dilakukan pemeriksaan darah vena. Data-data yang dicatat untuk perhitungan statistik yang termasuk dalam tujuan penelitian ini adalah kadar elektrolit. Uji statistik dengan menggunakan t-test.Hasil: Rerata sebelum operasi SID RL (38,58±2,28) menunjukkan alkalosis, sedangkan SID NaCl (37,42±4,35) menunjukkan asidosis. Rerata setelah operasi SID RL (37,79±1,18) menunjukkan kestabilan dibandingkan rerata SID NaCl (39,67±3,10) yang alkalosis.Kesimpulan: Pemberian RL pada pasien sectio caesaria lebih menguntungkan dibandingkan NaCl, karena NaCl sangat mempengaruhi pergeseran SID keseimbangan asam-basa Stewart.
Magnesium Sulfat Intravena, Derajat Nyeri dan Kebutuhan Opioid Pasca Operasi Husni Riadi Nasution; Ery Leksana; Doso Sutiyono
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v2i3.6457

Abstract

Latar belakang: Lebih dari 70% pasien paska operasi mengalami nyeri, dan 80% dari pasien ini mengalami nyeri yang berat selama perawatan di rumah sakit. Magnesium yang bersifat sebagai antagonis NMDA secara teori dapat meblokade proses sensitisasi sentral. Pemberian magnesium preoperatif diharapkan dapat mengurangi derajat nyeri dan kebutuhan opioid paska operasi.Metode: merupakan jenis penelitian eksperimental randomized post test only controlled group design. Dua puluh enam pasien yang menjalani operasi elektif bedah onkologi dengan anestesi umum inhalasi di RS dr. Kariadi Semarang, memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dibagi dalam dua kelompok. Dicatat tanda vital pra bedah. Kelompok MgSO 4 (I) diberi MgSO4 50 mg/kgBB dalam NaCl 250 mL sebelum insisi, kelompok kontrol (II) diberi NaCl 0,9% 250 mL. Premedikasi dengan midazolam 0,07 mg/kgBB iv, metoclopramid 10 mg iv, sulfas atropin 0,01 mg/kgBB. Induksi dengan Tiopental 5 mg/kgBB, atrakurium 0,5 mg/kgBB, fentanil 2 mcg/kgBB, lalu dilakukan intubasi. Rumatan anestesi dengan N 2 O:O2 =50%:50%, enfluran 0,8% - 1,5%, atrakurium intermiten. Selesai operasi pasien diekstubasi, dilakukan observasi di ruang pemulihan. Bila skor nyeri atau nilai Visual Analog Scale (VAS) > 3 cm diberikan meperidin 0,5 mg/kgBB iv. Dicatat tanda vital paska bedah, setiap 4 jam selama 24 jam. Di bangsal diberi analgetik meperidin 0,5 mg/kgBB bila VAS > 3 cm. Dicatat jumlah total kebutuhan meperidin. Efek samping yang terjadi dicatat. Uji statistik untuk VAS digunakan T-Test, sedangkan kebutuhan opioid dengan Mann-Whitney.Hasil: Derajat nyeri dan kebutuhan antara kedua kelompok berbeda tidak bermakna (p>0,05).Kesimpulan: pemberian MgSO 4 tidak signifikan mempengaruhi derajat nyeri dan kebutuhan opioid paska operasi.
Gambaran Gastrointestinal Dysmotility pada Pasien Kritis Fauzana Fauzana; Prananda Surya Airlangga; Eddy Rahardjo
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 11, No 2 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20.247 KB) | DOI: 10.14710/jai.v11i2.22115

Abstract

Latar Belakang: Gastrointestinal (GI) dysmotility merupakan kejadian yang sering ditemui di intensive care unit (ICU), dengan angka kejadian cukup besar mencapai 60% pada pasien kritis. Hal ini juga merupakan prediktor peningkatan mortalitas dan lama tinggal di ICU. GI dysmotility dapat merupakan kelainan primer seperti pada pasien dengan diabetes mellitus dan sepsis atau merupakan efek sekunder dari terapi yang diberikan seperti efek dari resusitasi cairan dalam jumlah besar, penggunaan vasopressor atau obat-obatan yang menurunkan motilitas usus seperti opioid. Manifestasi klinis GI dysmotility dapat sangat luas dan dibagi menjadi upper GI dysmotility dan lower GI dysmotility.Kasus: 2 laporan kasus berikut mewakili upper dan lower GI dysmotility. Kasus 1, laki laki 18 tahun dengan diagnosa guliian barre syndrome (GBS) yang mengalami infeksi berulang. Gastroparesis dan produksi cairan lambung yang massive, dicetuskan oleh sepsis dan mengakibatkan metabolik alkalosis yang berat, kesulitan memulai nutrisi enteral dan kesulitan weaning dari ventilasi mekanik.Kasus 2, wanita 56 tahun dengan diagnosa obesity hypoventilation syndrome (OHS) dan edema paru. Terdapat diare dan ileus paralitik selama perawatan di ICU yang menyebabkan peningkatan tekanan intrabadomen.Pembahasan: Diagnosa dini dan tatalaksana yang tepat sangat penting. Mencari dan mengatasi penyebab GI dysmotility, koreksi cairan, elektrolit dan asam basa harus segera dilakukan. Obat-obatan yang meningkatkan motilitas usus dan mobilisasi dini dapat diberikan pada upper dan lower GI dysmotility sedangkan dekompressi abdomen efektif dalam mengurangi tekanan intrabdomen pada lower GI dysmotility.Kesimpulan: Diagnosa dan penanganan dini pada GI dysmotility dapat memperbaiki outcome dan mengurangi komplikasi. Apapun penyebabnya GI dysmotility harus di terapi secara tepat dan sistematis.
Angka Kejadian dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Infeksi Paska Pemasangan Kateter Vena Sentral di Rumah Sakit Dr. Soetomo Eka Seprianti Widiastuti; Bambang Wahjuprajitno
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.677 KB) | DOI: 10.14710/jai.v6i1.6572

Abstract

Latar Belakang : Setiap tahun lebih dari 150 juta kateter intravena digunakan , dimana 5 juta dari mereka dipasang pada vena sentral . Sayangnya , lebih dari 500.000 infeksi yang terkait dengan pemasangan alat secara intravaskular melalui aliran darah terjadi di AS setiap tahun , 7-20 % disebabkan oleh central venous catheter - related blodstream infection ( CR - BSI ) . CR - BSI terkait dengan perpanjangan lama tinggal di rumah sakit , meningkatkan biaya dan kematian. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya CR - BSI seperti tempat penyuntikan, prosedur pemasangan yang steril maksimal, dressing transparan, perawatan tanpa teknik aseptik, penggunaan nutrisi parenteral dan inotropikik katekolamin, kondisi pasien , dan banyak lagi. Belum ada data tentang kejadian CR - BSI dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di Rumah Sakit Umum Dr Soetomo, .Tujuan : Menghitung angka kejadian CR - BSI dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhinya di Dr Soetomo Surabaya .Metode : Prosedur penelitian dimulai sejak CVC dipasang pada pasien, data dasar dicatat seperti identitas, kondisi awal, komorbiditas , dan teknik pemasangan. Pasien diikuti untuk mengevaluasi teknik perawatan CVC, pemakaian antibiotik sistemik, penggunaan nutrisi parenteral dan inotropikik katekolamin, serta dugaan CR - BSI. Kultur darah dilakukan bila dicurigai infeksi timbul ( baik secara klinis dan menggunakan Skor IPS), dan kemudian diagnosis CR - BSI dibuat . Semua data dicatat sampai CVC telah dilepas dan pasien keluar dari rumah sakit .Hasil : Ada 15 kasus CR - BSI pada 139 pasien, total durasi pemakaian CVC adalah 1.751 hari, sehingga tingkat CR - BSI 8.57 kasus per 1000 hari penggunaan CVC. Tingkat tertinggi adalah di bangsal neurologi, 35,71 kasus per 1000 hari penggunaan CVC. Lama tinggal di rumah sakit ( p = 0,032 ), durasi penggunaan CVC ( p = 0,002 ), penggunaan nutrisi parenteral ( p = 0,000 ), penggunaan inotropikik katekolamin ( p = 0,041 ), skor APACHE II ( p = 0,000 ), infeksi sebelum pemakaian CVC ( p = 0,039 ) dan infeksi di tempat lain ( p = 0,033 ) merupakan faktor signifikan yang mempengaruhi kejadian CR - BSI . Namun, jika faktor-faktor ini diperiksa bersama-sama, durasi penggunaan CVC ( p = 0,030 ), penggunaan nutrisi parenteral ( p = 0,005 ), dan skor APACHE II ( p = 0,006 ) memberikan pengaruh yang dominan terhadap CR - BSI .Kesimpulan : Angka kejadian CR - BSI di Dr Soetomo Rumah Sakit Umum tinggi, sedangkan durasi CVC digunakan, penggunaan nutrisi parenteral , dan skor APACHE II sebagai faktor paling dominan yang mempengaruhi kejadian infeksi tersebut .
Perbandingan Sekresi IL-10 di Jaringan Sekitar Luka Insisi Dengan dan Tanpa Infiltrasi Levobupivakain : Studi Imunohistokimia pada Tikus Wistar Winarto Winarto; Uripno Budiono; Mohamad Sofyan Harahap
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 1, No 1 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.216 KB) | DOI: 10.14710/jai.v1i1.6022

Abstract

Latar belakang: Nyeri menyebabkan peningkatan hormon glukokortikoid yang memperlama penyembuhan luka. Transmisi nyeri dapat dihambat dengan obat anestesi lokal levobupivakain. Terapi ini akan mengurangi supresi imunitas seluler sehingga fungsi makrofag dalam membantu aktifasi sel T tidak terhambat. Aktifasi sel T ini diduga akan meningkatkan sekresi IL-10.Tujuan: Membandingkan sekresi IL-10 di jaringan sekitar luka dengan dan tanpa infiltrasi levobupivakain.Metode: Eksperimental laboratorik dengan desain Randomized Post test only control group design, pada tiga puluh lima ekor tikus Wistar. Kelompok penelitian dibagi menjadi tiga kelompok secara acak, Kelompok Kontrol (K) 5 ekor, Perlakuan 1 (P1) dan Perlakuan 2 (P2) masing -masing lima belas ekor. Kelompok Kontrol, tikus tanpa insisi dan tanpa infiltrasi. Kelompok P1, tikus yang dilakukan insisi 2 cm, tanpa diberikan infiltrasi levobupivakain. Kelompok P2, tikus yang dilakukan insisi 2 cm, diberikan infiltrasi levobupivakain tiap 8 jam selama 24 jam. Ekspresi IL -10 di sekitar luka insisi dinilai dengan skor histologi dari preparat dengan menggunakan pengecatan imunohistokimia, yang diambil dari biopsi jaringan pada hari ke 1, 2, dan 3. Metode perhitungan statistik menggunakan Kruskal Wallis Test dilanjutkan Mann Whitney Test.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan pada jaringan insisi rerata skor histologi IL -10 pada kelompok levobupivakain lebih tinggi (5.36 ± 1.25) dibanding kelompok tanpa levobupivakain (3.00 ± 2.11) pada hari ke dua. Perhitungan statistik antara kedua kelompok tanpa levobupivakain dan dengan kelompok levobupivakain berbeda bermakna (p=0,023 ; p<0,05).Kesimpulan: Sekresi IL-10 di jaringan sekitar luka dengan infiltrasi levobupivakain lebih tinggi dibanding tanpa levobupivakain.
Meperidin, Ketamin dan Klonidin Efektif Untuk Terapi Menggigil pada Sectio Secaria dengan Anestesi Spinal Uripno Budiono
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 2 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.367 KB) | DOI: 10.14710/jai.v7i2.9825

Abstract

Latar Belakang : Anestesi spinal banyak dilakukan pada sectio cesarea, tetapi anestesi spinal dapat menimbulkan menggigil pada periode perioperatif. Menggigil menyebabkan pasien tidak nyaman, membahayakan pasien dan mengacaukan pemantauan peri dan postoperatif. Ondansetron, meperidin, klonidin, dan ketamin adalah obat-obatan yang dapat mengatasi menggigil.Tujuan :  mengetahui angka kejadian menggigil pada section secaria pada pasien yang mendapat ondansetron, dan menilai efektivitas terapi menggigil dari meperidin, klonidin, dan ketamin pada sectio secaria dengan anestesi spinalMetode : pasien pasien sectio secaria dengan anestesi spinal yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi, diberikan premedikasi 0,25 mg sulfas atropin dan 4 mg ondansetron setengah jam sebelum tindakan . Dilakukan anestesi spinal dengan bupivakain hiperbarik. Bila terjadi hipotensi diterapi dengan efedrin, bila terjadi bradikardi diberikan sulfas atropin. Dilakukan pengamatan pada onset dan beratnya menggigil. Pasien yang menggigil kemudian dikelompokkan kedalam 3 kelompok. Kelompok M diterapi dengan 25 mg meperidin. Kelompok K mendapat terapi 25 mg ketamin dan kelompok L mendapat terapi 75 mcg klonidin. Respon terapi diukur sejak penyuntikan terapi sampai hilangnya menggigil. Terapi dianggap berhasil bila dalam waktu 15 menit tanda menggigil hilang. Dilakukan pengamatan tentang skor sedasi dan efek samping mengenai nausea, vomitus, bradikardi, hipotensi,tanda alergi, mengigau, depresi respirasi dan efek samping yang lain. Bila terjadi efek samping diterapi dengan cara yang sesuai.Hasil : Menggigil terjadi pada 46% pasien. Ketiga kelompok menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna, baik dalam hal respon terapi maupun keberhasilan terapi.Simpulan : Menggigil terjadi pada 46% pasien sectio secaria dengan anestesi spinal yang mendapat ondansetron sebelumnya. Meperidin, ketamin dan klonidin efektif dan mempunyai efektivitas yang sama untuk terapi menggigil pada sectio secaria dengan anestesi spinal. 
Anestesi pada Pediatrik dengan Kelainan Porfiria Herediter Agus Rukmana; Johan Arifin
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.226 KB) | DOI: 10.14710/jai.v4i3.6425

Abstract

Pasien dengan porfiria terjadi perubahan biologi yang penting diketahui berkaitan dengan penggunaan oksigen, transportasi, bentuk dan penyimpanan. Jalur sintetis yang terlibat dalam produksi porfirin kompleks dan melibatkan banyak enzim. Defek pada salah satu hasil enzim dalam akumulasi perantara sebelumnya menghasilkan satu bentuk atau bentuk lain dari penyakit yang dikenal sebagai porfiria.Empat jenis dari porfiria herediter diklasifikasikan sebagai porfiria akut. Cacat enzimatik mengakibatkan akumulasi prekursor porfirin (biasanya ALA dan PGB). Jumlah prekursor ini mungkin normal atau sedikit meningkat pada periode laten tetapi peningkatan selama krisis porphyric dapat menyebabkan bahaya pada tubuh. Induksi iatrogenik dari sintetase ALA dengan pemberian pemicu tertentu (barbiturat) hanya salah satu dari beberapa faktor yang berkontribusi terhadap krisis porphyric. Tanda dan gejala serangan porphyric akut terutama terdiri dari disfungsi neurologis, yang terjadi sekunder pada neurotoksisitas ALA atau berkurang tingkat heme intraneuronal.Setiap pasien yang dicurigai porfiria membutuhkan anamnesa yang teliti mengenai riwayat penyakit, termasuk riwayat keluarga dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, termasuk penilaian neurologis. Titk berat perhatian khusus pada ada atau tidak adanya neuropati perifer dan ketidakstabilan otonom.Manajemen anestesi pada porfiria membutuhkan pengetahuan tentang jenis porfiria (akut vs non-akut), penilaian laten dibandingkan aktif (fase krisis), kesadaran gambaran klinis serangan porphyric, dan pengetahuan tentang intervensi farmakologis yang aman.Persiapan pra operasi pada pasien dengan porphyric meliputi penilaian keseimbangan cairan elektrolit dan status. Teknik anestesi dapat dilakukan regional ataupun anestesi umum tergantung pada kondisi pasien. Premedikasi, teknik anestesi, induksi, pemeliharaan dan pasca anestesi harus yang cukup aman bagi pasien.
Manajemen Anestesi Prosedur Fontan Akhmad Ridconi; Budi Nugroho
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 9, No 3 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1362.687 KB) | DOI: 10.14710/jai.v9i3.19841

Abstract

PendahuluanSingle ventricle merupakan kelainan jantung kongenital kompleks, dan seseorang yang hidup dengan kelainan ini akan disertai dengan sejumlah keterbatasan. Tanpa terapi bedah, univentrikel akan menjadi malapetaka. Prosedur Fontan merupakan teknik pembedahan terpilih yang dapat diterapkan pada pasien dengan single ventricle. Hasil prosedur Fontan dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk faktor, prosedur, pengelolaan, dan tekanan vena sisi kanan berangsur-angsur akan meningkat. Seiring dengan berjalannya waktu gagal jantung kanan akan mengalami penurunan fungsi sistem, meliputi peningkatan resistensi pembuluh darah pulmoner (PVR), peningkatan tekanan vena sistemik (SVR), low-cardiac output kronis, disfungsi ventrikel kanan, dan kegagalan prosedur perbaikan single ventricle. Presentasi KasusWanita 19 tahun dengan Double Outlet Right Ventricle, Ventricular Septal Defect, Pulmonal Stenosis, Patent Ductus Arteriosus, Bilateral Superior Vena Cava yang akan menjalani prosedur Fontan. KesimpulanProsedur Fontan akan meningkatkan usia harapan hidup pasien. Keberhasilan jangka panjang ditentukan oleh banyaknya komplikasi. Dalam kondisi tidak adanya ketaatan.

Page 11 of 35 | Total Record : 345


Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 3 (2025): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 17, No 2 (2025): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 17, No 1 (2025): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 16, No 3 (2024): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 15, No 2 (2023): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 15, No 1 (2023): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 14, No 3 (2022): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 14, No 2 (2022): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 14, No 1 (2022): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 13, No 3 (2021): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 13, No 3 (2021): Jurnal Anestesiologi Indonesia (Issue in Progress) Vol 13, No 2 (2021): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 13, No 1 (2021): Jurnal Anestesiologi Indonesia Publication In-Press Vol 12, No 3 (2020): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 12, No 2 (2020): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 12, No 1 (2020): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 11, No 3 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 11, No 2 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 11, No 1 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 3 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 2 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 3 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 1 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 3 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 2 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 1 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 3 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 2 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 3 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 1 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 1 (2011): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 1 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia More Issue