cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08537291     EISSN : 24067598     DOI : -
Core Subject : Science,
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences (IJMS) is dedicated to published highest quality of research papers and review on all aspects of marine biology, marine conservation, marine culture, marine geology and oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 743 Documents
Prediksi Sebaran Suhu dari Air Buangan Sistem Air Pendingin PT. Badak NGL di Perairan Bontang Menggunakan Model Numerik Kasman Kasman; I Wayan Nurjaya; Ario Damar; Ismudi Muchsin; Zaenal Arifin
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1248.419 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.15.4.194-201

Abstract

Tingginya suhu buangan air pendingin PT. Badak NGL yang dilepas ke Perairan Bontang menyebabkan terganggunya berbagai sumberdaya pesisir yang ada disekitarnya. Karena itu perlu diketahui pola sebaran suhu agar dampak yang mungkin timbul dapat diminimalkan. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi pola sebaran suhu dari buangan air pendingin PT. Badak NGL di Perairan Bontang, Kalimantan Timur. Prediksi dilakukan dengan menggunakan model hidrodinamika dan transpor suhu 3-D yang dimodifikasi dari model POM (Princeton Ocean Model). Gaya pembangkit yang digunakan dalam model adalah pasang surut, debit buangan air pendingin dan debit sungai. Pemilihan langkah waktu (t)=0,5 detik, dengan 118 grid (barat-timur) dan 187 grid (utara-selatan), ukuran grid Δx=Δy=30 m. Nilai awal : u=v=ζ=0, T0 = 28 °C dan S0 = 32 ‰. Verifikasi elevasi dan suhu antara hasil model dengan hasil pengukuran menunjukkan kesesuaian yang baik dengan nilai korelasi 0,97 dan Kesalahan Relatif Rata-rata (Mean Relative Error/MRE) 1,31% untuk verifikasi elevasi, korelasi 0,90 dan MRE 5,17% untuk verifikasi suhu permukaan pada saat bulan purnama serta korelasi 0,87 dan MRE 7,12% saat bulan perbani. Hasil simulasi menunjukkan perbedaan pola sebaran suhu permukaan paling ekstrim ditemukan pada saat purnama untuk kondisi cuplik pasang maksimum dan surut maksimum. Perbedaan terutama terlihat pada Stasiun 8 (Muara Kanal Pendingin) yakni 41 °C saat surut maksimum dan saat pasang maksimum (ΔT=6 °C). Adapun perbedaan suhu antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup besar ditemukan di Stasiun C yakni sekitar 2,54 C saat  untuk skenario musim kemarau dan 2,32 C untuk skenario musim hujan Kata kunci : POM, buangan air pendingin, sebaran suhu, debit sungai, model numerik, Perairan Bontang High temperature of cooling water discharge of PT. Badak NGL that released to Bontang waters caused disturbances to the coastal resources in its surrounding. Therefore, it is urgent to understand the pattern of thermal dispersion in order to minimize the possible impacts occurred.  This research was aimed to predict the pattern of thermal dispersion from cooling water discharge of PT. Badak NGL in Bontang waters, East Kalimantan. Prediction was done using hydrodynamic model and 3-D thermal transport modified from POM (Princeton Ocean Model). Driving forces used in this model were tides, flows of cooling water discharge and rivers discharge.  Choice of time step (t)=0.5 second, with 118 grids (west-east) and 187 grids (north-south), grid size Δx=Δy=30 m. Initial value : u=v=ζ=0, T0 = 28 °C and S0 = 32 ‰. Verification of elevation and temperature between results of models and direct measurement showed a good suitability with correlation value was 0.97 and Mean Relative Error (MRE) 1.31% for elevation verification, correlation 0.90 MRE 5.17% and correlation 0.87 MRE 7.12% for thermal verification during spring and neap tides, repectively. Results simulation revealed the most extreem difference in pattern surface thermal dispersion that found during spring tide for sampling condition of maximum tide and ebb. Distinct difference was especially found at station 8 (mixing point) i.e. 41 °C during maximum ebb and 35 °C during maximum high tide. Whereas, significantly high thermal difference between upper layer and bottom layer was found at station C i.e. around 2,54 °C for dry season scenario and 2,32 °C for wet season scenario Key words: POM, cooling-water discharge, thermal dispersion, rivers discharge, numerical model, Bontang waters
Ekotoksisitas Senyawa Cyanida pada Karang Porites lutea dan Galaxea fascicularis Irwani Irwani; Chrisna Adhi Suryono; Agus Sabdono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.072 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.2.89-94

Abstract

Salah satu cara metoda penangkapan ikan hias yang efektif adalah dengan melakuken pembiusan dengan menggunakan cyanida. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui toksisitas senyawa cyanida terhadap karang Porites lutea dan Galaxea fascicularis. Rancangan penelitian yang digunakan dalah split plot RAK dengan ulangan 3 kali jenis karang merupakan kelompok utama dan konsentrasi cyanide merupakan sub-kelompok. Pengamatan yang diamati adalah jumlah zooxanthellae dan proseptase kematian karang. Hasil penelitian menunjukan semakin tinggi konsentresi cyianida menunjukan semakin tinggi prosentese kematian karang. Semakin tinggi konsentrasi cyanida semakin kecil jumlah zooxanthellae pada karang.Kata kunci: cyanide, toksisitas, Porites luta dan Galaxea fascicularis   One of the methods commonly used to capture ornamental fishes is by using cyanide. The purpose of this study was to investigate the toxicity of cyanide compound on coral Porites lutea and Galaxea fascicularis. The split plot randomized block design with 3 replicate was used in the present study. While the species of corals used as the main block and the cyanide concentration as the sub-block. The study was focused on the analyzed of the number of zooxanthellae and the percentage mortality of corals. The results of the study shows that increasing cyanide concentration increased the percentage mortality of coral and decreased the number of zooxanthellae on the coral.Keywords: cyanide, toxicity, Porites lutea and Galaxea fascicularis
Studi Kandungan Proksimat Kerang Jago (Anadara inaequivalvis) di Perairan Semarang Iskandar Syafril; Endang Supriyantini; Ambariyanto Ambariyanto
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.676 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.4.190-195

Abstract

Kerang (Bivalvia) merupakan salah satu produk perikanan yang memiliki nilai penting sebagai sumber makanan, dimana produk hasil tangkapan terdiri dari berbagai jenis dan ukuran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrisi dari Anadara inaequivalvis pada waktu penangkapan dan kelas ukuran yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus - Oktober 2003 yang mengambil lokasi penelitian perairan Semarang. Sampling A. inaequivalvis dilakukan sebulan sekali sebanyak 150 individu setiap kali sampling dengan menggunakan alat garuk. Analisa sampel dilaksanakan di laboratorium Kimia Oseanografi Ilmu Kelautan, Teluk Awur, Jepara. Hasil analisa proksimat diketahui bahwa pada Anadara inaequivalvis dengankelas ukuran 20 – 25 mm memiliki kisaran kandungan air antara 78,94% - 80,49% tertinggi pada bulan Oktober dengan kelas ukuran 30,01-35,00 mm. Kandungan Karbohidratnya berkisar antara 1,05 - 3,77 mm.tertinggi pada bulan Agustus dan untuk kelas ukuran 20,00 – 25,00 mm. Kandungan Protein berkisar antara 12,01 – 13,22 %. Tertinggi pada bulan Agustus dengan kelas ukuran 30,01 – 35,00 mm. Kandungan lemakberkisar antara 2,25 – 3,28 % tertinggi pada bulan Agustus dan kelas ukuran 30,01 – 35,00 mm. Kadar abu berkisar antara 2,09 – 3,05 %. tertingi pada bulan September dengan kelas ukuran 30,01 –35,00 mm.Kata kunci : Anadara inaequivalvis, nutrisi, proksimatMore than 7% of fisheries product from total catch in the world and has an important role as food sources in international trade are molluscs, including bivalves. These caught bivalves are consists of different sizeand species. The purpose of this research is to investigate biochemical content of Anadara inaequivalvis at different time and size range. Sampling were done every month between August – October, 2003 atSemarang waters. An amount of 150 individuals were taken every sampling time by using dredger. The samples were analyzed at Teluk Awur, Marine Lab. Jepara. The result of proximate analysis showed thatwater content of A. inaequivalvis was between 78,94% - 80,49%. The highest water content was found on those collected on October with size range 30,01-35,00 mm. The carbohydrate content was between 1,05- 3,77 %. The highest carbohydrate content was found on those collected on August with size range 20,00 – 25,00 mm. Protein content was between 12,01 – 13,22 %, and the highest concentration was found onthose collected on August with size range 30,01 – 35,00 mm. The lipid content was between 2,25 – 3,28 %, and the highest concentration was found on those collected on August with size range 30,01 – 35,00mm. The mineral content was between 2,09 – 3,05 %, the highest mineral content was found on those collected on September with size range 30,01 –35,00 mm.Key words : Anadara inaequivalvis, nutrient, proximate, Semarang
Kelulushidupan dan Pertumbuhan Crablet Rajungan (Portunus pelagicus Linn.) Pada Budidaya dengan Substrat Dasar yang Berbeda Ali Djunaedi
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.046 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.14.1.23-26

Abstract

Salah satu upaya untuk mengurangi tingkat kanibalisme pada budidaya rajungan (Portunus pelagicus Linn.) adalah dengan pemberian setter yang berupa substrat dasar. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan substrat dasar terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan crablet rajungan. Rajungan stadia crablet (C-5) diperoleh dari BBPBAP jepara dengan berat awal 27,30 + 0,66 mg. Rajungan sebanyak 25 ekor dipelihara selama 25 hari dalam akuarium berukuran 40 x 30 x 30 cm. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah jenis substrat yaitu, Pasir, Lumpur, Liat dan tanpa substrat sebagi kontrol. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa perbedaan substrat dasar memberikan kelulushidupan dan pertumbuhan crablet rajungan yang tidak berbeda nyata (p>0,05).   Kata kunci : rajungan, crablet, substrat, kelulushidupan, pertumbuhan
Amplitude Variations of Tidal Harmonic Constituents in Bitung Station (Variasi Amplitudo Konstituen Harmonik Pasang Surut Utama di Stasiun Bitung) Salnuddin Salnuddin; I Wayan Nurjaya; Indra Jaya; Nyoman M N Natih
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (972.412 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.20.2.73-86

Abstract

Perhitungan konstituen harmonik pasang surut masih menggunakan metode konvensional, pengembangan metode dominan pada sistem komputasinya dan menggunakan sistem penanggalan Masehi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, apakah amplitudo konstituen harmonik yang dihitung dari pengelompokan data berdasarkan penanggalan Hijriah memberikan karakter yang relatif sama (stabil) dibulan yang sama dibandingkan dengan penanggalan Masehi. Perbandingan tersebut dilakukan pada 10 konstituen harmonik utama pasang surut, guna membandingkan perhitungan tunggang air dari nilai konstituen dan dari Metode Suku Sama (MSS). Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai deviasi amplitudo sangat kecil dari masing-masing konstituen harmonik pada perhitungan berdasarkan sistem kalender Hijriah, dimana amplitudo pada bulan Sya’ban relatif stabil dan lebih tinggi dibandingkan pada bulan lainnya. Nilai koefisien determinan (R2) untuk data awal pasang surut pada fase bulan baru (BB) dan bulan purnama (BP) lebih tinggi dibandingkan data awal pada fase bulan lainnya. ANOVAmenghasilkan konstituen K1dan S2terpengaruh jika data dimulai saat fase bulan kuartil I (KW1) dan purnama (BP), sedangkan saat fase awal kuartil 2 (KW2) terjadi pada konstituen P1 dan K2, MS4 dan M4. Dengan demikian, perhitungan amplitudo konstituen harmonik lebih optimum jika data dimulai saat fase bulan baru atau mengikuti penanggalan Hijriah.
Uji Keganasan Bakteri Vibrio pada Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) Desrina Desrina; Arief Taslihan; Ambariyanto Ambariyanto; Suryaningrum Susiani
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.702 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.3.119-125

Abstract

Tiga belas isolat bakteri Vibrio yang terdiri atas 6 spesies diuji keganasannya pada ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) sehat yang berukuran panjang 9 – 13 cm dan berat 20 – 30 g. Ke enam spesiesbakteri Vibrio yang diuji adalah Vibrio alginolyticus (6 isolat), V. vulnificus (2 isolat), V. ordalii (2 isolat) V. fluvialis, V. anguillarum dan V. mectnikovii masing masing 1 isolat. Bakteri Vibrio ini berasal dari ikan Kerapu sakit dan air tambak dari berbagai tempat di Indonesia. Uji keganasan dilakukan dengan menyuntikkan suspensi bakteri sebanyak 0,5 ml x 109 CFU/ml secara intramuskular di bagian dorsolateral. Jumlah ikan yang disuntik adalah 5 ekor/isolat. Ikan kontrol (5 ekor) disuntik dengan 0,5 ml PBS steril. Ikan dipelihara selama 2 minggu didalam akuarium (vol air 40 L) yang dilengkapi dengan aerator. Jumlah ikan yang mati, waktu kematian serta gejala klinis yang terlihat dicatat. Untuk memastikan sebab kematian dan mengkonfirmasikan keberadaanbakteri vibrio yang disuntikkan, ikan yang mati dibedah dan bakteri diisolasi dari ginjal dan luka pada tubuh. Pada akhir penelitian semua ikan yang masih hidup dibunuh dan bakteri diisolasi dari ginjal. Bakteri hasil uji keganasan diidentifikasi dengan metoda biokimia. Semua isolat menyebabkan kematian pada ikan uji kecuali V.metchinovkii dan tidak ada ikan kontrol yang mati. Kultur murni isolat yang disuntikkan direisolasi dari semua ikan yang mati. Berdasarkan jumlah ikan uji yang mati dan waktu kematian isolat terdapat 4 isolat yang ganas yaitu V.anguillarum, V. ordalii (S) dan V. fluvialis (S) dan V. alginolyticus 8 (J). Gejala klinis ikan yang sakit sama yaitu nafsu makan berkurang, berenang miring dan lemah, ginjal pucat warna tubuh gelap. Beberapaisolat menyebabkan luka di punggung yang berkembang jadi borok.Kata kunci: keganasan, Vibrio, Kerapu, ikan, penyakit.Thirteen isolates of Vibrio which consists of 6 spesies were tested its virulency on healthy fishes, Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) with size 9 – 13 cm (tota length) and 20 – 30 g (weight). Those sixspecies of Vibrio were Vibrio alginolyticus (6 isolate), V. vulnificus (2 isolate), V. ordalii (2 isolate) V. fluvialis (1 isolate), V. anguillarum (1 isolate) and V. mectnikovii (1 isolate). These Vibrio were isolated from sick Kerapu and water pond from various places in Indonesia. The test was done by intramuscular injection of bacteria suspension i.e. 0,5 ml x 109 CFU/ml on the dorsolateral of the fish. The number of injected fish were 5 fish/isolate, while control fishes were injected with 0,5 ml of sterile PBS. The fishes were grown for 2 weeks on 40 L aerated aquariums. Mortality of the fish, time as well as clinical simptoms were recorded. The occurence of injected bacteria was confirmed by isolating the bacteria from the kidney and wound of the dead fishes At the end of the experiment all the live fishes were killed and bacteria on its kidney were isolated. All thebacteria were identified by using biochemical method. The results showed that all isolates have caused mortality on the fish except V. metchinovkii as well as control fishes. Four other isolates were found to be virulence. Clinical simptoms of sick fishes were the same i.e. lack of feeding activity, abnormal swimming activity and weak, pale kidney, and dark colouration of the skin. Several isolates have caused wound on the back of the fish as well.Key words: virulency, Vibrio, Kerapu, fish, diseases.
Recent Invasion of the Endemic Banggai Cardinalfish, Pterapogon kauderni at The Strait of Bali: Assessment of the Habitat Type and Population Structure I Nyoman Giri Putra; I Dewa Nyoman Nurweda Putra
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.495 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.24.1.15-22

Abstract

The demands of marine organisms for the aquarium trade are remain high and seems continue to increase. Consequently, many of marine organisms has been spread out from its natural habitat as in the case of endemic Banggai cardinalfish, (Pterapogon kauderni). That has invaded “new” habitat since it being trade in 1995. In recent years, a small populations of P. kauderni is known to be exist in a narrow bay near the Gilimanuk harbor, Bali. An underwater visual fish census survey was conducted on June 2018 to estimate the habitat types and densities of P. kauderni.  Additionally, 23 specimens of P. kauderni were collected randomly in order to assess biological parameters such as the length-weight relationship. We successfully recorded 30 groups of P. kauderni that inhabit a shallow areas with a depth range between 0.5m to 2m. Of these, more than 90% of the groups were found to be associated with sea urchin (Diadema sp.) while the rest were found to live together with branching coral (Acropora sp.) and branching sponge (Ptylocaulis sp.). Total number of fish observed during the survey were 381 individuals. The fish density is 0.76 individu.m-2. Length-weight relationship showed that P. kauderni exhibit is negative allometry (b<3) which mean that the increase in length is faster than the weight gain. Interestingly, from the 23 specimens collected, none of these were sexually mature (SL<41 mm) which may indicated that the population of P. kauderni in Bali are under serious threats of exploitation.     
Teknik Setting Spora Gracilaria gigas Sebagai Penyedia Benih Unggul dalam Budidaya Rumput Laut Ervia Yudiati; Endang Sri Susilo; Chrisna A Suryono
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.922 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.9.1.37-40

Abstract

Rumput laut Gracilaria gigas dapat dikembangkan melalui cara generatif dengan cara menumbuhkan spora hingga menjadi thalus dengan teknik setting spora. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari media yangtepat untuk tumbuhnya spora hingga menjadi thallus muda. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan perlakuan media tempat melekatnya spora hingga menjadi thallus muda adalah talirafia, tali nilon, tali ijuk dan tali kapas. Hasil yang didapat menunjukan bahwa media yang paling banyak ditumbuhi oleh thalus muda adalah media dati tali rafia dengan kepadatan pertumbuhan 84 ind/cm2 sedangkan yang paling sedikit adalah media dari tali kapas dengan kepadatan pertumbuhan 24 ind/cm2.Kata kunci : Gracilaria gigas, setting spora, thallus, mediaSeaweed of Gracilaria gigas has developed by generative method with the concept to growing spores to be young thallus on the substrates. The aim of the research is to find the substrate which has comfortable sporesstick on to be young thallus. Randomized design was used in these experiment with four kind of rope (raffia, nylon, palm fiber and cotton) as a substrates. The highest number of young thallus was grew on raffia rope as substrate and the lowest was on cotton rope as a substrate.Key words : Gracilaria gigas, spora setting, thallus, media
Pertumbuhan Kappaphycus alvarezii Varietas Maumere, Varietas Sacol, dan Euchema denticuiatum di Perairan Musi, Buleleng Djokosetiyanto Djokosetiyanto; I. Effendi; K. L. Antara
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.309 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.13.3.171-176

Abstract

Kebutuhan rumput laut yang tinggi menuntut peningkatan produksinya. Kappaphycus alvarezii, seperti K. alvarezii varietas Maumere dan Sacol serta Eucheuma denticuiatum merupakan jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pertumbuhan terbaik diantara ketiga jenis rumput laut tersebut yang dibudidaya dengan metode long line. Setiap 50 m tali ris diikatkan 20 bibit per jenis rumput laut yang masing-masing berbobot 100 gram dengan jarak antar bibit 2 meter. Rancangan Acak Kelompok (RAK) digunakan dengan jenis rumput laut sebagai perlakuan dan lokasi sebagai kelompok. Hasil penelitian menunjukan K. alvarezii varietas Maumere menghasilkan rata-rata bobot basah dan pertumbuhan harian (%) per minggu tertinggi tetapi dengan bobot kering terendah, sedangkan E. denticuiatum menghasilkan bobot kering tertinggi. Jenis yang paling tahan terhadap penyakit adalah K. alvarezii varietas Maumere, sedangkan jenis yang paling rentan terhadap serangan penyakit adalah E. denticuiatum.Kata kunci : rumput laut, varietas, bobot kering, bobot basah
The Growth of Sea cucumber Stichopus herrmanni After Transverse Induced Fission in Two and Three Fission Plane Retno Hartati; Widianingsih Widianingsih; Hadi Endrawati
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.85 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.21.2.93-100

Abstract

Transverse induced fission proven could be done in Teripang Tril, Stichopus herrmanni. This present works aimed to analyze wound recovery, regeneration period and growth of Teripang Trill  after asexual reproduction by fission using two and three fission plane. Observations were made every day until the sea cucumber body separated into two or more (depending on treatment) and reared for 16 weeks.  The results showed that there are differences in wound recovery, regeneration period and growth of S. herrmanni depend on their different fission plane. The wound recovery and regeneration period (days) of anterior, middle and posterior individu S. herrmanni resulted from two and three fission plane were varied but the two fission plane the anterior individu recover for longer period than posterior part and  the wound recover process in both end for thee fission plane was same. Average growth of anterior and posterior fragment were longer for two fission plane than three fission plane.  The middle fragment (M1 and M2) both fission plane was able to grow but very low.  It showed that three fission plane gave very slow growth in every fragment of the body. Keywords: growth, post-fission, fission plane, Stichopus herrmanni

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 30, No 3 (2025): Ilmu Kelautan Vol 30, No 2 (2025): Ilmu Kelautan Vol 30, No 1 (2025): Ilmu Kelautan Vol 29, No 4 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 3 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 2 (2024): Ilmu Kelautan Vol 29, No 1 (2024): Ilmu Kelautan Vol 28, No 4 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 3 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 2 (2023): Ilmu Kelautan Vol 28, No 1 (2023): Ilmu Kelautan Vol 27, No 4 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 3 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 2 (2022): Ilmu Kelautan Vol 27, No 1 (2022): Ilmu Kelautan Vol 26, No 4 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 3 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan Vol 26, No 1 (2021): Ilmu Kelautan Vol 25, No 4 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 3 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 2 (2020): Ilmu Kelautan Vol 25, No 1 (2020): Ilmu Kelautan Vol 24, No 4 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 3 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 2 (2019): Ilmu Kelautan Vol 24, No 1 (2019): Ilmu Kelautan Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 3 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 2 (2018): Ilmu Kelautan Vol 23, No 1 (2018): Ilmu Kelautan Vol 22, No 4 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 3 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 2 (2017): Ilmu Kelautan Vol 22, No 1 (2017): Ilmu Kelautan Vol 21, No 4 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 2 (2016): Ilmu Kelautan Vol 21, No 1 (2016): Ilmu Kelautan Vol 20, No 4 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 3 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 2 (2015): Ilmu Kelautan Vol 20, No 1 (2015): Ilmu Kelautan Vol 19, No 4 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 3 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 2 (2014): Ilmu Kelautan Vol 19, No 1 (2014): Ilmu Kelautan Vol 18, No 4 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 3 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 2 (2013): Ilmu Kelautan Vol 18, No 1 (2013): Ilmu Kelautan Vol 17, No 4 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 3 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 2 (2012): Ilmu Kelautan Vol 17, No 1 (2012): Ilmu Kelautan Vol 16, No 4 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 3 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 2 (2011): Ilmu Kelautan Vol 16, No 1 (2011): Ilmu Kelautan Vol 15, No 4 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 3 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 2 (2010): Ilmu Kelautan Vol 15, No 1 (2010): Ilmu Kelautan Vol 14, No 4 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 2 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 14, No 1 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 4 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 3 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 2 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 13, No 1 (2008): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 3 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 12, No 1 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 4 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 3 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 2 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 3 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 2 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 9, No 1 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 2 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan Vol 6, No 4 (2001): Jurnal Ilmu Kelautan More Issue