cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23375124     EISSN : 2089970X     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Arjuna Subject : -
Articles 341 Documents
Mobilisasi Pasien Lanjut Usia dengan Peripheral Nerve Block pada Operasi Cemented Bipolar Hemiarthroplasty Akibat Fraktur Collum Femur: Sebuah Laporan Kasus Tommy Nugroho Tanumihardja; Dian Daniella
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 8, No 2 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.438 KB) | DOI: 10.14710/jai.v8i2.19807

Abstract

Pendahuluan : Komplikasi dari fraktur tulang panggul seringkali berhubungan dengan mobilisasi, dimana semakin cepat mobilisasi postoperatif pasien, maka semakin rendah risiko komplikasi yang dialami pasien.Sekitar 50% fraktur tulang panggul adalah fraktur collum femur. Tujuan pembuatan laporan kasus ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan mengenai mobilisasi pada pasien lansia dengan fraktur collum femur.Penting untuk mengontrol rasa nyeri dan menggunakan teknik anestesi yang mendukung mobilisasi dini pasien postoperatif.Perlu diperhatikan pula masalah psikologis dari pasien, seperti ketakutan untuk jatuh postoperatif yang menjadi penghambat utama dalam kasus ini bagi pasien untuk berjalan independen dan masih perlu ditentukan waktu mobilisasi postoperatif yang terbaik bagi pasien.Kasus : Pasien laki-laki berumur 73 tahun datang dengan keluhan nyeri pada paha kiri (Numeric Pain Rating Scale (NPRS) 5) setelah terjatuh empat hari sebelumnya dari anak tangga setinggi ± 50 cm. Pasien terjatuh terduduk dan semenjak itu pasien tidak dapat berdiri.Sebelum terjatuh, pasien dapat berjalan mandiri, merawat dirinya sendiri dan tinggal bersama dengan anak perempuannya.Ringkasan : Mobilisasi dini pada pasien lansia dengan fraktur collum femur dihubungkan dengan penurunan risiko komplikasi dan mortalitas.Penting bagi seorang dokter untuk mengontrol rasa nyeri dan menggunakan teknik anestesi yang mendukung mobilisasi pasien postoperatif.Perlu diperhatikan pula masalah psikologis dari pasien, seperti ketakutan untuk jatuh postoperatif dan masih perlu ditentukan waktu mobilisasi postoperatif yang terbaik bagi pasien.
Perbedaan Pengaruh Pemberian Propofol Pentothal Dan Etomidate Terhadap Perubahan Kadar Procalcitonin Pada Operasi Dengan General Anestesi Iwan Dwi Cahyono; Widya Istanto Nurcahyo; Hari Hendriarto Satoto
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v3i3.6439

Abstract

Latar belakang: Prokalsitonin diperkenalkan dan digunakan sebagai sebuah marker baru dari respon inflamasi terhadap infeksi. Obat induksi anestesi yang biasa digunakan telah diketahui mempengaruhi peningkatan prokalsitonin.Tujuan: Untuk menentukan perbedaan pengaruh dari propofol, pentotal dan etomidat terhadap kadar prokalsitonin dalam general anestesi.Metode: Studi eksperimental terhadap 24 pasien yang dilakukan general anestesi. Sampel dibagi menjadi 3 grup masing-masing 8 sampel tiap grup. Grup 1, 2 dan 3 mendapatkan propofol, pentotal atau etomidat sebagai obat induksi anestesi selama prosedur penelitian, dengan dosis pemberian propofol 2,5 mg/kgbb, pentotal 5 mg/kgbb dan etomidat 0,3 mg/kgbb dan rasio O2 dan N 2O 50% : 50%, sampel darah penderita diambil sebelum induksi anestesi, 4 jam setelah induksi anestesi dan 24 jam setelah induksi anestesi. Semua sampel kemudian dikirim ke laboratorium Patologi Klinik RSUP dr Kariadi Semarang untuk diperiksa kadar prokalsitonin. Data yang diperoleh dianalisa dengan tes Kruskall -Wallis dilanjutkan dengan tes Friedman.Hasil: Karakteristik umum penderita dan data variabel yang didapat kemudian dibandingkan memberikan gambaran distribusi yang merata. Pada penelitian ini menunjukkan hasil perbedaan bermakna dari kadar prokalsitonin sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok propofol (p=0,008) dan tidak bermakna pada kelompok pentotal dan etomidat dengan nilai (p=l,00). Dalam kelompok propofol, pentotal dan etomidat nilai tengah dari kadar prokalsitonin adalah (0,175±0,1), (0,05±0,05) dan (0,05±0,05). Secara meyakinkan bahwa propofol menyebabkan peningkatan kadar prokalsitonin dibandingkan pentotal dan etomidat, dengan nilai (p=0,053)Kesimpulan: Propofol secara meyakinkan meningkatkan kadar prokalsitonin dibandingkan pentotal dan etomidat.
Perbandingan Kadar IL-10 Serum dengan dan Tanpa Infiltrasi Levobupivakain pada Nyeri Pasca Insisi Mochamad Rofii; Hariyo Satoto; Mohamad Sofyan Harahap
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v2i2.6462

Abstract

Latar belakang: Nyeri insisi menyebabkan peningkatan hormon glukokortikoid yang memperlama penyembuhan luka. Transmisi nyeri dapat dihambat dengan infiltrasi Levobupivakain 0,25 %. Terapi ini akan mengurangi supresi imunitas seluler sehingga fungsi makrofag dalam membantu aktifasi sel T tidak terhambat. Aktifasi sel T ini diduga akan meningkatkan kadar IL-10 serum.Tujuan: Membandingkan kadar IL-10 serum dengan dan tanpa infiltrasi Levobupivakain 0,25 %.Metode: Dilakukan penelitian eksperimental laboratorik dengan disain “Randomized Post test only control group design”, pada tigapuluh lima ekor tikus Wistar. Kelompok penelitian dibagi menjadi tiga kelompok secara acak. Kelompok kontrol (K) lima ekor tikus, kelompok Perlakuan 1 (P1) dan kelompok Perlakuan 2 (P2) masing-masing limabelas ekor tikus. Kelompok kontrol (K) tikus dibius, tanpa insisi dan tanpa infiltrasi lalu diperiksa kadar IL-10 serumnya pada hari pertama. Kelompok Perlakuan 1 (P1) tikus dibius lalu dilakukan insisi sepanjang 2 cm dipunggung kedalaman subkutis dan injeksi tanpa Levobupivakain 0,25 % disekitar luka. Kelompok Perlakuan 2 (P2) tikus dibius laku dilakukan insisi sepanjang 2 cm dipunggung kedalaman subkutis dan infiltrasi dengan Levobupivakain 0,25 % disekitar luka. Injeksi pada kelompok P1 dan infiltrasi pada kel ompok P2 diulangi dua kali tiap 8 jam selama 24 jam. Kadar IL-10 serum kelompok P1 dan kelompok P2 diperiksa pada hari ke pertama, kedua dan ketiga. Dibandingkan kadar IL-10 serum antara ketiga kelompok. Analisis statistik dengan program SPSS 10,0 for windows.Hasil: Dari hasil pengamatan rerata berat badan tikus pada ketiga kelompok berbeda tidak bermakna dengan p = 0,874 ( p > 0,05 ). Kadar IL-10 serum pada kelompok K 0,13 ± 0,02 pg/ml, sedangkan kelompok perlakuan 1 (P1) hari pertama 0,16 ± 0,12 pg/ml ; hari kedua 0,16 ± 0,06 pg/ml dan hari ketiga 0,18 ± 0,07 pg/ml. Terjadi kenaikan sebesar 23 % pada hari pertama dan hari kedua serta 38 % pada hari ketiga pada kelompok perlakuan 1 (P1). Kadar IL-10 serum kelompok P2 pada hari pertama, kedua dan ketiga adalah 0,21 ± 0,15 pg/ml : 0,30 ± 0,11 pg/ml ; 0,29 ± 0,13 pg/ml. Terjadi kenaikan sebesar 61 % pada hari pertama, 130 % pada hari kedua dan 123 % pada hari ketiga. Data parameter klinis ketiga kelompok terdistribusi normal ( p > 0,05 ). Kadar IL-10 serum pada ketiga kelompok berbeda bermakna dengan nilai p 0,000 (p < 0,05). Kenaikan kadar IL-10 serum tertinggi adalah pada kelompok dengan infiltrasi Levobupivakain 0,25 % pada hari kedua yaitu sebesar 130 %.Kesimpula: Infiltrasi Levobupivakain 0,25 % disekitar luka insisi meningkatkan kadar IL -10 serum. Terjadi kenaikan sebesar 23 % pada hari pertama dan hari kedua serta 38 % pada hari ketiga pada kelompok perlakuan 1 (P1). Dan pada kelompok perlakuan 2 (P2) terjadi kenaikan sebesar 61 % pada hari pertama, 130 % pada hari kedua dan 123 % pada hari ketiga. Kenaikan kadar IL-10 serum tertinggi adalah pada kelompok infiltrasi dengan Levobupivakain 0,25 % yang terjadi pada hari kedua yaitu sebesar 130 %.
Tatalaksana Perioperatif pada Pasien dengan Cardiac Implantable Electronic Devices (Cieds) atau Alat Elektronik Kardiovaskular Implan (Aleka) Cindy Elfira Boom; Ornella Widyapuspita
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 11, No 2 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (980.036 KB) | DOI: 10.14710/jai.v11i2.24714

Abstract

Jumlah pasien pengguna cardiac implantable electronic devices (CIEDs) atau alat elektronik kardiovaskular implan (ALEKA) hingga saat ini makin bertambah setiap tahunnya di penjuru dunia, namun masih banyak ahli anestesi yang belum nyaman dalam mengelola pelayanan perioperatif pada pasien-pasien tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan dan pengalaman pemrograman alat untuk menatalaksana pasien. Alat elektronik kardiovaskular implan merupakan sebuah istilah yang mencakup penggunaan alat pacu jantung untuk bradiaritmia dan implantable cardioverter defibrilator (ICD)/defibrilator kadioverter implan (DKI) untuk takiaritmia, serta cardiac resynchronization therapy (CRT)/ terapi resinkronisasi jantung (TRJ) untuk disfungsi diastolik dengan hambatan konduksi. Hingga saat ini, tercatat setidaknya lebih dari 250.000 pasien dewasa maupun anak menjalani pemasangan alat pacu jantung tiap tahunnya, oleh karena itu, penting bagi seorang dokter anestesi untuk memahami dan mampu membuat perencanaan perioperatif dengan tim multidisiplin agar dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien. Tinjauan pustaka ini dibuat untuk memberikan info seputar ALEKA dengan berfokus pada manajemen perioperatif pasien dengan ALEKA, serta algoritma tatalaksana yang dapat diimplementasikan dalam praktik sehari-hari.
Manajemen Anestesi pada Pasien dengan Chiari Malformation dan Syringomyelia Tomas Ari Kurniawan; I Ketut Sinardja
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.297 KB) | DOI: 10.14710/jai.v6i1.6651

Abstract

Latar belakang: Chiari malformation merupakan kelainan anatomi dari otak kecil dimana tonsil cerebellum turun ke arah Foramen magnum dan menimbulkan serangkaian gejala klinis. Secara umum kelainan ini memiliki 4 tipe klasifikasi berdasarkan derajat beratnya kelainan anatomi dari cerebellum. Pada beberapa kasus dijumpai kelainan juga disertai dengan syringomyelia. Tindakan yang bisa dikerjakan untuk mengurangi gejala klinis antara lain dengan melakukan dekompresi pada tulang cranium bagian occipital, sehingga dapat mengurangi gejala penekanan pada bagian cerebellum yang turun.Kasus: Pasien kami mengalami Chiari malformation tipe 2 dengan adanya syringomyelia. Gejala klinis yang muncul berupa nyeri kepala dan leher bagian belakang, disertai dengan kelemahan pada tangan kiri. Melalui tindakan operatif, dikerjakan dekompresi foramen magnum dan duroplasty. Anestesi dikerjakan dengan anestesi umum intravena, diberikan induksi dengan propofol dan fentanyl, pemeliharaan dengan propofol intravena dosis 100 mcg/kg/menit. Nyeri paska operasi pasien dikelola dengan epidural analgesia yang dipasang pada daerah setinggi vertebra cervical 3, dengan regimen bupivakain 0,1% dan morfin 0,5 mg dalam volume 5 ml.Ringkasan: Chiari malformation adalah kelainan anatomi cerebellum yang memiliki potensi berbahaya. Kompresi yang terjadi pada foramen magnum dapat menyebabkan terjadinya bulbar palsy dan menyebabkan apnea. Tindakan dekompresi dikerjakan untuk mencegah terjadinya kelumpuhan tersebut. Pasien dengan Chiari malformation seringkali disertai dengan syringomyelia dan hidrosefalus. Manajemen anestesi yang direncanakan sebaiknya tidak menimbulkan peningkatan tekanan intra kranial.
Regulasi Aliran Darah Cerebral Dan Aneurisma Cerebral Iwan Dwi Cahyo; Jati Listiyanto Pujo; Mohamad Sofyan Harahap
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v1i2.6296

Abstract

Perubahan aliran darah ke otak memiliki regulasi tersendiri mengingat begitu besar peranan otak bagi kehidupan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi regulasi aliran darah ke otak salah satunya adalah tindakan dan obat anestesi selama pembiusan. Untuk menghindari akibat buruk yang mungkin terjadi perlu dipelajari tentang auto regulasi darah serebral dengan baik. Penggunaan obat juga perlu dipertimbangkan. Operasi dibagian kepala membutuhkan waktu relative lama dibandingkan operasi yang lainnya. Otak mempunyai kemampuan yang khas untuk mengatur aliran darah terhadap : 1. Aktivitas fungsional dan metabolic (flow metabolism coupling and metabolic regulation). 2. Perubahan pada tekanan perfusi (perssure autoregulation) 3. Perubahan kandungan oksigen atau karbondioksida dari arteri. Selain itu aliran darah otak dapat berubah melalui pengaruh langsung dari hubungan antara pusat-pusat khusus di otak dan pembuluh darah (Neurogenic Regulation). Perubahan aliran darah ke otak memiliki resiko yang fatal dalam menentukan prognosis. Kejadian kematian paling banyak disebabkan aneurisma dari arteri yang pecah didalam otak serta cidera kepala yang disebabkan suatu kecelakaan lalu lintas. Diagnosis Aneurisma sulit dilakukan atau terlambat untuk diketahui. Seorang dokter anestesi dituntut ektra hati hati dalam membius pasien dengan cara memantau hemodinamik dan menjaga hemodinamik tidak mengalami gejolak yang tinggi untuk menghindari resiko pecahnya aneurisma.
Perbandingan Efek Swab Chlorhexidine 2% - Isopropyl Alcohol 70% dengan Povidone Iodine 10%- Isopropyl Alcohol 70% terhadap Jumlah Kolonisasi Bakteri di Kulit pada Preparasi Kulit untuk Pemeriksaan Kultur Darah Listiana Dewi Sartika; Jati Listijanto Pujo; Iva Puspitasari
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 3 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.721 KB) | DOI: 10.14710/jai.v7i3.10810

Abstract

Latar belakang : Jenis antiseptik yang digunakan dalam teknik preparasi pengambilan kultur darah sangat penting untuk menghindari positif palsu yang disebabkan oleh bakteri komensal di permukaan kulit. Positif palsu ini menyebabkan pemborosan pada antibiotik yang tidak perlu sehingga mempengaruhi outcome pasien dan biaya Rumah Sakit. Penelitian akhir-akhir ini menyatakan bahwa telah ditemukan resistensi bakteri terhadap antiseptik.Tujuan : Mengetahui Swab Chlorhexidine 2%-isopropyl alcohol 70% lebih efektif sebagai antiseptik kulit dibanding Povidone iodine 10%-isopropyl alcohol 70% ditinjau dari jumlah kolonisasi bakteri di kulit.Metode : Desain eksperimental, 20 subyek mendapat perlakuan yang sama pada area berbeda pada volar lengan yang sama; kelompok Chlorhexidine 2%-isopropyl alcohol 70% dan kelompok Povidone iodine 10%-isopropyl alcohol 70%. Kedua kelompok sebelum perlakuan diambil swab. Uji  Wilcoxon untuk uji sebelum dan setelah perlakuan pada masing-masing kelompok dan Mann Whitney test untuk uji setelah perlakuan antara kedua kelompok.Hasil : Jumlah kolonisasi kuman sebelum dan sesudah perlakuan pada masing-masing kelompok berbeda bermakna (p<0,05) sedangkan jumlah kolonisasi kuman setelah perlakuan antara kedua kelompok pun berbeda bermakna. Kelompok Chlorhexidine 2%-isopropyl alcohol 70% menunjukkan hasil kolonisasi bakteri lebih sedikit dibanding kelompok Povidone iodine 10%-isopropyl alcohol 70%.Kesimpulan : Chlorhexidine 2%-isopropyl alcohol 70% merupakan antiseptik permukaan kulit yang lebih efektif menurunkan jumlah kolonisasi bakteri dibandingkan Povidone iodine 10%-isopropyl alcohol 70%. 
Pengaruh Anestesi Regional dan General pada Sectio Cesaria pada Ibu dengan Pre Eklampsia Berat terhadap Apgar Score Nurhadi Wijayanto; Ery Leksana; Uripno Budiono
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.525 KB) | DOI: 10.14710/jai.v4i2.6430

Abstract

Latar belakang : pada pasien preeklampsia berat intubasi merupakan tindakan yang berbahaya karena berkaitan dengan menejeman jalan napas dan gejolak hemodinamik yang mungkin terjadi. Anestesi spinal banyak dihindari berkaitan dengan resiko hipotensinya namun beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa anestesi spinal adalah aman bagi ibu maupun janin . perdebatan tentang pengaruh anestesi umum dan anestesi spinal terhadap Apgar score adalah sesuatu yang menarik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan anestesi pada keduanya namun pada penelitian lainnya dikatakan bahwa dengan apresiasi umum akan menghasilkan anestesi yang lebih rendah daripada anestesi spinal.Tujuan : untuk membandingkan pengaruh anestesi umum dan anestesi spinal terhadap anak yang dilahirkan oleh ibu dengan sectio caesaria karena preeklampsia berat.Metode : merupakan penelitian eksperimental dengan desain penelitian prospective randomized control trial, kelompok penelitian dibagi menjadi dua (n:8), kelompok I merupakan kelompok yang mendapat anestesi umum dengan pentothal dosis 5mg/bb dan pelumpuh otot suksinilkholis dosis 1.5mg/bbKesimpulan : Apgar score pada kelompok anesthesi spinal lebih tinggi daripada anestesi umum pada pasien sectio caesaria karena preeklampsia berat, tetapi secara klinis berdasarkan kategori Apgar score kedua kelompok sama
Akurasi Diagnostik Prokalsitonin Sebagai Penanda Serologis Untuk Membedakan Antara Sepsis Bakterial dan Sepsis Virus Syafri Kamsul Arif; A. Muh. Farid Wahyuddin; A. Muh Takdir Musba
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 9, No 3 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.677 KB) | DOI: 10.14710/jai.v9i3.19849

Abstract

Prokalsitonin merupakan penandadiagnostik yang baik pada sepsis khususnya sepsis yang disebabkan oleh bakteri. Penelitian ini bertujuan mengetahui sensitivitas, spesifisitas dan akurasi diagnostik prokalsitonin sebagai penandaserologis untuk membedakan antara sepsis bakterial dan virus pada pasien yang dirawat di Intensive Care Unit  (ICU) dan Infection Center (IC) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo.Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder rekam medik pasien sepsis yang dirawat di ICU dan IC RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, periode 1 Januari 2014 sampai dengan 31 Agustus 2016. Data tersebut dianalisa dengan uji T Independent,  Mann Whitney and Chi-Square dimana terdapat 80 sampel yang memenuhi kriteria inklusi.Dari penelitian ini, terdapat perbedaan yang signifikan dari kadarprokalsitonin antara sepsis bacterial(60.89 ± 73.651 ng/ml) dan sepsis virus (1.12 ± 0.622 ng/ml). Berdasarkan analisis Receiver Operating Characteristic (ROC), area Under the Curve (AUC) dari prokalsitonin adalah 0.841 dengan interval 0.758–0.925 dan signifikansi 95%. Kadar ambang diagnostik terbaik prokalsitonin yang didapatkan pada penelitian ini adalah 1.60 sebagai cut off point (sensitivitas: 82,4%, spesifisitas: 65,2% dan akurasi: 88,7%) untuk membedakan sepsis bakterial dengan sepsis virus. Prokalsitonin memiliki sensitivitas, spesifisitas dan akurasi diagnostik yang baik sebagai pembeda anatar seosis bakterial dan sepsis virus.
Pengaruh Anestesi Epidural Terhadap Supresi Imun Yang Diinduksi Stres Operasi Selama Pembedahan Yudhowibowo, Ifar Irianto; Sutiyono, Doso; Villyastuti, Yulia Wahyu
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 3, No 1 (2011): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia)
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v3i1.6453

Abstract

Operasi besar berhubungan dengan disfungsi sistem kekebalan tubuh bawaan. Baru-baru ini, dibuktikan bahwa stres akibat pembedahan dapat dengan cepat menginduksi penurunan respon sementara dari darah terhadap endotoksin sejak 2 jam setelah insisi dan bahwa IL-10 plasmayang meningkat selama pembedahan, berperan dalam penurunan respon ini. Telah dilaporkan bahwa anestesi epidural memiliki efek menguntungkan pada reaksi imunitas dan respon terhadap stres akibat pembedahan. Beberapa peneliti telah melaporkan bahwa anestesi epidural mempertahankan aktivitas sel NK dan mengurangi respon stres pada pasien yang menjalani histerektomi. Blok epidural dari segmen dermatom T4 sampai S5, dimulai sebelum pembedahan, mencegah peningkatan konsentrasi kortisol dan glukosa pada histerektomi. Teknik anestesi regional untuk operasi besar dapat mengurangi pelepasan kortisol, adrenalin (epinefrin) dan hormon lain, namun memiliki pengaruh kecil pada respon sitokin. Penelitian terbaru (kawasaki et al.,2007) menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh bawaan, misalnya fagositosis, ditekan oleh stres akibat pembedahan dan bahwa anestesi epidural tidak mampu mencegah penurunan respon kekebalan tubuh ini selama operasi perut bagian atas.

Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17, No 3 (2025): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 17, No 2 (2025): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 17, No 1 (2025): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 16, No 3 (2024): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 15, No 2 (2023): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 15, No 1 (2023): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 14, No 3 (2022): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 14, No 2 (2022): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 14, No 1 (2022): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 13, No 3 (2021): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 13, No 3 (2021): Jurnal Anestesiologi Indonesia (Issue in Progress) Vol 13, No 2 (2021): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 13, No 1 (2021): Jurnal Anestesiologi Indonesia Publication In-Press Vol 12, No 3 (2020): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 12, No 2 (2020): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 12, No 1 (2020): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 11, No 3 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 11, No 2 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 11, No 1 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 3 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 2 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 3 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 1 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 3 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 2 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 1 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 3 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 2 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 3 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 1 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 1 (2011): JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 1 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia More Issue